Pos

GALERI FOTO SEMINAR NASIONAL BERDAYA: PERAN KELEMBAGAAN FORMAL DAN NON FORMAL DALAM PENCEGAHAN PERKAWINAN ANAK

Sesi tanya jawab oleh beberapa peserta seminar

Sesi wawancara dengan wartawan

Diskusi panel yang dimoderatori oleh Dr. Syafiq Hasyim

Suasana diskusi

Prof. Dr. Arskal Salim, MA, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam
Kementerian Agama RI dan peneliti Hukum Keluarga di Indonesia.

Peluncuran 3 buku baru Rumah KitaB; Kawan dan Lawan Kawin Anak,
Mendobrak Kawin Anak, dan Maqashid al-Islam: Konsep Perlindungan Manusia
dalam Perspektif Islam

Suasana seminar

Suasana seminar

Dr. Dave Peebles, Penasehat Menteri untuk Bidang Komunikasi Politik dan
Strategis di Kedutaan Besar Australia, Jakarta.

Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Direktur Keluarga,
Perempuan, Anak, Pemuda, dan Olahraga BAPPENAS

Pameran empat dimensi

Sesi tanya jawab oleh beberapa peserta seminar

Lies Marcoes, Direktur Rumah KitaB

Lenny N. Rosalin SE, MSc, MFin, Deputi Menteri PP-PA Bidang
Tumbuh Kembang Anak KPPPA RI

GALERI FOTO PELATIHAN REMAJA UNTUK PENCEGAHAN KAWIN ANAK DI CIREBON

Foto Bersama peserta dan tamu undangan dari pemerintah lokal sebagai komitmen dalam pencegahan kawin anak di Cirebon

Games Perkenalan selalu menjadi hal paling seru saat pelatihan dengan remaja dan ini merupakan kunci utama untuk suasana menyenangkan di pelatihan hari berikutnya

Peserta semakin akrab setelah melakukan perkenalan dan semakin kondusif

Diskusi aktif peserta remaja dalam menentukan aktor yang mendorong terjadinya perkawinana anak

Model diskusi ini menjadikan peserta lebih aktif dan dapat mengeluarkan aspirasinya dengan luas

Proses presentasi dilakukan oleh tim

Antusiasme peserta remaja saat presentasi memudahkan pemahaman mereka terhadap materi yang didiskusikan

Selain presentasi dan materi diskusi peserta juga ditunut kreatif dalam menampilkan materi presentasinya dan ini membuat mereka dapat mengekspreikan ke kreatifitasannya

Diskusi kandungan surat lukman ayat 11 tentang proses reproduksi kelompok dibagi sesuai jenis kelamin

Diskusi kandungan surat lukman ayat 11 tentang proses reproduksi kelompok dibagi sesuai jenis kelamin

Group diskusi perempuan menempelkan hasil diskusinya ini merupakan proses diskusi aktif

Kegiatan di proses oleh Fasilitator RK untuk pendalaman materi

Peserta diajak atif bertanya agar pemahaman mereka semakin mendalam

Keseruan materi gender dan seksualitas dengan cara yang mudah dipahami oleh peserta

Antusiame peserta dalam diskusi gender dan seksualitas

Peserta diolah untuk mendiskusikan kembali makna gender dan seksualitas berdasarkan hasil proses diskusi bersama

Peserta aktif dalam diskusi

Permainan spider web untuk materi kerentanan anak perempuan agar peserta lebih mudah memahami

Pesrta selalu antusias dalam presentasi dan kreatifitas mereka semakin bertambah

Pesrta selalu antusias dalam presentasi dan kreatifitas mereka semakin bertambah dan selalu ada peserta baru yang berani bicara didepan

Proses review dengan menggunakan pohon masalah dan solusi untuk membantu menstrukturkan pemikiran peserta tentang solusi dan masalah kawin anak

Proses review dengan menggunakan pohon masalah dan solusi untuk membantu menstrukturkan pemikiran peserta tentang solusi dan masalah kawin anak

Games materi negosiasi sebagai pembuka pendalaman materi

Roleplay teknis komunikasi dan negosiasi dalam pencegahan perkawinan anak

Serunya peserta di cirebon selamat menjadi duta penegahan kawin anak di Cirebon

GALERI FOTO PELATIHAN REMAJA UNTUK PENCEGAHAN KAWIN ANAK DI MAKASSAR

Direktur Rumah KitaB, Ibu Lies Marcoes sedang melakukan pengenalan program kepada para remaja peserta pelatihan

Diskusi kelompok merupakan kegiatan yang mendorong peserta untuk berkomunikasi dan mengeluarkan pendapat

Kegiatan perkenalan yang menyenangkan merupakan salah satu strategi agar perkenalan lebih seru

Melatih kepemimpinan tak hanya melalui diskusi, tapi dengan memimpin shalat pun dapat dilakukan

Menonton film merupakan salah satu metode yang baik digunakan saat pelatihan dengan remaja

Metode penyampain materi seksualitas dan gender yg dikemas semenarik mungkin, sehingga peserta memahaminya

Metode role play adalah salah satu metode terbaik untuk penyampaian materi berkaitan dengan mengolah kemampuan komunikasi

Partisipatif dalam kegiatan pelatihan mendorong peserta untuk semakin aktif dan terlibat dalam semua kegiatan

Pelatihan terhadap remaja merupakan melatih bagaimana mereka dapat mengeluarkan ekspresi dirinya

Presentasi setelah diskusi merupakan salah satu upaya memberikan ruang pada peserta untuk menyampaikan hasil diskusi dalam kelompoknya

Proses diskusi diolah oleh fasilitator untuk memberikan pemahaman yang mendalam

Proses partisipasi aktif peserta menjadi kunci keberhasilan pemahaman materi

Ragam permainan bisa dikaitkan dengan materi yang dibahas dan ini mrp cara terbaik yang dilakukan terhadap anak remaja

Review dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan, visual, terstruktur sangat memudahkan peserta remaja untuk berproses

Suasana pelatihan semakin mencair dan sesama peserta semakin saling kenal

LAPORAN PELATIHAN REMAJA UNTUK PENCEGAHAN KAWIN ANAK DI MAKASSAR

Laporan Training BERDAYA Hari ke 1

Penguatan Kapasitas Remaja Panakkukang untuk Pencegahan Kawin Anak

Makassar, 1 Juni 2018

Hari ini merupakan hari pertama pelatihan bagi anak remaja yang terpilih di wilayah kerja Rumah KitaB dalam pencegahan kawin anak. Sebanyak 31 peserta; 19 perempuan dan 11 laki-laki terpilih sebagai peserta. Selain peserta hadir juga peninjau dari AIPJ Makassar dan perwakilan ICJ. Anak remaja yang terseleksi berasal dari wilayah Kecamatan Tamamaung dan Sinrijala. Kegiatan dilakukan di Hotel JL Star yang tak jauh dari tempat tinggal peserta. Pada awalnya suasana terkesan masih kaku, tetapi setelah kegiatan perkenalan, peserta semakin hangat dan akrab. Perkenalan dilakukan dalam bentuk games. Selain untuk mengenal tentang pribadi masing-masing, games juga digunakan sebagai pintu masuk untuk mendiskusikan isu perkawinan usia anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembukaan disampaikan oleh ibu Lies Marcoes, Direktur Rumah KitaB dan pendamping siswa, Ibu Nurani. Sebelum pelatihan dilanjutkan, peserta diminta mengisi lembar baseline survey dan pre-test pelatihan. Hal ini bertujuan untuk mengenal sejauh mana pengetahuan peserta mengenai materi pencegahan perkawinan anak dan persepsi mereka tentang perkawinan anak.

Setelah istirahat, ibu Lia Marpaung dari AIPJ2 menyampaikan sambutan. Ia menekankan bahwa semua remaja yang hadir adalah remaja yang terpilih untuk menjadi agen pencegahan perkawinan anak di Makassar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan selanjutnya adalah penyampaian materi tentang data dan fakta perkawinan anak di Indonesiadan Sulawesi Selatan terutama di wilayah Tamamaung dan Sinrijala. Sesi ini bertujuan untuk membuka mata dan pikiran mereka tentang perlunya para remaja mencegah perkawinan anak bersama-sama. Materi ini disampaikan oleh Nura, Tika dan Tendri dari ICJ. Berangkat dari asupan itu peserta diajak diskusi kelompok tentang dampak pernikahan anak yang kemudian mereka presentasikan oleh  perwakilan kelompok.

Dengan alat bantu gambar, peserta diajak untuk memetakan aktor yang berpengaruh. Mereka diminta untuk meletakkan gambar itu dalam lingkaran-lingkaran yang berpengaruh kepada anak sejak dari lingkungan terdekat seperti teman, orang tua dan keluarga, hingga yang terjauh seperti kebijakan negara. Kegiatan itu merupakan penutup pelatihan di hari pertama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sesi terakhir hari pertama adalah diskusi tentang aktor yang berpengaruh terhadap perkawinan anak yang dipimpin oleh Ibu Lies Marcoes.

Pelatihan dihadiri oleh 31 anak remaja yang terdiri dari 19 remaja perempuan dan 12 remaja laki-laki. Peserta tidak hanya terdiri dari pelajar SMP dan SMA/SMK tetapi ada juga yang sudah tidak bersekolah. Kegiatan diskusi berlangsung dengan lancar.

 

Laporan Training BERDAYA Hari ke 2

Penguatan Kapasitas Remaja Panakkukang untuk Pencegahan Kawin Anak

Makassar, 2 Juni 2018

Diikuti oleh 31 peserta dengan tiga orang pendamping dari komunitas, remaja dari Sinrijala dan Tamamaung melakukan kegiatan “Penguatan Kapasitas Remaja dalam Pencegahan Kawin Anak” di Hotel Jl Star Makassar.

Ini adalah kegiatan hari ke dua dengan materi pendalaman yang diproses secara partisipatif. Peserta terdiri dari 19 perempuan dan 12 laki-laki yang rata rata berumur 14-16 tahun. Mereka umumnya masih pelajar SMP. “Di sini sangat sulit mencari kader anak SMA  atau lulusan SMA, karena mereka umumnya telah menikah” demikian Ibu Guru Nurani dari SMP Tut Wuri Handayani yang membimbing 10 siswi dari sekolahnya menjelaskan tentang peserta remaja di pelatihan ini.

Melanjutkan kegiatan sehari sebelumnya, acara dimulai dengan refleksi pengetahuan yang mengendap dalam ingatan mereka. Peserta bekerja dalam tiga kelompok untuk menjelaskan tiga materi pokok kemarin yaitu: pengertian anak, kawin anak dan fakta kawin anak; penyebab dan dampak; serta aktor yang berpengaruh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah mereka melakukan presentasi, disajikan dua infografis soal data-data kawin anak yang diproduksi oleh UNICEF dan Rumah KitaB. Dalam sesi tersebut juga diputar film produksi Rumah KitaB “Memecah Kawin Bocah” untuk memperkaya pengetahuan mereka tentang kompleksitas problem perkawinan anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Melalui film ini saya jadi mengerti bahwa problem kawin anak ternyata bukan hanya soal pergaulan bebas, tapi karena  banyak orang tua yang terpaksa harus bekerja jauh dari rumah dan meninggalkan anak-anak mereka sehingga anak perempuan harus menanggung beban keluarga” demikian Yulia menanggapi film yang mereka tonton bersama.

Setelah istirahat, peserta diajak untuk melihat secara visual perbedaan secara fisik dan gender antara laki-laki dan perempuan yang berdampak beda jika terjadi perkawinan anak. Dengan segara cara, fasilitator mendorong peserta untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karenanya selain memutar film, fasilitator juga memanfaatkan media pembelajaran yang ada seperti membahas studi kasus kematian seorang TKW yang mengalami kekerasan seksual, sementara ia sendiri merupakan korban perkawinan usia anak-anak. Studi kasus ini diolah dalam bentuk permainan “Jaring Laba-laba”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peserta mendapatkan buku Kesaksian Pengantin Bocah, kumpulan studi kasus perkawinan anak hasil penelitian Rumah KitaB.   Karena pemaparan disampaikan dalam bentuk cerita studi kasus, mereka terlihat dapat menyelami cerita itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai catatan, peserta umumnya warga komunitas miskin dengan  keterbatasan  akses pengetahuan. Meskipun sudah SMP, kemampuan baca mereka umumnya masih rendah. Tingkat pemahaman pada konsep sederhana pun sulit sehingga fasilitator harus melakukan banyak improvisasi bahkan “akrobat” untuk mendorong peserta aktif dan fokus kepada isu yang sedang di bicarakan.

Dilihat dari hasil evaluasi hari kedua, peserta menyatakan puas sebagaimana termuat dalam lembar evaluasi harian.

 

Laporan Training BERDAYA Hari ke 3

Penguatan Kapasitas Remaja Panakkukang untuk Pencegahan Kawin Anak

Makassar, 3 Juni 2018

Sesuai rencana, peserta akan mengakhiri kegiatan hari ini dengan penyusunan rencana kegiatan yang paling mungkin dilakukan di wilayah mereka.  Pada hari  ini juga akan dilakukan pembacaan ikrar Duta Remaja Indonesia pencegahan perkawinan anak di wilayahnya.

Pagi ini, acara dimulai dengan penampilan yel-yel tiga kelompok yang telah mereka pentaskan di hari kedua. Yel-yel ini langsung membuat semangat peserta. Acara dilanjutkan dengan games “Angin Bertiup”. Peserta diminta berdiri melingkar dan bergerak berdasarkan instruksi dari kertas yang dibacakan oleh peserta yang ada di tengah lingkaran. Games ini benar-benar mampu membangun suasana riang gembira karena bernuansa lomba. Dalam susunan lembaran kartu yang disiapkan  terdapat isu-isu yang relevan dibahas  oleh remaja seperti “pernah melihat  teman yang kawin anak”, “ punya adik perempuan” “punya jerawat”, “sudah menstruasi”, “pernah mimpi basah” dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Games ini kemudian diolah dan melahirkan analisis dua  paradigma dalam melihat penyelesaian kawin anak: pertama, dengan melakukan  pemberdayaan ke remaja perempuan langsung karena mereka dianggap yang bermasalah. Kedua, menyelesaikan sistem yang menyebabkan praktik kawin anak terus  terjadi. Tentu saja dalam pembahasannya analisis ini dilakukan secara sederhana sedemikian rupa agar bisa dipahami peserta yang usianya rata rata 14 -16 tahun dan duduk di SMP kelas 2 atau drop out.

Acara berikutnya adalah review  materi yang mereka pahami di hari kedua dengan bantuan visualisasi dua batang pohon yang rindang dan pohon  yang meranggas. Kelompok yang mendapatkan gambar pohon yang meranggas diminta menuliskan akar masalah kawin anak, siapa aktor yang mendukungnya dan apa dampaknya. Sementara untuk pohon yang rindang, mereka diminta membahas bagaimana mengatasi akar masalah kawin anak, siapa aktor yang dapat ikut membantu mengatasi kawin anak, dan apa agenda kegiatan yang dapat dijadikan solusi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peserta sangat antusias melakukan kegatan itu dan mereka mempresentasikan secara bergantian. Dari sisi edukasi, memberi kesempatan presentasi bergantian dimaksudkan agar mereka memiliki self esteem. Sebagai catatan, sebagian peserta adalah anak lorong dengan tingkat kepercayaan diri sangat rendah terutama di kalangan peserta laki-laki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di saat break, peserta sangat antusias mencoba kamera dan tampaknya mereka sangat berminat menggunakan kamera. Hal ini memberi inspirasi untuk menjadikannya sebagai salah satu kegiatan lanjutan untuk life skill mereka kelak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah break siang, acara dilanjutkan dengan mencari solusi. Dengan bantuan visual jembatan, peserta diminta untuk mengidentifikasi apa saja yang dapat dilakukan untuk menjembatani kesenjangan yang menyebabkan praktik kawin anak dan memposisikan anak perempuan begitu rentan. Membangun jembatan diilustrasikan sebagai cara yang mungkin dilakukan sejak dari lingkaran paling dalam yaitu anak itu sendiri, keluarga dan orang tua, komunitas, adat istiadat hingga negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah itu disajikan presentasi teknik negosiasi dan peserta diminta menegosiasikan stop kawin anak dengan mengambil kasus yang sehari sebelumnya divisualisasikan melalui  games jaring  laba-laba yang mereka praktikkan dalam bentuk role play. Role play ini menjadi salah satu cara agar mereka berani membangun narasi dan mempraktikkannya dalam cara bernegosiasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagian yang sangat menarik dalam kegiatan ini adalah penyusunan RTL. Terlihat bahwa mereka memiliki rencana yang lumayan bagus seperti mengisi acara hari-hari besar Islam atau hari libur nasional seperti 17-an dengan lomba yang relevan dengan pencegahan perkawinan anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah mengisi post test, dilakukan upacara penutupan berupa menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Ikrar Duta Cegah Kawin Anak dan sambutan peserta yang diwakili 2 peserta.

Yulia salah satu peserta paling menonjol menyatakan bahwa ia sangat senang dan beruntung bisa mendapatkan kesempatan ini. Ia tak menyangka hanya dalam waktu tiga hari dia dapat menguasai dan mendapatkan banyak informasi terkait kawin anak serta mengajak teman-temannya untuk melanjutkan kegiatan training ini dengan melaksanakan RTL. Akhsan salah satu wakil dari kelompok laki-laki menyatakan bahwa dalam tiga hari dia telah mengetahui apa itu kawin anak, apa dampaknya, siapa aktornya dan apa yang dapat mereka lakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam obrolan dengan para pendamping yaitu Ibu Asni dan Ibu Nurhana serta ibu guru Nurani, mereka sangat terkesan dengan metode training yang membuat anak-anak berani bicara. Indikator keberhasilan training yang paling nyata adalah semua anak laki-laki berani bicara di depan peserta. [Lies Marcoes/Nura Jamil]

 

LAPORAN PELATIHAN REMAJA UNTUK PENCEGAHAN KAWIN ANAK DI CIREBON

Cirebon, 25-27 Mei 2018

Dalam rangka mensukseskan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SGDs) yang telah dicanangkan oleh PBB, Rumah Kitab mengadakan pelatihan penguatan kapasitas remaja dalam pencegahan kawin anak di RW. 09 Kesunean Selatan, Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon. Acara ini berlangsung selama tiga hari, dimulai hari Jum’at sampai dengan hari Minggu, 25-27 Mei 2018.

Pembukaan pelatihan ini banyak dihadiri oleh pejabat lokal baik formal maupun non formal. Pihak yang hadir pada saat pembukaan antara lain; kepala Dinas Sosial Kota Cirebon, lurah Kasepuhan, organisasi Wadul Bae, dokter dari Puskesmas setempat, dan para jajaran RT & RW di kelurahan Kasepuhan. Dari tamu undangan yang hadir pada acara pembukaan, semuanya memberikan dukungan dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Rumah KitaB atas terselenggaranya pelatihan bagi remaja, tanpa terkecuali tuan rumah, ketua RW. 09 Kesunean Selatan, Pepep Nurhadi. Baginya pemilihan lokasi pelaksanaan yang bertempat di Balai Pertemuan Kampung atau biasa disingkat dengan Baperkam adalah merupakan kebanggaan tersendiri bagi para warga karena Baperkam mereka semakin ramai dengan kegiatan-kegiatan sosial.

Dalam sambutan pembukaan, ibu Hani selaku kepala Dinas Sosial Kota Cirebon mengatakan pelatihan seperti ini merupakan bagian dari pemenuhan hak anak dan perlindungan anak, dimana dua hal tersebut juga menjadi konsen kerja Dinas Sosial. Lebih jauh, ia mendorong peserta remaja untuk melanjutkan pendidikan yang tinggi serta menunda perkawinan di usia dini agar mimpi dan cita-cita para remaja bisa tercapai.

Sebagai gambaran umum terkait lokasi acara, RW. 09 pada awalnya merupakan kampung kumuh di pesisir pantai utara kota Cirebon dimana tumpukan sampah biasa dijadikan urugan tanah untuk dibangun pemukiman. Namun kini sudah tersedia pengelolaan sampah organik untuk kompos dan non organik untuk kerajinan tangan. Selain itu, Kesunean Selatan juga menjadi kampung ramah anak dan dinobatkan sebagai wilayah tersehat dimana Posyandu kampung ini pernah menjuarai Posyandu terbaik tingkat nasional.

Latar belakang peserta yang beragam membentuk komposisi unik peserta pelatihan, antara lain ; aktivis remaja di SMA, perwakilan dari IPNU dan IPPNU, Ikatan Remaja Musholla, para Santri dan remaja putus sekolah. Mereka berdomisili di dua kelurahan yaitu Pegambiran dan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk yang menjadi pilot project program BERDAYA. Adapun pemateri dan fasilitator kesemuanya adalah dari Rumah KitaB. Mereka adalah ibu Lies Marcoes, Achmat Hilmi, Nurasiah Jamil, Yooke Damopolii dan PO BERDAYA Cirebon, Imbi Muhammad.

Setidaknya ada dua hal yang bisa dijadikan landasan mengapa pelatihan remaja ini dilakukan. Pertama, wilayah kecamatan Lemahwungkuk menyumbang angka kawin anak terbesar di tahun 2017. Kedua, pencegahan kawin anak bisa dimulai dengan mengubah paradigma dan pandangan remaja akan bahaya kawin anak dan sebagai upaya preventifi agar tidak terjadi di kalangan remaja.

Peserta remaja yang berjumlah 25 orang sangat antusias dalam mengikuti jalannya pelatihan. Di tengah rasa haus dan lapar pada siang hari di bulan puasa, mereka secara aktif mengikuti satu per satu materi pelatihan dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi tim fasilitator dan pemateri. Mereka juga harus mengimbangi semangat dan antusiasme para peserta ketika menyampaikan materi kepada para peserta. Oleh karena itu agar suasana saat pelatihan tidak menjemukan, para pemateri dan fasilitator selalu menyelingi ice breaking di tengah penjelasan materi dan memberikan penyampaian yang interaktif kepada para peserta pelatihan.

Sebagian besar dari para peserta yang hadir masih baru mengenal isu kawin anak, bahkan bagi mereka ini adalah istilah baru. Istilah pernikahan dini lebih familiar di kalangan peserta remaja dari pada istilah kawin anak. Dari 25 peserta hanya empat orang yang pernah mengikuti kegiatan serupa, yakni pada perayaan International Women Day di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Peserta yang bernama Yuyun memiliki kesan setelah mengikuti pelatihan ini. Ia merasa lebih banyak mengetahui dampak dan bahaya dari praktik kawin anak. Suguhan materi lebih kaya dari pelatihan serupa yang pernah dia ikuti. Ia menambahkan bahwa penyampaian yang mudah juga lebih mempermudah peserta untuk mencerna materi pelatihan.

Metode curah pendapat yang ditawarkan oleh direktur Rumah KitaB, Lies Marcoes, ketika menjelaskan hubungan antara ketidakadilan gender dan kawin anak memberikan ruang yang luas bagi peserta remaja untuk mengeksplorasi permasalahan kawin anak dengan membaca fenomena sosial yang ada di lingkungan mereka masing-masing. Mereka belajar menginventarisasi faktor, aktor dan penyebab terjadinya kawin anak di masyarakat sekitar mereka.

Di akhir pelatihan setiap peserta diminta membuat rencana tindak lanjut sesuai kelompok dan target sasaran mereka dalam mengkampanyekan pencegahan kawin anak. Di antara target kelompok yang mereka pilih, ada Sekolah dan Guru, Orang Tua, Remaja Sebaya, dan Aparat Pemerintah. Ada jargon unik yang dihasilkan oleh peserta pelatihan remaja di Kota Cirebon “Gendong Tas Sekolah Dulu, Baru Gendong Anak”. [Imbi M]

 

 

 

Faktor Ekologi Pengaruhi Pernikahan Usia Dini

Makassar, KOMPAS, 4 Juni 2018

Tolak Perkawinan Anak!

DARI pelosok Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, 12 April 2018, Indonesia dikagetkan oleh kenyataan mengenaskan, yakni pernikahan sepasang anak usia sekolah menengah pertama. Mempelai anak-anak berusia 14 dan 15 tahun.
Ini bukan yang pertama. Kejadian perkawinan usia anak di Indonesia telah ribuan kali berulang, atas nama kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan, dan kini agama dan adat setempat juga ikut andil.
Seorang andung (adik nenek dalam kekerabatan Minang) saya yang telah almarhum, pernah berkisah, ia dinikahkan ketika baru menstruasi dan melahirkan anak yang sangat rapat jaraknya. Anaknya 12 orang.
Kini di tahun 2018, kita kemudian baru tertampar setelah media sosial memviralkan tatapan mata kedua korban yang teramat lugu dan polos, berpakaian pengantin. Media sosial pula yang membuat jarak 1.700 kilometer dari Jakarta ke Bantaeng itu seakan di depan mata kita.
Pengantin anak adalah korban. Sejatinya, seluruh hak mereka sebagai anak-anak telah hilang. Hak beroleh pendidikan setinggi mungkin dan jaminan kesehatan yang paling jelas, terutama untuk anak perempuan, menjadi pupus.
Anak perempuan yang mungkin baru saja mengalami menstruasi pertamanya menjadi sangat rentan kesehatan reproduksinya bila ia hamil. Anak yang dikandungnya pun boleh pasti menjadi stunting generation, generasi yang terhambat semua aspek perkembangan tubuh, terutama otak dan kesehatannya secara umum. Belum lagi bicara soal mental psikologis si ibu, yang melahirkan dan menimang buah hati di usia 14 tahun!
UNICEF pada 2016 sudah mengeluarkan pernyataan berdasar temuan di beberapa negara di dunia, yaitu komplikasi saat kehamilan dan melahirkan adalah penyebab kematian kedua terbesar untuk anak perempuan pada usia 15-19 tahun. Juga kenyataan global bahwa bayi yang lahir dari ibu yang berusia di bawah 20 tahun, berpeluang 1,5 kali lebih besar untuk meninggal sebelum usia 28 hari, dibandingkan bayi yang lahir dari ibu berusia 20-30 tahun.
Kembali ke kasus Bantaeng dan banyak kasus lain seantero Nusantara, siapa bertanggung jawab? Kita semua. Kalau kita diam saja, berarti kita “membunuh” jutaan anak pada masa depan Indonesia. Anak perempuan yang paling rentan menjadi korban.
Mengapa begitu? Karena bila terjadi perkawinan anak, maka anak perempuanlah yang terancam dalam segala lini kehidupan setelahnya. Karena ia harus melahirkan, menyusui dan membesarkan anak, dan kehilangan kesempatan bersekolah setinggi mungkin. Juga akses berikutnya, ia bisa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Itulah sebabnya saya sangat setuju ketika kemarin, 24 April 2018, aktivis dan peneliti senior kajian Islam, isu perempuan dan gender, Lies Marcoes Natsir mengajak kita bergerak dan berbuat kebisingan agar setiap kita–lelaki dan perempuan–bergerak dalam kapasitas masing-masing dan merapatkan barisan.
Adalah dosa amat besar mengabaikan ini semua terjadi pada anak-anak perempuan di seluruh Indonesia.
Maka, paling tidak ada tiga langkah awal yang bisa kita lakukan.
Pertama, bicara, tulis, sebarkan. Dalam setiap upaya lakukan tiga hal itu terus-menerus. Ini bentuk kampanye yang paling dasar untuk membangun kesadaran bersama.
Kedua, yang dibicarakan, ditulis dan disebarkan adalah stop perkawinan anak. Dengan satu kata: fokus.
Ketiga, lakukan gerakan ini dalam sinergi. Bangunlah jaringan kerja. Jangan bicara kepentingan yang terkotak-kotak karena politik atau keyakinan agama. Berbuatlah karena kita orang Indonesia.
Setuju dengan Ibu Lies Marcoes, bekerja dan berbuatlah dalam semua tingkatan. Dari kampung/kelurahan sampai negara. Mari, bergandengan dan berbuat bersama. Kita selamatkan anak-anak yang kelak akan jadi pemimpin bangsa Indonesia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tolak Perkawinan Anak!”, https://nasional.kompas.com/read/2018/04/26/07050041/tolak-perkawinan-anak.

Editor : Laksono Hari Wiwoho

Persoalan di Balik Tingginya Angka Perkawinan Anak Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia — Pernikahan pasangan remaja siswa SMP Bantaeng, Syamsudin (15) dan Fitra Ayu (14) membuat heboh beberapa waktu terakhir. Pernikahan ini menambah deretan pernikahan anak yang jadi sorotan nasional.

Dari sejumlah data, angka perkawinan anak di Indonesia tercatat masih tinggi. Berdasarkan data dari Unicef, State of The World’s Children tahun 2016, perkawinan anak di Indonesia menduduki peringkat ke-7 di dunia. Sementara, data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga tahun 2015 menunjukkan perkawinan anak usia 10-15 tahun sebesar 11 persen. Sedangkan perkawinan anak usia 16-18 tahun sebesar 32 persen.

Tingginya angka perkawinan anak di Indonesia ini menurut Arskal Salim, Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, dipengaruhi oleh sejumlah faktor, dari mulai latar belakang pendidikan, ekonomi, sosiokultural, dan agama. Arskal menyampaikan hal itu dalam Seminar Nasional Program Berdaya yang digelar Rumah Kita Bersama, di Jakarta pada Selasa (24/4). 

Faktor pendidikan

Menurut Arskal Salim, orangtua anak yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah memiliki peluang lebih besar untuk menikahkan anak sebelum usia 18 tahun. Kurangnya pendidikan terhadap kesehatan organ reporoduksi atau kurangnya pendidikan seksual juga menyebabkan perkawinan anak. Lebih jauh, pendidikan yang kurang membuat remaja rentan terhadap kehamilan sebelum menikah.

Faktor ekonomi

Pendapatan atau ekonomi yang rendah membuat angka perkawinan anak meningkat. Orang tua dengan pendapatan yang rendah cenderung akan menikahkan anaknya karena dianggap akan meringankan beban ekonomi.

“Banyak orang tua yang merasa, dengan menikahkan anaknya mereka menjadi terbantu secara ekonomi. Hal itu dikarenakan sudah ada yang memberi nafkahi anaknya, jadi bukan tanggung jawab mereka lagi sebagai orang tua,” ungkap Ir. Dina Nurdiawati M Sc peneliti dari IPB yang memaparkan survei Indeks Penerimaan Kawin Anak.

Faktor sosiokultural

Indonesia yang memiliki beragam budaya juga melatarbelakangi terjadinya perkawinan anak. Pandangan mengenai perawan tua masih sering menjadi ketakutan bagi banyak orang, sehingga menikahan anak dengan usia yang sebelumnya dianggap menjadi solusi.

Budaya perjodohan juga masih kerap kali dilakukan oleh para orang tua. Perjodohan tersebut membuat anak tidak bisa menolak sehingga terjadi perkawinan anak. Beberapa budaya di Indonesia juga melakukan perkawinan anak karena nilai mahar. Nilai mahar yang tinggi membuat banyak orang merasa tergiur dan akhirnya menikahkan anaknya. Lingkungan sosial yang terpengaruh dengan budaya dari luar juga membuat anak mengalami seks bebas dan akhirnya menyebabkan kehamilan.

Faktor agama

Pernikahan anak yang marak juga dipengaruhi oleh faktor agama. Beberapa kelompok agama tertentu beranggapan menikah diusia muda menjadi hal yang wajar. Pernikahan tersebut juga dilakukan untuk menghindari zina.

Anak yang telah beranjak remaja kerab menjalin hubungan dengan lawan jenis. Agar tidak dianggap zina maka sebaiknya segera menikah. Selain itu, hal tersebut juga dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran kehamilan di luar nikah.

Sementara, di luar itu, Indonesia memiliki peraturan hukum yang mengatur mengenai perkawinan. Menurut Undang-undang perkawinan tahun 1974 usia seseorang untuk menikah minimal 21 tahun. Namun juga ada dispensasi, jika menikah dengan seijin orang tua anak perempuan boleh menikah ketika berumur diatas 16 tahun dan anak laki-laki di atas 19 tahun. Perkawinan di Indonesia ini juga masih bisa dilakukan tanpa batas usia minumum jika dengan permohonan dispensasi atau pengecualian.

Lies Marcoes-Natsir, Direktur Rumah Kita Bersama (KitaB) menuturkan temuan di lapangan memetakan kelompok yang mendukung dan menolak kawin anak, serta menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan dalam melarang praktik kawin anak.

“Kebijakan yang tidak konsisten, ditambah nilai sosial budaya yang permisif, menimbulkan tantangan bagi pihak-pihak di masyarakat yang berupaya mencegah kawin anak,” ujarnya menambahkan, seperti disampaikan rilis resmi Rumah KitaB.

Melalui program Berdaya, Rumah KitaB meluncurkan tiga buku hasil temuan mereka, yang diberi judul: “Kawan & Lawan Kawin Anak: Catatan Asesmen Program Berdaya di Empat Daerah”, “Mendobrak Kawin Anak – Membangun Kesadaran Kritis Pencegahan Kawin Anak”, dan “Maqashid al Islam: Konsep Perlindungan Manusia dalam Perspektif Islam.”

Dampak perkawinan anak

Selain mengulik persoalan di baliknya, perkawinan anak juga memberi dampak yang patut jadi perhatian bersama. Data dari United Nation Children Fund, mengatakan perkawinan anak akan menyebabkan komplikasi saat kehamilan dan melahirkan. Hal tersebut merupakan penyebab terbesar kedua kematian pada anak perempuan berusia 15-19 tahun.

Selain itu, bayi yang terlahir dari ibu yang berusia di bawah 20 tahun memiliki peluang meninggal sebelum usia 28 hari. Perempuan yang menikah pada usia anak juga lebih rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Di Indonesia sendiri perkawinan pada usia anak akan menyebabkan anak perempuan memiliki peluang empat kali lebih rendah untuk menyelesaikan pendidikan menengah. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga menurun. Perkawinan anak di Indonesia diestimasikan menyebabkan kerugian ekonomi 1,7 persen dari PDB.

Maraknya perkawinan anak ini bisa dicegah dengan melakukan berbagai upaya. Dina juga menjelaskan, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menolah perkawinan usia anak. Hal tersebut juga dapat terwujud dengan kerjasama bersama lembaga informal seperti keluarga, komunitas, dan lembaga keagamaan juga lembaga formal seperti sekolah, lembaga kesehatan, pemerintah dan sebagainya. (rah)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180425133623-282-293415/persoalan-di-balik-tingginya-angka-perkawinan-anak-indonesia

SEMINAR NASIONAL BERDAYA: PERAN KELEMBAGAAN FORMAL DAN NON FORMAL DALAM PENCEGAHAN PERKAWINAN ANAK

JAKARTA, 24 APRIL 2018 – Dalam rangka mensosialisasikan Program BERDAYA untuk pencegahan perkawinan anak, Rumah KitaB menyelenggarakan SEMINAR NASIONAL dengan tema “PERAN KELEMBAGAAN FORMAL DAN NON FORMAL DALAM PENCEGAHAN PERKAWINAN ANAK”  bersamaan dengan peringatan HARI KARTINI 2018 di Hotel Crowne Plaza, Jakarta, 24 April 2018.

BERDAYA adalah program Rumah KitaB untuk pemberdayaan perempuan melalui penguatan kapasitas kelembagaan formal dan non formal dalam upaya pencegahan perkawinan anak. Indonesia  telah berkomitmen untuk melakukan pencegahan perkawinan anak guna memenuhi hak-hak perempuan dan anak serta  mencapai target – target pembangunan kemanusiaan seperti SDGs.

Program BERDAYA  Rumah KitaB bertujuan untuk memberi kontribusi pada upaya penurunan perkawinan anak di Indonesia. Secara lebih khusus, Rumah KitaB bekerja di wilayah urban dan pesisir di  Jakarta Utara, Cirebon dan Makassar. Dalam pelaksanaannya Rumah KitaB mendapat penguatan dari KPPPA, Kementerian Agama, Badan Peradilan Agama serta dukungan teknis dari program kerjasama BAPPENAS dengan Pemerintah Australia melalui program bantuan yang dikelola Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2).

Seminar Nasional BERDAYA ini dihadiri oleh beberapa tamu undangan yang sekaligus memberikan sambutan antara lain Woro Srihastuti Sulistyaningrum, ST, MIDS, Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga, BAPPENAS; Dina Nurdinawati, S.K.Pm, M.Si, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor; Lenny Rosalin,  MSc. M.Fin, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA); dan Dra.Maria Ulfah Anshor, M. Si, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

Lies Marcoes, Direktur Rumah KitaB

Acara dibuka oleh Lies Marcoes, Direktur Rumah KitaB. Dalam paparannya beliau menjelaskan hasil penelitian Rumah KitaB tentang praktik perkawinan anak di wilayah kerja BERDAYA (Panakkukang, Makassar; Cilincing, Jakarta Utara; Lemahwungkuk, Cirebon; dan Babakan Madang, Bogor). Hasil penelitian memperlihatkan gambaran gunung es persoalan kelembagaan tersamar yang berpengaruh kepada perkawinan anak yang tidak bisa didekati oleh pendekatan legal formal.

Acara tersebut diisi oleh pidato kunci dari Prof. Dr. Arskal Salim, MA, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI dan peneliti Hukum Keluarga di Indonesia.

Dr. Dave Peebles bersama Prof. Dr. Arskal Salim

“Perkawinan usia anak melanggar Konvensi Hak Anak (KHA), Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM),” tegasnya.

Seminar juga dihadiri oleh Dr. Dave Peebles, Penasehat Menteri untuk Bidang Komunikasi Politik dan Strategis di Kedutaan Besar Australia, Jakarta.

“Praktik kawin anak di Indonesia sangat tinggi, namun Indonesia bukan hanya negara yang memiliki permasalahan kawin anak. Australia pun memiliki permasalahan tersebut. Oleh karena itu Pemerintah Australia sangat mendukung kerjasama pencegahan kawin anak. Hal ini diharapkan menjadi salah satu pembelajaran satu sama lain untuk pencegahan kawin anak,” ungkapnya.

Rumah KitaB juga meluncurkan 3 buku baru yaitu Kawan dan Lawan kawin Anak, Mendobrak Kawin Anak, dan Maqashid al Islam: Konsep Perlindungan Manusia dalam Islam.

Buku Kawan dan Lawan Kawin Anak merupakan buku tentang hasil asesmen Program BERDAYA di empat wilayah urban di Indonesia (Jakarta Utara, Bogor, Cirebon, dan Makassar).

Seminar dilanjutkan dengan diskusi panel yang di moderatori oleh Dr. Syafiq Hasyim.

Acara ditutup oleh kesimpulan yang dibawakan oleh Lies Marcoes. Beliau menjelaskan bahwa untuk mencegah kawin anak dibutuhkan upaya-upaya yang konkret karena kawin anak adalah fenomena darurat.

 

Untuk mencapai tujuannya secara optimal, perlu adanya perubahan di tingkat pemimpin/tokoh formal dan non formal, pada orangtua, kalangan remaja (terutama anak perempuan), dan di ranah kebijakan serta norma sosial. Empat aktor/faktor ini – berdasarkan hasil penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Rumah KitaB di  lima provinsi dan dua  kota (terdiri dari sembilan kabupaten/kota) – merupakan elemen yang berpengaruh pada praktik kawin anak. Penurunan praktik dan jumlah kawin anak tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan cara pandang, keyakinan, pengetahuan, sikap dan keberpihakan dari aktor-aktor di atas.

Berikut adalah kesimpulan dari seminar tersebut:

  • Pertama, harus memperkaya data dengan perspektif anak perempuan/perempuan; atau sering disebut perspektif gender.
  • Kedua, harus tercipta terus menerus jaringan kerja, para pihak yang concern pada persoalan ini baik formal maupun non formal.
  • Ketiga, harus membuat bising di semua level dari mulai keluarga, komunitas sampai negara.
  • Keempat, isu kawin anak tidak bisa diisolasi sebagai isu kawin anak semata tapi harus dilihat dari berbagai aspek; aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi dan politik.
  • Kelima, perlu adanya sinkronisasi regulasi/unifikasi hukum agar tidak terjadi dualisme hukum (hukum agama dan hukum negara). Negara kita adalah negara hukum jadi yang harus dipatuhi adalah aturan hukum.
  • Keenam, menghapus praktik tradisi yang basisnya adalah mengancam hak anak perempuan untuk tumbuh dan berkembang.
  • Terakhir, mengawal Perpu untuk penghentian dan pencegahan terutama pasal 7 yang terkait dengan izin untuk menikah. Untuk itu, masalah tentang batas perkawinan harus menggunakan pasal 6 (Batas kawin laki-laki dan perempuan di Indonesia adalah 21 tahun), mengawal Perma terkait dispensasi, mengawal strategi nasional yang akan dicanangkan oleh Bappenas dan melakukan upaya sosialisasi hasil KUPI. [Seto Hidayat]