Pos

Merebut Tafsir: Seratus ribu dapat apa?

Oleh Lies Marcoes

Jangan tersinggung ya kalau saya katakan harga-harga untuk makan sehari-hari memang mahal. Saya katakan begitu karena bicara harga selalu dimaknai sebagai kritik kepada pemerintah, dan mengkritik sering dianggap nyinyir atau bahkan terlarang (sederajat lebih rendah dari haram). Mungkin kita masuk ke dalam era masyarakat sendiri yang anti kritik.

Pasti kita ingat, ketika masa kampanye, sering kita lihat foto hasil “belanja Rp 100 ribu dapat apa”. Itu untuk menunjukkan bahwa kritik soal harga itu salah. Hal itu dibuktikan dengan “evidence based” Rp 100 ribu segala bisa kebeli untuk makan dua hari. Seorang teman yang mengoperasikan katering untuk hidup sehari-hari japri. Ia sakit hati kepada mereka yang punya pilihan 100ribu dapat apa karena buat dia sebagai penjual makanan kecil-kecilan harga-harga memang naik. Tinggal soal mau jujur atau tidak.

Sudah seminggu ini tukan sayur andalan ibu-ibu di kompleks kami berhenti jualan. Mang Ocid, orang Cirebon telah melayani kompleks kami jualan sayur dengan memakai mobil kecil bak terbuka selama lebih dari 10 tahun.

Ini telah memasuki musim kemarau. Ongkos petani sayuran pasti naik karena mereka harus menyediakan tenaga untuk menyiram, meski begitu hasilnya kurang memuaskan ibu-ibu. Dan karena uang belanja Ibu-ibu juga belum tentu ditambah atau bertambah, ibu-ibu dengan “kejam” tetap tak mau harga naik. Mereka meminta cabe plus rawit 5 atau 10 ribu. Mang Ocid, bingung. Mengingat sudah sangat akrab dan kenal kepada ibu-ibu ia tak berkutik. Sebagai warung serba ada, dia melengkapi warungnya dengan rupa-rupa lauk pauk. Ikan, udang, ayam, daging telur, antara lain. Jualan harus lengkap, tapi pembeli tak selalu belanja apa yang ia jual. Alhasil setiap hari ada yang tak terjual, padahal jenis jualannya bukan barang awet. Sementara dari segi harga ia praktis mensubsidi ibu-ibu di kompleks (yang umumnya bukan tergolong miskin). Ocid pun menyerah bangkrut.

Beberapa ibu yang punya akses kepada Mang Ocid memintanya tetap jualan. Tapi Ocid menyatakan ia tak sanggup lagi, karena ia bisa beli tak bisa jual, atau bisa jual tak bisa buat beli lagi. Dengan tepat dia mengatakan, harga-harga sayuran, bumbu dan jenis lainnya yang tak dikontrol negara (sebagaimana beras, minyak, tepung) bukan hanya naik tapi pindah harga. Dia angkat tangan.

Tentu ibu ibu bisa mengikuti anjuran pemerintah jika harga cabe atau sayuran naik sebaiknya menanam sendiri saja. Menurut saya anjuran itu keterlaluan sebab siapapun tahu sistem barter sudah berabad-abad bertukar dengan uang.

Saya anak petani, saya tahu betul derita mereka, menanam apa yang bisa ditanam sesuai musimnya. Jika kemarau buah-buahan seperti jeruk manis menjadi andalan menggantikan padi. Tak hanya itu mereka juga menanam palawija dan kacang kacangan terutama kacang hijau. Tapi kemarau membuat biaya di tingkat input memang mahal. Dibutuhkan tenaga untuk menyiram dengan tenaga manusia, atau menyewa pompa air. Namun ketika panen dan dijual, hasilnya hanya cukup untuk mengganti biaya upah dan kebutuhan di tingkat input.

Pada akhirnya kita harus berani jujur, harga-harga memang naik. Dan pemerintah (maaaaaf yaaa) seharusnya berani menjelaskan mengapa harga-harga naik. Ini berguna, minimal agar ibu-ibu tak terus bertahan dengan harga lama yang membuat seorang pedagang bermodal kecil seperti Mang Ocid mensubsidi mereka yang tetap ogah ganti harga. Seratus ribu memang sulit untuk dapat apa -apa untuk makan satu keluarga.

Merebut Tafsir: Perubahan Agraria dan Fenomena Kawin Anak

Oleh Lies Marcoes

Selasa, 2 Juli 2019, Rumah KitaB dan LAKPESDAM menyelenggarakan bedah buku karya Mohammad Shohibuddin “Wakaf Agraria: Signifikansi Wakaf bagi Agenda Reformasi Agraria”. Saya bicara dari sisi kepentingan gerakan perempuan dalam upaya mencegah perkawinan anak sesuai dengan agenda Rumah KitaB saat ini.

Akhir April 2017, Kongres Ulama Perempuan (KUPI ) mengeluarkan tiga buah “fatwa” yang sangat terhubung dengan situasi perempuan Indonesia saat ini: Fatwa tentang Perkawinan Anak, Kekerasan Terhadap Perempuan dan Dampak Kerusakan Lingkungan. Sesungguhnya tiga fatwa itu saling terhubung, namun karena media punya angle sendiri dalam pemberitaan, isu pekawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan lebih menonjol ketimbang isu kerusakan lingkungan.

 

Setahun sebelumnya, April 2016, Rumah KitaB telah meluncurkan 14 buku hasil penelitian di sembilan daerah di Indonesia. Studi ini mencari tahu mengapa praktik perkawinan anak sebagai salah satu bentuk kekerasan kebanyakan terjadi di wilayah yang memiliki kerusakan ruang hidup sangat parah.

Ada empat temuan menonjol dari penelitian itu: Pertama, secara statistik, kejadian perkawinan anak tertinggi terjadi di wilayah yang mengalami krisis agraria paling parah: Kalimantan (kecuali Kalimantan Timur), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bengkulu, NTB, Jawa Timur. Rata-rata di atas 25% kecuali Jawa Timur 17%, dan tetap tertinggi di Jawa.

Praktik kawin anak ini terkait dengan perubahan ruang hidup dan sosio-ekologis lingkungan. Terjadinya pergeseran kepemilikan tanah atau alih fungsi tanah telah mempersempit lapangan pekerjaan di desa. Ketika suatu daerah mengalami perubahan ruang hidup yang berpengaruh kepada perubahan-perubahan relasi gender di dalam keluarga, dapat dipastikan di daerah itu terdapat kecenderungan tingginya kawin anak. Hilangnya tanah serta sumber ekonomi di desa mendorong orangtua baik lelaki mapun perempuan merantau baik sirkuler atau bermigrasi.

Kedua, hilangnya peran orang tua akibat migrasi telah pula berdampak pada perubahan pembagian kerja dan peran gender di tingkat keluarga. Banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama. Namun perubahan ini tak diikuti dengan perubahan peran lelaki di ruang domestik. Meskipun mereka menganggur, secara budaya, lelaki tak disiapkan menjadi orangtua pengganti. Akibatnya, anak perempuan mengambil alih peran ibu, dalam banyak kasus mereka terpaksa berhenti sekolah. Ini mendorong mereka cepat kawin karena tak sanggup menanggung beban rumah tangga orangtuanya.

Ketiga, perkawinan anak merupakan konsekuensi logis dari semakin kakunya nilai-nilai moral akibat hilangnya kuasa pemimpin lokal pada sumber-sumber ekonomi dan aset desa, serta melemahnya kekuasaan tradisional mereka termasuk akses mereka atas kelola tanah. Hilangnya akses mereka pada tanah telah memunculkan “involusi kebudayaan”. Budaya menjadi semakin rumit tak toleran dan kaku. Perangkat desa dan kaum adat ikut kehilangan kuasanya atas aset-aset desa yang menjadi sumber pendapatan mereka. Namun, energi kekuasaan mereka tak dengan sendirinya berkurang, bahkan sebaliknya, semakin menguat. Pada waktu yang bersamaan terjadi panik moral yang menganggap seksualitas sebagai ancaman yang menakutkan. Akibatnya, kontrol mereka untuk isu-isu moral utamananya isu seksualitas semakin menguat, menyempit dan memaksa. Secara tersamar, setiap pelanggaran moral pada kenyatannya juga merupakan peluang untuk memperoleh pendapatan atau menguatkan posisinya sebagai pamong. Bahkan pada sejumlah situasi, mereka menjadi pihak yang mengondisikan atau memaksakan terjadinya praktik perkawinan anak.

Keempat, terjadinya kontestasi hukum antara hukum negara dan hukum agama (fiqh). Pada kasus perkawinan anak, yang sering terjadi adalah hukum keagamaan diletakkan di atas hukum negara. Pandangan keagamaan kerap menjadi legitimasi kelembagaan yang ada untuk menguatkan tindakan mengawinkan anak. Jargon-jargon “yang penting sah dulu” atau “lebih penting penuhi kewajiban agama dulu” dijadikan alasan pelanggaran hukum negara. Dalam banyak kasus, perkawinan usia anak-anak terjadi karena yang mereka cari bukan legalitas hukum, melainkan legalitas moral keagamaan yang didukung oleh cara pandang partiarkal.

Kelembagaan yang ada, baik itu adat, agama, atau sosial lainnya, seperti mati angin menghadapi praktik kawin anak yang berlangusng atas nama perlindungan nama baik perkauman atau keluarga. Itu terutama dalam kasus KTD atau si anak dianggap bergaul terlalu bebas. Kelembagaan-kelembagaan itu juga seperti membiarkan perlakuan orangtua yang memaksakan perkawinan anak dengan pertimbangan sepihak bagi kepenetingan rang tua semata.

Sebagai studi dengan pendekatan feminis, penelitian ini juga mengidentifikasikan berbagai upaya dalam mengatasi problem ini. Beberapa daerah telah meluncurkan regulasi penundaan usia kawin. Sayangnya upaya itu bersifat ad hoc, dengan anggaran yang sangat kecil. Upaya lain dilakukan sejumlah pesantren dengan membuka pintu bagi anak yang telah kawin.

Namun secara keseluruhan upaya–upaya itu menunjukkan bahwa bacaan atas peta persoalan perkawinan anak begitu sederhana, bersifat reaktif, dan tak menyasar masalah.

Kita membutuhkan solusi yang mampu membongkar akar masalahnya: mengatasi pemiskinan sistemik yang disebabkan oleh perubahan ruang hidup dan krisis agraria. Saat ini pemerintah sedang merancang upaya penyelesaian perkawinan anak. Krisis agraria telah dikenali sebagai salah satu penyebabnya. Namun dalam solusi isu ini tenggelam oleh kuatnya pendekatan teknis yuridis seperti tuntutan peningkatan usia kawin. Padahal tanpa perbaikan sistemik mengatasi kemiskinan akibat perubahan penguasaan tanah seperti yang ditawatkan penulis buku Wakaf Agraria ini, pendekatan yuridis hanya menambal lubang- lubang galian tambang. []

Merebut Tafsir: Bukan Nabi yang Kami Kenal

Oleh Lies Marcoes

Saya harus menunda komentar beberapa waktu atas khutbah Ied Fitri pagi ini, saya buang kejengkelan sambil bebersih dapur.

Bagian pertama ia membandingkan berbagai hari raya agama-agama dan perayaan Ied Fitri yang paling benar. Dengan logat yang, maaf, semua khuruf a dibaca ‘ain sehingga semuanya berbunyi sengau ia menjelaskan soal pentingnya mencari teman seiman agar tak terpengaruh oleh perilaku buruk orang lain, terutama teman. Di ujung khutbah, otak saya mengkeret, setelah doa saya bergegas ke tempat parkir. 


Boris, anak bungsuku sudah menunggu. Dengan hampir marah yang tertahan ia memeluk. I am so sorry mom, how dare he gave a khutba like that, is he has no wife, no daughter, not even has a mother? He is so misogynist! 


Anakku tak habis pikir, sepagi ini kita bangun hanya untuk mendengar khutba seperti itu. Di penutup khutbanya dia mengatakan, Nabi dalam salah satu shalat Ied (?) menemui sekumpulan “wanita dan ibu-ibu” (itu kata yang ia pakai) dan bersabda kelak “mayoritas” (kata dari dia) isi neraka dan kerak neraka adalah wanita karena wanita sering mengeluh dan menghujat suami. Karenanya wanita harus banyak bersedekah. Suamilah yang menentukan apakah pintu surga yang terbuka, atau pintu neraka. 


Anakku bertanya, selama sebulan apa dia nggak disedikan makan sahur oleh istrinya atau disediakan perempuan lain di rumahnya?

Saya bilang, dia bicara tentang Nabi dan Tuhannya,tapi itu pasti bukan Nabi dan Tuhan yang kita kenal. Bukan Nabi yang pada setiap siang dan malam kita kirimi Salawat, salam kasih sebagaimana Nabi mengasihi kami kaum perempuan. Anakku memeluk sekali lagi. Love you mom!

Merebut Tafsir: Idul Fitri dan Para Lansia

Oleh Lies Marcoes

Orang tua dan seluruh ingatan tentang masa kecil di kampung menjadi pengikat untuk pulang ke kampung. Itulah agaknya motivasi paling kuat untuk mudik Lebaran. Orang tua, tak mesti hanya bapak dan ibu tetapi juga kaum lansia yang tetap menetap di kampung manakala rumah atau aset lainnya masih ada: bisa eyang, bude/pakde, atau tetangga dan kerabat sepuh yang layak dikunjungi seperti tokoh -tokoh desa. Kecuali yang jangkarnya di kampung telah hilang, misalnya tak ada lagi tanah, sawah, rumah, sebagian kaum sepuh itu (mungkin) ikut migrasi ke kota dan menjadi lansia di perantauan.

Secara ideal normatif, lansia mendapatkan tempat yang baik dalam kebudayaan Indonesia. Penghormatan kepada mereka selalu dicitrakan sangat tinggi. Itu tak keliru. Dalam kehidupan sehari-hari, lansia menjadi pusat perhatian keluarga. Utamanya bagi keluarga yang berkecukupan. Keluarga-keluarga yang masih memiliki orang yang dianggap paling sepuh, eyang, eyang buyut, lansia umumnya menjadi pusat rujukan serta ekspresi kasih sayang.

Namun realitas yang lebih banyak tak selalu begitu. Saat ini, menurut statistik, diperkirakan 10% penduduk Indonesia merupakan warga lansia, dan dengan status kesehatan yang lebih baik, angka itu akan naik di tahun – tahun mendatang. Lansia adalah fakta dalam pembangunan. Namun dibandingkan perhatian pembangunan kepada kelompok tak berdaya lainnya seperti anak-anak dan orang dengan disabilitas, lansia adalah satu kelompok umur yang rentan terabaikan. Ada sejumlah persoalan yang menyebabkan lansia ada dalam situasi itu:

Pertama, pembangunan pada dasarnya senantiasa berorientasi kepada usia produktif. Hal itu karena watak pembangunan berangkat dari pandangan soal pertumbuhan yang mengukur sejauh mana seseorang dapat menyumbang bagi pembangunan. Jadi, produktivitas digunakan sebagai patokan. Karenannya kelompok umur yang menyumbang kepada produktivitas menjadi prioritas termasuk tentu saja sebagai kelompok yang harus didorong dan difasilitasi secara optimal. Karena sudah purna bakti, sumbangan kaum lansia di masa lampau ternyata tak selalu tercatat di masa kini melainkan ditinggal bersama masa lampaunya. Setelah menjadi warga senior mereka cenderung dianggap bukan warga produktif, bahkan dianggap sebagai beban pembangunan.

Kedua, karena berangkat dari pandangan soal produktivitasnya, maka bagi mereka yang tidak berangkat dari dunia produktif/ bukan pekerja formal, imbalan hari tua bagi mereka sama sekali nol. Tak mendapatkan pensiun, tak mendapatkan tunjangan yang stabil dan permanen, dan tak mendapatkan penghargaan layak di hari tuanya.
Bagi lansia yang masih bisa didayagunakan oleh keluarga, misalnya menjaga cucu, antar jemput sekolah, mengurus rumah, menjadi pengawas asisten rumah tangga, atau memiliki sumber ekonomi cukup mapan, mereka akan mendapatkan posisi sosial cukup baik di dalam keluarganya. Akan tetapi jika mereka sudah semakin sepuh, kehilangan fungsi-fungsi sosialnya dalam keluarga atau dalam masyarakat, ditambah tak memiliki aset yang bisa diandalkan keluarga, nasib lasia menjadi lebih rentan karena dianggap sebagai beban keluarga.

Ketiga, terdapat persoalan gender dalam lansia: lelaki senior, oleh posisi sosio-kulturalnya yang menguntungkan karena mendapat kedudukan lebih tinggi dari perempuan, biasanya punya posisi tawar lebih baik dalam keluarganya. Jika istrinya wafat lebih dulu misalnya, anak-anaknya tak akan mengganggu gugat statusnya sebagai kepala keluarga di dalam keluarganya. Ini dapat ditandai rumah yang ditempatnya tidak akan ada yang berani menguta-atik. Bahkan jika perlu ia didorong untuk mencari istri agar kehidupannya bisa normal kembali. Sesuatu yang nyaris mustahil diberlakukan kepada lansia perempuan. Sebab jika yang meninggal lebih dulu laki-laki, sang ibu kerap didorong untuk tinggal bersama anggota keluarga lain (anaknya) dengan maksud agar lebih praktis dalam mengurusnya. Ini antara lain karena kedudukan perempuan senior selalu sepaket dengan keluarga. Mereka tak dianggap perlu memiliki otoritas yang mandiri. Pada kenyataannya, begitu kehilangan tempat tinggalnya secara otomatis mereka kehilangan otoritasnya.

Dalam Islam, sebagaimana dalam kebudayaan, penghormatan kepada warga senior/ lansia sangatlah tinggi. Dalam Al Qur’an narasi tentang lansia seringkali merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim atau istri Zakaria yang diberi kesanggupan untuk mendapatkan anak di usia senjanya.

Pendekatan keagamaan dalam menyikapi orang tua seringkali bersifat karitatif atau moral. Misalnya larangan untuk memalingkan muka, atau berkata kasar atau menghardik. Dalam bahasa agama, perlakukan kepada orang tua, sebagaimana kepada anak-anak seringkali dikelompokkan ke dalam kewajiban untuk memberikan santunan , dan jarang yang bicara soal pemberdayaan.

Dengan cara pandang seperti itu, tentu saja lansia kemudian dianggap sebagai beban pembangunan. Ini kita bisa lihat dari begitu terbatasnya sarana sosial yang kita miliki untuk warga senior ini. Sarana aktivitas di luar rumah yang tersedia seringkali abai kepada kepentingan mereka. Jalan-jalan tak ramah lansia yang dapat membuat mereka mandiri, dapat bergerak tanpa bantuan. Perpustakaan umum, jarang yang menyediakan fasilitas bacaan dan sarana bagi mereka. Satu-satunya aktivitas yang masih terbuka bagi mereka di luar mengurus keluarga anak-anaknya adalah kegiatan keagamaan namun dengan tema yang seringkali bukan isu yang relevan bagi mereka.

Kita sering mengamati, hari-hari bagi mereka seperti bersikejar dengan matahari; pagi menunggu sore, sore menunggu malam, malam menunggu pagi. Terus demikian dari hari ke hari. Hanya setahun sekali mereka akan kembali menjadi pusat perhatian jika anak cucu kembali ke kampung halaman di waktu Lebaran. Dan itu pun, hanya berlaku bagi senior yang masih punya aset minimal rumah tinggal. Sementara bagi mereka yang secara ekonomi lumpuh, penghormatan serupa itu mungkin hanya ada di sinetron yang mereka tonton sehari-hari. Memang, hanya TV satu satunya mengusir waktu bagi mereka, tanpa kejelasan apa yang ditunggu kecuali kematian. (maaf).

Dalam bahasa yang biasa digunakan dalam pembangunan, problem paling utama dari lansia adalah cara pandang kita yang menganggap mereka invisible, adanya sama dengan tidak adanya! Karenanya, untuk mengatasi persoalan itu, pertama-tama adalah rekognisi aktual bukan normatif. Mereka harus hadir secara sosial bukan hanya angka. Mereka adalah warga ragam tidak tunggal dan bukan hanya Jawa. Mereka terbentuk oleh konstruksi gender yang bias dan karenanya sensitivitas gender dalam merumuskan pembangnan bagi lansia adalah sebuah keniscayaan. Kita harus berangkat dari sebuah cara pandang bahwa mereka (telah) berjasa dalam membangun negeri ini, apapun dan seberapapun peran dan sumbangan mereka! Hari Raya, saatnya kembali kepada fitrah, saatnya menyapa kaum lansia! Minal ‘aidin wal faizin Mohon Maaf Lahir Batin. Mama Bapak ngaturaken sedaya lepat mugi dipun cekap.

Merebut Tafsir: Sekarat Kurang

Oleh Lies Marcoes

Sekarat kurang adalah istilah yang saya dengar dari Ibu menggambarkan orang yang rakus utamanya terhadap makanan. Biasanya ditujukan kepada orang yang tak bisa mengukur kesanggupan diri dalam mengkonsumsi makanan dan karenanya terus mengumpulkannya padahal sudah kekenyangan sampai mau sekarat.

Ibuku sering mengatakan kita harus mengambil makanan secukupnya tak boleh berlebihan. Karenanya ia menasihati jangan mengumpulkan (memesan) makanan ketika sedang lapar karena makanan akan berlebih-lebihan dan terbuang sia-sia. Mungkin istilah yang tepat yang dikenal saat ini, lapar mata. 


Malam ini saya diajak makan di luar oleh anak-anak. Kami memilih di hotel terdekat yang menawarkan Rp xx all you can eat. Untung tadi pagi sudah booking jadi masih bisa mendapatkan meja. Rupanya banyak keluarga berbuka di sana. Meja over booked. Tampaknya para ART mereka banyak yang sudah mudik atau sekedar menikmati bukber dengan keluarga di akhir Ramadan.


Selain makanan utama, terdapat ragam makanan pembuka, minuman dan menu khusus hidangan ala Timur Tengah dan makanan lokal. 


Sebagaimana yang lain kami mengambil beberapa jenis makanan untuk takjil dan minuman. Setelah berbuka kami memilih makanan utama ditutup dengan kue dan buah.


Dan begitulah seperti kalap orang hilir mudik menangguk macam-macam makanan yang terhidang berpuluh macam jenis. Menjelang Isya kami keluar dengan meja yang kembali relatif bersih. Karena kami kebagian di ujung, tentu kami melintasi meja-meja makan. Pemandangan yang mencengangkan sekaligus membuat bersungut adalah, makanan bertumpuk di meja tak termakan dikelilingi orang-orang yang kekenyangan. Sebagain masih utuh menggunung sebagian sudah terlanjut diacak-acak. Niscaya itu semua akan berakhir ke kantong sampah! 


Bulan Puasa ini saya sangat bersyukur bisa berpuasa dengan Dr. amina wadud. Kami shalat tarawih bersama dan sesekali jalan pagi. Salah satu disiplin yang saya tiru darinya adalah mengukur makanan yang akan kita santap. Jangan bersisa, jangan ada yang terbuang! Ia benar-benar nervous kalau ada makanan tersisa dan akan berakhir di kantong sampah. Ia menyebutnya telah berbuat zalim kepada alam dan kehidupan. 


Malam ini, saya menyaksikan hal yang sungguh mencengangkan untuk tidak dikatakan menyebalkan. Makanan bertumpuk di meja hanya karena lapar mata dan sikap rakus- sekarat kurang. 


Saya hanya bisa membatin, benar itu memang uangmu, dengan uang itu all you can eat. Tapi makanan yang terbuang karena sekarat kurang hanya menunjukkan uang itu tak berguna untuk mengangkat derajat seseorang sebagai manusia!

Merebut Tafsir: Kuliner, Kebangsaan, dan Keberagamaan

Oleh Lies Marcoes

Sejarah sebuah bangsa dapat dikenali dari kulinernya. Kuliner masakan Indonesia menandai ragamnya warga dunia yang masuk ke negeri ini: Melayu, Cina, Arab, India, Eropa bahkan belakangan makanan yang berasal dari Jepang, Korea, Turki atau Asia Tengah lainnya. Hal yang sangat mengagumkan, masakan yang tersaji di rumah-rumah bangsa ini telah berubah menjadi kuliner Nusantara. 


Secara antropologis, kuliner jelas terkait erat dengan pembentukan sebuah bangsa. Kita mengenal masakan dari berbagai belahan dunia di dapur kita. Indonesia juga memiliki ribuan jenis kuliner asli seperti rendang atau gudeg. Masakan yang dibawa dari luar itu telah berakulturasi dengan sumber daya alam setempat sehingga jika dicari di negeri asalnya mungin tak selalu dapat ditemui. 


Kuliner juga menjelaskan tentang terbentuknay suatu tradisi yang seolah-olah terkait dengan keyakinan atau agama. Kita tahu ada ketupat yang disajikan di hari raya Idul Fitri. Di Aceh ada kebiasaan meugang, suami membawakan daging sapi menjelang bulan Ramadan untuk sahur pertama. Akarnya, menurut Antropolog dari UNI Ar Raniri, Reza Idria, hal ini terkait dengan budaya pesisir di Aceh yang seminggu menjelang puasa telah mendarat bersiap diri untuk menyambut datangnya bulan suci. Kelangkaan ikan diganti oleh daging sapi yang dibeli para lelaki dari pasar untuk anak istri mereka. Capcay, Lontong Capgomeh, kuwaci, jewadah korang/dodol Cina, bandeng, kami telah kenali sejak kecil karena Ayah saya bersahabat dengan penguasa kopra di kampung saya, Babah Yo Yan Wie dan Yo Yan Oei. Tiap lebaran Cina, demikian kami menyebut perayaan Imlek, kami mendapat kiriman rupa-rupa kuliner Cina Peranankan.

 

Kuliner juga menandai beragam musim perayaan keagamaan. Sepanjang bulan Puasa/ Ramadan dan kelak Lebaran, kita akan bertemu macam-macam makanan yang khas datang dari Timur Tengah seperti kurma. Tapi juga tersaji makanan lokal yang muncul hanya pada bulan Ramadan. Di Bogor misalnya, ada mie glosor berbahan dasar sagu yang anehnya hanya dijual di bulan Puasa sebagai sajian ta’jil selain gorengan dan lontong oncom.

Kuliner juga menggambarkan terjadinya kawin mawin berbagai suku bangsa yang kemudian muncul menjadi olahan makanan yang tersaji di meja makan. Di rumah kami, yang berasal dari Jawa/Sunda, masakan rendang baru dikenali sebagai sajian lebaran setelah dua di antara menantu ayah saya berasal dari Minang.

 

Jadi jika ada upaya pemurnian total agama berikut budayanya, seperti melalui cara berpakaian yang harus diganti dengan jubah karena dianggap lebih kaffah, bagaimana melakukan pemurnian dalam kuliner Nusantara? Kita tentu akan menggunakan kaidah paling sederhana: yang penting halal dan wajar untuk di makan. Nah demikian juga mustinya dengan pakaian!

Merebut Tafsir: Membaca Puasa

Oleh Lies Marcoes

Saya tidak tahu darimana pandangan ini muncul. Konon, dibandingkan ibadah lain, ibadah puasa adalah satu-satunya ibadah yang menuntut kejujuran pribadi dan hanya untuk pribadi. Tuhan menyebutkan itu adalah ibadah bagi Tuhan semata.

Jika dalam ibadah lain, shalat haji apalagi zakat, unsur “pamer” bisa terselip di dalamnya; Ibadah dilakukan karena bisa dipamerkan, tapi tidak untuk puasa. Dalam puasa apa yang bisa dipertontonkan? Hanya diri sendiri yang tahu kita sedang puasa atau tidak. Hanya diri sendiri yang tahu puasa dijalankan satu hari atau sebulan.
Kalau kita renungkan alangkah kuatnya doktrin untuk menjalankan puasa. Nyaris tanpa dipaksa, tanpa pengawasan, tanpa ada sanksi dan upah orang menjalaninya dengan teguh, bukan hanya sehari tapi satu bulan lamanya. Dan hanya kita sendiri yang tahu bagaimana kualitas dari puasa itu. Dorongan apa gerangan ibu-ibu bangun dini hari untuk menyiapkan makan sahur keluarganya?. Sungguh ajaib dan luar biasa.

Puasa, niscaya bukan hanya menunda makan atau menahan lapar, sebab kalau hanya itu banyak orang biasa melakukannya. Namun hakikat puasa adalah bentuk ketundukkan manusia kepada Tuhan. Tanpa ketundukkan puasa hanya dapat laparnya, demikian agama berpesan. Di luar itu, secara sosial puasa adalah sarana paling wajar, paling alamiah yang tak membutuhkan rekayasa sosial untuk membangun ikatan kasih sayang dalam keluarga. Hanya di bulan puasa anggota keluarga digerakkan untuk berkumpul, makan jenis panganan yang sama dan dalam waktu yang sama. Ikatan sosial, kasih sayang, saling memberi perhatian dan saling mendukung antar anggota keluarga tumbuh dalam momen itu. Karenanya puasa juga seharusnya jadi momentum untuk rekonsiliasi manakala ada selisih paham di dalamnya. Selamat Berpuasa di hari-hari terakhir yang penuh haru.

Merebut Tafsir: Kalah Menang

Oleh Lies Marcoes

Ada yang mengatakan anak-anak harus diajari untuk menerima kekalahan. Setuju. Sangat setuju.

Sebetulnya secara budaya tak kurang-kurang ajaran untuk menerima kekalahan. Bangsa ini sudah kenyang pengalaman dalam menerima kekalahan. Ini saya kira tumbuh melekat dalam tiap kebudayaan dan berlangsung mengurat mengakar jauh sebelum masa kolonial. Dalam berbagai bahasa kita dikenalkan kepada konsep untuk menerima kekalahan dengan besar hati: legowo, semeleh, ngelehan- untuk menyebutkan beberapa istilah yang saya kenal dari budaya Jawa dan Sunda. Itu karena dalam budaya di negeri ini juga dikenali istilah karma. Itu berlaku pada situasi di mana kekalahan dirasa tak sewajarnya, dan karenanya konsep karma muncul sebagai penyeimbang. Dalam konsep karma, bukan saja ada keyakinan bahwa semesta akan membalas ketidakadilan itu, namun juga keyakinan bahwa apa yang diperbuatnya tidak akan ada manfaatnya, ora berkah (tidak berkah), teu jamuga (tidak akan tumbuh dan menjadi).

Namun secara budaya di negeri ini dikenal juga istilah amok. Satu sumbangan kata/istilah dalam dunia kebudayaan tentang cara menegakkan martabat dengan tindakan totalitas- bahkan hingga berkalang tanah alias kematian. Di berbagai kebudayaan kita mengenal praktik itu seperti carok, sirri, jaga wirang, bubat dan seterusnya. Mengalah, ada batasnya. Ketika digniti, kewarasan , harga diri ditelanjangi dan diabaikan oleh kuasa yang tak seimbang, sikap sikap perlawanan yang “tak masuk akal” pun muncul. Dititik itu kewarasan duniawi menjadi tidak relevan karena ada kewarasan yang bersifat supranatural yang diterima sebagai sesuatu yang logis meski harus bertaruh nyawa.

Dalam konsep harmoni, sebetulnya situasi seperti itu hanya bisa diperbaiki dengan menjaga keseimbangan. Jadi selain mengajarkan untuk menerima kekalahan, sangatlah penting mengajari menang dengan kesatria.

Merebut Tafsir: Status Perkawinan, Gender, dan Kemiskinan

Oleh Lies Marcoes

Status perkawinan sangat berpengaruh pada kemiskinan. Dalam stuktur masyarakat yang memberi tempat lebih utama dan terbuka kepada lelaki, perempuan dengan status perkawinan apapun seringkali tak diuntungkan dalam mengakses sumber-sumber ekonomi, tak terkecuali untuk perempuan terdidik.

Ketika lajang mereka bekerja dengan status sebagai pencari nafkah tambahan. Padahal separuh dari mereka dengan status lajang itu secara de facto adalah pencari nafkah utama. Hasil kerja mereka dibawa ke rumah untuk menopang keluarga. Secara statistik, setiap perempuan bekerja terlepas dari apapun status perkawinanya untuk menghidupi minimal 2 rata-rata 4 orang yang ada disekitarnya.


Ketika bersuami, secara umum mereka diasumsikan sebagai pencari nafkah tambahan yang mendapatkan nafkah dari suaminya. Padahla secara de facto, 1/3 dari mereka adalah tulang punggung keluarga.


Apalagi dalam status menjanda, beban tanggung jawab anak-anak seringkali ditanggung mereka sendirian. Ini karena sang istri dalam status becerai, tahu persis betapa akan terlantarnya anak-anak mereka jika ada dalam asuhan suami yang secara gender tidak dikonstruksikan sebagai pengasuh anak-anak. Mereka tidak diperkenalkan kerja rangkap dua, domestik dan publik, sementara perempuan sejak kecil diberi tanggung jawab kerja rangkap tiga : urus rumah tangga, cari nafkah dan urus keluarga besar.

Dalam setiap peristiwa guncangan ekonomi, perempuan dalam status perkawinan apapun, menikah dengan suami hadir, menikah suami minggat lajang atau menjanda, mereka akan terpelanting lebih awal dan masuk ke rongga garis kemiskinan atau bahkan jurang pemiskinan. Begitu ada satu anggota keluarga sakit, dengan cepat akan jatuh ke status miskin total.

Jasa keuangan yang secara normatif bersifat netral gender, pada kenyataannya sangat sulit diakses kaum miskin apalagi perempuan dengan status perkawinan apapun, kecuali bank plecit atau rentenir.

 

Bacaan yang lengkap dalam melihat upaya pengentasan kemikinan yang dibaca dengan perspektif gender akan sangat membantu upaya itu dilaksanakan tepat sasaran. Dalam perspektif gender itu kacamata bacanya tak hanya melihat kesenjangan antara lelaki dan perempuan, kaya miskin, tetapi juga kesenjangan antar perempuan dengan status perkawinan yang ragam: menikah, menikah genap, menikah suami ada tapi menganggur, menikah suami minggat, menikah dalam perkawinan poligami, janda, janda dengan tanggungan anak, janda manula yang tergantung kepada orang lain, lajang, lajang dengan tanggungan. Nah masih mau netral gender dalam atasi kemiskinan? Hasilnya niscaya tak kena sasaran []

Merebut Tafsir: Mengapa Anak (Perempuan) Rentan Kekerasan dari Ibunya

Oleh Lies Marcoes

Seorang perempuan, belakangan diketahui sebagai ibunya, tertangkap kamera dan kemudian viral sedang menurunkan paksa anak perempuannya yang berseragam SD dari mobil keluarga berwarna putih. Terjadi peristiwa tarik dorong antara ibu dan anak hingga sang anak tersungkur di tepi jalan berbatu. Tapi ia terus menggapai, berupaya memegang ujung pintu mobilnya agar ia tak ditinggalkan sang Ibu. Selang beberapa waktu peristiwa ini berlangsung, hingga kemudian sang anak diizinkan naik dan mobilpun perlahan beranjak.

Reaksi orang di media seragam; semuanya menduga-duga itu adalah ibu atau ,secara stereotype, ibu tiri yang berbuat jahat kepada anak perempuan itu. Dan hari ini, sang Ibu muncul kepermukaan. Ia menyatakan tak ada niatan menyiksa anak perempuaanya disertai permohonan maaf. Tapi dengan permohonan maaf itu, selesaikan urusan permusuhan ibu dengan anak perempuannya itu?

Apalagi sekarang. Setelah kelakukannya tertangkap kamera dan menyebar. Saya membayangkan sang Ibu niscaya mendapatkan cemoohan bahkan amarah orang-orang disekitarnya sebagai ibu yang kejam. Bagaimanakah tekanan ini akan dia uraikan dalam kenyataan hubungan dia dan anak perempuannya itu.

Harus dipahami, hubungan ibu dan anaknya, bagaimanapun merupakan sebuah hubungan yang timpang. Jarang sekali orang tua yang menempatkan anaknya secara setara dalam makna sang anak mendapatkan hak-hak dan kebebasannya sebagai individu yang punya karsa. Seperti juga hubungan antara lelaki dan perempuan, atau majikan dan pekerjanya, hubungan ibu dan anak-anaknya adalah hubugan yang timpang karena sang anak memiliki ketergantungan luar biasa penuh kepada sang Ibu. Di sini potensi kekerasan lanjutan harus tetap diperhitungkan.
Orang pun bertanya-tanya, mengapa sang ibu bisa begitu “jahat”. Banyak kemungkinan bisa kita hadirkan sebagai cara untuk membaca situasi itu. Salah satu yang cukup masuk akal adalah karena beban yang ditanggung sang Ibu niscaya tidak kecil. Bayangkan, Ibu harus memastikan anak-anaknya menjadi juara, banyak perempuan yang sengaja berhenti bekerja untuk memastikan anaknya bisa mengikuti jenjang-jenjang persaingan dalam kehidupan bahkan sejak TK. Bukan hanya juara kelas, dia juga harus menyiapkan anak-anaknya bisa mengerjakan PR, ikut berbagai kursus, mendapat nilai bagus dalam ulangan harian dan semester, rajin menabung, bisa menjawab pertanyana di sekolah, bisa menghafal ayat suci dan bacaan ibadat, dan yang penting tidak kalah dari anak tetangga saingan sang orang tua. Semua harus ditanggung Ibu. Jadi ketika sang anak tak memenuhi salah satu dari harapan orang tua itu, betapa mudah si ibu tersulut kecewa, lalu marah dan sanggup melakukan hal -hal yang di mata orang luar sebagai perbuatan yang kejam.

Dalam kehidupan yang penuh saingan, si ibu harus berpikir keras bagaimana bisa membahagiakan orang disekelilingnya dengan menyiapkan anak yang sempurna. Jangan lupa si Ibu juga berada dalam relasi yang tak selalu setara dengan suaminya atau dengan orang-orang “penindas” disekitarnya. Dalam situasi serupa itu, anak menjadi harapan yang dapat membantunya mengurai semua gelisah dan tekanan hidunya. Tapi anak tetaplah anak-anak. Mereka punya kehendak dan dunianya tersendiri. Ketika agenda sang ibu tak pas dengan kesiapan si anak, tentu hanya kemarahan yang bisa dia lakukan. Ia tak dapat meledakkannya kepada yang lain kecuali kepada orang-orang yang jelas berada dalam kuasanya seperti anak-anaknya. Hubungan ibu dan anak perempuannya adalah hubungan yang terkadang ganjil “the best of friend the worse of enemy”.

Saya tidak hendak membenarkan atau bahkan membela perilaku sang ibu itu. Tapi kita juga harus punya cara bagaimana mengatasinya. Saya percaya itu tak semata bersifat individual melainkan sebagai sebuah sistem yang dapat dikenali polanya. Kalau mau jujur, bukankah di antara kita juga terkadang sanggup berbuat kasar kepada anak-anak sebagai bentuk pelampiasan amarah atau pengungkapan rasa kecewa? Menurut saya, permohonan maaf adalah satu hal, tapi sang Ibu perlu mendapatkan bantuan untuk menyalurkan amarahnya secara benar agar ia tak terus berada dalam siklus kekerasan kepada anak atau pihak lain yang berada dalam relasi kuasanya.

Sumber video: KompasTV – https://www.youtube.com/watch?v=RpRXrnqx2CI