Konservatisme Agama di Mata Tokoh Lintas Iman

Kastara.ID, Jakarta – Waktu masih menunjukkan pukul 16.30 WIB. Cahaya mentari sore yang menembus pintu-pintu kaca ruang rapat Hotel Discovery Ancol Jakarta, menambah kehangatan suasana Dialog Lintas Iman yang digagas oleh Kementerian Agama (28/12).

Tampak puluhan tokoh lintas agama dengan berbagai latar belakang yang berbeda larut dalam diskusi yang dipandu oleh Alisa Wahid dan Wahyu Muryadi. Tokoh-tokoh tersebut ada yang berasal dari kalangan agamawan, budayawan, akademisi, kaum milenial, hingga praktisi media.

Selama dua hari, mereka berkumpul untuk membahas isu-isu aktual keagamaan, yang terangkum dalam Dialog Lintas Iman bertajuk Refleksi dan Proyeksi Kehidupan Beragama di Indonesia. Tak ketinggalan turut hadir dalam dialog tersebut, Menag Lukman Hakim Saifuddin beserta pejabat-pejabat eselon I Kemenag.

“Agama di Indonesia masih sangat vital. Bahkan menjelang pemilu itu yang konflik bukan antar parpol, tapi antara ormas keagamaan,” ujar tokoh intelektual UIN Syarif Hidayatullah Komarudin Hidayat membuka diskusi.

Komarudin, bertugas sebagai pemantik diskusi dalam sesi Konservatisme Agama di Indonesia. Ia menuturkan, saat ini masyarakat Indonesia kurang mendengarkan bila yang muncul adalah simbol-simbol parpol.

“Tapi kalau agama, mereka malah mendengarkan. Simbol-simbol parpol gak laku, simbol agama sensitive. Ini menunjukkan bahwa agama masih vital di Indonesia,” urai Komarudin.

Ia pun menuturkan terkait dengan konservatisme, agama itu harus konservatif. “Ini kaitannya dengan memelihara, menjaga. Kalau tidak konservatif lalu apa yang mau dijaga? Yang menjadi persoalan itu adalah yang berkembang menjadi ekstrimisme maupun radikalisme,” tutur Komarudin.

Pandangan selanjutnya tentang konservatisme muncul dari Yudi Latif. Menurutnya, konservatisme bukanlah produk agama tetapi produk budaya.

Ia mengutip pemikiran Miracle Mindfullness dari Thich Nhat Hanh, seorang cendikiawan Buddha. Ia cerita ada seorang raja yang datang kepada seorang Bikhu. Sang raja bertanya apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan rakyatnya.

“Bikhu menjawab, itu mudah. Wahai Raja, tidurlah lebih lama. Kalau anda bisa tidur lama, tidak menyusahkan banyak orang,” ujar Yudi Latif.

Dengan metafor tersebut, Yudi menyampaikan saran tentang apa yang bisa dilakukan agama agar kehidupan republik ini lebih baik. “Cara terbaik agama agar dapat menyumbang kebaikan kepada bangsa ini adalah dengan kita mengurangi bicara tentang agama,” tegas Yudi.

Saat ini menurutnya, agama telah amat menghegemoni. Semua hal banyak ditafsirkan dengan agama. “Termasuk bicara tentang konservatisme, kita pikir problemnya ada di agama. Padahal, agama tidak bisa dioperasikan kecuali melalui software kebudayaan,” lanjutnya.

Lain lagi tanggapan dari Zawawi Imron saat membahas tentang konservatisme agama. Menurutnya, kita perlu melakukan sinergi antara agama dengan kebudayaan. Agama membutuhkan akal sehat kolektif.

Dengan akal sehat kolektif ini diharapkan akan muncul orang-orang beragama yang rendah hati. “Dalam akal sehat kolektif ini, bukan hanya budayawan. Tapi saya kira semuanya tidak akan merasa benar,” ujar Zawawi.

Refleksi lain terkait konservatisme agama muncul dari ahli kajian Islam dan jender Lies Marcoes. Menurutnya, konservatisme tidak hanya muncul di ruang publik. Oleh karenanya Lies berharap Kemenag tidak hanya memberikan perhatian konservatisme terkait dengan keamaanan negara (state security) saja. Namun juga terkait pada keamanan manusia (human security) itu sendiri.

“Pembicaraan konservatisme bukan hanya terjadi pada ruang publik, tapi banyak menghiasi ruang privat. Di mana banyak yang melakukan adalah perempuan,” tuturnya.

Pendapatnya ini didasarkan dari sebuah penelitian yang baru-baru ini ia lakukan. Ia menemukan bahwa pendidikan tentang konservatisme yang mengarah pada ekstrimisme telah dilakukan pada lembaga pendidikan. “Bahkan tempat yang kami teliti itu adalah taman kanak-kanak, kindergarten,” jelasnya.

Munculnya konservatisme juga disebabkan rendahnya literasi yang dimiliki oleh masyarakat. Hal ini disampaikan jurnalis Detik.com Kalis Mardiasih. “Saat ini ada banyak anak muda yang tidak mau membaca,” tutur Kalis yang juga mewakili suara kaum milenial.

Diskusi tentang konservatisme agama berlangsung lebih dari dua jam. Setiap refleksi, proyeksi dan harapan yang muncul dari seluruh peserta diskusi akan dirangkum oleh panitia, dan diramu menjadi sebuah rumusan.

“Rumusan akhir akan disampaikan Menag saat konferensi pers esok hari, Sabtu 29 Desember 2018,” tutur Kepala Biro Humas Data dan Informasi Mastuki. (put)

Sumber: https://kastara.id/29/12/2018/konservatisme-agama-di-mata-tokoh-lintas-iman/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.