Pos

RAMADAN YANG MENGESANKAN

Oleh Dra. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum

[Ibu Negara RI Ke-4 – Ketua Umum Yayasan Puan Amal Hayati]

 

“Kalau ditilik dari segi esensinya, puasa sebenarnya mengajarkan kita untuk makan secara teratur, yakni dua kali sehari (waktu buka dan sahur). Namun pada praktiknya, dana yang dikeluarkan lebih banyak di bulan Ramadhan ketimbang di bulan-bulan lainnya. Bisa dilihat dari makanan yang dikonsumsi di bulan Ramadhan, misalnya di dalam keluarga saya. Untuk buka kami biasa makan nasi, kolak, snack dan gorengan. Sebelum tidur kami juga masih menikmati snack, belum lagi makanan untuk sahur. Jadi, kalau dipikir-pikir, dalam tataran praktik, di bulan Ramadhan ternyata memang lebih boros.”

 

 

Suasana Ramadhan

Sebagai anak dari salah satu keluarga muslim, sejak kecil—umur 5 atau 6 tahun—saya sudah diajari berpuasa. Seperti biasa, orangtua mengajari saya puasa secara dogmatik—untuk tidak mengatakan memaksa. Saya tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan untuk apa berpuasa selain bahwa itu sebagai kewajiban dari agama. Dan memang tidak pernah sedikitpun terbesit di benak saya untuk mempertanyakannya. Dalam konteks ini, rasionalitas tidak mendapatkan ruang sama sekali. Orangtua tidak pernah membiarkan anaknya menggali kesadaran dari dirinya sendiri.

Saya merasa nyaman dengan suasana di kampung yang sangat natural. Suasana puasanya lebih terasa. Dari pagi saya sudah sibuk mengumpulkan berbagai jenis makanan untuk buka. Saya ingin makan ini, itu dan segala macam. Padahal saat berbuka, makanan-makanan itu tidak termakan semuanya. Malah yang sering terjadi, minum sedikit saja saya sudah merasa kenyang, dan tidak berselera lagi untuk menyantap makanan yang lain.

Di siang hari, ummi (ibu saya) rutin menyuruh saya bersama adik-adik untuk mengaji al-Qur`an dan dipimpin oleh beliau sendiri. Di depannya sudah tersedia sebuah penggaris yang setiap saat akan melayang ke tangan kami apabila bacaan kami ada yang salah. Malam harinya, setelah shalat Isya`, kami melakukan shalat Tarawih berjamaah di surau/langgar. Bagi saya saat itu, shalat Tarawih merupakan satu di antara sekian banyak ritual Ramadhan yang paling menyenangkan. Saya bersama adik-adik dan teman-teman saya berangkat ke surau/langgar bareng-bareng. Biasalah, sebagai anak-anak kecil yang masih suka bermain, kami bergurau dan bercanda. Keramaian karena berkumpulnya para jamaah di surau/langgar membuat kami bersemangat untuk hadir di sana.

Saya melihat perbedaan puji-pujian yang dibaca ketika shalat Tarawih antara dulu dan sekarang. Seingat saya, dulu kami membaca nama-nama dan sifat-sifat Allah seperti “wujûd, qidam, baqâ`, mukhâlafat-u li al-hawâdits-i, qiyâmuh-u binafsih-i” dan seterusnya, di samping juga nama-nama dan sifat-sifat Nabi berikut ajaran-ajaran Islam lainnya yang sudah dikemas dalam bentuk syair yang dibuat oleh para ulama pesantren. Setelah shalat Tarawih, di surau/langgar biasanya ada kegiatan tadarus (ngaji al-Qur`an bersama).

Untuk anak kecil, termasuk juga saya waktu itu, yang paling sulit di bulan Ramadhan adalah dibangunkan untuk sahur sekitar jam 2 atau 3 dini hari. Biasanya sejak jam 2 ada beberapa orang yang berkeliling menabuh kentongan sambil berteriak-teriak membangunkan para penduduk kampung. Tetapi saya lebih suka melanjutkan tidur daripada bangun untuk sahur. Padahal, kalau tidak sahur besoknya ketika berpuasa saya kadang-kadang tidak kuat.

Kalau ditilik dari segi esensinya, puasa sebenarnya mengajarkan kita untuk makan secara teratur, yakni dua kali sehari (waktu buka dan sahur). Namun pada praktiknya, dana yang dikeluarkan lebih banyak di bulan Ramadhan ketimbang di bulan-bulan lainnya. Bisa dilihat dari makanan yang dikonsumsi di bulan Ramadhan, misalnya di dalam keluarga saya. Untuk buka kami biasa makan nasi, kolak, snack dan gorengan. Sebelum tidur kami juga masih menikmati snack, belum lagi makanan untuk sahur. Jadi, kalau dipikir-pikir, dalam tataran praktik, di bulan Ramadhan ternyata memang lebih boros.

Untuk hidangan buka dan sahur, yang menyiapkan adalah nenek saya yang dibantu oleh ummi dan seorang pembantu keluarga. Boleh dibilang, nenek saya adalah orang yang paling rajin di dapur. Mungkin beliau tidak terlalu percaya kepada ummi dan pembantu, kuatir masakan keduanya tidak enak. Makanya, beliau lebih sering memasak sendiri makanan untuk buka dan sahur. Dan tentu saja masakan beliau jauh berbeda dan lebih enak daripada di hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan—kalau orang Jawa bilang, berkutengnya lebih banyak.

Terdapat beberapa kebiasaan di waktu kecil yang juga kerap saya lakukan di bulan Ramadhan, utamanya di siang hari sampai sore menjelang maghrib. Di antaranya adalah main di pinggir sungai yang tak jauh di sebelah rumah saya. Orang Belanda dulu menyebut sungai tersebut “Sungai Van Hengell”, dan kemudian orang Jawa menyebutnya “Sungai Penengel”. Di sana saya biasanya mandi dan menangkap ikan-ikan kecil, kermis (kijing) atau udang. Tetapi kalau kedapatan main di situ, saya langsung dimarahi oleh nenek. Mungkin beliau kuatir terjadi apa-apa dengan saya. Atau kalau tidak, saya biasanya pergi ke lapangan melihat anak-anak lelaki main layangan. Atau kadang-kadang saya pergi ke sawah mencari kinjeng (capung) dan kotrik (capung yang lebih kecil).

Semasa masih ada kakek, saya kadang pergi ke lapangan bersama beliau untuk menonton sepakbola. Melewati rumah-rumah penduduk, kemudian galengan (pematang) sawah. Sangat menyenangkan. Perpaduan antara hangat mentari senja dan angin yang berhembus sepoi-sepoi menghadirkan sensasi tersendiri.

Kebiasaan lainnya, saya bersama teman-teman suka berkeliling kota Jombang dengan berjalan kaki sambil membawa galah mencari buah kersen (buah kecil bulat berwarna merah dan rasanya manis). Kami memanjat pohonnya, kemudian mengambil buah-buahnya yang sudah matang dengan galah yang kami bawa.

Sambil berkeliling, kami juga mencari bungkus rokok untuk diambil capnya. Kami kumpulkan cap-cap rokok itu sebanyak mungkin. Kami menggunakannya sebagai mata uang mainan. Misalnya, kami membuat bioskop-bioskopan. Biasanya kami pakai senter yang diarahkan ke tembok. Gambarnya kami buat seperti wayang kulit. Siapapun dari teman-teman yang lain hendak menonton, harus membayar dengan menggunakan uang mainan dari cap bungkus rokok itu. Kalau tidak begitu, biasanya kami main bekel, sondah, gobak sodor, dll.

 

Ramadhan di Pesantren

Ketika sudah di pesantren, di bulan Ramadhan, kami mempunyai tradisi pindah-pindah pesantren. Sebenarnya saya adalah santri di Pesantren Tambak Beras. Kemudian di bulan Ramadhan, ketika sedang libur, untuk mengisi waktu luang saya mondok di Cukir. Dan di bulan Ramadhan berikutnya, saya mondok di pesantren yang lain. Kenapa harus pindah-pindah pesantren? Karena ada beberapa kitab di sebuah pesantren yang tidak diajarkan di pesantren lain. Katakanlah, misalnya di pesantren saya, untuk persoalan puasa, kitab yang dipelajari adalah “Fath al-Qarîb”, sementara di pesantren lain yang dipelajari adalah “Fath al-Mu’în”. Sehari-hari kegiatannya adalah ngaji kitab, full dari pagi sampai sore.

Pernah di bulan Ramadhan saya mondok di Singosari, di tempatnya Ust. Bashori Alwi, khusus untuk belajar al-Qur`an. Sebenarnya beliau tidak mempunyai pesantren. Hanya saja, pada saat itu, beliau dikenal sebagai seorang hafizh (penghafal al-Qur`an) yang ahli dalam hal qirâ`ât (mambaca al-Qur`an dengan lagu), sehingga banyak orang yang datang ke tempat beliau untuk belajar al-Qur`an. Nah, karena beliau tidak mempunyai asrama khusus santri seperti di pesantren-pesantren lain, maka mereka yang belajar di sana ngekost di rumah-rumah penduduk sekitar. Kalau saya dulu ngekost di kediaman Kiyai Nahrowi yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Ust. Bashori Alwi.

Di kediaman Kiyai Nahrowi, saya dengan teman-teman mendapatkan perlakuan berbeda dengan di pesantren pada umumnya. Makanan yang saya nikmati adalah makanan rumahan yang sengaja disediakan oleh Ibu Nyai khusus untuk para santri yang ngekost di sana. Boleh dibilang agak sedikit mewah. Tetapi tetap saja, untuk urusan-urusan lain seperti mencuci pakaian, saya biasa mengerjakannya sendiri.

Namun, saya perlu menggaris bawahi, bahwa kegiatan saya nyantri di bulan Ramadhan itu tidak bisa disamakan dengan pesantren kilat seperti yang belakangan sedang marak. Sebab, pada dasarnya saya adalah santri dari sebuah pesantren, tetapi kemudian pindah—untuk sementara waktu, antara 15 sampai 20 hari, dan itu pun karena sedang libur panjang—ke pesantren lain di bulan Ramadhan untuk mempelajari kitab atau ilmu lain yang belum diajarkan pesantren saya. Sementara di pesantren kilat, yang masuk ke dalamnya adalah mereka yang belum menjadi santri (belum pernah mengenyam pendidikan di pesantren). Di situ mereka diajari tentang ibadah, seperti shalat dll., secara kilat.

Setiap bulan Ramadhan kegiatan saya selalu begitu. Selain untuk mempelajari kitab, menambah pengalaman, juga untuk “ngalap berkah” atau “tabarrukan” dari para kiyai— untuk memperbanyak guru. Dan sejak zaman dulu, para ulama besar pesantren seperti Mbah Hasyim Asy’ari, sering pindah-pindah pesantren. Tujuan utamanya adalah untuk menambah ilmu, memperbanyak guru dan mendapatkan berkah dari setiap ilmu yang dipelajari.

Dari segi metode pengajiannya, sebetulnya tidak ada yang berbeda antara satu pesantren dengan pesantren yang lain. Bedanya hanya di materinya saja. Suasananya juga berbeda. Teman-teman menjadi semakin bertambah.

 

Pengalaman Puasa Bersama Gus Dur

Awalnya, setelah menikah, saya dengan Gus Dur tinggal di rumah ‘Mertua Indah’ di daerah Matraman. Pengalaman puasa dengan Gus Dur biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja yang enak dari dia adalah karena dia tidak pernah rewel terkait urusan makanan. Tidak banyak nuntut dan tidak merepotkan. Dia makan apa adanya, baik ketika buka, sahur, dan juga di hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan. Makanan yang paling disukainya adalah soto—soto apa saja; soto ayam, soto babat dan jenis-jenis soto yang lain. Tetapi tentu saja tidak setiap hari Gus Dur saya suguhi makanan soto. Setiap harinya saya menyediakan menu makanan yang berbeda-beda agar tidak bosan.

Setelah mempunyai anak satu, kami kemudian pindah ke Jombang dan tinggal di Pesantren Denanyar. Saat itu saya mendapatkan pengalaman menarik. Di bulan Ramadhan, saya bersama keluarga pesantren yang lain diminta secara bergiliran menjadi imam shalat Tarawih di beberapa mushalla di kampung khusus untuk ibu-ibu muslimat.

Ada momen-momen di mana saya dan Gus Dur selalu bergotong-royong dalam pekerjaan di rumah tangga, pada saat-saat tidak ada pembantu. Hanya saja memang, karena badannya agak subur, dia suka melakukan pekerjaan yang ada unsur airnya. Misalnya, kalau dia mencuci baju, saya yang menyetrika. Kalau dia mencuci perabotan, saya yang masak. Kalau dia ngepel lantai, saya yang nyapu rumah. Artinya, dia tidak menyerahkan sepenuhnya seluruh pekerjaan rumah tangga kepada saya, tetapi ada pembagian kerja yang adil dan seimbang.

Dalam hal mengurus anak juga demikian. Biasanya, yang namanya anak bayi, kalau malam pasti bangun sambil menangis minta disusui. Gus Dur biasanya bangun duluan mengganti popoknya—dulu belum pempers seperti sekarang. Setelah popoknya diganti, lalu diangkat dan diserahkan ke saya untuk disusui.

Untuk menambah uang belanja, saya melakukan kerja sambilan, yaitu menjual kacang dan es. Pekerjaan itu saya kerjakan malam hari dengan dibantu seorang pembantu yang menggoreng kacangnya, kemudian saya yang membungkus kacang dan es tersebut. Esok harinya, barang dagangan itu dibawa oleh seorang penjual dan juga dititipkan ke warung-warung.

Gus Dur memang tidak pernah enggan untuk membantu saya. Baginya, tidak ada salahnya bila suami membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga. Rasulullah saw. sendiri, yang menjadi panutan umat Muslim, semasa hidupnya juga kerap melakukannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, di tengah-tengah kesibukan mengurus umat, beliau masih sempat menjahit bajunya sendiri.

Kalau diamati lebih jauh, kesukaan Gus Dur membantu saya dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah lebih disebabkan karena sifat romantisnya kepada saya. Harus saya akui, Gus Dur memang romantis. Dulu, ketika berada di luar negeri, Gus Dur mengirim surat-surat cinta kepada saya. Sayang sekali, surat-surat itu disimpan oleh ayah (abi) saya. Ketika rumah beliau dibongkar, lemari tempat menyimpan surat-surat itu hancur. Surat-surat itu pun hilang entah ke mana. Saya benar-benar sangat menyesalkan hal itu.

Setelah Gus Dur wafat di akhir tahun 2009, saya menemukan satu buku di antara sekian banyak buku yang dibawanya dari Baghdad-Irak. Di sampul depan buku tersebut tertulis beberapa kalimat dalam bahasa Arab dan Inggris yang ditujukan kepada saya. Tulisan tangannya sangat bagus. Kalimat pertama berbunyi, “Ma’a al-hubb wa al-tahannîy / with love and compliment” (Teriring rasa cinta dan penghormatan). Ternyata, buku tersebut dikirimkan Gus Dur kepada saya tahun 1966, tetapi tidak pernah sampai ke tangan saya. Baru setelah beliau wafat saya menemukan buku tersebut. Komentar menantu pertama saya, Mas Erman (suami Mbak Alissa), “Ya Allah bapak, masa’ kiriman bukunya baru sampai setelah 45 tahun.”

Pernah waktu di Jombang, saya dan Gus Dur naik becak. Saat itu sedang turun hujan. Biasanya, ketika turun hujan, tukang becaknya akan menutupkan tabir plastik di depan untuk melindungi penumpangnya supaya tidak terkena air. Begitu tabir plastik ditutupkan, Gus Dur tiba-tiba mencium saya. Kemudian saya bilang, “Hus…jangan gitu, nanti diintip tukang becaknya.” Dia malah menjawab, “Biarin aja, nanti biar tukang becaknya pingin.”

Sebagai seorang aktivis yang melayani masyarakat, kesibukan Gus Dur banyak sekali. Dia kerap meninggalkan saya dan anak-anak di rumah, bahkan di bulan Ramadhan sekalipun. Dia pergi ke Jakarta dan ke daerah-daerah lainnya. Mula-mula saya tidak mau ditinggalkan terus, bahkan saya sempat marah-marah sambil nangis. Tetapi lama-kelamaan saya bisa menerima itu, karena dilarang dan dicegah bagaimana pun dia juga akan tetap pergi. Kalau tidak pergi, bisa-bisa dia malah sakit.

Selama hidup dengan Gus Dur, setiap harinya saya tidak pernah melihatnya 24 jam berada di rumah. Paling lama hanya sejam atau beberapa jam, setelah itu dia pergi entah ke mana. Ada saja urusannya. Saat berada di rumah, yang dilakukannya adalah membaca buku. Yang dibacanya adalah buku-buku berbahasa Inggris, Prancis dan Arab. Ketiga bahasa ini sangat dikuasainya. Bahkan, karena senang dengan wayang kulit, dia juga menguasai bahasa Jawa Kuno (Sangsakerta). Atau kalau tidak membaca buku, biasanya dia tidur. Ketika anak-anak kami masih kecil, biasanya dia bermain bersama anak-anak sebentar, setelah itu dia tidur.

Lebih parah lagi ketika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Waktu itu kami sudah tinggal di Jakarta. Karena kesibukannya semakin banyak, dia hampir tidak pernah ada di rumah. Sampai-sampai dia sadar sendiri, katanya, “Kalau saya terlalu lama di luar, nanti kalau pulang ke rumah, anak-anak bisa pangling ke saya. Ketika pertama kali sampai rumah, mereka mungkin akan langsung bilang, ‘Nyari siapa, Om?’”

Gus Dur sering mengajak anak-anak untuk jalan-jalan. Mereka biasanya diajak ke toko-toko buku. Tetapi anak-anak kadang tidak mau. Mereka bilang, “Nggak mau ah! Soalnya kalau di tengah jalan bapak ketemu temannya, bisa-bisa kami dicuekin sama bapak.”

 

Puasa Dawud

Saat masih di pesantren, puasa yang saya lakukan bukan hanya puasa Ramadhan, tetapi juga puasa Senin-Kamis seperti disunnahkan oleh Nabi. Kemudian, saya melihat salah seorang teman saya melakukan puasa Dawud (puasa selang-seling; hari ini puasa, hari berikutnya tidak, dan begitu seterusnya). Saya berpikir, kok sepertinya enak banget. Saya mencoba melakukan, dan saya merasa mampu. Lama-lama itu menjadi kebiasaan.

Di masa-masa awal pernikahan saya dengan Gus Dur, saya masih tetap melakukannya. Lalu ketika hamil dan kemudian melahirkan, saya berhenti berpuasa Dawud. Saya mempunyai anak kecil, tidak mungkin melakukannya. Waktu terus berjalan, dan dalam suatu kesempatan di mana saya mempunyai banyak sekali waktu luang, saya mulai melakukannya lagi.

Sampai suatu saat saya mengalami kecelakaan dalam sebuah perjalanan di bulan Ramadhan. Saya sangat bersyukur Allah masih menyelamatkan nyawa saya meskipun saya mengalami cedera amat parah. Dalam kondisi fisik yang sangat lemah, saya berhenti berpuasa, juga puasa Dawud. Kemudian, di bulan Ramadhan berikutnya, saya coba untuk berpuasa. Ternyata saya bisa dan kuat. Ketika bulan Ramadhan itu usai, saya melanjutkannya dengan puasa Dawud. Belakangan, ketika bapak mulai sering sakit, saya melakukan puasa setiap hari sampai sekarang. Tetapi saya jarang makan sahur, dan jarang sekali makan nasi. Biasanya saya hanya minum air putih dan tiga potong kue. Itupun saya sudah merasa sangat kenyang.

Tidak ada tujuan atau motivasi apapun di balik puasa yang saya lakukan setiap hari selain niat karena Allah. Saya banyak menemukan di masyarakat, ibu-ibu berpuasa untuk kelulusan anak-anak mereka menghadapi ujian sekolah. Atau untuk suami-suami mereka agar selalu sukses dalam meniti karir, baik di bidang usaha maupun politik. Malah sekarang saya banyak juga menemukan ibu-ibu pejabat yang melakukan puasa.

Saya tidak seperti itu. Saya tidak mempunyai pikiran apa-apa. Pokoknya saya berpuasa, dan itu semata-mata karena Allah. Anak-anak pernah bertanya kepada saya, “Ibu puasa tiap hari untuk apa?” Saya jawab, “Ya bukan untuk apa-apa, tetapi karena Allah.”

 

Sahur Keliling

Gus Dur diangkat menjadi presiden RI Ke-4. Kami sekeluarga mendapat hak menduduki istana negara. Memasuki bulan Ramadhan, melalui Yayasan Puan Amal Hayati yang saya dirikan jauh sebelumnya, sebuah gagasan saya cetuskan, yaitu sahur bersama kaum dhu’afa. Caranya adalah membeli makanan di warteg-warteg dan kemudian membagi-bagikannya kepada mereka yang membutuhkan, utamanya kaum dhu’afa. Waktu itu lingkupnya masih terbatas di wilayah Jakarta saja.

Kenapa sahur bersama? Kenapa bukan buka bersama? Karena buka bersama sudah banyak yang mengadakan. RT, RW, gedung bertingkat, hotel, partai politik hingga para pejabat tinggi negara, semuanya mengadakan. Namun saya heran, sebab orang-orang yang diajak berbuka kebanyakan kadang tidak berpuasa. Jangankan yang diajak, orang yang mengajak pun bahkan tidak berpuasa. Padahal tujuan buka itu untuk membatalkan puasa.

Berbeda dengan sahur bersama yang saya adakan. Setiap malam, dengan didampingi beberapa teman, saya berkeliling ke berbagai tempat di Jakarta, seperti di kolong-kolong jembatan dan perkampungan kumuh, membagi-bagikan nasi kotak kepada para fakir-miskin dan orang-orang di jalanan. Tujuannya untuk apa? Mengajak mereka untuk berpuasa. Dan saya selalu menekankan itu kepada mereka. Inilah bedanya antara buka bersama dan sahur bersama. Sebelumnya saya memberikan sedikit pengantar tentang makna dan hikmah puasa yang sebenarnya. Ketika sedang makan sahur, kami selingi dengan tanya-jawab tentang berbagai masalah kehidupan serta kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

Buka bersama yang diadakan oleh para pejabat umumnya mengajak para sahabat dan kolega yang secara ekonomi mereka mampu. Demikian juga yang diadakan oleh partai-partai politik. Para mitra, kolega dan konstituen yang diundang berbuka adalah orang-orang ‘berkantong tebal’ alias banyak duit. Hidangan yang mereka sajikan bukan makanan biasa, melainkan makanan berkelas dan super mewah. Lantas di mana letak kepedulian mereka terhadap rakyat kecil?

Adapun sahur bersama yang saya dan teman-teman adakan benar-benar mengajak orang-orang tidak mampu, kaum lemah, kaum yang terpinggirkan dan kaum yang tidak dianggap keberadaannya. Makanan yang kami bagikan hanyalah nasi kotak. Saya berbaur dan mendengarkan keluh-kesah mereka. Saya katakan kepada mereka, bahwa di samping bersilaturrahim, bersahur bersama, saya juga belajar tentang makna hidup dan kehidupan yang sebenarnya dari saudara-saudara saya yang kurang beruntung itu.

Setelah Gus Dur dilengserkan, kegiatan sahur bersama itu tetap diadakan. Malah masyarakat di daerah-daerah juga meminta agar itu tidak hanya diadakan di Jakarta saja, tetapi juga di daerah-daerah. Nah, sejak itu kami mengadakan sahur keliling dari satu daerah ke daerah yang lain. Tiada tujuan dari kegiatan itu selain hanya untuk berbagi rasa dan membuat orang lain bahagia.

Beberapa teman ada yang mengusulkan agar dalam kegiatan itu juga mengajak orang-orang dari agama lain. Saya setuju dan kemudian kami mencobanya. Ternyata, itu mendapat sambutan sangat luar biasa dari Romo Beni dari Keuskupan, Matakin (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) dan kelompok-kelompok lain. Oleh karena itu, kadang-kadang kami berbuka/sahur di Klenteng, kadang-kadang di halaman Gereja.

Kami kerap mengadakan sahur keliling di Jawa Timur, seperti di Pasuruan, Probolinggo, Jember dan daerah-daerah lainnya. Sebenarnya, dari segi fisik, saya dan teman-teman merasa letih sekali. Tetapi demi untuk berbagi kasih dan kehangatan kepada kaum dhu’afa, kami tetap melanjutkannya. Malah masyarakat di Jember berharap itu bisa diadakan lebih dari 1 hari. Mereka tidak mau kalau hanya 1 hari saja. Bahkan kadang, satu malam kami bisa di dua tempat mengadakan sahur bersama, yakni jam 1 dan 3. Jadi, dalam sebulan, kami bisa mengadakan di 35 tempat di berbagai daerah. Padahal bulan Ramadhan hanya 29 – 30 hari.

Kegiatan sahur keliling itu bukan tanpa perencanaan yang matang. Tiga bulan sebelum Ramadhan, saya sudah menghubungi cabang-cabang Yayasan Puan Amal Hayati yang ada di daerah; Inderamayu, Tasikmalaya, Lombok, Malang, Jember, Probolinggo dan Sumenep. Saya minta mereka membentuk panitia lokal.

Sampai sekarang, kegiatan tersebut masih terus berlangsung. Terdapat nilai-nilai pluralisme yang kami usung. Dalam berbagai kesempatan saya selalu menekankan, bahwa puasa memang mengajarkan untuk hidup rukun, saling merasakan penderitaan orang lain, saling menyayangi, saling menghormati, saling bergotong-royong dan menjalin persaudaraan antara sesama warga negara, termasuk dengan para penganut agama lain. Inilah sebetulnya maksud ayat al-Qur`an yang artinya, “Wahai sekalian para manusia, sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan kamu sekalian bersuku-suku dan bergolong-golongan agar kamu sekalian saling berkenalan dan bergaul dengan sebaik-baiknya, karena sesungguhnya orang yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang bertakwa,” [QS. al-Hujurat: 13]. Sedang maksud dari “la’allakum tattaqûn” (agar kalian bertakwa) di dalam ayat al-Qur`an [QS. al-Baqarah: 183] sehubungan dengan kewajiban puasa, adalah menjaga moralitas dan etika serta hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Dalam bingkai moralitas ini, terkandung nilai-nilai kesabaran, kejujuran, keterbukaan, keadilan, kesetaraan, kebersamaan, kasih-sayang, toleransi dan nilai-nilai luhur lainnya.

Selama ini yang saya amati, masyarakat Muslim umumnya beranggapan bahwa berpuasa hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban agama tanpa mengerti hikmah dan tujuan puasa itu sendiri. Akhirnya mereka tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, karena mereka memang tidak mengerti. Oleh karena itu, dengan kegiatan sahur keliling itu, saya berharap masyarakat dapat mengerti makna dan hakikat puasa yang sesungguhnya.

 

Mudik

Ketika berada di Jakarta (di rumah mertua bersama Gus Dur), mudik tidak mesti untuk berlebaran. Kapanpun, kalau memang diperlukan, kami biasa mudik ke Jombang. Kemudian, setelah mempunyai anak dan tinggal di Jombang, kalau lebaran kami pasti mudik ke Jakarta. Waktu itu kami naik kereta api Matarmaja (Malang, Blitar, Madiun, Jakarta). Atau kadang kami naik kereta api yang lebih bagus dengan harga tiket yang tentunya lebih mahal.

Ada hal yang paling berkesan dengan Gus Dur ketika berada di dalam kereta api. Saat sudah ngantuk, tidak peduli banyak orang atau tidak, dia pasti akan langsung tidur. Dan tidurnya bukan di atas kursi, melainkan di bawah beralaskan koran dan sebuah bantal sewaan. Terserah mau dilangkahi orang, pokoknya tidur saja. Sementara saya sendiri tidurnya di atas kursi.

Untuk keperluan buka dan sahur kami tidak mau ambil pusing, karena untuk mendapatkan makanan di atas kereta memang sangat mudah. Banyak orang yang berjualan makanan. Apalagi ketika kereta berhenti sebentar di stasiun Cirebon. Para penjual makanan berjubel naik ke dalam menawarkan berbagai jenis makanan. Kami tidak pilih-pilih makanan, apapun yang ada, mau nasi pecel atau apalah, kami langsung membelinya dan kemudian memakannya bersama-sama. Kami menikmatinya di tengah-tengah keriuhan suara manusia di dalam kereta yang tidak jauh beda dengan pasar.

 

Idul Fitri

Banyak hal yang harus disiapkan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Di antaranya adalah kue dan makanan-makanan lainnya. Selain itu, juga baju baru untuk saya, Gus Dur dan anak-anak. Untuk urusan kue dan makanan, saya sendiri yang menyiapkan semuanya dengan dibantu oleh anak-anak, karena anak saya perempuan semua.

Kemudian, untuk urusan baju baru, saya juga yang mengurusnya. Bahkan saya yang menjahitnya sendiri, kecuali baju untuk Gus Dur. Jadi, saya yang membeli kainnya di toko. Saya pilih yang terbaik menurut saya. Setelah itu saya potong-potong sesuai ukuran badan anak-anak, lalu saya jahit hingga menjadi baju-baju yang indah dan cantik. Gus Dur kadang protes ke saya, “Kalau anak-anak dibuatin baju, kalau saya tidak.”—tentu saja ini hanya bercanda saja.

Baju untuk Gus Dur memang bukan saya yang menjahit, sebab Gus Dur mempunyai penjahit langganan. Tetapi, yang memotong dan merapikan rambutnya saya sendiri. Dari dulu sampai saya kecelakaan, untuk urusan potong rambut, Gus Dur selalu mempercayakannya kepada saya. Di dalam keluarga, banyak hal yang saya bisa dan menjadi hobi saya; memasak, menjahit, memotong rambut, merangkai bunga, dll.

Hobi-hobi saya itu pernah saya ajarkan di pesantren, khususnya kepada para santri putri. Oleh karena itulah, setiap kali pergi keluar negeri, Gus Dur selalu membelikan saya buku-buku mode, bordil, merangkai bunga, dll. Gus Dur berharap buku-buku tersebut akan membuat saya senang dan pengetahuan saya tentang semua itu semakin luas dan matang.

Tradisi lebaran Idul Fitri antara Jombang dan Jakarta berbeda. Kalau di Jombang  penyajian ketupat biasanya dilakukan pada hari ke tujuh setelah lebaran, yang disebut Lebaran Ketupat. Tetapi makanan tersebut tidak disuguhkan untuk para tamu yang berkunjung ke rumah, melainkan dikirim ke sanak keluarga dan tetangga. Sementara kalau di Jakarta, ketupat dan lauk-pauknya serta kue-kue, dihidangkan pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri untuk disantap oleh tamu yang datang bersilaturrahim.

 

Tradisi Nyekar dan Sungkem

Saat saya masih kecil biasanya ada tradisi nyekar atau ziarah kubur. Ayah saya sering melakukannya ke makam kakek dan para kiyai. Tetapi beliau tidak pernah mengajak saya dan ibu, karena perempuan memang tidak lazim berada di kuburan. Apalagi kami hidup di lingkungan pesantren. Begitu pun ketika saya sudah hidup bersama dengan Gus Dur. Dia melakukan ziarah ke makam-makam para leluhurnya. Sama seperti ayah saya, Gus Dur tidak pernah mengajak saya dan anak-anak. Dia tidak pernah mewajibkan kami melakukannya.

Tradisi sungkem juga ada. Ketika masih anak-anak, di Hari Raya Idul Fitri saya bersalaman dan meminta maaf kepada ayah dan ibu. Kemudian keduanya mengajak saya untuk mengunjungi rumah orang-orang yang lebih tua dan para sesepuh. Kami bersalaman dan meminta maaf. Keakraban dan jalinan silaturrahim di kampung memang sangat kuat, antara satu dengan yang lain saling peduli, saling bersimpati dan berempati. Tidak ada seorang pun yang merasa hidup terasing dan terabaikan, atau bahkan tersisihkan karena kemiskinan.

Sesudah menikah dan hidup dengan Gus Dur, tradisi sungkem menjadi tidak penting. Kami jarang melakukannya. Saya memang bersalaman dengannya, tetapi ketika saya meminta maaf dia hanya diam saja. Tidak memberikan respon apapun walaupun sekedar mengangguk, karena menurutnya, antara suami-istri semestinya memang harus selalu saling memaafkan, meskipun tidak ada acara saling minta maaf. Tradisi sungkem dan meminta maaf hanyalah formalitas belaka. Dari dulu Gus Dur memang tidak menyukai formalitas.

Ketika Gus Dur menjadi presiden, saya dan anak-anak mencoba membiasakan sungkeman. Tetapi tetap saja Gus Dur tidak suka. Saat kami mau bersalaman, dia bilang, “Ayo cepat, cepat! Salamannya jangan lama-lama!”

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”