LAPORAN PELATIHAN REMAJA UNTUK PENCEGAHAN KAWIN ANAK DI CIREBON

Cirebon, 25-27 Mei 2018

Dalam rangka mensukseskan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SGDs) yang telah dicanangkan oleh PBB, Rumah Kitab mengadakan pelatihan penguatan kapasitas remaja dalam pencegahan kawin anak di RW. 09 Kesunean Selatan, Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon. Acara ini berlangsung selama tiga hari, dimulai hari Jum’at sampai dengan hari Minggu, 25-27 Mei 2018.

Pembukaan pelatihan ini banyak dihadiri oleh pejabat lokal baik formal maupun non formal. Pihak yang hadir pada saat pembukaan antara lain; kepala Dinas Sosial Kota Cirebon, lurah Kasepuhan, organisasi Wadul Bae, dokter dari Puskesmas setempat, dan para jajaran RT & RW di kelurahan Kasepuhan. Dari tamu undangan yang hadir pada acara pembukaan, semuanya memberikan dukungan dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Rumah KitaB atas terselenggaranya pelatihan bagi remaja, tanpa terkecuali tuan rumah, ketua RW. 09 Kesunean Selatan, Pepep Nurhadi. Baginya pemilihan lokasi pelaksanaan yang bertempat di Balai Pertemuan Kampung atau biasa disingkat dengan Baperkam adalah merupakan kebanggaan tersendiri bagi para warga karena Baperkam mereka semakin ramai dengan kegiatan-kegiatan sosial.

Dalam sambutan pembukaan, ibu Hani selaku kepala Dinas Sosial Kota Cirebon mengatakan pelatihan seperti ini merupakan bagian dari pemenuhan hak anak dan perlindungan anak, dimana dua hal tersebut juga menjadi konsen kerja Dinas Sosial. Lebih jauh, ia mendorong peserta remaja untuk melanjutkan pendidikan yang tinggi serta menunda perkawinan di usia dini agar mimpi dan cita-cita para remaja bisa tercapai.

Sebagai gambaran umum terkait lokasi acara, RW. 09 pada awalnya merupakan kampung kumuh di pesisir pantai utara kota Cirebon dimana tumpukan sampah biasa dijadikan urugan tanah untuk dibangun pemukiman. Namun kini sudah tersedia pengelolaan sampah organik untuk kompos dan non organik untuk kerajinan tangan. Selain itu, Kesunean Selatan juga menjadi kampung ramah anak dan dinobatkan sebagai wilayah tersehat dimana Posyandu kampung ini pernah menjuarai Posyandu terbaik tingkat nasional.

Latar belakang peserta yang beragam membentuk komposisi unik peserta pelatihan, antara lain ; aktivis remaja di SMA, perwakilan dari IPNU dan IPPNU, Ikatan Remaja Musholla, para Santri dan remaja putus sekolah. Mereka berdomisili di dua kelurahan yaitu Pegambiran dan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk yang menjadi pilot project program BERDAYA. Adapun pemateri dan fasilitator kesemuanya adalah dari Rumah KitaB. Mereka adalah ibu Lies Marcoes, Achmat Hilmi, Nurasiah Jamil, Yooke Damopolii dan PO BERDAYA Cirebon, Imbi Muhammad.

Setidaknya ada dua hal yang bisa dijadikan landasan mengapa pelatihan remaja ini dilakukan. Pertama, wilayah kecamatan Lemahwungkuk menyumbang angka kawin anak terbesar di tahun 2017. Kedua, pencegahan kawin anak bisa dimulai dengan mengubah paradigma dan pandangan remaja akan bahaya kawin anak dan sebagai upaya preventifi agar tidak terjadi di kalangan remaja.

Peserta remaja yang berjumlah 25 orang sangat antusias dalam mengikuti jalannya pelatihan. Di tengah rasa haus dan lapar pada siang hari di bulan puasa, mereka secara aktif mengikuti satu per satu materi pelatihan dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi tim fasilitator dan pemateri. Mereka juga harus mengimbangi semangat dan antusiasme para peserta ketika menyampaikan materi kepada para peserta. Oleh karena itu agar suasana saat pelatihan tidak menjemukan, para pemateri dan fasilitator selalu menyelingi ice breaking di tengah penjelasan materi dan memberikan penyampaian yang interaktif kepada para peserta pelatihan.

Sebagian besar dari para peserta yang hadir masih baru mengenal isu kawin anak, bahkan bagi mereka ini adalah istilah baru. Istilah pernikahan dini lebih familiar di kalangan peserta remaja dari pada istilah kawin anak. Dari 25 peserta hanya empat orang yang pernah mengikuti kegiatan serupa, yakni pada perayaan International Women Day di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Peserta yang bernama Yuyun memiliki kesan setelah mengikuti pelatihan ini. Ia merasa lebih banyak mengetahui dampak dan bahaya dari praktik kawin anak. Suguhan materi lebih kaya dari pelatihan serupa yang pernah dia ikuti. Ia menambahkan bahwa penyampaian yang mudah juga lebih mempermudah peserta untuk mencerna materi pelatihan.

Metode curah pendapat yang ditawarkan oleh direktur Rumah KitaB, Lies Marcoes, ketika menjelaskan hubungan antara ketidakadilan gender dan kawin anak memberikan ruang yang luas bagi peserta remaja untuk mengeksplorasi permasalahan kawin anak dengan membaca fenomena sosial yang ada di lingkungan mereka masing-masing. Mereka belajar menginventarisasi faktor, aktor dan penyebab terjadinya kawin anak di masyarakat sekitar mereka.

Di akhir pelatihan setiap peserta diminta membuat rencana tindak lanjut sesuai kelompok dan target sasaran mereka dalam mengkampanyekan pencegahan kawin anak. Di antara target kelompok yang mereka pilih, ada Sekolah dan Guru, Orang Tua, Remaja Sebaya, dan Aparat Pemerintah. Ada jargon unik yang dihasilkan oleh peserta pelatihan remaja di Kota Cirebon “Gendong Tas Sekolah Dulu, Baru Gendong Anak”. [Imbi M]

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.