Teladan Kanjeng Nabi

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

 

PENGARANG kitab “Akhbar al-Madinah” (Sejarah Kota Madinah), yaitu Ibn Syabbah, seorang perawi hadis dan ahli sejarah yang hidup pada abad ke-3 Hijriyah, menuturkan kisah yang menarik tentang Kanjeng Nabi Muhammad saw. Kisah ini, bagi saya, penting sekali karena bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang hendak menjadi pemimpin.

Demikian kisah yang dituturkan Ibn Syabbah:

Tahun-tahun pertama ketika Kanjeng Nabi baru datang di Madinah dan secara fisik masih cukup kuat, beliau punya kebiasaan menjenguk orang-orang yang sedang sakit keras dan menjelang maut–“ukhtudhira“, “dying“. Kanjeng Nabi akan menunggui, membacakan istighfar, memintakan ampunan bagi sang pasien, hingga yang terakhir ini meninggal. Kadang-kadang Nabi menunggu berjam-jam.

Kebiasaan semacam ini menimbulkan rasa kasihan pada sebagian sahabat. Mereka tidak tega melihat Kanjeng Nabi menunggu berjam-jam. Urusan beliau, sebagai kepala proto-negara Madinah dan pemimpin agama, tentulah banyak. Akhirnya mereka bersepakat untuk tidak memberi-tahu Kanjeng Nabi jika ada sseeorang yang sedang sekarat. Mereka akan memberi tahu Nabi setelah yang bersangkutan meninggal.

Ketika Kanjeng Nabi diberitahu, beliau akan “cekat-ceket”, segera datang, menunggui jenazah hingga selesai di-“pulasara”, dikafani, lalu menyalatinya, dan kerap juga mengantarnya hingga ke pemakaman.

Melihat hal inipun, para sahabat merasa kasihan. Kanjeng Nabi kadang harus menempuh jarak yang jauh untuk melayat seseorang. Ketika Kanjeng Nabi sudah mulai sepuh, dan badannya tak sekuat ketika masih muda, kebiasaan ini tentu memberatkan Kanjeng Nabi dan menimbulkan rasa kasihan pada sahabat-sahabatnya.

Lalu, sahabat membuat kesepakatan baru. Mereka tak akan memberi tahu Kanjeng Nabi jika ada orang meninggal. Merekalah yang akan membawa jenazah itu ke Madinah, ke sebuah tempat di dekat “ndalem” beliau. Di sana ada dua pohon kurma. Di sanalah biasanya Kanjeng Nabi manyalatkan jenazah-jenazah yang dibawa untuk “di-sowan-kan” kepada beliau. Dengan demikian, Kanjeng Nabi tak perlu repot-repot untuk mendatangi rumah setiap jenazah yang kadang letaknya jauh dari Madinah.

Teladan ini, di mata saya, mengharukan sekali. Ini contoh “a caring leader“, pemimpin yang peduli pada mereka yang menjadi pengikutnya. Apa yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat luar biasa. Teladan ini menciptakan perasaan “adem” pada para pengikut: bahwa pemimpin mereka peduli, bahwa mereka diperhatikan.

Dengan tindakan sederhana ini, Kanjeng Nabi menciptakan ikatan yang erat dengan umat yang menjadi pengikut, juga “trust“, kepercayaan. Ikatan ini tak bisa lahir karena ceramah saja, melainkan teladan yang langsung dilakukan oleh sang pemimpin.

Eloquent speeches about common values, however, are not nearly enough,” kata James Kouzes dalam buku klasik mereka tentang bagaimana menjadi pemimpin, “The Leadership Challenge“. Artinya: khutbah yang berjela-jela tentang nilai yang baik, bagaimanapun, tak memadai. Tindakan seorang pemimpin jauh lebih “makjleb” dan menembus perasaan para pengikut.

Prinsip pertama tentang memimpin, menurut Kouzes, adalah “model the way,” memberi contoh. Ki Hajar Dewantara merumuskannya dalam kalimat yang indah: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Empat belas abad yang lampau, Kanjeng Nabi telah meneladankan prinsip yang sekarang menjadi tampak “keren” karena ditulis dalam buku-buku manajemen yang kerap kita lihat di rak-rak toko buku bandara itu.[]

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.