Pos

Berjihad Melawan Diri Sendiri

Oleh Jamaluddin Mohammad

 

Idul Fitri dan Idul Adha merupakan “peristiwa besar” yang dirayakan umat Islam se-dunia. Keduanya dilaksanakan setelah menjalankan rukun Islam ke tiga dan rukun islam ke empat.

 

Secara bahasa “Idul Fitri” artinya “kembali berbuka” setelah satu bulan penuh berpuasa. Juga bisa bermakna tunas kurma yang baru tumbuh (al-fitru habbatul inab awwala ma tabdu). Masih dalam rumpun kata yang sama, al-ftrah, artinya “asal penciptaan”, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW: “Kullu maulud yuladu ala al-fitrah”  atau pada QS al-Rum 30-31

 

Puasa Ramadhan menjadikan setiap muslim terlahir kembali seperti tunas kurma yang baru menyembul ke permukaan tanah (al-fitru) atau seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan (al-fitrah)

 

“Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dosa-dosanya akan diampuni,” ujar Nabi Muhammad SAW

 

Di bulan Ramadhan setiap muslim belajar mengolah batin, memenej dan mengorganisir nafsu, juga meningkatkan spiritualitas di hadapan Allah SWT. Puasa melatih dan mendidik manusia agar tidak semata menjadi “mesin hasrat.”.

 

Berdasarkan potensinya, manusia bisa lebih tinggi drajarnya dari malaikat. Juga bisa lebih rendah dan lebih hina dari iblis. Potensi itu sangat terbuka mengingat manusia diberikan nafsu. Nafsulah yang bisa menurunkan atau menaikkan drajat seseorang. Inilah yang tidak dimiliki malaikat maupun iblis.

 

Agar bisa meningkatkan kualitas kemanusiaanya di hadapan Tuhan, manusia harus bisa mengatasi, membatasi, menjaga sekaligu mengontrol pergerakan nafsu agar tidak liar. Semua hasrat menuju kepuasan dan kesenangan dan tidak semua harus dituruti dan dipenuhi. Agama hadir utk mengontrol dan membatasi.

 

Orang yang bisa mengendalikan segala hasrat kebinatangannya, jiwanya akan tenang menuju dan selalu dekat pada Allah SWT (nafsul muthmainnah). Ada juga orang yang masih terus belajar dan berusaha keras melawan impuls-impuls hasratnya yang setiap saat bergejolak dan menuntut utk dipuaskan (nafsu lawwamah). Sebaliknya tdk sedikit orang yang menjadi budak nafsunya sendiri dengan menuruti seluruh keinginan dan kesenangan hasrat tubuhnya (nafsu lawwamah)

 

Hasrat berpusat pada perut dan alat kelamin. Karena itu, dalam satu bulan penuh umat Islam berpuasa (menahan diri) dari hasrat-hasrat yang bersumber dari dua wilayah itu (tidak makan, minum, dan bersetubuh).

 

Berperang melawan hawa nafsu sendiri, menurut Kanjeng Nabi Muhammad SAW, adalah perang sejati: Jihad Besar! “Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri yang bersemayam di balik kedua pinggangmu,” kata Nabi (a’da aduwwika nafsuka alladzi bayna janbayka)

 

Jadi, sebelum menilai dan menghakimi orang lain, sebaiknya kita nilai dan kita hakimi dulu diri kita sendiri. “Tengoklah dirimu sebelum bicara,” kata Ebit G Ade —- wallahu a’lam bi sawab

 

Ringkasan Khutbah Idul Fitri di Dkm Nur Hidayah Anseong, Korsel pada 5 Juni 2019

Merebut Tafsir: Bukan Nabi yang Kami Kenal

Oleh Lies Marcoes

Saya harus menunda komentar beberapa waktu atas khutbah Ied Fitri pagi ini, saya buang kejengkelan sambil bebersih dapur.

Bagian pertama ia membandingkan berbagai hari raya agama-agama dan perayaan Ied Fitri yang paling benar. Dengan logat yang, maaf, semua khuruf a dibaca ‘ain sehingga semuanya berbunyi sengau ia menjelaskan soal pentingnya mencari teman seiman agar tak terpengaruh oleh perilaku buruk orang lain, terutama teman. Di ujung khutbah, otak saya mengkeret, setelah doa saya bergegas ke tempat parkir. 


Boris, anak bungsuku sudah menunggu. Dengan hampir marah yang tertahan ia memeluk. I am so sorry mom, how dare he gave a khutba like that, is he has no wife, no daughter, not even has a mother? He is so misogynist! 


Anakku tak habis pikir, sepagi ini kita bangun hanya untuk mendengar khutba seperti itu. Di penutup khutbanya dia mengatakan, Nabi dalam salah satu shalat Ied (?) menemui sekumpulan “wanita dan ibu-ibu” (itu kata yang ia pakai) dan bersabda kelak “mayoritas” (kata dari dia) isi neraka dan kerak neraka adalah wanita karena wanita sering mengeluh dan menghujat suami. Karenanya wanita harus banyak bersedekah. Suamilah yang menentukan apakah pintu surga yang terbuka, atau pintu neraka. 


Anakku bertanya, selama sebulan apa dia nggak disedikan makan sahur oleh istrinya atau disediakan perempuan lain di rumahnya?

Saya bilang, dia bicara tentang Nabi dan Tuhannya,tapi itu pasti bukan Nabi dan Tuhan yang kita kenal. Bukan Nabi yang pada setiap siang dan malam kita kirimi Salawat, salam kasih sebagaimana Nabi mengasihi kami kaum perempuan. Anakku memeluk sekali lagi. Love you mom!

Merebut Tafsir: Idul Fitri dan Para Lansia

Oleh Lies Marcoes

Orang tua dan seluruh ingatan tentang masa kecil di kampung menjadi pengikat untuk pulang ke kampung. Itulah agaknya motivasi paling kuat untuk mudik Lebaran. Orang tua, tak mesti hanya bapak dan ibu tetapi juga kaum lansia yang tetap menetap di kampung manakala rumah atau aset lainnya masih ada: bisa eyang, bude/pakde, atau tetangga dan kerabat sepuh yang layak dikunjungi seperti tokoh -tokoh desa. Kecuali yang jangkarnya di kampung telah hilang, misalnya tak ada lagi tanah, sawah, rumah, sebagian kaum sepuh itu (mungkin) ikut migrasi ke kota dan menjadi lansia di perantauan.

Secara ideal normatif, lansia mendapatkan tempat yang baik dalam kebudayaan Indonesia. Penghormatan kepada mereka selalu dicitrakan sangat tinggi. Itu tak keliru. Dalam kehidupan sehari-hari, lansia menjadi pusat perhatian keluarga. Utamanya bagi keluarga yang berkecukupan. Keluarga-keluarga yang masih memiliki orang yang dianggap paling sepuh, eyang, eyang buyut, lansia umumnya menjadi pusat rujukan serta ekspresi kasih sayang.

Namun realitas yang lebih banyak tak selalu begitu. Saat ini, menurut statistik, diperkirakan 10% penduduk Indonesia merupakan warga lansia, dan dengan status kesehatan yang lebih baik, angka itu akan naik di tahun – tahun mendatang. Lansia adalah fakta dalam pembangunan. Namun dibandingkan perhatian pembangunan kepada kelompok tak berdaya lainnya seperti anak-anak dan orang dengan disabilitas, lansia adalah satu kelompok umur yang rentan terabaikan. Ada sejumlah persoalan yang menyebabkan lansia ada dalam situasi itu:

Pertama, pembangunan pada dasarnya senantiasa berorientasi kepada usia produktif. Hal itu karena watak pembangunan berangkat dari pandangan soal pertumbuhan yang mengukur sejauh mana seseorang dapat menyumbang bagi pembangunan. Jadi, produktivitas digunakan sebagai patokan. Karenannya kelompok umur yang menyumbang kepada produktivitas menjadi prioritas termasuk tentu saja sebagai kelompok yang harus didorong dan difasilitasi secara optimal. Karena sudah purna bakti, sumbangan kaum lansia di masa lampau ternyata tak selalu tercatat di masa kini melainkan ditinggal bersama masa lampaunya. Setelah menjadi warga senior mereka cenderung dianggap bukan warga produktif, bahkan dianggap sebagai beban pembangunan.

Kedua, karena berangkat dari pandangan soal produktivitasnya, maka bagi mereka yang tidak berangkat dari dunia produktif/ bukan pekerja formal, imbalan hari tua bagi mereka sama sekali nol. Tak mendapatkan pensiun, tak mendapatkan tunjangan yang stabil dan permanen, dan tak mendapatkan penghargaan layak di hari tuanya.
Bagi lansia yang masih bisa didayagunakan oleh keluarga, misalnya menjaga cucu, antar jemput sekolah, mengurus rumah, menjadi pengawas asisten rumah tangga, atau memiliki sumber ekonomi cukup mapan, mereka akan mendapatkan posisi sosial cukup baik di dalam keluarganya. Akan tetapi jika mereka sudah semakin sepuh, kehilangan fungsi-fungsi sosialnya dalam keluarga atau dalam masyarakat, ditambah tak memiliki aset yang bisa diandalkan keluarga, nasib lasia menjadi lebih rentan karena dianggap sebagai beban keluarga.

Ketiga, terdapat persoalan gender dalam lansia: lelaki senior, oleh posisi sosio-kulturalnya yang menguntungkan karena mendapat kedudukan lebih tinggi dari perempuan, biasanya punya posisi tawar lebih baik dalam keluarganya. Jika istrinya wafat lebih dulu misalnya, anak-anaknya tak akan mengganggu gugat statusnya sebagai kepala keluarga di dalam keluarganya. Ini dapat ditandai rumah yang ditempatnya tidak akan ada yang berani menguta-atik. Bahkan jika perlu ia didorong untuk mencari istri agar kehidupannya bisa normal kembali. Sesuatu yang nyaris mustahil diberlakukan kepada lansia perempuan. Sebab jika yang meninggal lebih dulu laki-laki, sang ibu kerap didorong untuk tinggal bersama anggota keluarga lain (anaknya) dengan maksud agar lebih praktis dalam mengurusnya. Ini antara lain karena kedudukan perempuan senior selalu sepaket dengan keluarga. Mereka tak dianggap perlu memiliki otoritas yang mandiri. Pada kenyataannya, begitu kehilangan tempat tinggalnya secara otomatis mereka kehilangan otoritasnya.

Dalam Islam, sebagaimana dalam kebudayaan, penghormatan kepada warga senior/ lansia sangatlah tinggi. Dalam Al Qur’an narasi tentang lansia seringkali merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim atau istri Zakaria yang diberi kesanggupan untuk mendapatkan anak di usia senjanya.

Pendekatan keagamaan dalam menyikapi orang tua seringkali bersifat karitatif atau moral. Misalnya larangan untuk memalingkan muka, atau berkata kasar atau menghardik. Dalam bahasa agama, perlakukan kepada orang tua, sebagaimana kepada anak-anak seringkali dikelompokkan ke dalam kewajiban untuk memberikan santunan , dan jarang yang bicara soal pemberdayaan.

Dengan cara pandang seperti itu, tentu saja lansia kemudian dianggap sebagai beban pembangunan. Ini kita bisa lihat dari begitu terbatasnya sarana sosial yang kita miliki untuk warga senior ini. Sarana aktivitas di luar rumah yang tersedia seringkali abai kepada kepentingan mereka. Jalan-jalan tak ramah lansia yang dapat membuat mereka mandiri, dapat bergerak tanpa bantuan. Perpustakaan umum, jarang yang menyediakan fasilitas bacaan dan sarana bagi mereka. Satu-satunya aktivitas yang masih terbuka bagi mereka di luar mengurus keluarga anak-anaknya adalah kegiatan keagamaan namun dengan tema yang seringkali bukan isu yang relevan bagi mereka.

Kita sering mengamati, hari-hari bagi mereka seperti bersikejar dengan matahari; pagi menunggu sore, sore menunggu malam, malam menunggu pagi. Terus demikian dari hari ke hari. Hanya setahun sekali mereka akan kembali menjadi pusat perhatian jika anak cucu kembali ke kampung halaman di waktu Lebaran. Dan itu pun, hanya berlaku bagi senior yang masih punya aset minimal rumah tinggal. Sementara bagi mereka yang secara ekonomi lumpuh, penghormatan serupa itu mungkin hanya ada di sinetron yang mereka tonton sehari-hari. Memang, hanya TV satu satunya mengusir waktu bagi mereka, tanpa kejelasan apa yang ditunggu kecuali kematian. (maaf).

Dalam bahasa yang biasa digunakan dalam pembangunan, problem paling utama dari lansia adalah cara pandang kita yang menganggap mereka invisible, adanya sama dengan tidak adanya! Karenanya, untuk mengatasi persoalan itu, pertama-tama adalah rekognisi aktual bukan normatif. Mereka harus hadir secara sosial bukan hanya angka. Mereka adalah warga ragam tidak tunggal dan bukan hanya Jawa. Mereka terbentuk oleh konstruksi gender yang bias dan karenanya sensitivitas gender dalam merumuskan pembangnan bagi lansia adalah sebuah keniscayaan. Kita harus berangkat dari sebuah cara pandang bahwa mereka (telah) berjasa dalam membangun negeri ini, apapun dan seberapapun peran dan sumbangan mereka! Hari Raya, saatnya kembali kepada fitrah, saatnya menyapa kaum lansia! Minal ‘aidin wal faizin Mohon Maaf Lahir Batin. Mama Bapak ngaturaken sedaya lepat mugi dipun cekap.

Bukan Mudik, Tapi Kembali ke Fitrah

BEBERAPA hari ke depan bulan Ramadhan yang diklaim sebagai bulan suci ini akan usai. Umat Muslim akan merayakan hari Idul Fitri alias lebaran. Seperti biasa, gema takbir akan terdengar bersahutan memehuhi rongga langit dan menyusupi sudut-sudut gelap kehidupan. Rasa bahagia yang menyesaki dada terpancar dari raut wajah setiap insan. Bermacam makanan terhidang di meja setiap rumah dengan aromanya yang khas dan nyaman.

Senyum sumringah yang setia menghias di bibir disertai pakaian indah mewangi nan menarik perhatian yang membalut tubuh, bersalam-salaman, bermaaf-maafan, silaturrahim, dan mudik atau pulkam (pulang kampung) bagi yang berada di luar wilayah asal merupakan formalitas yang harus dilakukan ketika merayakan hari lebaran.

Idul Fitri. Inilah nama hari kemenangan yang setiap tahun dirayakan oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Sebetulnya, bila ditilik secara bahasa, Idul Fitri memiliki signifikasi spiritual sangat mendalam; kembali suci. Artinya, setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan îmân-an wa ihtisâb-an, maka setiap muslim dianggap telah kembali kepada kesucian rohani dan jasmaninya.

Demikianlah sejatinya makna Idul Fitri seperti telah digariskan oleh agama. Namun secara riil, di alam nyata, adakah makna Idul Fitri begitu adanya? Kalau kita baca di beberapa media massa tentang pencurian, pembunuhan, dan aksi-aksi kriminal lainnya yang terjadi tepat ketika aroma lebaran mulai memburai menyegat hidung, makna hakiki Idul Fitri sebagaimana disebutkan di atas jelas-jelas tidak terasa. Aksi-aksi kriminal itu telah menegasikannya.

Makna Idul Fitri yang saat ini tengah mengemuka dan menjadi trend di mana-mana adalah mudik bin pulkam (pulang kampung). Demi kumpul bersama keluarga, orang-orang mulai dari pejabat, artis, mahasiswa/i, karyawan dan pedagang tidak takut mengeluarkan duit untuk membeli tiket bus dan pesawat yang harganya melangit, bahkan ada yang rela berebut memasuki kereta api yang sesak.

Jadi nampak sekali, betapa Idul Fitri tidak lagi dimaknai “kembali kepada kesucian”, tetapi “kembali ke kampung halaman”. Sebenarnya, kalau direnungkan secara jernih, aktivitas mudik dalam konteks Idul Fitri tidaklah penting, sehingga tidak perlu diperjuangkan mati-matian apalagi sampai jadi korban. Sebab di luar momen itu acara mudik tetap bisa dilakukan tanpa harus kehilangan kontak batin dengan sanak famili di kampung halaman.

Seperti dikemukakan di awal tadi, hal yang harus lebih diutamakan dalam momen Idul Fitri adalah kesucian jiwa dari segala noda dan dosa. Sebab inilah yang selalu ditekankan agama melalui teks-teks normatifnya, baik dari al-Qur`an maupun al-Sunnah.

Bulan Ramadhan adalah bulan pembersihan sekaligus pengisian diri. Dalam artian bahwa selama satu bulan penuh umat Muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa dengan spirit perjuangan, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu, tidak makan dan tidak minum, menahan amarah, dan hal-hal lain yang dapat merusak kesucian (pembersihan) di satu sisi, juga perjuangan berbuat amal kebajikan demi meraup pahala yang sebanyak-banyaknya (pengisian) di sisi lain.

Nah, ketika jiwa seorang sudah bersih dari berbagai noda dan dosa, maka ia termasuk dalam golongan al-‘Â`idîn (orang-orang yang kembali [ke fitrah]). Sedangkan bila jiwanya telah terisi dengan cahaya sebagai manifestasi pahala-pahala amal kebajikan yang dilakukannya, maka dia termasuk golongan al-Fâ`izîn (orang-orang yang menang dan berhasil [meraih banyak pahala]). Kedua hal ini, al-‘awdah (hal kembali [kepada fitrah]) dan al-fawz (kemenangan/keberhasilan [meraup banyak pahala]), harus sama-sama diupayakan oleh setiap muslim selama bulan puasa. Yang pertama lebih bersifat personal (hubungan vertikal dengan Allah), adapun yang kedua lebih bersifat sosial (hubungan horizontal dengan sesama). Keimanan personal kepada Tuhan tanpa disertai kebajikan sosial kepada sesama manusia tidaklah berarti apa-apa, demikian juga sebaliknya.

Memang ada benarnya apabila orang yang menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh dan mengharap keridhaan dari Tuhan, begitu Idul Fitri tiba, ia dianggap suci dan bersih layaknya bayi yang baru lahir tanpa dosa. Tapi ingat, bayi tidak mempunyai kebajikan apapun, sehingga kesuciannya menjadi tidak berguna. Jadi, kesamaan orang yang telah menunaikan kewajiban puasa penuh kesungguhan dengan bayi yang baru lahir hanya pada satu sisi, yaitu sisi kesucian personalnya saja. Ini berarti orang yang berpuasa lebih baik dari bayi, sebab dia memiliki nilai plus berupa kebajikan sosial.

Dari itu, sangat tidak dibenarkan kalau ada orang ketika lebaran menjelang hanya sibuk mempersiapkan keperluan untuk mudik, sehingga aspek yang lebih penting dari itu, yaitu kesucian dirinya dan kualitas amal kebajikannya kepada sesama, menjadi terabaikan. Maka hilanglah makna Idul Fitri yang sebenarnya, dan ia tidak termasuk ke dalam golongan al-Â`idîn wal Fâ`izîn yang sejatinya sangat diharapkan setiap orang yang menjalankan ibadah puasa.

Maka perlu kiranya ditegaskan kembali, bahwa mudik menjelang lebaran tidak mesti dilakukan. Silaturrahim dengan keluarga tidak harus dilakukan dengan bertemu langsung, bisa saja melalui alat-alat komunikasi yang kini telah tersedia secara bebas. Telephon/HP adalah salah satu dari sekian sarana komunikasi yang bisa digunakan untuk bersilaturrahim dan bermaaf-maafan dengan keluarga di kampung halaman. Dan ini tentu saja, di samping untuk menghemat biaya karena sarana transportasi membutuhkan ongkos yang sangat mahal, juga, yang lebih penting, untuk tidak mengganggu ketenangan kita dalam melaksanakan ibadah puasa.[]

RAMADHAN UNTUK BELAJAR

Oleh Prof. Dr. Dawam Rahardjo, MA.

[Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang]

 

“Di bulan Ramadhan, semua sekolah diliburkan. Dan karena itulah saya sering pergi ke rumah nenek di desa Tempur Sari, Klaten. Di sana, saya menyempatkan untuk membaca buku dan majalah. Setiap hari saya membawa buku-buku dan majalah-majalah, yang saya baca di pendopo rumah nenek. Sambil membaca buku, saya duduk di kursi goyang kakek saya, dan di situlah sebetulnya saya belajar agama, termasuk belajar filsafat dan lain sebagainya. Liburan sekolah tidak saya gunakan untuk bermain melainkan membaca.”

 

 

Latar Belakang

Nama saya Dawam Rahardjo—biasa dipanggil Dawam. Nama Rahardjo itu diberikan oleh ayah saya. Tetapi sebetulnya, nama Rahardjo adalah nama kakek saya. Beliau adalah seorang petani yang hidup di kampung Tempur Sari, Klaten. Namanya Ali Rahardjo. Tetapi oleh orang kampung dipanggil Ngali Redjo. Itu hal biasa kalau di kampung. Setelah naik haji, kakek saya mengubah namanya menjadi Ali Azhar. Nama Rahardjo lalu diwariskan, diabadikan, dan ditempelkan kepada nama saya. Namun, saya baru memakainya ketika saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta.

Ayah saya adalah lulusan pesantren dan madrasah. Mulanya beliau belajar di SD di desa, kemudian mondok di Pesantren Jamsaren-Solo, dan juga belajar di Mamba’ul Ulum, sebuah madrasah terkenal yang didirikan oleh Keraton, berdampingan dengan Masjid Besar di Solo. Setelah lulus, ayah lalu menjadi guru di sebuah sekolah Muhammadiyah. Tidak lama kemudian ayah menikah dengan ibu, Mutmainnah. Ibu saya juga seorang guru di lingkungan Muhammadiyah.

Orangtua saya dikaruniai 9 orang anak. Saya adalah anak pertama. Saya mempunyai 3 orang adik perempuan yang lahir secara berturut-turut. Saya juga mempunyai 3 saudara laki-laki, tetapi tidak lahir secara berturut-turut, diselingi perempuan. Dan adik saya yang terakhir adalah perempuan. Jadi, adik saya 5 perempuan dan 3 laki-laki. Sebenarnya masih ada lagi adik saya, tetapi ia meninggal pada waktu masih bayi. Artinya, kami bersaudara sebetulnya ada 10 orang.

Paman saya—saya menyebutnya Pak De—, bersama Kiyai Ghazali dari Solo, mendirikan sebuah organisasi baru yang diberi nama Al-Islam dengan slogannya yang terkenal, “Bukan NU, bukan Muhammadiyah, tetapi kembali kepada Islam yang asli.” Saya melihat itu lebih merupakan sejenis faham Salafi, alirannya bersifat rasional dan mengacu kepada tauhid yang murni serta mengacu kepada ajaran Salafi. Gagasan dan organisasi itu didukung oleh seluruh keluarga ayah saya. Maka, lingkungan organisasi keluarga saya ada dua, yaitu Muhammadiyah dan Al-Islam.

Pendidikan saya dimulai di Madrasah Bustanul Athfal Muhammadiyah (setingkat TK) di Kauman yang terletak di sebelah utara Masjid Besar Solo. Kemudian saya melanjutkan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Masjid Besar Solo. Pagi hari saya mengikuti sekolah umum Al-Rabithah Al-Alawiyyah di Kelas I. Ketika masuk ke Sekolah Dasar (SD), saya langsung ke Kelas II di Sekolah Rakyat Loji Wetan, yang letaknya tepat di depan Pasar Kliwon. Saya tamat pada tahun 1954. Pada usia yang sama, saya juga bersekolah di Madrasah Al-Islam di sore harinya.

Setelah tamat di Sekolah Dasar, pendidikan saya lanjutkan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Solo. Kemudian saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) di Manahan, Solo. Setelah lulus SMA, saya melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Itulah sekilas latar belakang pendidikan saya. Dari sana barangkali terlihat suatu gambaran bahwa sejak remaja saya telah memberi perhatian kepada dua dunia itu. Saya mempelajari ilmu-ilmu umum dan juga ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih (hukum Islam), kalam (teologi), tarikh (sejarah) dan sebagainya. Sejak di Tsanawiyah (setingkat SMP), saya sudah meminati buku. Mula-mula saya menekuni dan mempelajari buku-buku agama. Pada masa itu saya sudah mempunyai koleksi yang lumayan banyak mencakup buku-buku agama lama, seperti karangan Kiyai Munawwar Kholil, Abu Bakar Aceh dan yang lainnya. Saya banyak belajar agama dari buku. Dan karena yang saya perhatikan lebih pada pemahamannya, saya tidak memperdalam kemampuan saya untuk menghafal ayat-ayat dan sebagainya kecuali dalam bahasa Indonesia.

Saya juga banyak belajar dari ayah saya. Sebagai lulusan pesantren, beliau mempunyai keahlian khusus, yaitu ilmu tafsir. Semasa di pesantren, beliau pernah mempelajari tafsirnya al-Zamakhsyari yang banyak mengulas berbagai aspek dari bahasa al-Qur`an. Beliau sering memberi saya kuliah terkait dengan fokus menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an dan juga ilmu tafsir. Inilah yang menyebabkan saya sangat berminat kepada ilmu tafsir al-Qur`an sampai sekarang. Boleh dikatakan, saya sangat akrab dengan al-Qur`an; bisa membaca dan memahaminya dengan menggunakan teori-teori ilmu sosial, termasuk ekonomi yang menjadi latar belakang pendidikan saya.

Selain dari ayah, saya juga banyak belajar dari Kiyai Dzarokah, seorang ulama besar yang pernah menjadi ketua Al-Islam dan Majlis Ulama Surakarta. Dari beliau saya belajar membaca al-Qur`an, dasar-dasar fikih, dll.

Satu aspek lain yang ingin saya kemukakan adalah, sejak SMP saya sudah membaca buku-buku sastra. Sehingga di Surakarta saya sempat tumbuh menjadi penyair muda yang aktif di dalam Ikatan Penyair Muda Surakarta (IPMS). Saya banyak menulis puisi, di antaranya ada yang saya masukkan ke rubrik Remaja Nasional di Yogyakarta. Sebagian dari puisi-puisi saya sekarang masih ada, dan sebagian sudah saya terbitkan. Tetapi banyak juga yang hilang, dan saya sangat menyesalkan hal itu. Di samping itu, saya juga menulis cerita-cerita pendek (cerpen) dan banyak artikel.

Kegemaran saya menulis cerita pendek bangkit kembali pada tahun 2000-an. Ketika saya sakit, justru saya menulis cerita pendek. Dan bersama-sama dengan cerita pendek saya yang lama, saya kumpulkan menjadi satu dan diterbitkan oleh Penerbit Jalasutra dengan judul “Anjing yang Masuk Surga”. Cerita-cerita pendek itu bernuansa sosial, dan juga keagamaan.

 

Ramadhan di Kampung

Pada waktu masih remaja, masa-masa masih di SMP dan SMA, saya sangat tekun beribadah. Dan karena rumah saya dekat dengan masjid, maka hampir setiap waktu shalat Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya`, selalu saya sempatkan untuk shalat berjamaah di sana. Apalagi shalat Jum’at. Di samping itu, saya juga aktif mengikuti pengajian-pengajian di sana. Singkatnya, waktu itu saya sangat religius.

Khusus untuk hari Jum’at, sebelum berangkat ke masjid saya mandi terlebih dahulu, lalu mengenakan baju yang paling bagus, dengan sarung batik yang mahal harganya, dan juga kopiah hitam. Intinya, kalau mau ke masjid untuk shalat Jum’at saya berhias betul. Dan niat saya benar-benar untuk ibadah.

Di bulan Ramadhan, semua sekolah diliburkan. Dan karena itulah saya sering pergi ke rumah nenek di desa Tempur Sari, Klaten. Di sana, saya menyempatkan untuk membaca buku dan majalah. Setiap hari saya membawa buku-buku dan majalah-majalah, yang saya baca di pendopo rumah nenek. Sambil membaca buku, saya duduk di kursi goyang kakek saya, dan di situlah sebetulnya saya belajar agama, termasuk belajar filsafat dan lain sebagainya. Liburan sekolah tidak saya gunakan untuk bermain melainkan membaca. Karena liburan saya punya waktu cukup banyak untuk membaca. Di situlah saya mengalami akumulasi pengetahuan di segala bidang. Karenanya, bidang kajian dan minat saya sangat luas. Bukan hanya ekonomi, akan tetapi juga agama, politik, sosial, kebudayaan dan sastra. Itu tercermin dalam perpustakaan saya.

Kampung saya di Solo adalah kampung Pasar Kliwon, yang terkenal para penduduknya terdiri dari orang-orang Arab. Dekat rumah saya terdapat sebuah masjid, namanya Masjid Al-Adzkar. Pada saat bulan Ramadhan, masjid itu kegiatannya ramai sekali. Tentu yang utama adalah Tarawih. Dan Tarawih itu 23 rakaat. Waktu shubuh juga sudah ramai. Pada waktu buka puasa juga ada acara ta’jilan. Ta’jilnya pakai hidangan buah kurma. Saat itu tidaklah seperti sekarang yang di mana pun kita bisa mendapatkan kurma. Kurma masih langka saat itu. Jadi, hidangan kurma di mesjid itu istimewa sekali. Dan banyak sekali kurma yang disuguhkan untuk ta’jil berbuka. Kurma itu umumnya dihidangkan oleh orang-orang Arab di sekitar masjid itu. Setelah buka, shalat Tarawih, kami kemudian mendengarkan ceramah agama. Setiap malam selalu begitu. Ceramahnya juga diikuti oleh para jamaah, jadi ramai sekali suasananya. Dan seingat saya saat itu tidak ada petasan seperti sekarang ini.

Lulus dari SMA saya pindah ke Yogyakarta karena kuliah di UGM. Di Yogyakarta saya tinggal di Asrama Yasman dekat Masjid Syuhada. Salah satu tugas dari penghuni asrama itu adalah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di masjid. Jadi di Yogyakarta pun saya dekat dan aktif dalam kegiatan di masjid.

Ketika di Yogya, bulan puasa kuliah juga libur. Tetapi saya tidak pulang ke Solo dulu. Saya justru mondok di pesantren Krapyak Yogya. Di pesantren itu terkenal dengan qira`ah-nya (teknik membaca al-Qur`an dengan lagu tertentu). Di pesantren itu saya belajar qira`ah al-Qur`an, dan juga tarawih dengan mengkhatamkan al-Qur`an. Saya ingat betul di pondok Krapyak itu bacaan dalam shalat Tarawih bukan surat-surat pendek atau penggalan ayat pendek sekedar memenuhi syarat bacaan setelah membaca surat al-Fâtihah, melainkan membaca surat-surat panjang dari al-Qur`an. Oleh karena itu saya mengerjakan shalat Tarawih dengan membawa al-Qur`an sambil membacanya. Dan ketika imam membaca bacaannya, saya cari ayatnya, lalu saya ikuti bacaan sambil berdiri. Shalat Tarawih itu bisa berlangsung berjam-jam karena bacaan ayat-ayatnya memang panjang.

Sebelum mondok di Krapyak, ketika tinggal di dekat Masjid Syuhada, saya juga suka mengerjakan shalat Tarawih di sana karena bacaan al-Qur`annya bagus. Imam-imamnya terdiri dari para qari`, khususnya qari` dari Banjarmasin yang memang terkenal qira`atnya. Jadi, di Masjid Syuhada itu, saat mengerjakan shalat Tarawih saya betah berdiri berjam-jam, karena bacaan al-Qur`annya enak didengar. Bagi saya, itu sungguh sangat mengesankan, dan terus terang sulit saya temukan sekarang ini.

Saya sudah mulai berpuasa semenjak kecil. Mungkin sekitar umur lima (5) tahun. Tidak melalui proses latihan dulu, tetapi langsung berpuasa penuh. Cucu saya pun sekarang langsung berpuasa penuh. Sesekali memang saya berpuasa sampai Zhuhur, tetapi itu karena masih kecil. Selebihnya saya selalu berpuasa penuh. Dan karena rumah saya dekat dengan masjid saya sering tidur di sana pada waktu siang setelah shalat Zhuhur.

Ibu saya pintar sekali memasak. Masakannya selalu enak. Dan pada waktu buka puasa, banyak makanan yang disediakan; makanan kecil, makanan ringan dan makanan besar. Semalaman kerjanya cuma makan saja. Yang disuguhkan ibu adalah makanan-makanan tradisional Jawa ada kolak, jadah, ketan, goreng-gorengan, makanan-makanan basah, kue-kue basah. Ketupat juga atau lontong dengan sayur tahu. Ibu saya itu nomer satu membuat ketupat itu. Sekarang beliau sudah tiada, dan saya sudah tidak bisa menikmati masakannya lagi. Solo itu terkenal dengan ketupat tahunya. Sampai sekarang ketika pergi ke Solo, saya selalu makan sayur ketupat tahu. Isinya selain tahu, kecap dikasih kacang.

 

Lebaran Idul Fitri

Saya kira semua kita tahu, salah satu tradisi berlebaran adalah berpakaian serba baru. Dan memang begitulah tradisi lebaran di kampung saya dulu. Tetapi karena waktu itu belum ada industri garmen, saya membawa kain ke penjahit untuk dijahit. Tukang jahit bekerja siang malam. Menjelang lebaran kita ambil dari tukang jahit. Pas tiba waktu lebaran, kita memakai kopiah baru, baju baru, sarung baru dan sandal baru, bukan sepatu.

Ada tradisi silaturrahim dan bermaaf-maafan waktu lebaran. Kata-kata permohonan maaf itu kalimatnya panjang sekali yang diucapkan dalam bahasa Jawa. Memang dalam menyampaikan permohonan maaf itu sudah ada semacam kalimat yang standar, harus diucapkan dengan lengkap. Kepada orangtua dan orang yang lebih tua, kami yang muda atau anak menyampaikan permohonan maaf itu, lalu mereka membalasnya. Ini semacam ikrar saling memaafkan yang harus disampaikan secara lisan. Namun lama-kelamaan kebiasaan serupa itu ditinggalkan kecuali kepada ibu karena ayah saya sudah meninggal ketika saya sudah bekerja.

Semasa di Solo, saya senang sekali mengerjakan shalat Idul Fitri di stadion Sliwidari. Karena memang stadion itu merupakan tempat shalatnya orang-orang elit. Dulu, di sana banyak khutbah dan khatib yang bagus-bagus. Saya senang mendengarkan khutbah-khutbah yang bagus. Saya tidak pernah melaksanakan shalat Id di masjid, selalu di lapangan. Hanya ayah saya yang shalat di masjid. Karena orang-orang di Pasar Kliwon itu biasanya shalat Id itu bukan di lapangan, tetapi di masjid. Dan karena ayah saya bergaulnya dengan orang-orang Arab, maka beliau tidak pernah ke lapangan. Beliau lebih memilih dan merasa nyaman shalat di masjid. Sementara saya, ibu dan adik-adik sekeluarga pergi ke tanah lapang untuk shalat Id mengikuti tradisi Muhammadiyah.

Hal lain yang harus dilakukan setelah lebaran adalah silaturrahim. Kurang lebih selama satu minggu pekerjaan kami adalah mengunjungi atau dikunjungi. Kami mengunjungi Pak De dan saudara-saudara yang lebih tua baik dari pihak ayah maupun ibu. Dan itu jumlahnya banyak sekali. Bisa benar-benar melelahkan. Tetapi tidak mungkin ditinggalkan. Belum lagi bersilaturrahim ke teman-teman ayah yang sudah seperti keluarga sendiri. Capek betul itu. Saya tidak ingat kapan kebiasaan ziarah kubur menjadi suatu ritual yang menyatu dengan awal puasa atau menjelang lebaran. Sebab ketika saya masih kecil, ziarah kubur itu hanya biasa saja, tidak berduyun-duyun seperti sekarang. Kami berziarah ke kuburan kakek dan nenek. Belakangan saya tentu berziarah ke kuburan ayah, dan yang terakhir ini ke kuburan ibu.

Tradisi lain yang menyertai perayaan lebaran adalah piknik. Sejak kecil kebiasaan itu sudah ada. Kalau di Solo pikniknya ke Tawang Mangu. Dan karena ayah saya tidak mempunyai villa, saya biasanya ikut ke tempat teman-temannya yang punya villa. Belakangan kemudian adik saya punya villa juga di Tawang Mangu. Maka setiap habis lebaran sekeluarga besar menginap di situ berjubel di satu rumah. Suasananya meriah dan benar-benar hangat meskipun udaranya sangat dingin di sana.

Ketika saya sudah bekerja di Jakarta, silaturrahim dilakukan bukan hanya dengan famili dan kerabat melainkan kepada tokoh-tokoh kita. Pada waktu Pak Natsir masih hidup, saya sering datang. Kemudian ke Pak Idham Kholid. Ya, kepada pemimpin-pemimpin Islam pada waktu itu di antaranya ke Pak Mukti Ali. Semakin lama, lebaran itu semakin praktis, lebaran itu liburan. Dan kalau lebaran, sewaktu ibu saya masih hidup, saya selalu pulang ke Solo. Atau ke mertua di Yogyakarta. Dan sekarang meskipun mereka sudah tidak ada, saya masih tetap mudik ke Solo mengunjungi adik-adik. Itulah hal yang selalu saya rindukan dari perayaan Idul Fitri, mudik ke kampung halaman, bersilaturrahim dan mengenang masa kecil di kota Solo. Saya telah melanglang buana, namun buat saya Solo adalah kampung halaman yang selalu dikenang dengan indah. Di sanalah saya lahir dan tumbuh dan menjadi cikal bakal saya, Dawam Rahardjo, yang sekarang.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”