RAMADHAN UNTUK BELAJAR

Oleh Prof. Dr. Dawam Rahardjo, MA.

[Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang]

 

“Di bulan Ramadhan, semua sekolah diliburkan. Dan karena itulah saya sering pergi ke rumah nenek di desa Tempur Sari, Klaten. Di sana, saya menyempatkan untuk membaca buku dan majalah. Setiap hari saya membawa buku-buku dan majalah-majalah, yang saya baca di pendopo rumah nenek. Sambil membaca buku, saya duduk di kursi goyang kakek saya, dan di situlah sebetulnya saya belajar agama, termasuk belajar filsafat dan lain sebagainya. Liburan sekolah tidak saya gunakan untuk bermain melainkan membaca.”

 

 

Latar Belakang

Nama saya Dawam Rahardjo—biasa dipanggil Dawam. Nama Rahardjo itu diberikan oleh ayah saya. Tetapi sebetulnya, nama Rahardjo adalah nama kakek saya. Beliau adalah seorang petani yang hidup di kampung Tempur Sari, Klaten. Namanya Ali Rahardjo. Tetapi oleh orang kampung dipanggil Ngali Redjo. Itu hal biasa kalau di kampung. Setelah naik haji, kakek saya mengubah namanya menjadi Ali Azhar. Nama Rahardjo lalu diwariskan, diabadikan, dan ditempelkan kepada nama saya. Namun, saya baru memakainya ketika saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta.

Ayah saya adalah lulusan pesantren dan madrasah. Mulanya beliau belajar di SD di desa, kemudian mondok di Pesantren Jamsaren-Solo, dan juga belajar di Mamba’ul Ulum, sebuah madrasah terkenal yang didirikan oleh Keraton, berdampingan dengan Masjid Besar di Solo. Setelah lulus, ayah lalu menjadi guru di sebuah sekolah Muhammadiyah. Tidak lama kemudian ayah menikah dengan ibu, Mutmainnah. Ibu saya juga seorang guru di lingkungan Muhammadiyah.

Orangtua saya dikaruniai 9 orang anak. Saya adalah anak pertama. Saya mempunyai 3 orang adik perempuan yang lahir secara berturut-turut. Saya juga mempunyai 3 saudara laki-laki, tetapi tidak lahir secara berturut-turut, diselingi perempuan. Dan adik saya yang terakhir adalah perempuan. Jadi, adik saya 5 perempuan dan 3 laki-laki. Sebenarnya masih ada lagi adik saya, tetapi ia meninggal pada waktu masih bayi. Artinya, kami bersaudara sebetulnya ada 10 orang.

Paman saya—saya menyebutnya Pak De—, bersama Kiyai Ghazali dari Solo, mendirikan sebuah organisasi baru yang diberi nama Al-Islam dengan slogannya yang terkenal, “Bukan NU, bukan Muhammadiyah, tetapi kembali kepada Islam yang asli.” Saya melihat itu lebih merupakan sejenis faham Salafi, alirannya bersifat rasional dan mengacu kepada tauhid yang murni serta mengacu kepada ajaran Salafi. Gagasan dan organisasi itu didukung oleh seluruh keluarga ayah saya. Maka, lingkungan organisasi keluarga saya ada dua, yaitu Muhammadiyah dan Al-Islam.

Pendidikan saya dimulai di Madrasah Bustanul Athfal Muhammadiyah (setingkat TK) di Kauman yang terletak di sebelah utara Masjid Besar Solo. Kemudian saya melanjutkan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Masjid Besar Solo. Pagi hari saya mengikuti sekolah umum Al-Rabithah Al-Alawiyyah di Kelas I. Ketika masuk ke Sekolah Dasar (SD), saya langsung ke Kelas II di Sekolah Rakyat Loji Wetan, yang letaknya tepat di depan Pasar Kliwon. Saya tamat pada tahun 1954. Pada usia yang sama, saya juga bersekolah di Madrasah Al-Islam di sore harinya.

Setelah tamat di Sekolah Dasar, pendidikan saya lanjutkan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Solo. Kemudian saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) di Manahan, Solo. Setelah lulus SMA, saya melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Itulah sekilas latar belakang pendidikan saya. Dari sana barangkali terlihat suatu gambaran bahwa sejak remaja saya telah memberi perhatian kepada dua dunia itu. Saya mempelajari ilmu-ilmu umum dan juga ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih (hukum Islam), kalam (teologi), tarikh (sejarah) dan sebagainya. Sejak di Tsanawiyah (setingkat SMP), saya sudah meminati buku. Mula-mula saya menekuni dan mempelajari buku-buku agama. Pada masa itu saya sudah mempunyai koleksi yang lumayan banyak mencakup buku-buku agama lama, seperti karangan Kiyai Munawwar Kholil, Abu Bakar Aceh dan yang lainnya. Saya banyak belajar agama dari buku. Dan karena yang saya perhatikan lebih pada pemahamannya, saya tidak memperdalam kemampuan saya untuk menghafal ayat-ayat dan sebagainya kecuali dalam bahasa Indonesia.

Saya juga banyak belajar dari ayah saya. Sebagai lulusan pesantren, beliau mempunyai keahlian khusus, yaitu ilmu tafsir. Semasa di pesantren, beliau pernah mempelajari tafsirnya al-Zamakhsyari yang banyak mengulas berbagai aspek dari bahasa al-Qur`an. Beliau sering memberi saya kuliah terkait dengan fokus menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an dan juga ilmu tafsir. Inilah yang menyebabkan saya sangat berminat kepada ilmu tafsir al-Qur`an sampai sekarang. Boleh dikatakan, saya sangat akrab dengan al-Qur`an; bisa membaca dan memahaminya dengan menggunakan teori-teori ilmu sosial, termasuk ekonomi yang menjadi latar belakang pendidikan saya.

Selain dari ayah, saya juga banyak belajar dari Kiyai Dzarokah, seorang ulama besar yang pernah menjadi ketua Al-Islam dan Majlis Ulama Surakarta. Dari beliau saya belajar membaca al-Qur`an, dasar-dasar fikih, dll.

Satu aspek lain yang ingin saya kemukakan adalah, sejak SMP saya sudah membaca buku-buku sastra. Sehingga di Surakarta saya sempat tumbuh menjadi penyair muda yang aktif di dalam Ikatan Penyair Muda Surakarta (IPMS). Saya banyak menulis puisi, di antaranya ada yang saya masukkan ke rubrik Remaja Nasional di Yogyakarta. Sebagian dari puisi-puisi saya sekarang masih ada, dan sebagian sudah saya terbitkan. Tetapi banyak juga yang hilang, dan saya sangat menyesalkan hal itu. Di samping itu, saya juga menulis cerita-cerita pendek (cerpen) dan banyak artikel.

Kegemaran saya menulis cerita pendek bangkit kembali pada tahun 2000-an. Ketika saya sakit, justru saya menulis cerita pendek. Dan bersama-sama dengan cerita pendek saya yang lama, saya kumpulkan menjadi satu dan diterbitkan oleh Penerbit Jalasutra dengan judul “Anjing yang Masuk Surga”. Cerita-cerita pendek itu bernuansa sosial, dan juga keagamaan.

 

Ramadhan di Kampung

Pada waktu masih remaja, masa-masa masih di SMP dan SMA, saya sangat tekun beribadah. Dan karena rumah saya dekat dengan masjid, maka hampir setiap waktu shalat Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya`, selalu saya sempatkan untuk shalat berjamaah di sana. Apalagi shalat Jum’at. Di samping itu, saya juga aktif mengikuti pengajian-pengajian di sana. Singkatnya, waktu itu saya sangat religius.

Khusus untuk hari Jum’at, sebelum berangkat ke masjid saya mandi terlebih dahulu, lalu mengenakan baju yang paling bagus, dengan sarung batik yang mahal harganya, dan juga kopiah hitam. Intinya, kalau mau ke masjid untuk shalat Jum’at saya berhias betul. Dan niat saya benar-benar untuk ibadah.

Di bulan Ramadhan, semua sekolah diliburkan. Dan karena itulah saya sering pergi ke rumah nenek di desa Tempur Sari, Klaten. Di sana, saya menyempatkan untuk membaca buku dan majalah. Setiap hari saya membawa buku-buku dan majalah-majalah, yang saya baca di pendopo rumah nenek. Sambil membaca buku, saya duduk di kursi goyang kakek saya, dan di situlah sebetulnya saya belajar agama, termasuk belajar filsafat dan lain sebagainya. Liburan sekolah tidak saya gunakan untuk bermain melainkan membaca. Karena liburan saya punya waktu cukup banyak untuk membaca. Di situlah saya mengalami akumulasi pengetahuan di segala bidang. Karenanya, bidang kajian dan minat saya sangat luas. Bukan hanya ekonomi, akan tetapi juga agama, politik, sosial, kebudayaan dan sastra. Itu tercermin dalam perpustakaan saya.

Kampung saya di Solo adalah kampung Pasar Kliwon, yang terkenal para penduduknya terdiri dari orang-orang Arab. Dekat rumah saya terdapat sebuah masjid, namanya Masjid Al-Adzkar. Pada saat bulan Ramadhan, masjid itu kegiatannya ramai sekali. Tentu yang utama adalah Tarawih. Dan Tarawih itu 23 rakaat. Waktu shubuh juga sudah ramai. Pada waktu buka puasa juga ada acara ta’jilan. Ta’jilnya pakai hidangan buah kurma. Saat itu tidaklah seperti sekarang yang di mana pun kita bisa mendapatkan kurma. Kurma masih langka saat itu. Jadi, hidangan kurma di mesjid itu istimewa sekali. Dan banyak sekali kurma yang disuguhkan untuk ta’jil berbuka. Kurma itu umumnya dihidangkan oleh orang-orang Arab di sekitar masjid itu. Setelah buka, shalat Tarawih, kami kemudian mendengarkan ceramah agama. Setiap malam selalu begitu. Ceramahnya juga diikuti oleh para jamaah, jadi ramai sekali suasananya. Dan seingat saya saat itu tidak ada petasan seperti sekarang ini.

Lulus dari SMA saya pindah ke Yogyakarta karena kuliah di UGM. Di Yogyakarta saya tinggal di Asrama Yasman dekat Masjid Syuhada. Salah satu tugas dari penghuni asrama itu adalah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di masjid. Jadi di Yogyakarta pun saya dekat dan aktif dalam kegiatan di masjid.

Ketika di Yogya, bulan puasa kuliah juga libur. Tetapi saya tidak pulang ke Solo dulu. Saya justru mondok di pesantren Krapyak Yogya. Di pesantren itu terkenal dengan qira`ah-nya (teknik membaca al-Qur`an dengan lagu tertentu). Di pesantren itu saya belajar qira`ah al-Qur`an, dan juga tarawih dengan mengkhatamkan al-Qur`an. Saya ingat betul di pondok Krapyak itu bacaan dalam shalat Tarawih bukan surat-surat pendek atau penggalan ayat pendek sekedar memenuhi syarat bacaan setelah membaca surat al-Fâtihah, melainkan membaca surat-surat panjang dari al-Qur`an. Oleh karena itu saya mengerjakan shalat Tarawih dengan membawa al-Qur`an sambil membacanya. Dan ketika imam membaca bacaannya, saya cari ayatnya, lalu saya ikuti bacaan sambil berdiri. Shalat Tarawih itu bisa berlangsung berjam-jam karena bacaan ayat-ayatnya memang panjang.

Sebelum mondok di Krapyak, ketika tinggal di dekat Masjid Syuhada, saya juga suka mengerjakan shalat Tarawih di sana karena bacaan al-Qur`annya bagus. Imam-imamnya terdiri dari para qari`, khususnya qari` dari Banjarmasin yang memang terkenal qira`atnya. Jadi, di Masjid Syuhada itu, saat mengerjakan shalat Tarawih saya betah berdiri berjam-jam, karena bacaan al-Qur`annya enak didengar. Bagi saya, itu sungguh sangat mengesankan, dan terus terang sulit saya temukan sekarang ini.

Saya sudah mulai berpuasa semenjak kecil. Mungkin sekitar umur lima (5) tahun. Tidak melalui proses latihan dulu, tetapi langsung berpuasa penuh. Cucu saya pun sekarang langsung berpuasa penuh. Sesekali memang saya berpuasa sampai Zhuhur, tetapi itu karena masih kecil. Selebihnya saya selalu berpuasa penuh. Dan karena rumah saya dekat dengan masjid saya sering tidur di sana pada waktu siang setelah shalat Zhuhur.

Ibu saya pintar sekali memasak. Masakannya selalu enak. Dan pada waktu buka puasa, banyak makanan yang disediakan; makanan kecil, makanan ringan dan makanan besar. Semalaman kerjanya cuma makan saja. Yang disuguhkan ibu adalah makanan-makanan tradisional Jawa ada kolak, jadah, ketan, goreng-gorengan, makanan-makanan basah, kue-kue basah. Ketupat juga atau lontong dengan sayur tahu. Ibu saya itu nomer satu membuat ketupat itu. Sekarang beliau sudah tiada, dan saya sudah tidak bisa menikmati masakannya lagi. Solo itu terkenal dengan ketupat tahunya. Sampai sekarang ketika pergi ke Solo, saya selalu makan sayur ketupat tahu. Isinya selain tahu, kecap dikasih kacang.

 

Lebaran Idul Fitri

Saya kira semua kita tahu, salah satu tradisi berlebaran adalah berpakaian serba baru. Dan memang begitulah tradisi lebaran di kampung saya dulu. Tetapi karena waktu itu belum ada industri garmen, saya membawa kain ke penjahit untuk dijahit. Tukang jahit bekerja siang malam. Menjelang lebaran kita ambil dari tukang jahit. Pas tiba waktu lebaran, kita memakai kopiah baru, baju baru, sarung baru dan sandal baru, bukan sepatu.

Ada tradisi silaturrahim dan bermaaf-maafan waktu lebaran. Kata-kata permohonan maaf itu kalimatnya panjang sekali yang diucapkan dalam bahasa Jawa. Memang dalam menyampaikan permohonan maaf itu sudah ada semacam kalimat yang standar, harus diucapkan dengan lengkap. Kepada orangtua dan orang yang lebih tua, kami yang muda atau anak menyampaikan permohonan maaf itu, lalu mereka membalasnya. Ini semacam ikrar saling memaafkan yang harus disampaikan secara lisan. Namun lama-kelamaan kebiasaan serupa itu ditinggalkan kecuali kepada ibu karena ayah saya sudah meninggal ketika saya sudah bekerja.

Semasa di Solo, saya senang sekali mengerjakan shalat Idul Fitri di stadion Sliwidari. Karena memang stadion itu merupakan tempat shalatnya orang-orang elit. Dulu, di sana banyak khutbah dan khatib yang bagus-bagus. Saya senang mendengarkan khutbah-khutbah yang bagus. Saya tidak pernah melaksanakan shalat Id di masjid, selalu di lapangan. Hanya ayah saya yang shalat di masjid. Karena orang-orang di Pasar Kliwon itu biasanya shalat Id itu bukan di lapangan, tetapi di masjid. Dan karena ayah saya bergaulnya dengan orang-orang Arab, maka beliau tidak pernah ke lapangan. Beliau lebih memilih dan merasa nyaman shalat di masjid. Sementara saya, ibu dan adik-adik sekeluarga pergi ke tanah lapang untuk shalat Id mengikuti tradisi Muhammadiyah.

Hal lain yang harus dilakukan setelah lebaran adalah silaturrahim. Kurang lebih selama satu minggu pekerjaan kami adalah mengunjungi atau dikunjungi. Kami mengunjungi Pak De dan saudara-saudara yang lebih tua baik dari pihak ayah maupun ibu. Dan itu jumlahnya banyak sekali. Bisa benar-benar melelahkan. Tetapi tidak mungkin ditinggalkan. Belum lagi bersilaturrahim ke teman-teman ayah yang sudah seperti keluarga sendiri. Capek betul itu. Saya tidak ingat kapan kebiasaan ziarah kubur menjadi suatu ritual yang menyatu dengan awal puasa atau menjelang lebaran. Sebab ketika saya masih kecil, ziarah kubur itu hanya biasa saja, tidak berduyun-duyun seperti sekarang. Kami berziarah ke kuburan kakek dan nenek. Belakangan saya tentu berziarah ke kuburan ayah, dan yang terakhir ini ke kuburan ibu.

Tradisi lain yang menyertai perayaan lebaran adalah piknik. Sejak kecil kebiasaan itu sudah ada. Kalau di Solo pikniknya ke Tawang Mangu. Dan karena ayah saya tidak mempunyai villa, saya biasanya ikut ke tempat teman-temannya yang punya villa. Belakangan kemudian adik saya punya villa juga di Tawang Mangu. Maka setiap habis lebaran sekeluarga besar menginap di situ berjubel di satu rumah. Suasananya meriah dan benar-benar hangat meskipun udaranya sangat dingin di sana.

Ketika saya sudah bekerja di Jakarta, silaturrahim dilakukan bukan hanya dengan famili dan kerabat melainkan kepada tokoh-tokoh kita. Pada waktu Pak Natsir masih hidup, saya sering datang. Kemudian ke Pak Idham Kholid. Ya, kepada pemimpin-pemimpin Islam pada waktu itu di antaranya ke Pak Mukti Ali. Semakin lama, lebaran itu semakin praktis, lebaran itu liburan. Dan kalau lebaran, sewaktu ibu saya masih hidup, saya selalu pulang ke Solo. Atau ke mertua di Yogyakarta. Dan sekarang meskipun mereka sudah tidak ada, saya masih tetap mudik ke Solo mengunjungi adik-adik. Itulah hal yang selalu saya rindukan dari perayaan Idul Fitri, mudik ke kampung halaman, bersilaturrahim dan mengenang masa kecil di kota Solo. Saya telah melanglang buana, namun buat saya Solo adalah kampung halaman yang selalu dikenang dengan indah. Di sanalah saya lahir dan tumbuh dan menjadi cikal bakal saya, Dawam Rahardjo, yang sekarang.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.