Sabda Hikmah (12): YATIM

Oleh. Mukti Ali Qusyairi

Tak ada kata yang dapat menyentuh dan melumerkan hati ini sedahsyat kata “yatim”. Anak yang polos bagai kertas, sorot matanya yang bening, jiwa jiwa yang suci/fitrah, lemah/tak dan belum berdaya, ditinggal mati oleh ayah atau ibunya dalam waktu yang belum siap. Ia tidak dan belum mengerti apakah ayah/ibunya yang sudah tiada itu sudah dipanggil Sang Pemilik hidup. Boleh jadi ia menyangka ayah/ibunya sedang pergi lama ke pasar atau ke tempat lain untuk kesibukan tertentu dan berharap datang membawa oleh-oleh; mainan atau makanan. Ia masih setengah sadar atau kesadarannya masih belum purna atas yang terjadi. Atau ia sedang bersedih yang teramat dalam dengan bahasanya sendiri; sikap kuat bahwa orang yang dicintainya tidak akan pernah mati.

Ya, orang yang ia cintai akan tetap hidup di hati dan menjadi bintang jiwanya. Tubuh orang yang ia cintai boleh terkubur di dalam tanah. Tapi cintanya bersemi di taman sari nuraninya.

Yatim, untuk makan dan mandi sendiri pun belum kuasa. Terlebih untuk meraba dunia di luar dirinya. Yang bisa ia lakukan adalah menyampaikan pesan apa yang ia rasakan dan ia inginkan. Yang ia inginkan adalah orang yang ia cintai tetap hidup walau sesekedar di dalam jiwa.

Rasulullah sejak kecil sudah yatim. Dan dalam usianya yang teramat balita sudah yatim piatu. Beliau mengerti betul bagaimana anak yang menjadi yatim. Sebab mengalaminya sendiri. Sehingga beliau adalah tokoh panutan yang paling sanyang, paling mencintai, dan paling menyantuni anak-anak yatim. Beliau pun membangkitkan kepercayaan diri anak yatim dengan mau menjadikan dirinya sebagai ayahnya; menghapus kesedihannya dengan memberikan berbagai kebutuhan agar dapat hidup layak sebagaimana anak-anak yang lain; dan menganjurkan agar anak yatim menjadi anak shaleh/shalehah dengan mendoakan orangtua yang telah tiada.

Kiyai kampungku memberi contoh ketika sedang menyantuni anak yatim, dengan merunduk atau duduk setengah badan agar sejajar tubuhnya dengan tubuh anak yatim, memeluk dan membelai kepalanya sebagai isyarat dan simbol rasa sayang.

Rasulullah pun memberi motovasi pada anak-anak yatim yang ditinggal mati orangtuanya. Seraya berkata:
“Bukan Yatim yang sesungguhnya yaitu anak yang ditinggal mati orang tuanya. Akan tetapi yatim yang sesungguhnya adalah orang yang tidak berilmu dan tidak berakhlak (yatim al-‘ilmi wa al-adab)”.

Anak yang ditinggal mati orang tuanya boleh jadi di masa depannya menjadi orang yang berilmu dan berakhlak. Dan bermanfaat bagi sesama.

Yatim pengetahuan dan yatim akhlak yang dirisaukan Rasulullah. Sebab itu akan berdampak pada terciptanya “yatim peradaban”.

Jakarta, 10 April 2018.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.