Majmû’ah al-Rasâ`il, Hasan Al-Banna dan Gerakan Jihad Kontemporer

Oleh: Badrus Sholeh, Ph.D[1]

ARTIKEL ini akan membahas konteks politik Hasan al-Banna menulis serial risalah yang kemudian dibukukan menjadi Majmu’ah al-Rasâ`il, serta bagaimana dampaknya atas gerakan jihad dan politik Islam saat ini. Jihadis kontemporer menjadikan Hasan al-Banna sebagai rujukan dan figur tokoh mujahidin yang sejalan dengan cita-cita jihad antara lain: (1). Terbentuknya komunitas yang tunduk pada hukum Islam, dengan penerapan syariat Islam yang ketat; (2). Komunitas melakukan konsolidasi organisasi melawan tirani Barat dan pemerintah thaghut, dan penjajahan; (3). Organisasi dan komunitas selalu terjaga melalui gerakan jangka panjang.

Pada konteks ini terjadi pergeseran dan perbedaan antara cita-cita Hassan al-Banna yang menempatkan nasionalisme sebagai alat dan media keberhasilan menerapkan syariat Islam. Prinsip ini kemudian diadopsi beberapa gerakan yang sama di beberapa negara termasuk di Indonesia, melalui gerakan tarbiyah. Tetapi pada sisi berbeda, terdapat pergerakan jihad yang melanjutkan cita-cita Hasan al-Banna minus nasionalisme dan demokrasi. Mereka kemudian membentuk faksi-faksi radikal-jihadi dan menerapkan pola jihad yang keras melawan pemerintah thaghut, individu yang menghalangi jihad mereka dan negara-negara kafir. Abu Jihad al-Indunisiy menyebutkan sejarah jihad al-Qaidah saat ini sebagai kelanjutan jihad Hasan al-Banna, yang berbeda dengan gerakan jihad ISIS. Bagi Abu Jihad, ISIS adalah gerakan ahistoris yang menyimpang dari pada pendahulu Mujahidin.[2]

Hasan al-Banna menggerakkan Ikhwanul Muslimin sebagai kekuatan politik yang mengakar di Mesir. Hasan al-Banna juga mendiskusikan problem dunia Islam, dan menyerukan pentingnya persatuan umat Muslim di Indonesia, Pakistan, India, Yaman, Suriah, Libya, Maroko, Sudan, Palestina dan negara Muslim lain. Hasan al-Banna yakin adanya konspirasi global baik melalui gerakan zionis maupun koalisi Kristen Barat yang menyebabkan umat Muslim tertindas dan terjajah, termasuk seruannya dalam membela Palestina melawan Israel sejak awal perang Arab-Israel. Gerakan Hasan al-Banna menginspirasi gerakan politik Islam dan jihad regional di Timur Tengah dan dunia Islam.

Majmû’ah al-Rasâ`il

Kitab Majmû’ah al-Rasa`il menjelaskan perjalanan dan pemikiran Hasan al-Banna dalam rentang waktu puluhan tahun. Kitab ini membahas rambu-rambu dakwah, mempertegas sikap, menjawab tipu daya musuh dan orang-orang yang selalu mengintai, menjawab pertanyaan orang-orang yang minta penjelasan. Karena itu, risalah-risalahnya memuat akidah, hadis, tafsir, al-Qur`an, fikih, fatwa, akhlaq, sirah Nabi, ceramah, nasehat, bimbingan, tasawuf dan even-even Islami lainnya sebagaimana juga menjelaskan dasar-dasar kebangkitan Islam modern, pilar-pilar, karakteristik, sikap Islam terhadap berbagai aliran dan pemikiran.

Kitab ini terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, risalah seruan kepada manusia bagaimana menciptakan tujuan hidup sesuai dengan al-Qur`an. Risalah seruan ini termasuk memertanyakan tujuan hidup manusia, hubungan manusia dan politik dan landasan kebangsaan. Kedua, refleksi yang tajam bagaimana menempatkan diri sebagai aktivis Islam. Risalah ini terdiri dari sepuluh edisi publikasi, dan menjadi fondasi kuat untuk risalah selanjutnya. Ketiga, risalah dakwah yang penting bagi kehidupan masyarakat dan menciptakan kehidupan berbangsa dan bertanah air sesuai dengan syariat Islam. Dalam risalah dakwah juga Hasan al-Banna memberi petunjuk pola dakwah yang efektif. Keempat, risalah muktamar mahasiswa dan pelajar Ikhwanul Muslimin. Dalam risalah ini Hasan al-Banna membagi menjadi beberapa bagian: agama dan politik, bagaimana beragama seutuhnya, hak-hak minoritas, hubungan internasional. Pada bagian ini, pola aktivisme internasional menjadi berpengaruh terhadap aktivisme dan organisasi Islam di banyak negara. Kelima, risalah yang sangat penting bagi gerakan jihad di Mesir dan dunia Arab. Hasan al-Banna menyerukan kewajiban jihad bagi setiap muslim, landasan al-Qur`an dalam berjihad, dan bagaimana aktivis Muslim terlibat dalam perang. Bagian ini penting bagi aktivis Ikhwanul Muslimin dalam keterlibatan perang dukungan atas Palestina melawan Israel. Bagian ini juga diadopsi dalam gerakan jihad transnasional. Keenam, Hasan al-Banna memberi pesan khusus bagi perempuan Muslimah dan bagaimana mereka terlibat dalam politik Islam dan organisasi. Hasan al-Banna juga memberi pesan khusus bagi mahasiswa bagaimana mereka harus memahami fondasi politik Islam, beragama secara utuh, terlibat dalam sayap muda partai politik dan melihat ulang keterlibatan asing dalam urusan dalam negeri dunia Islam.

Hasan al-Banna menyatakan bahwa partai politik harus berlandaskan syariat Islam. Hasan al-Banna menolak partai politik sekuler dan nasionalis. Sebaliknya, King Farouk mengkritik gagasan Hasan al-Banna yang membentuk partai Islam yang akan berkompetisi dalam arena politik. Dalam buku ini Hasan al-Banna juga merefleksikan pentingnya reformasi politik dalam negeri Mesir. Reformasi politik penting sebagai strategi untuk menghadapi pemerintah kolonial Inggris. Hasan al-Banna menyerukan agar Muslim bersatu dan meninggalkan perpecahan partai, untuk lebih fokus dalam membentuk realitas politik yang lebih islami dengan menyerukan penerapan syariat Islam, menjelaskan hubungan antara agama dan politik, serta menyeru kepada penguasa, kepala negara dan para pejabat negara akan pentingnya reformasi politik dan melihat ulang kebebasan berekspresi.

Dampak Gerakan Jihad

Pemikiran Hasan al-Banna dan gerakan Ikhwanul Muslimin memiliki dampak kuat tidak hanya di Mesir tetapi juga dunia Islam. Banyak berdiri organisasi dan partai berbasis Islam yang mengadopsi Ikhwanul Muslimin. Olivier Roy menggambarkan, “The chief (amir, guide…) is elected but then becomes quasi-irremovable unless disqualified by the shura. He is backed up by an executive committee or council, over which he generally has supervisory authority. The party has at its disposal an administration in the form of specialized committees, including those of preaching and propaganda (da’wa).”[3] Sistem kepemimpinan organisasi dan partai politik yang digagas Hasan al-Banna melalui Ikhwanul Muslimin memengaruhi pergerakan dan pola manajemen organisasi di banyak negara Muslim.

Di Indonesia, pemikiran dan legacy Hasan al-Banna memengaruhi sejak masa kemerdekaan, pembentukan organisasi Islam pada tahun 1950-an, gerakan Islam bawah tanah pada masa Orde Baru dan pasca reformasi, khususnya gerakan tarbiyah yang kemudian membentuk partai Islam, Partai Keadilan. Pola Ikhwanul Muslimin dalam PK/PKS berikut gerakan muda dan mahasiswa dalam partai sangat diinspirasi pemikiran Hasan al-Banna dan terutama kitabnya, Majmû’ah al-Rasâ`il.[BS]
_________________

[1] Ketua Jurusan Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global FISIP UIN Jakarta. Email: badrus.sholeh@gmail.com

[2] Abu Jihad Al-Indunisy, “Menyingkap Rekam Jejak Ideolog ISIS Indonesia,” http://www.muqawamah.net/?p=23161

[3] Olivier Roy, The Failure of Political Islam, Cambridge: Harvard University Press, 196, p. 47.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.