Puasa dalam Tradisi Pesantren

Puasa dalam Tradisi Pesantren

SAYA teringat satu penggalan pengalaman di masa lalu; pengalaman puasa dalam tradisi Pondok Pesantren. Setidaknya, pengalaman saya sewaktu belajar di Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, dan tentunya di pesantren kampung sendiri.

Di pesantren, kalau bisa saya sederhanakan para santri bisa dibagi dalam tiga golongan. Pertama, golongan santri aktivis organisasi, baik organisasi kekeluargan, madrasah, atau lebih tinggi lagi organisasi pesantren. Biasanya kalangan santri jenis pertama ini, mereka para santri yang supel dalam pergaulan, perduli dengan sesama atau dengan para junior yang bingung mengurus administrasi, suka membantu. Akhirnya banyak teman.

Kedua, golongan santri aktivis musyawarah kitab, Bahtsul Masail, dan pemburu kitab dan ‘ibarat yang unik, aneh, dan biasanya kutu buku, sehari hari baca kitab, buku, dan aktif di perpustakaan. Golongan kedua ini biasanya kurang begitu intens dalam pergaulan. Karena memang sulit mengatur waktu antara kitab dan pergaulan. Seolah-olah kitab tidak rela untuk dimadu dengan menongkrong lama lama di kantin.

Ketiga, golongan santri yang hobinya memburu doa-doa, wirid, hizib, kejadukan, kanuragan, dan sejenisnya. Golongan ini biasanya sibuk dengan berpuasa, ngerowot (vegetarian) dan bahkan tidak makan nasi.

Bagi golongan ketiga ini puasa merupakan gaya hidup. Ada banyak jenis puasa yang menjadi tradisi kalangan santri, di antaranya yaitu puasa 40 hari, puasa 3 tahun, puasa matigeni (tidak diselangi dengan berbuka), puasa yang bukanya hanya dengan cabe 7 butir dan air minum satu gelas, puasa sembari tidak tidur selama 3 atw 7 hari, dan berbagai macam jenis puasa yang lainnya.

Tujuan melakukan puasa pun beragam, ada yang tujuannya agar mudah untuk memahami kitab, mudah menghafal kitab atau nazham, futuh (membuka hati dan pikiran agar mudah memahami pelajaran), kekebalan tubuh, tidak terbakar api, agar ilmunya bermanfaat kelak kalau ada di tengah-tengah masyarakat, menjadi tokoh kiyai, agar bisa punya santri, dan tujuan-tujuan yang lainnya.

Biasanya puasa yang dilakukan cukup lama, 3 tahun misalkan, dengan tujuan mengamalkan kitab “Dalâ`il al-Khayrât”, sebuah kitab yang sebetulnya isinya shalawat yang dimodif berkat pengalaman spiritual sang penulisnya. Kitab “Dalâ`il al-Khayrât” adalah kitab mistik yang banyak digemari para santri golongan ketiga. Bahkan ada juga yang tujuannya untuk mahabbah (pelet) pada seorang perempuan agar mau menjadi istri. Tetapi secara keseluruhan, biasanya untuk kebaikan. Selain untuk mengamalkan wirid tertentu, puasa juga terkadang sebagai syarat untuk menyempurnakan latihan jurus-jurus pencak silat agar lebih tangguh.

Sementara golongan kedua, aktivis musyawarah kitab, biasanya mengamalkan puasa, doa, wirid, dan hizib, setelah selesai dan lulus. Bisa diamalkan pada saat khidmah di almamater atau diamalkan pada saat kuliah atau di pesantren lain demi tabarukan (ngalap berkah). Tapi tidak semua wirid dan doa harus berpuasa. Sehingga bisa juga dilakukan secara kontinyu, istiqamah. Ternyata istiqamah juga sama beratnya dengan berpuasa. Sedangkan kalangan pertama, aktivis organisasi, tidak sedikit juga yang tertarik sembari berpuasa dalam rangka mengamalkan wirid tertentu.

Tetapi, di golongan kedua ini sebetulnya juga ada sebagian kecil yang getol melakukan ritual puasa, wirid, doa, dan hizib pada saat sebelum lulus atau masih dalam setatus menjadi santri. Tetapi boleh dibilang minoritas. Sebab, pada prinsipnya pesantren sendiri melarang bagi para santri junior untuk mengamalkan wirid dan hizib tertentu yang mensyaratkan harus disertai dengan berpuasa, dengan alasan khawatir mengganggu kehusyu’an belajar dan memahami serta menghafal kitab. Seperti Pesantren Lirboyo, di depan masjid terpampang wasiat para pendiri pesantren yang melarang para santri untuk mengamalkan kitab yang belum waktunya. Lantaran, pesantren sejatinya adalah tempat tafaqquh fî al-dîn.

Namun, setelah selesai dan lulus pesantren, seluruh kiyai memberikan ijazah amalan doa, hizib, wirid, dan kitab-kitab mustik, yang rata-rata mengharuskan dengan berpuasa. Sebab, amalan wirid sembari puasa sejatinya adalah pelengkap dan bertujuan untuk melindungi diri mana kala sudah berjuang dan berdakwah di tengah-tengah masyarakat.
Di pesantren-pesantren tertentu, ada juga yang memang sedari awal dikhususkan bagi para santri yang hendak mencari wirid, doa, dan hizib yang diamalkan dengan berpuasa. Biasanya pesantren semacam ini banyak diisi oleh para santri senior lulusan pesantren lain yang memang sudah siap untuk mengamalkan wirid sambil berpuasa.

Dari ketiga golongan santri tersebut, saya menangkap satu titik-temu yang menyatukan ketiganya, yaitu mimpi agar mereka kelah di tengah masyarakat bisa berguna, bermanfaat, dan berkah. Kesadaran soal keumatan di mereka sangat tinggi. Sebab, puncak tujuan para santri adalah mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah.[]

Article by: Mukti Ali

Lahir di Tegalgubug Lor, Arjawinangun Cirebon, 17 April 1979. Kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, jurusan Akidah-Filsafat (2002-2007). Sehari-hari menjadi peneliti di Rumah KitaB dan tiada hari tanpa menulis. Hidupnya didedikasikan untuk menulis dan penelitian.

Leave A Reply:

(optional field)

No comments yet.