Bukan Mudik, Tapi Kembali ke Fitrah

BEBERAPA hari ke depan bulan Ramadhan yang diklaim sebagai bulan suci ini akan usai. Umat Muslim akan merayakan hari Idul Fitri alias lebaran. Seperti biasa, gema takbir akan terdengar bersahutan memehuhi rongga langit dan menyusupi sudut-sudut gelap kehidupan. Rasa bahagia yang menyesaki dada terpancar dari raut wajah setiap insan. Bermacam makanan terhidang di meja setiap rumah dengan aromanya yang khas dan nyaman.

Senyum sumringah yang setia menghias di bibir disertai pakaian indah mewangi nan menarik perhatian yang membalut tubuh, bersalam-salaman, bermaaf-maafan, silaturrahim, dan mudik atau pulkam (pulang kampung) bagi yang berada di luar wilayah asal merupakan formalitas yang harus dilakukan ketika merayakan hari lebaran.

Idul Fitri. Inilah nama hari kemenangan yang setiap tahun dirayakan oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Sebetulnya, bila ditilik secara bahasa, Idul Fitri memiliki signifikasi spiritual sangat mendalam; kembali suci. Artinya, setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan îmân-an wa ihtisâb-an, maka setiap muslim dianggap telah kembali kepada kesucian rohani dan jasmaninya.

Demikianlah sejatinya makna Idul Fitri seperti telah digariskan oleh agama. Namun secara riil, di alam nyata, adakah makna Idul Fitri begitu adanya? Kalau kita baca di beberapa media massa tentang pencurian, pembunuhan, dan aksi-aksi kriminal lainnya yang terjadi tepat ketika aroma lebaran mulai memburai menyegat hidung, makna hakiki Idul Fitri sebagaimana disebutkan di atas jelas-jelas tidak terasa. Aksi-aksi kriminal itu telah menegasikannya.

Makna Idul Fitri yang saat ini tengah mengemuka dan menjadi trend di mana-mana adalah mudik bin pulkam (pulang kampung). Demi kumpul bersama keluarga, orang-orang mulai dari pejabat, artis, mahasiswa/i, karyawan dan pedagang tidak takut mengeluarkan duit untuk membeli tiket bus dan pesawat yang harganya melangit, bahkan ada yang rela berebut memasuki kereta api yang sesak.

Jadi nampak sekali, betapa Idul Fitri tidak lagi dimaknai “kembali kepada kesucian”, tetapi “kembali ke kampung halaman”. Sebenarnya, kalau direnungkan secara jernih, aktivitas mudik dalam konteks Idul Fitri tidaklah penting, sehingga tidak perlu diperjuangkan mati-matian apalagi sampai jadi korban. Sebab di luar momen itu acara mudik tetap bisa dilakukan tanpa harus kehilangan kontak batin dengan sanak famili di kampung halaman.

Seperti dikemukakan di awal tadi, hal yang harus lebih diutamakan dalam momen Idul Fitri adalah kesucian jiwa dari segala noda dan dosa. Sebab inilah yang selalu ditekankan agama melalui teks-teks normatifnya, baik dari al-Qur`an maupun al-Sunnah.

Bulan Ramadhan adalah bulan pembersihan sekaligus pengisian diri. Dalam artian bahwa selama satu bulan penuh umat Muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa dengan spirit perjuangan, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu, tidak makan dan tidak minum, menahan amarah, dan hal-hal lain yang dapat merusak kesucian (pembersihan) di satu sisi, juga perjuangan berbuat amal kebajikan demi meraup pahala yang sebanyak-banyaknya (pengisian) di sisi lain.

Nah, ketika jiwa seorang sudah bersih dari berbagai noda dan dosa, maka ia termasuk dalam golongan al-‘Â`idîn (orang-orang yang kembali [ke fitrah]). Sedangkan bila jiwanya telah terisi dengan cahaya sebagai manifestasi pahala-pahala amal kebajikan yang dilakukannya, maka dia termasuk golongan al-Fâ`izîn (orang-orang yang menang dan berhasil [meraih banyak pahala]). Kedua hal ini, al-‘awdah (hal kembali [kepada fitrah]) dan al-fawz (kemenangan/keberhasilan [meraup banyak pahala]), harus sama-sama diupayakan oleh setiap muslim selama bulan puasa. Yang pertama lebih bersifat personal (hubungan vertikal dengan Allah), adapun yang kedua lebih bersifat sosial (hubungan horizontal dengan sesama). Keimanan personal kepada Tuhan tanpa disertai kebajikan sosial kepada sesama manusia tidaklah berarti apa-apa, demikian juga sebaliknya.

Memang ada benarnya apabila orang yang menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh dan mengharap keridhaan dari Tuhan, begitu Idul Fitri tiba, ia dianggap suci dan bersih layaknya bayi yang baru lahir tanpa dosa. Tapi ingat, bayi tidak mempunyai kebajikan apapun, sehingga kesuciannya menjadi tidak berguna. Jadi, kesamaan orang yang telah menunaikan kewajiban puasa penuh kesungguhan dengan bayi yang baru lahir hanya pada satu sisi, yaitu sisi kesucian personalnya saja. Ini berarti orang yang berpuasa lebih baik dari bayi, sebab dia memiliki nilai plus berupa kebajikan sosial.

Dari itu, sangat tidak dibenarkan kalau ada orang ketika lebaran menjelang hanya sibuk mempersiapkan keperluan untuk mudik, sehingga aspek yang lebih penting dari itu, yaitu kesucian dirinya dan kualitas amal kebajikannya kepada sesama, menjadi terabaikan. Maka hilanglah makna Idul Fitri yang sebenarnya, dan ia tidak termasuk ke dalam golongan al-Â`idîn wal Fâ`izîn yang sejatinya sangat diharapkan setiap orang yang menjalankan ibadah puasa.

Maka perlu kiranya ditegaskan kembali, bahwa mudik menjelang lebaran tidak mesti dilakukan. Silaturrahim dengan keluarga tidak harus dilakukan dengan bertemu langsung, bisa saja melalui alat-alat komunikasi yang kini telah tersedia secara bebas. Telephon/HP adalah salah satu dari sekian sarana komunikasi yang bisa digunakan untuk bersilaturrahim dan bermaaf-maafan dengan keluarga di kampung halaman. Dan ini tentu saja, di samping untuk menghemat biaya karena sarana transportasi membutuhkan ongkos yang sangat mahal, juga, yang lebih penting, untuk tidak mengganggu ketenangan kita dalam melaksanakan ibadah puasa.[]

PUASA DI TENGAH KESIBUKAN BEKERJA

Oleh Darsono

[Pengusaha – Pendiri Universitas Pamulang (UNPAM), Tangeran Selatan]

 

“Dalam hal puasa, sejak kecil saya sudah diajarkan. Di usia kira-kira 5 tahun saya sudah mulai melaksanakan puasa. Kehidupan keluarga yang serba susah membuat orangtua benar-benar menanamkan itu. Bukan hanya puasa Ramadhan, tetapi juga puasa Senin-Kamis. Puasa menjadi kesempatan bagi keluarga untuk lebih ‘irit pengeluaran’—kesempatan untuk tidak banyak makan. Untuk buka dan sahur kami hanya makan sedikit nasi jagung atau katul gabuk dengan lauk-sayur seadanya. Tidak ada istilah “perbaikan gizi” di bulan Ramadhan. Sekedar ‘perut terisi’ saja kami sudah sangat bersyukur.”

 

 

Latar Belakang

Nama saya Darsono. Lahir pada tanggal 5 Juli 1955 di Desa Ngelaren, Kel. Potorono, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Yogyakarta. Saudara saya semuanya ada sembilan orang (4 laki-laki, 5 perempuan). Satu orang di antaranya lain ibu. Saya adalah anak keempat.

Masyarakat di kampung saya semuanya muslim. Umumnya mereka adalah petani yang setiap hari sibuk di sawah dan ladang untuk bercocok tanam demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seingat saya, dulu itu listrik belum masuk ke kampung saya. Jalanan belum ada yang diaspal. Listrik baru masuk sekitar tahun 1990-an.

Kehidupan yang serba susah pada masa itu membuat orangtua mendidik saya dengan sangat keras. Apalagi di tahun 1965 terjadi kemarau panjang. Kekeringan dan kelaparan ‘mengamuk’ di mana-mana. Saya ingat waktu itu banyak orang yang mati kelaparan, terutama di daerah Wonosari, gunung Kidul. Keadaan kampung kala itu sangat tandus seperti di padang pasir karena memang belum ada penghijauan. Tikus-tikus merajalela menyerbu tanaman di sawah dan ladang. Batang singkong saja dimakan oleh tikus. Karena itulah kemudian banyak orang yang memakan tikus agar bisa bertahan hidup. Tikus-tikus yang berkeliaran ditangkap ramai-ramai, lalu di masak dan dimakan.

Pada masa kemarau panjang itu, saya meluangkan waktu untuk menanam ubi. Dalam kondisi kekeringan seperti itu tidak mungkin saya menanam padi. Saat itu ubi bisa ditukar dengan rumah. Orang-orang gunung Kidul—terutama Wonosari—turun untuk mencari makan. Mereka menawarkan rumah-rumah mereka sekedar untuk mempertahankan hidup.

Di lingkungan saya, di kampung saya, kehidupan juga sangat susah. Kami biasa makan katul gabuk (atau dedek, yaitu kulit ari beras yang dislep tetapi tidak ada menirnya) yang kalau di zaman sekarang untuk makanan ayam. Katul gabuk itu dimasak oleh ibu untuk kami makan. Tidak ada campuran apapun, paling hanya ditambahkan sedikit garam sebagai penyedap agar enak saat dimakan. Kami sebenarnya sadar bahwa itu tidak layak menjadi makanan manusia. Tetapi karena tidak ada lagi yang bisa dimakan, dengan sangat terpaksa kami memakannya.

Meski hanya sekedar katul gabuk, orang-orang di kampung saya banyak yang tidak mampu membelinya. Untungnya kemudian, antara tahun 1965 sampai 1969 ada pembagian bulgur (sejenis gandum untuk makanan kuda). Tetapi kata orang, bulgur itu kalau dimakan bisa mengembang di dalam perut. Sehingga, kalau terlalu sering memakannya, tentu akan sangat membahayakan kesehatan yang berujung pada kematian. Banyak juga yang sudah menjadi korbannya.

Orangtua saya yang sejak kecil memang buta huruf, tidak mengerti apa tujuan dan manfaat sekolah, di samping kehidupan yang memang serba sulit, mendidik anak-anaknya hanya untuk bekerja dan bekerja. Kami memang diberi kebebasan untuk memilih. Namun tetap harus bekerja keras, tidak boleh main-main. Sebab tidak mudah untuk menghidupi sekian banyak orang dalam keluarga. Walaupun ayah saya seorang petani, tetapi beliau—sebagaimana penduduk kampung pada umumnya—disebut “petani burem”, karena kepemilikan lahannya kurang dari 0,2 hektar. Makanya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak cukup hanya dengan mengandalkan pertanian. Apapun yang kami bisa pasti kami kerjakan; memelihara kambing, memelihara sapi, ngarit rumput, dan membuat batu bata adalah di antara pekerjaan kami sehari-hari.

Terus terang, di waktu kecil saya merasa kehilangan banyak masa kanak-kanak. Orang sekarang bilang “masa kecil kurang bahagia”. Tidak ada ceritanya saya bermain sepak bola, bola kasti, bola volli dan permainan-permainan lainnya bersama anak-anak kampung yang lain. Sebagian besar waktu hanya digunakan untuk bekerja. Kalau ketahuan ikut main dengan mereka, saya akan langsung dimarahi atau bahkan digebukin oleh ayah.

Namun demikian, di tengah-tengah kesibukan bekerja, setelah tamat SD, saya tetap memilih untuk meneruskan sekolah. Untuk biayanya saya ambil dari tabungan yang saya kumpulkan dari hasil bekerja setiap hari. Saya mungkin di antara yang paling keras menentang harapan-harapan orangtua terhadap anak-anaknya. Orangtua lebih senang kalau anak-anaknya fokus bekerja saja, tidak memikirkan yang lain. Tetapi saya tidak mau, saya harus terus bersekolah meskipun tanpa dukungan dari orangtua.

Di samping alasan ingin terus belajar, saya melanjutkan sekolah sebetulnya hitung-hitung untuk istirahat. Melepas segala kepenatan fisik dan menggantinya dengan kegiatan belajar. Sebenarnya sih sama saja, sama-sama capek; bekerja membantu ayah membuat capek fisik, belajar di sekolah membuat capek otak. Tetapi, saya merasa kehidupan saya sudah sedemikian susahnya saat itu. Saya tidak ingin berada dalam keadaan seperti itu terus-menerus. Harus ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk merubah nasib agar di masa depan menjadi lebih baik. Makanya saya memutuskan untuk melanjutkan studi hingga perguruan tinggi. Waktu itu saya masuk di IKIP Yogyakarta untuk Program S1 Jurusan Ekonomi.

Suatu saat terjadi sebuah peristiwa yang membuat ayah marah kepada saya. Ceritanya, saya disuruh ayah membuat batu bata seperti biasanya setiap hari. Sebelum berangkat ke sekolah, saya memang selalu menyempatkan diri untuk itu. Tetapi batu bata itu kan tidak langsung kering, harus menunggu sampai siang untuk disisik supaya rapi. Makanya saya jemur dulu agar cepat kering. Setelah itu saya lalu berangkat ke sekolah. Ternyata, sebelum saya pulang, hujan tiba-tiba turun. Akibatnya, batu-batu bata yang saya buat itu menjadi lumer, hancur semuanya.

Ayah saya yang mengetahui hal itu marah besar. Saya diusir dari rumah. Tidak boleh lagi bekerja untuk membantu keluarga. Hubungan saya dengan ayah memang tidak begitu dekat. Kalau dengan ibu hubungan saya sangat dekat, tetapi beliau tidak bisa berbuat apa-apa saat saya diusir dari rumah. Ayah, sebagai kepala keluarga, diperlakukan seperti raja yang sangat berkuasa. Ibu pun memperlakukannya demikian. Apapun semuanya demi ayah. Dalam hal apapun yang didahulukan selalu ayah. Di kampung saya umumnya seperti itu. Berbeda dengan orangtua zaman sekarang, dalam hal apapun anak-anak selalu didahulukan. Ayahnya pun bahkan mengalah.

Saya pergi dari rumah dengan perasaan sedih. Kebetulan di kampung ada beberapa rumah yang tidak ditempati karena ditinggal transmigrasi oleh para pemiliknya. Saya memutuskan untuk tinggal di salah satunya. Karena tidak boleh lagi bekerja membantu keluarga, maka saya pun bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya membuat batu bata sendiri. Sambil lalu kuliah saya menjual batu bata di pinggir-pinggir jalan dan tempat-tempat penjualan material. Hasilnya sebagian untuk makan dan sebagian lagi saya tabung. Ibu kadang-kadang datang menemui saya sambil membawa makanan. Malah beberapa waktu berikutnya beliau mengajak saya untuk pulang. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya saya mau juga pulang ke rumah.

Sebenarnya apa yang dilakukan ayah terhadap saya itu adalah sebuah ‘kekejaman’. Tetapi, sedikitpun saya tidak pernah menyalahkannya. Justru itu saya anggap sebagai pendidikan dan tempaan mental yang sangat penting guna menumbuhkan jiwa kemandirian. Saya dan saudara-saudara saya yang lain terbiasa hidup mandiri. Tidak ada seorang pun dari kami, dalam keadaan apapun, yang hidup bergantung kepada orangtua dan saudara-saudaranya sendiri. Semuanya makan dan memenuhi kebutuhan keluarganya dengan hasil keringat sendiri. Malah, saudara-saudara saya yang sampai sekarang masih bertahan hidup di kampung, kehidupan mereka saya lihat lebih baik daripada penduduk kampung yang lain.

Meskipun keadaan saya sekarang sudah seperti ini, orang bilang saya adalah pengusaha yang sangat sukses di Jakarta—masih kata orang, padahal menurut saya biasa saja—, tetapi tidak ada satupun dari saudara-saudara saya yang hidup bersama saya. Tiga orang dari mereka ada yang hidup di Jakarta; satu bekerja sebagai PNS, dua lainnya bekerja sebagai wiraswastawan. Dan mereka tidak ada yang mau hidup dengan saya.

Saya pribadi memang mempunyai prinsip, siapapun yang ingin hidup dengan saya, dia harus memiliki kompetensi yang bisa digunakan untuk membantu lembaga pendidikan (Universitas Pamulang) yang saya dirikan. Dia tidak boleh berpura-pura. Karena lembaga yang saya dirikan itu meliputi andil banyak orang yang ikut berpartisipasi dan mengharapkan berkah dari lembaga tersebut. Sehingga, kalau dia berpura-pura dan tetap hidup bersama saya, berarti dia telah mengambil hak orang lain. Jadi, kalau memiliki kompetensi yang cocok, saya persilahkan untuk bekerja di sini. Tetapi kalau tidak, saya harapkan jangan bekerja di sini.

Semua saudara saya memahami hal itu. Dan mereka memang tidak mau dan tidak akan pernah mau untuk hidup dengan saya—tidak mau menjadi ‘benalu’ dalam kehidupan saya apalagi orang lain. Kalau saya boleh bilang, setiap orang dari mereka sudah menjadi ‘juragan’ di bidangnya masing-masing, meskipun hanya kecil-kecilan.

Dari dulu, di samping memilih alternatif-alternatif yang akan ditekuni dan digeluti, saya juga mempunyai target-target waktu yang harus dicapai; di usia ke-26 saya harus bisa hidup mandiri, di usia ke-29 saya harus menikah, di usia ke-35 saya harus mempunyai usaha yang ditekuni, di usia ke-40 usaha yang saya tekuni harus bisa mandiri dan bisa menaungi siapapun yang ikut terlibat, di usia ke-50 saya harus sudah benar-benar matang dan mapan, di usia ke-55 saya harus mempersiapkan generasi pengganti.

 

Suasana Ramadhan di Kampung

Banyak pengalaman yang saya alami pada waktu masih kecil dulu. Semuanya menjadi kenangan tak terlupakan karena saya hidup di sebuah kampung yang serba kesusahan. Dan saya menganggap itu sebagai proses hidup yang memang harus saya jalani.

Dalam hal puasa, sejak kecil saya sudah diajarkan. Di usia kira-kira 5 tahun saya sudah mulai melaksanakan puasa. Kehidupan keluarga yang serba susah membuat orangtua benar-benar menanamkan itu. Bukan hanya puasa Ramadhan, tetapi juga puasa Senin-Kamis. Puasa menjadi kesempatan bagi keluarga untuk lebih ‘irit pengeluaran’—kesempatan untuk tidak banyak makan. Untuk buka dan sahur kami hanya makan sedikit nasi jagung atau katul gabuk dengan lauk-sayur seadanya. Tidak ada istilah “perbaikan gizi” di bulan Ramadhan. Sekedar ‘perut terisi’ saja kami sudah sangat bersyukur.

Bagi kami di bulan Ramadhan tidak kata ‘libur kerja’ karena alasan puasa. Semuanya berjalan seperti biasa. Setiap harinya kami tetap bekerja dari pagi (habis shubuh) sampai sore. Menjelang maghrib kami langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah tidak ada yang kami lakukan selain hanya duduk-duduk karena sudah capek. Dan biasanya, setiap maghrib di masjid ada buka puasa bersama. Saya melihat orang-orang saling berebutan. Padahal yang disuguhkan hanyalah air kelapa. Mau bagaimana lagi, mau makan yang lain tidak mungkin ada.

Masa jeda antara sehabis shalat Maghrib sampai Isya` saya gunakan untuk mengaji al-Qur`an di masjid. Kemudian, ketika adzan Isya` berkumandang, para penduduk, mulai dari anak-anak hingga orang-orang tua berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat Tarawih. Seingat saya, meskipun secara tradisi lebih cenderung ke Muhammadiyah, namun dalam pelaksanaan shalat Tarawih kami ikut tradisi NU, yaitu 23 rakaat. Ada juga yang shalat hanya 11 rakaat, tetapi itu hanya sedikit. Jangankan shalat Tarawih, shalat Shubuh pun kami ikut tradisi NU, yaitu pakai qunut. Dengan begitu bisa dibilang, kami adalah Muhammadiyah tetapi NU—jadinya Muhammad NU.

Shalat Tarawih pun usai. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Namun ada sebagian, terutama anak-anak dan para remaja, yang memilih untuk tetap berada di masjid. Beberapa di antaranya melakukan tadarus (membaca al-Qur`an secara kolektif) di dalam masjid, sisanya bermain-main di halaman masjid. Ada yang main mercon bumbung (sejenis mercon yang terbuat dari bambu berisi minyak tanah), ada yang main petak umpet, dan lain sebagainya. Saya sendiri biasanya langsung pulang untuk istirahat karena capek setelah seharian bekerja.

Sekitar jam 2 malam ibu bangun untuk memasak. Kemudian sekitar jam 3 beliau membangunkan ayah dan anak-anaknya. Dari kejauhan terdengar suara kentongan yang ditabuh beberapa anak sambil berkeliling kampung membangunkan para penduduk untuk sahur. Usai makan sahur saya dan saudara-saudara saya pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Acara setelah shalat biasanya mendengarkan ceramah (kultum) dari seorang ustadz yang menjadi imam di masjid tersebut. Dan sesudah itu kami pulang dan bekerja seperti biasa.

 

Ramadhan di Jakarta

Tahun 1982, setelah lulus dari S1—waktu itu umur saya sudah 26 tahun—, saya pamit kepada kedua orangtua untuk merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Saya katakan kepada mereka kalau saya sudah lulus kuliah. Tetapi mereka tidak mengerti apapun tentang lulus atau tidaknya kuliah saya. Yang mereka tahu hanyalah bahwa saya pamit untuk bekerja di Jakarta. Dengan modal ilmu dari IKIP dan pendidikan kemandirian (kerja keras) dari keluarga saya berangkat ke Jakarta dengan naik kereta. Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana Jakarta itu. Saya tahunya, kata orang-orang, Jakarta itu adalah tempat yang mudah untuk mencari pekerjaan. Tekad kuat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik itulah yang mendorong saya berangkat.

Ketika sampai di Jakarta, saya mencari teman saya yang bekerja sebagai pemadam kebakaran di daerah Roxy. Dari Pasar Minggu saya naik metro mini. Itu adalah kali pertama saya naik metro mini. Ketika sampai di daerah Mampang, oleh supirnya saya disuruh turun. Dia bilang ke saya katanya sudah sampai Roxy. Karena saya tidak tahu, saya turun saja. Kemudian saya bertanya kepada penjual rokok tentang alamat yang saya cari. Saya kaget ketika orang itu bilang, “Di sini bukan Roxy, Pak. Di sini Mampang. Roxy masih jauh. Kalau mau ke sana bapak naik yang ke jurusan Blok M, lalu dari Blok M naik yang ke jurusan kota.” Tanpa berpikir panjang saya pun pergi ke Blok M. Sesampainya di sana saya bingung harus ke mana. Mau bertanya ke orang-orang saya malu. Akhirnya saya memutuskan mencari teman saya itu di lain hari saja.

Tuhan rupanya masih menjaga dan melindungi saya. Di daerah Warung Buncit ada orang yang sangat baik hati yang menyediakan sebuah rumah petak (rumah kontrakan) miliknya untuk saya tempati. Padahal, saya sama sekali tidak kenal dengan orang itu. Awalnya saya ingin mengontraknya, tetapi dia tidak mau. Dia hanya ingin saya membimbing anak-anaknya supaya mempunyai semangat untuk terus bersekolah. Namun, saya tidak begitu lama tinggal di rumah itu. Saya merasa tidak enak kepada pemiliknya. Akhirnya saya mencari tempat lain dan mengontrak sendiri. Kontrakan baru yang saya tempati itu kondisinya benar-benar memprihatinkan. Tidak ada kamar mandi dan tempat buang airnya. Untuk buang air saya harus pergi ke empang yang berada tak jauh dari kontrakan saya itu.

Tidak ada waktu yang saya sia-siakan selama saya tinggal di situ. Siang dan malam saya bekerja. Malamnya saya mengajar di Pondok Karya, di sebuah SMEA yang kegiatan belajarnya dilangsungkan di malam hari. Siangnya saya pergi ke Pasar Ular mencari barang-barang bekas yang masih bagus untuk saya tawarkan ke kantor-kantor. Salah satu kantor yang menjadi langganan saya waktu itu adalah Kantor Kejaksaan Agung. Saya datangi bendaharanya dan saya ajak untuk bekerjasama. Di sana ada sekitar 3000 pegawai. Mereka biasanya senang sekali kalau ditawari barang-barang kreditan. Di antara barang-barang yang mereka pesan adalah televisi—pada masa itu televisi merupakan barang mewah—, kulkas dan lain-lain.

Masih banyak sebenarnya pekerjaan saya yang lain. Dan semuanya saya lakukan demi masa depan yang lebih baik. Namun, sesibuk dan seberat apapun pekerjaan saya, di bulan Ramadhan saya tetap menjalankan ibadah puasa sebagai sebuah kewajiban dari agama. Puasa Senin-Kamis juga masih sering saya kerjakan, sama seperti ketika saya berada di kampung. Lapar dan dahaga menjadi suatu hal yang biasa di tengah-tengah kesibukan kerja sehari-hari.

Banyak sisi positif yang bisa diperoleh dari puasa. Dari sisi kesehatan, misalnya, puasa dapat meringankan kerja pencernaan. Dari sisi kesalehan personal, puasa dapat menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, kejujuran dan kesungguhan. Dari sisi sosial-kemanusiaan, puasa dapat melahirkan kepedulian kepada sesama. Kita bisa merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan, sehingga mendorong kita untuk senantiasa berbagi. Kita tidak boleh kenyang sendiri sementara orang-orang di sekitar kita kelaparan. Saya mempunyai sebuah keyakinan, dalam semua harta yang saya miliki terdapat hak orang lain yang harus saya berikan. Kalau saya mengumpulkan harta dan hanya saya nikmati sendiri, itu sebetulnya bukan kenikmatan dan kebahagiaan bagi saya. Kalau saya mempunyai uang dan karenanya saya kemudian makan yang enak-enak, mungkin saya akan sakit. Kalau saya mempunyai uang dan karenanya saya kemudian membeli mobil-mobil mewah, mungkin akan banyak orang yang iri hati dan berpotensi menjadi musuh saya. Akan lebih baik bila saya bisa menahan diri dan memberikan sebagian dari harta yang saya miliki kepada yang berhak mendapatkannya. Inilah sebetulnya di antara inti dari ajaran puasa; menahan diri dan berbagi.

 

Lebaran Idul Fitri

Momen lebaran Idul Fitri di kampung saya kira tidak jauh beda dengan di daerah-daerah lain di Indonesia, khususnya di Jawa. Hal yang paling saya ingat adalah baju baru. Sesusah apapun kondisi ekonomi keluarga, tetapi baju baru untuk dipakai pada saat lebaran orangtua selalu mengupayakannya. Dan memang, saya mempunyai baju baru itu hanya pada waktu lebaran Idul Fitri saja. Baju baru seolah menjadi penanda datangnya momen berbahagia itu.

Pagi-pagi, sekitar jam 7-an, kami sekeluarga pergi ke masjid untuk shalat Id. Setelah shalat semua orang bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Sesudah itu kami makan bareng-bareng, menyantap hidangan yang disedikan oleh pengurus masjid hasil sumbangan dari para penduduk. Lalu sehabis makan kami pulang ke rumah dan sungkeman kepada orangtua, meminta maaf atas segala dosa dan kekhilafan. Kemudian setelah itu kami keliling kampung, bahkan ke kampung-kampung tetangga, untuk bersilaturrahim. Seharian kegiatannya seperti itu, bahkan sampai 2 atau 3 hari.

Belakangan, setelah tinggal di Jakarta, dan diberi sedikit rizki oleh Allah, khusus untuk Hari Raya Idul Fitri saya mempunyai kebiasaan menyembelih sapi-kambing dan membagi-bagikan dagingnya kepada orang-orang yang tidak mampu, dan itu lebih banyak daripada di lebaran Idul Adha. Di lebaran Idul Fitri banyak orang yang ingin memasak daging. Sementara daging di pasar-pasar harganya melangit, sangat mahal. Dan orang yang membagi-bagikan daging juga tidak ada. Makanya saya berinisiatif menyembelih sapi-kambing dan membagi-bagikan dagingnya di lebaran Idul Fitri, karena memang banyak orang yang membutuhkannya. Mereka akan lebih senang ketika diberikan sesuatu di saat mereka memang membutuhkannya. Sebenarnya itu merupakan salah satu bentuk zakat dari saya kepada mereka.

Biasanya saya melakukan penyembelihan sapi-kambing dua hari sebelum lebaran Idul Fitri. Saya kumpulkan anak-anak yatim, janda-janda dan orang-orang tidak mampu dari lingkungan sekitar rumah saya (terdiri dari 2 RW dan 5 RT). Saya bagikan kepada mereka daging, beras, dan uang. Adapun di lebaran Idul Adha saya menyembelih sapi-kambing sekedarnya saja, sekedar melaksanakan kewajiban. Toh di mana-mana sudah banyak orang lain yang melakukannya. Orang mudah mendapatkan daging.

Selain membagikan daging, untuk momen lebaran Idul Fitri saya juga menjual daging. Tetapi saya menjualnya tidak di rumah sendiri, karena tidak akan ada orang yang membelinya. Daging yang saya sediakan di rumah khusus hanya untuk dibagi-bagikan saja. Saya berjualan daging di jalan raya Parung, atau di pangkalan-pangkalan ojek. Niat saya berjualan bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi juga untuk membantu masyarakat. Kalau di pasar-pasar harga daging per kg mencapai 110 ribu, saya menjualnya hanya 80 ribu. Tentu saja, apa yang saya lakukan ini mengundang orang-orang kampung datang berbondong-bondong untuk membeli. Karena di samping harganya lebih murah, daging yang saya jual itu masih baru dan segar (hasil dari nyembelih sendiri). Adapun yang dijual di pasar-pasar dagingnya berasal dari Bulog (daging impor yang sudah di-es sekian hari).

Untuk lebaran Idul Fitri juga, ada sebuah kewajiban yang tidak bisa saya tinggalkan, yaitu pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) kepada para karyawan yang bekerja di perusahaan dan lembaga pendidikan yang saya bangun. THR yang saya berikan biasanya berupa uang, di samping gaji bulanan mereka. Selain THR kepada para karyawan, saya juga memberikan parsel kepada 120 anggota POLSEK, mulai dari petugas TU-nya sampai penjaga kantornya. Dalam setiap bingkisan parsel itu biasanya ada gula, sirup, kopi, dll.

 

Potensi Zakat untuk Mengentaskan Kemiskinan

Saya pribadi suka sekali membagi-bagikan zakat secara langsung kepada orang-orang yang berhak. Dengan begitu saya merasa lebih bermakna dan lebih tepat sasaran. Saya tidak begitu yakin dengan lembaga zakat yang dibentuk oleh negara. Dan saya kira sistem pengelolaan uang zakat yang dikumpulkan oleh lembaga negara harus diperbaharui supaya lebih bermanfaat untuk mengentaskan kemiskinan, bukan malah melestarikan kemiskinan.

Kemampuan negara mengumpulkan uang zakat sebetulnya merupakan sesuatu yang luar biasa. Kalau itu dimanfaatkan secara lebih produktif dengan memberikan kesempatan kerja, bukan dibagi-dibagikan langsung, mungkin akan banyak orang yang ikut terlibat dan bisa hidup mandiri dari situ dengan tidak membunuh harga dirinya. Tetapi kalau uang zakat itu hanya dikumpulkan dan kemudian dibagi-bagikan begitu saja, tentu tidak akan membawa manfaat yang lebih besar.

Indonesia dikenal dengan mayoritas muslimnya. Oleh agama mereka diwajibkan membayar zakat fitrah. Sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan. Mereka menjadi pengemis dan meminta-minta di jalanan. Saya kira setiap orang dari mereka tidak mau hidup miskin, tidak mau mengemis di jalanan. Masing-masing pasti ingin menjadi orang kaya, ingin menjadi pemberi zakat bukan penerima zakat. Tetapi mereka memerlukan tuntunan, arahan dan kesempatan. Untuk itu, akan lebih baik bila uang zakat yang dikumpulkan itu dimanfaatkan untuk memberdayakan mereka dengan cara memberikan kesempatan kerja. Karena sebenarnya banyak dari mereka yang memiliki kemampuan untuk membuka usaha tetapi tidak mempunyai modal. Di sinilah peran negara untuk memberikan mereka modal yang diambil dari uang zakat yang telah terkumpul itu.

Kalau tidak memberikan modal usaha, bisa juga uang zakat itu diinvestasikan oleh negara untuk membuka usaha dengan mempekerjakan orang-orang yang tidak mampu itu. Mungkin salah satu caranya negara bisa mewajibkan beberapa orang dari setiap RT untuk dipekerjakan setiap tahunnya. Semakin tahun semakin bertambah. Orang-orang miskin, para pengangguran, semakin tahun semakin berkurang. Sebenarnya, mereka miskin itu karena nganggur, tidak bekerja, tidak berproduksi. Tetapi kalau mereka diberi kesempatan kerja dan berproduksi, mereka akan menghasilkan, tidak akan miskin lagi. Nah, kesempatan kerja inilah yang kurang di negara kita, tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk yang melaju begitu cepat.

Kesempatan kerja sudah diberikan, tetapi keterampilan yang dikuasai setiap orang tidak sesuai dengan kesempatan tersebut, maka itu memerlukan pendataan; masyarakat memiliki keterampilan apa? Bagi yang belum memiliki keterampilan, kira-kira supaya tetap jalan dan menghasilkan ia harus dikasih keterampilan apa? Dari sinilah nantinya masyarakat bisa menjadi lebih mandiri, tidak ada lagi pengangguran dan kemiskinan. Semuanya bekerja dan menghasilkan. Mereka tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke luar negeri hanya untuk menjadi TKW/TKI. Semakin banyak kesempatan kerja yang diberikan, negara akan semakin kaya.

Saya sering melakukan kunjungan ke pesantren-pesantren. Di antaranya saya pernah mengunjungi sebuah pesantren besar di Parung yang dipimpin oleh seorang habib. Jumlah santrinya 22 ribu orang. Mereka belajar di pesantren tersebut secara gratis. Tetapi di situ saya melihat ada kekurangan dalam hal pendidikannya. Maksud saya, para santri itu hanya dididik untuk menjadi manusia yang bermoral. Karakter mereka memang bagus. Mereka mandiri, nerimo dan mau kerja. Hanya saja, pendidikan yang mereka peroleh itu lebih cenderung pada tujuan akhirat semata. Sehingga, meskipun mempunyai mental dan karakter yang bagus, mereka tidak mempunyai wawasan untuk usaha dan wawasan untuk mandiri. Akibatnya, ketika lulus mereka tetap miskin. Padahal agama tidak pernah melarang siapapun dari umatnya untuk bercita-cita menjadi orang kaya. Kalau kita miskin, apa yang bisa kita perbuat untuk kemajuan bangsa? Mestinya di pesantren tersebut ada keseimbangan dalam hal pendidikannya agar santri-santri bisa sukses. Bukan hanya sukses di akhirat, tetapi juga sukses di dunia. Kaya di dunia dan kaya di akhirat. Saya kira memang perlu ada pembaharuan pola pendidikan di pesantren.

Potensi pesantren saya lihat sebetulnya sangat luar biasa. Di dalamnya bisa dibangun pendidikan sangat modern dan santri-santrinya tidak usah membayar alias gratis, justru pemilik pesantren itulah yang harus membayar (menggaji) santri-santri itu. Maksudnya saya begini: para santri itu full tinggal di dalam pesantren. Mereka mempunyai banyak waktu untuk dididik bekerja dan dibekali dengan keterampilan yang produktif yang dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai. Misalnya, sebuah pesantren mempunyai santri 22 ribu orang. Kalau pesantren itu membangun pabrik roti dan memanfaatkan sebagian santrinya sebagai tenaga pembuat sementara sebagian lainnya sebagai tenaga pemasaran, itu merupakan sesuatu yang bagus dan hasilnya pun tentu akan sangat besar. Atau bisa saja pesantren itu membuat peternakan sapi lalu memanfaatkan tenaga santri-santrinya untuk memeliharanya. Sebagai bentuk konpensasi, pesantren harus membiayai kebutuhan hidup sehari-hari para santri yang terlibat dalam mengembangkan usaha. Paling hanya sekian persen dari hasil pendapatan usaha-usaha pesantren tersebut. Dan kalau bisa mereka juga harus diberi uang saku untuk modal hidup mandiri ketika mereka sudah lulus nanti.

Saya mempunyai pemikiran begini: semakin banyak orang yang bekerja di lembaga saya, saya bisa menjadi semakin kaya. Karena hasil kerja mereka tidak saya berikan semuanya. Sebagian saya gunakan untuk eksistensi lembaga agar nantinya menjadi lebih besar, sehingga kemudian yang kebagian akan semakin banyak. Saya memberikan mereka kesempatan kerja supaya mereka bisa mandiri dan harga diri mereka tidak terbunuh. Dan bisa jadi orang yang sekarang mendapatkan kesempatan di lembaga saya dan dia menjadi besar, dia juga akan menjadi pembagi kesempatan kepada yang lain.

Saya banyak mempekerjakan orang-orang di sekitar rumah saya sesuai dengan keahliannya masing-masing; ada yang hanya lulusan SD dan tidak mempunyai keterampilan khusus, saya memakai tenaganya untuk menjadi satpam; ada yang lulusan sekolah yang agak tinggi, saya mempekerjakannya sebagai TU; ada yang lulusan perguruan tinggi, saya memberdayakannya sebagai guru atau dosen di lembaga pendidikan yang saya dirikan (Universitas Pamulang); ada orang yang bisanya hanya ngarit rumput, saya kemudian membuat peternakan sapi. Dengan begitu, orang itu bisa tetap ngarit rumput untuk makanan sapi-sapi yang saya pelihara; ada orang yang bisanya hanya memelihara ikan, saya kemudian membuat kolam ikan; dan masih banyak lagi kesempatan-kesempatan kerja lain yang saya berikan.

Kalau boleh dikatakan, saya itu seperti supermarket. Segala kebutuhan ada. Buah-buahan (pisang, mangga, rambutan, apel, dll), ikan, daging, semuanya ada. Bahkan pabrik tahu pun saya punya. Setiap hari 2 ton tahu yang diproduksi. Dan para pekerjanya rata-rata berasal dari penduduk sekitar. Mereka adalah mitra kerja saya. Saya membantu mereka, dan mereka membantu saya. Kami saling membantu.

Memberikan kesempatan kerja kepada orang-orang sekitar, selain membuat saya semakin kaya—jujur saya katakan—dan supaya senantiasa bisa terus berbagi, juga untuk pengamanan. Rumah saya tidak ada pagar apapun, tetapi aman-aman saja. Rumah saya menyatu dengan rumah-rumah penduduk yang lain. Mereka merasa rumah saya adalah milik mereka juga, tempat mereka mencari makan. Sehingga, ketika terjadi gangguan mereka juga ikut mengamankan.

 

Mudik

Dulu, sebelum mempunyai kendaraan sendiri seperti sekarang, saya mudik biasanya ramai-ramai naik Fajar Utama, kereta api kelas ekonomi. Pernah sekali, dari stasiun Gambir saya berdiri dengan satu kaki di dalam kereta sampai Purworejo (kira-kira 6 sampai 7 jam). Keadaan di dalam kereta yang sangat sesak membuat saya tidak mungkin meletakkan kaki yang satunya. Di dalam WC-nya saja sudah penuh dengan manusia. Sekedar untuk menggerakkan badan saja tidak bisa. Saat tiba di Purworejo, kereta berhenti sejenak, banyak orang yang turun. Ketika itulah keadaan kereta agak sedikit lega. Saya mencari kursi kosong, kemudian duduk dengan perasaan senang. Beberapa saat kemudian kereta kembali berjalan menuju Yogyakarta.

Ketika saya mempunyai kendaraan sendiri, saya mudik dengan naik kendaraan tersebut. Saya mencoba untuk menyupir sendiri. Namun saya merasa itu terlalu banyak memakan waktu dan membuat tubuh saya sangat capek. Belakangan, saya lebih suka naik pesawat. Selain untuk menghemat waktu, juga untuk menjaga kesehatan. Kenapa saya harus menjaga kesehatan? Agar saya bisa mengurus orang banyak yang bekerja membantu saya.

Kalau mudik kebetulan membawa istri, saya biasanya naik pesawat Garuda. Karena istri saya sukanya memang itu. Tetapi kalau mudik sendirian, saya bisa naik pesawat apapun, seperti Merpati, Lion Air atau apalah, yang penting saya selamat sampai tujuan. Atau kalau tidak, saya terkadang naik bus dari terminal Cimanggis. Saya bayar 90 ribu, dan tidur nyenyak di dalamnya. Ketika sampai di Sukamandi (Subang) saya dibangunkan. Saya makan sebentar, kemudian naik bus lagi dan tidur lagi hingga Yogyakarta.

Di kampung kegiatan saya adalah silaturrahim dengan kedua orangtua saja (saat keduanya masih hidup). Dan di dalam keluarga saya tidak ada tradisi bagi-bagi duit kepada anak-anak. Saya tidak pernah mengumpulkan keponakan-keponakan lalu saya kasih mereka duit. Saya hanya memberikan duit kepada orangtua, dan saya minta beliau untuk memberikannya kepada cucu-cucunya. Kalau saya sendiri tidak pernah bagi-bagi langsung, karena saya memang tidak begitu suka. Sehingga keponakan-keponakan saya itu jarang ada yang ingin bertemu dengan saya karena kangen.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

Merebut Tafsir: Kalah Menang

Oleh Lies Marcoes

Ada yang mengatakan anak-anak harus diajari untuk menerima kekalahan. Setuju. Sangat setuju.

Sebetulnya secara budaya tak kurang-kurang ajaran untuk menerima kekalahan. Bangsa ini sudah kenyang pengalaman dalam menerima kekalahan. Ini saya kira tumbuh melekat dalam tiap kebudayaan dan berlangsung mengurat mengakar jauh sebelum masa kolonial. Dalam berbagai bahasa kita dikenalkan kepada konsep untuk menerima kekalahan dengan besar hati: legowo, semeleh, ngelehan- untuk menyebutkan beberapa istilah yang saya kenal dari budaya Jawa dan Sunda. Itu karena dalam budaya di negeri ini juga dikenali istilah karma. Itu berlaku pada situasi di mana kekalahan dirasa tak sewajarnya, dan karenanya konsep karma muncul sebagai penyeimbang. Dalam konsep karma, bukan saja ada keyakinan bahwa semesta akan membalas ketidakadilan itu, namun juga keyakinan bahwa apa yang diperbuatnya tidak akan ada manfaatnya, ora berkah (tidak berkah), teu jamuga (tidak akan tumbuh dan menjadi).

Namun secara budaya di negeri ini dikenal juga istilah amok. Satu sumbangan kata/istilah dalam dunia kebudayaan tentang cara menegakkan martabat dengan tindakan totalitas- bahkan hingga berkalang tanah alias kematian. Di berbagai kebudayaan kita mengenal praktik itu seperti carok, sirri, jaga wirang, bubat dan seterusnya. Mengalah, ada batasnya. Ketika digniti, kewarasan , harga diri ditelanjangi dan diabaikan oleh kuasa yang tak seimbang, sikap sikap perlawanan yang “tak masuk akal” pun muncul. Dititik itu kewarasan duniawi menjadi tidak relevan karena ada kewarasan yang bersifat supranatural yang diterima sebagai sesuatu yang logis meski harus bertaruh nyawa.

Dalam konsep harmoni, sebetulnya situasi seperti itu hanya bisa diperbaiki dengan menjaga keseimbangan. Jadi selain mengajarkan untuk menerima kekalahan, sangatlah penting mengajari menang dengan kesatria.

Lailatul Qadar

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan (qadr). Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan Ruh (Jibril) turun dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar,” [QS. al-Qadr: 1 – 5].

_______________

 

BULAN Ramadhan adalah bulan penuh berkah karena banyak pahala yang dibagi-bagikan secara mudah. Banyak momen penting yang terjadi di bulan ini. Di antaranya adalah malam Lailatul Qadar yang diyakini oleh seluruh umat Muslim kualitasnya lebih baik dari seribu bulan.

Sejak malam pertama Ramadhan, ribuan umat Muslim memadati masjid-masjid untuk melaksanakan ibadah qiyâm. Seperti biasa, jumlah mereka yang melaksanakan qiyâm al-layl meningkat hingga lima kali lipat. Di bulan-bulan lain, jumlah mereka tidak sebanyak itu. Hal ini lebih dimotivasi karena malam Ramadhan mempunyai banyak keistimewaan, terutama sekali Lailatul Qadar. Tak ayal, hati mereka tergerak untuk lebih tekun beribadah di malam hari selama bulan Ramadhan. Alangkah ruginya orang selama bulan suci ini tidak memaksimalkan dirinya untuk berpuasa dan beribadah. Di akhirat kelak ia akan menyesal melihat umat yang wajahnya bersinar cerah karena mendapatkan curahan berkah Lailatul Qadar. Ia akan meratapi dirinya sendiri seraya bertanya-tanya, kenapa ketika masih di dunia tidak tekun beribadah sebagaimana umat Muslim pada umumnya selama bulan Ramadhan? Ia ingin sekali mendapatkan berkah Lailatul Qadar, tetapi sayang waktu telah membawanya ke akhirat, tanda bahwa segalanya sudah terlambat. Berkah Lailatul Qadar hanya akan diberikan kepada mereka yang selama bulan Ramadhan rajin berdzikir melaksanakan shalat malam guna mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab “Murâh Labîd li Kasyf Ma’nâ Qur`ân Majîd” karya Imam Nawawi al-Jawi, bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang di dalamnya Allah Swt. menurunkan al-Qur`an dari lawh al-mahfûzh berdasar tulisan para malaikat langit dunia ke bayt al-‘izzah. Makna “al-qadr” sendiri sebetulnya adalah “al-taqdîr” (penentuan). Artinya, ia dinamakan Lailatul Qadar karena di dalamnya Allah menentukan segala urusan hingga tahun mendatang, seperti kematian, ajal, rizki, dll. untuk kemudian memasrahkannya kepada empat malaikat pengatur (mudabbirât al-umur), yaitu Israfil, Mika`il, Izra`il, dan Jibril as.

Kendatipun para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar hanya ada di bulan Ramadhan, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai penentuan kapan malam mulia itu berlangsung. Mayoritas dari mereka mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 Ramadhan. Hal ini didasarkan pada pernyataan Ibn Abbas, “Bilangan yang paling disukai Allah adalah bilangan ganjil (al-witr), dan bilangan ganjil yang paling disukai-Nya adalah angka tujuh.” Kemudian Ibn Abbas menyebutkan tujuh lapisan langit, tujuh lapisan bumi, tujuh hari dalam seminggu, tujuh tingkatan neraka, jumlah tawaf, jumlah sa’i, dan tujuh anggota badan. Semua bilangan ini, menurutnya, menunjukkan bahwa Lailatul Qadar berlangsung pada malam ke-27 Ramadhan.

Tidak hanya itu, lagi-lagi menurut Ibn Abbas, bahwa Lailatul Qadar—dalam bahasa Arabnya—terdiri dari sembilan huruf, dan disebutkan dalam surat al-Qadr sebanyak tiga kali. Sehingga kalau dijumlah menjadi 27.

Riwayat lain menyebutkan, bahwa Utsman ibn Abi al-Ash mempunyai seorang budak. Budak itu berkata kepadanya, “Tuan, air laut akan menjadi tawar pada suatu malam dari bulan ini (Ramadhan).” Utsman ibn Abi al-Ash berkata kepadanya, “Kalau malam yang kau maksud itu tiba, segera beri tahu aku.” Dan ternyata itu adalah malam ke-27.

Tentu saja, sebagai malam yang amat sangat diistimewakan, Lailatul Qadar mempunyai banyak keutamaan. Secara garis besar, seperti disebutkan dalam surat al-Qadr yang penulis kutip di atas, ada tiga keutamaan Lailatul Qadar, yaitu: pertama, Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan di malam itu lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama seribu tahun yang di dalamnya tidak ada Lailatul Qadar. Diceritakan oleh Imam Mujahid bahwa seorang laki-laki dari Bani Israel rajin bangun malam melakukan shalat hingga pagi. Setelah itu ia bekerja hingga sore hari. Hal itu ia lakukan selama seribu bulan sampai ia meninggal. Rasulullah Saw. sendiri merasa takjub mendengar ceritanya. Hingga kemudian Allah menggariskan untuk umat Nabi Muhammad Saw. satu malam di bulan Ramadhan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan orang Israel itu. Dalam artian, siapapun dari umat beliau yang berhasil meraih malam mulia tersebut, maka keberkahan dan pahala yang didapatnya lebih baik dari keberkahan dan pahala yang didapat oleh orang Israel tersebut.

Kita tahu bahwa ketaatan yang dilakukan selama seribu bulan lebih berat ketimbang ketaatan yang dikerjakan satu malam. Akan tetapi, satu pekerjaan terkadang berbeda kondisinya terkait kebaikan dan keburukannya dikarenakan perbedaan tujuan. Misalnya shalat berjama’ah yang dalam agama dianggap le.bih utama daripada shalat yang dikerjakan sendirian. Padahal shalat berjama’ah terkadang terlihat ‘kurang sempurna’ ketika seseorang datang terlambat dan menjadi masbûq sehingga ia ketinggalan satu rakaat.

Contoh lain, misalnya, kalau kita mengatakan kepada seseorang yang dirajam karena perbuatan zina, “orang ini adalah pezina,” maka ini tidak menjadi persoalan alias tidak apa-apa. Tetapi kalau itu kita katakan kepada orang Nasrani, maka itu adalah fitnah yang wajib dikenakan ta’zîr (hukuman). Demikian juga, kalau kita mengatakannya kepada orang yang sudah beristri, jelas itu merupakan fitnah keji sehingga wajib dikenakan hadd (hukuman). Dan kalau itu kita katakan bagi A’isyah—yang dalam sejarah Islam awal disebutkan pernah diantar pulang oleh Abu Sufyan—, maka itu merupakan sebentuk kekafiran, mengingat A’isyah adalah salah satu dari ummahât al-mu`minîn yang harus dihormati. Dengan demikian, dalam hal ini, kata-kata “orang ini adalah pezina” yang oleh sebagian orang dianggap ‘ringan’ pada hakikatnya lebih berat daripada gunung. Di sini menjadi jelas, bahwa setiap pekerjaan mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terkait pahala dan hukumannya tersebab perbedaan tujuan masing-masing. Sehingga tidak mustahil ketaatan yang sedikit menjadi sama pahalanya dengan ketaatan yang banyak.

Kedua, keutamaan lain Lailatul Qadar adalah bahwa pada malam itu para malaikat—mereka adalah para penghuni Sidratul Muntaha—turun ke bumi bersama Jibril as. yang membawa empat panji. Panji pertama ia letakkan di atas kuburan Nabi Saw., panji kedua di atas Baitul Muqaddas, panji ketiga di atas Masjidil Haram, dan panji terakhir di atas bukit Sinai. Dan di malam itu juga, tidak ada satu rumah pun yang di dalamnya terdapat laki-laki atau perempuan beriman kecuali Jibril as. akan memasukinya sembari mengucapkan salam, “Wahai laki-laki atau perempuan yang beriman, Yang Mahadamai menyampaikan salam kepadamu, kecuali kepada para pencandu khamr, pemutus tali silaturrahmi, dan pemakan daging babi.”

Turunnya mereka ke bumi terkait dengan urusan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untuk tahun itu dan tahun mendatang. Masing-masing turun untuk urusan yang berbeda. Nabi saw. mensinyalir bahwa Allah memutuskan ketetapan-ketetapan di malam al-Bara`ah, yaitu malam nisfu Sya’ban. Kemudian pada malam Lailatul Qadar Dia memasrahkannya kepada para malaikat pengatur (mudabbirât al-umur) untuk disematkan kepada setiap manusia. Para malaikat itu melihat bermacam-macam ketaatan di bumi yang tidak pernah mereka lihat di alam langit.

Ketiga, termasuk keutamaan Lailatul Qadar adalah bahwa malam itu terbebas dari hembusan angin (riyâh), menyebarnya penyakit (adzâ), hentakan petir (shawâ’iq), dan ancaman setiap marabahaya (ãfah) seperti dikatakan oleh Abu Muslim dan Ibn Abbas. Satu riwayat mengatakan bahwa malam itu terbebas sama sekali dari segala sesuatu yang menakutkan (amr mukhawwif) dan segala kejahatan (syurûr). Sebagaimana riwayat lain juga mengatakan bahwa malam itu terbebas dari perbedaan/ketidaksamaan (tafâwut) dan kekurangan/cacat (nuqshân). Kedamaian, ketenangan, dan keseimbangan benar-benar menjadi penghias bagi malam mulia nan agung itu. Para malaikat turun dengan berbondong-bondong ke muka bumi dari permulaan malam sampai terbitnya fajar. Mereka mengucapkan salam kepada para ahli puasa dan ahli shalat dari umat Nabi Muhammad Saw. Pendek kata, mereka mengucapkan salam kepada setiap hamba yang benar-benar taat terhadap Allah Swt.

Atas dasar itu, jelaslah bahwa Lailatul Qadar tidak sama dengan malam-malam yang lain. Makanya, di malam itu, setiap muslim dianjurkan untuk mengerjakan ibadah fardhu di sepertiga pertama, ibadah sunnah di pertengahan, dan doa di waktu menjelang terbitnya fajar. Orang yang terjaga di malam itu dengan melakukan shalat wajib dan sunnah serta bermunajat secara khusyuk kepada Allah Swt. berdasar keimanannya yang teguh dan semata-mata hanya mengharapkan ridha dari-Nya, maka dosa-dosanya akan diampuni, kesalahan-kesalahannya dihapus, kekeliruan-kekeliruannya dimaafkan, dan doa-doanya dikabulkan. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang terjaga [melakukan shalat] pada malam al-Qadar dengan keimanan dan hanya mengharap balasan dari Allah semata, maka diampuni segala dosanya,” [HR. al-Bukhari].

Sebenarnya, ada keutamaan lain dari Lailatul Qadar, dan ini adalah keutamaannya yang keempat, atau bahkan bisa jadi yang pertama. Keutamaan yang penulis maksud adalah bahwa pada malam itu—seperti telah disinggung di atas—Allah Swt. menurunkan al-Qur`an dari lawh al-mahfûzh berdasar tulisan para malaikat langit dunia ke bayt al-‘izzah. Dan kita tahu bahwa al-Qur`an merupakan petunjuk bagi manusia sekaligus pembeda antara yang hak dan yang batil. Di samping itu, kita juga tahu, selaras dengan namanya, Lailatul Qadar adalah malam penentuan atau “al-taqdîr”. Hal ini menyiratkan makna, bahwa pada malam itu, selain menentukan urusan kematian, ajal, rizki, dll., Allah Swt. juga menentukan siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang termasuk golongan al-‘Â`idîn wa al-Fâ`izîn (orang-orang yang kembali suci karena keberhasilan mereka meraih kemenangan setelah berjuang melawan gempuran hawa nafsu selama bulan Ramadhan), yaitu mereka yang senantiasa berjuang menegakkan kebenaran dan memerangi segala bentuk kebatilan dengan berpedoman kepada al-Qur`an sebagai petunjuk. Merekalah yang berhak mendapatkan limpahan kasih-sayang (rahmah) dari Allah. Merekalah yang berhak mendapat curahan ampunan (maghfirah) dari-Nya. Dan karena itu, merekalah yang dipastikan terbebas dari siksaan api neraka (‘itq min al-nâr). Maka, tiada balasan yang paling layak bagi mereka kecuali surga Firdaus kelak di kemudian hari.

Sebagai bentuk penghormatan kepada hamba-hamba pilihan-Nya itu, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi guna menyampaikan salam dari-Nya kepada mereka. Damailah mereka dengan kasih-sayang-Nya. Tenanglah mereka dengan ampunan dari-Nya. Gembiralah mereka dengan keterbebasan dari ancaman siksa neraka sebagai jaminan dari-Nya. Dan tersenyumlah mereka dengan kedudukan mereka yang tinggi dan mulia di sisi-Nya; surga dan segala kenikmatannya telah disediakan untuk mereka.[]

WINNETOU DAN OLD SHATTERHAND DI KAMPUNG KAUMAN

Oleh Prof. Dr. Zubairi Djoerban, MA.

[Profesor Ahli Penyakit Dalam]

 

“Puasa bagi saya adalah masa untuk “pulang” kepada kehangatan keluarga dan kemeriahan masjid, dengan kedua orangtua, terutama ibu, sebagai subyek utama. Puasa tak akan mungkin sama tanpa kehadiran sosok beliau berdua. Dan saya kira mereka yang pernah berpredikat anak pasti akan menyetujuinya. Ibulah yang pertama kali mengenalkan saya pada puasa dan rutinitasnya yang berbeda dengan hari-hari biasa: sahur, buka puasa, tarawih, dan shalat berjamaah. Ketika kami harus bangun sahur padahal mata tengah rapat-rapatnya terpejam, ibulah yang menguatkan. Juga pada waktu-waktu krusial di siang hari ibulah yang menjadi penenteram bagi anak-anaknya melalui jam-jam sulit tersebut.”

 

 

Lahir di sebuah keluarga Kauman, Yogyakarta, yang terkenal sebagai lingkungan santri, tidak dengan sendirinya membuat puasa saya berbeda—dalam pengertian lebih bagus dan khusyuk—daripada puasa anak-anak yang lahir di keluarga abangan. Seingat saya, memang selama puasa saya tidak pernah berbohong seperti berlama-lama di kamar mandi supaya bisa mereguk sedikit air ketika berwudhu di siang yang terik, atau sembunyi-sembunyi jajan dan berpura-pura puasa penuh sesudahnya. Berbohong dan berkelahi adalah hal yang dilarang keras oleh kedua orangtua saya, pasangan Bapak Djoerban Wachid dan Ibu Buchaeroh.  Meski demikian puasa bagi kami tetap saja menyediakan “petualangan” seru yang tidak akan terlupakan sampai kami dewasa.

Puasa bagi saya adalah masa untuk “pulang” kepada kehangatan keluarga dan kemeriahan masjid, dengan kedua orangtua, terutama ibu, sebagai subyek utama. Puasa tak akan mungkin sama tanpa kehadiran sosok beliau berdua. Dan saya kira mereka yang pernah berpredikat anak pasti akan menyetujuinya. Ibulah yang pertama kali mengenalkan saya pada puasa dan rutinitasnya yang berbeda dengan hari-hari biasa: sahur, buka puasa, tarawih, dan shalat berjamaah. Ketika kami harus bangun sahur padahal mata tengah rapat-rapatnya terpejam, ibulah yang menguatkan. Juga pada waktu-waktu krusial di siang hari ibulah yang menjadi penenteram bagi anak-anaknya melalui jam-jam sulit tersebut. Biasanya ibu akan menjanjikan makanan pembuka puasa yang unik, lezat, dan tentu saja memulihkan kembali kesegaran dan menghapus kepenatan akibat menahan makan dan (terutama) minum seharian.

Di keluarga kami yang bisa dibilang sederhana, makan berlauk ayam adalah sesuatu yang mewah ketika itu. Tidak saban hari kami bisa menemukan ayam di atas meja makan. Tetapi pada saat puasa, ayam goreng cukup sering menghiasi saat-saat berbuka dan sahur. Saya tidak tahu bagaimana persisnya, namun saya yakin ada budget khusus yang disiapkan bapak dan ibu untuk bisa menghadirkan masakan-masakan istimewa bagi kelima putra-putrinya di bulan yang juga istimewa tersebut. Diam-diam saya kerap terharu mengenang upaya mereka membuat anak-anaknya mencintai puasa dan segala ibadah di bulan Ramadhan.

Untuk saya, kuliner masa kecil yang tak tergantikan adalah ayam brambang–salam buatan ibu. sungguh itu adalah hidangan paling istimewa. Masakan itu sangat sederhana: ayam direbus dengan banyak bawang merah dan daun salam, tentu saja ditambah garam dan sedikit macam bumbu lainnya. Mungkin cinta ibu yang terbawa dalam masakan itulah yang membuat masakan sederhana itu sungguh terasa istimewa. Bahkan bukan cuma itu. Kelak, ketika saya dewasa pun, masakan ayam brambang-salam ini juga tetap menemani dan punya daya sembuh yang ajaib pada saat kondisi tubuh sedang turun. Meskipun profesi saya saat ini adalah dokter, namun ketika sakit masakan ibu yang satu inilah obat saya yang sesungguhnya.

Masakan lainnya yang tak kalah “memorable”-nya adalah tempe goreng dan sambal bawang. Memang di hari-hari biasapun masakan ini cukup sering hadir di meja makan—karena harganya yang terjangkau untuk ukuran keluarga seorang guru beranak lima. Namun entah kenapa juga setiap kali mengingat puasa di masa kecil, saya selalu menyebut tempe dan sambal bawang buatan ibu sebagai salah satu pernik indah dari masa lalu.

Begitu sederhananya kehidupan kami, sehingga sebagai anak-anak kami tak banyak mendapatkan uang jajan. Padahal di Kauman, sejak dulu sampai sekarang, aneka penganan dijual orang setiap sore di bulan puasa. Sayangnya uang pemberian Bapak dan Ibu hanya cukup untuk membeli tempe gembus dan kangkung rebus. Selebihnya saya hanya mampu merasakannya dalam angan-angan.

Salah satu keinginan saya ketika kecil dulu adalah jajan lele goreng. Tampak garing dan gurih sekali. Namun, ya itu tadi, tak pernah cukup uang jajan saya untuk membelinya. Baru setelah dewasa, setelah kuliah di Fakultas Kedokteran UI dan mulai bisa menyisihkan uang, saya bisa membeli lele sendiri. Rasanya, ya begitulah. Tapi cukuplah untuk menuntaskan rasa penasaran yang menggunung sejak masa kanak-kanak.

 

Tarawih di Kauman

Saya adalah sulung dari lima bersaudara—dua laki-laki dan tiga perempuan—yang lahir pada tahun 1947 di Kauman, Yogyakarta. Wilayah ini yang sangat erat terkait dengan perkembangan organisasi Islam, Muhammadiyah. Entah karena posisi sulung itu, atau karena dulu Ibunda saya mengalami kesulitan yang luar biasa pada saat hendak melahirkan saya karena posisi janin yang sungsang, ada hak-hak istimewa tertentu yang saya nikmati sebagai anak sulung. Mulai dari yang sederhana, sampai kesempatan untuk bersekolah di fakultas yang membutuhkan biaya lumayan untuk kondisi ekonomi yang berat waktu itu. Sebenarnya, sekedar cerita tambahan, biaya kuliah di FKUI mulai tahun 1965 sampai saya lulus sebagai dokter umum tahun 1971 cukup murah. Tapi tetap saja memerlukan uang transport untuk naik bus atau “tavip”—kendaraan umum yang tempat duduknya adalah bangku panjang dari kayu—dari Tebet ke Pasar Rumput. Untuk menghemat, tidak jarang saya berjalan kaki dari Pasar Rumput ke kampus di Salemba sambil menenteng rantang berisi bekal makan siang yang disiapkan ibunda.

Juga, ketika nilai di sekolah tidak terlalu cemerlang pada tahun-tahun tertentu, saya tidak ingat pernah mendapat peringatan dari Bapak ataupun Ibu. Saya, misalnya, pernah tidak naik kelas sewaktu SR kelas tiga…untung alasannya selalu ada: karena saya masuk SD pada usia 5 tahun. Barangkali juga karena itu saya cenderung santai dan tidak tegang menghadapi nilai anak-anak saya di sekolah. Ada banyak hal di luar nilai pelajaran yang lebih penting untuk menjalani hidup dengan baik: empati, simpati, kepekaan terhadap penderitaan orang lain, kemurahhatian, keberanian menghadapi risiko, keyakinan kepada Tuhan, dan sebagainya. Kebanyakan orang yang berhasil dalam hidupnya, menurut saya, lebih mengandalkan pada hal-hal tersebut dibanding nilai di sekolah.

Dan puasa, sungguh merupakan “madrasah ruhani” yang istimewa. Selain makanan yang istimewa, satu hal yang tak pernah akan saya lupakan dari puasa di masa kanak-kanak adalah shalat Tarawih yang biasanya diadakan di Sekolah Rakyat (SR) Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta, atau di pelataran Masjid Gede, Kauman. Shalatnya mungkin biasa-biasa saja—artinya ada juga kenakalan-kenakalan khas anak-anak seperti mengganggu teman-temannya yang berusaha shalat khusyuk dan tentu saja membuat kesal guru-guru atau marbot masjid. Tapi yang sungguh istimewa adalah kisah-kisah “Winnetou dan Old Shatterhand” yang dibawakan dengan sangat hidup oleh seorang kakak senior di lingkungan kami setelah shalat Tarawih usai. Ya, dibawakan. Bukan dibacakan. Kakak senior itu “hafal mati” seluruh kisah sosok rekaan Karl May (1842-1912), pengarang Jerman yang lahir hampir seratus tahun sebelum saya lahir. Dan cara ia menceritakan kisah-kisah petulangan Winnetou itu sungguh hebat, membuat kami yang masih kecil-kecil “tersihir” karenanya. Ada saatnya kami tertawa mendengar bagian-bagian yang lucu, tercekam mendengar pertempuran-pertempuran dahsyat yang melibatkan kedua sahabat tersebut, atau menitikkan air mata—yang dengan sembunyi-sembunyi kami seka dengan kain sarung—pada bagian ketika Winnetou akhirnya gugur dalam pertempuran penghabisannya.

Belakangan kita semua mendengar bahwa Karl May—yang sebelumnya diyakini mengalami sendiri kisah heroik ini dan menjelmakan diri sebagai tokoh Old Shatterhand, sahabat setia Winnetou—ternyata tidak pernah benar-benar hadir di padang savanna Amerika Utara. Alih-alih, ia menuliskan kisah epik tersebut dari balik penjara. Banyak orang lalu menuduhnya berbohong. Namun itu semua tidak mengurangi kekaguman saya kepada sosok Winnetou dan sahabat “kulit pucat”nya itu. Serial Winnetou—lebih dari serial petualangan Kara Ben Nemsi yang ditulis Karl May belakangan—menyimpan banyak hikmah mengenai persahabatan, kesetiaan, keberanian dan pembelaan terhadap kelompok pribumi yang tersingkirkan oleh kekuatan kolonial. Juga kehidupan sederhana yang dekat dengan alam. Indah, inspiratif, dan menggugah.

Ritual puasa seperti shalat Tarawih, mendaras al-Qur`an bersama ibu setiap usai shalat Shubuh dan Maghrib, untuk saya sama pentingnya dengan kisah-kisah Winnetou yang didongengkan kepada kami—kanak-kanak di Kauman pada tahun 1950-an. Tak ada orangtua yang keberatan anak-anaknya mendengar kisah yang ditulis oleh seorang “kafir” pada bulan yang begitu disakralkan oleh umat Muslim di seluruh dunia dari zaman ke zaman, sejak masa Rasulullah saw.

Kembali tentang puasa, khususnya mengaji, saya tak akan lupa pada almarhum Bapak Achyat, kepala sekolah di SR Ngupasan. Beliau ini sungguh piawai memotivasi murid-muridnya, sehingga rata-rata kami sudah hafal seluruh surat dalam Juz ‘Amma sebelum tamat SR. Pak Achyat memang guru yang istimewa. Tak hanya pandai mengaji, ia juga mengambil hati kami dengan keahliannya melakukan senam akrobatik. Barangkali karena beliaulah, antara lain, saya juga jadi menyukai olahraga. Silat, karate, badminton, renang, sampai yoga Asanas dan Pranayama yang tuntas saya kuasai secara otodidak. Buku-buku mengenai yoga saya dapatkan dari Gunung Agung, setelah menyisihkan uang saku yang terbatas.

 

Masjid: Pusaran Kegiatan

Puasa pada masa kanak-kanak adalah juga kesempatan untuk kembali membangun kedekatan dengan masjid. Rutinitas sebagai dokter dan dosen di Fakultas Kedokteran UI, terus terang, tidak banyak menyisakan waktu untuk dekat dengan masjid kecuali sesekali saja. Termasuk pada hari Jum’at. Namun puasa, masjid tetap menjadi magnet yang menarik saya untuk datang terutama pada 10 hari terakhir.

I’tikaf sudah saya jalani sejak kecil. Dalam ingatan awal saya, Masjid Gede Kauman sejak dulu selalu penuh dengan orang yang datang untuk beri’tikaf terutama pada hari-hari terakhir Ramadhan. Untuk saya, kebiasaan untuk beri’tikaf terbangun karena ajakan seorang bulik—adik Ibu—yang waktu itu punya hajat penting: segera lulus dari sebagai sarjana hukum. Awalnya sih, sebagai anak-anak, saya hanya ikut-ikutan saja, tetapi lalu berkembang menjadi ritual yang hampir tak bisa saya tinggalkan sampai sekarang. Akan ada yang terasa kurang jika 10 hari terakhir Ramadhan tidak diisi dengan tinggal di masjid pada malam hari, meski hanya untuk beberapa jam saja dan kadang tidak bisa sepuluh hari penuh menjalaninya.

Karena itu sebenarnya saya sempat agak kaget ketika keluarga kami pindah ke Jakarta tahun 1965 hanya sedikit orang yang melakukan i’tikaf. Sepanjang yang saya tahu, tidak ada masjid yang mengadakan acara i’tikaf pada tahun-tahun itu. Beberapa masjid bahkan ditutup setelah shalat Tarawih dan baru dibuka menjelang adzan Shubuh. Tetapi 10 tahun terakhir—atau mungkin sejak dekade 1990-an—kondisinya sudah berbeda. Banyak masjid menyelenggarakan i’tikaf secara berjamaah. Di masjid Sunda Kelapa bahkan presentasi muballigh dilakukan dengan memanfaatkan teknologi komputer dan program powerpoint. Masjid di Tebet, di sekitar tempat tinggal saya sekarang, menggelar acara Khatmil Qur`an. Bersama anak lelaki dan tetangga dekat saya sering mencoba masjid-masjid lain untuk beri’tikaf, termasuk masjid di RSCM tempat saya bekerja hingga saat ini.

Ramadhan seperti memasuki babak baru seiring dengan pertumbuhan gairah orang dalam beragama. Sungguh menyenangkan, meskipun kadang-kadang saya merasa kangen dengan i’tikaf yang senyap dan tenang, ketika setiap orang tenggelam dalam doa dan perenungannya masing-masing. Tetapi zaman akan terus berubah, dan setiap generasi akan menghayati dan menjalankan ajaran Islam dengan cara yang berbeda pula, meskipun universalitas inti ajarannya akan tetap, melintasi ruang dan waktu.  Itu pelajaran yang harus saya ingat.

Masih mengenai masjid dan puasa, kenangan yang tak akang lekang dalam ingatan saya adalah belajar mengaji di masjid Syuhada, salah satu masjid terbesar dan tertua di Yogyakarta. Di tempat ini saya sempat belajar tilawah. Yang saya ingat ayat yang dibaca untuk tilawah adalah beberapa ayat terakhir dari surat al-Hasyr yang berisi al-asmâ` al-husnâ.

Saya sangat bersyukur bahwa orangtua saya mengajak dan mendekatkan masa kanak-kanak saya dengan masjid. Buat saya itu sangat penting. Kemampuan membaca al-Qur`an dan menghafal beberapa bagiannya, tak bisa dilepaskan dari keterlibatan saya di masjid. Harus diakui bahwa waktu mengaji saya sekarang tak sebanyak di waktu kecil dulu. Namun untunglah sekarang ada banyak bantuan teknologi yang memudahkan saya menyimak ayat-ayat suci al-Qur`an di manapun saya berada.

 

Libur Berkelahi

Saya kira untuk anak-anak angkatan saya, puasa identik dengan liburan. Selain memang sekolah diliburkan sebulan penuh, kami juga melakukan berbagai kegiatan yang berbeda dengan rutinitas di 11 bulan lainnya. Hingga usia tertentu, sakralitas Ramadhan hanya hadir sebatas ritual shalat Tarawih dan tadarus. Lainnya, anak-anak tetap “mengamalkan” kenakalan-kenakalan belianya.

Tapi bagaimanapun bandelnya saya, ketika puasa saya benar-benar libur berkelahi. Ya, orangtua saya memang agak keras dalam hal ini. Dilarangnya kami berkelahi, apapun alasannya. Padahal sebagai anak lelaki, saya kira wajar jika sekali atau dua kali saya ingin menunjukkan aspek jagoan dalam diri saya dengan mengajak duel anak lain yang menjadi musuh ketika itu. Duel, bukan berkelahi keroyokan yang menurut saya agak memalukan.

Saya cerita sedikit tentang pengalaman saya mengajak duel salah seorang teman masa kecil, meskipun ini tidak terjadi di bulan Ramadhan. Suatu hari, karena urusan yang saya sudah lupa pasalnya sekarang, saya ditantang duel oleh seorang teman. Kami berjanji untuk bertemu di tempat tertentu, di waktu tertentu. Tentunya yang orangtua kami tidak tahu.

Sebelum waktu yang ditentukan tiba saya sudah sampai di lokasi. Semakin dekat waktu yang ditentukan, jantung saya semakin berdebur kencang membayangkan jurus-jurus yang akan saya keluarkan. Waktu itu usia saya sekitar 10 tahun, dan belum tahu apa-apa mengenai silat, apalagi karate. Akhirnya, lawan saya datang. Dari kejauhan saya sudah melihat bayangannya, tetapi dia datang berdua! Celaka tiga belas. Bagaimana melawannya? Tetapi baiklah, saya akan hadapi, bisik hati saya. Akan sangat memalukan jika saya mengambil langkah seribu sebelum bertarung.

Tapi, ketika sampai di lokasi dan melihat saya, lawan saya dan kawannya yang bertubuh tinggi besar itu hanya menatap kepada saya. Sejenak saling memelototi, dan setelah itu mereka berlalu dari tempat itu. Sudah, begitu saja. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Tidak ada jurus yang dikeluarkan. Semuanya berakhir anti klimaks. Agak kecewa juga karena saya tak sempat unjuk kebolehan. Tapi selebihnya sebenarnya saya lega juga.

Kali lain, saya juga punya seorang musuh lain. Seorang anak lelaki tetangga dan teman sekolah. Suatu kali menjelang maghrib, dari jauh saya lihat anak itu berlari ke arah saya. Perasaan bermusuhan membuat saya memutuskan untuk menuntaskan kekesalan terhadapnya. Buru-buru saya bersembunyi. Begitu ia dekat, saya julurkan salah satu kaki untuk menjegalnya. Bleekk … jatuh tersungkur dia dengan telaknya. Anak laki-laki itu kontan menangis menggerung-gerung. Waah, ternyata dia bukan anak yang saya incar!! Gawat. Saya ketakutan dan segera memutuskan untuk mengambil langkah seribu menghindari konsekuensi diomeli orangtua anak itu. Sampai sekarang saya masih sering teringat rincian peristiwa tersebut dan merasa bersalah berkepanjangan karenanya.

Menengok kembali masa lalu, saya tahu orangtua saya sudah melakukan yang terbaik untuk mendidik anak-anaknya. Semasa SMP, sepulang sekolah atau tepatnya setelah magrib sampai jam 21.00 saya disekolahkan di sekolah agama di tingkat Wustha atau setara dengan Tsanawiyah, selama 3 tahun penuh. Saya sangat bersyukur karenanya. Juga bersyukur karena dulu saya mematuhi larangan mereka berkelahi di bulan puasa.

Ramadhan dan lebaran untuk anak-anak adalah juga permainan. Dan permainan yang paling saya kuasai selain berbagai jenis olah raga adalah layangan. Sampai sekarang pun rasanya saya berani bertanding membuat layang-layang. Meraut buluh bambu, memilih kertas yang tipis (biasanya kertas tipis bekas, seperti kertas karbon yang digunakan untuk menggandakan tulisan dengan mesin ketik), hingga membuat benang gelasan dari plentong (bohlam) yang digerus halus, semuanya saya kuasai dengan baik. Ngundo (mengejar) layangan, apalagi. Dan tempat favorit saya untuk mengadu layangan adalah loteng, baik loteng di rumah Mbah Wachid, kakek dari Bapak di Ngindungan, Kauman Timur, maupun loteng rumah Mbah Djufri, kakek dari Ibu di Kauman Utara. Pilihan ngundo layangan kedua adalah Alun-Alun Lor (utara) sebuah lapangan yang amat luas di sebelah timur Kauman.

Namun gara-gara kegilaan pada layangan ini pula pembuluh darah vena di kaki kanan saya pernah teriris benang gelasan. Darah mengalir kencang dari nadi yang terpotong. Ngerinya, dan juga bekasnya, tertinggal hingga sekarang. Bekas luka di kaki dan di kening akibat terkena peluru plintheng (ketapel)—tentu saja saya tak pernah mengaku kena plintheng, hanya bilang “ketotol gagak” (dipatuk burung gagak) kepada bapak dan ibu—adalah “piagam” yang akan terus mengukirkan kenangan indah masa kecil di benak saya.

 

Lebaran di Kauman

Lebaran tentu saja adalah puncak dari “madrasah ruhani” yang sudah ditapaki oleh setiap Muslim yang bersungguh-sungguh. Kegembiraan pada hari lebaran adalah kegembiraan mereka yang mengalami pembaruan pribadi setelah menunaikan pelatihan keras selama sebulan.

Bagi anak-anak, lebaran tentu bermakna kesenangan yang berbeda lagi dari kesenangan selama puasa. Bukan hanya banyak makanan enak-enak dan baju baru, tapi juga uang saku yang bebas kami belanjakan apa saja. Bapak dan ibu akan mengajak kami keliling kampung Kauman. Senang sekali menyadari bahwa masih ada pertalian darah di antara orang sekampung. Lebih senang lagi karena hampir dari setiap rumah kami mendapatkan uang beberapa talen yang bisa kami pakai membeli kembang gula.

Sekarang saya jadi kepikiran, jangan-jangan memberi uang kepada saya dan adik-adik mungkin juga menyenangkan si pemberi karena posisi kakek dan nenek kami yang lumayan terpandang di Kauman. Iya, Mbah Wachid kakung memang terpandang karena ilmunya, sementara Mbah Wachid putri terpandang karena beliau adalah keturunan pedagang yang lumayan sukses. Beliau berdua juga berbahasa Belanda sehari-hari. Kendati demikian beliau berdua hidup sederhana saja. Tetapi apapun alasannya, sekarang saya tahu bahwa tindakan memberi itu menyenangkan si pemberi jauh melebihi kegembiraan yang dialami si penerima.

Tahun 1965 keluarga kami pindah ke Jakarta. Kepindahan ke Jakarta itu pun terjadi pada bulan puasa, menambah daftar kenangan saya terhadap bulan puasa. Penghasilan Bapak sebagai guru dan dosen saat itu tidak mencukupi untuk bekal menghidupi kelima anak yang sudah beranjak besar. Sebagai pendidik, sekolah anak-anak adalah hal paling utama yang harus dikejar, diusahakan dan diperjuangkan, kalau perlu sampai titik darah penghabisan. Karena itulah tawaran untuk mengajar dan bekerja di Jakarta sebagai staf ahli Menteri Perindustrian waktu itu menjadi pilihan yang “wajib” diambil. Ketika itu kebetulan saya sudah lulus SMA dan diterima di Fakultas Kedokteran UI di Salemba.

Hari-hari menjelang kepindahan ke Jakarta, sedikit kilas balik, adalah hari-hari paling memprihatinkan buat keluarga kami dari segi ekonomi. Ayah sedang mengurus kepindahan kerja, sehingga beberapa kali harus ke Jakarta, sementara kami berlima kakak beradik bersama ibunda tinggal di rumah di Sendowo, Sekip (sekarang sudah menjadi salah satu lokasi di RS Sardjito), yang kami tinggali selama kurang lebih 3 tahun setelah pindah dari Kauman.

Saya dan adik-adik kerap membantu ekonomi keluarga dengan “bersih-bersih”. Bersama salah seorang adik beberapa kali boncengan naik sepeda menjual koran bekas ke pasar Beringhardjo. Kami amat bersyukur selama ini Bapak berlangganan lebih dari satu koran, jadi kami mempunyai banyak sekali stok koran bekas untuk dilego. Namun bagaimanapun puasa tetap saja sangat menyenangkan karena kebersamaan di antara kami: mulai dari sahur, buka puasa, tarawih, tadarus dan tentu saja membaca berbagai jenis buku—mulai dari wayang hingga kisah silat—dan tentu saja … bermain. Puasa tak berkurang istimewanya walaupun waktu itu saya sudah berusia 18 tahun dan duduk kelas tiga SMA, sementara adik-adik ada yang juga SMA, SMP dan SD.

Di Jakarta, puasa dan lebaran memasuki fase baru dengan dinamika dan kenangan yang berbeda. Namun puasa masa kecil—dan segenap pembelajaran yang mengendap dalam diri saya hingga saat ini—tak akan pernah pupus dari ingatan. Seperti kenangan saya terhadap almarhum dan almarhumah bapak dan ibu.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

BERPUASA DI KAMPUNG HALAMAN

Oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA.

[Profesor Riset Bidang Lektur Keagamaan – Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace]

 

“Kami tidak mengenal pembagian gender dalam pekerjaan, tetapi di kampung saya laki-laki memang bukan tempatnya di dapur, bahkan dianggap tabu (pamali) masuk ke dapur. Saya tidak begitu tahu, setiap menjelang Maghrib para laki-laki kerap tidak ada di rumah, selalu pergi sesukanya. Dan yang sangat unik menurut saya, di masyarakat Bugis tidak ada kamar khusus dalam rumah untuk anak laki-laki. Anak laki-laki bisa tidur di mana saja. Dikenal dalam falsafah Bugis istilah ‘laoko’. Artinya, anak laki-laki harus pergi merantau karena itu merupakan bagian dari tradisi Bugis. Rumah adalah milik perempuan. Sehingga kalau terjadi perceraian, yang pergi dari rumah itu laki-laki. Harta yang tidak bergerak dengan sendirinya milik perempuan.”

 

 

Latar Belakang

Saya dilahirkan di Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958 dari pasangan H. Mustamin Abdul Fatah dan Hj. Buaidah Achmad. Ayah saya pernah menjadi Komandan Batalyon dalam Negara Islam pimpinan Abdul Kahar Muzakkar yang kemudian dikenal sebagai gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Beliau adalah orang kepercayaan Abdul Kahar Muzakkar. Tetapi anehnya, beliau tidak pernah menjelaskan apa itu DI/TII dan keterlibatan beliau dalam organisasi tersebut, juga tidak pernah mengajarkan kepada saya tentang Negara Islam. Saya mengetahui hal ini dari paman saya, Syamsul Bachri, kakak ayah yang juga merupakan orang penting dalam gerakan tersebut.

Adapun ibu saya merupakan gadis pertama di desa yang menyelesaikan pendidikan pada Pesantren Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) di Pare-Pare, pesantren paling tua dan sangat terkenal di Sulawesi. Dan beliau juga perempuan pertama yang bicara di masjid memberikan ceramah di bulan Ramadhan. Sebelum beliau tidak seorang perempuan pun di kampung saya pernah memberikan ceramah di masjid. Beliau sangat fasih melantunkan puisi Arab tentang sirah Rasul yang tertulis dalam kitab “al-Barzanjîy”. Pokoknya, beliau adalah bintang di desanya.

Bila ditelusuri lebih ke atas, silsilah keluarga saya sangat kental dengan kehidupan agama. Kakek dari ayah, KH. Abdul Fatah adalah seorang Mursyid ternama di dalam Tarekat Khalwatiyah Naqsyabandiyah. Bahkan kakak ayah saya, KH. Muhammadong, melanjutkan kekhalifahan (kepimpinan) di organisasi tarekat tersebut. Para jamaah tarekat ini bisa dikatakan sangat fanatik. Mereka bahkan sampai mencium kaki sang mursyid. Saya ketika berada di tengah komunitas itu juga mendapat perlakuan yang berbeda dan cukup istimewa.

Sementara kakek dari ibu merupakan seorang ulama NU tradisional. Mungkin karena pernah belajar di Makkah, pandangan keislamannya dalam banyak hal sangat konservatif dan tradisional. Misalnya, beliau masih menganggap suara perempuan adalah aurat. Saya ingat sekali, ketika duduk di kelas I Tsanawiyah saya dibilang begini, “Kamu tidak bisa lagi ikut Musabaqah Tilawatil Qur`an karena kamu sudah baligh dan sudah di Tsanawiyah, jadi suara kamu adalah aurat. Ini adalah tahun terakhir kamu ikutan musabaqah.” Mendengar ini saya hanya bisa diam dan membisu, tanpa bisa protes sedikit pun. Namun saya harus mengakui, bahwa dominasi tradisi NU sangat kental di dalam keluarga saya.

Seperti saya utarakan sebelumnya, saya sebetulnya tidak tahu tentang keterlibatan ayah di DI/TII, karena beliau tidak pernah bercerita soal gerakan DI/TII ke saya, dan tidak pernah mengajak saya untuk bertemu dengan teman-teman seperjuangannya. Dan lucunya lagi, kakek saya juga tidak tahu menahu tentang aktivitas anaknya di DI/TII. Mungkin karena beliau terlalu sibuk di dalam tarekatnya. Saya mendapatkan cerita bahwa ayah terlibat di dalam gerakan DI/TII dari paman saya, seorang tokoh yang sebetulnya sangat disegani pada zaman Suharto karena dianggap banyak mengetahui rahasia-rahasia penting. Namun paman saya itu lebih memilih untuk mengasingkan diri di Malaysia. Menurut ceritanya, ibu saya juga termasuk anggota DI/TII, dan pernah menjadi anggota laskar sebagai perawat.

Sebenarnya yang diperjuangkan DI/TII bukan mengembangkan Islam garis keras, sebagaimana diduga banyak orang, melainkan melawan ketidakadilan yang dilakukan pemerintah. Abdul Kahar Muzakkar clash dengan Soekarno karena dia dianggap sudah menyalahi cita-cita proklamasi kemerdekaan itu sendiri. Karena itu, dia ingin menunjukkan bahwa Soekarno sudah salah mengurus negara. Dan satu hal lagi yang perlu dicatat, bahwa di dalam DI/TII itu ada orang NU, Muhammadiyah, Persis dan ormas-ormas lainnya. Jadi ceritanya Abdul Kahar Muzakkar ingin menyatukan Islam yang beragam itu karena bagi dia, Islam hakikatnya adalah satu.

Bagi orang Sulawesi, Abdul Kahar Muzakkar dianggap sebagai pahlawan. Kalau di daerah lain, orang cenderung menganggap DI/TII itu gerakan separatis yang sangat dimusuhi pemerintah, terutama pada masa Orde Baru.

Itulah sedikit gambaran tentang keluarga saya. Mereka adalah orang-orang terdidik yang mempunyai sejarah di masanya. Mereka memberi saya motivasi kuat untuk meraih cita-cita setinggi-tingginya.

Pendidikan formal saya dimulai dari sebuah Sekolah Dasar di Kompleks Angkatan Laut Surabaya. Lalu naik kelas IV saya pindah ke Jakarta dan melanjutkan ke SDN Kosambi Jakarta Utara. Setamat dari situ saya kemudian belajar di Madrasah Tsanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMA) di Pesantren As’adiyah. Masih di lembaga yang sama, setalah tamat Tsanawiyah-Aliyah, saya lalu kuliah di Fakultas Ushuluddin merangkap Fakultas Syariah. Dosen-dosen saya di Fakultas Syariah umumnya adalah alumni dari  Universitas Madinah, Saudi Arabia, yang saking lamanya di sana mereka lupa bahasa Indonesia. Jadi, kalau mengajar mereka hanya menggunakan dua bahasa, Arab dan Bugis. Baru naik tingkat II (dulu belum pakai sistem semester seperti sekarang) saya pindah ke Ujung Pandang dan masuk IAIN Alaudin. Saya memilih Fakultas Adab, Jurusan Bahasa dan Sastera Arab dan terpaksa mengulang kembali kuliah dari Tingkat I di Fakultas Adab, IAIN Alaudin. Selain itu, saya melanjutkan juga ke Tingkat III Fakultas Ushuluddin, Universitas Muslim Indonesia.

Tidak hanya sampai di situ, saya dengan dukungan penuh dari keluarga melakukan hijrah ke Jakarta dan menimba ilmu di IAIN Syarif Hidayatullah untuk Program S2 Bidang Sejarah Pemikiran Islam, dan Program S3 Bidang Pemikiran Politik Islam dengan disertasi berjudul “Negara Islam: Pemikiran Husain Haikal”. Dengan begitu, saya adalah perempuan pertama yang meraih doktor dalam bidang pemikiran politik Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Ramadhan di Kampung

Saya berpuasa sejak kecil. Di keluarga saya, puasa Ramadhan sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan oleh semua orang, tua dan muda. Ketika duduk di Kelas III SD saya sudah bisa berpuasa sebulan penuh. Ibu saya dulu selalu menyuruh begitu, tidak boleh setengah-setengah. Bahkan, nenek dan buyut perempuan saya sudah memulai puasa jauh sebelum Ramadhan tiba. Mereka sudah sering berpuasa sejak bulan Rajab lalu dilanjutkan bulan Sya’ban. Jadi, puasa Ramadhan dirasakan tidak terlalu berat lagi karena sudah ada latihan puasa pra-Ramadhan. Sewaktu masih di pesantren, saya pun mengikuti tradisi mereka, kecuali kalau sedang haid.

Biasanya seminggu sebelum Ramadhan, saya bersama keluarga melakukan ziarah ke makam-makam para leluhur. Demikian juga mengunjungi sanak keluarga yang dianggap lebih sepuh. Dan biasanya juga, pada sore di hari terakhir bulan Sya’ban, kami melakukan ‘mandi besar’ karena besoknya (tanggal 1 Ramadhan) akan melaksanakan puasa. Artinya, sebelum itu kami bersih-bersih dulu, bersih badan, seperti keramas, memotong kuku dan lain sebagainya, juga kami bersih-bersih di sekitar rumah, menyapu halaman, mengecat rumah dan sebagainya.

Di bulan Ramadhan sekolah selalu diliburkan. Namun bukan berarti tidak ada kegiatan, malah semakin padat yang dimulai sejak dini hari kala gelap masih menyelimuti bumi. Kira-kira jam 02.30, kakek dan nenek saya sudah bangun dan melaksanakan shalat Tahajjud dan berbagai bentuk shalat malam lainnya, begitulah kegiatan mereka setiap malam. Dalam hal ibadah, keluarga besar saya memang dikenal sangat taat. Dan kebiasaan itu menular dalam diri saya.

Ibu biasanya bangun jam tiga malam dan langsung ke dapur untuk memasak makanan buat sahur. Namun beliau tidak sendirian, beliau dibantu oleh 3-4 orang pembantu yang memang suka membantu keluarga saya dan tinggal di rumah. Mereka tidak dibayar bulanan layaknya PRT sekarang. Akan tetapi, mereka sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar kami. Semua keperluan hidupnya dipenuhi oleh kakek dan nenek. Mereka hidup bersama kakek-nenek sejak kecil, bahkan ada yang sejak bayi. Orangtua mereka tidak tahu pergi ke mana. Mereka disekolahkan dan tidak dibedakan dengan yang lain. Di antara mereka malah ada yang dikawinkan oleh nenek. Dan anaknya yang lahir juga diambil anak oleh nenek. Meski nenek saya agak cerewet, ngomong suka ceplas-ceplos, tetapi mereka dan kami semua tetap menghormatinya.

Bukan hanya para pembantu yang membantu memasak, tetapi kadang juga tante dan sepupu saya. Ibu saya adalah pribadi yang bisa dekat dengan siapa saja, juga sosok yang selalu menyenangkan bagi tante dan sepupu sehingga rumah saya selalu ramai. Merekalah yang menyediakan makanan, baik untuk buka dan sahur. Ketika beranjak dewasa saya juga sering membantu memasak.

Kami tidak mengenal pembagian gender dalam pekerjaan, tetapi di kampung saya laki-laki memang bukan tempatnya di dapur, bahkan dianggap tabu (pamali) masuk ke dapur. Saya tidak begitu tahu, setiap menjelang Maghrib para laki-laki kerap tidak ada di rumah, selalu pergi sesukanya. Dan yang sangat unik menurut saya, di masyarakat Bugis tidak ada kamar dalam rumah untuk anak laki-laki. Anak laki-laki bisa tidur di mana saja. Dikenal dalam falsafah Bugis istilah ‘laoko’. Artinya, anak laki-laki harus pergi merantau karena itu merupakan bagian dari tradisi Bugis. Rumah adalah milik perempuan. Sehingga kalau terjadi perceraian, yang pergi dari rumah itu laki-laki. Harta yang tidak bergerak dengan sendirinya milik perempuan.

Saya ingat waktu kecil dulu kakek mempunyai jam besar Belanda di ruang tamu. Namun patokan untuk panggilan sahur (juga buka puasa) bukan jam, melainkan dari masjid. Bahkan, bukan hanya dari suara masjid, tetapi dari beberapa orang yang meronda mengitari kampung kami. Seingat saya mereka adalah para waria, berjumlah antara 5 sampai 6 orang yang menabuh gendang. Mereka membangunkan orang untuk sahur dari rumah ke rumah sambil bernyanyi gambus kasidahan. Di sepanjang jalan tampak puluhan orang yang ingin melihat aksi heboh para waria itu. Mereka itulah yang membangunkan kami untuk sahur.

Kami tidak mempersoalkan keberadaan para waria itu. Karena di Bugis sendiri ada sekelompok laki-laki berpakaian perempuan dan tidak menikah, yang tak lain mereka sebenarnya adalah para waria. Oleh masyarakat Bugis mereka disebut Bissu, yakni suatu strata sosial yang dikultuskan dalam kerajaan karena fungsinya menjaga dan merawat barang-barang kerajaan seperti keris dll. Mereka hidup mengabdi pada tugas adat secara turun-menurun. Kalau ada perjamuan atau acara-acara adat merekalah yang mempersiapkan. Mereka juga menjadi tukang rias bagi para pengantin adat di dalam masyarakat Bugis.

Setelah makan dan cuci piring, kami lalu pergi ke masjid Pesantren As’adiyah yang kebetulan dekat dengan rumah kami. Di situ kami shalat Shubuh dan kemudian mengikuti pengajian. Kira-kira jam 07.00 pagi kami pun bubar dan kembali ke rumah. Setibanya di rumah, saya kadang tidur. Atau kalau tidak, saya melakukan kegiatan lain. Kalau ibu hampir bisa dipastikan tidak akan pernah tidur seharian. Ada saja pekerjaan yang beliau lakukan. Bahkan, pada jam 10.00-an beliau bersama nenek sudah sibuk membuat bermacam kue-kue tradisional. Sekitar jam 14.00 siang keduanya istirahat, kemudian jam 16.00 keduanya bangun lagi untuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Biasanya yang selalu ada di bulan Ramadhan adalah kue srikaya; bahannya telor dicampur sedikit terigu dan santan kental, lalu dikocok kemudian dipanggang di atas bara selama kurang lebih 4 jam. Di saat buka, kue ini biasanya dimakan dengan ketan yang dimasak dengan santan. Selain itu, ada hidangan kolak pisang ijo dan palu butung. Kue-kue Bugis terkenal dengan rasanya yang legit dan manis. Bagi orang Bugis, kue itu harus terasa manis, kalau tidak manis bukan kue namanya.

Setelah berbuka dengan makanan yang manis, kami lalu shalat Magrib berjamaah. Setelah itu makan malam. Menu yang disajikan biasanya nasi, sayur dan lauknya, dominan berupa ikan, terutama ikan bakar dengan sambal khusus. Kami juga suka ikan dari danau, sungai dll. Kami jarang sekali makan daging. Karena dalam miliu kami yang namanya daging itu hanya ada di kala lebaran, jadi sekali-sekali saja. Sementara di hari-hari biasa, juga di hari-hari bulan Ramadhan, kami mengkonsumsi ikan. Ikan masak palumara pakai asam kunyit adalah khas kami yang tidak ada di tempat lain. Jadi kelihatan betul, selain bulan untuk ibadah, Ramadhan juga menjadi bulan untuk masak dan makan enak. Sampai sekarang yang terkesan dari Ramadhan ketika di kampung dulu adalah makan enaknya itu.

Shalat Tarawih merupakan tradisi yang sangat kuat, dilakukan secara berjamaah di masjid, baik laki dan perempuan, tua dan muda, kaya dan miskin semuanya berbaur menjadi satu. Sampai kuliah S1 saya nyaris tidak pernah melihat orang sesudah berbuka masih berada di tempat lain kecuali di masjid untuk shalat Tarawih. Ketika di kampung, kalau ada orang yang berada di luar masjid pada jam-jam shalat Tarawih pasti ia bukan orang alim. Artinya, orang yang dianggap sebagai orang alim adalah orang yang pada jam-jam shalat Tarawih berada di masjid. Karena mayoritas pengikut NU, Shalat Tarawih di kampung saya sebanyak 23 rakaat; 20 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat shalat Witir.

Di daerah saya terdapat satu Masjid Raya, bisa dibilang Masjid Agung yang terletak di pusat kota, dekat dengan alun-alun dan kantor Bupati. Masjid tersebut di bulan Ramadhan selalu ramai, khususnya pada saat pelaksanaan shalat Tarawih. Betapapun jauhnya, namun orang-orang selalu berusaha untuk shalat di situ. Karena Ramadhan menjadi semacam celebration. Selain itu, ada juga mushalla-mushalla kecil, tetapi orang-orang melaksanakan shalat Tarawih di masjid, utamanya di Masjid Raya. Laki-laki dan perempuan semua shalat di masjid. Saya sendiri, juga keluarga, lebih suka shalat Tarawih di masjid Pesantren As’adiyah daripada di Masjid Raya. Karena memang lebih dekat dengan rumah. Dari sejak kecil, sampai gadis saya senang shalat di masjid. Tradisi kami sangat terbuka, suka pergi ramai-ramai ke masjid.

Saya sesekali shalat Tarawih di Masjid Raya. Di situ saya menyaksikan sesuatu yang menarik. Jadi, di daerah saya ormas keagamaan yang paling besar adalah NU. Sementara Muhammadiyah hanya menjadi kelompok minoritas, dan banyak di antara mereka yang datang ke Masjid Raya. Di sana mereka shalat 8 rakaat. Rupanya sang imam mengetahui hal itu. Makanya, ketika sampai pada rakaat kedelapan, ia berhenti sejenak. Setelah orang-orang Muhammadiyah itu pulang semuanya, baru kemudian ia melanjutkan lagi shalat Tarawih sampai selesai (20 rakaat) bersama jamaah yang mayoritasnya adalah orang-orang NU.

Bagi saya, shalat Tarawih adalah momen yang sangat istimewa, di mana saya dapat bertemu dengan banyak orang. Dan ini membuat saya sangat senang. Kadang kami berangkat dari rumah ke masjid dengan membawa makanan atau kue yang dibungkus dalam sarung. Setelah shalat kami mendengarkan ceramah sambil ngemil. Sepulang dari masjid, kami biasanya jalan-jalan dulu, karena di jalanan sangat ramai dengan aneka penjual makanan, minuman, pakaian dan sebagainya.

Saya ingat ketika masih gadis dulu, kalau pergi ke masjid untuk shalat Tarawih sering juga ikut-ikutan pamer sarung sutera mengikuti kebiasaan gadis-gadis di daerah kami. Di masa itu belum dikenal mukena sepasang seperti sekarang, tetapi memakai bawahan sarung, sarung sutera asli yang halus bagi yang punya. Kebetulan di rumah saya, yang sebaya ada 3 orang, yaitu saya, sepupu dan tante saya. Nenek saya dikenal banyak orang sebagai orang berpunya. Tak mengherankan bila koleksi kain sutranya bagus-bagus. Tetapi waktu itu saya merasa nenek tidak akan meminjamkannya kepada kami. Meskipun sebetulnya belum saatnya kami memakai sutera halus, apalagi hanya untuk Tarawih. Sebab, sutera halus hanya boleh dipakai ketika shalat Idul Fitri dan Idul Adha dan hari-hari penting lainnya, seperti acara perkawinan, acara selamatan dan berbagai kenduri adat lainnya. Makanya, ketika beliau sibuk di dapur, kami bertiga lalu mengambil beberapa lembar sutra halus yang cantik-cantik dari lemarinya. Jadi, kami ke masjid selain memakai mukena, juga memakai kain sutra untuk dibawahnya. Sehingga, apabila kami angkat mukenanya, orang-orang bisa melihat kain sutra halus yang kami kenakan.

Dari dulu orang Bugis memang terkenal dengan suteranya yang handmade. Dan nenek saya termasuk kolektor sutra. Jadi, kalau ada produk baru yang bagus dan halus orang-orang pasti menawarkannya ke nenek. Koleksi sutra beliau saya akui memang cantik-cantik. Dan saya, sepupu dan tante sering mengambilnya untuk bertiga dan kami gunakan ketika tarawih ke masjid. Kemudian sekembalinya dari masjid kami letakkan lagi di lemarinya dengan rapi agar tidak ketahuan. Saat kami pulang dari masjid biasanya beliau sudah tidur karena usianya yang sudah uzur. Setiap malam kami selalu begitu.

Bagi orang Bugis, laki dan perempuan, waktu shalat Tarawih memang merupakan ajang untuk pamer sarung sutra, dan ini sudah menjadi pemandangan yang khas. Dari warna dan coraknya saja orang yang mengerti pasti tahu tentang asli dan tidaknya sebuah kain sutra. Saya sendiri tidak begitu bisa membedakannya, mungkin karena tidak punya perhatian khusus terhadap sutera. Tetapi orang di kampung saya dengan hanya memegang saja sudah tahu mana yang asli dan mana yang palsu. Mereka bisa mengetahui orang kaya, tingkatan bangsawan dari model dan corak sarung sutranya. Bagi mereka kain sutra merupakan simbol status sosial. Tetapi sekarang kain sutra sudah mulai hilang karena memang mahal dan merawatnya pun sangat rumit, tidak boleh dicuci dengan air. Kalau saat ini ada sutra yang bisa dicuci dengan air, itu pasti tidak asli.

Dulu kalau ada acara-acara besar seperti Maulid Nabi, misalnya, semua orang akan memakai sutra. Kalau dulu orang Bugis modelnya memakai kebaya dan kain sutra. Untuk acara pernikahan biasanya mereka mengenakan baju bodo yang transparan. Ketika menjadi santri di Pesantren As’adiyah saya juga kerap memakai baju bodo itu. Dan pada saat salah seorang putri kiyai menikah, misalnya, beberapa orang santri putri, saya juga kadang-kadang, ditunjuk menjadi pagar ayu dengan memakai baju bodo tanpa kerudung. Tetapi tidak ada orang yang bilang itu haram atau apa lah. Sekarang banyak perempuan memakai baju bodo dengan modifikasi, seperti dilapis dengan daleman, tetapi saya melihatnya tidak lagi cantik. Kami orang Bugis relatif bisa menghargai tradisi, tidak serta-merta membuangnya karena alasan agama.

Kemudian, tiba saatnya saya harus pindah ke Ujung Pandang, karena saya hendak melanjutkan studi S1 di IAIN Alaudin. Namun di sana saya dilarang ngekost oleh ibu. Sebab menurut beliau rumah kost itu tidak Islami. Sehingga, mau tidak mau, saya dibangunkan sebuah rumah di sebelah rumah paman saya yang sangat galak. Jadi, setiap ada tamu yang datang ke rumah dia pasti bisa melihat.

Di Ujung Pandang itu saya mulai mengenal shalat Tarawih ‘bersama’. Maksudnya, shalat Tarawih yang para jamaahnya diundang ke rumah seseorang. Hal ini saya lakukan bersama teman-teman PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia). Karena saya merupakan salah seorang pengurus di organisasi kemahasiswaan tersebut. Dan saya mengadakan kegiatan shalat Tarawih keliling ke rumah-rumah para tokoh PMII. Tidak setiap malam, tetapi diselang-seling. Misalnya, malam pertama, ketiga, kelima, dan seterusnya sampai selasai.

Setelah shalat Tarawih biasanya ada ceramah yang kemudian dilanjutkan dengan tanya-jawab dan diskusi sambil makan kue-kue yang sengaja dihidangkan untuk para jamaah. Saya dan beberapa teman terlibat aktif mengorganisasikan acara ini mengundang teman-teman yang lainnya. Sering juga shalat Tarawih diadakan di rumah saya. Karena ruang tamunya lumayan besar sehingga bisa menampung puluhan orang untuk shalat jamaah. Tambahan lagi, rumah saya letaknya dekat kampus sehingga memudahkan bagi teman-teman mahasiswa yang berdomisili di sekitar kampus. Jadi, ketika di Ujung Pandang itu saya mendapat pengalaman baru, bahwa shalat Tarawih tidak harus di masjid, tetapi bisa juga berjamaah di rumah.

Nah, saat tidak ada tarawih keliling saya melaksanakan shalat di masjid kampus. Saya ingat dulu saya makan sering terburu-buru agar dapat tempat duduk yang enak di barisan terdepan dalam masjid. Untuk laki-laki shafnya di depan dan perempuan di belakang tetapi tidak dipisahkan dengan tabir. Jarak antara shaf laki-laki dan perempuan hanya 2 meter. Sehingga saya dapat melihat dengan jelas siapa yang memberikan ceramah di depan. Saya dengan teman-teman berlomba-lomba mendapatkan tempat di barisan paling depan karena ingin melihat secara jelas siapa yang menjadi penceramah.

Saya mengalami kejadian paling aneh sewaktu pindah ke Jakarta untuk melanjutkan S2 di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Syarif Hidayatullah). Waktu itu, di bulan Ramadhan ada kuliah malam. Saya mengalami konflik batin yang sangat luar biasa karena sebelumnya saya tidak pernah punya kegiatan lain di malam-malam bulan Ramadhan kecuali untuk beribadah (shalat Tarawih dan sebagainya). Waktu itu hati saya memberontak sembari bertanya-tanya, “Kok bisa ya kuliah tidak menghargai bulan suci? Apa orang di sini kafir semua?”. Malah saya sampai bertanya kepada dosen saya, Dr. Muslim Nasution, alumnus Ummul Qura Makkah (kurang Islam apa lagi dia itu).

“Pak, besok kita kan sudah mulai puasa, kok malam ini kita masih kuliah?”

Lho, kalau Ramadhan kan tidak masalah sehabis buka kita kuliah,” katanya.

“Terus Tarawihnya bagaimana?” kata saya.

“Tarawih kan bisa diundur sampai tengah malam. Itu justru lebih afdhal (utama), karena proses pencernaan makanan sudah lewat. Sehingga kita tidak terengah-engah waktu shalat.”

“Iya, tapi kita kan tidak bisa ke masjid atau berjamaah, Pak,” sergah saya.

Lho, Musdah, kegiatan kuliah di malam Ramadhan itu pahalanya sama dengan shalat Tarawih.”

Terus terang saya kaget sekali waktu itu, karena sebelumnya tidak pernah mendengar penjelasan seperti itu. Saya merasa ketika orang-orang sedang melaksanakan shalat Tarawih di masjid sementara saya masih berada di kelas, saya sudah berbuat kesalahan. Suatu ketika Pak Harun Nasution, Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah juga ngomong di kelas, “Pahala shalat Tarawih dengan belajar atau kuliah itu sama. Tintanya ulama itu sama dengan darahnya syuhada.”

Namun, bagaimanapun dosen-dosen saya di IAIN Jakarta memberikan penjelasan, di manapun berada saya tidak pernah meninggalkan shalat Tarawih, bahkan dalam perjalanan sekalipun. Pernah suatu saat saya sedang berada di bandara, saya sempat-sempatin mencari tempat untuk shalat Tarawih. Sampai teman saya bilang, “Kok ada ya orang seperti kamu.” Tetapi biarlah, saya tidak peduli dengan omongan orang. Dan sampai sekarang saya masih konsisten melaksanakan shalat Tarawih. Saya tidak bisa seperti orang lain yang sengaja menghindarkan diri dari shalat nawâfil (sunnah).

Ada acara sepenting apapun saya tetap melaksanakan shalat Tarawih, meskipun sering tidak lagi 23 rakaat seperti dulu. Untuk masa sekarang ini, mengingat kegiatan saya yang sangat padat, khususnya di bulan Ramadhan, saya shalat Tarawih sering 8 rakaat saja, kemudian ditambah shalat Witir 3 rakaat. Di luar Ramadhan pun, setiap malam saya selalu melakukan qiyâm al-layl. Kalau dulu saya melakukan shalat Tarawih dan qiyâm al-layl agar mendapatkan pahala, tetapi sekarang hal itu merupakan kebutuhan spiritual untuk charger di mana saya memerlukan kekuatan dan tempat bersandar supaya lebih tahan banting.

Seiring dengan perjalanan waktu saya merasa dalam hal agama, saya menjadi lebih kritis dan rasional dalam beragama. Hal itu paling tidak karena dua faktor. Pertama, pengaruh pendidikan agama tingkat tinggi yang lebih mementingkan penggunaan akal sehat dan nalar kritis dari pada hafalan dan pendekatan dogmatis. Kedua, pengalaman perjumpaan dengan berbagai komunitas agama di berbagai negara, termasuk perjumpaan dengan berbagai komunitas Muslim di negara-negara Islam. Akibatnya, dalam beribadah saya tidak lagi hanya mementingkan aspek-aspek simbolistik belaka, melainkan mencoba menghayatinya sampai ke tingkat paling dasar, sampai ke pusat kesadaran kemanusiaan yang paling dalam.

Saya mengkritisi cara saya beragama di masa lalu yang sangat fokus pada sisi ritual semata. Selama di pesantren saya dididik untuk tidak banyak tidur, apalagi di waktu malam selama Ramadhan. Sepanjang malam kami dilatih untuk shalat sunnah sampai waktu sahur tiba. Wahh…shalat sunnah malamnya beraneka macam; mulai shalat Tarawih, shalat Mutlak, shalat Taubat, shalat Tahajjud, shalat Awwabin, shalat Hajat, shalat Lailatul Qadar dan seterusnya. Setelah sahur dilanjutkan dengan tadarusan (membaca al-Qur`an) sampai waktu shalat Dhuha. Setelah itu, baru istirahat untuk mandi, cuci pakaian dan sebagainya. Sehabis Zhuhur, tadarusan lagi sampai jelang Ashar. Lalu istirahat kemudian membantu masak, membantu persiapkan hidangan berbuka puasa. Saya ingat dulu ketika masih di pesantren, setiap bulan Ramadhan saya sanggup khatam al-Qur`an sampai 7 kali.  Kalau lagi tidak haid, saya sanggup menghatamkan al-Qur`an dalam tempo tiga hari. Waktu itu, kami para santri sering berlomba khatam al-Qur`an.

Tetapi, apa manfaatnya? Umumnya semua ibadah yang kami lakukan itu hanya membangun ketaatan individual, dan tidak banyak memberi efek pada pembentukan kesalehan sosial. Akibatnya, tujuan akhir agama, yakni memanusiakan manusia tidak banyak terwujud. Maksudnya, membentuk manusia yang memiliki moralitas dan spiritualitas. Manusia yang peka terhadap penderitaan sesama, manusia yang peduli pada sesama makhluk, dan peduli pada upaya pelestarian lingkungan.

Mengapa ini terjadi? Menurut hemat saya karena umumnya umat Islam lebih banyak diajarkan tentang ibadah mahdhah (ritual yang bersifat formal), berupa shalat, puasa, zakat (zakat minimal) dan haji. Itu pun sekedar aspek ritual yang mengedepankan unsur legal dan formalnya. Tidak heran, begitu banyak orang yang saleh secara individual tetapi tidak mampu mengubah kondisi sosial di sekitarnya ke arah yang lebih baik. Dalam praktik keagamaan, umumnya kita melupakan ibadah ghayru mahdhah (ibadah yang tidak memiliki bentuk formal) yang cakupannya amat luas, seluas aktivitas keseharian manusia sebagai makhluk sosial, seperti upaya-upaya pencerahan agar masyarakat terlepas dari tindakan pembodohan dan perlakuan tidak adil; upaya-upaya pemberdayaan agar masyarakat terhindar dari bencana kelaparan, kemiskinan dan perilaku eksploitatif; sebaliknya juga mengajarkan masyarakat terhindar dari perilaku konsumtif, hedonistik dan riya` (suka pamer); dan upaya-upaya advokasi terhadap kelompok rentan dan marjinal, seperti membela hak perempuan dan anak, membela kelompok minoritas  terkait suku, agama, kemampuan fisik (difabel) dan sebagainya

Jadi, bagi saya doa yang paling afdhal dilantunkan di bulan Ramadhan, antara lain sebagai berikut, “Andai saya tahu ini Ramadhan terakhir, tentu saya akan memastikan seluruh sisa hidup ini diabdikan sepenuhnya untuk menolong anak-anak yang tidak mampu bersekolah, anak-anak yang menderita penyakit ganas sehingga hanya bisa terkapar dan terbaring lunglai karena tidak mampu membayar biaya pengobatan, anak-anak jalanan yang terlantar karena kemiskinan, anak-anak yang dieksploitasi untuk bekerja, dan anak-anak yang dipaksa memanggul senjata di wilayah konflik dan perang.” Saya selalu berdoa agar dibimbing melakukan kerja-kerja kemanusiaan yang bermanfaat bagi orang banyak.

Walau begitu, saya pribadi tetap saja secara tekun melakukan semua aktivitas ritual seperti dulu di pesantren, misalnya tadarusan sampai khatam, shalat malam semampu yang bisa saya lakukan. Bedanya, kini saya berusaha merefleksikan agar semua ibadah yang saya lakukan tersebut punya efek dalam kehidupan sosial dan bermanfaat bagi alam semesta. Ibadah harus punya implikasi sosial sehingga keberadaan kita sebagai Muslim dan Mukmin dirasakan manfaatnya bagi orang banyak, bahkan juga manfaat bagi para makhluk di sekitar kita dan juga bagi alam semesta. Dengan begitu Islam akan menjadi rahmat-an li al-‘âlamîn, pembawa rahmat bagi semua makhluk di alam semesta.

 

Lebaran Idul Fitri

Dalam penentuan tanggal 1 Syawal atau hari Idul Fitri, di Bugis kami selalu menunggu pengumuman dari pesantren. Kalau pesantren bilang besok lebaran, kita tinggal mengikuti saja. Saya tidak begitu tahu persis menggunakan metode apa, tetapi orang-orang NU dulu biasanya memakai ru`yah al-hilâl (melihat bulan).

Untuk persiapan lebaran kami jarang beli baju, lebih sering beli kain saja untuk dijahit oleh nenek yang kebetulan memang pandai menjahit, dan beliau mempunyai mesin jahit sendiri di rumah. Kepandaiannya ini beliau turunkan kepada keturunannya sehingga saya pun juga pandai menjahit. Jadi, beberapa hari menjelang lebaran kami berbelanja kain ke toko-toko Cina untuk membuat baju. Kemudian kain yang dibeli itu kami gunting-gunting untuk dibentuk kebaya dan selanjutnya kami jahit. Saya kadang juga membuatkan baju untuk adik-adik dan keponakan-keponakan saya. Membuat baju untuk anak kecil menghadirkan kesenangan tersendiri karena lucu seperti boneka, ada pernik-perniknya.

Selain menjahit baju, kami juga mempersiapkan kue-kue kering. Kami bahkan sering tidak tidur selama 2 hari karenanya. Kami membuatnya sangat banyak, malah kadang mencapai 20-30 toples. Hidangan paling khas di waktu lebaran adalah burasa, yaitu nasi pakai santan yang dibungkus dengan daun pisang, lalu disusun menjadi empat dan diikat lalu dimasak selama 6 jam. Burasa ini enaknya dimakan bersama Coto Makassar yang terkenal itu. Dulu belum ada benang rapiah, jadi kami membuat sendiri pengikatnya dari pelepah pisang yang dianyam dan dibikin tali. Kami membuatnya dengan sangat hati-hati, karena kalau tidak kuat pasti tidak akan jadi. Biasanya para laki bertugas untuk membungkus dan mengikat. Ada juga kue tumbuk, yaitu sejenis lemper yang dibuat dari ketan hitam atau putih dibungkus daun pisang. Ini biasanya dimakan dengan daging yang dimasak seperti rendang. Namun, ada juga yang menyantapnya dengan tape ketan. Selalu tersedia tape ketan putih dan hitam yang dibentuk bulat-bulat. Semua ini wajib ada di setiap lebaran.

Di kampung, kami sekeluarga biasanya shalat Idul Fitri di lapangan dan jarang di masjid. Orang-orang NU, Muhammadiyah dan lain-lainnya semua shalat Id di lapangan. Laki dan perempuan pasti memakai sarung sutera sesuai tingkat sosial masing-masing. Peragaan sarung sutera mendapatkan momentumnya pada hari lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

Setelah shalat biasanya banyak orang yang bersilaturrahim ke rumah. Karena kakek dan nenek saya dituakan, maka semua famili dan kerabat saya pasti datang ke rumah. Jadi, saya dan keluarga tidak perlu keliling-keliling. Kami sangat egalitarian; dari dulu salaman laki-laki dan perempuan tidak ada masalah.

Para pembantu yang bekerja di rumah tidak pernah mudik karena mereka tidak mempunyai kampung. Mereka juga tidak kenal dengan familinya karena sejak kecil sudah tinggal bersama nenek. Biasanya mereka semua tinggal di rumah itu sampai meninggal dan tidak ke mana-mana terus turun-temurun ke anaknya membantu di rumah nenek.

Intinya, kalau lebaran di rumah saya ramai sekali. Banyak orang datang dan berkumpul di situ. Yang tidak pernah bertemu pasti akan bertemu. Di berbagai tempat di Indonesia selalu ada daerah khusus bagi komunitas Bugis. Misalnya, di Sumatera ada kampung bernama Kuala Enok, daerah Jambi. Kebanyakan orang Bugis merantau ke sana. Di Kalimantan, biasanya mereka merantau ke kota Samarinda dan Tarakan. Di Jawa, antara lain banyak yang merantau ke Gresik. Umumnya daerah pesisir karena orang Bugis dari dulu terkenal sebagai pelaut dan nelayan yang gigih dan ulet. Dan ketika lebaran mereka akan pulang. Saya pun sejak tinggal di Jakarta, hampir setiap tahun saya pulang kampung untuk lebaran.

Tradisi lain setelah hari lebaran adalah kami semua melakukan puasa Syawal selama 6 hari berturut-turut. Biasanya kami melakukan puasa mulai hari kedua di bulan Syawal dan berturut-turut sampai enam hari. Pada hari keenam kami membuat burasa lagi lengkap dengan lauknya persis seperti hari lebaran. Hakikatnya kami memang merayakan lebaran kedua, lebaran Syawalan namanya.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

Islam dan Cinta Tanah Air

DI dalam diri manusia Allah Swt. menciptakan banyak insting dasar yang sangat penting bagi kehidupannya dalam menjalankan perannya sebagai khalifah yang dibebani tanggungjawab memakmurkan bumi. Di antara insting tersebut adalah rasa cintanya kepada tanah airnya. Manusia, secara alamiah, mencintai tanah airnya; tanah kelahirannya, tanah kakek dan nenek moyangnya. Ia senang tinggal di tanah tempat ia diasuh, dididik, tumbuh, menghirup udaranya, meminum airnya, memakan hal-hal yang baik darinya, dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang hidup bersamanya di atasnya.

Karena sebab cinta itu, manusia berusaha membangun tanah airnya, memakmurkannya, membelanya, mengerahkan hal-hal berharga yang ia miliki demi kebebasannya, serta mencegah siapapun dari para musuh untuk menguasai dan mengeksploitasinya. Ali ibn Abi Thalib ra. memberikan isyarat, “Negeri-negeri itu dibangun dengan cinta tanah air.”[1]

Islam sebagai agama kemanusiaan memberikan perhatian dan mengakui hubungan dan rasa cinta manusia kepada tanah airnya. Di dalam Islam, cinta tanah air bukan sebatas luapan emosi, tetapi merupakan kesadaran akan tanggung jawab pemenuhan kewajiban-kewajiban atas negara. Kesadaran ini menuntut semua warga negara untuk berpijak di atas prinsip kesetaraan dalam hak dan kewajiban. Rasulullah Saw. di dalam Piagam Madinah memutuskan bahwa semua warga negara adalah satu tangan atas yang lain. Mereka bahu-membahu melawan ancaman dan permusuhan atas tanah mereka, dan bekerja sama satu dengan yang lain untuk mewujudkan kepentingan mereka, menjaga darah, hak, dan kehormatan mereka. Dengan begitu maka tanah air menjadi benteng pelindung bagi seluruh warganya. Kalau kita melihat sejarah peradaban sepanjang zaman, kita akan menemukan contoh-contoh nyata mengenai realisasi makna kesetaraan di antara semua warga di dalam suatu negara. Oleh karena itu, kesetaraan adalah ajaran Islam yang dengannya negara menjadi kuat, semua warga kompak, dan setiap individu terjaga kehormatannya.

Grand Mufti Mesir, Syaikh Ali Jum’ah mengatakan bahwa cinta tanah air adalah fitrah kemanusiaan yang diakui oleh Islam dan merupakan dasar untuk membangun masyarakat. Dengan fitrahnya manusia telah membentuk cinta kepada tanah airnya dan perasaan untuk senantiasa membelanya. Dan ketika Islam datang tidak lantas memutus kecenderungan itu tetapi mengakui dan menyerukannya, serta menjadikannya sebagai cara untuk melakukan amal kebajikan, perbuatan-perbuatan baik, dan memperkuat tali persaudaraan di antara putra-putri bangsa.[2]

Cinta tanah air tercermin dalam sejarah para nabi dan rasul, di mana mereka mencintai tanah airnya melebihi cinta mereka pada diri sendiri. Rasulullah Saw. sendiri telah memberikan contoh terbaik mengenai hal ini ketika beliau pergi dari Makkah untuk hijrah ke Madinah. Beliau berpaling kepadanya dan menyatakan perasaannya, “Kau adalah negeri terbaik yang sangat aku cintai. Kalau tidak karena kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu.” Kata-kata ini menunjukkan ketulusan cinta beliau kepada tanah air tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan.[3]

 

Kedudukan Tanah Air di dalam Islam

Di dalam kitab “al-Tahliyah wa al-Targhîb fî al-Tarbiyah wa al-Tahdzîb” Sayyid Muhammad mendefinisikan tanah air (al-wathan) sebagai tanah di mana kita lahir dan tumbuh berkembang di sana, memanfaatkan tumbuhan dan binatang ternaknya, mencecap air dan udaranya, tinggal di atas tanah dan di bawah kolong langitnya, serta menikmati berbagai hasil bumi dan lautnya sepanjang masa. Semua fasilitas tersebut membuat manusia menyerahkan jiwa, raga dan harta bendanya untuk mengabdi pada tanah airnya dengan mendatangkan kebaikan, mengembangkan perekonomian dan memajukannya.[4]

Tanah air terdiri dari tanah, rakyat, tatanan, sistem, nilai-nilai, dan kehendak kemanusiaan. Semua ini menjelma di dalam tanah yang membentuk tanah air. Dari tanah itulah kita diciptakan, kita hidup di atasnya dan dikubur di dalamnya sampai kita dibangkitkan kembali oleh Allah di Hari Kebangkitan. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu [menjadi] manusia yang berkembang biak,” [QS. al-Rum: 20]. Seorang patriotis sejati mengetahui nilai tanah airnya dan memposisikan kesetiaannya terhadapnya di atas kesetiaan terhadap yang lain. Baginya, membela tanah air bukan untuk gagah-gagahan, tetapi merupakan tugas besar yang harus dijalankannya. Membela tanah air dengan melawan para pengacau juga merupakan tugas suci yang tidak boleh ditinggalkan siapapun tanpa alasan yang kuat.

Sejumlah kalangan yang bersembunyi di balik topeng agama menyuarakan sebuah pemikiran yang menafikan pentingnya kewarganegaraan dan kesetiaan kepada sebuah negara yang dibatasi oleh pagar-pagar pembatas yang memisahkannya dari negara-negara tetangga. Mereka mengklaim bahwa pagar-pagar pembatas itu tak lebih dari sekedar pembatas khayalan yang dibuat oleh musuh-musuh umat pada periode-periode sejarah tertentu. Karena itu mereka tidak memandang kesucian pembatas-pembatas itu, sehingga mereka tidak keberatan jika pembatas-pembatas itu digeser atau dipindahkan untuk suatu kepentingan tertentu dengan alasan bahwa bumi seluruhnya adalah milik Allah yang dianugerahkan untuk seluruh ciptaan-Nya.

Pandangan tersebut tentu saja bertentangan dengan prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di bumi, juga pengembangannya, pembangunannya, dan kohesi sosial di dalamnya. Selain itu, pandangan tersebut menghancurkan sistem keluarga, suku, kebangsaan, identitas, dan kekuasaan. Semua ini adalah unsur-unsur terpenting bagi kedaulatan sebuah negara dan persatuan rakyatnya, kekuatan kohesi sosialnya, serta pemanfaatan sumber daya dan kekayaannya. Sebagaimana, pandangan tersebut, justru sejalan dengan orientasi kolonialisme. Seperti yang kita tahu, kolonialisme bertujuan menguasai seluruh atau sebagian tanah dari suatu bangsa dengan memonopoli kekayaan dan memperluas wilayah kekuasaan yang dilakukan dengan kekuatan bersenjata.

Dengan demikian, klaim bahwa agama tidak melihat tanah air sebagai sesuatu yang suci, dan bahwa tidak ada hubungan antara kesetiaan kepada tanah air dan keyakinan agama, itu adalah kesalahan besar yang mendustakan ajaran agama-agama samawi khususnya Islam. Allah Swt., ketika menetapkan kerangka hubungan dalam interaksi kita dengan umat lain yang berbeda agama mengaitkan antara agama dan negeri yang merepresentasikan tanah air, sebagaimana dalam firman-Nya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” [QS. al-Mumtahanah: 8]. Artinya, agama tidak melarang kita untuk berbuat baik kepada non-Muslim dan berlaku adil kepada mereka selama mereka tidak memerangi kita karena agama kita atau mengusir kita dari tanah air kita.

Ketika memuji kaum Muhajirin Allah Swt. menyebutkan bahwa di antara perbuatan luhur mereka yang pantas untuk dihormati, di samping karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali masuk Islam, adalah bahwa mereka terpaksa keluar dari tanah air mereka (Makkah) meski dengan berat hati demi mempertahankan agama. Dia berfirman, “[Juga] bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka [karena] mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang benar,” [QS. al-Hasyr: 8]. Ayat ini menunjukkan bahwa berkorban dengan meninggalkan tanah air lebih berat daripada berkorban dengan meninggalkan harta. Hal ini juga yang mengangkat derajat kaum Anshar, di mana mereka berkenan menerima Islam masuk ke tanah air mereka dan menjamin keamanan Rasulullah Saw. beserta orang-orang yang bersama beliau. Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum [kedatangan] mereka (kaum Muhajirin), mereka (kaum Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Dan mereka (kaum Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin); dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan,” [QS. al-Hasyr: 9].

Dari sana kita tahu bahwa cinta kepada tanah air mempunyai keutamaan tersendiri di dalam Islam. Kaum Muhajirin sangat mencintai tanah air mereka, Makkah. Dan bersamaan dengan kuatnya cinta mereka kepada Makkah, mereka diusir dan terpaksa meninggalkannya demi agama yang mereka yakini sehingga mereka pantas menerima anugerah besar dari Allah Swt. Sementara kaum Anshar secara tulus menerima saudara-saudara mereka yaitu kaum Muhajirin di negeri yang sangat mereka cintai, Madinah. Sangat sulit bagi seseorang untuk menerima dan melibatkan orang lain dalam tanah, tempat tinggal, dan hartanya. Lebih sulit lagi mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Makanya Allah Swt. berfirman tentang mereka, “Dan mereka mengutamakan [kaum Muhajirin] atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung,” [QS. al-Hasyr: 9].

Terdapat perbedaan besar antara kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka dan berhijrah ke Madinah, juga penerimaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin di tanah air mereka, dan antara pandangan kelompok-kelompok yang bersembunyi di balik topeng agama. Apa yang dilakukan oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar sama sekali tidak menafikan pentingnya tanah air, justru itu membuktikan kuatnya rasa cinta mereka terhadapnya. Kalau tidak karena ada wahyu dari Allah kepada Rasul-Nya untuk suatu hikmah yang nantinya diketahui oleh umat Muslim, tentu kaum Muhajirin tidak akan sudi keluar dari tanah air mereka. Tetapi karena saat itu agama menuntut, secara terpaksa mereka keluar meninggalkan Makkah dengan hati yang terluka.

Allah Swt. telah menjelaskan bagaimana kuatnya ikatan jiwa yang normal dengan tanah airnya dan pedihnya perasaan saat diusir darinya, karena pengusiran darinya adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu,’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka,” [QS. al-Nisa`: 66]. Pengusiran dari kampung halaman termasuk hukuman yang ditetapkan dalam syariat bagi para perusak di muka bumi dan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Melakukan kerusakan di muka bumi dan memerangi Allah dan Rasul-Nya adalah kejahatan paling buruk dan hukumannya pun sangat berat. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri [tempat kediamannya]. Yang demikian itu [sebagai] suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,” [QS. al-Ma`idah: 33]. Pengusiran dari kampung halaman juga termasuk salah satu hukuman ta`zîr tambahan bagi pelaku zina setelah dihukum hadd dengan dicambuk, yaitu pengasingan selama beberapa tahun. Semua ini menunjukkan beratnya jiwa manusia jika diusir dan dijauhkan dari tanah airnya. Orang yang waras tentu tidak akan sudi meninggalkan tanah kelahirannya kecuali kalau ia diusir atau dalam keadaan terpaksa.

Al-Qur`an memperingatkan kita mengenai perilaku orang Yahudi yang menghancurkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan mereka terpaksa meninggalkannya akibat ulah mereka sendiri ketika mereka melanggar perjanjian dengan umat Muslim. Allah Swt. berfirman, “Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah [kejadian itu] untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan,” [QS. al-Hasyr: 2]. Tanah air bukan untuk dihancurkan dan ditinggalkan, tetapi untuk dibangun dan dimakmurkan. Senjata diangkat bukan untuk menghancurkannya, mencabik-cabik tatanan kehidupan di dalamnya, dan memecah-belah persatuan rakyatnya, tetapi untuk membelanya dan menjaga wilayah perbatasannya.

Di dalam Islam berperang demi membela tanah air untuk mengusir para penjajah dipandang sebagai jihad di jalan Allah (al-jihâd fî sabîlillâh). “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” [QS. al-Baqarah: 246]. Ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang termaktub di dalam al-Qur`an secara jelas menunjukkan kekeliruan pandangan yang menafikan pentingnya kedudukan tanah air, serta memperkuat gagasan cinta tanah air dan memuliakan nilai pembelaan terhadapnya. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan keluarganya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan agamanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan darahnya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan tanahnya, maka ia syahid.”[5]

Orang yang ingin mengetahui nilai dari tanah air, hendaknya ia membayangkan dirinya melepaskan kewarganegaraannya sehingga ia hidup tanpa identitas, tidak ada tentara yang melindunginya, tidak ada negara yang menjamin hak-haknya, bahkan ia tidak punya hak untuk tinggal di anah manapun, tidak punya hak mengakui anak-anak dan cucu-cucunya, maka seketika itu juga ia akan tahu nilai tanah air atau negara yang tertera pada kartu identitasnya. Ia akan merasa terhormat jika negaranya dihormati oleh negara-negara lain di dunia, dan ia akan merasa hina jika negaranya hina di hadapan negara-negara lain di dunia.

 

Cinta Tanah Air

Islam telah memberi kita modal luar biasa dalam mencintai tanah air. Di dalam Islam tanah air mempunyai nilai dan kedudukan yang sangat luhur. Kesetiaan kepada tanah air bukan sebatas slogan atau sekedar kata-kata yang mati di bibir, tetapi merupakan cinta, keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan. Lebih dari itu, Islam telah menjadikan kecintaan dan kesetiaan kepada tanah air sebagian dari akidah, serta menjadikan pembelaan terhadapnya sebagai tugas suci.

Orang yang mencintai tanah airnya tentu tidak akan mengkhianatinya atau menjualnya dengan harga berapapun, sebagaimana ia tidak akan memusuhinya, mengeksploitasi dan merusak potensi-potensinya. Ia melindungi dan menjaga tanah airnya meskipun harus berhadapan dengan orang-orang zhalim. Karena kezhaliman hanya bisa dilakukan oleh manusia sepertinya, bukan oleh tanah air yang menjadi tempat tinggalnya. Maka dari itu siapapun tidak berhak melakukan pengrusakan dan penghancuran di negerinya, meskipun mungkin ia membawa slogan perbaikan. Sebab tidak mungkin melakukan perbaikan dengan pengrusakan.

Makmurnya suatu negeri menunjukkan kemakmuran rakyatnya, kesejahteraan suatu negeri mencerminkan kesejahteraan masyarakatnya. Dan tanah air, dalam pengertiannya yang luas, adalah tanah yang Allah Swt. perintahkan kepada kita untuk memakmurkannya. “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu memakmurnya,” [QS. Hud: 61]. “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi [sumber] penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur,” [QS. al-A’raf: 10]. Manusia diciptakan di atas muka bumi ini untuk memakmurkannya, bukan untuk merusaknya.

Sejarah menyajikan contoh amat bagus tentang kedudukan tanah air di dalam Islam, yaitu ketika Rasulullah Saw. melakukan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Beliau menangis sembari melihat ke arah Makkah dengan tatapan yang sedih. Beliau berkata, “Demi Allah, Kau adalah negeri Allah yang sangat dicintai Allah dan sangat aku cintai. Kalau tidak karena pendudukmu mengusirku darimu, aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu.” Rasulullah Saw. terhindar dari makar penduduk Makkah yang menginginkan kematiannya. Beliau pergi ke Madinah untuk menyampaikan risalah, namun hatinya selalu tertuju ke Makkah di mana beliau dilahirkan dan tumbuh hingga dewasa.

Manusia yang tak punya tanah air sebagai tempat bersandar tidak akan merasakan kebebasan dan kehormatan serta tidak hidup normal. Kebebasan dan kehormatan seseorang hanya dapat dicapai dengan tinggal di tanah airnya sendiri, membelanya, memegang teguh kewarganegaraannya, menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, dan menuntut hak-hak yang ia pandang belum terpenuhi bagi tanah airnya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali di tanah air di mana manusia lahir dan tinggal di dalamnya bersama keluarganya. Jika ia tidak punya tanah air tempat ia bersandar dan membawa benderanya, maka ia akan menjadi parasit bagi orang lain sehingga ia tidak merasakan kehormatan dan kemuliaan.

Orang yang mendaku cinta dan setia kepada tanah airnya harus memberinya kebaikan dan berusaha untuk terus mempertahankan keutuhannya dan bekerja sama dengan semua warganya tanpa melihat apa agama mereka selama mereka tidak membuat kerusakan. Allah Swt. berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” [QS. al-Mumtahanah: 8].

Kesetiaan artinya cinta dan dukungan untuk sesuatu, atau seseorang, atau prinsip atau sejenisnya. Orang yang bernisbat kepada sesuatu tentu ia mencintai dan mendukungnya. Orang yang bernisbat kepada Islam, misalnya, ia harus memuliakan, mencintai, dan mendukungnya. Ia juga harus melawan musuh-musuhnya dan meninggalkan mereka dengan senantiasa memohon perlindungan dari Allah Swt. Dengan demikian, maka sempurnalah imannya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah, maka sempurnalah imannya.”

Mencintai tanah air adalah masalah fitrah, dan Islam adalah agama fitrah. Tetapi, bagaimanapun, mencintai tanah air tetap memerlukan kontrol, yaitu tidak boleh bertentangan dengan ibadah dan dakwah mengajak manusia kepada kebenaran. Kecintaan kepada tanah air juga tidak boleh menjadi alasan untuk melanggar hak-hak orang lain yang terlibat dalam menjaga kehormatan negara. Allah Swt. memerintahkan kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan tetangga dan memenuhi hak setiap orang. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh,” [QS. al-Nisa`: 36].

Di dalam al-Qur`an banyak sekali ayat yang memperlihatkan bagaimana posisi tanah air. Di antaranya adalah al-Qur`an menyebutkan bahwa diusirnya seseorang dari tanah kelahirannya bisa menjadi alasan baginya untuk melakukan jihad dan pengorbanan demi tanah kelahirannya itu. Allah Swt. berfirman, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” [QS. al-Baqarah: 246].

Allah Swt. juga berfirman, “Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, [yaitu] orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah,” [QS. al-Hajj: 39 – 40]. Umat Muslim dibolehkan untuk melakukan perlawanan jika mereka menerima ketidakadilan, dan di antara bentuk ketidakadilan itu adalah mereka diusir dari tanah kelahiran mereka tanpa alasan yang benar.

Selain itu, al-Qur`an juga menyandingkan cinta tanah air dan cinta kepada diri sendiri. “Dan [ingatlah], ketika Kami mengambil janji dari kamu [yaitu]: kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar [akan memenuhinya] sedang kamu mempersaksikannya,” [QS. al-Baqarah: 84].

Dengan demikian, kemuliaan cinta tanah air merupakan sesuatu yang wajar menurut kaca mata agama. Keberadaannya berhubungan dengan tujuan keberadaan manusia, yaitu memakmurkan dan membangun bumi. Sebagaimana diisyaratkan di dalam firman Allah Swt., Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu memakmurnya,” [QS. Hud: 61].

Ketika kita berbicara mengenai cinta tanah air, itu tidak terbatas pada negeri umat Muslim saja, tetapi semua negeri yang ditempati oleh manusia, bahkan meskipun negeri tersebut bukan negara Islam, atau ketika mayoritas penduduk di negeri tersebut adalah non-Muslim. Tanah air adalah tanah air, siapapun yang tinggal di atasnya dengan latar belakang agama apapun punya hak dan kewajiban yang sama.

Indonesia adalah negara yang beragam suku dan budayanya. Salah satu hal yang berpotensi besar merusak kecintaan kita kepada tanah air adalah fanatisme suku dan kelompok; hanya suku atau kelompoknya sendiri saja yang paling benar, atau tidak melihat kebaikan yang datang dari suku atau kelompok lain. Fanatisme adalah perbuatan iblis, dan iblis adalah imamnya orang-orang yang fanatik. Di dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidak termasuk fanatisme seseorang yang mencintai kaumnya, tetapi yang termasuk fanatisme adalah ia melihat keburukan kaumnya lebih baik daripada kebaikan kaum yang lain.”

Rasulullah Saw. mendorong untuk menghilangkan fanatisme, baik kepada jenis, suku, atau warna kulit. “Wahai manusia, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang asing atau orang berkulit putih atas orang berkulit hitam kecuali dengan ketakwaan.” Ketika seorang Yahudi bernama Syas ibn Qais berencana mengobarkan api perselisihan antara suku Aus dengan suku Khazraj, dan rencananya hampir berhasil, di mana masing-masing dari suku Aus dan Khazraj mulai menyerukan fanatisme kesukuannya, maka datanglah Rasulullah Saw. menjadi penengah dengan bersabda, “Tinggalkan fanatisme, karena baunya sangat busuk. Apakah kalian akan kembali ke masa Jahiliyah sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?

Kita harus selalu menjaga persatuan karena itulah kekuatan kita. Kita lihat negara-negara Eropa menyadari betul nilai dari persatuan itu, makanya mereka kemudian membentuk Uni Eropa. Sementara kita, bangsa Indonesia, belum menyadari itu sepenuhnya, sebab hinggga saat ini Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika masih hanya sebatas tulisan di atas kertas. Makanya kecintaan kita kepada negeri ini harus menjadi motivasi untuk mempertahankan identitas kebangsaan. Artinya, kita mencintai tanah air bukan karena kita menganggapnya sebagai tempat kita lahir dan tempat tinggal saja, tetapi sebagai sarana untuk menjaga identitas kebangsaan sebagai satu kesatuan.

Dalam hal ini ormas-ormas keagamaan sebagai rujukan utama masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyebarkan semangat persatuan. Ketidakterlibatan ormas-ormas ini justru akan membuka peluang bagi kehadiran kekuatan lain untuk memecah-belah bangsa dengan menggunakan berbagai media dan propaganda, bahkan bisa memicu munculnya kelompok-kelompok ekstrimis yang mengklaim mampu menghilangkan kerusakan dan memperbaiki moral masyarakat.

 

Mengekspresikan Cinta Tanah Air

Bagaimana kita mengekspresikan cinta tanah air? Cinta tanah air artinya adalah kita menjaganya dari orang-orang yang menebar ancaman terhadapnya; kita melawan para pemberontak, mengerahkan segala upaya agar tanah air kita tetap bersatu, merdeka, dan bermartabat, serta mencegah kerusakan yang dibuat oleh para pengacau. Orang-orang yang mencintai tanah airnya adalah penjaga sekaligus pembelanya, bukan orang-orang yang tidak peduli atau acuh tak acuh, atau orang-orang yang membantu musuh untuk kepentingan pribadi mereka. Islam memuliakan orang-orang yang mengorbankan darahnya demi membela tanah air dan menganggap mereka sebagai syuhada. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang gugur karena membela tanahnya, maka ia mati syahid.” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla murka kepada seorang laki-laki yang rumahnya dikacaukan tetapi ia tidak melawan.”

Ekspresi cinta tanah air bukan sebatas menjaga dan membelanya, meskipun itu sangat penting, tetapi ada bentuk ekspresi lain yaitu menghormati undang-undang dan peraturan-peraturannya, menjaga aset-aset dan fasilitas-fasilitas umumnya, peduli lingkungan dan alamnya, mengembangkan seluruh potensinya, memakmurkan buminya, setiap warga bekerja untuk kemajuan tanah airnya dalam menyongsong masa depan yang lebih baik, dan tidak pelit menggunakan segenap kemampuannya demi tanah airnya.

Menjaga tanah air bukan hanya menjaga wilayah perbatasan, tetapi juga ekonominya, politiknya, persatuannya, ketahanannya, dan kebersamaan masyarakatnya, sehingga menjadi negeri yang adil, penuh cinta, kebaikan dan solidaritas, sebuah negeri yang di dalamnya manusia merasakan kemanusiaan, kehormatan dan kemuliaannya, sebuah negeri yang jauh dari kerakusan, kerusakan dan kezhaliman.

Pada era di mana tanah air kita berada di ambang perpecahan karena infiltrasi kelompok-kelompok transnasional yang membawa paham-paham keagamaan radikal, kita sangat perlu untuk memperkuat kecintaan kita kepada tanah air kita dan meningkatkan edukasi mengenainya. Cinta tanah air harus kita anggap sebagai bagian dari keimanan, atau bahkan sebagian bagian paling mendasar dari keimanan.

Dengan begitu kita akan bisa mempertahankan kemerdekaan tanah air kita, menghadapi tipu daya orang-orang yang hendak memecah belah persatuan, kebebasan dan kekuatannya, atau orang-orang yang hendak melemahkan kehadirannya di bidang-bidang peradaban dan kemajuan dengan tujuan menjerumuskannya ke dalam dunia kebodohan, kemunduran dan keterbelakangan.

Kita harus bisa mewujudkan ambisi dan cita-cita yang dikehendaki Allah Swt. untuk kita, yaitu agar kita menjadi bangsa terbaik yang dihadirkan untuk manusia (khayra ummah ukhrijat li al-nâs), sebuah bangsa yang tidak cukup hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga menerangi bangsa lain di dunia.

 

Teladan Rasulullah Saw.

Cinta tanah air adalah naluri di dalam diri manusia, berdetak di hatinya, dan mengalir di dalam darahnya. Meskipun tanah air itu kering dan tandus seperti padang pasir, atau di dalamnya terjadi banyak musibah dan penderitaan, jika seseorang meninggalkannya untuk suatu kebutuhan, kerinduan terhadap tanah airnya yang diiringi irama nostalgia akan senantiasa menyandera hatinya. Tanah air adalah tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. Tanah air mempunyai kenangan tak terlupakan, di dalamnya ada anak, orang tua, kakek-nenek, sahabat, teman, dan orang-orang yang dicintai.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali mengatakan, “Manusia itu mencintai tanah kelahirannya dan semua yang hidup di atasnya, walaupun tanah kelahirannya itu telah menjadi tanah tandus yang menakutkan. Cinta tanah air itu adalah insting yang memiliki ikatan erat dengan jiwa. Cinta ini membuat manusia ingin menetap di tanah airnya, rindu kepadanya jika jauh, membelanya jika diserang, marah jika tanah airnya dihancurkan.”[6]

Bukanlah sesuatu yang aneh ketika cinta tanah air bersemayam dan bertahta di hati Rasulullah Saw. Beliau pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah airnya di awal-awal beliau melakukan dakwah dan pada saat beliau baru mulai melakukan hijrah. Pada masa awal turunnya wahyu di gua Hira, Rasulullah Saw. pergi bersama istrinya Sayyidah Khadijah ra. menemui Waraqah ibn Naufal. Beliau menceritakan apa yang beliau alami terkait turunnya wahyu melalu Jibril as. Waraqah mencoba menjelaskan hal itu dan berkata, “Itu adalah Namus (Jibril) yang telah diutus kepada Musa. Seandainya aku masih [muda dan masih hidup] ketika kau diusir oleh kaummu!” Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah betul mereka nanti akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Betul! Setiap orang yang menyampaikan hal yang serupa dengan apa yang kau sampaikan ini pasti akan dimusuhi. Seandainya aku mendapati hari itu, niscaya aku akan membantumu dengan sekuat-kuatnya,” [HR. al-Bukhari].[7]

Di dalam kitab “Syarh Shahîh al-Bukhârîy” al-Safiri memberikan komentar atas hadits tersebut, “Pertanyaan Rasulullah Saw. itu adalah satu bentuk istifhâm inkârîy, yaitu seolah-olah beliau tidak membayangkan akan dikeluarkan (diusir) tanpa sebab dari tanah yang sangat beliau cintai yaitu Tanah Haram yang di dalamnya berdiri Baitullah, negeri moyangnya yaitu Ismail as. [Atas dasar kecintaan beliau kepada Makkah], sangat sulit menemukan suatu alasan baik pada waktu yang telah lewat maupun pada waktu mendatang yang bisa membuat beliau diusir [dari Makkah]. Justru yang tampak dari beliau adalah kebaikan-kebaikan yang nyata dan keluhuran-keluhuran yang membuat beliau seharusnya dihormati dan dimuliakan dengan derajat yang paling tinggi.”

Pada malam beliau melakukan hijrah ke Madinah, sesampainya di pinggiran kota Makkah beliau berhenti sejenak sembari menghadap bumi Makkah, mengingat kembali semua kenangan yang pernah beliau alami yang membuat hati beliau seperti tersayat. Kemudian beliau mengucapkan kata-kata yang menggambarkan rasa cinta beliau yang sangat mendalam dan rasa rindu yang sangat besar kepada tanah yang di atasnya hidup keluaga dan sahabat-sahabatnya, tanah tempat beliau lahir dan menjadi pemuda, tanah yang di atasnya berdiri Baitullah, “Demi Allah, sungguh aku tahu kau adalah tanah Allah yang terbaik dan sangat dicintai-Nya. Kalau tidak karena pendudukmu mengusirku darimu, aku tidak akan pernah pergi [darimu].” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berkata, “Kau adalah negeri terbaik yang sangat aku cintai! Kalau tidak karena kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu,” [HR. al-Tirmidzi]. Ucapan beliau ini jelas menunjukkan kecintaan beliau terhadap negeri dan tanah air beliau, Makkah, sebagaimana juga menunjukkan kesedihan beliau yang amat sangat mendalam karena terpaksa harus meninggalkannya.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Rasulullah Saw. sampai di Juhfah dalam perjalanannya menuju Madinah, kerinduan kepada Makkah kembali mendera jiwanya, beliau sangat sedih dan berduka. Maka Allah Swt. kemudian menurunkan sebuah ayat untuk menenangkannya, “Sesungguhnya Zat yang mewajibkan atasmu [melaksanakan hukum-hukum] al-Qur`an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah),” [QS. al-Qashash: 85].

Ali ibn Abi Thalib ra. berkata, “Di antara kemuliaan seseorang adalah ratapannya atas masa yang telah dilaluinya, kerinduannya kepada tanah airnya, kesetiaannya menjaga hubungan baik dengan saudara-saudaranya.”

Al-Dzahabi berkata, “Beliau (Rasulullah Saw.) mencintai Aisyah, mencintai ayah Aisyah (Abu Bakr al-Shiddiq), mencintai Usamah, mencintai kedua cucunya (Hasan dan Husein), menyukai kembang gula (manisan) dan madu, mencintai bukit Uhud, dan mencintai tanah kelahirannya (Makkah).”

Rasulullah Saw. sangat mencintai tanah airnya, sangat berat meninggalkannya. Beliau terpaksa meninggalkannya karena diusir setelah menerima banyak siksaan dari kaum musyrik Makkah, dan beliau bersabar dan senantiasa berharap mereka mau menerima ajakan beliau untuk memeluk Islam. Tetapi mereka menolak, tetap membangkang, dan terus menyakiti beliau dan para sahabat beliau. Maka tidak ada yang bisa beliau lakukan kecuali hijrah meninggalkan Makkah demi menjaga agama, dakwah, dan sahabat-sahabatnya. Hijrah beliau ke Madinah bukan keinginan pribadi beliau sendiri, melainkan karena perintah Allah Swt. sebagai bagian dari strategi dakwah Islam. Di Madinah beliau membentuk komunitas Muslim yang kuat dan bersama dengan suku dan agama lain beliau merumuskan perjanjian bersama yang disebut dengan Piagam Madinah dan berisi kontrak sosial yang disepakati oleh masyarakat Madinah yang plural, menjunjung toleransi lintas agama dan etnis serta menghargai hak asasi manusia. Di Madinah, beliau dan umat Muslim diakui, dihargai, dan tidak didiskriminasi.

Meski demikian, beliau tidak terlena dengan perlakuan masyarakat Madinah yang menerima beliau dengan sangat baik. Sepanjang waktu beliau terus memikirkan tanah airnya, Makkah. Dengan berbagai upaya dan strategi akhirnya tercapailah penaklukan kota Makkah, atau Fath Makkah. Beliau kembali ke Makkah untuk membebaskan kaumnya dari kebodohan dan amoralitas. Sebagai bentuk cinta beliau terhadap penduduk tanah airnya, walaupun kemenangan ada dalam genggaman namun pada saat itu beliau mengumumkan hari kasih sayang (yawm al-marhamah) dan bukan hari pembalasan dendam (yawm al-malhamah). Beliau melarang umat Muslim melakukan kekerasan dan balas dendam pada para penduduk Makkah, dan memerintahkan agar memaafkan penindasan yang pernah mereka lalukan sebelumnya.

Terdapat sebuah jargon yang menegaskan doktrin Islam mengenai cinta tanah air, “Cinta tanah air merupakan bagian dari iman.” Meskipun ini bukan hadits, hanya kata mutiara yang berasal dari para bijak bestari, namun prinsip tersebut tercermin dari sikap Rasulullah Saw. Mengingat sunnah adalah ucapan, perbuatan, dan kebiasaan Rasulullah Saw., maka jargon tersebut dapat dikategorikan sebagai hadits hâlîy/fi’lîy (perbuatan), sebab tindak tanduk Rasulullah Saw. mencerminkan kecintaan beliau terhadap tanah air. Karena itulah setiap warga negara harus rela berkorban demi mempertahankan tanah air, sebagaimanan dianjurkan oleh agama. Di dalam al-Qur`an Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu [jumlahnya] karena takut mati, maka Allah berfirman, ‘Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka,” [QS. al-Baqarah: 243 – 244].[8]

Ayat ini menyiratkan perintah untuk mempertahankan tanah air, walaupun nyawa menjadi taruhannya. Siapapun orang yang diusir secara paksa dari tanah airnya berhak melakukan perlawanan. Misalnya, melawan penjajah yang merampas tanah air dan memperbudak penduduknya. Menurut Syaikh Musthafa al-Ghulayaini, nasionalisme (al-wathanîyyah) adalah salah satu naluri manusia yang universal. Orang yang sungguh-sungguh mencintai tanah airnya akan membuktikannya dengan sikap dan perbuatan yang positif bagi tanah air dan penduduknya, misalnya dengan memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang menjadi kunci menuju kemerdekaan yang sejati yaitu kemerdekaan ekonomi dan politik.[9]

 

Teladan Sahabat

Sebagaimana hijrah dari Makkah menuju Madinah merupakan perkara yang teramat sulit dan berat bagi Rasulullah Saw., maka demikian juga bagi para sahabat. Meskipun mereka banyak mengalami penderitaan karena siksaan bertubi-tubi yang dilakukan kaum Quraisy, tetapi mereka tetap mencintai Makkah, karena Makkah adalah tanah air tempat mereka dilahirkan, dididik dan dibesarkan di dalamnya.

 

Negeriku, meski ia zhalim terhadapku tetaplah mulia

Keluargaku, meski mereka kikir kepadaku tetaplah dermawan

 

Sangat berat bagi para sahabat untuk meninggalkan Makkah. Namun Rasulullah Saw. memerintahkan mereka untuk melakukannya dan memberitahu mereka lokasi serta tujuan hijrah mereka. Diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa Aisyah ra. berkata, “Rasulullah Saw. bersabda kepada sahabat-sahabatnya, ‘Sungguh telah diperlihatkan kepadaku negeri tempat hijrah kalian yang memiliki banyak pohon kurma di antara dua bukit yang berbatu hitam.’ Maka berhijrahlah orang yang mau berhijrah menuju Madinah. Begitu pula orang-orang berhijrah ke Habasyah ikut berhijrah ke Madinah. Abu Bakr al-Shiddiq ra. juga bersiap hendak berangkat menuju Madinah. Tetapi Rasulullah Saw. berkata kepadanya, ‘Diamlah di tempatmu, sesungguhnya aku berharap semoga aku mendapat izin [untuk berhijrah].’ Abu Bakr berkata, ‘Demi ayah dan ibuku, benarkah Tuan mengharapkan itu?’ Beliau berkata, ‘Ya, benar.’ Maka Abu Bakr berharap di dalam dirinya bahwa ia benar-benar dapat mendampingi Rasulullah Saw.,” [HR. al-Bukhari].

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ketika Rasulullah Saw. sampai di Madinah, saat itu Madinah adalah bumi Allah yang paling wabah bencananya dan lembah-lembahnya mengalirkan air keruh penuh kuman, yang menyebabkan para sahabat terkena penyakit. Ketika itu Abu Bakr al-Shiddiq ra., Amir ibn Fuhairah ra., dan Bilal ra. berada dalam satu ruangan. Ketiganya menderita sakit demam. Aisyah ra. meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk menjenguk dan melihat keadaan mereka. Beliau memberikan izin, maka Aisyah pun pergi menjenguk mereka. Aisyah ra. melihat demam yang mendera mereka sangat parah sehingga membuat mereka kehilangan kesadaran dan mengeluarkan kata-kata yang tak dipahami maknanya.

Aisyah ra. kemudian pergi menemui Rasulullah Saw. untuk memberitahukan keadaan mereka. Ketika mendengar kabar mengenai keadaan mereka Rasulullah Saw. pun berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau lebihkan cinta kami kepada Madinah. Pindahkanlah wabah penyakitnya ke Juhfah,” [HR. al-Bukhari].

Bilal ra. merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena harus meninggalkan tanah kelahirannya, Makkah. Meskipun di Makkah ia mengalami siksaan dan selalu disakiti oleh kaum Quraisy, tetapi sejujurnya ia tidak ingin pergi meninggalkannya. Saking marah dan kecewanya sampai-sampai ia berdoa, “Ya Allah, laknatlah Syaibah ibn Rabi’ah, Utbah ibn Rabi’ah, dan Umayyah ibn Khalaf. Sebagaimana mereka telah mengusir kami dari negeri kami (Makkah) ke tanah yang penuh dengan penyakit ini (Yatsrib/Madinah).”

Rasulullah Saw. tahu betul bagaimana cinta para sahabat kepada tanah air mereka, Makkah. Makanya beliau selalu memohon kepada Allah agar dirinya dan juga para sahabatnya dianugerahkan cinta kepada Madinah melebihi cinta mereka kepada Makkah. Bagi beliau Madinah bukan sekedar tempat singgah, tetapi merupakan sebuah negeri yang penduduknya menyambut Islam dengan suka cita dan menerima seruan beliau, melindungi serta mendukung setiap langkah beliau beserta para sahabatnya. Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah atau bahkan melebihinya,” [HR. al-Bukhari]. Diriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, jadikanlah keberkahan Madinah dua kali lipat keberkahan Makkah,” [HR. al-Bukhari]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu, dan nabi-Mu. Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan nabi-Mu. Sesungguhnya ia berdoa kepada-Mu untuk Makkah, maka aku berdoa kepada-Mu untuk Madinah seperti apa yang ia doakan untuk Makkah,” [HR. Muslim].

 

Teladan Ulama Pesantren

Tak ada yang memungkiri bahwa jasa pesantren bagi negeri ini sangatlah besar, terutama dalam menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Keterlibatan para tokoh pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan dan merumuskan ideologi Pancasila dan UUD 45, serta menjaga komitmen NKRI sampai saat ini tidak terbantahkan, sehingga banyak dari mereka yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional, seperti Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim dari Pesantren Tebu Ireng Jombang, juga KHR. As’ad Syamsul Arifin dari Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.

Bagi para ulama pesantren NKRI dan ideologi Pancasila sudah final. Bahkan mereka tidak ragu untuk mengatakan bahwa Pancasila selaras dan sejalan dengan nilai-nilai Islam. Komitmen kebangsaan dan kecintaan mereka terhadap Indonesia diperkuat oleh doktrin agama yang mengharuskan mereka untuk mencintai tanah air. Mereka berpegang teguh pada jargon agama yang menyebutkan, “Hubb al-wathan min al-îmân,” bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa Nusantara, yang mulanya mencakup Asia Tenggara mulai dari Philipina, Thailand, Brunei, Malaysia dan Indonesia, adalah wilayah Islam damai yang tidak pernah ditegakkan dengan perang, tetapi disebarkan melalui ajaran dan tradisi para sufi (tarekat) yang sangat besar pengaruhnya dalam corak keberislaman kita yang damai dan lebih menekankan prilaku luhur dan anti-kekerasan. Berbeda dengan Islam di Timur Tengah yang dari waktu ke waktu ditegakkan dan dikawal dengan pedang, perang, dan pertumpahan darah. Bisa kita lihat, Islam yang terlahir dari negeri-negeri Timur Tengah kerap mengekspor banyak kekerasan dan teror di Nusantara.

Hal tersebut sangat kontras dengan Islam di Nusantara yang disebarkan melalui zawiyah-zawiyah, yang lembaga pendidikannya disebut sebagai pesantren. Kita yakin bahwa Indonesia pun tidak mungkin seperti ini bila tidak ada basis keberislaman yang disebarkan oleh para guru tarekat. Kerajaan-kerajaan yang berdiri di Aceh sampai Banten, sebagian besar terlahir dari pesantren. Kalau tidak ada pesantren, tentu tidak akan ada Islam yang damai, dan bahkan tidak mungkin negeri Nusantara ini terlahir. Maka ketika kemerdekaan berhasil diraih, kita tahu bahwa yang mempeloporinya di tingkat basis adalah para kiyai pesantren. Memang ada sejumlah tokoh intelektual yang tinggal di Jakarta seperti Bung Karno dan Bung Hatta, tetapi tanpa dukungan di tingkat basis yang dipelopori oleh para kiyai pesantren, kemerdekaan tidak akan mungkin bisa kita rebut.

Setelah kemerdekaan, ada sekelompok orang yang menginginkan supaya tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang merupakan Pembukaan UUD 45 dihapus. Kalimat “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” kemudian diganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Inilah yang secara terus-menerus menjadi titik konflik. Siapakah yang akhirnya memutuskan supaya tujuh kata itu dihapus? Menurut penelitian para sejarawan mutakhir, ia adalah Hadhratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Karena kalau Kiyai Hasyim tidak mengizinkan tujuh kata itu dihapus, maka tokoh-tokoh dari bagian timur negeri ini akan memisahkan diri, dan kemungkinan mereka akan dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang berusaha menguasai Indonesia kembali. Jika itu terjadi, maka persatuan dan kesatuan Indonesia akan pecah. Tetapi karena Kiyai Hasyim memberikan izin, “Silahkan tujuh kata itu dihapus, tidak masalah, yang penting Indonesia tetap bersatu dari Sabang sampai Merauke,” mereka pun tetap bertahan. Ini merupakan kearifan dan keikhlasan luar biasa yang dipersembahkan oleh tokoh-tokoh pesantren untuk keutuhan NKRI.

Kalau tujuh kata itu tidak dihapus, Indonesia bagian timur akan melepaskan diri dikarenakan memang basis agamanya berbeda dan wilayahnya terpisah. Bali yang mempunyai basis agama dan wilayah sendiri, juga mempunyai kekuatan ekonomi yang membuat mereka mampu untuk mandiri. Sampai sekarang pun masyarakat internasional lebih banyak mengenal Bali ketimbang Indonesia. Kalau Indonesia bagian timur dilepas, maka hampir dipastikan Bali juga akan melepaskan diri. Kemudian tinggal Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Apakah ada jaminan pulau-pulau besar yang luasnya berlipat-lipat dibandingkan pulau Jawa dapat bertahan menjadi bagian dari Indonesia. Dengan menghapus tujuh kata itu, keuntuhan Indonesia dapat dipertahankan sampai saat ini. Kalau tidak dihapus, maka Nusantara akan pecah berkeping-keping. Sesudah bagian timur terlepas, maka Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera akan mendirikan negara sendiri-sendiri. Kemudian tinggal Jawa dan Madura, apa jaminannya Madura dan Jawa akan terus bersatu? Sementara kita tahu bahwa Madura bisa mendirikan negara sendiri dengan kekayaan alam yang begitu banyak. Kemudian tinggal Jawa. Pertanyaannya, apa jaminannya Jawa bisa bersatu? Jawa bagian timur mempunyai sejarah yang berbeda; Jawa Timur bagian Tapal Kuda mempunyai sejarah yang berbeda dengan Jawa Timur bagian barat, Mataram. Begitu juga Jawa Tengah, apa jaminannya Jawa Tengah bisa bersatu? Sementara di sana ada Solo dan Yogyakarta yang sampai saat ini masih merasa sama-sama tinggi. Lalu tinggal Jawa Barat, apa jaminannya Jawa Barat bisa bersatu? Sedang di sana terdapat tiga bagian yang berbeda, yaitu Banten, Pasundan, dan Cirebon, yang masing-masing mempunyai sejarah sendiri-sendiri.

Kita yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Kiyai Hasyim Asy’ari tentulah merupakan ekspresi dari kecintaannya kepada tanah air dengan dasar cukup kuat di dalam tradisi Islam. Empat belas abad yang silam Rasulullah Saw. pernah membuat perjanjian damai dengan kaum kafir Makkah yang dikenaldengan “Perjanjian Hudaibiyah”. Suhail ibn Amru yang mewakili kaum kafir Makkah mempertanyakan adanya kalimat “Bismillâhirrahmânirrahîm” dan menegaskan bahwa ia tidak akan menandatangani perjanjian jika kalimat tersebut tidak dihapus. Akhirnya Rasulullah Saw. yang menghapus kalimat tersebut. Selain itu, Suhail ibn Amru juga mempertanyakan kalimat lain yakni “Min Muhammad Rasûlillâh” dan memintanya untuk dihapus. Ia mengatakan, “Kalau aku menerima Muhammad sebagai rasul Allah, maka aku akan menjadi bagian dari umat Muslim. Karena itu, tidak ada kemungkinan bagi kita untuk berunding.” Akhirnya Rasulullah Saw. pun juga menghapusnya, dan terjadilah perjanjian itu. Dalam hal ini yang sangat luar biasa adalah bahwa kalimat “Bismillâhirrahmânirrahîm” dan “Min Muhammad Rasûlillâh” juga terdiri atas tujuh kata. Hal ini mengindikasikan adanya persambungan yang kuat antara hikmah dari penjanjian yang dilakukan Rasulullah Saw. dengan perjuangan para tokoh pesantren untuk keutuhan NKRI.

Masalahnya, negeri yang sudah merdeka sejak lebih dari setengah abad yang lalu ini belum tumbuh menjadi negara yang dihormati. Ini merupakan tantangan bagi kita ke depan. Umat Muslim, khususnya pesantren, memang harus terpanggil, bukan hanya untuk mengamankan NKRI dari serbuan dan gangguan pihak luar, tetapi juga memajukannya. Pada masa sekarang, kita disibukkan dengan gangguan infiltrasi ideologis Islam trans-nasional yang kembali mendesakkan supaya NKRI menjadi negara khilafah sebagaimana digembar-gemborkan oleh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Dan kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa para tokoh pesantren yang tidak memaksa supaya Indonesia menjadi negara khilafah sesungguhnya mendapat bimbingan dari Allah Swt. Kalau kita lihat di dalam al-Qur`an, misalnya, tidak ada istilah “negara khilafah”. Yang ada hanyalah “Dâr al-Salâm” yang tidak lain adalah negeri yang damai.

 

Teladan Santri

Pada tanggal 22 Oktober 1945 Rais Akbar PBNU Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah fatwa yang dikenal dengan “Resolusi Jihad”, bahwa siapapun warga negara Indonesia wajib mempertahankan tanah airnya. Hal ini dipicu oleh ulah para penjajah Belanda beserta sekutunya yang tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia dan berniat merebut kembali Indonesia.

Fatwa “Resolusi Jihad” dari Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari itu rupanya mampu mengobarkan semangat juang para santri yang bergerak di seluruh Jawa, Bali, Sumatera, dan NTB. Mereka semua berkumpul di Surabaya untuk melawan tentara Belanda beserta sekutunya yang dipimpin oleh Jenderal Malabi. Jenderal Malabi adalah seorang jenderal yang sudah berpengalaman berperang di Perang Dunia II melawan Jerman dan Amerika beserta sekutunya. Dalam pertempuran di Surabaya itu, tidak sampai dua bulan Jenderal Malabi tewas. Menurut kabar, tewasnya Jenderal Malabi ini tidak bisa dilepaskan dari peran seorang santri dari Tebuireng Jombang bernama Harun. Ia dikabarkan memasang granat di mobil Jenderal Malabi yang membuat sang jenderal tewas.

Tanggal 22 Oktober kemudian dikenang sebagai Hari Santri. Karena ternyata santrilah yang telah menyebabkan Jenderal Malabi tewas, sehingga misi perjuangan sekutu untuk merebut kembali Indonesia itu gagal. Para santri semua bergerak melakukan perlawanan mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk mempertahan kemerdekaan Indonesia, sehingga pada 10 November 1945 kita bisa merobek bendera Belanda yang hendak menguasai Indonesia kembali. Setiap tanggal 10 November kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, dan pahlawan yang sesungguhnya saat itu adalah santri.

Sebuah upaya yang sangat baik dari para santri yang dengan gagah berani menjalankan fatwa “Resolusi Jihad” Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari untuk membawa Indonesia melangkah jauh melampaui penghalang-penghalang kemerdekaannya. Sangat jelas dan tak diragukan, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Meskipun untuk meraihnya harus mengorbankan harta, raga, dan bahkan jiwa. Dan para santri sudah melakukannya.

Perjuangan para santri telah membuahkan hasil berkat persatuan, kerjasama, dan bimbingan dari para ulama pesantren dalam melindungi dan membebaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah, menunjukkan kekuatan dan harga diri sebuah bangsa yang selama ratusan tahun ditindas, menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat serta mengembalikan roda pemerintahan kepada jalannya yang tepat meskipun secara bertahap.

Kita bangga kepada mereka, dan kita memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas keberhasilan mereka, karena mereka memang berhak untuk menerimanya dari negara ini. Dan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka maka pada tahun 2015 Presiden Ir. H. Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Hari Santri Nasional ditetapkan setelah Muktamar PBNU pada bulan Agustus 2015. Saat pelantikan pengurus PBNU di Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj menyampaikan kepada Presiden Ir. H. Joko Widodo mengenai perlunya mendorong Hari Santri Nasional. Karena santri berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan NKRI.

Namun demikian, kita mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk tidak terlena dengan suasana kemerdekaan yang telah berhasil diraih oleh para pahlawan. Harus ada kerja-kerja serius untuk terus membentengi negeri ini agar kemerdekaan itu menjadi kemerdekaan yang hakiki dengan tidak memberikan jalan sekecil apapun kepada para pengacau untuk memecah-belah persatuan yang sudah terjalin sejak lama dengan darah para pahlawan kemerdekaan. Ruang-ruang dialog harus dibuka dan diperbanyak apapun bentuknya, dialog di mana semua pihak bisa saling memahami demi kepentingan nasional untuk menutup semua celah yang memungkinkan sekelompok orang masuk melaluinya untuk mewujudkan kepentingan mereka sendiri dan menghancurkan persatuan Indonesia.

Kita lihat apa yang terjadi belakangan ini hendaknya menjadi pelajaran bahwa logika “mayoritas” dan “minoritas” tidak bisa diberlakukan di dalam Kapal Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada hal yang lebih baik selain rasa kebersamaan di dalam kapal yang tidak seorang pun boleh melubanginya hingga terjadi kebocoran. Tidak ada yang lebih utama dari yang lain kecuali dengan kemampuan dan keterampilan yang dapat dikontribusikan untuk kejayaan negeri ini.[]

__________________

[1]               Sayyid Ali al-Fadhlullah, Hubb al-Wathan min al-Îmân, Taheran, 1439 H, hal. 1

[2]               http://www.elbalad.news/3521334 (Diunduh pada 18 Oktober 2018)

[3]               Tim Penulis Rumah KitaB, Kumpulan Bahan Ajar Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren, Jakarta: Rumah KitaB, Cet. 2, 2017, hal. 25

[4]               Sayyid Muhammad, al-Tahliyah wa al-Targhîb fi al-Tarbiyah wa al-Tahdzîb, Kediri: al-Ma’had al-Islami Lirboyo Kediri, tt., hal. 37

[5]               Syaikh Abbas Syauman, al-Wathan fî al-Islâm, Kairo, 2018, hal. 3

[6]               http://islamweb.net/ramadan/index.php?page=article&lang=A&id=195526 (Diunduh pada 18 Oktober 20180

[7]               Ibid.

[8]               Tim Penulis Rumah KitaB, Kumpulan Bahan Ajar Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren, Jakarta: Rumah KitaB, Cet. 2, 2017, hal. 31

[9]               Ibid.

PENGALAMAN RAMADHAN DI KAMPUNG

Oleh Dr. (HC). KH. As’ad Sa’id Ali

[Mantan Wakil Ketua Badan Intelejen Negara (BIN)]

 

“Yang jelas, ketika bulan Ramadhan tiba saya merasa senang sekali. Karena yang ada dalam bayangan saya, termasuk anak-anak kecil yang sebaya dengan saya, Ramadhan identik dengan keramaian. Dari dulu sampai sekarang suasana kampung di bulan Ramadhan menjadi lebih ramai dari biasanya. Ekonomi menjadi hidup. Kalau dalam bahasa sekarang, konsumsi menjadi semakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari menu berbuka.”

 

 

Suasana Ramadhan

Saya dilahirkan dalam kondisi kampung yang sangat memprihatinkan. Fasilitas untuk memenuhi hajat sehari-hari sangat tidak memadai. Kakus saja jarang ada yang punya. Kalau orang mau buang ‘air besar’, orang kampung biasanya datang ke kali atau ke kebun. Karena waktu saya kecil memang banyak tanah yang tidak dikelola. Sehingga orang bebas buang ‘air besar’ tanpa ada yang menegur. Berbeda dengan sekarang, di mana tidak ada sejengkal pun tanah yang tidak dikelola. Tetapi kalau di dalam rumah saya, sejak sebelum saya lahir sudah ada yang namanya kakus. Bagi ayah saya, kakus adalah salah satu syarat kebersihan dan kesucian, khususnya dalam menjalankan ibadah shalat.

Terkait dengan pengalaman berpuasa, sejauh yang saya ingat, saya mulai berpuasa sejak umur 5 tahun, meskipun tidak penuh 30 hari. Saya baru bisa berpuasa penuh ketika saya berumur 10 tahun. Saya akan merasa sangat malu kalau tidak berpuasa penuh pada usia tersebut. Ibu selalu mengawasi saya dengan sangat ketat, karena beliau adalah seorang guru ngaji. Demikian juga ayah, yang secara detail mengamati tingkah laku saya saban hari di bulan Ramadhan. Sebagai orangtua keduanya bertanggungjawab dalam hal pendidikan anak-anaknya, terutama pendidikan keagamaan.

Ayah boleh sangat detail dan keras mengawasi saya, anaknya. Tetapi terhadap orang lain beliau cenderung bersikap longgar. Saya ingat, beliau dulu mempunyai pabrik pembuatan gula Jawa yang bahannya berasal dari perasan tebu. Untuk itu, beliau juga menanam tebu di sebuah lahan sawah yang telah dibelinya. Dengan ini, beliau bisa memberikan pekerjaan kepada para tetangga dan mengurangi angka pengangguran di kampungnya. Sebagian pekerja menangani produksi gula Jawa, sementara sebagian lainnya mengurusi perkebunan tebu. Ketika memasuki bulan Ramadhan, dan pada saat itu kebetulan sedang memasuki musim panen, para pekerja di kebun tebu dengan penuh semangat tetap bekerja menebang tebu di siang hari. Pekerjaan menebang tebu ini tentu saja banyak menguras tenaga mereka sehingga membuat mereka merasa letih dan akhirnya tidak berpuasa; mereka makan dan minum seperti biasanya pada saat bekerja.

Ayah saya bukannya tidak tahu, beliau jelas-jelas melihat mereka makan dan minum. Tetapi anehnya beliau membiarkannya saja. Karena merasa ada kejanggalan, saya pun memberanikan diri bertanya kepada beliau, “Ayah, maaf sebelumnya. Kenapa ayah membiarkan para pekerja itu tidak berpuasa? Bukannya puasa itu merupakan kewajiban?” Beliau menjawab, “Mereka itu sedang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istri mereka di rumah. Ini juga merupakan kewajiban, karena menyangkut hajat dan kebutuhan keluarga mereka. Kalau dipaksakan berpuasa, dipastikan mereka tidak akan kuat saat bekerja. Dan kalau mereka tidak bekerja, mereka dan keluarga mereka tidak akan bisa makan. Jadi, biarkan saja mereka tetap bekerja meskipun tidak berpuasa. Tuhan Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya.” Demikianlah pandangan bijak dari ayah menyikapi nasib para pekerja di bulan Ramadhan.

Di kampung saya, menjelang Ramadhan ada tradisi memotong rambut (sampai gundul). Hal ini salah satunya adalah untuk mensucikan diri menyambut datangnya bulan penuh berkah itu. Saya sendiri pernah sekali potong rambut menjelang Ramadhan, namun pada tahun-tahun berikutnya ayah melarang saya melakukan itu. Alasannya karena proses pertumbuhannya memakan waktu yang sangat lama.

Di masa saya kecil dulu, ketika bulan Ramadhan semua sekolah diliburkan, mulai dari SD bahkan SMP. Salah satu pertimbangannya barangkali karena puasa itu berat, sehingga memerlukan pengurangan aktivitas. Namun, tidak berarti karena sekolah diliburkan saya lantas hanya berdiam diri di rumah tanpa kegiatan apapun. Pada bulan Ramadhan ayah selalu membawa saya ke Pondok Pesantren Salafiyah Kajen, pesantren milik saudara kandungnya, KH. Baidhawi Siradj, untuk bersilaturrahim.

Di sore hari, sehabis shalat Ashar, saya dulu bersama teman-teman sering kelayapan sampai ke Menara Kudus dengan berjalan kaki. Untuk sampai ke sana kami harus menempuh jarak sekitar 7 km selama kurang lebih 2 jam. Kami biasanya jalan-jalan ke pasar atau ke tempat-tempat yang menurut kami merupakan pusat keramaian.

Yang jelas, ketika bulan Ramadhan tiba, saya merasa senang sekali. Karena yang ada dalam bayangan saya, termasuk anak-anak kecil yang sebaya dengan saya, Ramadhan identik dengan keramaian. Dari dulu sampai sekarang suasa kampung di bulan Ramadhan menjadi lebih ramai dari biasanya. Ekonomi menjadi hidup. Kalau dalam bahasa sekarang, konsumsi menjadi semakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari menu berbuka.

Untuk santapan buka, pastinya lebih banyak dan lebih variatif daripada di hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan. Setahun penuh orang-orang mengumpulkan uang seolah hanya untuk menyambut datangnya bulan suci itu. Momen puasa hanya sekali dalam setahun, makanya mereka menginginkan dalam momen itu sesuatu yang lebih daripada biasanya—keluar dari rutinitas sehingga dalam soal makanan pun harus berbeda. Kalau dalam keluarga saya, untuk makanan buka biasanya ada kurma, kue-kue, nasi, sayur asem, dan sop kebo (kerbau). Sebelum makan nasi terlebih dahulu kami makan kurma dan kue, juga meminum teh atau kopi. Kemudian shalat Maghrib, baru setelah itu makan nasi, sayur asem atau sop kebo.

Ada pertanyaan, kenapa di Kudus itu hanya ada sop kebo, bukan sop sapi? Karena masyarakat Muslim di Kudus masih memegang teguh tradisi tidak memotong sapi saat Idul Adha. Hal itu sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu ketika Sunan Kudus mengeluarkan fatwa kepada keluarga dan pengikutnya agar tidak menyembelih sapi sebagai hewan kurban. Sebab pada masa itu, mayoritas penduduk Kudus merupakan penganut Hindu. Umat Hindu meyakini sapi disucikan para dewa.

Sunan Kudus mengeluarkan fatwa itu untuk menghargai kepercayaan agama lain. Pada masa itu, sapi-sapi hanya diletakkan di sekitar masjid dan tidak ada yang disembelih. Sebagai gantinya, hanya kebo dan kambing yang dijadikan hewan kurban. Dengan cara tersebut, warga Hindu tidak merasa terhina dan tetap dihargai kepercayaannya. Pendekatan Sunan Kudus ini ternyata cukup efektif. Buktinya banyak penganut Hindu yang kemudian datang ke masjid untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Bahkan banyak di antara mereka yang akhirnya memeluk Islam. Sebenarnya tidak ada larangan untuk menyembelih sapi dalam Islam sehingga sah-sah saja bagi warga Kudus untuk menyembelihnya. Namun warga Kudus tampaknya masih mengikuti fatwa Sunan Kudus. Bahkan, sejumlah perusahaan dan intansi pemerintahan juga menghindari menyembelih sapi.

Kemudian, sehubungan dengan tradisi lain di bulan Ramadhan, yang membuat Ramadhan berbeda menurut saya adalah shalat Tarawih. Sejak kecil, saya shalat Tarawih seperti yang dilakukan masyarakat NU pada umumnya, 20 rakarat ditambah shalat Witir 3 rakaat. Saya pernah mengikuti shalat Tarawih di sebuah masjid dengan hanya 8 rakaat, tetapi saya merasa tidak nyaman. Karena terlalu banyak ceramahnya, dan momennya memang banyak yang tidak pas. Sehingga membuat saya merasa bosan. Akhirnya, ketika waktu ceramah tiba saya langsung pulang dan melanjutkan shalat di rumah. Sampai sekarang saya masih konsisten dengan yang 20 rakaat. Hanya saja, kalau saya kebetulan melaksanakan shalat Tarawih di rumah, bacaan asesorisnya saya hilangkan. Seperti bacaan “fadhl-an min Allâh Ta’âla wa ni’mah”, itu saya ganti dengan shalawat.

Saya pernah berada di Saudi dan Damaskus, dan saya lebih memilih mengikuti shalat Tarawih yang 20 rakaat. Di Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi saya lihat 20 rakaat. Kalau yang di luar dua masjid besar itu memang kebanyakan yang 8 rakaat. Begitupun di Suriah, saya lihat tidak ada yang 8 rakaat. Meskipun ada, tetapi itu tidak umum.

Saat saya masih kecil dulu, yang saya ingat, imam shalat Tarawih membaca surat-surat al-Qur`an cepat sekali. Tetapi memang berbeda-beda di setiap masjid. Seperti di Masjid Kudus, itu tidak cepat. Bahkan ada juga yang seperti di Masjid al-Haram yang bacaan al-Qur`annya sampai 1 juz. Tentu saja peminatnya sangat sedikit. Jadi, menurut saya, yang paling enak itu adalah yang tengah-tengah.

Sehabis shalat Tarawih ada kegiatan ngaji tadarus. Setelah itu saya tidak pulang ke rumah. Saya lebih nyaman tidur di masjid bersama teman-teman. Sewaktu masih di SD dan SMP, di bulan Ramadhan, kalau malam saya memang suka sekali tidur di masjid. Sekitar jam 12, ditandai dengan pemukulan bedug, kami mulai mengaji lagi secara bergilir dengan dipandu oleh seorang senior. Misalnya, kalau ngaji surat al-Baqarah berarti jam 12, kalau ngaji surat Ali ‘Imran berarti jam 1, dan seterusnya sampai waktu sahur. Jadi, kalau ada orang yang kebetulan lewat di depan masjid dan mendengar kami mengaji surat Ali ‘Imran, maka orang itu akan langsung tahu bahwa waktu itu masih jam 1. Hampir secara keseluruhan di wilayah Kudus dan Jepara dulu tradisinya seperti itu. Bagi anak-anak seperti saya, itu menjadi kesenangan tersendiri.

Kemudian sekitar jam 2 malam kami membaca tarkhiman untuk membangunkan para penduduk agar tidak telat sahur. Tarkhiman itu diawali dengan membaca shalawat. Waktu itu, karena belum ada pengeras suara (speaker), tarkhiman dilakukan di atas menara yang terbuat dari puluhan bambu besar yang disusun sedemikian rupa yang tingginya bahkan mencapai 25 meter, lebih tinggi dari masjid. Setiap orang dari kami, bila sudah mendapat giliran mengaji, akan naik ke puncak menara melalui tangga yang juga terbuat dari bambu. Seusai tarkhiman, kami kemudian berjalan keliling kampung menabuh kentongan. Dalam konteks ini, secara tidak langsung mereka telah menunjukkan salah satu jenis kesenian Islam.

Demikianlah suasana Ramadhan di kampung, di mana agama banyak memberikan wadah kepada kultur yang ada. Misalnya, mengaji berdasarkan jam; ngaji surat al-Baqarah berarti jam 12, kalau ngaji surat Ali ‘Imran berarti jam 1, dan seterusnya. Demikian juga tradisi menabuh kentongan untuk membangunkan para penduduk supaya sahurnya tidak telat.

Namun kemudian, setelah teknologi semakin canggih, tradisi seperti itu menjadi hilang. Dulu, sekitar tahun 70-an, saat itu saya mungkin masih di SMA, ketika baru ada pengeras suara, bacaan shalat Tarawih dan pujian-pujiannya diperdengarkan keluar. Bahkan ketika shalat Jum’at pun, bacaan shalat imam diperdengarkan keluar. Tetapi kalau sekarang, terutama di kota-kota besar, tidak lagi seperti itu.

Dulu, sehabis pulang sekolah anak-anak biasanya lebih suka ke masjid. Sekarang hampir setiap hari orang berada di depan televisi. Keberadaan televisi saat ini tidak hanya membawa dampak terhadap orang-orang awam, tetapi juga terhadap para kiyai. Dalam hal ini setidaknya ada dua yang bisa dilihat. Pertama, pendisiplinan waktu. Misalnya, seorang kiyai diminta untuk mengisi acara haul. Karena di televisi sudah diprogram jam sekian, maka sang kiyai tidak boleh terlambat. Kedua, kiyai harus banyak belajar. Kalau dulu, seorang kiyai biasa mengisi acara di tempat yang berbeda-beda. Dan dia hanya membahas hal-hal yang sama di tempat-tempat yang didatanginya.

Namun sekarang keadaannya sudah tidak seperti itu lagi. Kita banyak menemukan seorang kiyai kadang hanya diminta mengisi acara di sebuah stasiun televisi. Setiap malam dia mengisi acara di situ. Sehingga yang dibahas tentu tidak lagi satu tema tertentu, akan tetapi memerlukan perluasan materi, dia yang harus banyak membaca buku. Artinya dia akan menciptakan keterbukaan berpikir. Kalau dalam istilah Gus Dur namanya kosmopolitanisme Islam. Maksudnya keterbukaan terhadap budaya-budaya lain; dia akan membaca banyak tentang budaya-budaya lain, sehingga itu akan menjadi ramuan dalam menyampaikan ceramahnya. Sebutlah, misalnya, dalam pembahasan tentang masalah air. Biasanya kalau di pesantren dia tahunya hanya air musta’mal, najis dll. Tetapi dengan banyak membaca, dia akan tahu banyak tentang air, tidak hanya sekedar air musta’mal. Dengan demikian dia akan membuka jendela wawasan dan banyak hal yang akan dia peroleh.

 

Tradisi Bagi-bagi Makanan

Pada malam tanggal 15, ada kegiatan khataman al-Qur`an di masjid. Jadi, pelaksanaan khataman bukan di malam Nuzul al-Qur`an (malam tanggal 17), akan tetapi pada saat bulan purnama saja sesuai dengan budaya atau tradisi sebelumnya. Selain khataman al-Qur`an juga ada pembagian makanan. Di antara menunya—biasanya—adalah opor ayam atau makanan rasulan (ayam yang masih utuh, kemudian diopor dan dikasih santan). Semua orang menyukai ini, karena sambelnya memang enak.

Kemudian pada malam Nuzulul Qur`an ada lagi pembagian makanan. Dan itu biasanya lebih banyak. Kemudian setelah tanggal 20, setiap malam ganjil pasti ada pembagian makanan dengan maksud untuk menyambut Lailatul Qadar. Biasanya para pemberi makanan ditentukan; kalau di malam-malam biasa dari masyarakat umum asalkan punya duit. Tetapi kalau di malam-malam ganjil setelah tanggal 20, itu biasanya dari Mbah Modin, kemudian Jogoboyo, dan terakhir biasanya dari Pak Lurah.

Saya melihat, dulu orang-orang di kampung saya—tahun 1962-1963—yang umumnya terbelit kemiskinan, ketemu nasi adalah hal yang sangat menyenangkan. Bagi mereka nasi adalah barang mewah. Bahkan, mereka rela antri dan berebut untuk mendapatkan makanan tersebut. Artinya, tradisi bagi-bagi makanan di masjid menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Apalagi anak-anak, mereka datang ke masjid, di samping niat untuk berjama’ah Tarawih, mereka juga mengincar makanan yang dibagikan setelah itu. Tradisi bagi-bagi makanan sehabis shalat Tarawih, utamanya di malam-malam ganjil, sampai sekarang masih ada. Meskipun zaman sudah sangat maju dan menawarkan hal-hal yang membawa dampak menjauhkan kita dari agama, tetapi orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap religiusitas masih ada, bahkan banyak.

 

Idul Fitri

Ketika Idul Fitri, dalam keluarga saya tidak ada tradisi sungkeman seperti dalam masyarakat Jawa pada umumnya. Dari dulu ayah saya memang tidak pernah mau. Beliau maunya hanya salaman saja. Ibu saya juga begitu. Sehabis shalat Idul Fitri, sepulangnya dari masjid, ibu dan ayah duduk di kursi, kemudian saya dan saudara angkat saya (yang juga masih putra Pak De saya)—waktu itu saudara kandung saya, Khairul Anam, sudah meninggal—salaman sambil cium tangan.

Saya lahir ketika bapak berumur 44 tahun. Ketika saya berumur 6 tahun, beliau sudah berumur 50 tahun. Karena bapak saya dianggap sebagai orangtua, maka banyak orang-orang ke rumah. Kemudian di hari berikutnya, di hari kedua ayah mengajak kami sekeluarga untuk mengunjungi kakak-kakaknya. Habis itu baru kami ziarah ke kuburan.

Untuk hari Raya Idul Fitri, kita makanannya biasa-biasa saja, yang disertai dengan banyak kue. Ketupat juga tidak ada di hari itu. Kami sekeluarga biasanya datang ke rumah-rumah tetangga untuk bermaafan, dan juga ke rumah-rumah keluarga. Sehari setelah hari raya kedua orangtua saya biasanya akan langsung berpuasa lagi selama 6 hari sampai Hari Raya Ketupat. Dalam keluarga saya, puasa Syawal 6 hari tidak pernah ditinggalkan. Nah, di Hari Raya Ketupat itulah akan banyak makanan khas seperti ketupat, dll.

Khusus orang-orang yang punya ternak, di kampung saya, mereka biasanya makan di perempatan jalan sambil berdoa. Jadi mereka mengundang seorang kiyai untuk memimpin ritual seperti tahlil atau hanya sekedar berdoa bersama mereka. Setelah itu mereka makan bareng-bareng. Tetapi tempatnya tidak melulu di perempatan jalan. Mereka pindah-pindah sesuai dengan situasi dan kondisi. Kadang di pinggiran sawah, kadang di tempat pemandian hewan, kadang juga di pertigaan jalan. Adapun yang tidak punya hewan ternak mereka biasanya mereka jalan-jalan ke Bulusan, kemudian ke Jepara, ke Juwana, atau ke pinggir laut untuk berpesiar.

Itu adalah sebentuk pemujaan dari para pemilik hewan ternak sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan. Sungguh merupakan kesalahan sangat besar jika hal itu disebut sebagai singkretisme Islam—seperti yang banyak dikatakan oleh para orientalis Barat. Yang benar, dalam konteks ini, adalah bahwa hukum agama mewadahi kultur lokal. Agama datang ke suatu tempat yang di situ sudah terdapat kultur yang jauh-jauh sebelumnya telah ada. Kemudian kultur tersebut diserap oleh agama. Wujudnya tetap, tetapi subtansinya sarat dengan nilai-nilai agama.

Kalau dilihat dari sejarah, tradisi pemujaan itu memang sudah ada sejak berabad-abad yang silam. Saat itu, menurut cerita, para petani dan pemilik hewan ternak memberikan sesajen kepada Dewi Sri (Dewi Kesuburan). Oleh Islam tradisi ini kemudian diserap, tetapi sesajennya tidak dibuang begitu seperti pada masa sebelumnya, melainkan untuk dimakan sendiri. Makanya tidak ada unsur kemubadziran di situ. Doanya juga dengan doa-doa yang sesuai dengan ajaran Islam, yang dimulai dari tahlil, kemudian ada tahmid dan pujian-pujian lainnya untuk mengharap keridhaan Allah. Jadi, kalau sekarang ada orang yang membid’ahkannya, menurut saya itu salah kaprah. Kalau acara makannya, itu juga tidak bisa dibid’ahkan, karena itu sebetulnya adalah tradisi, bukan agama.

Selain itu, ada juga tradisi Nyekar, yang biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Tetapi kalau ayah saya bisa kapan saja. Menurut beliau, berdoa untuk para leluhur bisa dilakukan kapan saja. Dan beliau, biasanya, setiap kali melewati makam Mbah pasti akan langsung melakukan ziarah. Lokasi makam Mbah dari rumah saya berjarak sekitar 3 km.

Sebelum bulan Ramadhan kami sekeluarga melakukannya. Kemudian sebelum Hari Raya Idul Fitri kami juga melakukannya. Kami biasanya membawa bunga untuk ditaburkan di kuburan. Yang kami baca ketika berziarah ke makam Mbah biasanya surat al-Fatihah, al-Ikhlas dan al-Nas. Itu saja yang dibaca. Atau kadang kalau di bulan Syawal kami membaca surat Yasin.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

MENIKMATI RAMADHAN DI PESANTREN

Oleh KH Husein Muhammad

[Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon]

 

“Bergelut dengan kitab-kitab memang sangat mengasyikkan. Saya selalu ingat pepatah Arab yang mengatakan, “Khayr-u jalîs-in fî al-zamân-i kitâb-un”, sebaik-baiknya teman duduk adalah kitab atau buku. Dan bukan hanya sebatas teman duduk, kitab-kitab itu bisa menjadi guru, banyak sekali informasi yang saya dapatkan darinya, utamanya tentang toleransi, menghargai perbedaan, kesetaraan, kedamaian, keadilan, dll. Informasi-informasi inilah yang saat ini dibutuhkan oleh negara kita, di mana kekerasan atas nama agama dan penistaan terhadap kemanusiaan sudah menyebar di hampir seluruh penjuru bumi pertiwi.”

 

 

Suasana Ramadhan

SAYA dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren di Arjawinangun, namanya Pondok Pesantren Darut Tauhid yang didirikan oleh kakek saya, KH. Syathori. Saat masih kecil, yang masih saya ingat, kala bulan Ramadhan tiba, ada dua tradisi yang berkembang, yaitu: pertama, tradisi membagi-bagikan bubur kepada para santri setiap menjelang maghrib untuk santapan buka puasa. Setiap jam 4 sore, para santri mulai antri dengan tertib dan sabar di halaman pondok. Pada wajah mereka terlihat kebahagiaan. Mereka membawa piring (bukan piring beling, tetapi piring seng), mangkok dan lain sebagainya—tergantung kepunyaan masing-masing. Satu per satu dari mereka maju, dan pengurus pondok kemudian menuangkan bubur ke piring masing-masing. Selain diberi bubur, mereka juga diberi sayur lodeh berikut teh manis. Ini semua merupakan sedekah pribadi dari kakek saya, bukan sumbangan dari masyarakat setempat.

Tidak seperti sekarang, dulu tidak ada kurma. Sehingga di saat ta’jil masyarakat di kampung lebih suka makanan tradisional. Kalau sekarang, saat hubungan Indonesia dengan negeri-negeri di Timur Tengah terjalin dengan baik dan intens, kurma bukanlah sesuatu yang langka. Di setiap tempat kita pasti menemukannya, khususnya di bulan Ramadhan, sebagai makanan nyaris ‘wajib’ untuk ta’jîl bagi sebagian kalangan.

Kedua, tradisi menabuh kentongan yang tujuannya membangunkan orang pada waktu menjelang sahur. Setiap jam, dari pukul 12 malam, kentongan itu ditabuh secara berbeda. Misalnya, pada pukul 12 ditabuh sebanyak 12 kali, pukul 1 ditabuh sekali, dan begitu seterusnya—mirip dengan lonceng yang berbunyi untuk menunjukkan waktu. Kemudian di waktu imsak kentongan itu ditabuh sebanyak 6 kali sebagai peringatan agar orang segera menghentikan aktivitas makan.

Menariknya, kentongan itu menjadi rebutan di antara para santri. Saya sendiri, misalnya, supaya kentongan itu tidak diambil anak-anak yang lain, kadang harus memeluknya di saat sedang tidur, atau menyembunyikannya di suatu tempat. Saat waktu menunjukkan pukul 12, saya mulai bangun dan menabuhnya dengan keras.

Di masa kecil dulu saya jarang sekali tidur di rumah, lebih banyak tidur di mushalla atau langgar—orang Cirebon menyebutnya tajug. Biasanya kakek, Kiyai Syathori, membangunkan saya beserta para santri lainnya menjelang shalat Shubuh. Beliau membangunkan kami dengan lemah-lembut dan penuh kasih-sayang, “Ayo bangun shalat,” begitu saja, dan tidak pernah keras. Meskipun begitu, beliau sangat berwibawa, sehingga ketika mendengar suaranya saja para santri akan langsung bangun untuk kemudian mengambil wudhu.

Tetapi ada juga di antara santrinya yang memang agak nakal, susah kalau dibangunkan untuk shalat. Anehnya, beliau membiarkannya saja, tidak memaksa membangunkannya. Kemudian beliau dengan santri-santri lainnya shalat berjamaah. Saat mendengar ucapan “amin”, santri yang susah dibangunkan itu akan kaget dan langsung bangun. Begitu juga sikap beliau terhadap saya. Ketika melihat saya masih ngantuk, oleh beliau dibiarkan saja dulu. Kemudian nanti setelah selesai shalat, beliau mencoba membangunkan saya lagi sampai terbangun.

Sejak adanya Kiyai Mahfuzh Thaha, kiyai muda asal Tegal yang tak lain adalah menantu kakek yang hafal al-Qur`an 30 juz, terdapat tradisi lain di dalam shalat Tarawih di Arjawinangun. Sebagai seorang hafizh (sebutan untuk orang yang hafal al-Qur`an), Kiyai Mahfuzh didaulat untuk menjadi imam shalat Tarawih. Saat Kiyai Mahfuzh mengimami, Kiyai Syathori selalu berada tepat di belakangnya. Di hadapan beliau terdapat al-Qur`an yang disangga. Maksudnya adalah untuk menyimak dan mengoreksi bacaan Kiyai Mahfuzh. Bisa dibilang, Kiyai Mahfuzh adalah hafizh pertama di Arjawinangun.

Setiap sore di bulan Ramadhan Kiyai Mahfuzh mengadakan sema’an al-Qur`an yang dihadiri oleh masyarakat di sekitar pesantren. Biasanya setelah itu beliau memberikan taushiyah, atau menjelaskan hal-hal penting terkait makna beberapa ayat al-Qur`an yang dibacanya. Tradisi ini berlangsung sampai sekarang. Selepas Kiyai Mahfuzh mangkat (meninggal), keturunannya lah yang meneruskan, atau mengundang orang luar yang hafal al-Qur`an untuk menjadi imam shalat Tarawih dan hadir di acara sema’an.

Saya sendiri sebetulnya adalah seorang hafizh, meskipun hafalan saya tidak sebaik dan sehebat adik saya, Kiyai Ahsin. Saya dulu belajar di PTIQ. Di sana kegiatan sehari-hari saya adalah menghafal al-Qur`an, kemudian dilanjutkan dengan sema’an sehabis shalat Ashar. Ketika disuruh maju untuk menunjukkan hafalan kepada teman-teman, saya bisanya paling hanya setengah atau satu juz saja.

Setelah beberapa tahun berjalan, dan Pondok Pesantren Darut Tauhid mengalami perkembangan yang cukup signifikan, kegiatan bulan Ramadhan menjadi semakin banyak, di antaranya yang paling sering dan menjadi kegiatan wajib adalah ngaji pasaran, dari pagi sampai malam. Sekitar pukul 9, para santri berkumpul di tajug. Dengan dipimpin langsung oleh seorang kiyai mereka mengaji kitab sampai Zhuhur. Usai shalat, kegiatan ini kemudian dilanjutkan sampai shalat Ashar. Lalu, setelah shalat Ashar dilanjutkan kembali sampai menjelang Maghrib. Untuk beberapa saat kegiatan ngaji dihentikan, memberikan kesempatan kepada para santri untuk beristirahat, berbuka puasa, shalat Maghrib dan Tarawih. Kemudian sehabis shalat Tarawih dilanjutkan kembali sampai jam 12 malam. Kegiatan ini berlangsung setiap hari sampai tanggal 25 Ramadhan.

Dan sampai sekarang, kegiatan ngaji kitab masih ada, bahkan semakin padat. Setiap kiyai di Pondok Pesantren Darut Tauhid, termasuk saya, mendapat bagian untuk memimpin pengajian kitab, dengan materi dan waktu yang berbeda-beda. Seperti Abah Inu—panggilan akrab KH. Ibnu Ubaidillah—misalnya, beliau memimpin pengajian kitab dari jam 9 pagi sampai Zhuhur. Kitab yang diaji biasanya adalah kitab-kitab hadits atau “Kutub al-Sittah”, seperti kitab “Shahîh al-Bukhârîy” dan “Shahîh Muslim”. Atau, kadang-kadang, mengaji kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik.

Saya pernah mengusulkan beberapa kitab kepada Abah Inu, seperti kitab “Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm” (kaidah fikih) karya Izzuddin ibn Abdissalam dan kitab “Mîzân al-Kubrâ” (tasawuf) karya Imam al-Sya’rani untuk diajarkan kepada para santri. Waktu itu pemikiran saya sudah modern. Abah Inu sebenarnya tidak menolak untuk mengaji kitab-kitab tersebut, tetapi beliau lebih memilih ngaji kitab-kitab hadits, karena beliau memang pakar di bidang hadits. Bila dilihat dari latar belakangnya, Abah Inu adalah murid dari Syaikh Muhammad al-Alawi al-Maliki, seorang pakar hadits terkenal di Makkah, Saudi Arabia.

Kalau saya biasanya mendapat bagian setelah shalat Tarawih. Kitab-kitab yang saya ajarkan adalah kitab-kitab baru yang menyuguhkan pemikiran berbeda dari kitab-kitab yang diajarkan di pesantren pada umumnya. Dulu, sebelum ke Mesir, saya sudah akrab dengan kitab-kitab Ushul Fikih, Fikih, Tasawuf, dan Teologi. Di antaranya ada sebagian kitab yang berisi kekerasan terhadap orang-orang kafir. Saya melihat, pada beberapa kitab yang beredar luas di kalangan pesantren, terlihat jelas didasari oleh pola pemikiran ahli hadits. Pola pemikiran ini cenderung memandang dan menyelesaikan suatu persoalan lebih memperhatikan pada teks zhahir dan riwayat. Hal ini berarti sesuatu dianggap benar jika didasari oleh adanya teks dan diinformasikan secara valid, walaupun tanpa mempertimbangkan aspek rasionalitas dari teks itu sendiri. Lebih dari itu, perhatian pada aspek latar belakang sosiologis mengapa teks tersebut lahir, tidak lagi menjadi bahan pertimbangan. Persoalan ini sesungguhnya sangat signifikan bila dimaksudkan sebagai media pengembangan pemikiran dalam teks tersebut untuk keperluan adaptable (tuntutan zaman).

Pada fase berikutnya saya melihat adanya perkembangan lebih lanjut dari pola pemikiran di atas, yaitu terbentuknya sistem keilmuan ‘naqlîy’ (penukilan dan transmisi). Sistem ini meski asal mulanya diberlakukan untuk keilmuan hadits, namun pada perkembangan lebih lanjut diberlakukan juga pada cabang keilmuan lainnya. Hal ini berarti bahwa keilmuan hanya dapat dipandang absah dan legitimed bila melalui cara transmisi. Akibat dari pola ini, hafalan menjadi suatu keniscayaan dalam metode pembelajaran. Lebih jauh lagi, parameter keilmuan seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu menghafal teks-teks. Saya pernah membaca kitab “Ta’lîm al-Muta’allim”, di situ dengan jelas dinyatakan bahwa ilmu adalah sesuatu yang didapat dari mulut para guru karena mereka hafal apa yang terbaik dari yang mereka dengar, dan menyampaikan apa yang terbaik dari apa yang mereka hafal. Inilah rupanya yang menyebabkan mengapa hafalan selalu menjadi tradisi yang berkembang di dunia pesantren. Perhatian dan apresiasi yang besar terhadap metode ini seringkali—hampir—menafikan aspek pemahaman dan pengembangan wawasan, paling tidak mereduksi aspek pemikiran.

Realitas kehidupan manusia dewasa ini telah menunjukkan perubahan-perubahan yang sangat besar dan cepat. Gempuran modernisme rupanya telah merubah pandangan masyarakat dari sakralisasi kepada profanisasi; dari pemikiran tradisional kepada pemikiran rasional. Di hadapan realitas seperti ini, pesantren dengan segudang kitab kuningnya tengah bergumul di antara dua kutub yang bedegup. Di satu sisi, kitab kuning telah dipandang sebagai khazanah intelektual paling absah dan sakral. Namun di sisi lain, kecenderungan rasionalitas terus menggugat kemapanan tradisi. Ketika kitab kuning dipandang sebagai acuan yang baku untuk bisa menjawab berbagai persoalan, realitas baru memunculkan sederet persoalan yang membingungkan.

Dalam keadaan seperti itu, maka ketika pemikiran dan kasus-kasus baru bermunculan serta meminta jawaban yang relevan dengan tuntutan modernitas, kitab kuning lalu kehilangan daya tariknya. Bersikap apologi bahwa semua persoalan telah ada jawabannya dalam kitab kuning, saya kira membutuhkan kajian dan pemikiran kritis yang mendalam. Saya pribadi, ketika berhadapan dengan sebuah kitab, saya membaca, menganalisa, dan bahkan melakukan kritik ketika terdapat pemikiran di dalamnya yang tidak sesuai dengan pemikiran saya. Demikianlah yang saya lakukan setiap kali membaca kitab. Saya tidak pernah membiarkan sebuah kitab ‘menceramahi’ saya. Antara saya dan kitab yang saya baca selalu terjalin dialog aktif dua arah, ia bicara dan saya pun bicara. Hal ini selalu saya upayakan untuk ditularkan kepada para santri di Pondok Pesantren Darut Tauhid.

Kalau ditelisik lebih jauh, terdapat ciri khas yang membedakan antara Pondok Pesantren Darut Tauhid dengan pondok-pondok lain di Cirebon, yaitu dalam hal keilmiahan. Sejak masa Kiyai Syathori, kegiatan-kegiatan ilmiah sangat marak, seperti ngaji kitab dan menulis. Bahkan, tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada ritus-ritus seperti tahlil dan haul yang diselenggarakan secara besar-besaran. Kendati dilakukan, tetapi hanya sederhana saja, tidak berlebih-lebihan seperti di pesantren-pesantren lainnya. Tidak juga mengundang pejabat pemerintah, meskipun di antara kawan beliau ada yang menjadi menteri, seperti Fatah Yasin.

Kiyai Syathori memang dikenal mempunyai pemikiran terbuka dan modern. Atas inisiatif beliau, beberapa keturunan beliau disekolahkan di luar negeri. Abah Inu disekolahkan di Makkah, Kiyai Ahsin di Madinah, saya sendiri di Mesir, dan seterusnya. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap pendidikan. Dalam artian, beliau ingin para keturunannya kelak dapat meneruskan perjuangan beliau dalam mendidik dan mencerdaskan masyarakat.

Beberapa kebijakan beliau kerap menuai kontroversi di zamannya, di antaranya adalah penerapan sistem klasikal di Pesantren Darut Tauhid. Dalam hal ini beliau mengikuti jejak gurunya, KH. Hasyim Asy’ari, yang juga menerapkan sistem klasikal di pesantrennya. Tak ayal, kebijakan beliau ini ditentang oleh hampir seluruh kiyai di Arjawinangun. Pernah suatu ketika beliau sampai berdebat dengan Kiyai Johar asal Balerante yang menganggap sistem klasikal bukan tradisi pesantren. Tidak hanya itu, Kiyai Johar juga tidak membolehkan para guru menggunakan kapur tulis yang saat itu jamak digunakan di Pesantren Darut Tauhid.

Hal yang tidak kalah menarik, Kiyai Syathori menyekolahkan putrinya, Nyai Mizah Syathori, di SMP. Padahal, saat itu di SMP tidak ada seorang siswi pun yang memakai jilbab, hanya memakai seragam biasa yang terdiri dari baju dan rok saja. Dan Nyai Mizah sendiri selama belajar di sekolah itu tidak pernah mengenakan jilbab, pakaiannya sama seperti para siswi pada umumnya; kepalanya dibiarkan terbuka dengan rambut yang terurai panjang sampai pinggang.

Dan memang, kebanyakan dari keturunan beliau dimasukkan ke sekolah-sekolah umum, SD dan SMP, termasuk saya. Berbeda dengan keturunan kiyai-kiyai lain yang hanya mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren saja. Saya merasa, dulu, tamatan sekolah umum seperti SMP, misalnya, secara kualitas lebih unggul dari tamatan Madrasah Tsanawiyah di pesantren. Karena, di samping materi-materi umumnya lebih banyak sehingga para siswa banyak menyerap beragam informasi yang sangat dibutuhkan dalam kancah dunia modern, juga karena guru-gurunya memang ahli di bidangnya masing-masing. Sementara guru-guru di Madrasah Tsanawiyah, menurut pengamatan saya, cenderung “asal comot” tanpa memperhatikan keahliannya. Misalnya, ada seorang guru yang sebetulnya ahli di bidang fikih, itu disuruh mengajar matematika, dan seterusnya. Ini sebetulnya merupakan sebentuk pelanggaran terhadap etika dalam pendidikan, bahkan bisa dikatakan menyalahi ajaran al-Qur`an. Allah berfirman, “Kullun ya’mal-u ‘alâ syâkilatih-i,” setiap orang bekerja berdasarkan bidang atau keahliannya. Atau dalam pepatah Inggris disebutkan, “The right man in the right place,” orang yang tepat [diposisikan] di tempat yang tepat.

 

Belajar Berpuasa

Pada waktu masih kanak-kanak—tidak begitu ingat persis berapa usia saya kala itu—saya sudah mulai berpuasa, meskipun tidak penuh. Mula-mula saya dikenalkan dengan istilah “puasa panas pager”. Maksudnya adalah ketika pagar di depan rumah terkena sinar matahari, kira-kira jam 10-an. Kebetulan, waktu itu rumah saya dikelilingi pagar yang terbuat dari bambu. Sahurnya seperti biasa bareng-bareng dengan keluarga. Ketika pagi-pagi saya mulai mengeluh lapar, orangtua pasti bilang, “Nanti, panas pager.”

Ada juga istilah “puasa sebedug”, yaitu berpuasa sampai bedug untuk shalat Zhuhur ditabuh. Namun, sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada istilah “puasa seashar” atau berpuasa sampai waktu Ashar—mungkin karena tanggung, jarak antara waktu shalat Ashar dan Maghrib terlalu dekat. Jadi, tahapan pendidikan puasa yang diterapkan di dalam keluarga saya adalah panas pager, sebedug dan sampai Maghrib atau sehari penuh.

Tahapan-tahapan tersebut juga saya terapkan dalam mendidik anak-anak saya. Biasalah, yang namanya anak kecil bawaannya memang suka mengeluh; haus, lapar dan segala macamnya. Tetapi, sebagai orangtua, saya selalu berupaya menghibur, menenangkan dan mengawasi. Kadang saya membawanya jalan-jalan, atau membelikannya mainan, untuk membuatnya lupa akan rasa dahaga dan lapar.

 

Tak Kenal Ngabuburit

Dulu saya tidak mengenal yang namanya “ngabuburit”. Namun, yang saya ingat dari pengalaman di bulan Ramadhan, sehabis shalat Zhuhur, ketika tidak ada kegiatan ngaji kitab, biasanya saya bersama saudara dan teman-teman sebaya pergi ke Pongklang dengan berjalan kaki untuk memancing ikan di sungai, atau juga ke tempat-tempat lain yang ada sungainya, seperti Bayalangu dan Tegalgubug. Tetapi bagi saya, ini bukanlah ngabuburit seperti yang dipahami banyak orang saat ini, yaitu kegiatan nongkrong atau ngumpul-ngumpul di tempat-tempat tertentu, pergi mejeng ke pasar, dll.

Selama bulan Ramadhan, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngaji kitab kuning, dari pagi sampai malam. Kitab-kitab yang diaji biasanya adalah kitab-kitab kecil, seperti “Safînah al-Najâh”, “Kâsyifah al-Sajâ”, “al-Âjurûmîyyah”, “Alfîyyah ibn Mâlik”, dan kitab-kitab kuning lainnya yang jamak dikenal di dunia pesantren.

Kemudian, setelah pulang dari Mesir, saya lebih sering mengaji kitab-kitab umum (bukan kitab ‘kuning’), seperti “al-Siyah al-Islâmîyyah bayna al-Muhadhdhirîn wa al-Mujaddidîn”, “Nasy`ah al-Fiqh al-Islâmîy”, “Allâ Madzhabîyyah Akhthar-u Bid’at-in Tuhaddid-u al-Syarî’ah al-Islâmîyyah”, dan lain sebagainya yang saya bawa dari Mesir. Membacanya bukan dengan pembacaan biasa, tetapi memakai metode pesantren “utawa iku iku”. Artinya, ada semacam upaya dari saya untuk ‘mengkuningkan’ kitab-kitab yang belum dianggap ‘kuning’.

Bergelut dengan kitab-kitab memang sangat mengasyikkan. Saya selalu ingat pepatah Arab yang mengatakan, “Khayr-u jalîs-in fî al-zamân-i kitâb-un”, sebaik-baiknya teman duduk adalah kitab atau buku. Dan bukan hanya sebatas teman duduk, kitab-kitab itu bisa menjadi guru, banyak sekali informasi yang saya dapatkan darinya, utamanya tentang toleransi, menghargai perbedaan, kesetaraan, kedamaian, keadilan, dll. Informasi-informasi inilah yang saat ini dibutuhkan oleh negara kita, di mana kekerasan atas nama agama dan penistaan terhadap kemanusiaan sudah menyebar di hampir seluruh penjuru bumi pertiwi.

Saya dapat memahami kenapa banyak dari warga NU yang berpikiran keras. Karena kitab-kitab kuning yang diaji muatan-muatannya memang sangat keras. Ada beberapa kiyai pesantren di Jawa yang sampai sekarang masih mengharamkan presiden perempuan. Bahkan ada dari mereka yang suka mengkafirkan. Namun sejauh ini, mereka relatif masih terkendali, juga warga-warga NU yang lain. Dan saya kira, peran para petinggi NU yang notabene mempunyai wawasan kebangsaan yang luas sangat dibutuhkan dalam mengarahkan warganya.

Saya dulu pernah mengaji kitab-kitab kuning seperti itu, tetapi saya masih bisa mengendalikan diri untuk tidak mengikuti isinya begitu saja, malah saya cenderung berontak. Apalagi kalau mengajinya di bulan Ramadhan, suatu momen yang menuntut kestabilan, ketenangan dan kedamaian jiwa serta pikiran. Sehingga pemikiran-pemikiran radikal dari kitab apapun tidak mudah mempengaruhi diri saya.

Itulah kegiatan saya selama Ramadhan, dari dulu hingga saat ini, ngaji dan belajar. Tidak ada yang namanya ngabuburit. Karena sebenarnya, ngabuburit itu kan istilah orang Sunda. Sementara di Cirebon, utamanya di Arjawinangun, istilah itu tidak dikenal sama sekali. Hanya sekarang saja istilah tersebut dikenal secara masif. Mungkin karena sering disebut oleh para artis di acara-acara televisi sehingga menjadi trend, khususnya di kalangan anak-anak muda. Saya tidak pernah mempersoalkan bila mereka nongkrong atau ngumpul-ngumpul di tempat-tempat tertentu. Hanya saja, jangan sampai melakukan aktivitas yang dapat menganggu ketenangan umum. Dan alangkah lebih baik bila bulan Ramadhan banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”

BERPUASA DI KAMPUNG HALAMAN

Oleh Prof. Dr. Suwito, MA.

[Guru Besar Sejarah Pemikiran dan Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]

 

“Orangtua tidak pernah memaksa saya dalam hal apapun, termasuk dalam mengerjakan ibadah puasa. Sejak kecil saya dididik untuk melakukan segala sesuatu tanpa paksaan dan tekanan dari orang lain, bahkan dari orangtua sekalipun, melainkan berangkat dari keinginan dan kesadaran diri. Contoh dan keteladanan yang diperlihatkan orangtua kepada saya sudah cukup menjadi semacam perintah tidak langsung untuk melakukan sesuatu yang baik.”

 

 

Suasana Ramadhan

Tanggal 7 Maret 1956 adalah hari kelahiran saya di Lebak Kulon-Sukolilo. Beberapa tahun kemudian pindah dari Lebak-Kulon ke sebuah kampung kecil, kurang lebih 1 km dari Lebak-Kulon yang terletak di daerah Kedungwinong—sekitar 27 km dari kota Pati ke arah selatan. Dulu, waktu saya masih kecil, letak masjid lumayan jauh, sekitar 500 meter dari kampung saya. Sementara mushalla, saya menyebutnya langgar, letaknya lebih jauh lagi, sekitar 1 km. Bagi masyarakat kampung, jarak seperti itu tidaklah jauh. Sebab mereka terbiasa menempuh perjalanan jauh dengan hanya berjalan kaki. Saya pribadi, khusus di bulan Ramadhan, sehabis makan sahur biasanya pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Shubuh berjamaah.

Hal yang paling saya ingat di bulan Ramadhan waktu itu adalah ketika hendak berbuka puasa. Mulai sejak bangun tidur—karena saya memang suka tidur sehabis shalat Shubuh—segala kebutuhan untuk buka puasa sudah saya pikirkan. Biasanya, setelah bangun tidur, saya bersama teman-teman pergi bermain ke sawah yang kebetulan dekat dengan hutan pegunungan kapur utara, gunung Kendeng. Di sana saya dapati beberapa pohon mangga, pisang, jambu dan lain-lain. Yang paling banyak adalah pohon mangga.

Pohon-pohon itu sebenarnya milik orang, bukan milik orangtua atau kerabat saya. Namun, jiwa kekenak-kanakan saya tidak memperdulikan hal itu, bahkan tidak pernah takut ketahuan pemiliknya. Apalagi karena hutan tempat pohon-pohon itu lumayan jauh dari perkampungan, sekitar 1 sampai 2 km. Di antara teman-teman saya malah ada yang nekat, mengambil buah-buahan di pohon yang berada tepat di halaman rumah pemiliknya. Misalnya, ada pohon jambu, dan teman saya itu melempar buahnya dengan batu agar terjatuh ke tanah. Ketika ketahuan, si pemilik malah bilang, “Jangan dilempar, entar kena kaca. Panjat saja, dan ambil semua buahnya.” Perkataan ini tentu saja bukan merupakan perintah, melainkan sebentuk sindiran agar teman saya itu tidak meneruskan perbuatannya.

Terus terang, selama bulan puasa saya tidak pernah jajan untuk keperluan buka karena kondisi ekonomi keluarga saya di kampung tidak memungkinkan untuk itu. Saya lebih suka mencari buah-buahan saja, atau mencari atau memancing ikan di sungai. Kendati sebenarnya saya ingin ini-itu dan segala macam, tetapi setelah saya pikir, itu hanyalah keinginan belaka. Ketika sedang buka, makan sedikit saja sudah kenyang.

Boleh dibilang, di waktu kecil dulu saya adalah anak yang lumayan nakal. Meskipun tidak pandai memancing, tetapi tetap saja saya pergi ke sungai bersama teman-teman. Seringkali, saya tidak membawa pulang seekor ikan pun. Kalau sudah begitu, saya meminta teman-teman untuk memberikan beberapa ikan dari hasil tangkapan mereka. Saat tiba di rumah, saya katakan kepada orangtua bahwa ikan-ikan itu adalah hasil tangkapan saya sendiri, sekedar untuk menunjukkan bahwa saya pandai memancing.

Selain itu, yang saya suka ketika Ramadhan di kampung adalah bermain petasan. Petasan ini tidak beli, melainkan membuat sendiri karena memang tidak punya uang. Bahannya terbuat dari bambu ukuran besar, dengan panjang kira-kira 1 meter. Bambu itu atasnya dilubangi, kemudian dikasih minyak tanah, dan setelah itu ditiup dengan api, dan…DDEMMMM!!! Begitulah kira-kira bunyinya, nyaring sekali, tidak kalah dari petasan belian yang biasa ditemui di pasar atau pedagang kaki lima. Pernah, waktu hendak membeli peralatan untuk membuat petasan, saya pergi dengan naik sepeda ke daerah Prawoto yang jaraknya kurang lebih 10 km dari kampung saya. Akibatnya, dalam perjalanan balik ke rumah, sepeda saya patah. Bahkan, pernah juga saya membeli peralatan sampai ke Kudus yang dari kampung saya berjarak sekitar 25-30 km. Sebelum sampai di tujuan, lagi-lagi di tengah perjalanan sepeda saya patah sehingga saya harus membawanya ke bengkel terdekat. Setelah diperbaiki, baru kemudian saya melanjutkan perjalanan.

Suatu saat, kira-kira puasa sudah berlangsung seminggu, menjelang maghrib, teman-teman saya pergi ke masjid dan mushalla untuk mengaji. Saya diajak, tetapi saya tidak mau. Ada perasaan malas menghinggapi jiwa saya. Beberapa hari berikutnya, saat semangat saya pergi ke masjid mendadak melonjak naik, teman-teman saya malah enggan pergi ke sana seperti saya sebelumnya. Jadilah saya sendirian yang rajin mengaji sampai menjelang lebaran. Inilah saya kira di antara keistimewaan Ramadhan di kampung. Selain mengambil buah di sawah dan mamancing ikan di sungai, saya lebih banyak menghabiskan waktu di masjid.

Seperti biasa, setiap habis shalat Isya`, saya ikut mengerjakan shalat Tarawih berjamaah. Tetapi, yang namanya anak-anak, gurau adalah sesuatu yang biasa—ribut dan gaduh terus. Demikian halnya saya dan juga teman-teman yang lain. Sampai kemudian, karena mungkin dianggap mengganggu kekhusyukan shalat, kami diberi hukuman oleh ustadz. Kadang-kadang disuruh berdiri, atau ruku’, atau sujud lama-lama. Namun dengan begitu, saya justru berkesempatan untuk berlama-lama di masjid. Suatu ketika saya bertemu dan berkenalan dengan beberapa santri Pondok Pesantren Rifa’iyah yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Rifa’i. Cukup lama saya bergaul dengan mereka. Saya lihat mereka belajar menulis Arab dengan pena yang diisi dengan tinta Cina—di kampung dulu biasanya disebut mangsin. Saya juga ikut belajar bersama mereka, bahkan saya pernah menulis sebuah kitab dengan menyalin kitab Syaikh Ahmad Rifa’i, yaitu dengan menggunakan tulisan Arab Pegon. Seingat saya isi kitab tersebut antara lain adalah tentang rukun Islam.

 

Tak Ada Paksaan dari Orangtua

Pada awalnya saya berpuasa hanya ikut-ikutan orangtua yang kemudian menjadi kebiasaan. Tidak seperti anak-anak di daerah-daerah lain, di waktu kecil saya tidak pernah mendengar atau diajari berpuasa setengah hari, misalnya. Yang saya tahu puasa itu wajib dilakukan sehari penuh tanpa ‘bolong-bolong’. Hanya saja, karena masih anak-anak, ‘nyuri-nyuri’ adalah hal yang biasa bagi saya. Misalnya, di siang hari saat sedang mandi di kali, dan kebetulan tidak ada orang melihat, saya minum.

Dan orangtua saya tidak pernah sekalipun memaksa-maksa saya untuk berpuasa. Saya hanya disuguhi contoh dan keteladanan. Saya pernah disuruh, tetapi tidak dipaksa. Saya berpuasa semata-mata berangkat dari keinginan saya sendiri. Sebagaimana ketika saya hendak mengaji, itu juga keinginan saya sendiri, tanpa paksaan dari orangtua. Bahkan, dalam hal masuk sekolahpun, sayalah yang mempunyai inisiatif. Kebetulan setiap hari, kecuali hari Minggu tentunya, saya melihat anak-anak yang umurnya lebih tua dari saya, pagi-pagi pergi ke sekolah dengan mengenakan seragam. Saya ingin sekali seperti mereka, makanya saya bilang ke orangtua bahwa saya ingin masuk sekolah seperti anak-anak itu. Kemudian juga ketika saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Kudus, dan setiap bulan Ramadhan ngaji di Pesantren KH. Arwani. Orangtua saya, terutama ibu, tidak mengizinkan. Di samping karena saya adalah anak satu-satunya, semata wayang, juga karena faktor biaya—di kampung orangtua saya tergolong masyarakat tidak mampu. Saya sudah bertekad bulat, dan saya katakan, “Bapak, Ibu, saya akan baik-baik saja di sana. Soal biaya tidak perlu dirisaukan.” Begitupun ketika saya melanjutkan studi di UIN Jakarta—dulu namanya masih IAIN—, itu murni keinginan saya sendiri.

Bagi saya, kenyataan bahwa orangtua tidak pernah memaksa saya dalam hal apapun, termasuk dalam mengerjakan ibadah puasa, adalah suatu model pendidikan yang positif. Artinya, sejak kecil saya sudah dididik untuk melakukan segala sesuatu tanpa paksaan dan tekanan dari orang lain, bahkan dari orangtua sekalipun, melainkan berangkat dari keinginan dan kesadaran diri. Contoh dan keteladanan yang diperlihatkan orangtua kepada saya sudah cukup menjadi semacam perintah tidak langsung untuk melakukan sesuatu yang baik.

 

Menikmati Suasana yang Berbeda

Selama kuliah di Jakarta, saat bulan Ramadhan tiba saya tidak pulang kampung tetapi muqim di Pesantren Modern Gontor dan Pesantren Koleberes Sukabumi. Ada keinginan kuat di hati saya untuk menikmati suasana Ramadhan yang berbeda dari tanah kelahiran saya. Kadang-kadang sampai 20 atau 25 hari menjelang lebaran.

Di setiap tempat, pasti ada pengalaman yang menurut saya sangat luar biasa dan memberi kesan mendalam, khususnya di bulan Ramadhan. Ketika di Kudus, karena jauh dari orangtua, saya memasak sendiri, bahkan mulai belajar mencari uang sendiri dengan menjual gorengan atau kerjaan lainnya. Dari pagi sampai siang saya belajar di sekolah umum, kemudian sore harinya saya mengaji di pesantren. Ketika ngaji di Pesantren KH. Arwani, selama hampir sebulan oleh Kiyai Arwani saya hanya diajari surat al-Fatihah, mulai dari bacaan ta’awwudz dan basmalah-nya hingga ayat per ayat di dalam surat tersebut, dan tidak diajari surat-surat al-Qur`an yang lainnya. Tentu saja ini membuat saya bosan dan kesal. Akhirnya saya belajar ngaji sendirian. Tidak tahu benar atau salah, yang jelas saya bertekad harus bisa. Anehnya, saya bisa membaca surat-surat lain di dalam al-Qur`an dengan lancar. Akhirnya saya pun mengerti maksud sekaligus rahasia Kiyai Arwani hanya mengajarkan surat al-Fatihah kepada saya.

Begitu juga ketika saya berada di Sukabumi, momen yang paling menarik adalah pada saat ngabuburit. Setiap sore, selepas shalat Ashar, saya pergi ke sawah-sawah untuk nengambil jenis-jenis daun dan rumput. Kalau menurut orang Sunda, “Kecuali daun pintu, semua daun bisa dimakan.” Hal ini saya coba praktikkan dalam keseharian saya di bulan Ramadhan. Daun-daun itu saya jadikan lalapan untuk pelengkap menu buka puasa. Padahal, penduduk asli Cianjur sendiri sangat jarang yang melakukan itu. Karena di sana saya ada di pesantren, maka saban hari saya selalu mengaji kitab. Sebetulnya saya tidak begitu paham, karena si kiyai menerjemahkan kitab tersebut dengan bahasa Jawa, dan menjelaskannya dengan bahasa Sunda. Sementara pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan memakai bahasa Indonesia, tetapi ia menjawabnya dengan bahasa Sunda, dan sekali-kali dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata karena memang tidak terlalu bisa.

Selain itu, saat berada di Pondok Pesantren Modern Gontor, saya belajar menulis khat (kaligrafi Arab), belajar menjilid buku, dan yang paling saya suka adalah mengumpulkan kata-kata bijak yang tertulis di dinding-dinding asrama, seperti “Panca Jiwa”, “Motto Pondok”, atau ungkapan-ungkapan hikmah dari para ulama. Pada masa-masa itu saya tidak suka membaca hal-hal yang berkaitan dengan fikih. Saya lebih suka membaca al-Qur`an dan mencari tahu makna dari setiap kata dan kalimat yang ada di dalamnya. Untuk bahan bacaan lain, saya suka sekali membaca buku-buku terjemahan karangan para tokoh/ilmuan luar negeri yang sudah bergelar “Profesor-Doktor”. Saya jarang membaca buku-buku karangan para tokoh/ilmuan dalam negeri. Memang, di antara kegemaran saya waktu itu adalah membaca buku. Saya selalu menyisihkan sebagian uang baik dari kiriman orangtua ataupun hasil dari keringat sendiri untuk membeli buku. Setiap kali pulang kampung menjelang lebaran, saya pasti membawa buku. Sampai-sampai orangtua saya heran, “Kamu kayaknya gak pernah beli pakaian ya? Cuman beli buku mulu!”

 

Lebaran Idul Fitri

Bagi umat Muslim lebaran Idul Fitri adalah momen yang sangat spesial. Saya bersama orangtua biasanya bersilaturrahim ke keluarga saya yang lain. Kebetulan di kampung terdapat keluarga saya yang bisa dibilang kaya raya. Ketika datang ke rumahnya saya selalu dikasih uang. Namun bila bersilaturrahim ke rumah-rumah keluarga yang lain tidak dikasih apa-apa. Saya bisa memaklumi hal itu, karena masyarakat di kampung saya rata-rata memang bukan orang-orang ‘berada’.

Satu hal yang perlu dicatat, sebenarnya perayaan lebaran Idul Fitri di kampung saya tidak begitu semarak, terkesan sepi, seolah-olah bukan momen yang spesial. Justru yang paling ramai adalah tujuh hari setelah itu, yaitu lebaran Ketupat—di kampung saya biasanya disebut “bodho kecil”. Sebagaimana tradisi umat Muslim Indonesia pada umumnya, masyarakat kampung saya membuat ketupat dari beras, yang selain untuk dikonsumsi sendiri juga diberikan kepada tetangga. Biasanya ketupat itu—yang menjadi khas masyarakat kampung saya—sangat enak kalau dimakan dengan semur ikan ‘kutuk’. Dan pada momen itu juga, banyak dari masyarakat kampung saya yang bertamasya ke beberapa tempat yang menarik.

Sebetulnya, banyak momen sejenis yang dirayakan di kampung. Seperti, misalnya, Tanggal 1 Syura, Nyadran, di mana masyarakat saling memberi makanan; ke kerabat, tetangga, dan orang-orang tidak mampu atau miskin. Jadi, di kampung itu suasana kekeluargaannya sangat kental sekali. Meskipun oleh sebagian kalangan—maksudnya beberapa aliran dalam Islam—dianggap tidak Islami dan berbau bid’ah, tetapi tradisi seperti lebaran Ketupat, Tanggal 1 Syura, dan lain-lainnya, itu saya kira harus tetap dijaga dan dilestarikan. Karena justru dengan tradisi-tradisi semacam itu masyarakat senantiasa dapat menjalin ikatan persaudaraan, kekeluargaan dan kekerabatan, di samping, tentu saja, dapat mempererat tali silaturrahim di antara sesama yang memang sangat dianjurkan oleh Islam. Dan yang tidak kalah pentingnya, tradisi-tradisi semacam itu harus dipahami sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala karunia yang telah diberikan-Nya.

Bisa jadi, individualisme, terorisme, kekerasan dan intoleransi yang saat ini merebak atau menjamur di Tanah Air, itu karena tradisi-tradisi lama yang baik di masyarakat mulai dikikis dan dihilangkan, dianggap sebagai bid’ah yang harus dijauhi karena tidak termasuk ajaran agama dan tidak ada di masa Nabi. Yang penting itu bukan bentuknya, bukan kemasan atau bungkusnya, melainkan nilai luhur dan pesan bijak yang terkandung di dalamnya. Kenyataannya memang, masyarakat kita sangat mudah terkesan atau silau oleh kemasan, bukan oleh isi atau muatan.

 

Jarang Mudik

Sejak tinggal di Jakarta, mulai dari masa-masa kuliah sampai sekarang, saya jarang sekali mudik alias pulang kampung pada saat lebaran Idul Fitri, bahkan cenderung menghindarinya. Saya masih ingat, saya mudik baru dua kali. Pernah satu kali, waktu hendak balik ke Jakarta saya naik kereta api dengan berdiri dari Purwokerto ke Jakarta. Rasanya memang sangat tidak enak; sesak, panas dan letih sekali. Kedua kaki saya serasa seperti mau patah. Ini membuat saya trauma, makanya saya tidak mau mudik ketika lebaran Idul Fitri.

Lebaran Idul Adha saya sering mudik karena memang tidak begitu ramai dan sesak seperti saat lebaran Idul Fitri. Saya suka sekali memotong kurban di kampung, dan kemudian membagi-bagikan dagingnya kepada orang-orang sekitar, terutama kepada mereka yang tidak mampu. Namun untuk saat-saat ini, semenjak orangtua telah tiada, saya sudah tidak mudik lagi. Karena tanah dan rumah orangtua saya wakafkan untuk kepentingan pembangunan sekolah. Jadi, sekarang ini di kampung saya sudah tidak punya apa-apa lagi.

 

Ramadhan di Kampung; Dulu dan Kini

Saat ini, seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, anak-anak sangat mudah mendapatkan hiburan, bisa melalui televisi, handphone, internet, playstation, dan lain-lain. Sehingga, ketika ngabuburit, misalnya, kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu dengan menikmati kecanggihan alat-alat tersebut. Khusus mereka yang mempunyai sepeda motor, sebagian di antaranya ada yang ngabuburit dengan bermain kebut-kebutan di tempat-tempat tertentu, di lapangan atau di jalanan.

Kalau dulu, waktu ngabuburit, saya paling-paling hanya bermain di sawah, ngaji di masjid, atau jalan-jalan dengan naik sepeda sehingga suasana Ramadhan benar-benar terasa, nuansa religiusnya sangat kental.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”