Kompetensi

Rumah Kita Bersama didukung oleh keberadaan tim kerja yang memiliki kompetensi dalam kajian kitab kuning, kajian ilmu-ilmu sosial, riset sosial, plus penguasaan dalam teknologi informasi yang relevan. Tim kerja Rumah KitaB umumnya memiliki latar belakang pendidikan pesantren salaf/tradisional. Mereka akrab dengan Kitab Kuning dan khazanah pemikiran Islam. Pengetahuan ini diperkuat oleh latar belakang seluruh staf yang berbasis pendidikan tinggi dalam Islamic Studies atau Ilmu-ilmu Sosial. Berlandaskan kompetensi itu, sejak digagasanya tahun 2005, Rumah KitaB telah melakukan berbagai kegiatan dan menghasilkan karya intelektual sebagai berikut:

Kajian

Rumah KitaB menggelar kajian dalam dua format: pertama, Bahtsul Masa’il, dan kedua, Diskusi Tematik.

Melalui agenda Bahtsul Masa`il, Rumah KitaB mencoba mengungkap pandangan ulama-ulama salaf sebagaimana tertuang dalam Kitab Kuning yang dibaca dengan perspektif baru namun dengan tetap menggunakan metodologi yang ketat mengenai berbagai isu kontemporer. Dengan cara itu diperoleh pandangan yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai tradisi keilmuan pesantren. Para peserta Bahtsul Masa`il adalah para ustadz atau kiyai berlatar belakang pesantren yang mendalami Kitab Kuning, dengan pengayaan pandangan dari para intelektual dengan disiplin ilmu yang relevan.
Sementara melalui Diskusi Tematik, dibahas soal Keislaman dan Keindonesiaan dengan mendatangkan intelektual atau pakar yang relevan seperti Dr. Farish M Noor., Dr. Martin van Bruinesen, Dr. Nelly va Dorn Harder, Dr. Jonathan Zilberg dan sejumlah tokoh intelektual muda dari lingkungan NU. Beberapa agenda Bahtsul Masail dan Diskusi yang pernah dilaksanakan antara lain: (1). Kekerasan Atas Nama Agama; (2). Hak Atas Air; (3). Anak di luar Pernikahan; (4). Konflik Agraia dan Implikasinya terhadap Konflik Horizontal; (4). Metode Penelitian Sosial; (5). Metode Penelitian Kitab Kuning; (6). Metode Penelitian Gerakan Sosial Keagamaan, dan; (7). Metode Penelitian Feminis.

Penelitian

Kekuatan Rumah Kitab ada pada divisi penelitian. Bukan saja karena memiliki peneliti senior yang sangat berpengalaman dan memiliki reputasi dalam bidang penelitian, Rumah KitaB juga memiliki spesialisasi dalam penelitian teks kitab kuning—suatu bidang yang masih langka di Indonesia. Saat ini Rumah Kitab telah melaksanakan sejumlah penelitian teks Kitab Kuning dan penelitian sosial mengenai berbagai tema penting terkait dengan keislaman dan keindonesiaan.

Sepanjang 2011-2012, Rumah Kitab telah melaksanakan agenda penelitian sebagai berikut:

Pemetaan Pengajaran Kitab-Kitab Kuning yang Diajarkan di Pesantren-Pesantren Terkemuka di Pulau Jawa.
Peneliti ini meliputi 20 pesantren di hampir seluruh wilayah Nusantara: Pesantren-pesantren yang diteliti adalah:
No Nama Pesantren dan Wilayah
1. Pesantren Bali Bina Insani, Tabanan Bali
2. Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur
3. Pesantren Nahdlatul Wathan, NTB
4. Pesantren Syaichona Cholil, Bangkalan Madura
5. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo Jawa Timur
6. Pesantren Ash-Shidiqiyah, Jakarta
7. Pesantren Darunnajah Jakarta
8. Pesantren Cipasung, Tasikmalaya
9. Pesantren Persis, Tarogong Garut
10. Pesantren Dar at-Tauhid, Arjawinangun Cirebon
11. Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Babakan Ciwaringin Cirebon
12. Pesantren Al-Fakhriyah Makasar dan Pesantren As’adiyah, Sekang Sulawesi Selatan
13. Pesantren Al-Khaerot, Palu Sulteng
14. Pesantren Ummushabri, Kendari Sultra
15. Pesantren Al-Hikmah, Mamuju Sulbar
16. Pesantren Ribathulkhail, Kutai Kartanegara Kalimantan Timur
17. Pesantren Ibadurrahman, Kutai Kartanegara Kalimantan Timur
18. Pesantren Darussalam, Banjar Kalimantan Selatan
19. Pesantren Al-Hikmah, NTT
20. Pesantren Ishaka, Maluku Ambon
21. Pesantren Maslukul Huda, Pati Kajen Jawa Tengah
22. Pesantren Sunan Pandanaran,Yogyakarta
23. Pesantren Al-Muttaqin, Jayapura Papua
Bekerjasama dengan Universitas Wahid Hasyim Semarang dan Universitas Islam Malang, Rumah Kitab melaksanakan agenda penelitian tentang Pendidikan Karakter Bangsa yang diselenggarakan di beberapa pesantren terpilih di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Kaltim, Kalsel, Maluku, dan Papua. Penelitian itu ditujukan untuk mendapatkan gambaran tentang best practice dalam pendidikan karakter bangsa yang dilaksanakan oleh pesantren. Penelitian ini menemukan 3 kluster nilai-nilai yang ditumbuhkan melalui pendidikan di pesantren. Pertama nilai-nilai kebangsaan seperti visi kebangsaan, cinta tanah air, kesetaraan dan toleransi. Kedua nilai-nilai menyangkut hubungan antar manusia, seperti menghargai orang lain, kepedulian sosial, gotong royong, kesetaraan. Ketiga nilai-niali yang terkait dengan kualitas individu seperti kesabaran, kedisiplinan, rendah hati, tawakkal dan lainnya.
Rumah Kita Bersama—yang dikenal dengan Rumah KitaB—telah mengadakan penelitian lapangan berkaitan dengan Islam dan hak-hak reproduksi perempuan; pemetaan pandangan dan sikap atas KB (Keluarga Berencana) di 6 kota, yaitu: Cirbon, Bogor, Depok, Bandung, Malang, Solo dan Jabotabek. Penelitian ini terfokus pada pemetaan pandangan dan argumen-agrumen khususnya kelompok Islam fundamentalis yang “diasumsikan” sebagai golongan yang menolak program KB (Kelurga Berencana) dan ber-KB. Hasil penelitian di lapangan menyatakan, bahwa ternyata—bukan sekedar asumsi—mereka, kalangan Islam fundamentalis, benar-benar nyata dan riil sebagai pihak yang menentang dan menolak KB dan ber-KB dengan berbagai argumentasi dan pandangannya. Sekurang-kurangnya, pandangan dan argumentasi kalangan Islam fundamentalis dalam menentang dan menolak KB dapat dipetakan menjadi dua, yaitu: argumentasi normatif-religius atau diistilahkan dengan non-ideologis, seperti KB dianalogikan atau disamakan dengan praktik pembunuhan terhadap janin, dan argumentasi ideologis, seperti beranggapan bahwa KB adalah bagian dari salah satu program dalam politik konspirasi Yahudi atau Zionisme yang bertujuan memperkecil angka dan melemahkan umat Islam. Berkat reformasi, kelompok-kelompok itu kini memiliki kebebasan untuk bersuara. Diskursus tentang keluarga yang berbasis keyakinan atau argumentasi keagamaan bisa diketengahkan ke ruang publik dengan bebas. Gagasan dan praktek poligami, misalnya, dibahas, diperdebatkan dan dipraktekkan secara terbuka. Melalui praktik nyata atau kampanye melalui jaringan media alternatif, seperti website, penolakan atas KB pun muncul ke permukaan. Hasil penelitian kami, Rumah KitaB, mendapatkan puluhan situs dan web beserta radio milik kelompok Islam fundamentalis sebagai kanal yang dapat menyalurkan gagasan dan pandangannya. Ternyata, baik di lapangan atau di situs, mereka tak sedikit yang menggunakan argumentasi keagamaan dan ideologis penentangan terhadap KB yang tidak dikemukakan di ruang publik pada masa Orde Baru, sebelum reformasi. Di samping itu, ada kendala lain yang menghambat program KB, di antaranya adalah kurang adanya support atau dukungan dari pemerintah daerah. Kita tahu bahwa pasca Otonomi Daerah, program KB sudah tidak lagi menjadi kebijakan pusat, melainkan diserahkan ke pemerintah daerah. Sehingga baik atau tidaknya program KB sangat ditentukan oleh pemerintah daerah masing-masing. Namun, program KB masih mendapatkan dukungan dari kalangan Islam mayoritas, Ormas NU, Muhammadiyah, PUI, dan LSM-LSM serta para cendikiawan muslim. Meski ada dukungan dari pihak mayoritas, dua kendala besar yaitu penolakan dari kalangan Islam fundamentalis dan melemahnya pemerintah daerah dalam merealisasikan program KB bisa menjadi penghambat yang cukup serius.
Sejauh ini, penelitian tentang Gerakan Islam Fundamentalis, kurang menyoroti bagaimana sebetulnya peran perempuan. Untuk menutup celah ini, Rumah Kitab dengan dukungan OSLO Coalition melaksanakan penelitian tentang peran perempuan dalam Gerakan Islam Fundamentalis. Penelitian dilaksnakan melalui wawancara mendalam dengan narasumber dan sumber informasi yang relevan, yaitu perempuan yang menjadi aktivis atau anggota gerakan Islam Fundamentalis di berbagai kota di Indonesia.

Penyebaran Informasi

Untuk menyebarluaskan hasil-hasil kegiatan dan pemikiran para aktivis Rumah KitaB, telah dilaunching sebuah situs bertajuk www.rumahkitab.com.

Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan dilaksanakan melalui fasilitasi penyelenggaraan Majelis Sema’an Al-Quran dan Majelis Maqom Albab, dan Lembaga Pendidikan Pra-pesantren Matahati (LP3M).

Penguatan Kapasitas

Untuk menguatkan kapasitas tim peneliti Rumah Kitab maupun para peneliti muda dari lembaga lain, Rumah Kitab telah menggelar Workshop Metodologi Penelitian, menghadirkan para pakar di bidangnya. Program penguatan kapasitas peneliti ini dilakuikan secara regular 6 bulan satu kali diikuti oleh peneliti muda di lingkungan NU, mahasiswa program pasca sarjana dan aktivis LSM. Penguatan kapasitas dilakukan sebagai program yang terencana dan berkesinambungan.