Merebut Tafsir : “Ngasaan jadi nu benghar” (mencicipi jadi orang kaya).

Oleh Lies Marcoes

Ini cerita tentang Mang Akim, tukang sayur langganan saya. Di kompleks tempat saya tinggal, setiap hari ada “pasar kaget” untuk sayuran yang digelar dan di atas mobil, tapi juga dua pedagang keliling pakai sepeda motor. Salah satunya Mang Akim itu. Dia berasal dari Majenang, di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah dan karenanya bisa dua bahasa. Saya jarang sekali belanja di pasar kaget dan memilih si Akim karena beberapa alasan. Salah satunya karena si Akim orang yang dekat dengan kampung halaman, dan juga “mager” pagi-pagi harus sedikit mematut diri dulu kalau mau belanja di pasar kaget. Sementara si Akim, datang pas di mulut garasi. Akim juga tahu hari-hari saya masak agar royal, yaitu di akhir pekan. Royal dalam arti jenis masakan lebih lengkap untuk anak mantu yang kadang beda selera.


Karena saingannya tukang sayur yang pakai mobil dengan aneka pilihan yang lebih lengkap, sering kali si Akim kurang dagangan. Dan karena sudah langganan, saya biasanya bisa pesan untuk jenis sayuran atau buah tertentu sambil menitipkan uang untuk belanja. Lama-lama ini menjadi pola dan biasanya menjelang puasa dia akan meminta dimodali sekalian. Dan saya turuti.


Demikian juga untuk tahun ini. Minggu lalu dia mulai membangun narasi yang menjelaskan situasi dagangnya yang makin sulit tapi dia tetap mengerjakannya karena kasihan kepada langganan (termasuk saya!). Saya mafhum. Karenanya Kamis lalu, saya memberikan pinjaman modal tambahan.


Tapi hari Jum’at dan Sabtu dia tidak jualan. Padahal hari Jum’at harusnya saat panen buat dia karena pada hari itu pasar gelaran tutup.


Setelah dua hari absen tadi pagi dia berjualan seperti biasa. Tanpa ditanya dia bercerita. Jumat dia ajak anak istri dan mertuanya ziarah ke Banten sampai Cirebon.


Saya tentu heran, karena pasti biayanya tidak sedikit. Dia menjelaskan bahwa dari uang pinjaman itulah dia bisa ziarah. Menurutnya ia kasihan kepada istrinya yang sudah lama merengek ingin ikut ziarah ” Jiga batur Bu, hayang ngasaan jadi jelema benghar, sugan bae dagang gede miliknya” (seperti orang lain Bu, ingin mencicipi jadi orang kaya, moga saja dagang besar rejekinya”).


Saya hanya mengaminkan. Saya membujuk hati dan pikiran untuk tidak mengajaknya “mikir’. Mengapa saya harus menuntutnya rasional, sedang setiap hari dia telah bekerja dan berusaha dengan rsaional nyatanya tak mengubah kehidupannya. Mengapa saya harus menuntutnya “rasional”, sementara setiap hari, kita menyaksikan dan menghadapi ragam irasionalitas dalam kehidupan. Inilah hidup, yang tersisa barangkali memang tinggal berharap dan bersyukur. Amin.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.