Pos

Hak Pendidikan Anak Perempuan

Kelembagaan seperti pesantren berperan besar dalam menghentikan praktik perkawinan anak. Ini menunjukkan institusi agama memiliki otoritas tinggi yang bisa melebihi otoritas aparat negara. Kyai dapat menjadi mitra dalam advokasi menurunkan praktik perkawinan anak dengan otoritasnya.

Sebuah pesantren di Batu Putih, Sumenep yang memiliki lembaga formal setingkat Tsanawiyah (SMP) asuhan Kyai Syafi’i mengizinkan murid perempuannya yang telah menikah untuk tetap meneruskan pendidikan, meskipun secara fomal hal itu tidak dibenarkan.

Bagi sang Kyai, sepanjang praktik kawin anak masih kuat berlaku di masyarakat, sementara negara tidak sanggup memberantasnya karena terkait dengan budaya, maka yang wajib dilakukannya adalah mengikuti kaidah hukum fiqh “mengurangi sebanyak mungkin mudharat yang ditimbulkannya”.

Karena tidak dapat mencegah praktik kawin anak, yang ia usahakan adalah tidak mengurangi hak pendidikan anak perempuan.

Catatan lapangan Roland Gunawan, diolah oleh Lies Marcoes

Rumah KitaB; Membawa Mutiara dari Pesantren

YAYASAN Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) adalah lembaga non profit yang digagas sejak tahun 2005. Lembaga ini bekerja untuk penguatan dan pemberdayaan pesantren dalam pengembangan khazanah pemikiran, pendidikan serta tradisinya. Penguatan pesantren dilakukan melalui berbagia kegiatan dan berangkat dari penelitian-penelitian yang relevan. Tujuannya adalah untuk mensosialisasikan tradisi pesantren ke dunia yang lebih luas dan secara timbal balik menginternalisasikan pengetahuan, wacana, pemikiran dan perspektif dari dunia luar yang relevan untuk perkembangan pesantren.

Pada bulan Februari 2014 yang lalu Rumah KitaB mengadakan workshop dan training “Pengembangan Civic Education Berbasis Tradisi Pesantren” di dua daerah, Cirebon dan Jakarta.  Masing-masing daerah tiga hari: Cirebon dari tanggal 18 – 20 Februari 2014, dan Jakarta dari tanggal 25 – 27 Februari 2014. Kegiatannya: hari pertama “Workshop Pengembangan Civic Education Berbasis Tradisi Pesantren untuk Para Pimpinan Pesantren”, hari kedua “Training of Trainer untuk Para Guru/Ustadz tentang Pembelajaran Civic Education”, dan hari ketiga “Workshop Peer Educator untuk Para Santri dan Pelajar dalam Civic Education”. Mengundang beberapa narasumber yang populer di dunia pesantren, seperti KH. Imam Aziz (Tokoh LKiS), KH. Marzuqi Wahid (Tokoh Fahmina Institute), KH. Abdurrahman Nawi (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Awwabin), dan KH. Prof. Khozin Nasuha (Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun).

Kegiatan ini sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi buku “Kumpulan Bahan Ajar Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren” yang tak lain adalah hasil ijtihad para peneliti Rumah KitaB yang umumnya merupakan alumnus pesantren. Buku ini lahir dilatari keprihatinan menyaksikan problem sosial di negeri ini yang terkait dengan degradasi karakter anak bangsa. Yayasan Rumah KitaB mencoba memberi setitik sumbangsih agar mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk memberi solusi yang tepat. Secara spesifik, buku ini mengungkap praktek-praktek terbaik pendidikan karakter yang berkembang di pesantren untuk menjadi sumber inspirasi bagi dunia pendidikan di Indonesia. Namun, dalam buku ini juga ditampilkan banyak inspirasi tentang nilai-nilai luhur yang berasal dari dunia luar pesantren. Hal itu dimaksudkan agar pesantren juga mengalami pengayaan khazanah.

Lanny Octavia, Direktur Program Rumah KitaB sekaligus penanggungjawab kegiatan ini, menjelaskan tentang kiprah Rumah KitaB dalam hal Civic Education, khususnya pendidikan karakter dengan basis pesantren. Menurutnya, pendidikan karakter bukanlah hal baru bagi Rumah KitaB. Sejak tahun 2011, dengan dukungan dari Kementerian Agama, serta bekerjasama dengan UNISMA dan UNWAHAS, lembaga ini sudah melakukan penelitian ke 22 pesantren di seluruh Indonesia tentang Best Practice Nilai-nilai Kebangsaan. Tidak hanya terbatas pada pesantren-pesantren di Jawa, tetapi juga di Sumatera, Lombok, Papua, dan berbagai daerah di Nusantara. Kemudian, di tahun 2012, Rumah KitaB bekerjasama dengan Yayasan Paramadina Jakarta dalam pengembangan Living Values Education(Pendidikan Menghidupkan Nilai). Kerjasama ini melahirkan draf buku “Modul Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren”. Selanjutnya, di pertengahan tahun 2013 Rumah KitaB bekerjasama dengan OSLO Coalition dalam program Civic Education (Pendidikan Kewarganegaraan). Dan dari kerjasama ini lahir buku “Kumpulan Bahan Ajar Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren”.

Selama ini, menurut Lanny Octavia, kalau berbicara mengenai lembaga pendidikan Islam, lebih spesifiknya pesantren, banyak orang menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa kekerasan atas nama agama, juga terorisme, karena ternyata pelakunya adalah alumnus pesantren. Bahkan ada beberapa pesantren yang disinyalir tidak mau melakukan upacaya bendera Merah Putih. Hal ini memunculkan pertanyaan; ada apa di pesantren? Apakah pesantren adalah sarang kekerasan dan terorisme? Apakah di pesantren tidak ada nilai nasionalisme?

Dengan penelitian itu, Rumah KitaB berupaya menggali secara lebih mendalam tentang nilai-nilai luhur yang hidup di pesantren, dan ditemukanlah nilai-nilai seperti toleransi, kasih sayang, kesetaraan, nasionalisme, rendah hati, kebersamaan, kesungguhan, kesabaran, dan nilai-nilai luhur lainnya yang menunjukkan bahwa pesantren sebetulnya sangat anti kekerasan dan terorisme, bahkan mendukung penuh keutuhan NKRI.

Sementara itu, KH. Imam Aziz, salah satu narasumber dalam kegiatan ini, menuturkan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa ini, “Semakin ke depan, kondisi negeri ini semakin memprihatinkan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kalau generasi bangsa yang sekarang ini justru lebih buruk daripada generasi-generasi terdahulu, yaitu generasi yang—paling tidak—belajar tentang ilmu agama, atau yang generasi yang mengenyam pendidikan di sekolah yang mengajarkan tentang nilai-nilai keagamaan. Kenyataannya, ketika di antara mereka menjadi pejabat, mereka tidak bisa menghindar dari prilaku korupsi. Karena sistem di pemerintahan memang memungkinkan siapapun untuk melakukan korupsi.”

Makanya, menurutnya, perlu dipikirkan juga mengenai lingkungan material siswa/i, seperti rumah, sekolah, kantor, dan lain sebagainya. Selain itu, perlu juga dipikirkan tentang lingkungan yang berhubungan dengan sistem, seperti sistem politik, sistem pendidikan dan seterusnya. Artinya, dengan begitu, pendidikan karakter tidak bisa dipisah-pisahkan antara antara individu dan lingkungan sosialnya. Karena, pada kenyataannya, meskipun di sekolah sudah diajarkan tentang nilai kejujuran dan kasih sayang, tetapi ketika seorang siswa/i keluar dari pintu sekolah, ia disuguhi fenomena lingkungan yang sama sekali bertentangan dengan apa yang didapatkannya di sekolah, seperti melanggar lalu-lintas, tawuran, dan lain-lain. Menghadapi lingkungan semacam itu, pilihan-pilihan moralnya sangat rapuh. Artinya, kalau pendidikan karakter dilihat sebagai pilihan-pilihan moral, maka pilihan-pilihan moral tersebut dengan mudahnya tergerus oleh lingkungan yang buruk. Inilah yang harus dipikirkan bersama, karena pendidikan karakter itu tidak bisa berdiri sendiri, tidak independen.

Dengan demikian, apa yang dilakukan Rumah KitaB merupakan salah upaya yang sangat baik, yaitu memikirkan kembali bahwa pesantren merupakan sumber nilai-nilai dan manusia-manusia unggul yang mampu berkiprah untuk kebaikan masa depan bangsa Indonesia. [RG-MA]