Khitan Perempuan, Menjaga Kesucian?

PADA 24 – 25 November 2015 lalu UNFPA menyelenggarakan acara “Workshop and Validation Meeting for Background Paper on Female Genital Mutilation/Cutting” di The Luxton Hotel Bandung. Acara ini sesungguhnya merupakan pertemuan lanjutan dari seminar Internasional bertajuk “Female Genital Mutilation/Cutting: Discussions from Social-Cultural and Health Perspectives” yang juga diselenggarakan oleh UNFPA Indonesia pada 17 September 2015 lalu di Jakarta.

Isu mengenai khitan perempuan hingga saat ini memang masih menjadi isu kontroversial, bukan hanya di dalam masyarakat Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara muslim lainnya. Perdebatan mengenai isu ini terjadi antara lain karena sumber-sumber Islam otoritatif baik al-Qur`an maupun hadits Nabi tidak menyebutkan hukumnya secara eksplisit dan tegas.

Khusus di Indonesia, data dari Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa praktik khitan perempuan masih marak terjadi, terutama di perkotaan yang secara statistik mencapai 55.8%, sementara di pedesaan 46.9%. Riset yang dilakukan Population Council menunjukkan bahwa praktik khitan perempuan terjadi di berbagai daerah, seperti Banten, Gorontalo, Makassar, Padang Sidempuan, Madura, Padang, Padang Pariaman, Serang, Kutai Kartanegara, Sumenep, Bone, Gorontalo, dan Bandung. Alat untuk menyunat adalah pisau 55%, gunting 24%, sembilu (bambu) atau silet 5%, jarum 1 %, serta sisanya sekitar 15% inset, kuku atau jari penyunat, koin, dan kunyit.

Yang paling menarik adalah temuan dari Litbangkes, yang memperlihatkan bahwa angka tertinggi pengkhitan adalah bidan, yaitu 50.9%, disusul kemudian dukun bayi 40.0%, tukang sunat 6.8%, dan nakes lainnya 2.3%. Temuan ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, karena di dunia kedokteran sendiri tidak ada kurikulum khusus mengenai pelaksanaan khitan perempuan dan para tenaga medis tidak dianjurkan atau bahkan dilarang untuk melakukannya.

Pandangan Agama

KH. Husein Muhammad, yang diundang secara khusus untuk berbicara mengenai khitan perempuan dalam pandangan fikih mengatakan, bahwa sepanjang pembacaannya atas literatur fikih mengenai isu ini, bahkan juga dalam banyak isu, perdebatan-perdebatan di antara para ahli fikih lebih banyak berpusat pada teks. Mereka menganalisis dan menggunakan teks sebagai dasar untuk memutuskan segala hal. Teks dalam tradisi masyarakat muslim menjadi siklus dan sentral bagi berbagai diskursus keagamaan dan sosial. Penelitian atas fakta-fakta empiris dan analisis medis atasnya jarang sekali dikemukakan. Padahal penelitian empiris dan analisis medis dalam kasus yang menyangkut organ reproduksi ini menjadi sangat menentukan untuk mendasari suatu kebijakan dan keputusan hukumnya. Imam al-Syafi’i (w. 204 H) sesungguhnya sudah mengawali metode penelitian empiris tersebut untuk beberapa kasus reproduksi yang dikenal dengan istilah istiqrâ` (observasi).

Namun, lanjutnya, para ahli fikih sepakat bahwa khitan baik untuk laki-laki maupun perempuan merupakan tradisi yang telah berlangsung dalam masyarakat kuno untuk kurun waktu yang sangat panjang. Sebelum Nabi Muhammad Saw. lahir, tradisi ini berkembang di berbagai kebudayaan dunia. Khitan adalah “sunnah qadîmah” (tradisi kuno). Kenyataan ini menunjukkan bahwa Islam tidak menginisiasi tradisi khitan perempuan. Dalam banyak ajaran, Islam mengakomodasi tradisi sebelumnya, tetapi dalam waktu yang sama ia juga mengajukan kritik, koreksi dan transformasi ke arah yang lebih baik, jika praktik-praktiknya belum sejalan dengan misi dan visi Islam, yakni kemaslahatan dan kerahmatan semesta.

Dan sebenarnya, bila dikaji lebih jauh, di dalam al-Qur`an tidak ada satu ayat pun—baik eksplisit maupun implisit—yang menyinggung soal khitan perempuan. Tidak ada ijma’ (konsensus ulama) yang menghasilkan hukum tegas soal itu. Bahkan hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi, menurut mayoritas ulama klasik maupun kontemporer, tidak ada satu pun yang sanadnya shahîh.

Syaikh Sayyid Sabiq dengan tegas mengatakan, “Khitan itu tidak wajib bagi perempuan, dan meninggalkannya tidak membuahkan dosa. Tidak ada di dalam kitabullah (al-Qur`an) maupun sunnah Nabi yang menetapkan bahwa khitan itu merupakan suatu yang wajib. Seluruh riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi mengenai khitan perempuan adalah dha’if (lemah), tidak ada yang bisa dijadikan pijakan.” Bahkan, Syaikh Ali Gom’ah, Mufti Nasional Mesir, mengeluarkan fatwa haramnya praktik khitan perempuan setelah mendengar kabar kematian seorang anak perempuan yang dikhitan karena dorongan para pemuka agama setempat. Ia menegaskan, “Adat/tradisi khitan [bagi perempuan] yang berbahaya yang dilakukan di Mesir saat ini adalah haram.”

Nabi sendiri melarang keras mengubah ciptaan Tuhan (taghyîr khalqillah). Khitan perempuan, secara kasat mata, adalah upaya untuk mengubah ciptaan Tuhan pada perempuan yang harus dilarang, dan agama menganggapnya sebagai perbuatan yang tak layak dilakukan. Seluruh organ keperempuanan bukanlah “lebihan-lebihan tak berarti” yang harus dipotong, masing-masing punya tugas dan fungsi sebagaimana organ-organ tubuh yang lain. Fungsi organ-organ keperempuanan adalah untuk membantu perempuan mencapai kepuasan seksual.

Di dalam kaidah fikih disebutkan mengenai “bolehnya membatasi hal yang mubâh (boleh) atau bahkan melarangnya bila dipandang menimbulkan bahaya.” Dunia medis telah menemukan beberapa fakta bahaya-bahaya yang muncul akibat khitan terhadap perempuan, dan itu bisa saja mempengaruhi kejiwaannya sepanjang hidup.

Menjaga Kesucian?

Penelitian yang dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia menemukan motif dilakukannya praktik khitan perempuan, di antaranya adalah bahwa khitan dapat menjaga kesucian anak perempuan dan kemuliaan keluarga. Karena khitan itu bertujuan untuk mengontrol hasrat-hasrat seksual “perempuan” yang tidak kuasa mengendalikan tubuhnya.

Tetapi, apakah khitan dapat menjaga kesucian perempuan? Paling tidak terdapat tiga kesimpulan sebagaimana dibahas dalam acara “Workshop and Validation Meeting for Background Paper on Female Genital Mutilation/Cutting” tersebut, yaitu:

Pertama, khitan sama sekali tidak bisa menjaga kesucian perempuan. Sebab, secara ilmiah, otak merupakan sarana dalam tubuh yang darinya muncul hasrat-hasrat seksual perempuan. Perempuan yang telah menikah banyak terpengaruh oleh panca indera seperti penglihatan, penciuman, sentuhan, dll. Artinya, akallah yang sebenarnya mengendalikan dan mengarahkan hasrat seksual perempuan, bukan alat reproduksinya sebagaimana diyakini masyarakat. Hasrat seksual pada perempuan merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang dapat dikendalikan oleh elemen-elemen integral seperti tingkat budaya dan lingkungan kemasyarakatan yang di dalamnya perempuan lahir.

Kedua, kesucian perempuan adalah masalah moral yang tidak ada hubungannya dengan khitan. Jika akal merupakan alat yang dapat mengarahkan perilaku seksual perempuan, berarti kesuciannya pun bersumber dari akalnya. Maka pendidikan dan pembekalan akal perempuan sejak kecil dengan moral, prinsip-prinsip keagamaan yang benar, pengetahuan dan hakikat-hakikat ilmiah yang benar, akan menjadikannya mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, antara perilaku seksual yang sehat dan yang tidak sehat. Sementara perilaku seksual menyimpang perempuan baik sebelum menikah maupun setelah menikah itu bersumber dari kondisi lingkungan atau ketiadaan pengetahuan yang benar, dan khitan tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Kesucian, sebagaimana diajarkan oleh seluruh agama, adalah ikhtiar yang bebas dan kecintaan terhadap kebaikan, bukan karena khitan.

Ketiga, penyimpangan terjadi pada perilaku manusia dan pandangan-pandangannya, bukan pada anggota-anggota tubuhnya. Mata, telinga, lisan dan anggota-anggota tubuh lainnya bisa melakukan penyimpangan, tetapi tidak berarti kita harus memoton atau merusaknya.

Acara: Workshop and Validation Meeting for Background Paper on Female Genital Mutilation/Cutting

Penyelenggara: UNFPA Indonesia

Tempat: The Luxton, Bandung

Waktu: 24 – 25 November 2015

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.