Irrasionalitas Agama

Lagi, terjadi aksi terorisme di Indonesia. Pertama kali terjadi di bulan Ramadhan di Tanah Air. Sepertinya pelaku mengira akan dapat pahala berlimpah. Ramadhan, menurut Al-Qurán dan hadits di berbagai kitab kuning, pada dasarnya disediakan khusus sebagai media pelatihan spiritual dan pembinaan karakter para pemeluknya yang muslim agar menjadi pribadi yang lebih baik, humanis dan bermoral tinggi. Untuk itu di bulan Ramadhan, disediakan berbagai macam pahala berlimpah bagi yang ikhlas mengerjakannya. Namun rupanya, aksi kriminalitas itu ditujukan untuk tujuan ibadah, sesuatu yang sangat kontradiktif dari maksud dan tujuan Ramadhan dalam syariat Islam.

Ledakan terdengar di Mapolresta Solo, tepat 12 setengah jam setelah Menteri Agama RI Bapak H. Drs. Lukman Hakim Saifuddin mengumumkan penetapan 1 Syawwal 1437 H yang jatuh pada hari rabu, 6 Juli 2016. Esoknya, 5 Juli 2016, pukul 07.15 waktu setempat, satu hari menjelang hari raya, seorang pria polos, ceking berjenggot, berusia 31 tahun, Ketua RT 001 RW 012,[1] Desa Sangkrah, Pasar Kliwon, Surakarta, [2] meledakkan diri di area Mapolresta Solo, 1 orang tewas, yaitu pelaku sendiri, sedangkan 1 orang luka ringan, yaitu anggota Provost Mapolresta Solo. Siapakah pelaku ini? Kapolri, jenderal Badroddin Haiti, memberikan kesimpulan sementara bahwa pelakunya merupakan jaringan ISIS yang ada di Indonesia.

“Yang lalu memang perintah dari Bahrun Naim. Tapi sekarang sudah ada perintah baru dari juru bicara ISIS bahwa selama Ramadan disarankan melakukan aksi teror,” ujar Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Mapolresta Solo, Jalan Adi Sucipto, Selasa, 5 Juli 2016.[3]

Secara pribadi, Nur Rahman itu memiliki hubungan baik dengan para tetangganya karena sering membantu tetangga di lingkungan tempat tinggalnya. Namun sejak Agustus tahun 2015, sosoknya tidak pernah terlihat lagi.[4]

Dua hari sebelumnya, 4 Juli 2016, Saudi Arabia digemparkan oleh 3 buah aksi teror yang nyaris serentak di tiga kota; Jeddah, Madinah dan Qatif. Di Jeddah, ledakan terjadi di dekat kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat.[5] Pelaku diidentifikasi sebagai Abdullah Qalzar Khan, bekerja sebagai sopir pribadi. Qalzar Khan berusia 35-tahun bersama istri dan orang tuanya tinggal di Jeddah selama 12 tahun.[6] 1 orang tewas, yaitu pelaku sendiri, dan melukai 2 petugas keamanan setempat. Serangan di jeddah ini dikonfirmasi oleh Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, Jenderal Mansour al-Turki, mengatakan pemboman lebih dekat ke masjid dari pada ke Konsulat AS.[7]

Setelah itu, di hari yang sama, terjadi serangan teror bom bunuh diri di pelataran parkir Masjid Nabawi, Madinah, atau berjarak 300 meter dari makam Rasulullah Saw. mengagetkan ribuan umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah di masjid Nabawi di 10 hari terkahir Ramadhan. Kejadian itu langsung menewaskan 4 aparat keamanan melukai beberapa aparat keamanan lainnya.  Aksi teror bom bunuh diri juga terjadi di sebuah masjid di Qatif, pelaku diduga lebih dari seorang.

Sebelumnya, aksi teror juga terjadi di bandara Turki pada 28 Juni 2016, bertepatan degan 23 Ramadhan 1437H,  menewaskan 41 orang dan melukai 239 orang. Dari 41 orang korban tewas, 13 di antara mereka adalah warga negara asing, yang meliputi lima warga negara Arab Saudi, dua warga Irak, satu warga Cina, satu warga Iran, satu warga Ukraina, satu warga Tunisia, satu warga Yordania dan satu warga Uzbekistan. Korban tewas terbanyak adalah warga Turki berjumlah 23 orang.[8] Para penyerang berjumlah 3 orang pria berbaju hitam membawa senapan dan peralatan lengkap bom bunuh diri. Kelompok militan kurdi mengakui berada di balik tragedi berdarah itu.

Di Bangladesh, sekelompok militan ISIS bersenjata pedang dan bom tangan menyerang pos pemeriksaan polisi di saat banyak warga menunaikan ibadah shalat Ied di Kishoreganj, sekitar 140 kilometer dari ibu kota Dhaka, Bangladesh, Kamis, 7 Juli 2016, hari kedua lebaran.

Dua polisi dan seorang perempuan warga sipil tewas dalam serangan itu. Salah satu pelaku ditembak mati, dan empat tersangka lain ditahan setelah bom tangan dilemparkan ke pos polisi di luar lapangan tempat berlangsungnya salat. Sejak awal abad ke-19, ratusan ribu orang menggunakan lapangan Sholakia Eidgah untuk menjalankan ibadah salat Ied. Terbesar di Bangladesh, negeri berpenduduk 160 juta orang dengan mayoritas umat Muslim. Serangan terjadi kurang dari sepekan sejak pembantaian sandera di sebuah kafe di Dhaka. Sebanyak 20 sandera dan dua polisi tewas. Sebagian besar korban ditikam dengan pedang.[9] Total jumlah korban tewas dalam kejadian penyanderaan kafe itu berjumlah 28 orang, 6 di antaranya pelaku,  2 orang polisi, sisanya para sandera yang mayoritas merupakan warga negara asing.[10]

Di Thailand, sejumlah aksi terror juga terjadi, tercatat empat ledakan bom terjadi selama Ramdhan, di antaranya pada tanggal 5 Juli 2016, ledakan terjadi di Pattani, sebuah provinsi berpenduduk mayoritas Muslim di Thailand. Ledakan tersebut menewaskan seorang polisi dan tiga polisi lainnya terluka. Bom yang meledak itu disembunyikan di dalam mobil pick up bermuatan bensin. Ledakan itu pun menjalar ke kantor polisi terdekat yang berlokasi di stasiun kereta Ko Mo Kaeng, kota Nong Chick, pada Selasa pagi. Dua ledakan lainnya terjadi pada waktu yang berbeda di hari senin, 4 Juli 2016. Ledakan itu bersumber dari dua granat tipe M79 yang meledak di waktu berbeda. Ledakan pertama terjadi di depan masjid di pusat desa Moo 2, Bannang Sata. Empat warga terluka dan satu orang meninggal saat tiba di Yala Hospital. Tidak lama kemudian, granat kedua meledak di atap rumah salah satu warga yang berlokasi tak jauh dari masjid. Rumah milik laki-laki berusia 60 tahun, bernama Mayaki Benmuslim, itu pun rusak. Namun, tidak ada korban jiwa ataupun warga yang terluka. Sehari sebelumnya, Minggu, 3 Juli 2016, terjadi serangan bom di dekat masjid pusat Pattani yang menewaskan seorang polisi dan tiga warga terluka.[11]

Tepat sehari sebelum lebaran, tanggal 5 Juli 2016, beberapa jam setelah kejadian terror bom bunuh diri di Mapolresta Solo, ISIS mengunggah sebuah video yang berisi pernyataan perang dari ISIS yang ditujukan kepada pemerintah Malaysia dan Indonesia. Beberapa pernyataan pun dilontarkan pria itu melalui video.

“Ketahuilah, kami bukan lagi warga negara kamu (Malaysia dan Indonesia), dan kami sudah dibebaskan,” ujar pria itu sambil memperlihatkan seorang pria berjanggut sedang memegang paspor Malaysia. “Dengan izin Dia dan kehadiran-Nya, kami akan mendatangimu dengan kekuatan militer yang tidak dapat diatasi. Ini adalah janji Allah kepada kami.” [12]

Begitu juga terjadi berbagai ledakan bom di Irak dan Suriah yang merupakan daerah perang antara Koalisi Amerika dan Rusia yang menggempur ISIS. Total 800 korban tewas diakibatkan oleh serangan ISIS selama bulan Ramadhan di seluruh dunia, termasuk korban tewas di klub malam gay di Florida, Amerika Serikat berjumlah 49 orang.[13]

Sangat kontraditif; Ramadhan, Agama-Islam, Allahhu Akbar, Janji-Tuhan, itu semua merupakan terminologi agama yang mereka pelintir makna dan maksudnya untuk memberi alasan mereka untuk membunuh. Mereka mengira di dalam bulan Ramadhan itu semua jadi ibadah, dan membunuh juga ibadah, itu sesuatu yang sangat kontradiktif, menyalahi ajaran agama yang paling mendasar. Marah, benci, dengki, iri, dan sifat-sifat hati yang jelek saja sudah dilarang selama menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Apalagi membunuh. Mengelus dada, tarik nafas, membaca berbagai berita tentang aksi teror yang dilakukan ISIS. Terminologi-terminologi agama yang mereka pahami itu bukan hanya bertentangan dengan konteks ajaran Islam tapi juga sangat irrasional. Irrasionalitas agama itu lahir dari ajaran radikalisme yang irrasional.

Salah satu penyebab utama munculnya malapetaka radikalisme itu berasal dari kekeliruan memahami hadits Rasulullah saw. di dalam kitab Arba’in Nawawi, juga terdapat di dalam kitab shahih Bukhari nomor 25 dan di dalam kitab shahih Muslim nomor 22, yang diriwayatkan oleh, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Anas ibn Malik, Ibnu Mas’ud, Abdullah ibn Umar ibn ’Ash, berbunyi,

”Umirtu an uqâtila an-nâsa hatta yasyhadu an Lâ ilâha illallah wa anna muhammada al-rasûlullah, wa yuqîmu al-shalâta wa yu’tu al-zakâta”, artinya ”Aku diperintahkan untuk membunuh orang-orang itu hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, hingga mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat”.

Mereka memahami bahwa orang kafir (non Muslim) siapa saja wajib diperangi hingga mereka masuk Islam dan menjalankan ajarannya. Mereka memahami bahwa orang kafir itu harus dipaksa masuk Islam, kalau tidak maka mereka boleh diperangi dan dibunuh. Pemahaman yang sangat keliru dalam memahami hadits ini menyebabkan bencana pembunuhan yang luar biasa keji seperti yang dipraktikkan ISIS di Irak dan Suriah dan di berbagai lokasi di seluruh dunia yang membunuh sasarannya karena dianggap sebagai kafir tidak mau masuk Islam yang halal dibunuh. Kita ingat peristiwa pembunuhan 20 sandera di Bangladesh karena mereka dianggap oleh separatis ISIS tidak bisa membaca Al-Qur’an,[14] berikut juga ribuan korban non Muslim dari suku Yazidi yang dijadikan budak seks, alasannya karena mereka kafir dan halal untuk diperlakukan apa saja.

Dalam konteksnya hadits itu ditujukan saat Nabi Saw berhadap-hadapan dengan kabilah Qurasy Mekkah yang non Muslim yang saat itu mengancam keamanan minoritas muslim jazirah. Kata ”umirtu” itu menunjukkan secara tegas bentuk kata kerja fi’il madhi, sebuah kata kerja bentuk lampau dalam bentu mabni majhul, di dalam Matan Alfiyah Ibnu Malik bait ke 242di jelaskan,

[يَنُوبُ مَفْعُولٌ بِهِ عَنْ فَاعِلِ ¤ فِيما لَهُ كَنيِلَ خَيْرُ نَائِلِ[15

Maf’ul bih menggantikan Fa’il di dalam semua hukumnya. Seperti contoh: “Nîla khairu Nâ-ili; anugerah terbaik telah diperoleh”

Bentuk kata kerja “umirtu’ itu kata kerja bentuk mabni maf’ul dengan dhamir ”انا”; ana, atau saya, asalnya kata kerja itu berbentuk ; “amarani”, artinya “telah memberi perintah kepadaku”, menjadi, “Umirtu”, aku diperintahkan, awalnya berbentuk kata kerja aktif menjadi kata kerja pasif. Kata “aku’ atau saya dalam hal ini dhamir “انا” yang tersirat dalam kata kerja itu menunjukkan kata ganti orang pertama, dalam hal ini, Nabi Muhammad Saw sendiri yang mengucapkan kata itu, yang menunjuk dirinya sendiri. Secara hukum, perintah itu jatuh secara khusus pada diri Nabi Muhammad Saw, kalau di khususkan dengan waktu kejadian, maka kata itu “umirtu” secara hukum hanya jatuh untuk Nabi dan di masa Nabi saja. Subjek yang memberi perintah yaitu Allah Swt. Jadi, perintah itu tidak ditujukan kepada umat Nabi Muhammad Saw., baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun aneh, kebanyakan orang garis keras memaknai kata itu ”umirtu” dengan ”kami diperintahkan”. Itu salah besar, dan menyalahi kaedah sastra arab.

Kata “uqâtil” artinya, aku membunuh. Bentuk kata kerja ini menggunakan bentuk fâ’alayufâ’iluMufâ’alatan, dalam kitab Alfiyah Ibnu ’Aqil, sebuah kitab kuning paling disegani di dunia pesantren tentang sastra arab, kata kerja yang menggunakan bentuk itu bermakna ”saling melakukan”, artinya terdapat dua belah pihak yang saling melakukan hal yang sama. Kata ”uqâtilu” di sini berarti aku membunuh di dalam suatu arena peperangan. Artinya, terdapat situasi khusus dan daerah khusus, dalam situasi perang yang satu sama lain berusaha saling mengalahkan dan saling membunuh untuk menciptakan kemenangan yang menjamin keselamatan diri dan anggotanya. Artinya bukan situasi sepihak, di mana yang lainnya bersifat pasif. Jadi kata ”uqâtil” digunakan di dalam situasi perang, di mana terdapat kedua belah pihak yang saling membunuh. Sedangkan kata ”aqtul” berarti aku membunuh, itu digunakan dalam situasi damai, tentu si korban bertindak pasif. Jadi karena memakai bentuk ”mufâ’alah” maka arti ”uqâtil” di atas itu khusus pada situasi perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. selain itu, maka tidak bisa menyeret makna yang tidak sesuai standar sastra Arab. Kesalahan kelompok garis keras memaknai kata itu dengan ”aqtul”aku akan membunuh, secara otomatis makna yang lahir; aku akan senantiasa membunuh selama orang kafir itu belum masuk Islam, karena makna yang mereka gunakan menggunakan fi’il mudhâri’ yang muta’addi, yang memiliki arti ”hâl”(sekarang) ”Mustaqbâl”(akan) dan bertujuan dawâmah (senantiasa), yang memiliki subjek dan objek atau pengganti subjek (bentuk pasif). Sebuah kekeliruan yang fatal dalam penggunaan gramatika arab.

Oleh karena itu, hadits itu sangat tidak tepat digunakan untuk melegalkan pembunuhan dan aksi teror di dalam situasi yang sangat damai ditujukan terhadap orang-orang yang tidak bersalah, terlebih hadits itu tidak sama sekali memiliki pesan hukum yang ditujukan untuk umat. Hadits itu merupakan kalimat berita yang memberitahu umat yang ada di masa itu, di zaman Rasul, bahwa Rasul diberi perintah oleh Allah Swt untuk melakukan perlawanan terhadap kafir Qurasy Mekkah yang melakukan makar yang membahayakan nyawa orang-orang muslim. Jelas, Nabi Muhammad Saw bertindak sebagai suatu usaha pembelaan dalam situasi yang sangat buruk. Perlu diingat di sini bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah sama sekali memulai perang terlebih dahulu. Semua perang yang dilakukan Nabi Muhammad Saw itu selalu dalam posisi defensif; pembelaan terhadap eksistensi umat dari ancaman pihak luar, bukan memberi ancaman dan menciptakan destabilitas, apalagi melakukan penaklukkan-penaklukkan untuk tujuan menyebarluaskan syiar Islam sebagaimana yang dipahami oleh para pemuja khilafah.

Hadits itu sangat populer di kalangan umat muslim di seluruh dunia. Bila salah guru dalam mencerna maksud hadits itu tentu akan sangat berbahaya, implikasinya besar, akan hadir destabilitas keamanan, menteror sisi kemanusiaan itu sendiri, padahal agama Islam itu hadir untuk menjamin nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Mereka merubah wajah agama dari yang sangat rasional menjadi sangat irrasional. Allah Swt. berfirman,

“Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya.” (Q.S. Al-Ra’d, ayat 31).

 

Foto diambir dari Okezone.

[1]http://regional.kompas.com/read/2016/07/11/22190231/ini.surat.nur.rohman.untuk.istrinya.sebelum.ia.meledakkan.diri.di.solo?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=kpoprd

[2] http://poskotanews.com/2016/07/05/lolos-disergap-tahun-lalu-ini-identitas-pelaku-bom-bunuh-diri-solo/

[3] http://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2016/07/05/nur-rohman-bom-bunuh-diri-di-solo-dapat-perintah-langsung-dari-juru-bicara-isis-di-timur-tengah/

[4] http://m.solopos.com/2016/07/07/bom-solo-rumah-terduga-pelaku-bom-bunuh-diri-masih-dihuni-keponakan-735782

[5] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/05/078785554/aksi-terorisme-di-arab-saudi-kemungkinan-dilakukan-isis

[6] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/05/115785676/pelaku-bom-bunuh-diri-di-jeddah-warga-pakistan

[7] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/05/115785676/pelaku-bom-bunuh-diri-di-jeddah-warga-pakistan

[8] http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/06/160629_dunia_istanbul_korban

[9] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/08/118786185/serangan-teror-saat-salat-ied-di-bangladesh-empat-tewas

[10] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/03/118785169/serangan-teror-bangladesh-tak-bisa-baca-al-quran-dibunuh

[11] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/06/118785917/empat-ledakan-melanda-thailand-selama-ramadan

[12] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/05/118785670/isis-nyatakan-perang-melawan-malaysia-dan-indonesia

[13] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/06/115785872/isis-membunuh-lebih-800-orang-selama-ramadan-2016

[14] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/03/118785169/serangan-teror-bangladesh-tak-bisa-baca-al-quran-dibunuh

[15] Muhammad ibn Abdullah ibn Malik Al-Andalusi, Matnu al-Alfiyyah, Maktabah Al-Sya’biyyah, Beirut-Lebanon, tt. Hal.17

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.