Pos

Membebaskan Fikih Dari Asimetrisme: Sebuah Catatan

Oleh Nur Hayati Aida

Pandangan teologis, utamanya fikih, kata Ibu Lies Marcoes, selama ini terbangun dari hubungan asimetris antara laki-laki dan perempuan. Di mana relasi keduanya tak imbang atau genjang. Relasi ini ternyata dianggap sebagai sesuatu yang tetap dan tak bisa berubah atau qath’i oleh sebagian orang, termasuk di dalamnya adalah fukaha. Banyak orang yang beranggapan bahwa hukum Islam adalah apa yang tercantum dalam fikih. Padahal, menurut Gus Ulil Abshar Abdalla, hukum Islam bukan hanya apa yang tercantum dalam (kitab-kitab) fikih, tetapi fikih adalah part of the big picture.

Laki-laki yang selama ini menjadi pusat pembuat hukum, menikmati kemewahan dalam berbagai hal, di antaranya dalam persoalan wilayah dan qiwamah. Proses pemberian kemewahan pada laki-laki ini, menurut Kiai Husein Muhammad, bukan hanya semata-mata sebagai bentuk pelimpahan hak berdasarkan jenis kelamin karena nasab atau relasi yang timbul atas terjadinya perkara hukum, misalnya pernikahan. Melainkan lebih pada tanggungjawab dan melindungi hak anak atau istri.

Sayangnya, pembacaan semacam ini kurang popular dalam masyarakat. Fikih yang kita nikmati saat ini, tutur Kiai Husein Muhammad, adalah produk kebudayaan abad pertengahan Arabia. Sepeninggal Nabi Muhammad, nyaris semua yang ada adalah penafsiran. Sedangkan penafsiran erat kaitannya dengan ruang dan waktu, sehingga tafisran atas teks-teks agama, pun dengan (tafsiran) hadis Nabi, adalah produk dari budaya.

Untuk mencapai pembacaan teks agama yang adil untuk perempuan dan laki-laki diperlukan sebuah metodologi baru. Sebuah metode yang ramah dan sensitif pada perempuan, sehingga mampu membaca kebutuhan yang khas perempuan yang selama ini tertutupi oleh keperkasaan teks yang misoginis. Meski, tentu saja, upaya ini tak jarang dituduh sebagai agenda Barat dan mempromosikan immoralitas. Lenna Larsen, seorang peneliti Norwegian Center of Human Rights – University of Oslo, menyebutkan bahwa pendekatan egalitarian seperti ini bukanlah mempromosikan imoralitas, tapi untuk melindungi keluarga, terutama untuk anak dan istri yang rentan terhadap perlakuan tidak adil.

Upaya untuk melakukan rekonstruksi atau dekonstruksi penafsiran pada teks-teks tidaklah mudah. Selama berabad-abad lamanya penafsiran dan pemikiran teologis telah mengalami sakralisasi. Butuh investasi waktu dan pemikiran yang tak sedikit dalam hal ini. Namun, tentu ini bukan berarti mustahil.

Satu di antara ikhtiarnya telah dilakukan oleh Rumah KitaB dengan diterbitkannya buku ‘Fikih Perwalian: Membaca Ulang Hak Perwalian Untuk Perlindungan Perempuan dari Kawin Paksa dan Kawin Anak. Buku yang diproduksi oleh Rumah KitaB ini dinilai penting oleh Bapak Muhammad Noor, Hakim Yustisial Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung RI, karena bisa digunakan sebagai rujukan oleh para hakim dan pendamping komunitas yang selama ini menangani kasus hukum keluarga, utamanya kawin anak dan kawin paksa.

 

 

 

 

WALI NIKAH

Oleh: Dr. (HC). Husein Muhammad

Secara umum kata “wali” dalam bahasa Arab mengandung sejumlah makna. Antara lain : orang yang menyayangi, orang yang melindungi, orang yang mengurusi urusan orang lain, orang yang bertanggungjawab atasnya, orang yang mempunyai kekuasaan, dan sejenisnya.

 

Dalam konteks Nikah, Wali menurut pandangan para ahli Islam adalah orang yang bertindak melaksanakan secara langsung akad nikah bagi orang lain. Lalu siapakah dia?. Sepanjang sejarah di negeri ini bahkan di banyak negara Islam, wali adalah harus seorang laki-laki. Perempuan tidak bisa/boleh menjadi wali atas dirinya sendiri atau atas orang lain. Pikiran dasar pandangan ini adalah bahwa laki-laki itu “Ahliyah al-Tasharruf” sementara perempuan itu “Naqish al-Ahliyyah” atau “al-Qashir”. Manusia yang kurang cakap bertindak hukum dan dibawah tanggungan orang lain.

 

Wali adalah ayah, kakek atau kerabat dekat (nasab) dari perempuan itu. Bila mereka tidak ada atau tidak bisa karena alasan tertentu, maka fungsi wali dialihkan kepada pemerintah (naib KUA). Ini yang disebut wali hakim.

 

Dalam mazhab fiqh ada istilah “wali mujbir”. Ia adalah ayah atau kakek seorang perempuan. Dalam banyak pandangan, wali mujbir berhak menikahkan anak perempuannya meski tanpa persetujuan eksplisit dari anaknya. Ini membawa persepsi public  bahwa ayah/kakek berhak memaksa anak perempuanya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, bukan pilihan putrinya itu. Bahkan kadang terjadi ayah telah menikahkan putrinya, tanpa sepengetahuan si anak. Anak perempuan itu baru diberitahu atas pernikahan itu sesudahnya. Tindakan ini berbeda dengan pernyataan Nabi saw : “untuk gadis hendaklah diminta izinnya, dan untuk janda diminta perintahnya. Izin si gadis (paling tidak) adalah sikap pasifnya”.

 

Seperti ditulis dalam buku-buku fiqh Syafi’i, wali mujbir bisa menikahkan anak perempuannya, meskipun tanpa persetujuan eksplisit sang anak, hanya jika terpenuhi empat  syarat : si anak tidak memperlihatkan penolakan verbal maupun ekspresif, terhadap ayahnya, tidak ada penolakan tegas dan ekspresif terhadap calon suaminya, calon suami sepadan (kufu) dan mas kawinnya (mahar) layak untuk status social dirinya.

 

Jika demikian, maka “Ijbar” bukanlah “Ikrah”. Dua kata ini sering diterjemahkan sama : memaksa. Tetapi konotasinya sesungguhnya berbeda. Ikrah merupakan pemaksaan tanpa kerelaan yang perempuan. Sedang “Ijbar” melakukan suatu tindakan atas nama orang lain (perempuan) tanpa penolakan. Ijbar dilakukan atas dasar tanggungjawab.

 

Pandangan Lain 

Jika kita menelusuri khazanah hukum dalam masyarakat Islam, perempuan tidak boleh melakukan sendiri akad nikahnya sesungguhnya bukanlah pandangan satu-satunya. Secara singkat berikut ini adalah beragam pandangan ulama ahli fiqh tentang isu ini :

1. Nikah yang Ijabnya dilakukan oleh perempuan, adalah sah jika dia telah “dewasa”, (al-Rasyidah). Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf, Zufar, Auza’i, Muhamnad bin Hasan dan Imam Malik dlm riwayat Ibn Qasim.

2. Ia sah jika ada izin/restu Wali: Ibnu Sirin, Qasim bin Muhammad, dan Ahmad bin Hambal menurut qaul mukharraj.

3. Sama dengan no. 2 dengan catatan (syarat) izin wali diperoleh sebelum akad

4. Nikah tanpa wali adalah sah, jika sekufu. Ini pendapat Al-Sya’bi dan al-Zuhri

5. Sah bagi janda. Tidak bagi gadis. Ini pendapat Daud Zhahiri

6. Tidak sah baik gadis maupun janda, kufu maupun tidak. Ini adalah pandangan Imam Al-Syafi’i, Imam Malik riwayat Asyhab, ibn Syubrumah, Ibn Abi Laila, Sufyan Tsauri, Ishak bin Rahawaih, dan Ibn Hazm. Inilah pandangan mayoritas. (Baca: “Nikah, Rujuk, Talak”, karya Prof. K.H. Ibrahim Hosen).

Seluruh pandangan ini mengambil dasar legitimasinya dari Al-Qur’an dan Hadits, tetapi dengan cara analisis yang berbeda-beda.

 

Memilih adalah hak kolektif, Menentukan adalah hak personal

Pandangan fiqh mayoritas di atas boleh jadi tidak menyimpan problem dalam system social masa lalu. Yakni zaman ketika suara dan ekspresi perempuan dibatasi oleh struktur social, budaya dan politik yang disebut patriarkhisme. Perempuan dalam system ini sulit atau tabu mengemukakan kehendak atau tidak berkehendaknya secara verbal dan ekspresif. Jika pun dia ditawari menikah dengan pilihan ayanya, dia hanya diam jika tidak merasa keberatan. Diam adalah ekspresi minimal persetujuan perempuan. Tetapi kebudayaan manusia senantiasa berkembang dan berubah. Hari ini akses pendidikan dan aktualisasi diri perempuan semakin terbuka. Maka kita melihat tidak sedikit perempuan yang cerdas dan berani mengungkapkan kehendaknya, baik dalam mengapresiasi maupun menolak suatu pandangan dan kehendak orang lain, termasuk orang tuanya. Pikiran perempuan tidak selalu lebih bodoh daripada pikiran laki-laki, bahkan kadang lebih cerdas dan jitu.

 

Realitas sosial seperti ini seharusnya membuka mata hati dan pikiran orang tua untuk mengambil sikap yang lebih relevan dan kontekstual.  Sebagai seorang wali, orang tua, tentu berhak untuk mencarikan atau menawarkan pasangan hidup yang menurut dirinya bisa membahagiakan anaknya. Ini sebagai bentuk tanggungjawab atas masa depan anaknya.  Dalam waktu yang sama anak juga mempunyai hak yang sama untuk hal itu. Ketika pilihan keduanya berseberangan, maka sepatutnya kehendak anak lebih dipertimbangkan.

 

Menikah adalah hak setiap orang, laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, menikah menjadi “sunnah”, dianjurkan, manakala dia sudah berhasrat dan siap. Ia adalah fase krusial bagi perjalanan hidupnya di masa depan. Karena itu dia tentu akan berfikir keras dalam memilih pasangan hidupnya yang akan membahagiakannya. Perempuan dewasa, apalagi terpelajar, tentu dapat atau bisa memilih apa yang baik dan apa yang buruk. Maka memilih pasangan hidup seyogyanya lebih banyak diberikan sekaligus ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain.

 

Tanggungjawab itu sendirian 

Pengalaman hidup kita menunjukkan dengan pasti bahwa manakala seseorang telah membentuk rumah tangga, dia akan menjalani hidup bersama pasangannya, dan dia akan bertanggungjawab atas hidup bersama pilihannya itu dalam suka maupun duka. Sebagai seorang wali, orang tua, memang punya tanggungjawab moral; memberikan nasehat, pertolongan manakala diperlukan dan mendo’akan bagi kebahagiaan anaknya selamanya. Dalam waktu yang sama, secara moral pula, anak dituntut mempertimbangkan apa yang baik dan patut dari pandangan orang tuanya. Kesalingan saling mengapresiasi pikiran, rasa dan kehendak adalah penting. Tetapi menentukan nasib hidup atas diri adalah sendiri-sendiri. Dengan kata lain : memilih adalah hak kolektif, tetapi menentukan adalah hak personal. Ada semboyan : “The Personal is Political”. Islam, juga menyebutkan tanggungjawab individual ini.

 

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“

Dan setiap orang akan datang kepada-Nya pada hari Qiyamat, sendiri-sendiri” (Q.S. [19]: 95).  Para ahli tafsir menjelaskan bahwa setiap manusia akan menghadap Tuhan sendirian saja, tanpa penolong siapapun dan apapun.

Lihat pula Q.S.  [39]:7:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“dan seorang tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu”.

 

Khalil Gibran menulis puisi cerdas dan indah  :

Anakmu bukanlah anakmu

dia anak kehidupan yang merindui dirinya sendiri

Dia terlahir melaluimu tapi bukan darimu

Meski dia bersamamu tapi dia bukan milikmu

Kau bisa bikinkan rumah untuk tubuhnya tapi bukan jiwanya

Jiwa adalah penghuni rumah masa depannya

yang tak bisa kau kunjungi, meski dalam mimpi.

 

Puisi itu mengingatkan kita pada kata bijak Socrates :

لا تكرهوا اولادكم بعاداتكم فانهم خلقوا لزمان غير زمانكم.

“Jangan kau paksa anak-anakmu ikut tradisimu. Mereka diciptakan Tuhan untuk suatu zaman, bukan zamanmu”.

Redaksi lain menyebut : لا تكرهوا اولادكم على اثاركم فانهم مخلوقون فى زمان غير زمانكم

 

Demikian.  Cirebon, 24.06.19Husein Muhammad

 

Tulisan ini dipresentasikan dalam acara launching buku “Fikih Perwalian” di Wahid Institute, Jakarta, 25 Juni 2019.

 

Fikih Perwalian: Membaca Ulang Hak Perwalian untuk Perlindungan Perempuan dari Kawin Paksa dan Kawin Anak

Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) atas dukungan Oslo Coalition menginisiasi kajian teks selama 10 bulan dengan 8 kali putaran diskusi mengenai wilâyah dan qiwâmah. Inisiatif ini muncul setelah menyadari bahwa kajian-kajian Islam kontemporer semakin memperkuat bangunan konsep wilâyah dan qiwâmah yang melahirkan asimetrisme relasi antara laki-laki dan perempuan. Hasil kajian ini kemudian dituangkan menjadi buku “Fikih Perwalian: Membaca Ulang Hak Perwalian untuk Perlindungan Perempuan dari Kawin Paksa dan Kawin Anak.” Kajian dilakukan karena hampir semua argumen keagamaan fikih yang terkait dengan praktik perkawinan anak berpusat kepada hak ayah (wilâyah), sementara yang terkait dengan fungsi perlindungan berpusat kepada lelaki dalam perannya sebagai suami (qiwâmah).

Dalam kajian wilâyah dan qiwâmah ini Tim Rumah KitaB mendasarkan argumennya pada al-Qur`an, hadits, karya-karya para ulama dengan menggunakan metodologi pembacaan teks maqâshid al-syarî’ah, ushul fiqh dan gender. Dengan ketiga pisau analisis ini, argumentasi yang kokoh dibangun guna menolak penafsiran yang selama ini diarahkan untuk memperkokoh asimetrisme relasi laki-laki dan perempuan yang banyak menyumbang pada buruknya status sosial, ekonomi, dan politik perempuan.

Buku ini berusaha mendudukkan pemahaman umat Muslim dan sumbangan dari pengalaman Islam d Indonesia terhadap tujuan kemaslahatan syariat dalam masalah hak ijbâr orangtua (ayah) atau wali mujbir dalam perkawinan dan meluruskan pemahaman-pemahaman subyektif bias gender yang tidak mempertimbangkan kepentingan masa depan anak-anak perempuan.

Sejumlah inovasi telah dilakukan para ulama, ahli fikih dan hakim agama dari Indonesia dalam mengatasi asimetrisme terdapat dalam buku ini seperti  Prof. Dr. Teungku H. Mohammad Hasbi Ash-Shiddiqiy, Prof. Dr. Mr. Hazairin Harahap, S.H., Dr. (HC). KH. Sahal Mahfudz, dan Dr. H. Andi Syamsu Alam, S.H., M.H.  Upaya serupa juga dilakukan oleh para ulama modern seperti Rifa’at Rafi’ Al-Thahthawi (Mesir), Thahir Al-Haddad (Tunis), Muhammad Abduh (Mesir), dan Qasim Amin (Mesir). Intinya dalah mereka berusaha mengkonetkskan perubahan sosial dengan teks agar teks tetap relevan 9 mengatasi asismetrisme hubungan gender dalam keluarga.

Rumah KitaB Luncurkan Buku Fikih Perwalian, Bahas Qiwamah

Jakarta, Gatra.com – Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) meluncurkan buku bertajuk “Fikih Perwalian” yang didukung oleh Oslo Coalition. Buku ini merupakan hasil dari kajian teks selama 10 bulan dengan 8 kali putaran diskusi mengenai wilayah (Perwalian) dan qiwamah (Perlindungan perempuan dan anak).

“Saya sangat senang berada disini, dan saya juga ingin menyampaikan bahwa isu ini sangat menarik untuk dikaji. Kajian yang dilakukan berdasarkan realita sosial, dan berkesinambungan dengan kondisi di Indonesia,” jelas Dr. Lena Larsen sebagai perwakilan dari Oslo Coalition saat Launching dan Diskusi Buku “Fikih Perwalian” di Aula The Wahid Institute, Jakarta, Selasa (25/6).

Buku ini berusaha mendudukkan pemahaman umat muslim terhadap tujuan kemaslahatan syariat terkait masalah hak ijbar orangtua (ayah) atau wali mujbir dalam perkawinan, serta meluruskan pemahaman-pemahaman subyektif bias gender yang tidak mempertimbangkan kepentingan masa depan anak-anak perempuan.

Nursyahbani Katjasungkana dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Apik serta Hakim Yustisial Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung RI, Muhammad Noor juga hadir dalam peluncuran buku. Menurut Nursyahban, buku Fikih Perwalian membahas juga Undang-Undang Perkawinan serta implementasinya di Indonesia.

“Perwalian dalam hukum Islam, sangat berbeda dengan konsep perwalian yang ada di dalam kitab UU Hukum Perdata dan juga UU Perkawinan. UU perkawinan itu sendiri tidak mengacu pada hukum internasional,” jelasnya dalam

Menurut Muhammad Noor, buku ini mampu memberikan gambaran metodologis mengenai penafsiran yang dilakukan. Kajian dalam buku bisa digunakan untuk argumentasi dalam membuat pertimbangan putusan.

“Saya harap kedepannya kajian atau penafsiran yang dilakukan dapat lebih mencakup pada tataran sistematis, meskipun penafsiran yang dilakukan saat ini masih di tingkat gramatikal, namun isi dari buku ini sangat membantu dalam membuat pertimbangan putusan,” ujar dia.


Reporter: Anjasmara Rianto
Editor: Wem Fernandez
Sumber: https://www.gatra.com/detail/news/424145/millennials/rumah-kitab-luncurkan-buku-fikih-perwalian-bahas-qiwamah

WINNETOU DAN OLD SHATTERHAND DI KAMPUNG KAUMAN

Oleh Prof. Dr. Zubairi Djoerban, MA.

[Profesor Ahli Penyakit Dalam]

 

“Puasa bagi saya adalah masa untuk “pulang” kepada kehangatan keluarga dan kemeriahan masjid, dengan kedua orangtua, terutama ibu, sebagai subyek utama. Puasa tak akan mungkin sama tanpa kehadiran sosok beliau berdua. Dan saya kira mereka yang pernah berpredikat anak pasti akan menyetujuinya. Ibulah yang pertama kali mengenalkan saya pada puasa dan rutinitasnya yang berbeda dengan hari-hari biasa: sahur, buka puasa, tarawih, dan shalat berjamaah. Ketika kami harus bangun sahur padahal mata tengah rapat-rapatnya terpejam, ibulah yang menguatkan. Juga pada waktu-waktu krusial di siang hari ibulah yang menjadi penenteram bagi anak-anaknya melalui jam-jam sulit tersebut.”

 

 

Lahir di sebuah keluarga Kauman, Yogyakarta, yang terkenal sebagai lingkungan santri, tidak dengan sendirinya membuat puasa saya berbeda—dalam pengertian lebih bagus dan khusyuk—daripada puasa anak-anak yang lahir di keluarga abangan. Seingat saya, memang selama puasa saya tidak pernah berbohong seperti berlama-lama di kamar mandi supaya bisa mereguk sedikit air ketika berwudhu di siang yang terik, atau sembunyi-sembunyi jajan dan berpura-pura puasa penuh sesudahnya. Berbohong dan berkelahi adalah hal yang dilarang keras oleh kedua orangtua saya, pasangan Bapak Djoerban Wachid dan Ibu Buchaeroh.  Meski demikian puasa bagi kami tetap saja menyediakan “petualangan” seru yang tidak akan terlupakan sampai kami dewasa.

Puasa bagi saya adalah masa untuk “pulang” kepada kehangatan keluarga dan kemeriahan masjid, dengan kedua orangtua, terutama ibu, sebagai subyek utama. Puasa tak akan mungkin sama tanpa kehadiran sosok beliau berdua. Dan saya kira mereka yang pernah berpredikat anak pasti akan menyetujuinya. Ibulah yang pertama kali mengenalkan saya pada puasa dan rutinitasnya yang berbeda dengan hari-hari biasa: sahur, buka puasa, tarawih, dan shalat berjamaah. Ketika kami harus bangun sahur padahal mata tengah rapat-rapatnya terpejam, ibulah yang menguatkan. Juga pada waktu-waktu krusial di siang hari ibulah yang menjadi penenteram bagi anak-anaknya melalui jam-jam sulit tersebut. Biasanya ibu akan menjanjikan makanan pembuka puasa yang unik, lezat, dan tentu saja memulihkan kembali kesegaran dan menghapus kepenatan akibat menahan makan dan (terutama) minum seharian.

Di keluarga kami yang bisa dibilang sederhana, makan berlauk ayam adalah sesuatu yang mewah ketika itu. Tidak saban hari kami bisa menemukan ayam di atas meja makan. Tetapi pada saat puasa, ayam goreng cukup sering menghiasi saat-saat berbuka dan sahur. Saya tidak tahu bagaimana persisnya, namun saya yakin ada budget khusus yang disiapkan bapak dan ibu untuk bisa menghadirkan masakan-masakan istimewa bagi kelima putra-putrinya di bulan yang juga istimewa tersebut. Diam-diam saya kerap terharu mengenang upaya mereka membuat anak-anaknya mencintai puasa dan segala ibadah di bulan Ramadhan.

Untuk saya, kuliner masa kecil yang tak tergantikan adalah ayam brambang–salam buatan ibu. sungguh itu adalah hidangan paling istimewa. Masakan itu sangat sederhana: ayam direbus dengan banyak bawang merah dan daun salam, tentu saja ditambah garam dan sedikit macam bumbu lainnya. Mungkin cinta ibu yang terbawa dalam masakan itulah yang membuat masakan sederhana itu sungguh terasa istimewa. Bahkan bukan cuma itu. Kelak, ketika saya dewasa pun, masakan ayam brambang-salam ini juga tetap menemani dan punya daya sembuh yang ajaib pada saat kondisi tubuh sedang turun. Meskipun profesi saya saat ini adalah dokter, namun ketika sakit masakan ibu yang satu inilah obat saya yang sesungguhnya.

Masakan lainnya yang tak kalah “memorable”-nya adalah tempe goreng dan sambal bawang. Memang di hari-hari biasapun masakan ini cukup sering hadir di meja makan—karena harganya yang terjangkau untuk ukuran keluarga seorang guru beranak lima. Namun entah kenapa juga setiap kali mengingat puasa di masa kecil, saya selalu menyebut tempe dan sambal bawang buatan ibu sebagai salah satu pernik indah dari masa lalu.

Begitu sederhananya kehidupan kami, sehingga sebagai anak-anak kami tak banyak mendapatkan uang jajan. Padahal di Kauman, sejak dulu sampai sekarang, aneka penganan dijual orang setiap sore di bulan puasa. Sayangnya uang pemberian Bapak dan Ibu hanya cukup untuk membeli tempe gembus dan kangkung rebus. Selebihnya saya hanya mampu merasakannya dalam angan-angan.

Salah satu keinginan saya ketika kecil dulu adalah jajan lele goreng. Tampak garing dan gurih sekali. Namun, ya itu tadi, tak pernah cukup uang jajan saya untuk membelinya. Baru setelah dewasa, setelah kuliah di Fakultas Kedokteran UI dan mulai bisa menyisihkan uang, saya bisa membeli lele sendiri. Rasanya, ya begitulah. Tapi cukuplah untuk menuntaskan rasa penasaran yang menggunung sejak masa kanak-kanak.

 

Tarawih di Kauman

Saya adalah sulung dari lima bersaudara—dua laki-laki dan tiga perempuan—yang lahir pada tahun 1947 di Kauman, Yogyakarta. Wilayah ini yang sangat erat terkait dengan perkembangan organisasi Islam, Muhammadiyah. Entah karena posisi sulung itu, atau karena dulu Ibunda saya mengalami kesulitan yang luar biasa pada saat hendak melahirkan saya karena posisi janin yang sungsang, ada hak-hak istimewa tertentu yang saya nikmati sebagai anak sulung. Mulai dari yang sederhana, sampai kesempatan untuk bersekolah di fakultas yang membutuhkan biaya lumayan untuk kondisi ekonomi yang berat waktu itu. Sebenarnya, sekedar cerita tambahan, biaya kuliah di FKUI mulai tahun 1965 sampai saya lulus sebagai dokter umum tahun 1971 cukup murah. Tapi tetap saja memerlukan uang transport untuk naik bus atau “tavip”—kendaraan umum yang tempat duduknya adalah bangku panjang dari kayu—dari Tebet ke Pasar Rumput. Untuk menghemat, tidak jarang saya berjalan kaki dari Pasar Rumput ke kampus di Salemba sambil menenteng rantang berisi bekal makan siang yang disiapkan ibunda.

Juga, ketika nilai di sekolah tidak terlalu cemerlang pada tahun-tahun tertentu, saya tidak ingat pernah mendapat peringatan dari Bapak ataupun Ibu. Saya, misalnya, pernah tidak naik kelas sewaktu SR kelas tiga…untung alasannya selalu ada: karena saya masuk SD pada usia 5 tahun. Barangkali juga karena itu saya cenderung santai dan tidak tegang menghadapi nilai anak-anak saya di sekolah. Ada banyak hal di luar nilai pelajaran yang lebih penting untuk menjalani hidup dengan baik: empati, simpati, kepekaan terhadap penderitaan orang lain, kemurahhatian, keberanian menghadapi risiko, keyakinan kepada Tuhan, dan sebagainya. Kebanyakan orang yang berhasil dalam hidupnya, menurut saya, lebih mengandalkan pada hal-hal tersebut dibanding nilai di sekolah.

Dan puasa, sungguh merupakan “madrasah ruhani” yang istimewa. Selain makanan yang istimewa, satu hal yang tak pernah akan saya lupakan dari puasa di masa kanak-kanak adalah shalat Tarawih yang biasanya diadakan di Sekolah Rakyat (SR) Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta, atau di pelataran Masjid Gede, Kauman. Shalatnya mungkin biasa-biasa saja—artinya ada juga kenakalan-kenakalan khas anak-anak seperti mengganggu teman-temannya yang berusaha shalat khusyuk dan tentu saja membuat kesal guru-guru atau marbot masjid. Tapi yang sungguh istimewa adalah kisah-kisah “Winnetou dan Old Shatterhand” yang dibawakan dengan sangat hidup oleh seorang kakak senior di lingkungan kami setelah shalat Tarawih usai. Ya, dibawakan. Bukan dibacakan. Kakak senior itu “hafal mati” seluruh kisah sosok rekaan Karl May (1842-1912), pengarang Jerman yang lahir hampir seratus tahun sebelum saya lahir. Dan cara ia menceritakan kisah-kisah petulangan Winnetou itu sungguh hebat, membuat kami yang masih kecil-kecil “tersihir” karenanya. Ada saatnya kami tertawa mendengar bagian-bagian yang lucu, tercekam mendengar pertempuran-pertempuran dahsyat yang melibatkan kedua sahabat tersebut, atau menitikkan air mata—yang dengan sembunyi-sembunyi kami seka dengan kain sarung—pada bagian ketika Winnetou akhirnya gugur dalam pertempuran penghabisannya.

Belakangan kita semua mendengar bahwa Karl May—yang sebelumnya diyakini mengalami sendiri kisah heroik ini dan menjelmakan diri sebagai tokoh Old Shatterhand, sahabat setia Winnetou—ternyata tidak pernah benar-benar hadir di padang savanna Amerika Utara. Alih-alih, ia menuliskan kisah epik tersebut dari balik penjara. Banyak orang lalu menuduhnya berbohong. Namun itu semua tidak mengurangi kekaguman saya kepada sosok Winnetou dan sahabat “kulit pucat”nya itu. Serial Winnetou—lebih dari serial petualangan Kara Ben Nemsi yang ditulis Karl May belakangan—menyimpan banyak hikmah mengenai persahabatan, kesetiaan, keberanian dan pembelaan terhadap kelompok pribumi yang tersingkirkan oleh kekuatan kolonial. Juga kehidupan sederhana yang dekat dengan alam. Indah, inspiratif, dan menggugah.

Ritual puasa seperti shalat Tarawih, mendaras al-Qur`an bersama ibu setiap usai shalat Shubuh dan Maghrib, untuk saya sama pentingnya dengan kisah-kisah Winnetou yang didongengkan kepada kami—kanak-kanak di Kauman pada tahun 1950-an. Tak ada orangtua yang keberatan anak-anaknya mendengar kisah yang ditulis oleh seorang “kafir” pada bulan yang begitu disakralkan oleh umat Muslim di seluruh dunia dari zaman ke zaman, sejak masa Rasulullah saw.

Kembali tentang puasa, khususnya mengaji, saya tak akan lupa pada almarhum Bapak Achyat, kepala sekolah di SR Ngupasan. Beliau ini sungguh piawai memotivasi murid-muridnya, sehingga rata-rata kami sudah hafal seluruh surat dalam Juz ‘Amma sebelum tamat SR. Pak Achyat memang guru yang istimewa. Tak hanya pandai mengaji, ia juga mengambil hati kami dengan keahliannya melakukan senam akrobatik. Barangkali karena beliaulah, antara lain, saya juga jadi menyukai olahraga. Silat, karate, badminton, renang, sampai yoga Asanas dan Pranayama yang tuntas saya kuasai secara otodidak. Buku-buku mengenai yoga saya dapatkan dari Gunung Agung, setelah menyisihkan uang saku yang terbatas.

 

Masjid: Pusaran Kegiatan

Puasa pada masa kanak-kanak adalah juga kesempatan untuk kembali membangun kedekatan dengan masjid. Rutinitas sebagai dokter dan dosen di Fakultas Kedokteran UI, terus terang, tidak banyak menyisakan waktu untuk dekat dengan masjid kecuali sesekali saja. Termasuk pada hari Jum’at. Namun puasa, masjid tetap menjadi magnet yang menarik saya untuk datang terutama pada 10 hari terakhir.

I’tikaf sudah saya jalani sejak kecil. Dalam ingatan awal saya, Masjid Gede Kauman sejak dulu selalu penuh dengan orang yang datang untuk beri’tikaf terutama pada hari-hari terakhir Ramadhan. Untuk saya, kebiasaan untuk beri’tikaf terbangun karena ajakan seorang bulik—adik Ibu—yang waktu itu punya hajat penting: segera lulus dari sebagai sarjana hukum. Awalnya sih, sebagai anak-anak, saya hanya ikut-ikutan saja, tetapi lalu berkembang menjadi ritual yang hampir tak bisa saya tinggalkan sampai sekarang. Akan ada yang terasa kurang jika 10 hari terakhir Ramadhan tidak diisi dengan tinggal di masjid pada malam hari, meski hanya untuk beberapa jam saja dan kadang tidak bisa sepuluh hari penuh menjalaninya.

Karena itu sebenarnya saya sempat agak kaget ketika keluarga kami pindah ke Jakarta tahun 1965 hanya sedikit orang yang melakukan i’tikaf. Sepanjang yang saya tahu, tidak ada masjid yang mengadakan acara i’tikaf pada tahun-tahun itu. Beberapa masjid bahkan ditutup setelah shalat Tarawih dan baru dibuka menjelang adzan Shubuh. Tetapi 10 tahun terakhir—atau mungkin sejak dekade 1990-an—kondisinya sudah berbeda. Banyak masjid menyelenggarakan i’tikaf secara berjamaah. Di masjid Sunda Kelapa bahkan presentasi muballigh dilakukan dengan memanfaatkan teknologi komputer dan program powerpoint. Masjid di Tebet, di sekitar tempat tinggal saya sekarang, menggelar acara Khatmil Qur`an. Bersama anak lelaki dan tetangga dekat saya sering mencoba masjid-masjid lain untuk beri’tikaf, termasuk masjid di RSCM tempat saya bekerja hingga saat ini.

Ramadhan seperti memasuki babak baru seiring dengan pertumbuhan gairah orang dalam beragama. Sungguh menyenangkan, meskipun kadang-kadang saya merasa kangen dengan i’tikaf yang senyap dan tenang, ketika setiap orang tenggelam dalam doa dan perenungannya masing-masing. Tetapi zaman akan terus berubah, dan setiap generasi akan menghayati dan menjalankan ajaran Islam dengan cara yang berbeda pula, meskipun universalitas inti ajarannya akan tetap, melintasi ruang dan waktu.  Itu pelajaran yang harus saya ingat.

Masih mengenai masjid dan puasa, kenangan yang tak akang lekang dalam ingatan saya adalah belajar mengaji di masjid Syuhada, salah satu masjid terbesar dan tertua di Yogyakarta. Di tempat ini saya sempat belajar tilawah. Yang saya ingat ayat yang dibaca untuk tilawah adalah beberapa ayat terakhir dari surat al-Hasyr yang berisi al-asmâ` al-husnâ.

Saya sangat bersyukur bahwa orangtua saya mengajak dan mendekatkan masa kanak-kanak saya dengan masjid. Buat saya itu sangat penting. Kemampuan membaca al-Qur`an dan menghafal beberapa bagiannya, tak bisa dilepaskan dari keterlibatan saya di masjid. Harus diakui bahwa waktu mengaji saya sekarang tak sebanyak di waktu kecil dulu. Namun untunglah sekarang ada banyak bantuan teknologi yang memudahkan saya menyimak ayat-ayat suci al-Qur`an di manapun saya berada.

 

Libur Berkelahi

Saya kira untuk anak-anak angkatan saya, puasa identik dengan liburan. Selain memang sekolah diliburkan sebulan penuh, kami juga melakukan berbagai kegiatan yang berbeda dengan rutinitas di 11 bulan lainnya. Hingga usia tertentu, sakralitas Ramadhan hanya hadir sebatas ritual shalat Tarawih dan tadarus. Lainnya, anak-anak tetap “mengamalkan” kenakalan-kenakalan belianya.

Tapi bagaimanapun bandelnya saya, ketika puasa saya benar-benar libur berkelahi. Ya, orangtua saya memang agak keras dalam hal ini. Dilarangnya kami berkelahi, apapun alasannya. Padahal sebagai anak lelaki, saya kira wajar jika sekali atau dua kali saya ingin menunjukkan aspek jagoan dalam diri saya dengan mengajak duel anak lain yang menjadi musuh ketika itu. Duel, bukan berkelahi keroyokan yang menurut saya agak memalukan.

Saya cerita sedikit tentang pengalaman saya mengajak duel salah seorang teman masa kecil, meskipun ini tidak terjadi di bulan Ramadhan. Suatu hari, karena urusan yang saya sudah lupa pasalnya sekarang, saya ditantang duel oleh seorang teman. Kami berjanji untuk bertemu di tempat tertentu, di waktu tertentu. Tentunya yang orangtua kami tidak tahu.

Sebelum waktu yang ditentukan tiba saya sudah sampai di lokasi. Semakin dekat waktu yang ditentukan, jantung saya semakin berdebur kencang membayangkan jurus-jurus yang akan saya keluarkan. Waktu itu usia saya sekitar 10 tahun, dan belum tahu apa-apa mengenai silat, apalagi karate. Akhirnya, lawan saya datang. Dari kejauhan saya sudah melihat bayangannya, tetapi dia datang berdua! Celaka tiga belas. Bagaimana melawannya? Tetapi baiklah, saya akan hadapi, bisik hati saya. Akan sangat memalukan jika saya mengambil langkah seribu sebelum bertarung.

Tapi, ketika sampai di lokasi dan melihat saya, lawan saya dan kawannya yang bertubuh tinggi besar itu hanya menatap kepada saya. Sejenak saling memelototi, dan setelah itu mereka berlalu dari tempat itu. Sudah, begitu saja. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Tidak ada jurus yang dikeluarkan. Semuanya berakhir anti klimaks. Agak kecewa juga karena saya tak sempat unjuk kebolehan. Tapi selebihnya sebenarnya saya lega juga.

Kali lain, saya juga punya seorang musuh lain. Seorang anak lelaki tetangga dan teman sekolah. Suatu kali menjelang maghrib, dari jauh saya lihat anak itu berlari ke arah saya. Perasaan bermusuhan membuat saya memutuskan untuk menuntaskan kekesalan terhadapnya. Buru-buru saya bersembunyi. Begitu ia dekat, saya julurkan salah satu kaki untuk menjegalnya. Bleekk … jatuh tersungkur dia dengan telaknya. Anak laki-laki itu kontan menangis menggerung-gerung. Waah, ternyata dia bukan anak yang saya incar!! Gawat. Saya ketakutan dan segera memutuskan untuk mengambil langkah seribu menghindari konsekuensi diomeli orangtua anak itu. Sampai sekarang saya masih sering teringat rincian peristiwa tersebut dan merasa bersalah berkepanjangan karenanya.

Menengok kembali masa lalu, saya tahu orangtua saya sudah melakukan yang terbaik untuk mendidik anak-anaknya. Semasa SMP, sepulang sekolah atau tepatnya setelah magrib sampai jam 21.00 saya disekolahkan di sekolah agama di tingkat Wustha atau setara dengan Tsanawiyah, selama 3 tahun penuh. Saya sangat bersyukur karenanya. Juga bersyukur karena dulu saya mematuhi larangan mereka berkelahi di bulan puasa.

Ramadhan dan lebaran untuk anak-anak adalah juga permainan. Dan permainan yang paling saya kuasai selain berbagai jenis olah raga adalah layangan. Sampai sekarang pun rasanya saya berani bertanding membuat layang-layang. Meraut buluh bambu, memilih kertas yang tipis (biasanya kertas tipis bekas, seperti kertas karbon yang digunakan untuk menggandakan tulisan dengan mesin ketik), hingga membuat benang gelasan dari plentong (bohlam) yang digerus halus, semuanya saya kuasai dengan baik. Ngundo (mengejar) layangan, apalagi. Dan tempat favorit saya untuk mengadu layangan adalah loteng, baik loteng di rumah Mbah Wachid, kakek dari Bapak di Ngindungan, Kauman Timur, maupun loteng rumah Mbah Djufri, kakek dari Ibu di Kauman Utara. Pilihan ngundo layangan kedua adalah Alun-Alun Lor (utara) sebuah lapangan yang amat luas di sebelah timur Kauman.

Namun gara-gara kegilaan pada layangan ini pula pembuluh darah vena di kaki kanan saya pernah teriris benang gelasan. Darah mengalir kencang dari nadi yang terpotong. Ngerinya, dan juga bekasnya, tertinggal hingga sekarang. Bekas luka di kaki dan di kening akibat terkena peluru plintheng (ketapel)—tentu saja saya tak pernah mengaku kena plintheng, hanya bilang “ketotol gagak” (dipatuk burung gagak) kepada bapak dan ibu—adalah “piagam” yang akan terus mengukirkan kenangan indah masa kecil di benak saya.

 

Lebaran di Kauman

Lebaran tentu saja adalah puncak dari “madrasah ruhani” yang sudah ditapaki oleh setiap Muslim yang bersungguh-sungguh. Kegembiraan pada hari lebaran adalah kegembiraan mereka yang mengalami pembaruan pribadi setelah menunaikan pelatihan keras selama sebulan.

Bagi anak-anak, lebaran tentu bermakna kesenangan yang berbeda lagi dari kesenangan selama puasa. Bukan hanya banyak makanan enak-enak dan baju baru, tapi juga uang saku yang bebas kami belanjakan apa saja. Bapak dan ibu akan mengajak kami keliling kampung Kauman. Senang sekali menyadari bahwa masih ada pertalian darah di antara orang sekampung. Lebih senang lagi karena hampir dari setiap rumah kami mendapatkan uang beberapa talen yang bisa kami pakai membeli kembang gula.

Sekarang saya jadi kepikiran, jangan-jangan memberi uang kepada saya dan adik-adik mungkin juga menyenangkan si pemberi karena posisi kakek dan nenek kami yang lumayan terpandang di Kauman. Iya, Mbah Wachid kakung memang terpandang karena ilmunya, sementara Mbah Wachid putri terpandang karena beliau adalah keturunan pedagang yang lumayan sukses. Beliau berdua juga berbahasa Belanda sehari-hari. Kendati demikian beliau berdua hidup sederhana saja. Tetapi apapun alasannya, sekarang saya tahu bahwa tindakan memberi itu menyenangkan si pemberi jauh melebihi kegembiraan yang dialami si penerima.

Tahun 1965 keluarga kami pindah ke Jakarta. Kepindahan ke Jakarta itu pun terjadi pada bulan puasa, menambah daftar kenangan saya terhadap bulan puasa. Penghasilan Bapak sebagai guru dan dosen saat itu tidak mencukupi untuk bekal menghidupi kelima anak yang sudah beranjak besar. Sebagai pendidik, sekolah anak-anak adalah hal paling utama yang harus dikejar, diusahakan dan diperjuangkan, kalau perlu sampai titik darah penghabisan. Karena itulah tawaran untuk mengajar dan bekerja di Jakarta sebagai staf ahli Menteri Perindustrian waktu itu menjadi pilihan yang “wajib” diambil. Ketika itu kebetulan saya sudah lulus SMA dan diterima di Fakultas Kedokteran UI di Salemba.

Hari-hari menjelang kepindahan ke Jakarta, sedikit kilas balik, adalah hari-hari paling memprihatinkan buat keluarga kami dari segi ekonomi. Ayah sedang mengurus kepindahan kerja, sehingga beberapa kali harus ke Jakarta, sementara kami berlima kakak beradik bersama ibunda tinggal di rumah di Sendowo, Sekip (sekarang sudah menjadi salah satu lokasi di RS Sardjito), yang kami tinggali selama kurang lebih 3 tahun setelah pindah dari Kauman.

Saya dan adik-adik kerap membantu ekonomi keluarga dengan “bersih-bersih”. Bersama salah seorang adik beberapa kali boncengan naik sepeda menjual koran bekas ke pasar Beringhardjo. Kami amat bersyukur selama ini Bapak berlangganan lebih dari satu koran, jadi kami mempunyai banyak sekali stok koran bekas untuk dilego. Namun bagaimanapun puasa tetap saja sangat menyenangkan karena kebersamaan di antara kami: mulai dari sahur, buka puasa, tarawih, tadarus dan tentu saja membaca berbagai jenis buku—mulai dari wayang hingga kisah silat—dan tentu saja … bermain. Puasa tak berkurang istimewanya walaupun waktu itu saya sudah berusia 18 tahun dan duduk kelas tiga SMA, sementara adik-adik ada yang juga SMA, SMP dan SD.

Di Jakarta, puasa dan lebaran memasuki fase baru dengan dinamika dan kenangan yang berbeda. Namun puasa masa kecil—dan segenap pembelajaran yang mengendap dalam diri saya hingga saat ini—tak akan pernah pupus dari ingatan. Seperti kenangan saya terhadap almarhum dan almarhumah bapak dan ibu.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

PENGALAMAN RAMADHAN DI KAMPUNG

Oleh Dr. (HC). KH. As’ad Sa’id Ali

[Mantan Wakil Ketua Badan Intelejen Negara (BIN)]

 

“Yang jelas, ketika bulan Ramadhan tiba saya merasa senang sekali. Karena yang ada dalam bayangan saya, termasuk anak-anak kecil yang sebaya dengan saya, Ramadhan identik dengan keramaian. Dari dulu sampai sekarang suasana kampung di bulan Ramadhan menjadi lebih ramai dari biasanya. Ekonomi menjadi hidup. Kalau dalam bahasa sekarang, konsumsi menjadi semakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari menu berbuka.”

 

 

Suasana Ramadhan

Saya dilahirkan dalam kondisi kampung yang sangat memprihatinkan. Fasilitas untuk memenuhi hajat sehari-hari sangat tidak memadai. Kakus saja jarang ada yang punya. Kalau orang mau buang ‘air besar’, orang kampung biasanya datang ke kali atau ke kebun. Karena waktu saya kecil memang banyak tanah yang tidak dikelola. Sehingga orang bebas buang ‘air besar’ tanpa ada yang menegur. Berbeda dengan sekarang, di mana tidak ada sejengkal pun tanah yang tidak dikelola. Tetapi kalau di dalam rumah saya, sejak sebelum saya lahir sudah ada yang namanya kakus. Bagi ayah saya, kakus adalah salah satu syarat kebersihan dan kesucian, khususnya dalam menjalankan ibadah shalat.

Terkait dengan pengalaman berpuasa, sejauh yang saya ingat, saya mulai berpuasa sejak umur 5 tahun, meskipun tidak penuh 30 hari. Saya baru bisa berpuasa penuh ketika saya berumur 10 tahun. Saya akan merasa sangat malu kalau tidak berpuasa penuh pada usia tersebut. Ibu selalu mengawasi saya dengan sangat ketat, karena beliau adalah seorang guru ngaji. Demikian juga ayah, yang secara detail mengamati tingkah laku saya saban hari di bulan Ramadhan. Sebagai orangtua keduanya bertanggungjawab dalam hal pendidikan anak-anaknya, terutama pendidikan keagamaan.

Ayah boleh sangat detail dan keras mengawasi saya, anaknya. Tetapi terhadap orang lain beliau cenderung bersikap longgar. Saya ingat, beliau dulu mempunyai pabrik pembuatan gula Jawa yang bahannya berasal dari perasan tebu. Untuk itu, beliau juga menanam tebu di sebuah lahan sawah yang telah dibelinya. Dengan ini, beliau bisa memberikan pekerjaan kepada para tetangga dan mengurangi angka pengangguran di kampungnya. Sebagian pekerja menangani produksi gula Jawa, sementara sebagian lainnya mengurusi perkebunan tebu. Ketika memasuki bulan Ramadhan, dan pada saat itu kebetulan sedang memasuki musim panen, para pekerja di kebun tebu dengan penuh semangat tetap bekerja menebang tebu di siang hari. Pekerjaan menebang tebu ini tentu saja banyak menguras tenaga mereka sehingga membuat mereka merasa letih dan akhirnya tidak berpuasa; mereka makan dan minum seperti biasanya pada saat bekerja.

Ayah saya bukannya tidak tahu, beliau jelas-jelas melihat mereka makan dan minum. Tetapi anehnya beliau membiarkannya saja. Karena merasa ada kejanggalan, saya pun memberanikan diri bertanya kepada beliau, “Ayah, maaf sebelumnya. Kenapa ayah membiarkan para pekerja itu tidak berpuasa? Bukannya puasa itu merupakan kewajiban?” Beliau menjawab, “Mereka itu sedang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istri mereka di rumah. Ini juga merupakan kewajiban, karena menyangkut hajat dan kebutuhan keluarga mereka. Kalau dipaksakan berpuasa, dipastikan mereka tidak akan kuat saat bekerja. Dan kalau mereka tidak bekerja, mereka dan keluarga mereka tidak akan bisa makan. Jadi, biarkan saja mereka tetap bekerja meskipun tidak berpuasa. Tuhan Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya.” Demikianlah pandangan bijak dari ayah menyikapi nasib para pekerja di bulan Ramadhan.

Di kampung saya, menjelang Ramadhan ada tradisi memotong rambut (sampai gundul). Hal ini salah satunya adalah untuk mensucikan diri menyambut datangnya bulan penuh berkah itu. Saya sendiri pernah sekali potong rambut menjelang Ramadhan, namun pada tahun-tahun berikutnya ayah melarang saya melakukan itu. Alasannya karena proses pertumbuhannya memakan waktu yang sangat lama.

Di masa saya kecil dulu, ketika bulan Ramadhan semua sekolah diliburkan, mulai dari SD bahkan SMP. Salah satu pertimbangannya barangkali karena puasa itu berat, sehingga memerlukan pengurangan aktivitas. Namun, tidak berarti karena sekolah diliburkan saya lantas hanya berdiam diri di rumah tanpa kegiatan apapun. Pada bulan Ramadhan ayah selalu membawa saya ke Pondok Pesantren Salafiyah Kajen, pesantren milik saudara kandungnya, KH. Baidhawi Siradj, untuk bersilaturrahim.

Di sore hari, sehabis shalat Ashar, saya dulu bersama teman-teman sering kelayapan sampai ke Menara Kudus dengan berjalan kaki. Untuk sampai ke sana kami harus menempuh jarak sekitar 7 km selama kurang lebih 2 jam. Kami biasanya jalan-jalan ke pasar atau ke tempat-tempat yang menurut kami merupakan pusat keramaian.

Yang jelas, ketika bulan Ramadhan tiba, saya merasa senang sekali. Karena yang ada dalam bayangan saya, termasuk anak-anak kecil yang sebaya dengan saya, Ramadhan identik dengan keramaian. Dari dulu sampai sekarang suasa kampung di bulan Ramadhan menjadi lebih ramai dari biasanya. Ekonomi menjadi hidup. Kalau dalam bahasa sekarang, konsumsi menjadi semakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari menu berbuka.

Untuk santapan buka, pastinya lebih banyak dan lebih variatif daripada di hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan. Setahun penuh orang-orang mengumpulkan uang seolah hanya untuk menyambut datangnya bulan suci itu. Momen puasa hanya sekali dalam setahun, makanya mereka menginginkan dalam momen itu sesuatu yang lebih daripada biasanya—keluar dari rutinitas sehingga dalam soal makanan pun harus berbeda. Kalau dalam keluarga saya, untuk makanan buka biasanya ada kurma, kue-kue, nasi, sayur asem, dan sop kebo (kerbau). Sebelum makan nasi terlebih dahulu kami makan kurma dan kue, juga meminum teh atau kopi. Kemudian shalat Maghrib, baru setelah itu makan nasi, sayur asem atau sop kebo.

Ada pertanyaan, kenapa di Kudus itu hanya ada sop kebo, bukan sop sapi? Karena masyarakat Muslim di Kudus masih memegang teguh tradisi tidak memotong sapi saat Idul Adha. Hal itu sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu ketika Sunan Kudus mengeluarkan fatwa kepada keluarga dan pengikutnya agar tidak menyembelih sapi sebagai hewan kurban. Sebab pada masa itu, mayoritas penduduk Kudus merupakan penganut Hindu. Umat Hindu meyakini sapi disucikan para dewa.

Sunan Kudus mengeluarkan fatwa itu untuk menghargai kepercayaan agama lain. Pada masa itu, sapi-sapi hanya diletakkan di sekitar masjid dan tidak ada yang disembelih. Sebagai gantinya, hanya kebo dan kambing yang dijadikan hewan kurban. Dengan cara tersebut, warga Hindu tidak merasa terhina dan tetap dihargai kepercayaannya. Pendekatan Sunan Kudus ini ternyata cukup efektif. Buktinya banyak penganut Hindu yang kemudian datang ke masjid untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Bahkan banyak di antara mereka yang akhirnya memeluk Islam. Sebenarnya tidak ada larangan untuk menyembelih sapi dalam Islam sehingga sah-sah saja bagi warga Kudus untuk menyembelihnya. Namun warga Kudus tampaknya masih mengikuti fatwa Sunan Kudus. Bahkan, sejumlah perusahaan dan intansi pemerintahan juga menghindari menyembelih sapi.

Kemudian, sehubungan dengan tradisi lain di bulan Ramadhan, yang membuat Ramadhan berbeda menurut saya adalah shalat Tarawih. Sejak kecil, saya shalat Tarawih seperti yang dilakukan masyarakat NU pada umumnya, 20 rakarat ditambah shalat Witir 3 rakaat. Saya pernah mengikuti shalat Tarawih di sebuah masjid dengan hanya 8 rakaat, tetapi saya merasa tidak nyaman. Karena terlalu banyak ceramahnya, dan momennya memang banyak yang tidak pas. Sehingga membuat saya merasa bosan. Akhirnya, ketika waktu ceramah tiba saya langsung pulang dan melanjutkan shalat di rumah. Sampai sekarang saya masih konsisten dengan yang 20 rakaat. Hanya saja, kalau saya kebetulan melaksanakan shalat Tarawih di rumah, bacaan asesorisnya saya hilangkan. Seperti bacaan “fadhl-an min Allâh Ta’âla wa ni’mah”, itu saya ganti dengan shalawat.

Saya pernah berada di Saudi dan Damaskus, dan saya lebih memilih mengikuti shalat Tarawih yang 20 rakaat. Di Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi saya lihat 20 rakaat. Kalau yang di luar dua masjid besar itu memang kebanyakan yang 8 rakaat. Begitupun di Suriah, saya lihat tidak ada yang 8 rakaat. Meskipun ada, tetapi itu tidak umum.

Saat saya masih kecil dulu, yang saya ingat, imam shalat Tarawih membaca surat-surat al-Qur`an cepat sekali. Tetapi memang berbeda-beda di setiap masjid. Seperti di Masjid Kudus, itu tidak cepat. Bahkan ada juga yang seperti di Masjid al-Haram yang bacaan al-Qur`annya sampai 1 juz. Tentu saja peminatnya sangat sedikit. Jadi, menurut saya, yang paling enak itu adalah yang tengah-tengah.

Sehabis shalat Tarawih ada kegiatan ngaji tadarus. Setelah itu saya tidak pulang ke rumah. Saya lebih nyaman tidur di masjid bersama teman-teman. Sewaktu masih di SD dan SMP, di bulan Ramadhan, kalau malam saya memang suka sekali tidur di masjid. Sekitar jam 12, ditandai dengan pemukulan bedug, kami mulai mengaji lagi secara bergilir dengan dipandu oleh seorang senior. Misalnya, kalau ngaji surat al-Baqarah berarti jam 12, kalau ngaji surat Ali ‘Imran berarti jam 1, dan seterusnya sampai waktu sahur. Jadi, kalau ada orang yang kebetulan lewat di depan masjid dan mendengar kami mengaji surat Ali ‘Imran, maka orang itu akan langsung tahu bahwa waktu itu masih jam 1. Hampir secara keseluruhan di wilayah Kudus dan Jepara dulu tradisinya seperti itu. Bagi anak-anak seperti saya, itu menjadi kesenangan tersendiri.

Kemudian sekitar jam 2 malam kami membaca tarkhiman untuk membangunkan para penduduk agar tidak telat sahur. Tarkhiman itu diawali dengan membaca shalawat. Waktu itu, karena belum ada pengeras suara (speaker), tarkhiman dilakukan di atas menara yang terbuat dari puluhan bambu besar yang disusun sedemikian rupa yang tingginya bahkan mencapai 25 meter, lebih tinggi dari masjid. Setiap orang dari kami, bila sudah mendapat giliran mengaji, akan naik ke puncak menara melalui tangga yang juga terbuat dari bambu. Seusai tarkhiman, kami kemudian berjalan keliling kampung menabuh kentongan. Dalam konteks ini, secara tidak langsung mereka telah menunjukkan salah satu jenis kesenian Islam.

Demikianlah suasana Ramadhan di kampung, di mana agama banyak memberikan wadah kepada kultur yang ada. Misalnya, mengaji berdasarkan jam; ngaji surat al-Baqarah berarti jam 12, kalau ngaji surat Ali ‘Imran berarti jam 1, dan seterusnya. Demikian juga tradisi menabuh kentongan untuk membangunkan para penduduk supaya sahurnya tidak telat.

Namun kemudian, setelah teknologi semakin canggih, tradisi seperti itu menjadi hilang. Dulu, sekitar tahun 70-an, saat itu saya mungkin masih di SMA, ketika baru ada pengeras suara, bacaan shalat Tarawih dan pujian-pujiannya diperdengarkan keluar. Bahkan ketika shalat Jum’at pun, bacaan shalat imam diperdengarkan keluar. Tetapi kalau sekarang, terutama di kota-kota besar, tidak lagi seperti itu.

Dulu, sehabis pulang sekolah anak-anak biasanya lebih suka ke masjid. Sekarang hampir setiap hari orang berada di depan televisi. Keberadaan televisi saat ini tidak hanya membawa dampak terhadap orang-orang awam, tetapi juga terhadap para kiyai. Dalam hal ini setidaknya ada dua yang bisa dilihat. Pertama, pendisiplinan waktu. Misalnya, seorang kiyai diminta untuk mengisi acara haul. Karena di televisi sudah diprogram jam sekian, maka sang kiyai tidak boleh terlambat. Kedua, kiyai harus banyak belajar. Kalau dulu, seorang kiyai biasa mengisi acara di tempat yang berbeda-beda. Dan dia hanya membahas hal-hal yang sama di tempat-tempat yang didatanginya.

Namun sekarang keadaannya sudah tidak seperti itu lagi. Kita banyak menemukan seorang kiyai kadang hanya diminta mengisi acara di sebuah stasiun televisi. Setiap malam dia mengisi acara di situ. Sehingga yang dibahas tentu tidak lagi satu tema tertentu, akan tetapi memerlukan perluasan materi, dia yang harus banyak membaca buku. Artinya dia akan menciptakan keterbukaan berpikir. Kalau dalam istilah Gus Dur namanya kosmopolitanisme Islam. Maksudnya keterbukaan terhadap budaya-budaya lain; dia akan membaca banyak tentang budaya-budaya lain, sehingga itu akan menjadi ramuan dalam menyampaikan ceramahnya. Sebutlah, misalnya, dalam pembahasan tentang masalah air. Biasanya kalau di pesantren dia tahunya hanya air musta’mal, najis dll. Tetapi dengan banyak membaca, dia akan tahu banyak tentang air, tidak hanya sekedar air musta’mal. Dengan demikian dia akan membuka jendela wawasan dan banyak hal yang akan dia peroleh.

 

Tradisi Bagi-bagi Makanan

Pada malam tanggal 15, ada kegiatan khataman al-Qur`an di masjid. Jadi, pelaksanaan khataman bukan di malam Nuzul al-Qur`an (malam tanggal 17), akan tetapi pada saat bulan purnama saja sesuai dengan budaya atau tradisi sebelumnya. Selain khataman al-Qur`an juga ada pembagian makanan. Di antara menunya—biasanya—adalah opor ayam atau makanan rasulan (ayam yang masih utuh, kemudian diopor dan dikasih santan). Semua orang menyukai ini, karena sambelnya memang enak.

Kemudian pada malam Nuzulul Qur`an ada lagi pembagian makanan. Dan itu biasanya lebih banyak. Kemudian setelah tanggal 20, setiap malam ganjil pasti ada pembagian makanan dengan maksud untuk menyambut Lailatul Qadar. Biasanya para pemberi makanan ditentukan; kalau di malam-malam biasa dari masyarakat umum asalkan punya duit. Tetapi kalau di malam-malam ganjil setelah tanggal 20, itu biasanya dari Mbah Modin, kemudian Jogoboyo, dan terakhir biasanya dari Pak Lurah.

Saya melihat, dulu orang-orang di kampung saya—tahun 1962-1963—yang umumnya terbelit kemiskinan, ketemu nasi adalah hal yang sangat menyenangkan. Bagi mereka nasi adalah barang mewah. Bahkan, mereka rela antri dan berebut untuk mendapatkan makanan tersebut. Artinya, tradisi bagi-bagi makanan di masjid menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Apalagi anak-anak, mereka datang ke masjid, di samping niat untuk berjama’ah Tarawih, mereka juga mengincar makanan yang dibagikan setelah itu. Tradisi bagi-bagi makanan sehabis shalat Tarawih, utamanya di malam-malam ganjil, sampai sekarang masih ada. Meskipun zaman sudah sangat maju dan menawarkan hal-hal yang membawa dampak menjauhkan kita dari agama, tetapi orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap religiusitas masih ada, bahkan banyak.

 

Idul Fitri

Ketika Idul Fitri, dalam keluarga saya tidak ada tradisi sungkeman seperti dalam masyarakat Jawa pada umumnya. Dari dulu ayah saya memang tidak pernah mau. Beliau maunya hanya salaman saja. Ibu saya juga begitu. Sehabis shalat Idul Fitri, sepulangnya dari masjid, ibu dan ayah duduk di kursi, kemudian saya dan saudara angkat saya (yang juga masih putra Pak De saya)—waktu itu saudara kandung saya, Khairul Anam, sudah meninggal—salaman sambil cium tangan.

Saya lahir ketika bapak berumur 44 tahun. Ketika saya berumur 6 tahun, beliau sudah berumur 50 tahun. Karena bapak saya dianggap sebagai orangtua, maka banyak orang-orang ke rumah. Kemudian di hari berikutnya, di hari kedua ayah mengajak kami sekeluarga untuk mengunjungi kakak-kakaknya. Habis itu baru kami ziarah ke kuburan.

Untuk hari Raya Idul Fitri, kita makanannya biasa-biasa saja, yang disertai dengan banyak kue. Ketupat juga tidak ada di hari itu. Kami sekeluarga biasanya datang ke rumah-rumah tetangga untuk bermaafan, dan juga ke rumah-rumah keluarga. Sehari setelah hari raya kedua orangtua saya biasanya akan langsung berpuasa lagi selama 6 hari sampai Hari Raya Ketupat. Dalam keluarga saya, puasa Syawal 6 hari tidak pernah ditinggalkan. Nah, di Hari Raya Ketupat itulah akan banyak makanan khas seperti ketupat, dll.

Khusus orang-orang yang punya ternak, di kampung saya, mereka biasanya makan di perempatan jalan sambil berdoa. Jadi mereka mengundang seorang kiyai untuk memimpin ritual seperti tahlil atau hanya sekedar berdoa bersama mereka. Setelah itu mereka makan bareng-bareng. Tetapi tempatnya tidak melulu di perempatan jalan. Mereka pindah-pindah sesuai dengan situasi dan kondisi. Kadang di pinggiran sawah, kadang di tempat pemandian hewan, kadang juga di pertigaan jalan. Adapun yang tidak punya hewan ternak mereka biasanya mereka jalan-jalan ke Bulusan, kemudian ke Jepara, ke Juwana, atau ke pinggir laut untuk berpesiar.

Itu adalah sebentuk pemujaan dari para pemilik hewan ternak sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan. Sungguh merupakan kesalahan sangat besar jika hal itu disebut sebagai singkretisme Islam—seperti yang banyak dikatakan oleh para orientalis Barat. Yang benar, dalam konteks ini, adalah bahwa hukum agama mewadahi kultur lokal. Agama datang ke suatu tempat yang di situ sudah terdapat kultur yang jauh-jauh sebelumnya telah ada. Kemudian kultur tersebut diserap oleh agama. Wujudnya tetap, tetapi subtansinya sarat dengan nilai-nilai agama.

Kalau dilihat dari sejarah, tradisi pemujaan itu memang sudah ada sejak berabad-abad yang silam. Saat itu, menurut cerita, para petani dan pemilik hewan ternak memberikan sesajen kepada Dewi Sri (Dewi Kesuburan). Oleh Islam tradisi ini kemudian diserap, tetapi sesajennya tidak dibuang begitu seperti pada masa sebelumnya, melainkan untuk dimakan sendiri. Makanya tidak ada unsur kemubadziran di situ. Doanya juga dengan doa-doa yang sesuai dengan ajaran Islam, yang dimulai dari tahlil, kemudian ada tahmid dan pujian-pujian lainnya untuk mengharap keridhaan Allah. Jadi, kalau sekarang ada orang yang membid’ahkannya, menurut saya itu salah kaprah. Kalau acara makannya, itu juga tidak bisa dibid’ahkan, karena itu sebetulnya adalah tradisi, bukan agama.

Selain itu, ada juga tradisi Nyekar, yang biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Tetapi kalau ayah saya bisa kapan saja. Menurut beliau, berdoa untuk para leluhur bisa dilakukan kapan saja. Dan beliau, biasanya, setiap kali melewati makam Mbah pasti akan langsung melakukan ziarah. Lokasi makam Mbah dari rumah saya berjarak sekitar 3 km.

Sebelum bulan Ramadhan kami sekeluarga melakukannya. Kemudian sebelum Hari Raya Idul Fitri kami juga melakukannya. Kami biasanya membawa bunga untuk ditaburkan di kuburan. Yang kami baca ketika berziarah ke makam Mbah biasanya surat al-Fatihah, al-Ikhlas dan al-Nas. Itu saja yang dibaca. Atau kadang kalau di bulan Syawal kami membaca surat Yasin.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

MENIKMATI RAMADHAN DI PESANTREN

Oleh KH Husein Muhammad

[Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon]

 

“Bergelut dengan kitab-kitab memang sangat mengasyikkan. Saya selalu ingat pepatah Arab yang mengatakan, “Khayr-u jalîs-in fî al-zamân-i kitâb-un”, sebaik-baiknya teman duduk adalah kitab atau buku. Dan bukan hanya sebatas teman duduk, kitab-kitab itu bisa menjadi guru, banyak sekali informasi yang saya dapatkan darinya, utamanya tentang toleransi, menghargai perbedaan, kesetaraan, kedamaian, keadilan, dll. Informasi-informasi inilah yang saat ini dibutuhkan oleh negara kita, di mana kekerasan atas nama agama dan penistaan terhadap kemanusiaan sudah menyebar di hampir seluruh penjuru bumi pertiwi.”

 

 

Suasana Ramadhan

SAYA dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren di Arjawinangun, namanya Pondok Pesantren Darut Tauhid yang didirikan oleh kakek saya, KH. Syathori. Saat masih kecil, yang masih saya ingat, kala bulan Ramadhan tiba, ada dua tradisi yang berkembang, yaitu: pertama, tradisi membagi-bagikan bubur kepada para santri setiap menjelang maghrib untuk santapan buka puasa. Setiap jam 4 sore, para santri mulai antri dengan tertib dan sabar di halaman pondok. Pada wajah mereka terlihat kebahagiaan. Mereka membawa piring (bukan piring beling, tetapi piring seng), mangkok dan lain sebagainya—tergantung kepunyaan masing-masing. Satu per satu dari mereka maju, dan pengurus pondok kemudian menuangkan bubur ke piring masing-masing. Selain diberi bubur, mereka juga diberi sayur lodeh berikut teh manis. Ini semua merupakan sedekah pribadi dari kakek saya, bukan sumbangan dari masyarakat setempat.

Tidak seperti sekarang, dulu tidak ada kurma. Sehingga di saat ta’jil masyarakat di kampung lebih suka makanan tradisional. Kalau sekarang, saat hubungan Indonesia dengan negeri-negeri di Timur Tengah terjalin dengan baik dan intens, kurma bukanlah sesuatu yang langka. Di setiap tempat kita pasti menemukannya, khususnya di bulan Ramadhan, sebagai makanan nyaris ‘wajib’ untuk ta’jîl bagi sebagian kalangan.

Kedua, tradisi menabuh kentongan yang tujuannya membangunkan orang pada waktu menjelang sahur. Setiap jam, dari pukul 12 malam, kentongan itu ditabuh secara berbeda. Misalnya, pada pukul 12 ditabuh sebanyak 12 kali, pukul 1 ditabuh sekali, dan begitu seterusnya—mirip dengan lonceng yang berbunyi untuk menunjukkan waktu. Kemudian di waktu imsak kentongan itu ditabuh sebanyak 6 kali sebagai peringatan agar orang segera menghentikan aktivitas makan.

Menariknya, kentongan itu menjadi rebutan di antara para santri. Saya sendiri, misalnya, supaya kentongan itu tidak diambil anak-anak yang lain, kadang harus memeluknya di saat sedang tidur, atau menyembunyikannya di suatu tempat. Saat waktu menunjukkan pukul 12, saya mulai bangun dan menabuhnya dengan keras.

Di masa kecil dulu saya jarang sekali tidur di rumah, lebih banyak tidur di mushalla atau langgar—orang Cirebon menyebutnya tajug. Biasanya kakek, Kiyai Syathori, membangunkan saya beserta para santri lainnya menjelang shalat Shubuh. Beliau membangunkan kami dengan lemah-lembut dan penuh kasih-sayang, “Ayo bangun shalat,” begitu saja, dan tidak pernah keras. Meskipun begitu, beliau sangat berwibawa, sehingga ketika mendengar suaranya saja para santri akan langsung bangun untuk kemudian mengambil wudhu.

Tetapi ada juga di antara santrinya yang memang agak nakal, susah kalau dibangunkan untuk shalat. Anehnya, beliau membiarkannya saja, tidak memaksa membangunkannya. Kemudian beliau dengan santri-santri lainnya shalat berjamaah. Saat mendengar ucapan “amin”, santri yang susah dibangunkan itu akan kaget dan langsung bangun. Begitu juga sikap beliau terhadap saya. Ketika melihat saya masih ngantuk, oleh beliau dibiarkan saja dulu. Kemudian nanti setelah selesai shalat, beliau mencoba membangunkan saya lagi sampai terbangun.

Sejak adanya Kiyai Mahfuzh Thaha, kiyai muda asal Tegal yang tak lain adalah menantu kakek yang hafal al-Qur`an 30 juz, terdapat tradisi lain di dalam shalat Tarawih di Arjawinangun. Sebagai seorang hafizh (sebutan untuk orang yang hafal al-Qur`an), Kiyai Mahfuzh didaulat untuk menjadi imam shalat Tarawih. Saat Kiyai Mahfuzh mengimami, Kiyai Syathori selalu berada tepat di belakangnya. Di hadapan beliau terdapat al-Qur`an yang disangga. Maksudnya adalah untuk menyimak dan mengoreksi bacaan Kiyai Mahfuzh. Bisa dibilang, Kiyai Mahfuzh adalah hafizh pertama di Arjawinangun.

Setiap sore di bulan Ramadhan Kiyai Mahfuzh mengadakan sema’an al-Qur`an yang dihadiri oleh masyarakat di sekitar pesantren. Biasanya setelah itu beliau memberikan taushiyah, atau menjelaskan hal-hal penting terkait makna beberapa ayat al-Qur`an yang dibacanya. Tradisi ini berlangsung sampai sekarang. Selepas Kiyai Mahfuzh mangkat (meninggal), keturunannya lah yang meneruskan, atau mengundang orang luar yang hafal al-Qur`an untuk menjadi imam shalat Tarawih dan hadir di acara sema’an.

Saya sendiri sebetulnya adalah seorang hafizh, meskipun hafalan saya tidak sebaik dan sehebat adik saya, Kiyai Ahsin. Saya dulu belajar di PTIQ. Di sana kegiatan sehari-hari saya adalah menghafal al-Qur`an, kemudian dilanjutkan dengan sema’an sehabis shalat Ashar. Ketika disuruh maju untuk menunjukkan hafalan kepada teman-teman, saya bisanya paling hanya setengah atau satu juz saja.

Setelah beberapa tahun berjalan, dan Pondok Pesantren Darut Tauhid mengalami perkembangan yang cukup signifikan, kegiatan bulan Ramadhan menjadi semakin banyak, di antaranya yang paling sering dan menjadi kegiatan wajib adalah ngaji pasaran, dari pagi sampai malam. Sekitar pukul 9, para santri berkumpul di tajug. Dengan dipimpin langsung oleh seorang kiyai mereka mengaji kitab sampai Zhuhur. Usai shalat, kegiatan ini kemudian dilanjutkan sampai shalat Ashar. Lalu, setelah shalat Ashar dilanjutkan kembali sampai menjelang Maghrib. Untuk beberapa saat kegiatan ngaji dihentikan, memberikan kesempatan kepada para santri untuk beristirahat, berbuka puasa, shalat Maghrib dan Tarawih. Kemudian sehabis shalat Tarawih dilanjutkan kembali sampai jam 12 malam. Kegiatan ini berlangsung setiap hari sampai tanggal 25 Ramadhan.

Dan sampai sekarang, kegiatan ngaji kitab masih ada, bahkan semakin padat. Setiap kiyai di Pondok Pesantren Darut Tauhid, termasuk saya, mendapat bagian untuk memimpin pengajian kitab, dengan materi dan waktu yang berbeda-beda. Seperti Abah Inu—panggilan akrab KH. Ibnu Ubaidillah—misalnya, beliau memimpin pengajian kitab dari jam 9 pagi sampai Zhuhur. Kitab yang diaji biasanya adalah kitab-kitab hadits atau “Kutub al-Sittah”, seperti kitab “Shahîh al-Bukhârîy” dan “Shahîh Muslim”. Atau, kadang-kadang, mengaji kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik.

Saya pernah mengusulkan beberapa kitab kepada Abah Inu, seperti kitab “Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm” (kaidah fikih) karya Izzuddin ibn Abdissalam dan kitab “Mîzân al-Kubrâ” (tasawuf) karya Imam al-Sya’rani untuk diajarkan kepada para santri. Waktu itu pemikiran saya sudah modern. Abah Inu sebenarnya tidak menolak untuk mengaji kitab-kitab tersebut, tetapi beliau lebih memilih ngaji kitab-kitab hadits, karena beliau memang pakar di bidang hadits. Bila dilihat dari latar belakangnya, Abah Inu adalah murid dari Syaikh Muhammad al-Alawi al-Maliki, seorang pakar hadits terkenal di Makkah, Saudi Arabia.

Kalau saya biasanya mendapat bagian setelah shalat Tarawih. Kitab-kitab yang saya ajarkan adalah kitab-kitab baru yang menyuguhkan pemikiran berbeda dari kitab-kitab yang diajarkan di pesantren pada umumnya. Dulu, sebelum ke Mesir, saya sudah akrab dengan kitab-kitab Ushul Fikih, Fikih, Tasawuf, dan Teologi. Di antaranya ada sebagian kitab yang berisi kekerasan terhadap orang-orang kafir. Saya melihat, pada beberapa kitab yang beredar luas di kalangan pesantren, terlihat jelas didasari oleh pola pemikiran ahli hadits. Pola pemikiran ini cenderung memandang dan menyelesaikan suatu persoalan lebih memperhatikan pada teks zhahir dan riwayat. Hal ini berarti sesuatu dianggap benar jika didasari oleh adanya teks dan diinformasikan secara valid, walaupun tanpa mempertimbangkan aspek rasionalitas dari teks itu sendiri. Lebih dari itu, perhatian pada aspek latar belakang sosiologis mengapa teks tersebut lahir, tidak lagi menjadi bahan pertimbangan. Persoalan ini sesungguhnya sangat signifikan bila dimaksudkan sebagai media pengembangan pemikiran dalam teks tersebut untuk keperluan adaptable (tuntutan zaman).

Pada fase berikutnya saya melihat adanya perkembangan lebih lanjut dari pola pemikiran di atas, yaitu terbentuknya sistem keilmuan ‘naqlîy’ (penukilan dan transmisi). Sistem ini meski asal mulanya diberlakukan untuk keilmuan hadits, namun pada perkembangan lebih lanjut diberlakukan juga pada cabang keilmuan lainnya. Hal ini berarti bahwa keilmuan hanya dapat dipandang absah dan legitimed bila melalui cara transmisi. Akibat dari pola ini, hafalan menjadi suatu keniscayaan dalam metode pembelajaran. Lebih jauh lagi, parameter keilmuan seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu menghafal teks-teks. Saya pernah membaca kitab “Ta’lîm al-Muta’allim”, di situ dengan jelas dinyatakan bahwa ilmu adalah sesuatu yang didapat dari mulut para guru karena mereka hafal apa yang terbaik dari yang mereka dengar, dan menyampaikan apa yang terbaik dari apa yang mereka hafal. Inilah rupanya yang menyebabkan mengapa hafalan selalu menjadi tradisi yang berkembang di dunia pesantren. Perhatian dan apresiasi yang besar terhadap metode ini seringkali—hampir—menafikan aspek pemahaman dan pengembangan wawasan, paling tidak mereduksi aspek pemikiran.

Realitas kehidupan manusia dewasa ini telah menunjukkan perubahan-perubahan yang sangat besar dan cepat. Gempuran modernisme rupanya telah merubah pandangan masyarakat dari sakralisasi kepada profanisasi; dari pemikiran tradisional kepada pemikiran rasional. Di hadapan realitas seperti ini, pesantren dengan segudang kitab kuningnya tengah bergumul di antara dua kutub yang bedegup. Di satu sisi, kitab kuning telah dipandang sebagai khazanah intelektual paling absah dan sakral. Namun di sisi lain, kecenderungan rasionalitas terus menggugat kemapanan tradisi. Ketika kitab kuning dipandang sebagai acuan yang baku untuk bisa menjawab berbagai persoalan, realitas baru memunculkan sederet persoalan yang membingungkan.

Dalam keadaan seperti itu, maka ketika pemikiran dan kasus-kasus baru bermunculan serta meminta jawaban yang relevan dengan tuntutan modernitas, kitab kuning lalu kehilangan daya tariknya. Bersikap apologi bahwa semua persoalan telah ada jawabannya dalam kitab kuning, saya kira membutuhkan kajian dan pemikiran kritis yang mendalam. Saya pribadi, ketika berhadapan dengan sebuah kitab, saya membaca, menganalisa, dan bahkan melakukan kritik ketika terdapat pemikiran di dalamnya yang tidak sesuai dengan pemikiran saya. Demikianlah yang saya lakukan setiap kali membaca kitab. Saya tidak pernah membiarkan sebuah kitab ‘menceramahi’ saya. Antara saya dan kitab yang saya baca selalu terjalin dialog aktif dua arah, ia bicara dan saya pun bicara. Hal ini selalu saya upayakan untuk ditularkan kepada para santri di Pondok Pesantren Darut Tauhid.

Kalau ditelisik lebih jauh, terdapat ciri khas yang membedakan antara Pondok Pesantren Darut Tauhid dengan pondok-pondok lain di Cirebon, yaitu dalam hal keilmiahan. Sejak masa Kiyai Syathori, kegiatan-kegiatan ilmiah sangat marak, seperti ngaji kitab dan menulis. Bahkan, tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada ritus-ritus seperti tahlil dan haul yang diselenggarakan secara besar-besaran. Kendati dilakukan, tetapi hanya sederhana saja, tidak berlebih-lebihan seperti di pesantren-pesantren lainnya. Tidak juga mengundang pejabat pemerintah, meskipun di antara kawan beliau ada yang menjadi menteri, seperti Fatah Yasin.

Kiyai Syathori memang dikenal mempunyai pemikiran terbuka dan modern. Atas inisiatif beliau, beberapa keturunan beliau disekolahkan di luar negeri. Abah Inu disekolahkan di Makkah, Kiyai Ahsin di Madinah, saya sendiri di Mesir, dan seterusnya. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap pendidikan. Dalam artian, beliau ingin para keturunannya kelak dapat meneruskan perjuangan beliau dalam mendidik dan mencerdaskan masyarakat.

Beberapa kebijakan beliau kerap menuai kontroversi di zamannya, di antaranya adalah penerapan sistem klasikal di Pesantren Darut Tauhid. Dalam hal ini beliau mengikuti jejak gurunya, KH. Hasyim Asy’ari, yang juga menerapkan sistem klasikal di pesantrennya. Tak ayal, kebijakan beliau ini ditentang oleh hampir seluruh kiyai di Arjawinangun. Pernah suatu ketika beliau sampai berdebat dengan Kiyai Johar asal Balerante yang menganggap sistem klasikal bukan tradisi pesantren. Tidak hanya itu, Kiyai Johar juga tidak membolehkan para guru menggunakan kapur tulis yang saat itu jamak digunakan di Pesantren Darut Tauhid.

Hal yang tidak kalah menarik, Kiyai Syathori menyekolahkan putrinya, Nyai Mizah Syathori, di SMP. Padahal, saat itu di SMP tidak ada seorang siswi pun yang memakai jilbab, hanya memakai seragam biasa yang terdiri dari baju dan rok saja. Dan Nyai Mizah sendiri selama belajar di sekolah itu tidak pernah mengenakan jilbab, pakaiannya sama seperti para siswi pada umumnya; kepalanya dibiarkan terbuka dengan rambut yang terurai panjang sampai pinggang.

Dan memang, kebanyakan dari keturunan beliau dimasukkan ke sekolah-sekolah umum, SD dan SMP, termasuk saya. Berbeda dengan keturunan kiyai-kiyai lain yang hanya mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren saja. Saya merasa, dulu, tamatan sekolah umum seperti SMP, misalnya, secara kualitas lebih unggul dari tamatan Madrasah Tsanawiyah di pesantren. Karena, di samping materi-materi umumnya lebih banyak sehingga para siswa banyak menyerap beragam informasi yang sangat dibutuhkan dalam kancah dunia modern, juga karena guru-gurunya memang ahli di bidangnya masing-masing. Sementara guru-guru di Madrasah Tsanawiyah, menurut pengamatan saya, cenderung “asal comot” tanpa memperhatikan keahliannya. Misalnya, ada seorang guru yang sebetulnya ahli di bidang fikih, itu disuruh mengajar matematika, dan seterusnya. Ini sebetulnya merupakan sebentuk pelanggaran terhadap etika dalam pendidikan, bahkan bisa dikatakan menyalahi ajaran al-Qur`an. Allah berfirman, “Kullun ya’mal-u ‘alâ syâkilatih-i,” setiap orang bekerja berdasarkan bidang atau keahliannya. Atau dalam pepatah Inggris disebutkan, “The right man in the right place,” orang yang tepat [diposisikan] di tempat yang tepat.

 

Belajar Berpuasa

Pada waktu masih kanak-kanak—tidak begitu ingat persis berapa usia saya kala itu—saya sudah mulai berpuasa, meskipun tidak penuh. Mula-mula saya dikenalkan dengan istilah “puasa panas pager”. Maksudnya adalah ketika pagar di depan rumah terkena sinar matahari, kira-kira jam 10-an. Kebetulan, waktu itu rumah saya dikelilingi pagar yang terbuat dari bambu. Sahurnya seperti biasa bareng-bareng dengan keluarga. Ketika pagi-pagi saya mulai mengeluh lapar, orangtua pasti bilang, “Nanti, panas pager.”

Ada juga istilah “puasa sebedug”, yaitu berpuasa sampai bedug untuk shalat Zhuhur ditabuh. Namun, sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada istilah “puasa seashar” atau berpuasa sampai waktu Ashar—mungkin karena tanggung, jarak antara waktu shalat Ashar dan Maghrib terlalu dekat. Jadi, tahapan pendidikan puasa yang diterapkan di dalam keluarga saya adalah panas pager, sebedug dan sampai Maghrib atau sehari penuh.

Tahapan-tahapan tersebut juga saya terapkan dalam mendidik anak-anak saya. Biasalah, yang namanya anak kecil bawaannya memang suka mengeluh; haus, lapar dan segala macamnya. Tetapi, sebagai orangtua, saya selalu berupaya menghibur, menenangkan dan mengawasi. Kadang saya membawanya jalan-jalan, atau membelikannya mainan, untuk membuatnya lupa akan rasa dahaga dan lapar.

 

Tak Kenal Ngabuburit

Dulu saya tidak mengenal yang namanya “ngabuburit”. Namun, yang saya ingat dari pengalaman di bulan Ramadhan, sehabis shalat Zhuhur, ketika tidak ada kegiatan ngaji kitab, biasanya saya bersama saudara dan teman-teman sebaya pergi ke Pongklang dengan berjalan kaki untuk memancing ikan di sungai, atau juga ke tempat-tempat lain yang ada sungainya, seperti Bayalangu dan Tegalgubug. Tetapi bagi saya, ini bukanlah ngabuburit seperti yang dipahami banyak orang saat ini, yaitu kegiatan nongkrong atau ngumpul-ngumpul di tempat-tempat tertentu, pergi mejeng ke pasar, dll.

Selama bulan Ramadhan, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji kitab kuning, dari pagi sampai malam. Kitab-kitab yang diaji biasanya adalah kitab-kitab kecil, seperti “Safînah al-Najâh”, “Kâsyifah al-Sajâ”, “al-Âjurûmîyyah”, “Alfîyyah ibn Mâlik”, dan kitab-kitab kuning lainnya yang jamak dikenal di dunia pesantren.

Kemudian, setelah pulang dari Mesir, saya lebih sering mengaji kitab-kitab umum (bukan kitab ‘kuning’), seperti “al-Siyah al-Islâmîyyah bayna al-Muhadhdhirîn wa al-Mujaddidîn”, “Nasy`ah al-Fiqh al-Islâmîy”, “Allâ Madzhabîyyah Akhthar-u Bid’at-in Tuhaddid-u al-Syarî’ah al-Islâmîyyah”, dan lain sebagainya yang saya bawa dari Mesir. Membacanya bukan dengan pembacaan biasa, tetapi memakai metode pesantren “utawa iku iku”. Artinya, ada semacam upaya dari saya untuk ‘mengkuningkan’ kitab-kitab yang belum dianggap ‘kuning’.

Bergelut dengan kitab-kitab memang sangat mengasyikkan. Saya selalu ingat pepatah Arab yang mengatakan, “Khayr-u jalîs-in fî al-zamân-i kitâb-un”, sebaik-baiknya teman duduk adalah kitab atau buku. Dan bukan hanya sebatas teman duduk, kitab-kitab itu bisa menjadi guru, banyak sekali informasi yang saya dapatkan darinya, utamanya tentang toleransi, menghargai perbedaan, kesetaraan, kedamaian, keadilan, dll. Informasi-informasi inilah yang saat ini dibutuhkan oleh negara kita, di mana kekerasan atas nama agama dan penistaan terhadap kemanusiaan sudah menyebar di hampir seluruh penjuru bumi pertiwi.

Saya dapat memahami kenapa banyak dari warga NU yang berpikiran keras. Karena kitab-kitab kuning yang diaji muatan-muatannya memang sangat keras. Ada beberapa kiyai pesantren di Jawa yang sampai sekarang masih mengharamkan presiden perempuan. Bahkan ada dari mereka yang suka mengkafirkan. Namun sejauh ini, mereka relatif masih terkendali, juga warga-warga NU yang lain. Dan saya kira, peran para petinggi NU yang notabene mempunyai wawasan kebangsaan yang luas sangat dibutuhkan dalam mengarahkan warganya.

Saya dulu pernah mengaji kitab-kitab kuning seperti itu, tetapi saya masih bisa mengendalikan diri untuk tidak mengikuti isinya begitu saja, malah saya cenderung berontak. Apalagi kalau mengajinya di bulan Ramadhan, suatu momen yang menuntut kestabilan, ketenangan dan kedamaian jiwa serta pikiran. Sehingga pemikiran-pemikiran radikal dari kitab apapun tidak mudah mempengaruhi diri saya.

Itulah kegiatan saya selama Ramadhan, dari dulu hingga saat ini, ngaji dan belajar. Tidak ada yang namanya ngabuburit. Karena sebenarnya, ngabuburit itu kan istilah orang Sunda. Sementara di Cirebon, utamanya di Arjawinangun, istilah itu tidak dikenal sama sekali. Hanya sekarang saja istilah tersebut dikenal secara masif. Mungkin karena sering disebut oleh para artis di acara-acara televisi sehingga menjadi trend, khususnya di kalangan anak-anak muda. Saya tidak pernah mempersoalkan bila mereka nongkrong atau ngumpul-ngumpul di tempat-tempat tertentu. Hanya saja, jangan sampai melakukan aktivitas yang dapat menganggu ketenangan umum. Dan alangkah lebih baik bila bulan Ramadhan banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

BERPUASA DI KAMPUNG HALAMAN

Oleh Prof. Dr. Suwito, MA.

[Guru Besar Sejarah Pemikiran dan Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]

 

“Orangtua tidak pernah memaksa saya dalam hal apapun, termasuk dalam mengerjakan ibadah puasa. Sejak kecil saya dididik untuk melakukan segala sesuatu tanpa paksaan dan tekanan dari orang lain, bahkan dari orangtua sekalipun, melainkan berangkat dari keinginan dan kesadaran diri. Contoh dan keteladanan yang diperlihatkan orangtua kepada saya sudah cukup menjadi semacam perintah tidak langsung untuk melakukan sesuatu yang baik.”

 

 

Suasana Ramadhan

Tanggal 7 Maret 1956 adalah hari kelahiran saya di Lebak Kulon-Sukolilo. Beberapa tahun kemudian pindah dari Lebak-Kulon ke sebuah kampung kecil, kurang lebih 1 km dari Lebak-Kulon yang terletak di daerah Kedungwinong—sekitar 27 km dari kota Pati ke arah selatan. Dulu, waktu saya masih kecil, letak masjid lumayan jauh, sekitar 500 meter dari kampung saya. Sementara mushalla, saya menyebutnya langgar, letaknya lebih jauh lagi, sekitar 1 km. Bagi masyarakat kampung, jarak seperti itu tidaklah jauh. Sebab mereka terbiasa menempuh perjalanan jauh dengan hanya berjalan kaki. Saya pribadi, khusus di bulan Ramadhan, sehabis makan sahur biasanya pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Shubuh berjamaah.

Hal yang paling saya ingat di bulan Ramadhan waktu itu adalah ketika hendak berbuka puasa. Mulai sejak bangun tidur—karena saya memang suka tidur sehabis shalat Shubuh—segala kebutuhan untuk buka puasa sudah saya pikirkan. Biasanya, setelah bangun tidur, saya bersama teman-teman pergi bermain ke sawah yang kebetulan dekat dengan hutan pegunungan kapur utara, gunung Kendeng. Di sana saya dapati beberapa pohon mangga, pisang, jambu dan lain-lain. Yang paling banyak adalah pohon mangga.

Pohon-pohon itu sebenarnya milik orang, bukan milik orangtua atau kerabat saya. Namun, jiwa kekenak-kanakan saya tidak memperdulikan hal itu, bahkan tidak pernah takut ketahuan pemiliknya. Apalagi karena hutan tempat pohon-pohon itu lumayan jauh dari perkampungan, sekitar 1 sampai 2 km. Di antara teman-teman saya malah ada yang nekat, mengambil buah-buahan di pohon yang berada tepat di halaman rumah pemiliknya. Misalnya, ada pohon jambu, dan teman saya itu melempar buahnya dengan batu agar terjatuh ke tanah. Ketika ketahuan, si pemilik malah bilang, “Jangan dilempar, entar kena kaca. Panjat saja, dan ambil semua buahnya.” Perkataan ini tentu saja bukan merupakan perintah, melainkan sebentuk sindiran agar teman saya itu tidak meneruskan perbuatannya.

Terus terang, selama bulan puasa saya tidak pernah jajan untuk keperluan buka karena kondisi ekonomi keluarga saya di kampung tidak memungkinkan untuk itu. Saya lebih suka mencari buah-buahan saja, atau mencari atau memancing ikan di sungai. Kendati sebenarnya saya ingin ini-itu dan segala macam, tetapi setelah saya pikir, itu hanyalah keinginan belaka. Ketika sedang buka, makan sedikit saja sudah kenyang.

Boleh dibilang, di waktu kecil dulu saya adalah anak yang lumayan nakal. Meskipun tidak pandai memancing, tetapi tetap saja saya pergi ke sungai bersama teman-teman. Seringkali, saya tidak membawa pulang seekor ikan pun. Kalau sudah begitu, saya meminta teman-teman untuk memberikan beberapa ikan dari hasil tangkapan mereka. Saat tiba di rumah, saya katakan kepada orangtua bahwa ikan-ikan itu adalah hasil tangkapan saya sendiri, sekedar untuk menunjukkan bahwa saya pandai memancing.

Selain itu, yang saya suka ketika Ramadhan di kampung adalah bermain petasan. Petasan ini tidak beli, melainkan membuat sendiri karena memang tidak punya uang. Bahannya terbuat dari bambu ukuran besar, dengan panjang kira-kira 1 meter. Bambu itu atasnya dilubangi, kemudian dikasih minyak tanah, dan setelah itu ditiup dengan api, dan…DDEMMMM!!! Begitulah kira-kira bunyinya, nyaring sekali, tidak kalah dari petasan belian yang biasa ditemui di pasar atau pedagang kaki lima. Pernah, waktu hendak membeli peralatan untuk membuat petasan, saya pergi dengan naik sepeda ke daerah Prawoto yang jaraknya kurang lebih 10 km dari kampung saya. Akibatnya, dalam perjalanan balik ke rumah, sepeda saya patah. Bahkan, pernah juga saya membeli peralatan sampai ke Kudus yang dari kampung saya berjarak sekitar 25-30 km. Sebelum sampai di tujuan, lagi-lagi di tengah perjalanan sepeda saya patah sehingga saya harus membawanya ke bengkel terdekat. Setelah diperbaiki, baru kemudian saya melanjutkan perjalanan.

Suatu saat, kira-kira puasa sudah berlangsung seminggu, menjelang maghrib, teman-teman saya pergi ke masjid dan mushalla untuk mengaji. Saya diajak, tetapi saya tidak mau. Ada perasaan malas menghinggapi jiwa saya. Beberapa hari berikutnya, saat semangat saya pergi ke masjid mendadak melonjak naik, teman-teman saya malah enggan pergi ke sana seperti saya sebelumnya. Jadilah saya sendirian yang rajin mengaji sampai menjelang lebaran. Inilah saya kira di antara keistimewaan Ramadhan di kampung. Selain mengambil buah di sawah dan mamancing ikan di sungai, saya lebih banyak menghabiskan waktu di masjid.

Seperti biasa, setiap habis shalat Isya`, saya ikut mengerjakan shalat Tarawih berjamaah. Tetapi, yang namanya anak-anak, gurau adalah sesuatu yang biasa—ribut dan gaduh terus. Demikian halnya saya dan juga teman-teman yang lain. Sampai kemudian, karena mungkin dianggap mengganggu kekhusyukan shalat, kami diberi hukuman oleh ustadz. Kadang-kadang disuruh berdiri, atau ruku’, atau sujud lama-lama. Namun dengan begitu, saya justru berkesempatan untuk berlama-lama di masjid. Suatu ketika saya bertemu dan berkenalan dengan beberapa santri Pondok Pesantren Rifa’iyah yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Rifa’i. Cukup lama saya bergaul dengan mereka. Saya lihat mereka belajar menulis Arab dengan pena yang diisi dengan tinta Cina—di kampung dulu biasanya disebut mangsin. Saya juga ikut belajar bersama mereka, bahkan saya pernah menulis sebuah kitab dengan menyalin kitab Syaikh Ahmad Rifa’i, yaitu dengan menggunakan tulisan Arab Pegon. Seingat saya isi kitab tersebut antara lain adalah tentang rukun Islam.

 

Tak Ada Paksaan dari Orangtua

Pada awalnya saya berpuasa hanya ikut-ikutan orangtua yang kemudian menjadi kebiasaan. Tidak seperti anak-anak di daerah-daerah lain, di waktu kecil saya tidak pernah mendengar atau diajari berpuasa setengah hari, misalnya. Yang saya tahu puasa itu wajib dilakukan sehari penuh tanpa ‘bolong-bolong’. Hanya saja, karena masih anak-anak, ‘nyuri-nyuri’ adalah hal yang biasa bagi saya. Misalnya, di siang hari saat sedang mandi di kali, dan kebetulan tidak ada orang melihat, saya minum.

Dan orangtua saya tidak pernah sekalipun memaksa-maksa saya untuk berpuasa. Saya hanya disuguhi contoh dan keteladanan. Saya pernah disuruh, tetapi tidak dipaksa. Saya berpuasa semata-mata berangkat dari keinginan saya sendiri. Sebagaimana ketika saya hendak mengaji, itu juga keinginan saya sendiri, tanpa paksaan dari orangtua. Bahkan, dalam hal masuk sekolahpun, sayalah yang mempunyai inisiatif. Kebetulan setiap hari, kecuali hari Minggu tentunya, saya melihat anak-anak yang umurnya lebih tua dari saya, pagi-pagi pergi ke sekolah dengan mengenakan seragam. Saya ingin sekali seperti mereka, makanya saya bilang ke orangtua bahwa saya ingin masuk sekolah seperti anak-anak itu. Kemudian juga ketika saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Kudus, dan setiap bulan Ramadhan ngaji di Pesantren KH. Arwani. Orangtua saya, terutama ibu, tidak mengizinkan. Di samping karena saya adalah anak satu-satunya, semata wayang, juga karena faktor biaya—di kampung orangtua saya tergolong masyarakat tidak mampu. Saya sudah bertekad bulat, dan saya katakan, “Bapak, Ibu, saya akan baik-baik saja di sana. Soal biaya tidak perlu dirisaukan.” Begitupun ketika saya melanjutkan studi di UIN Jakarta—dulu namanya masih IAIN—, itu murni keinginan saya sendiri.

Bagi saya, kenyataan bahwa orangtua tidak pernah memaksa saya dalam hal apapun, termasuk dalam mengerjakan ibadah puasa, adalah suatu model pendidikan yang positif. Artinya, sejak kecil saya sudah dididik untuk melakukan segala sesuatu tanpa paksaan dan tekanan dari orang lain, bahkan dari orangtua sekalipun, melainkan berangkat dari keinginan dan kesadaran diri. Contoh dan keteladanan yang diperlihatkan orangtua kepada saya sudah cukup menjadi semacam perintah tidak langsung untuk melakukan sesuatu yang baik.

 

Menikmati Suasana yang Berbeda

Selama kuliah di Jakarta, saat bulan Ramadhan tiba saya tidak pulang kampung tetapi muqim di Pesantren Modern Gontor dan Pesantren Koleberes Sukabumi. Ada keinginan kuat di hati saya untuk menikmati suasana Ramadhan yang berbeda dari tanah kelahiran saya. Kadang-kadang sampai 20 atau 25 hari menjelang lebaran.

Di setiap tempat, pasti ada pengalaman yang menurut saya sangat luar biasa dan memberi kesan mendalam, khususnya di bulan Ramadhan. Ketika di Kudus, karena jauh dari orangtua, saya memasak sendiri, bahkan mulai belajar mencari uang sendiri dengan menjual gorengan atau kerjaan lainnya. Dari pagi sampai siang saya belajar di sekolah umum, kemudian sore harinya saya mengaji di pesantren. Ketika ngaji di Pesantren KH. Arwani, selama hampir sebulan oleh Kiyai Arwani saya hanya diajari surat al-Fatihah, mulai dari bacaan ta’awwudz dan basmalah-nya hingga ayat per ayat di dalam surat tersebut, dan tidak diajari surat-surat al-Qur`an yang lainnya. Tentu saja ini membuat saya bosan dan kesal. Akhirnya saya belajar ngaji sendirian. Tidak tahu benar atau salah, yang jelas saya bertekad harus bisa. Anehnya, saya bisa membaca surat-surat lain di dalam al-Qur`an dengan lancar. Akhirnya saya pun mengerti maksud sekaligus rahasia Kiyai Arwani hanya mengajarkan surat al-Fatihah kepada saya.

Begitu juga ketika saya berada di Sukabumi, momen yang paling menarik adalah pada saat ngabuburit. Setiap sore, selepas shalat Ashar, saya pergi ke sawah-sawah untuk nengambil jenis-jenis daun dan rumput. Kalau menurut orang Sunda, “Kecuali daun pintu, semua daun bisa dimakan.” Hal ini saya coba praktikkan dalam keseharian saya di bulan Ramadhan. Daun-daun itu saya jadikan lalapan untuk pelengkap menu buka puasa. Padahal, penduduk asli Cianjur sendiri sangat jarang yang melakukan itu. Karena di sana saya ada di pesantren, maka saban hari saya selalu mengaji kitab. Sebetulnya saya tidak begitu paham, karena si kiyai menerjemahkan kitab tersebut dengan bahasa Jawa, dan menjelaskannya dengan bahasa Sunda. Sementara pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan memakai bahasa Indonesia, tetapi ia menjawabnya dengan bahasa Sunda, dan sekali-kali dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata karena memang tidak terlalu bisa.

Selain itu, saat berada di Pondok Pesantren Modern Gontor, saya belajar menulis khat (kaligrafi Arab), belajar menjilid buku, dan yang paling saya suka adalah mengumpulkan kata-kata bijak yang tertulis di dinding-dinding asrama, seperti “Panca Jiwa”, “Motto Pondok”, atau ungkapan-ungkapan hikmah dari para ulama. Pada masa-masa itu saya tidak suka membaca hal-hal yang berkaitan dengan fikih. Saya lebih suka membaca al-Qur`an dan mencari tahu makna dari setiap kata dan kalimat yang ada di dalamnya. Untuk bahan bacaan lain, saya suka sekali membaca buku-buku terjemahan karangan para tokoh/ilmuan luar negeri yang sudah bergelar “Profesor-Doktor”. Saya jarang membaca buku-buku karangan para tokoh/ilmuan dalam negeri. Memang, di antara kegemaran saya waktu itu adalah membaca buku. Saya selalu menyisihkan sebagian uang baik dari kiriman orangtua ataupun hasil dari keringat sendiri untuk membeli buku. Setiap kali pulang kampung menjelang lebaran, saya pasti membawa buku. Sampai-sampai orangtua saya heran, “Kamu kayaknya gak pernah beli pakaian ya? Cuman beli buku mulu!”

 

Lebaran Idul Fitri

Bagi umat Muslim lebaran Idul Fitri adalah momen yang sangat spesial. Saya bersama orangtua biasanya bersilaturrahim ke keluarga saya yang lain. Kebetulan di kampung terdapat keluarga saya yang bisa dibilang kaya raya. Ketika datang ke rumahnya saya selalu dikasih uang. Namun bila bersilaturrahim ke rumah-rumah keluarga yang lain tidak dikasih apa-apa. Saya bisa memaklumi hal itu, karena masyarakat di kampung saya rata-rata memang bukan orang-orang ‘berada’.

Satu hal yang perlu dicatat, sebenarnya perayaan lebaran Idul Fitri di kampung saya tidak begitu semarak, terkesan sepi, seolah-olah bukan momen yang spesial. Justru yang paling ramai adalah tujuh hari setelah itu, yaitu lebaran Ketupat—di kampung saya biasanya disebut “bodho kecil”. Sebagaimana tradisi umat Muslim Indonesia pada umumnya, masyarakat kampung saya membuat ketupat dari beras, yang selain untuk dikonsumsi sendiri juga diberikan kepada tetangga. Biasanya ketupat itu—yang menjadi khas masyarakat kampung saya—sangat enak kalau dimakan dengan semur ikan ‘kutuk’. Dan pada momen itu juga, banyak dari masyarakat kampung saya yang bertamasya ke beberapa tempat yang menarik.

Sebetulnya, banyak momen sejenis yang dirayakan di kampung. Seperti, misalnya, Tanggal 1 Syura, Nyadran, di mana masyarakat saling memberi makanan; ke kerabat, tetangga, dan orang-orang tidak mampu atau miskin. Jadi, di kampung itu suasana kekeluargaannya sangat kental sekali. Meskipun oleh sebagian kalangan—maksudnya beberapa aliran dalam Islam—dianggap tidak Islami dan berbau bid’ah, tetapi tradisi seperti lebaran Ketupat, Tanggal 1 Syura, dan lain-lainnya, itu saya kira harus tetap dijaga dan dilestarikan. Karena justru dengan tradisi-tradisi semacam itu masyarakat senantiasa dapat menjalin ikatan persaudaraan, kekeluargaan dan kekerabatan, di samping, tentu saja, dapat mempererat tali silaturrahim di antara sesama yang memang sangat dianjurkan oleh Islam. Dan yang tidak kalah pentingnya, tradisi-tradisi semacam itu harus dipahami sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala karunia yang telah diberikan-Nya.

Bisa jadi, individualisme, terorisme, kekerasan dan intoleransi yang saat ini merebak atau menjamur di Tanah Air, itu karena tradisi-tradisi lama yang baik di masyarakat mulai dikikis dan dihilangkan, dianggap sebagai bid’ah yang harus dijauhi karena tidak termasuk ajaran agama dan tidak ada di masa Nabi. Yang penting itu bukan bentuknya, bukan kemasan atau bungkusnya, melainkan nilai luhur dan pesan bijak yang terkandung di dalamnya. Kenyataannya memang, masyarakat kita sangat mudah terkesan atau silau oleh kemasan, bukan oleh isi atau muatan.

 

Jarang Mudik

Sejak tinggal di Jakarta, mulai dari masa-masa kuliah sampai sekarang, saya jarang sekali mudik alias pulang kampung pada saat lebaran Idul Fitri, bahkan cenderung menghindarinya. Saya masih ingat, saya mudik baru dua kali. Pernah satu kali, waktu hendak balik ke Jakarta saya naik kereta api dengan berdiri dari Purwokerto ke Jakarta. Rasanya memang sangat tidak enak; sesak, panas dan letih sekali. Kedua kaki saya serasa seperti mau patah. Ini membuat saya trauma, makanya saya tidak mau mudik ketika lebaran Idul Fitri.

Lebaran Idul Adha saya sering mudik karena memang tidak begitu ramai dan sesak seperti saat lebaran Idul Fitri. Saya suka sekali memotong kurban di kampung, dan kemudian membagi-bagikan dagingnya kepada orang-orang sekitar, terutama kepada mereka yang tidak mampu. Namun untuk saat-saat ini, semenjak orangtua telah tiada, saya sudah tidak mudik lagi. Karena tanah dan rumah orangtua saya wakafkan untuk kepentingan pembangunan sekolah. Jadi, sekarang ini di kampung saya sudah tidak punya apa-apa lagi.

 

Ramadhan di Kampung; Dulu dan Kini

Saat ini, seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, anak-anak sangat mudah mendapatkan hiburan, bisa melalui televisi, handphone, internet, playstation, dan lain-lain. Sehingga, ketika ngabuburit, misalnya, kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu dengan menikmati kecanggihan alat-alat tersebut. Khusus mereka yang mempunyai sepeda motor, sebagian di antaranya ada yang ngabuburit dengan bermain kebut-kebutan di tempat-tempat tertentu, di lapangan atau di jalanan.

Kalau dulu, waktu ngabuburit, saya paling-paling hanya bermain di sawah, ngaji di masjid, atau jalan-jalan dengan naik sepeda sehingga suasana Ramadhan benar-benar terasa, nuansa religiusnya sangat kental.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

Merebut Tafsir: Meluaskan Ruang Jumpa

Oleh Lies Marcoes

Kamis, 4 April 2019,  Rumah KitaB menyelenggarakan acara RW Layak Anak di Kelurahan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Ini menandai berakhirnya program pendampingan secara “formal” sesuai durasi program pencegahan kawin anak ” BERDAYA” di wilayah urban Jakarta. (Dua wilayah lain di Cirebon dan kota Makassar).
Program BERDAYA tak jatuh dari langit yang tanpa data. Program ini berangkat dari riset RK 2014-2015 bahwa kawin anak di perkotaan merupakan limpahan krisis ekonomi akibat perubahan ekologi dan hilangnya kuasa rakyat atas (kelola dan kepemilikan) tanah di perdesaan. Jadi, selain berdampak langsung di tempat/ di desa dan kepada warga desa, perubahan ruang hidup, politik agraria yang menyempitkan akses dan kuasa warga atas tanah di perdesaan, juga membuncah dan merembes ke kota. Banyak orang tua yang tak lagi sanggup bertahan di desa mencoba peruntungan nasib di kota. Mereka memboyong keluarga berikut anak-anak dan tinggal di wilayah pinggiran, tersembunyi di lipatan-lipatan gedung tinggi dan gemerlap kota. Salah satu wilayah lemparan kegagalan di desa itu adalah Jakarta Utara.

Acara hari ini di selenggarakan persis di mulut gang yang dulu dikenal dengan nama “gang sempit” dekat “gang macan”. Gang sempit terletak sepelemparan batu dari pelabuhan bongkar muat dan pelelangan ikan. Gang sempit pernah dikenal sebagai daerah prostitusi kelas teri, tempat para lelaki pekerja dan anak buah kapal antar pulau membuang hajat birahinya.

Kini, dengan usaha persuasi dari banyak pihak, wilayah itu telah menjadi hunian keluarga daripada lokalisasi. Hari itu, Kamis, 4 April 2019, gang itu akan mengubah peta DKI dengan perubahan nama dari nama “Gang Sempit” menjadi “Gang Berkah”. Meskipun bernuansa agama, saya tak mencium aroma “Islamisasi” sebagai cara untuk menekan wilayah prostitusi itu melainkan adanya kehendak warga, tokoh masyarakat, orang tua terutama ibu, pemerintah dan lembaga-lembaga penghubung antara pemerintah dan warga termasuk RT RW untuk membuat wilayah itu aman bagi tumbuh kembang anak. Mereka telah menentukan pilihan bagi lingkungannya yaitu pilihan untuk membebaskan anak-anak mereka dari praktik-praktik yang mengancam masa depannya yaitu perkawinan “terpaksa” dan narkoba.

Pendampingan selama dua tahun intensif tiap minggu dengan melakukan pengorganisasian yang tidak datang dari ruang hampa melainkan berdasakan pemetaan potensi untuk berubah adalah kunci.
Secara sosiologis ini adalah wilayah yang benar-benar bineka menampakkan wajah Indonesia sejati. Segala suku bisa ditemukan di sini dengan gembolan budayanya masing-masing. Lapangan pekerjaan informal paling mendominasi mengingat latar belakang pendidikan bawaan dari kampung halaman. Demikian juga segala aliran dan organisasai keagamaan ada disini. Di sini pula segala lambang partai berbaris berjejer di tepi jalan sempit penguji kesabaran berlalu lintas agar tetap bisa melaju bersaing dengan meja-meja penjual panganan atau kandang burung dan macam-macam gerobak dorong. Beberapa gambar habib tertempel di rumah-rumah melebihi gambar simbol-simbol negara. Namun hal yang tak ditemukan cukup kuat adalah ruang bersama tanpa sekat. Sekat-sekat labirin yang gampang memunculkan gesekan akibat keragaman itu membutuhkan ruang jumpa.

Strategi Rumah KitaB adalah memperkuat “engagement”, menciptakan ruang perjumpaan yang lebih luas tempat di mana macam-macam orang bisa bertemu. Pertemuan-pertemuan informal dilakukan tanpa mengganggu ruang yang telah ada. Kami “menghindari” pemanfaatan ruang sosial komunitas yang secara nyata telah menciptakan sekat dengan sendirinya seperti majelis taklim. Meski itu juga di ‘masuki’ namun itu tak diutamakan. Hal yang dilakukan dalam kaitannya dengan ruang jumpa internal agama (Islam) adalah mempertemukan tokoh-tokohnya dengan latar belakang NU, Muhammadiyah dan ormas lain untuk berjumpa di isu pencegahan kawin anak.

Ruang jumpa lain ditemukan dalam kegiatan remaja berupa seni tradisional Lenong. Seni drama tradisional yang interaktif antara pemain dan penonton ini, secara simbolik membaurkan sekat-sekat warga. Upaya pencegahan perkawinan anak menemukan bentuk engagement itu di sana.

Siang itu, selain pertunjukan Lenong, disajikan tarian Ronggeng/Cokek Betawi yang syarat simbol percampuran budaya Cina, Betawi, Arab, Bali dan Sunda. Tari Cokek itu menjadi perekat yang kuat yang secara simbolis menggambarkan keragaman itu. Hal yang saya suka, tarian itu tak mereka ubah untuk “tunduk” pada ketentuan yang kini menjangkiti tiap ‘performance” yang berupaya memodifikasi pertunjukkan itu agar tampak lebih santun atau bermoral. Tarian cokek ya cokek, gerakannya bebas, lembut sekaligus bertenaga, sensual tapi tak vulgar.

Hari itu, di bawah tenda merah putih, lebih dari 500 warga tumpah ruah ikut tergelak-gelak menyaksikan drama lenong yang memvisualisasikan pengalaman setempat bagaimana perkawinan anak terjadi dan cara memutus rantai kawin anak itu. Pesannya adalah pelibatan dan kepedulian para pihak dengan menciptakan ruang jumpa. Sebuah ruang imajinasi yang dapat mendesak sekat- sekat pemisahnya yang mematikan sikap peduli dan membangun kepedulian dengan cara baca baru- kawin anak bukan hal yang wajar, karenanya perlu ditawar/dinegosiasikan.[]

 

 

“Indonesia Tanpa Feminis,” Kritik atau Bunga Tidur?

Setelah kampanye “Indonesia Tanpa Pacaran,” kini muncul kampanye baru “Indonesia Tanpa Feminis.” Apakah ini kritik terhadap feminisme atau bunga tidur semata?

Seiring menguatnya desakan untuk meloloskan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di sisa masa tugas DPR saat ini, yang tak jarang menghadapkan kelompok feminis dan aktivis pendukung perlindungan perempuan dengan sebagian kelompok Islam, beberapa hari terakhir ini muncul kampanye “Indonesia Tanpa Feminis.”

Kampanye di media sosial, terutama Instagram, menarik perhatian banyak kalangan karena menghadirkan tagar yang menohok, seperti #IndonesiaTanpaFeminis dan #UninstallFeminism, disertai pesan pendek “lawan pemikiran feminisme.” Foto yang diunggah di InstaStory menunjukkan puluhan perempuan berjilbab mengepalkan tangan kanan disertai keterangan foto : “wanita yang ingin generasinya tidak kena racun feminisme.”

Kampanye “Indonesia Tanpa Feminis” Tuai Kontroversi

Kampanye yang baru berlangsung beberapa hari ini menarik perhatian banyak kalangan, yang mendukung maupun menentang kampanye ini. Pemilik akun Instagram @raniaalattas memasang foto mendukung kampanye itu disertai pernyataan panjang yang menguraikan “aturan Islam untuk melindungi dan menjaga kehormatan perempuan,” dan “perempuan sebagai sandaran kaum laki-laki untuk melaksanakan tugas” hingga mengaitkannya “persamaan gender yang didengungkan oleh kaum #feminis” yang menghancurkan fondasi keislaman muslimah.

View this post on Instagram

Ada banyak sekali aturan Islam untuk wanita. Mulai dari menutup aurat, ijin sebelum berpergian dan lain sebagainya. Mengapa banyak sekali aturan pada wanita dalam islam? Seolah aturan itu mengikat wanita tidak bisa bebas melakukan apapun. . . Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Maka dari itu banyaknya aturan dalam Islam yang ketat untuk melindungi dan menjaga kehormatan serta martabat wanita. . . Banyak hal yang bisa dilakukan kaum wanita dalam masyarakat dan Negara, dan ia punya perannya masing-masing yang tentunya berbeda dengan kaum laki-laki. Hal ini sebagaimana yang dilakukan para shahabiyah nabi. . . Pada jaman nabi, para shahabiyah biasa menjadi perawat ketika terjadi peperangan, atau sekedar menjadi penyemangat kaum muslimin, walaupun tidak sedikit pula dari mereka yang juga ikut berjuang berperang menggunakan senjata untuk mendapatkan syahadah fii sabilillah, seperti Shahabiyah Ummu Imarah yang berjuang melindungi Rasulullah dalam peperangan. . . Sehingga dalam hal ini, peran wanita adalah sebagai penopang dan sandaran kaum laki-laki dalam melaksanakan tugas-tugasnya. . . Persamaan gender yang didengungkan oleh kaum #feminis, tidak lain adalah untuk menghancurkan pondasi keislaman seorang muslimah, sehingga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang wanita. . . Ingatlah, pemimpin-pemimpin yang adil dan generasi-generasi yang baik akan muncul seiring dengan baiknya kaum wanita pada waktu tersebut. Kehebatan pahlawan para mujahid tidak lepas dari peran para wanita (ibu) dalam hidupnya. . . #IndonesiaTanpaFeminis #UninstallFeminism #TolakFeminis

A post shared by Raniya A Alattas (@raniaalattas) on

Pemilik akun lainnya mengkritisi konsep feminisme yang memperjuangkan kesetaraan perempuan. “… dalam Islam, wanita tak perlu setara karena sejatinya wanita sungguh dimuliakan. Ia dijaga oleh ayahnya, dijaga oleh saudara laki-lakinya, dan dijaga oleh suaminya…”

Lies Marcoes: Jangan Menolak Padi, yang Disangka Ilalang

Peneliti yang juga alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Lies Marcoes, kepada VOA mengatakan “merupakan hak siapa pun untuk menyampaikan pendapat, asal paham yang mereka tolak. Jangan menolak padi, yang mereka sangka bunga ilalang. Atau menolak telur ayam, yang mereka kira telur cicak.” Ini penting karena, ujar Lies, “agama yang dibangun tanpa kesadaran kritis akan menindas mereka yang dilemahkan secara struktur, antara lain perempuan dan anak perempuan, orang miskin dan kelompok minoritas.”

Lies juga membantah jika mereka yang mengkampanyekan “Indonesia Tanpa Feminis” itu menilai feminisme telah menghancurkan nilai-nilai agama dan konstruksi keluarga. “Inti agama adalah pembebasan. Salah satu jalan pembebasan adalah feminisme, yang diperlukan karena ideologi yang mengajarkan pembebasan itu luput melihat relasi kuasa gender. Feminisme memang menghancurkan nilai-nilai agama yang dibangun oleh cara pandang patriarkal. Keluarga yang didalamnya ada penuhanan kepada suami, harta, jabatan, dan kekuasaan lain; akan dilawan dan digempur oleh feminisme,” ujar Lies.

Pendukung Kampanye: Tubuhku Milik Allah

Mereka yang mengkampanyekan “Indonesia Tanpa Feminis” juga mengkritisi gagasan feminisme tentang otoritas penuh atas tubuh seseorang, dengan mengatakan ‘’tubuhku bukan milikku, melainkan milik Allah.’’

Penulis dan dosen di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Kalis Mardiasih menjawab dengan mencuit @mardiasih “karena Allah menitipkan tubuh kepadaku, maka aku wajib menjaga tubuhku dengan baik, yaitu dengan kesadaran sepenuhnya bahwa tubuhku punya hak, hak kesehatan reproduksi, hak cuti menstruasi dan hamil, hak akan rasa aman dengan tidak menerima diskriminasi, pelecehan dan kekerasan.”

https://twitter.com/mardiasih/status/1110502850126241792/photo/1

 

“Karena Allah menitipkan tubuh kepadaku, maka aku wajib menjaga tubuhku dengan baik, yaitu dgn kesadaran sepenuhnya bahwa tubuhku punya hak: hak kesehatan reproduksi, hak cuti menstruasi&hamil, hak akan rasa aman dgn tidak menerima diskriminasi, pelecehan dan kekerasan…”

Lebih jauh Kalis menambahkan ‘’tubuhku otoritasku itu bikin kalian bisa nge-mall tenang karena ada ruang laktasi. Itu bikinnya pake kebijakan. Kebijakan ada kalau perempuan punya hak politik yang setara, bisa bawel di parlemen. Di institusi banyak predator, makanya perjuangin RUU PKS. Malah dituduh legalin zina.”

Aktivis Dhyta Caturani menulis di akun Facebooknya “padahal bisa kumpul-kumpul, aksi di luar rumah, bekerja dan bahkan pakai gadget untuk main medsos adalah hasil dari perjuangan panjang feminisme.”

Dr. Nur Rofiah: Tubuh Milik Allah SWT, Tanggungjawabku Menggunakannya

Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran di Jakarta, Dr. Nur Rofiah, menengahi dengan menyebut tiga kelompok yang memandang otorita atas tubuh secara berbeda, yaitu kelompok sekuler yang menilai tubuhku mutlak milikku, jadi terserah padaku. “Meskipun konteksnya mengkritisi kepemilikan mutlak laki-laki atas tubuh perempuan, tetapi karena tidak ada batasan maka sampai ada yang merusak dengan mengatasnamakan kedaulatan,” paparnya. Lalu ada kelompok Islamis yang menilai “tubuhku milik Allah SWT” dan ini juga mesti diwaspadai karena “milik Allah SWT dalam praktiknya bisa sampai menyerahkan mutlak pada suami atas nama Allah SWT.” Yang terakhir adalah kelompok yang bisa jadi rasional karena “tubuhku milik Allah SWT tapi perempuan berdaulat atasnya dan bertanggungjawab untuk menggunakannya hanya dengan cara-cara yang maslahat, sebagaimana diamanahkan Allah SWT,” tegasnya.

Jika ada sebagian yang mengkampanyekan “Indonesia Tanpa Feminis” atau mengomentarinya mengaitkan hal ini dengan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sedang diperjuangkan di DPR, Lies Marcoes menilai hal ini tidak mengherankan. “Upaya menolak RUU PK-S dilakukan dengan segala cara kecuali mencari tahu kebenarannya dan berpikir kritis.”

Simak perbincangan lebih jauh VOA Siaran Indonesia dengan Dr. Nur Rofiah tentang isu ini, di Siaran Pagi Rabu 3 April jam 6 pagi WIB. [em]

Sumber: https://www.voaindonesia.com/a/indonesia-tanpa-feminis-kritik-atau-bunga-tidur-/4858116.html