Pos

5 Salah Paham Keagamaan Merespons Wabah Covid-19.

Oleh Muhammad Ali

1. Penyakit ini azab Allah kepada mereka semua yang dosa dan durhaka (Wabah penyakit ini bermula dari Wuhan, tapi justru korban terbanyak juga Wuhan dan banyak orang Tionghoa juga. Dokter dan para penolongya juga orang Tionghoa, bahkan mereka membagikan alat-alat tes ke banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak yang terkena, termasuk Muslim, Katolik, Konfusian, Hindu, dan banyak lagi, dari berbagai profesi, dokter, perawat, imam, ulama, pendeta, orang tua, anak, pekerja, begitu banyak orang-orang baik dan berjasa bagi kemanusiaan.) Dalam teologi Islam, Tuhan memiliki banyak kualitas dan sifat, antara lain Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Tuhan Semua Alam (rab al-alamin).


2. Takut pada Allah, jangan takut sama Corona. (Allah dan virus tidak bisa dibandingkan, jika meyakini Allah sebagai Pencipta, maka virus juga ciptaan Allah, sama seperti Ular, Harimau, dan lain-lain).


3. Melarang Sholat Jamaah dan Pengajian, berarti melarang agama Islam (Bukan solat yang dilarang, tapi bersentuhan dan berkumpulnya, karena penyebaran lewat sentuhan, bersin, kedekatan) Ini berlaku juga untuk semua agama dimana ritualnya adalah komunal. Dalam kondisi darurat ini, ibadah berkumpul bisa diganti dengan ibadah di rumah masing-masing.


4. Kita harus tawakkal kepada Allah. Kalaupun harus sakit dan mati, sakit dan usia adalah taqdir Allah. (Tawakkal betul, tapi setelah usaha. Orang yang sakit meskipun berdoa tapi tidak menjaga fisik dan makanan, dan tidak berobat tetap akan sakit dan bahkan makin parah. Taqdir adalah hukum Allah, yang juga disebut sebagai hukum alam, termasuk mengenai penyakit dan pencegahannya. Agama dan akal tidak perlu bertentangan)


5. Dalam kondisi serba sulit seperti ini, Dimana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak turun tangan mencegah makhluk manusia dari bencana? Tuhan tidak berguna, dan karena itu, jangan lagi percaya Tuhan itu ada. (Bukti Tuhan itu ada dan tidak ada, sama posisinya: adanya Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris, tapi ketiadaan Tuhan pun tidak bisa dibuktikan empiris jika Tuhan diyakini melampaui dunia empiris. Ada unsur kepercayaan dan trust dalam kedua pembuktian ini. Ada faktor misteri mengapa ada bencana seperti wabah penyakit, gempa bumi dan tsunami, dan bencana-bencana alam lainnya. Paling tidak ada hikmahnya: manusia saling tergantung dan saling membutuhkan antar sesama. Manusia dan alam semesta pun demikian. Dan manusia harus terus mengembangkan akal dan ilmu pengetahuan. )

 

Image source: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51813486

SABDA HIKMAH (17): MUSIBAH DAN BERSYUKUR

Oleh. Mukti Ali Qusyairi

Musibah yang menimpa siapapun saja datang tiba-tiba, terjadi sekejap mata, tak menyisakan waktu untuk ikhtiar dan menghindar, tak ada kesempatan bernafas setarikan helaan pun. Kun fayakun boleh jadi lebih cepat dari kecepatan cahaya. Karena itu hidup harus siap dengan kejutan, baik atau buruk, musibah sayyiah atau musibah hasanah. Hidup memang begitu.

Meski ada musibah. Sehari-hari kita masih diberi nafas untuk berkesempatan hidup lebih panjang, diberi kesempurnaan akal, kesehatan tubuh, dan rizki adalah lebih dari cukup untuk senantiasa kita bersyukur.

Sering kali kita mendengarkan ada orang yang terkena musibah, misalkan kecelakaan motor; “untung depanya saja yang rusak dan pengemudinya selamat!” Musibah apapun selagi masih ada yang tersisa yang lebih penting selalu muncul kata “untung”. Hal ini menurut saya bagian dari uncapan rasa syukur bahkan dalam keadaan musibah sekalipun.

Atau rasa syukur dalam kondisi musibah, kadang diucapkan–baik di hati atau di mulut–bahwa sering kali Allah mengganti dengan yang lebih baik atau Allah akan memberi rizki bagi yang terkena musibah. “Allah akan ganti”, gumam orang terkena musibah.

Orang yang bersyukur dalam kondisi apapun dan di setiap masa, meniscayakan husnuzhan (baik sangka) kepada Allah dan optimisme menatap masa depan. Dan janji Allah dalam satu ayat dikatakan, “Jika saja Anda pandi bersyukur (atas nikmat yang diberikan Allah), niscaya Aku benar-benar akan menambahkan kenikmatan kepadamu. Tapi jika Anda mengingkari/tidak mensyukurinya, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. Karena itu bersyukur adalah relevan kita lakukan di setiap masa dan keadaan. Al-sykr shalih fi kulli zaman wa makan.()

Jumat mubarak, 20 April 2018.