Keajaiban Teks Klasik *)

Keajaiban Teks Klasik *)

Oleh: Ulil Abshar Abdalla **)

TAK ada yang lebih indah bagi kehidupan pikiran (life of mind) kecuali petualangan di taman teks, di hutan aksara dan kalimat yang lahir dari pikiran-pikiran besar sepanjang sejarah. Dan tiada kenikmatan mental melebihi momen ketika saya membaca teks klasik yang ditulis oleh orang-orang dari ratusan abad yang telah silam.

Teks-teks modern tentu saja banyak di antaranya yang mengagumkan, baik dari segi ide atau bentuk literernya. Saya, tentu saja, menikmati teks-teks modern yang ditulis dengan indah oleh para pengarang-cum-sarjana besar seperti Amartya Sen, Martha Nussbaum, Clifford Geertz, dll.

Tetapi, setelah bergulat dengan banyak teks, dengan pelbagai ragamnya, saya (mungkin untuk sementara, mungkin untuk seterusnya) sampai pada kesimpulan bahwa tak ada yang lebih lezat dan mengagumkan ketimbang teks klasik.

Tentu saja tak semua teks dari era klasik memiliki kualitas yang sama. Ada teks-teks klasik yang biasa saja, tak memiliki kekhususan yang istimewa. Tetapi, manakala teks-teks klasik berhasil melewati ujian waktu berabad-abad dan sampai ke tangan kita, tak bisa lain kecuali kita berkesimpulan bahwa: Teks ini memang hebat dan ampuh!.

Bagi saya, ukuran kebesaran peradaban suatu bangsa ditentukan (tentu saja bukan satu-satunya, tetapi antara lain) oleh ada-tidaknya teks kuno/klasik yang ditinggalkan oleh leluhur bangsa itu. Jika suatu bangsa memiliki teks kuno yang terus bertahan di tengah-tengah mereka, mengilhami mereka dalam merumuskan tanggapan atas masalah-masalah baru yang mereka hadapi, kita bisa berkesimpulan: bahwa bangsa semacam ini adalah bangsa besar, dengan peradaban besar.

Peninggalan fisik dan material berupa istana, gedung, candi, atau warisan material lain tentu saja bisa mengundang decak-kagum dan rasa gentar bagi yang melihatnya. Tetapi tak ada yang melebihi kebesaran sebuah teks kuno yang ditinggalkan oleh leluhur suatu bangsa dan terus dibaca oleh anak-cucu mereka, tanpa henti, melahirkan tafisr, anak-tafsir, cucu-tafsir, cicit-tafsir hingga seterusnya.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, terutama selama bulan puasa, saya menikmati dua teks kuno yang sangat penting kedudukannya dalam masyarakat Islam, terutama di kalangan masyarakat Syiah. Yang pertama adalah Nahj al-Balaghah yang berisi kumpulan pidato dan renungan spritual-filosofis dari khalifah keempat, Ali ibn Abi Thalib (w. 661 M atau 40 H).

Yang kedua, al-Shahifah al-Sajjadiyyah, berisi kumpulan doa, munajat, dan meditasi dari Ali ibn Husain, cucu Ali ibn Abi Talib. Ia dikenal sebagai Ali Zainal Abidin, imam keempat dalam tradisi Syiah. Ia juga masyhur dengan jejuluk al-Sajjad, orang yang banyak bersujud. Imam Ali, putera Husain ini memang dikenal sebagai sosok ‘abid, orang yang banyak beribadah dan bersujud di hadapan Tuhan.

Membaca dua teks kuno ini membawa pengalaman, intelektual dan sekaligus spiritual, yang dahsyat bagi diri saya. Teks semacam ini, bagi saya, bukanlah sembarangan. Nilainya tak bisa kita samakan dengan teks yang kita baca dalam koran harian. Teks semacam ini mengandung daya keampuhan yang mirip dengan keris kuno bikinan Empu Gandring dari Kerajaan Singasari (jika keris ini masih ada).

Apa yang membedakan teks kuno semacam ini dengan teks modern? Ada sejumlah perbedaan yang bisa kita daftar. Tetapi saya hanya ingin menyebut satu saja. Teks-teks kuno yang mengandung “tuah” klasisisme semacam ini lahir bukan dari pikiran yang biasa. Ia lahir (saya berusaha keras mencari istilah yang tepat, tetapi hanya ini yang bisa saya peroleh) dari “keseluruhann-diri” pengarang bersangkutan.

Teks kuno yang bertahan berabad-abad seperti Nahj al-Balaghah dan al-Shahifah al-Sajjadiyyah itu lahir dari “the self’s wholeness”. Seluruh hidup pengarang dipertaruhkan padanya. They stake their whole lives on it.

Saya berhadapan dengan al-Shahifah al-Sajjadiyyah dengan perasaan gentar dan tertegun-tegun. Sebab di sana, saya membaca sebuah teks yang lahir dari intensitas iman yang berdarah-darah, iman yang memantik gejala demam “spiritual” yang akut (meminjam istilah yang ciamik dari William James dalam The Varieties of Religious Experience). Teks ini nyaris mustahil lahir dari orang dengan iman yang biasa-biasa saja. A dull habit, kebiasaan yang mentah, kata James.

Teks semacam ini agaknya sulit lahir dari kesunyian British Museum Library di mana dulu Karl Marx menghabiskan hari-harinya untuk menyiapkan naskah Das Kapital. Teks semacam ini hanya bisa lahir dari iman yang secara mendalam menghayati “encounter” atau perjumpaan dengan–meminjam istilah Rudolf Otto, seorang teolog Lutheran dari Jerman–Yang Suci (The Holy) yang memiliki tiga sifat utama: misterius (mysterium), menggetarkan (tremendum), menakjubkan (fascinans).

Membaca teks dari Imam Ali Zainal Abidin ini, kita seperti berhadapan dengan sesuatu yang karismatis. Karisma itu bisa kita rasakan dari setiap kalimat yang ada di dalamnya. Salah satu bagian yang paling menggetarkan saya dalam meditasi dan doa Imam Ali Zainal Abidin ini ialah meditasi ke-47 yang disebut dengan Doa Arafah. Saya ingin menyebut doa ini sebagai salah satu doa dan meditasi terindah dalam sejarah kerohanian Islam.

Kita bisa mengatakan hal yang serupa tentang teks-teks kuno yang lain yang lahir dari pelbagai tradisi agama dan intelektual. Kita bisa merasakan karisma tekstual pada karya-karya Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Kita bisa merasakannya pada karya-karya Philo, filosof Yahudi yang hidup di Alexandria pada awal abad Masehi. Kita merasakannya pada tulisan-tulisan Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rushd dan al-Ghazali. Kita bisa merasakannya pada teks-teks St. Agustinus dan Thomas Aquinas. Et cetera et cetera.

Teks-teks ini menakjubkan karena ia hidup terus, melewati segala cuaca peradaban, dan menginspirasi jutaan manusia, dari dulu hingga sekarang. Inilah keajaiban sebuah teks. Bahwa teks semacam ini bisa bertahan terus hingga sekarang, pasti karena ada “daya linuwih” di dalamnya.

Daya itu tersimpan di dalam teks-teks, seperti sebuah magma yang siap meledakkan diri di setiap zaman. Inilah yang menjelaskan kenapa kita kerap menyaksikan lahirnya sebuah mazhab pemikiran baru karena telaah atas teks-teks klasik.

Jika momennya tepat, teks klasik bisa meledak menjadi kekuatan baru yang maha dahsyat dan menggerakkan rentetan perubahan. Contoh modern dari “textual burst” (ledakan tekstual) semacam ini ialah studi-studi yang dilakukan oleh Leo Strauss atas naskah-naskah klasik dari Maimonides (filsuf Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di abad ke-12 M) dan Al-Farabi (filsuf Muslim dari Abad ke-10 M).

Leo Strauss adalah filsuf Amerika kelahiran Jerman yang mengajar di University of Chicago dan meninggal pada 1973. Studi-studinya atas karya klasik memicu lahirnya sebuah mazhab pemikiran di Amerika Serikat dan, konon, sebagian mempengaruhi wawasan politik kaum neo-konservatif di sana.

Membaca teks-teks klasik membuat saya merasa menjadi bagian dari atrium raksasa sejarah manusia. Teks-teks ini membuat saya merasa bukan sekedar insiden kecil yang cuma-cuma dalam hamparan sejarah spesies manusia. Saya merasa memiliki akar yang jauh, tetapi juga sekaligus kemungkinan yang lebih jauh lagi ke depan.

Teks klasik adalah sebuah keajaiban. Adalah pengalaman yang lezat untuk menjadi bagian dari keajaiban itu.[]

___________________________________________________

*) Sumber: http://www.qureta.com/post/keajaiban-teks-klasik

**) Peneliti dan Pemikir Muslim Indonesia

Article by: rumahkitab

Leave A Reply:

(optional field)

No comments yet.