Merebut Tafsir: Kuliner, Kebangsaan, dan Keberagamaan

Oleh Lies Marcoes

Sejarah sebuah bangsa dapat dikenali dari kulinernya. Kuliner masakan Indonesia menandai ragamnya warga dunia yang masuk ke negeri ini: Melayu, Cina, Arab, India, Eropa bahkan belakangan makanan yang berasal dari Jepang, Korea, Turki atau Asia Tengah lainnya. Hal yang sangat mengagumkan, masakan yang tersaji di rumah-rumah bangsa ini telah berubah menjadi kuliner Nusantara. 


Secara antropologis, kuliner jelas terkait erat dengan pembentukan sebuah bangsa. Kita mengenal masakan dari berbagai belahan dunia di dapur kita. Indonesia juga memiliki ribuan jenis kuliner asli seperti rendang atau gudeg. Masakan yang dibawa dari luar itu telah berakulturasi dengan sumber daya alam setempat sehingga jika dicari di negeri asalnya mungin tak selalu dapat ditemui. 


Kuliner juga menjelaskan tentang terbentuknay suatu tradisi yang seolah-olah terkait dengan keyakinan atau agama. Kita tahu ada ketupat yang disajikan di hari raya Idul Fitri. Di Aceh ada kebiasaan meugang, suami membawakan daging sapi menjelang bulan Ramadan untuk sahur pertama. Akarnya, menurut Antropolog dari UNI Ar Raniri, Reza Idria, hal ini terkait dengan budaya pesisir di Aceh yang seminggu menjelang puasa telah mendarat bersiap diri untuk menyambut datangnya bulan suci. Kelangkaan ikan diganti oleh daging sapi yang dibeli para lelaki dari pasar untuk anak istri mereka. Capcay, Lontong Capgomeh, kuwaci, jewadah korang/dodol Cina, bandeng, kami telah kenali sejak kecil karena Ayah saya bersahabat dengan penguasa kopra di kampung saya, Babah Yo Yan Wie dan Yo Yan Oei. Tiap lebaran Cina, demikian kami menyebut perayaan Imlek, kami mendapat kiriman rupa-rupa kuliner Cina Peranankan.

 

Kuliner juga menandai beragam musim perayaan keagamaan. Sepanjang bulan Puasa/ Ramadan dan kelak Lebaran, kita akan bertemu macam-macam makanan yang khas datang dari Timur Tengah seperti kurma. Tapi juga tersaji makanan lokal yang muncul hanya pada bulan Ramadan. Di Bogor misalnya, ada mie glosor berbahan dasar sagu yang anehnya hanya dijual di bulan Puasa sebagai sajian ta’jil selain gorengan dan lontong oncom.

Kuliner juga menggambarkan terjadinya kawin mawin berbagai suku bangsa yang kemudian muncul menjadi olahan makanan yang tersaji di meja makan. Di rumah kami, yang berasal dari Jawa/Sunda, masakan rendang baru dikenali sebagai sajian lebaran setelah dua di antara menantu ayah saya berasal dari Minang.

 

Jadi jika ada upaya pemurnian total agama berikut budayanya, seperti melalui cara berpakaian yang harus diganti dengan jubah karena dianggap lebih kaffah, bagaimana melakukan pemurnian dalam kuliner Nusantara? Kita tentu akan menggunakan kaidah paling sederhana: yang penting halal dan wajar untuk di makan. Nah demikian juga mustinya dengan pakaian!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.