Natalan di Mesir

Natalan di Mesir

Suasana Natal di Mesir

Kristen Koptik adalah agama yang dianut oleh sebagian penduduk Mesir dari sebelum Islam datang sampai hari ini. Saat ini Kristen Koptik adalah agama kedua setelah Islam. Umatnya pada saat Natal datang, menyambutnya dengan sukaria dan sukacita. Spanduk yang berisi “Id al-Milad al-Majid” (Selamat Hari Natal) terpajang di mana-mana. Suasana Natal semakin meriah bersamaan dengan suasana menyambut tahun baru, dengan sepandung “Sanah Hilwah”, bunyi terompet melengking di seantero Kairo, dan baju merah putih Santa Claus.

Suasana Natal di Mesir dalam nuansa penuh khidmah dan meriah. Umat Koptik menyambutnya dengan sukacita dan mempersiapkan segala sesuatu, seperti membeli Paphirus, sejenis lontar klasik, yang bergambar lukisan simbol-simbol kebesaran agama yaitu lukisan Isa, Bunda Mariya dan simbol Salib, yang banyak dijual di toko-toko aksesoris di Pasar Husein yang terletak di sebelah Masjid dan gedung Universitas Al-Azhar Kairo. Paphirus tersebut untuk dipajang di dinding-dinding rumah mereka. Atau mereka berbelanja Kristal yang berbentuk patung Isa atau Bunda Marya atau Salib di toko Asfour, sebuah pusat tokoh kristal terbesar kedua di dunia.

Anak-anak muda-mudinya membeli kartu ucapan selamat untuk dikirimkan kepada teman-temannya atau saudaranya yang jauh. Umat Koptik secara umum, baik tua maupun muda, pada saat Natal mengenalan pakaian baru atau bagus, menyediakan kue-kue dan makanan yang istimewa untuk para tamunya.

Dan umat Koptik di Mesir sebagian besarnya adalah umat yang taat beragama, tercermin dalam tradisi muda-mudinya yang tak kenal waktu dan tempat membaca Injil dengan khusyuk. Saya pada waktu di Kairo sering melihat anak muda yang sedang duduk di halte menunggu bus sambil membaca Injil, atau sedang berada di atas bus juga ada yang masih membaca Injil.

Mula-mula saya menyangka yang dibaca adalah al-Qur’an dan yang membaca adalah anak muda Islam. Akan tetapi setelah saya cek dan bertanya langsung ternyata yang ditanya adalah anak muda Koptik dan yang dibaca adalah Injil. Karena ternyata membaca al-Qur’an juga demikian, anak muda Islam juga banyak yang membaca al-Qur’an di hate atau di bus. Untuk membedakannya, ternyata kalau anak muda atau orang tua Koptik punggung tangannya bertato dengan gambar Salib.

Nagham (Seni Irama) Membaca Injil

Injil sebagai kitab suci Kristen Koptik redaksionalnya dengan menggunakan bahasa Arab. Injil yang digunakan adalah Injil Barnabaz. Mungkin, karena Injil sudah diterjemahkan ke bahasa lokal masing-masing negara yang sebagian penduduknya beragama Kristen, sehingga Mesir yang notabene berbahasa Arab akhirnya Injilnya pun berbahasa Arab. Sebagaimana Injil yang ada di Indonesia juga dengan redaksi bahasa Indonesia.

Saya sendiri mengoleksi Injil Barnabaz yang berbahasa Arab yang tersebar dan mudah saya dapatkan di toko-toko buku yang ada di Kairo, Mesir. Kesan saya membaca Injil yang berbahasa Arab, terasa saya membaca al-Qur’an. Sebab di samping bahasanya bernuansa sastra—sebagaiman bahasa sastra al-Qur’an—juga istilah Allah, Tuhan, Malaikat, dan simbol-simbol yang disakralkan dalam agama dengan redaksi yang sama; Allah dengan redaksi Arab yang sama, Tuhan dengan istilah Rabb dan Ilah, Malaikat, dan sejenisnya.

Umat Kristiani Mesir dalam seni irama (nagham) membaca Injil sama persis dengan umat Islam dalam membaca al-Qur’an. Nagham (irama) yang ada enam macam, yaitu bayati, shaba, hijaz, nahawand, sikka, dan ras—yang masing-masing juga memiliki variannya yang kaya—yang diterapkan dalam membaca al-Qur’an juga digunakan dalam membaca Injil. Siapapun yang mendengarkan Injil Arab diiramakan oleh umat Kristiani Mesir, maka akan mempunyai kesan seakan al-Qur’an yang sedang dibaca.

Sebagaimana pengalaman saya pribadi, yang mendengarkan irama Injil ketika dibaca oleh umat Koptik di Televisi, di Radio, atau di youtube, saya hampir tidak bisa membedakan dengan irama bacaan al-Qur’an. Yang membedakan hanyalah substansi isi dari apa yang dibaca dalam kandungan antara Injil dan al-Qur’an.

Sebab ternyata irama (nagham) tersebut bukan hanya digunakan untuk al-Qur’an dan Injil, tapi juga digunakan untuk syair-syair dan lagu-lagu Arab klasik seperti yang terdapat dalam lagu-lagu Ummu Kulsum, Abdul Wahab dan penyanyi sezamannya.

Menjadi aneh ketika kalangan fundamentalisme Islam menggugat kalangan Muslim yang bereksperimen menggunakan irama Nusantara dalam membaca al-Qur’an, lantaran nagham dalam tradisi Arab bukan sesuatu yang sakral dan bukan sesuatu yang bersifat religius an sich, melainkan berkaitan dengan budaya, sastra dan seni kepantasan dan kecakapan dalam melagukan syair dan bait-bait Arab yang termasuk juga bait-bait al-Qur’an dan Injil.

Fatwa Ulama

Sebagian besar ulama Mesir, khususnya para ulama garda depan Al-Azhar, bukan hanya membolehkan umat Muslim mengucapkan selamat hari Natal kepada umat Nashrani, tapi juga menganjurkan. Sebab, menurut Syaikh Prof. Dr. Ali Gom’ah (mantan Grand Syaikh Mesir dan ulama Al-Azhar) menyatakan bahwa perayaan Natal memperingati hari lahirnya Isa, Yesus Putra Maryam sudah dilaksanakan oleh umat Muslim sejak masa Dinasti Fatimiyah di Mesir. Bukan sesuatu yang baru, dan bahkan seseorang yang berpendapat mengharamkan umat Muslim mengucapkan “Selamat Natal” dan ikut berbahagia adalah bid’ah sebab pendapat yang mengharamkan itu baru ada saat-saat ini pada masa modern.

Sedangkan Grand Syaikh Al-Azhar saat ini, Syaikh Prof. Dr. Ahmad Thayyib menegaskan bahwa barang siapa yang mengharamkan mengucapkan dan ikut berbahagia dalam acara Natal umat Kristiani maka orang itu sejatinya tidak paham Islam dengan baik. Sebab menurutnya al-Qur’an sendiri telah menganjurkan agar terjalin tali kasih sayang dan cinta antara umat Muslim dan Kristiani.

Hanya Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi, seorang ulama Ikhwanul Muslim, yang saat ini mengharamkan umat Islam mengucapkan dan merayakan Natal. Akan tetapi, pendapat tersebut menuai komentar dari sebagian besar cendikiawan. Seperti komentar dari Syaikh Shabri, seorang wakil Menteri Wakaf Mesir, menyatakan bahwa Yusuf Qardhawi sudah sepuh dan dimakan usia sehingga pendapatnya dulu dan sekarang banyak yang inkonsisten. Tapi kalau dilihat dalam buku-bukunya yang terbit pada tahun 2009-an, Yusuf Qardhawi membolehkan umat Muslim mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Koptik dan mengucapkan selamat kepada penduduk Mesir yang non-Muslim lainnya atas hari-hari raya mereka yang lain.

Muhammad Syardi, cendikiawan Mesir, juga mengomentari bahwa statemen Qardhawi tersebut merupakan statemen politik saja, bukan sedang berfatwa dengan menggunakan hukum yang berdasarkan al-Qur’an dan hadits. Sebab, Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya bergaul dan menghormati umat Koptik dan umat Yahudi, dan al-Qur’an juga menganjurkan salih hormat menghormati sesama umat manusia.

Hubungan Harmonis Koptik-Islam

Ada banyak Pastur—di Mesir disebut dengan Babah—yang konsisten mengkampanyekan toleransi antar agama. Bisa saya sebut di sini dua Babah, yaitu Millad Hanna dan Nabil Luqa. Millad Hanna menulis buku “Qabul al-akhar” (Menerima The Other/Pihak Lain), yang isinya mengkampanyekan dialog antar agama dan dialog antar peradaban, serta menolak tesis Samule Huntington yang provokatif yaitu chash of civilizaition (benturan antar peradaban).

Nabil Luqa malahan memahami betul tentang Islam. Dia menulis buku tentang Nabi Muhammad dengan sangat apresiatif dan respek. Dan menulis tentang teman-tema keislaman lainnya dengan pemahaman yang memadai.

Dari kalangan ulama Islam, para ulama Al-Azhar sudah biasa mengisi ceramah atau khubah di gereja-gejera Kristen Koptik, seperti yang biasa dilakukan Syaikh Thanthawi (Grand Syekh Mesir dulu). Dan pada saat hari Natal, Grand Syaikh Mesir dan para ulama Al-Azhar menyampaikan “Selamat Natal” dalam sebuah jumpa pers dan disampaikan secara resmi.

Abbas Mahmud al-Aqqad, seorang cendirikawan Muslim Mesir yang produktif menulis, menjelaskan dalam salah satu bukunya yang berjudul “Abqarîyyah al-Masîh” (Kejeniusan Isa al-Masih) yang membahas tentang keagungan, keluhuran, dan kejeniusan-kejeniusan seorang Isa al-Masih dengan sangat mempesona.

Bukan hanya para ulama muslim saja yang menyampaikan ucapan “Selamat Natal”, pada saat lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, para Baba Koptik juga menyampaikan ucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha” secara resmi.[]

Article by: Mukti Ali

Lahir di Tegalgubug Lor, Arjawinangun Cirebon, 17 April 1979. Kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, jurusan Akidah-Filsafat (2002-2007). Sehari-hari menjadi peneliti di Rumah KitaB dan tiada hari tanpa menulis. Hidupnya didedikasikan untuk menulis dan penelitian.

Leave A Reply:

(optional field)

No comments yet.