HABIB

Oleh Jamaluddin Mohammad
.
Percakapan kita hari-hari ini tiba-tiba mundur ke zaman feodal di mana darah (keturunan) menentukan status sosial seseorang sekaligus memiliki hak istimewa (privilege). Karena memiliki keturunan istimewa, semisal habib, maka boleh melakukan apapun: melanggar etika sosial, hukum agama, hingga aturan negara.
.
Satu pertanyaan yang menurut saya mengandung standar ganda: apa hukumnya menghina habib? Jadi, dari pertanyaan ini seolah-olah menggiring pikiran kita hanya habib yang tak boleh dihina. Padahal, dalam islam sendiri, menghina siapapun tak dibolehkan . Tanpa kecuali.
.
Di hadapan sahabat-sahabatnya, Nabi Muhammad SAW pernah berjanji, “Jika Fatimah mencuri, ia sendiri yang akan memotong tangannya”. Ini menunjukkan tak ada imunitas hukum dalam Islam. Nabi Muhammad SAW juga tak akan menanggung dosa-dosa yang dilakukan oleh anak keturunannya. Setiap orang menanggung dosanya sendiri-sendiri (QS al-Isra: 13)
.
Namun demikian, kita juga harus adil sejak dalam pikiran. Begitu ada oknum habib berakhlak bejat, sering berbuat salah atau dosa, kita jangan serta merta menghubungkan dengan status kehabibannya . Setiap orang berpotensi melakukan kesalahan/kekhilafan (al-insan mahallu al-khata wa nisyan).
.
Karena itu, pernyataan (tuduhan) HRS yang menyebut Nikita Mirzani sebagai lonte adalah tuduhan serius yang merendahkan martabat kemanusiaan. Ia harus diingatkan/dihukum terlepas ia habib atau bukan. Tuduhan seperti itu bisa muncul dari siapapun.
.
Di mata pengikut fanatiknya HRS ini seolah tak tersentuh. Ia sakral dan suci melebihi kesakralan dan kesucian al-Quran maupun Nabi Muhammad SAW. Ketika kita mengkritik sikap, perilaku maupun perkataannya, kita dianggap menghina atau su’ul adab. Bukan kepada sosok HRSnya melainkan kepada status kehabibannya. Jelas tidak adil dan mengandung standar ganda.
.
Ketika berhadapan dengan mereka, kita kerap kali disudutkan dengan satu pertanyaan umum dan mengandung standar ganda: apakah Anda menghormati habib? Saya menghormati siapapun, termasuk habib, tapi saya tetap merasa setara dengan mereka. Setara sebagai makhluk Allah SWT. (Al-Hujurat: 13)
.
Salam,
Jamaluddin Mohammad
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.