Hizbut Tahrir: Mission Impossible!

DI antara masalah paling menonjol yang dihadapi gerakan-gerakan atau partai-partai politik Islam secara umum adalah kejumudan pemikiran atau ketidakmampuan mengikuti perkembangan-perkembangan pemikiran dan politik.

Gerakan-gerakan dan partai-partai Islam mungkin juga ditimpa masalah kejumudan pemikiran dan politik ketika tidak mampu mengikuti perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan regional dan internasional sehingga terus terisolasi di dalam pemikiran-pemikiran dan analisis-analisis kuno yang menjadi dasar bagi setiap keputusan dan tindakan mereka.

Karena tidak mungkin mengulas secara panjang lebar di dalam satu tulisan pendek mengenai pengalaman seluruh gerakan dan partai Islam terkait masalah kejumudan dalam pemikiran politik mereka, di dalam tulisan ini hanya akan dibahas soal mengenai masalah tersebut terkait Hizbut Tahrir (HT).

Seperti diketahui Hizbut Tahrir didirikan di kota Quds pada tahun 1953 oleh Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani dengan membawa isu “I’âdah al-Khilâfah al-Islâmîyyah wa Iqâmah al-Dawlah al-Islâmîyyah wa Haml al-Da’wah al-Islâmîyyah” (mengembalikan khilafah Islamiyah, menegakkah negara Islam, dan mengemban tanggung jawab dakwah Islamiyah).

Beredar informasi yang menyebutkan bahwa salah satu sebab yang mendorong Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani mendirikan Hizbut Tahrir adalah kegagalan gerakan Ikhwanul Muslimin dalam mewujudkan misinya mengembalikan kejayaan khilafah Islamiyah setelah 25 tahun pendiriannya (Ikhwanul Muslimin didirikan tahun 1928). Padahal, kalau berkaca pada pengalaman Rasulullah Saw., negara Islam harus sudah berhasil ditegakkan setelah 23 tahun masa perintisan (13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah). Gerakan Islam apapun yang gagal selama masa itu, maka literatur dan cara kerjanya harus ditinjau ulang.

Syaikh Taqiyyudin al-Nabhani menolak demokrasi dan menganggapnya sebagai sistem kafir! Ia mengajak umat Muslim untuk melakukan perubahan radikal (revolusi), menolak perubahan bertahap (evolusi), dan mengajak untuk menegakkan negara khilafah di seluruh dunia Islam. Ia bahkan menyiapkan konstitusi khusus berdasarkan pada pembagian dan mekanisme yang ia adopsi secara historis, seperti pembagian wilayah kekuasaan dari pimpinan tertinggi hingga gubernur, dan berdasarkan pada teori khusus perubahan yang memerlukan penyebaran kesadaran politik hingga dukungan dari tentara atau para pemilik kekuasaan. Khusus untuk konflik di dunia ia punya sebuah teori tersendiri, yaitu bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini sesungguhnya adalah refleksi dari konflik bersejarah antara Amerika dan Inggris seperti yang terjadi pada tahun lima puluhan dan enam puluhan pada abad lalu.

Hizbut Tahrir sukses menjaring puluhan ribu pendukung dari seluruh dunia Islam. Berdasar sejumlah informasi, para pengikutnya di beberapa negara mencapai jutaan orang. Tetapi, dengan jumlah pengikut yang berjumlah jutaan itu Hizbut Tahrir gagal menegakkan khilafah Islamiyah dalam rentang waktu 63 tahun sejak pendiriannya. Dan hingga saat ini Hizbut Tahrir masih percaya bahwa seluruh konflik di dunia ini adalah antara Inggris dan Amerika. Makanya di dalam berbagai analisis politik yang disebarkannya selalu mengaitkan seluruh kejadian dengan konflik tersebut. Belakangan, dalam sejumlah pernyataannya tentang perkembangan terakhir di Turki, ada dugaan bahwa agen-agen Inggris terlibat dalam kudeta terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan karena dianggap sebagai sekutu Amerika.

Masalahnya, meskipun sudah berlalu 63 tahun sejak pendiriannya dan gagal dalam mewujudkan misi utama yaitu penegakan khilafah Islamiyah, meskipun ISIS dan gerakan Taliban telah mendahuluinya mendirikan apa yang disebutnya dengan khilafah Islamiyah, di samping pengalaman Republik Islam Iran dan pengalaman Islam di Sudan, Hizbut Tahrir tetap pada misi intelektual dan politiknya dengan mengandalkan alat yang sama dalam analisis politik dan bagaimana menangani situasi-situasi yang terjadi di dunia Islam tanpa memberikan ide pembaruan dalam pemikiran politik Islam yang bisa mengikuti perubahan dan perkembangan di dunia internasional.

Kita tidak tahu sampai kapan Hizbut Tahrir melanjutkan pekerjaannya. Apakah Hizbut Tahrir akan menganggap dirinya telah berhasil mewujudkan tujuan-tujuannya? Apakah rencana Hzibut Tahrir berikutnya untuk meraih kekuasaan di dunia Islam dan bagaimana menghadapi tantangan-tantangan di dunia selain mempublikasikan siaran pers dan menerbitkan ulang surat kabar mingguan Al-Rayah atau menyelenggarakan konferensi-konferensi politik, sementara Hizbut Tahrir belum berhasil atau gagal merealisasikan apapun untuk kejayaan umat Muslim atau melindungi mereka atau mewujudkan mimpi-mimpi sosial-politik mereka.

Apakah Hizbut Tahrir akan melanjutkan kejumudan pemikiran dan politiknya? Kenapa Hizbut Tahrir tidak meninjau ulang seluruh literatur dan posisi politiknya di dunia Islam? Kapan Hizbut Tahrir akan mengumumkan kegagalannya dalam mewujudkan misinya mendirikan dan menegakkan khilafah Islamiyah, serta menyerahkan bendera kepada partai dan gerakan Islam lainnya?[]

 

Tauhid Sejati

SAHABAT Jabir ra. pernah bercerita, dalam perjalanan pulang dari pertempuran Zati al-Riqa, ia bersama rombongan beristirahat di sebuah lembah yang dipenuhi pohon-pohon berduri. Jabir ra. melihat Nabi Muhammad Saw. seorang diri menuruni lembah meninggalkan rombongan. Nabi Saw. menggantungkan pedangnya di salah satu tangkai pohon dan beristirahat di bawah pohon tersebut. Tak begitu lama Nabi Saw. terbangun dan terkaget-kaget begitu mendapati seseorang lelaki badui berdiri di sampingnya sambil menghunus pedang ke lehernya.

“Siapa yang akan menolongmu,” kata lelaki itu.

“Allah!” Jawab Nabi Saw. tenang.

Seketika itu juga sekujur tubuh lelaki itu bergetar hebat, pedang di tangannya jatuh, badannya ambruk bersimpuh di hadapan Nabi Saw. (sumber: kitab “Riyadh al-Shalihin”. Ada beberapa versi tentang cerita ini).

Itulah tauhid sejati. Tauhid yang sanggup merobohkan gunung dan memecah gelombang lautan. Tauhid sejati akan tetap menyatu dalam tubuh meskipun harus ditukar dengan nyawa.

Seseorang yang baru memasuki dunia tarekat, ia akan berusaha menghadirkan Tuhan di dalam hatinya secara istikamah merapal kalimat tauhid (lâ ilâha illâ Allâh) setiap waktu, dengan suara keras (bi al-jahr) dan khusyuk.

Tingkat selanjutnya, setelah ia berhasil menyingkirkan sekaligus mengosongkan segala “ilâh” selain “Allah”, ia memasuki ruang kesunyian (al-dzikr al-sirrîy) dan hanya mesnyisahkan “Allah” (hatinya terus berzikir menyebut Allah). Hingga tak tersisa kecuali “Hu” pada “Allah” menjadi dhamîr (kata ganti) “Hu” (Dia Allah). Di puncak tangga spiritual, kata-kata itu (kalimat tauhid) hilang tak tersisa, lenyap dan menghilang bersama pemilik kata-kata itu.

Tauhid sejati diajarkan dan diamalkan oleh penganut tarekat. Tauhid dalam pandangan tarekat tak butuh simbol, penanda, atau perlambangan (apalagi bendera). Tauhid untuk dihadirkan di dalam hati dan diwujudkan dalam perbuatan. Tauhid sejati tak butuh kata-kata karena ia mengada dalam setiap “Ada”.

Harusnya orang/kelompok yang pertama kali bereaksi dan marah ketika kalimat tauhid “dilecehkan” adalah para pengamal tarekat bukan orang/atau kelompok anti tarekat. Dan, harusnya lagi, orang yang betul-betul membela dan menegakkan tauhid tidak akan takut menghadapi penjara dan berani mempertaruhkan nyawa. Jangan-jangan para pengamal tarekat sudah tahu (melalui bashirah/mata batin mereka) bahwa “pemilik tauhid” sejatinya sedang menelanjangi mereka yang selama ini mengaku membela tauhid padahal hatinya busuk digerogoti ulat kekuasaan. Na’ûdzubillâh min dzâlik!

Kalimat Haqq untuk Kebatilan

UNGKAPAN Kalimah Haqq Yurâd bihâ Bâthil” tidaklah asing di dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim. Tetapi, mungkin saja, mereka tidak tahu bahwa yang mengeluarkan ungkapan tersebut adalah Sayyidina Ali ibn Abi Thalib ra., dan mungkin juga mereka tidak tahu sebab dan dalam konteks apa Sayyidina Ali mengucapkannya yang kemudian memunculkan suatu hikmah dan pelajaran ketika sejumlah kalangan mencampuradukkan antara yang haqq dan yang bâthil.

Sayyidina Ali mengatakannya dalam kondisi yang sama dengan kondisi di Indonesia saat ini, yaitu ketika golongan Khawarij mengkafirkan siapapun yang berbeda pendapat dengan mereka termasuk Sayyidina Ali sendiri karena ia menerima arbitrasi dan menghentikan perang dengan tentara Muawiyah. Di hadapan Sayyidina Ali mereka meneriakkan ayat al-Qur`an Ini al-hukm illâ lillâh” (hukum/keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah),” [QS. Yusuf: 40], karena mereka melihat Sayyidina Ali memisahkan keputusan politik dari teks-teks agama.

Mereka menganggap Muawiyah dan bala tentaranya sebagai pemberontak yang harus diperangi berdasarkan teks al-Qur`an, tetapi Sayyidina Ali tak sepakat dengan itu dan menerima arbitrasi yang dilakukan Amru ibn al-Ash dan Abu Musa al-Asy’ari. Ini menunjukkan, menurut mereka, Sayyidina Ali tidak mengikuti hukum Allah yang termaktub di al-Qur`an, dan orang yang tidak mengikuti hukum Allah adalah kafir yang harus diperangi! Tetapi yang sangat mengherankan, sebagian besar orang yang memerangi Sayyidina Ali itu adalah para penghafal al-Qur`an.

Sekarang ini kita menyaksikan skenario serupa yang dilakukan oleh sejumlah orang dan kelompok dengan mengangkat bendera agama bertuliskan kalimat tauhid. Mereka semua muslim, sebagian dari mereka memanjangkan jenggot dan melebarkan jilbab, bahkan ada yang hafal al-Qur`an. Mereka ingin mendidik kita supaya kita datang kepada mereka dengan tunduk menerapkan syariat Islam sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. Parahnya, sebagian dari mereka mengkafirkan semua orang kecuali kelompok mereka. 

Sebenarnya, pemisahan antara agama dan negara sudah terjadi sejak awal wafatnya Rasulullah Saw. ketika para sahabat membiarkan jenazah beliau tanpa dikuburkan terlebih dahulu dan pergi ke Saqifah Bani Sa’idah untuk memilih pemimpin negara. Padahal agama jelas menegaskan bahwa memuliakan jenazah di antaranya adalah dengan segera menguburkannya, apalagi jenazah Rasulullah Saw. yang seharusnya lebih diutamakan untuk dimuliakan. Tetapi kepentingan politik dan kekuasaan mengatakan sebaliknya, bahwa yang lebih utama adalah memilih pemimpin negara karena Rasulullah Saw. wafat tanpa menentukan seorang sahabat untuk menggantikan posisi beliau. Pemimpin negara harus segara dipilih sebelum terjadi konflik yang mengancam keutuhan negara.

Ketika terjadi kudeta terhadap Sayyidina Utsman ibn Affan ra. karena tuduhan-tuduhan politis terhadapnya, kendati agama melarang menentang pemimpin, dan para sahabat yang lain membiarkannya menghadapi nasibnya sendirian hingga ia tewas terbunuh setelah ia menolak untuk turun dari tahta kekuasaan dengan ucapannya yang terkenal, “Demi Allah, aku tidak akan melepaskan baju yang dipakaikan Allah kepadaku!” Umat Muslim yang memisahkan urusan agama dari urusan politik saat itu sama sekali tidak mendengarkan ucapannya dan tetap memaksa menurunkannya bahkan membunuhnya karena alasan yang mereka pandang sebagai kesalahan politis. Peristiwa seperti ini terus berlanjut dengan adanya upaya pembunuhan terhadap Sayyidina Ali dan Muawiyah padahal agama melarang umat Muslim untuk saling membunuh. Tetapi itulah politik!

Tentu kita juga ingat bagaimana al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi menyerang dan membombardir Ka’bah dengan manjanik (alat pelontar batu) ketika Abdullah ibn al-Zubair ibn al-Awwam memanfaatkannya sebagai benteng pertahanan kala ia memproklamirkan diri sebagai khalifah bagi umat Muslim sehingga ia dianggap memberontak terhadap negara Umawiyah yang saat itu dipimpin oleh Abdul Malik ibn Marwan ibn al-Hakam. Sebagai penguasa negara Umawiyah, Abdul Malik ibn Marwan ibn al-Hakam menggunakan berbagai sarana politik untuk menaklukkan Abdullah ibn al-Zubair ibn al-Awwam yang menjadikan Ka’bah sebagai benteng.

Meskipun agama menjadikan Makkah sebagai tanah suci, jangankan berperang, bahkan berburu binatang pun dilarang, tetapi Abdullah ibn al-Zubair ibn al-Awwam tidak merasa enggan menggunakan Ka’bah sebagai benteng dengan anggapan bahwa bala tentara negara Umawiyah mencampuradukkan antara agama dan politik sehingga mereka akan menjaga kehormatan dan kesucian kota Makkah. Tetapi anggapannya salah, ternyata bala tentara negara Umawiyah memisahkan urusan agama dari urusan politik, karenanya mereka memperlakukan Makkah sebagai sebuah kota yang menjadi tempat berlindung pemberontak dan pengacau. Mereka lalu menyerang dan melemparinya dengan manjanik yang mengakibatkan sebagian dari bangunan Ka’bah runtuh dan rata dengan tanah. Mereka tidak memperlakukannya sebagai kota suci.

Di dalam buku-buku sejarah Islam—maksudnya buku-buku sejarah seperti “al-Bidâyah wa al-Nihâyah” karya Ibn Katsir, “al-Kâmil fi al-Târîkh” karya Ibn Atsir, “Târîkh al-Thabarîy” karya al-Thabari, dan yang lainnya, bukan buku-buku sejarah karangan para tokoh kelompok-kelompok Islamis yang disusun secara reduktif untuk tujuan-tujuan politik tertentu dengan menggambarkan seolah-olah sejarah Islam adalah sejarah malaikat dan ahli ibadah—kita akan menemukan banyak sekali contoh pemisahan agama dan politik di negara-negara khilafah, khususnya yang berkaitan dengan keberlangsungan suatu dinasti. Faktanya, pencampuran antara agama dan politik tidak terjadi kecuali dalam satu hal saja, yaitu sebagai jaminan kelanggengan seorang penguasa di atas kursi kekuasaannya. Di sinilah muncul tafsir-tafsir keagamaan untuk memberikan dimensi agama bagi legalitas seorang penguasa. Tetapi sesungguhnya, kaidah-kaidah permainan politiklah yang mengatur semua keputusan dan tindakan seorang penguasa di dalam negara khilafah yang tak ada kaitannya dengan agama.

Sejarah itu terulang kembali saat ini. Sejumlah orang dan kelompok mengangkat simbol-simbol agama untuk merebut kekuasaan dengan mengkafirkan setiap orang yang berbeda pandangan dan menganggapnya sebagai musuh agama. Saat kekuasaan sudah dalam genggaman, mereka akan memisahkan agama dari politik, mereka akan melakukan tindakan-tindakan pragmatis dengan mengabaikan teks-teks agama yang berlawanan dengan kepentingan-kepentingan politik dan partai mereka. Teks-teks agama tidak digunakan kecuali untuk mengkafirkan, memerangi, dan menghabisi orang-orang yang berseberangan dengan mereka.[]

 

Islam dan Cinta Tanah Air

DI dalam diri manusia Allah Swt. menciptakan banyak insting dasar yang sangat penting bagi kehidupannya dalam menjalankan perannya sebagai khalifah yang dibebani tanggungjawab memakmurkan bumi. Di antara insting tersebut adalah rasa cintanya kepada tanah airnya. Manusia, secara alamiah, mencintai tanah airnya; tanah kelahirannya, tanah kakek dan nenek moyangnya. Ia senang tinggal di tanah tempat ia diasuh, dididik, tumbuh, menghirup udaranya, meminum airnya, memakan hal-hal yang baik darinya, dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang hidup bersamanya di atasnya.

Karena sebab cinta itu, manusia berusaha membangun tanah airnya, memakmurkannya, membelanya, mengerahkan hal-hal berharga yang ia miliki demi kebebasannya, serta mencegah siapapun dari para musuh untuk menguasai dan mengeksploitasinya. Ali ibn Abi Thalib ra. memberikan isyarat, “Negeri-negeri itu dibangun dengan cinta tanah air.”[1]

Islam sebagai agama kemanusiaan memberikan perhatian dan mengakui hubungan dan rasa cinta manusia kepada tanah airnya. Di dalam Islam, cinta tanah air bukan sebatas luapan emosi, tetapi merupakan kesadaran akan tanggung jawab pemenuhan kewajiban-kewajiban atas negara. Kesadaran ini menuntut semua warga negara untuk berpijak di atas prinsip kesetaraan dalam hak dan kewajiban. Rasulullah Saw. di dalam Piagam Madinah memutuskan bahwa semua warga negara adalah satu tangan atas yang lain. Mereka bahu-membahu melawan ancaman dan permusuhan atas tanah mereka, dan bekerja sama satu dengan yang lain untuk mewujudkan kepentingan mereka, menjaga darah, hak, dan kehormatan mereka. Dengan begitu maka tanah air menjadi benteng pelindung bagi seluruh warganya. Kalau kita melihat sejarah peradaban sepanjang zaman, kita akan menemukan contoh-contoh nyata mengenai realisasi makna kesetaraan di antara semua warga di dalam suatu negara. Oleh karena itu, kesetaraan adalah ajaran Islam yang dengannya negara menjadi kuat, semua warga kompak, dan setiap individu terjaga kehormatannya.

Grand Mufti Mesir, Syaikh Ali Jum’ah mengatakan bahwa cinta tanah air adalah fitrah kemanusiaan yang diakui oleh Islam dan merupakan dasar untuk membangun masyarakat. Dengan fitrahnya manusia telah membentuk cinta kepada tanah airnya dan perasaan untuk senantiasa membelanya. Dan ketika Islam datang tidak lantas memutus kecenderungan itu tetapi mengakui dan menyerukannya, serta menjadikannya sebagai cara untuk melakukan amal kebajikan, perbuatan-perbuatan baik, dan memperkuat tali persaudaraan di antara putra-putri bangsa.[2]

Cinta tanah air tercermin dalam sejarah para nabi dan rasul, di mana mereka mencintai tanah airnya melebihi cinta mereka pada diri sendiri. Rasulullah Saw. sendiri telah memberikan contoh terbaik mengenai hal ini ketika beliau pergi dari Makkah untuk hijrah ke Madinah. Beliau berpaling kepadanya dan menyatakan perasaannya, “Kau adalah negeri terbaik yang sangat aku cintai. Kalau tidak karena kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu.” Kata-kata ini menunjukkan ketulusan cinta beliau kepada tanah air tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan.[3]

 

Kedudukan Tanah Air di dalam Islam

Di dalam kitab “al-Tahliyah wa al-Targhîb fî al-Tarbiyah wa al-Tahdzîb” Sayyid Muhammad mendefinisikan tanah air (al-wathan) sebagai tanah di mana kita lahir dan tumbuh berkembang di sana, memanfaatkan tumbuhan dan binatang ternaknya, mencecap air dan udaranya, tinggal di atas tanah dan di bawah kolong langitnya, serta menikmati berbagai hasil bumi dan lautnya sepanjang masa. Semua fasilitas tersebut membuat manusia menyerahkan jiwa, raga dan harta bendanya untuk mengabdi pada tanah airnya dengan mendatangkan kebaikan, mengembangkan perekonomian dan memajukannya.[4].

Tanah air terdiri dari tanah, rakyat, tatanan, sistem, nilai-nilai, dan kehendak kemanusiaan. Semua ini menjelma di dalam tanah yang membentuk tanah air. Dari tanah itulah kita diciptakan, kita hidup di atasnya dan dikubur di dalamnya sampai kita dibangkitkan kembali oleh Allah di Hari Kebangkitan. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu [menjadi] manusia yang berkembang biak,” [QS. al-Rum: 20]. Seorang patriotis sejati mengetahui nilai tanah airnya dan memposisikan kesetiaannya terhadapnya di atas kesetiaan terhadap yang lain. Baginya, membela tanah air bukan untuk gagah-gagahan, tetapi merupakan tugas besar yang harus dijalankannya. Membela tanah air dengan melawan para pengacau juga merupakan tugas suci yang tidak boleh ditinggalkan siapapun tanpa alasan yang kuat.

Sejumlah kalangan yang bersembunyi di balik topeng agama menyuarakan sebuah pemikiran yang menafikan pentingnya kewarganegaraan dan kesetiaan kepada sebuah negara yang dibatasi oleh pagar-pagar pembatas yang memisahkannya dari negara-negara tetangga. Mereka mengklaim bahwa pagar-pagar pembatas itu tak lebih dari sekedar pembatas khayalan yang dibuat oleh musuh-musuh umat pada periode-periode sejarah tertentu. Karena itu mereka tidak memandang kesucian pembatas-pembatas itu, sehingga mereka tidak keberatan jika pembatas-pembatas itu digeser atau dipindahkan untuk suatu kepentingan tertentu dengan alasan bahwa bumi seluruhnya adalah milik Allah yang dianugerahkan untuk seluruh ciptaan-Nya.

Pandangan tersebut tentu saja bertentangan dengan prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di bumi, juga pengembangannya, pembangunannya, dan kohesi sosial di dalamnya. Selain itu, pandangan tersebut menghancurkan sistem keluarga, suku, kebangsaan, identitas, dan kekuasaan. Semua ini adalah unsur-unsur terpenting bagi kedaulatan sebuah negara dan persatuan rakyatnya, kekuatan kohesi sosialnya, serta pemanfaatan sumber daya dan kekayaannya. Sebagaimana, pandangan tersebut, justru sejalan dengan orientasi kolonialisme. Seperti yang kita tahu, kolonialisme bertujuan menguasai seluruh atau sebagian tanah dari suatu bangsa dengan memonopoli kekayaan dan memperluas wilayah kekuasaan yang dilakukan dengan kekuatan bersenjata.

Dengan demikian, klaim bahwa agama tidak melihat tanah air sebagai sesuatu yang suci, dan bahwa tidak ada hubungan antara kesetiaan kepada tanah air dan keyakinan agama, itu adalah kesalahan besar yang mendustakan ajaran agama-agama samawi khususnya Islam. Allah Swt., ketika menetapkan kerangka hubungan dalam interaksi kita dengan umat lain yang berbeda agama mengaitkan antara agama dan negeri yang merepresentasikan tanah air, sebagaimana dalam firman-Nya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” [QS. al-Mumtahanah: 8]. Artinya, agama tidak melarang kita untuk berbuat baik kepada non-Muslim dan berlaku adil kepada mereka selama mereka tidak memerangi kita karena agama kita atau mengusir kita dari tanah air kita.

Ketika memuji kaum Muhajirin Allah Swt. menyebutkan bahwa di antara perbuatan luhur mereka yang pantas untuk dihormati, di samping karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali masuk Islam, adalah bahwa mereka terpaksa keluar dari tanah air mereka (Makkah) meski dengan berat hati demi mempertahankan agama. Dia berfirman, “[Juga] bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka [karena] mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang benar,” [QS. al-Hasyr: 8]. Ayat ini menunjukkan bahwa berkorban dengan meninggalkan tanah air lebih berat daripada berkorban dengan meninggalkan harta. Hal ini juga yang mengangkat derajat kaum Anshar, di mana mereka berkenan menerima Islam masuk ke tanah air mereka dan menjamin keamanan Rasulullah Saw. beserta orang-orang yang bersama beliau. Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum [kedatangan] mereka (kaum Muhajirin), mereka (kaum Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Dan mereka (kaum Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin); dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan,” [QS. al-Hasyr: 9].

Dari sana kita tahu bahwa cinta kepada tanah air mempunyai keutamaan tersendiri di dalam Islam. Kaum Muhajirin sangat mencintai tanah air mereka, Makkah. Dan bersamaan dengan kuatnya cinta mereka kepada Makkah, mereka diusir dan terpaksa meninggalkannya demi agama yang mereka yakini sehingga mereka pantas menerima anugerah besar dari Allah Swt. Sementara kaum Anshar secara tulus menerima saudara-saudara mereka yaitu kaum Muhajirin di negeri yang sangat mereka cintai, Madinah. Sangat sulit bagi seseorang untuk menerima dan melibatkan orang lain dalam tanah, tempat tinggal, dan hartanya. Lebih sulit lagi mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Makanya Allah Swt. berfirman tentang mereka, “Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung,” [QS. al-Hasyr: 9].

Terdapat perbedaan besar antara kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka dan berhijrah ke Madinah, juga penerimaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin di tanah air mereka, dan antara pandangan kelompok-kelompok yang bersembunyi di balik topeng agama. Apa yang dilakukan oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar sama sekali tidak menafikan pentingnya tanah air, justru itu membuktikan kuatnya rasa cinta mereka terhadapnya. Kalau tidak karena ada wahyu dari Allah kepada Rasul-Nya untuk suatu hikmah yang nantinya diketahui oleh umat Muslim, tentu kaum Muhajirin tidak akan sudi keluar dari tanah air mereka. Tetapi karena saat itu agama menuntut, secara terpaksa mereka keluar meninggalkan Makkah dengan hati yang terluka.

Allah Swt. telah menjelaskan bagaimana kuatnya ikatan jiwa yang normal dengan tanah airnya dan pedihnya perasaan saat diusir darinya, karena pengusiran darinya adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu,’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka,” [QS. al-Nisa`: 66]. Pengusiran dari kampung halaman termasuk hukuman yang ditetapkan dalam syariat bagi para perusak di muka bumi dan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Melakukan kerusakan di muka bumi dan memerangi Allah dan Rasul-Nya adalah kejahatan paling buruk dan hukumannya pun sangat berat. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri [tempat kediamannya]. Yang demikian itu [sebagai] suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,” [QS. al-Ma`idah: 33]. Pengusiran dari kampung halaman juga termasuk salah satu hukuman ta`zîr tambahan bagi pelaku zina setelah dihukum hadd dengan dicambuk, yaitu pengasingan selama beberapa tahun. Semua ini menunjukkan beratnya jiwa manusia jika diusir dan dijauhkan dari tanah airnya. Orang yang waras tentu tidak akan sudi meninggalkan tanah kelahirannya kecuali kalau ia diusir atau dalam keadaan terpaksa.

Al-Qur`an memperingatkan kita mengenai perilaku orang Yahudi yang menghancurkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan mereka terpaksa meninggalkannya akibat ulah mereka sendiri ketika mereka melanggar perjanjian dengan umat Muslim. Allah Swt. berfirman, “Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah [kejadian itu] untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan,” [QS. al-Hasyr: 2]. Tanah air bukan untuk dihancurkan dan ditinggalkan, tetapi untuk dibangun dan dimakmurkan. Senjata diangkat bukan untuk menghancurkannya, mencabik-cabik tatanan kehidupan di dalamnya, dan memecah-belah persatuan rakyatnya, tetapi untuk membelanya dan menjaga wilayah perbatasannya.

Di dalam Islam berperang demi membela tanah air untuk mengusir para penjajah dipandang sebagai jihad di jalan Allah (al-jihâd fî sabîlillâh). “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” [QS. al-Baqarah: 246]. Ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang termaktub di dalam al-Qur`an secara jelas menunjukkan kekeliruan pandangan yang menafikan pentingnya kedudukan tanah air, serta memperkuat gagasan cinta tanah air dan memuliakan nilai pembelaan terhadapnya. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan keluarganya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan agamanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan darahnya, maka ia syahid. Barangsiapa yang gugur karena mempertahankan tanahnya, maka ia syahid.”[5]

Orang yang ingin mengetahui nilai dari tanah air, hendaknya ia membayangkan dirinya melepaskan kewarganegaraannya sehingga ia hidup tanpa identitas, tidak ada tentara yang melindunginya, tidak ada negara yang menjamin hak-haknya, bahkan ia tidak punya hak untuk tinggal di anah manapun, tidak punya hak mengakui anak-anak dan cucu-cucunya, maka seketika itu juga ia akan tahu nilai tanah air atau negara yang tertera pada kartu identitasnya. Ia akan merasa terhormat jika negaranya dihormati oleh negara-negara lain di dunia, dan ia akan merasa hina jika negaranya hina di hadapan negara-negara lain di dunia.

 

Cinta Tanah Air

Islam telah memberi kita modal luar biasa dalam mencintai tanah air. Di dalam Islam tanah air mempunyai nilai dan kedudukan yang sangat luhur. Kesetiaan kepada tanah air bukan sebatas slogan atau sekedar kata-kata yang mati di bibir, tetapi merupakan cinta, keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan. Lebih dari itu, Islam telah menjadikan kecintaan dan kesetiaan kepada tanah air sebagian dari akidah, serta menjadikan pembelaan terhadapnya sebagai tugas suci.

Orang yang mencintai tanah airnya tentu tidak akan mengkhianatinya atau menjualnya dengan harga berapapun, sebagaimana ia tidak akan memusuhinya, mengeksploitasi dan merusak potensi-potensinya. Ia melindungi dan menjaga tanah airnya meskipun harus berhadapan dengan orang-orang zhalim. Karena kezhaliman hanya bisa dilakukan oleh manusia sepertinya, bukan oleh tanah air yang menjadi tempat tinggalnya. Maka dari itu siapapun tidak berhak melakukan pengrusakan dan penghancuran di negerinya, meskipun mungkin ia membawa slogan perbaikan. Sebab tidak mungkin melakukan perbaikan dengan pengrusakan.

Makmurnya suatu negeri menunjukkan kemakmuran rakyatnya, kesejahteraan suatu negeri mencerminkan kesejahteraan masyarakatnya. Dan tanah air, dalam pengertiannya yang luas, adalah tanah yang Allah Swt. perintahkan kepada kita untuk memakmurkannya. “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu memakmurnya,” [QS. Hud: 61]. “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi [sumber] penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur,” [QS. al-A’raf: 10]. Manusia diciptakan di atas muka bumi ini untuk memakmurkannya, bukan untuk merusaknya.

Sejarah menyajikan contoh amat bagus tentang kedudukan tanah air di dalam Islam, yaitu ketika Rasulullah Saw. melakukan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Beliau menangis sembari melihat ke arah Makkah dengan tatapan yang sedih. Beliau berkata, “Demi Allah, Kau adalah negeri Allah yang sangat dicintai Allah dan sangat aku cintai. Kalau tidak karena pendudukmu mengusirku darimu, aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu.” Rasulullah Saw. terhindar dari makar penduduk Makkah yang menginginkan kematiannya. Beliau pergi ke Madinah untuk menyampaikan risalah, namun hatinya selalu tertuju ke Makkah di mana beliau dilahirkan dan tumbuh hingga dewasa.

Manusia yang tak punya tanah air sebagai tempat bersandar tidak akan merasakan kebebasan dan kehormatan serta tidak hidup normal. Kebebasan dan kehormatan seseorang hanya dapat dicapai dengan tinggal di tanah airnya sendiri, membelanya, memegang teguh kewarganegaraannya, menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, dan menuntut hak-hak yang ia pandang belum terpenuhi bagi tanah airnya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali di tanah air di mana manusia lahir dan tinggal di dalamnya bersama keluarganya. Jika ia tidak punya tanah air tempat ia bersandar dan membawa benderanya, maka ia akan menjadi parasit bagi orang lain sehingga ia tidak merasakan kehormatan dan kemuliaan.

Orang yang mendaku cinta dan setia kepada tanah airnya harus memberinya kebaikan dan berusaha untuk terus mempertahankan keutuhannya dan bekerja sama dengan semua warganya tanpa melihat apa agama mereka selama mereka tidak membuat kerusakan. Allah Swt. berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” [QS. al-Mumtahanah: 8].

Kesetiaan artinya cinta dan dukungan untuk sesuatu, atau seseorang, atau prinsip atau sejenisnya. Orang yang bernisbat kepada sesuatu tentu ia mencintai dan mendukungnya. Orang yang bernisbat kepada Islam, misalnya, ia harus memuliakan, mencintai, dan mendukungnya. Ia juga harus melawan musuh-musuhnya dan meninggalkan mereka dengan senantiasa memohon perlindungan dari Allah Swt. Dengan demikian, maka sempurnalah imannya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah, maka sempurnalah imannya.”

Mencintai tanah air adalah masalah fitrah, dan Islam adalah agama fitrah. Tetapi, bagaimanapun, mencintai tanah air tetap memerlukan kontrol, yaitu tidak boleh bertentangan dengan ibadah dan dakwah mengajak manusia kepada kebenaran. Kecintaan kepada tanah air juga tidak boleh menjadi alasan untuk melanggar hak-hak orang lain yang terlibat dalam menjaga kehormatan negara. Allah Swt. memerintahkan kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan tetangga dan memenuhi hak setiap orang. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh,” [QS. al-Nisa`: 36].

Di dalam al-Qur`an banyak sekali ayat yang memperlihatkan bagaimana posisi tanah air. Di antaranya adalah al-Qur`an menyebutkan bahwa diusirnya seseorang dari tanah kelahirannya bisa menjadi alasan baginya untuk melakukan jihad dan pengorbanan demi tanah kelahirannya itu. Allah Swt. berfirman, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” [QS. al-Baqarah: 246].

Allah Swt. juga berfirman, “Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, [yaitu] orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah,” [QS. al-Hajj: 39 – 40]. Umat Muslim dibolehkan untuk melakukan perlawanan jika mereka menerima ketidakadilan, dan di antara bentuk ketidakadilan itu adalah mereka diusir dari tanah kelahiran mereka tanpa alasan yang benar.

Selain itu, al-Qur`an juga menyandingkan cinta tanah air dan cinta kepada diri sendiri. “Dan [ingatlah], ketika Kami mengambil janji dari kamu [yaitu]: kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar [akan memenuhinya] sedang kamu mempersaksikannya,” [QS. al-Baqarah: 84].

Dengan demikian, kemuliaan cinta tanah air merupakan sesuatu yang wajar menurut kaca mata agama. Keberadaannya berhubungan dengan tujuan keberadaan manusia, yaitu memakmurkan dan membangun bumi. Sebagaimana diisyaratkan di dalam firman Allah Swt., Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu memakmurnya,” [QS. Hud: 61].

Ketika kita berbicara mengenai cinta tanah air, itu tidak terbatas pada negeri umat Muslim saja, tetapi semua negeri yang ditempati oleh manusia, bahkan meskipun negeri tersebut bukan negara Islam, atau ketika mayoritas penduduk di negeri tersebut adalah non-Muslim. Tanah air adalah tanah air, siapapun yang tinggal di atasnya dengan latar belakang agama apapun punya hak dan kewajiban yang sama.

Indonesia adalah negara yang beragam suku dan budayanya. Salah satu hal yang berpotensi besar merusak kecintaan kita kepada tanah air adalah fanatisme suku dan kelompok; hanya suku atau kelompoknya sendiri saja yang paling benar, atau tidak melihat kebaikan yang datang dari suku atau kelompok lain. Fanatisme adalah perbuatan iblis, dan iblis adalah imamnya orang-orang yang fanatik. Di dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidak termasuk fanatisme seseorang yang mencintai kaumnya, tetapi yang termasuk fanatisme adalah ia melihat keburukan kaumnya lebih baik daripada kebaikan kaum yang lain.”

Rasulullah Saw. mendorong untuk menghilangkan fanatisme, baik kepada jenis, suku, atau warna kulit. “Wahai manusia, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang asing atau orang berkulit putih atas orang berkulit hitam kecuali dengan ketakwaan.” Ketika seorang Yahudi bernama Syas ibn Qais berencana mengobarkan api perselisihan antara suku Aus dengan suku Khazraj, dan rencananya hampir berhasil, di mana masing-masing dari suku Aus dan Khazraj mulai menyerukan fanatisme kesukuannya, maka datanglah Rasulullah Saw. menjadi penengah dengan bersabda, “Tinggalkan fanatisme, karena baunya sangat busuk. Apakah kalian akan kembali ke masa Jahiliyah sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?

Kita harus selalu menjaga persatuan karena itulah kekuatan kita. Kita lihat negara-negara Eropa menyadari betul nilai dari persatuan itu, makanya mereka kemudian membentuk Uni Eropa. Sementara kita, bangsa Indonesia, belum menyadari itu sepenuhnya, sebab hinggga saat ini Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika masih hanya sebatas tulisan di atas kertas. Makanya kecintaan kita kepada negeri ini harus menjadi motivasi untuk mempertahankan identitas kebangsaan. Artinya, kita mencintai tanah air bukan karena kita menganggapnya sebagai tempat kita lahir dan tempat tinggal saja, tetapi sebagai sarana untuk menjaga identitas kebangsaan sebagai satu kesatuan.

Dalam hal ini ormas-ormas keagamaan sebagai rujukan utama masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyebarkan semangat persatuan. Ketidakterlibatan ormas-ormas ini justru akan membuka peluang bagi kehadiran kekuatan lain untuk memecah-belah bangsa dengan menggunakan berbagai media dan propaganda, bahkan bisa memicu munculnya kelompok-kelompok ekstrimis yang mengklaim mampu menghilangkan kerusakan dan memperbaiki moral masyarakat.

 

Mengekspresikan Cinta Tanah Air

Bagaimana kita mengekspresikan cinta tanah air? Cinta tanah air artinya adalah kita menjaganya dari orang-orang yang menebar ancaman terhadapnya; kita melawan para pemberontak, mengerahkan segala upaya agar tanah air kita tetap bersatu, merdeka, dan bermartabat, serta mencegah kerusakan yang dibuat oleh para pengacau. Orang-orang yang mencintai tanah airnya adalah penjaga sekaligus pembelanya, bukan orang-orang yang tidak peduli atau acuh tak acuh, atau orang-orang yang membantu musuh untuk kepentingan pribadi mereka. Islam memuliakan orang-orang yang mengorbankan darahnya demi membela tanah air dan menganggap mereka sebagai syuhada. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang gugur karena membela tanahnya, maka ia mati syahid.” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla murka kepada seorang laki-laki yang rumahnya dikacaukan tetapi ia tidak melawan.”

Ekspresi cinta tanah air bukan sebatas menjaga dan membelanya, meskipun itu sangat penting, tetapi ada bentuk ekspresi lain yaitu menghormati undang-undang dan peraturan-peraturannya, menjaga aset-aset dan fasilitas-fasilitas umumnya, peduli lingkungan dan alamnya, mengembangkan seluruh potensinya, memakmurkan buminya, setiap warga bekerja untuk kemajuan tanah airnya dalam menyongsong masa depan yang lebih baik, dan tidak pelit menggunakan segenap kemampuannya demi tanah airnya.

Menjaga tanah air bukan hanya menjaga wilayah perbatasan, tetapi juga ekonominya, politiknya, persatuannya, ketahanannya, dan kebersamaan masyarakatnya, sehingga menjadi negeri yang adil, penuh cinta, kebaikan dan solidaritas, sebuah negeri yang di dalamnya manusia merasakan kemanusiaan, kehormatan dan kemuliaannya, sebuah negeri yang jauh dari kerakusan, kerusakan dan kezhaliman.

Pada era di mana tanah air kita berada di ambang perpecahan karena infiltrasi kelompok-kelompok transnasional yang membawa paham-paham keagamaan radikal, kita sangat perlu untuk memperkuat kecintaan kita kepada tanah air kita dan meningkatkan edukasi mengenainya. Cinta tanah air harus kita anggap sebagai bagian dari keimanan, atau bahkan sebagian bagian paling mendasar dari keimanan.

Dengan begitu kita akan bisa mempertahankan kemerdekaan tanah air kita, menghadapi tipu daya orang-orang yang hendak memecah belah persatuan, kebebasan dan kekuatannya, atau orang-orang yang hendak melemahkan kehadirannya di bidang-bidang peradaban dan kemajuan dengan tujuan menjerumuskannya ke dalam dunia kebodohan, kemunduran dan keterbelakangan.

Kita harus bisa mewujudkan ambisi dan cita-cita yang dikehendaki Allah Swt. untuk kita, yaitu agar kita menjadi bangsa terbaik yang dihadirkan untuk manusia (khayra ummah ukhrijat li al-nâs), sebuah bangsa yang tidak cukup hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga menerangi bangsa lain di dunia.

 

Teladan Rasulullah Saw.

Cinta tanah air adalah naluri di dalam diri manusia, berdetak di hatinya, dan mengalir di dalam darahnya. Meskipun tanah air itu kering dan tandus seperti padang pasir, atau di dalamnya terjadi banyak musibah dan penderitaan, jika seseorang meninggalkannya untuk suatu kebutuhan, kerinduan terhadap tanah airnya yang diiringi irama nostalgia akan senantiasa menyandera hatinya. Tanah air adalah tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. Tanah air mempunyai kenangan tak terlupakan, di dalamnya ada anak, orang tua, kakek-nenek, sahabat, teman, dan orang-orang yang dicintai.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali mengatakan, “Manusia itu mencintai tanah kelahirannya dan semua yang hidup di atasnya, walaupun tanah kelahirannya itu telah menjadi tanah tandus yang menakutkan. Cinta tanah air itu adalah insting yang memiliki ikatan erat dengan jiwa. Cinta ini membuat manusia ingin menetap di tanah airnya, rindu kepadanya jika jauh, membelanya jika diserang, marah jika tanah airnya dihancurkan.”[6]

Bukanlah sesuatu yang aneh ketika cinta tanah air bersemayam dan bertahta di hati Rasulullah Saw. Beliau pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah airnya di awal-awal beliau melakukan dakwah dan pada saat beliau baru mulai melakukan hijrah. Pada masa awal turunnya wahyu di gua Hira, Rasulullah Saw. pergi bersama istrinya Sayyidah Khadijah ra. menemui Waraqah ibn Naufal. Beliau menceritakan apa yang beliau alami terkait turunnya wahyu melalu Jibril as. Waraqah mencoba menjelaskan hal itu dan berkata, “Itu adalah Namus (Jibril) yang telah diutus kepada Musa. Seandainya aku masih [muda dan masih hidup] ketika kau diusir oleh kaummu!” Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah betul mereka nanti akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Betul! Setiap orang yang menyampaikan hal yang serupa dengan apa yang kau sampaikan ini pasti akan dimusuhi. Seandainya aku mendapati hari itu, niscaya aku akan membantumu dengan sekuat-kuatnya,” [HR. al-Bukhari].[7]

Di dalam kitab “Syarh Shahîh al-Bukhârîy” al-Safiri memberikan komentar atas hadits tersebut, “Pertanyaan Rasulullah Saw. itu adalah satu bentuk istifhâm inkârîy, yaitu seolah-olah beliau tidak membayangkan akan dikeluarkan (diusir) tanpa sebab dari tanah yang sangat beliau cintai yaitu Tanah Haram yang di dalamnya berdiri Baitullah, negeri moyangnya yaitu Ismail as. [Atas dasar kecintaan beliau kepada Makkah], sangat sulit menemukan suatu alasan baik pada waktu yang telah lewat maupun pada waktu mendatang yang bisa membuat beliau diusir [dari Makkah]. Justru yang tampak dari beliau adalah kebaikan-kebaikan yang nyata dan keluhuran-keluhuran yang membuat beliau seharusnya dihormati dan dimuliakan dengan derajat yang paling tinggi.”

Pada malam beliau melakukan hijrah ke Madinah, sesampainya di pinggiran kota Makkah beliau berhenti sejenak sembari menghadap bumi Makkah, mengingat kembali semua kenangan yang pernah beliau alami yang membuat hati beliau seperti tersayat. Kemudian beliau mengucapkan kata-kata yang menggambarkan rasa cinta beliau yang sangat mendalam dan rasa rindu yang sangat besar kepada tanah yang di atasnya hidup keluaga dan sahabat-sahabatnya, tanah tempat beliau lahir dan menjadi pemuda, tanah yang di atasnya berdiri Baitullah, “Demi Allah, sungguh aku tahu kau adalah tanah Allah yang terbaik dan sangat dicintai-Nya. Kalau tidak karena pendudukmu mengusirku darimu, aku tidak akan pernah pergi [darimu].” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berkata, “Kau adalah negeri terbaik yang sangat aku cintai! Kalau tidak karena kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu,” [HR. al-Tirmidzi]. Ucapan beliau ini jelas menunjukkan kecintaan beliau terhadap negeri dan tanah air beliau, Makkah, sebagaimana juga menunjukkan kesedihan beliau yang amat sangat mendalam karena terpaksa harus meninggalkannya.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Rasulullah Saw. sampai di Juhfah dalam perjalanannya menuju Madinah, kerinduan kepada Makkah kembali mendera jiwanya, beliau sangat sedih dan berduka. Maka Allah Swt. kemudian menurunkan sebuah ayat untuk menenangkannya, “Sesungguhnya Zat yang mewajibkan atasmu [melaksanakan hukum-hukum] al-Qur`an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah),” [QS. al-Qashash: 85].

Ali ibn Abi Thalib ra. berkata, “Di antara kemuliaan seseorang adalah ratapannya atas masa yang telah dilaluinya, kerinduannya kepada tanah airnya, kesetiaannya menjaga hubungan baik dengan saudara-saudaranya.”

Al-Dzahabi berkata, “Beliau (Rasulullah Saw.) mencintai Aisyah, mencintai ayah Aisyah (Abu Bakr al-Shiddiq), mencintai Usamah, mencintai kedua cucunya (Hasan dan Husein), menyukai kembang gula (manisan) dan madu, mencintai bukit Uhud, dan mencintai tanah kelahirannya (Makkah).”

Rasulullah Saw. sangat mencintai tanah airnya, sangat berat meninggalkannya. Beliau terpaksa meninggalkannya karena diusir setelah menerima banyak siksaan dari kaum musyrik Makkah, dan beliau bersabar dan senantiasa berharap mereka mau menerima ajakan beliau untuk memeluk Islam. Tetapi mereka menolak, tetap membangkang, dan terus menyakiti beliau dan para sahabat beliau. Maka tidak ada yang bisa beliau lakukan kecuali hijrah meninggalkan Makkah demi menjaga agama, dakwah, dan sahabat-sahabatnya. Hijrah beliau ke Madinah bukan keinginan pribadi beliau sendiri, melainkan karena perintah Allah Swt. sebagai bagian dari strategi dakwah Islam. Di Madinah beliau membentuk komunitas Muslim yang kuat dan bersama dengan suku dan agama lain beliau merumuskan perjanjian bersama yang disebut dengan Piagam Madinah dan berisi kontrak sosial yang disepakati oleh masyarakat Madinah yang plural, menjunjung toleransi lintas agama dan etnis serta menghargai hak asasi manusia. Di Madinah, beliau dan umat Muslim diakui, dihargai, dan tidak didiskriminasi.

Meski demikian, beliau tidak terlena dengan perlakuan masyarakat Madinah yang menerima beliau dengan sangat baik. Sepanjang waktu beliau terus memikirkan tanah airnya, Makkah. Dengan berbagai upaya dan strategi akhirnya tercapailah penaklukan kota Makkah, atau Fath Makkah. Beliau kembali ke Makkah untuk membebaskan kaumnya dari kebodohan dan amoralitas. Sebagai bentuk cinta beliau terhadap penduduk tanah airnya, walaupun kemenangan ada dalam genggaman namun pada saat itu beliau mengumumkan hari kasih sayang (yawm al-marhamah) dan bukan hari pembalasan dendam (yawm al-malhamah). Beliau melarang umat Muslim melakukan kekerasan dan balas dendam pada para penduduk Makkah, dan memerintahkan agar memaafkan penindasan yang pernah mereka lalukan sebelumnya.

Terdapat sebuah jargon yang menegaskan doktrin Islam mengenai cinta tanah air, “Cinta tanah air merupakan bagian dari iman.” Meskipun ini bukan hadits, hanya kata mutiara yang berasal dari para bijak bestari, namun prinsip tersebut tercermin dari sikap Rasulullah Saw. Mengingat sunnah adalah ucapan, perbuatan, dan kebiasaan Rasulullah Saw., maka jargon tersebut dapat dikategorikan sebagai hadits hâlîy/fi’lîy (perbuatan), sebab tindak tanduk Rasulullah Saw. mencerminkan kecintaan beliau terhadap tanah air. Karena itulah setiap warga negara harus rela berkorban demi mempertahankan tanah air, sebagaimanan dianjurkan oleh agama. Di dalam al-Qur`an Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu [jumlahnya] karena takut mati, maka Allah berfirman, ‘Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka,” [QS. al-Baqarah: 243 – 244].[8]

Ayat ini menyiratkan perintah untuk mempertahankan tanah air, walaupun nyawa menjadi taruhannya. Siapapun orang yang diusir secara paksa dari tanah airnya berhak melakukan perlawanan. Misalnya, melawan penjajah yang merampas tanah air dan memperbudak penduduknya. Menurut Syaikh Musthafa al-Ghulayaini, nasionalisme (al-wathanîyyah) adalah salah satu naluri manusia yang universal. Orang yang sungguh-sungguh mencintai tanah airnya akan membuktikannya dengan sikap dan perbuatan yang positif bagi tanah air dan penduduknya, misalnya dengan memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang menjadi kunci menuju kemerdekaan yang sejati yaitu kemerdekaan ekonomi dan politik.[9]

 

Teladan Sahabat

Sebagaimana hijrah dari Makkah menuju Madinah merupakan perkara yang teramat sulit dan berat bagi Rasulullah Saw., maka demikian juga bagi para sahabat. Meskipun mereka banyak mengalami penderitaan karena siksaan bertubi-tubi yang dilakukan kaum Quraisy, tetapi mereka tetap mencintai Makkah, karena Makkah adalah tanah air tempat mereka dilahirkan, dididik dan dibesarkan di dalamnya.

 

Negeriku, meski ia zhalim terhadapku tetaplah mulia

Keluargaku, meski mereka kikir kepadaku tetaplah dermawan

 

Sangat berat bagi para sahabat untuk meninggalkan Makkah. Namun Rasulullah Saw. memerintahkan mereka untuk melakukannya dan memberitahu mereka lokasi serta tujuan hijrah mereka. Diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa Aisyah ra. berkata, “Rasulullah Saw. bersabda kepada sahabat-sahabatnya, ‘Sungguh telah diperlihatkan kepadaku negeri tempat hijrah kalian yang memiliki banyak pohon kurma di antara dua bukit yang berbatu hitam.’ Maka berhijrahlah orang yang mau berhijrah menuju Madinah. Begitu pula orang-orang berhijrah ke Habasyah ikut berhijrah ke Madinah. Abu Bakr al-Shiddiq ra. juga bersiap hendak berangkat menuju Madinah. Tetapi Rasulullah Saw. berkata kepadanya, ‘Diamlah di tempatmu, sesungguhnya aku berharap semoga aku mendapat izin [untuk berhijrah].’ Abu Bakr berkata, ‘Demi ayah dan ibuku, benarkah Tuan mengharapkan itu?’ Beliau berkata, ‘Ya, benar.’ Maka Abu Bakr berharap di dalam dirinya bahwa ia benar-benar dapat mendampingi Rasulullah Saw.,” [HR. al-Bukhari].

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ketika Rasulullah Saw. sampai di Madinah, saat itu Madinah adalah bumi Allah yang paling wabah bencananya dan lembah-lembahnya mengalirkan air keruh penuh kuman, yang menyebabkan para sahabat terkena penyakit. Ketika itu Abu Bakr al-Shiddiq ra., Amir ibn Fuhairah ra., dan Bilal ra. berada dalam satu ruangan. Ketiganya menderita sakit demam. Aisyah ra. meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk menjenguk dan melihat keadaan mereka. Beliau memberikan izin, maka Aisyah pun pergi menjenguk mereka. Aisyah ra. melihat demam yang mendera mereka sangat parah sehingga membuat mereka kehilangan kesadaran dan mengeluarkan kata-kata yang tak dipahami maknanya.

Aisyah ra. kemudian pergi menemui Rasulullah Saw. untuk memberitahukan keadaan mereka. Ketika mendengar kabar mengenai keadaan mereka Rasulullah Saw. pun berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau lebihkan cinta kami kepada Madinah. Pindahkanlah wabah penyakitnya ke Juhfah,” [HR. al-Bukhari].

Bilal ra. merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena harus meninggalkan tanah kelahirannya, Makkah. Meskipun di Makkah ia mengalami siksaan dan selalu disakiti oleh kaum Quraisy, tetapi sejujurnya ia tidak ingin pergi meninggalkannya. Saking marah dan kecewanya sampai-sampai ia berdoa, “Ya Allah, laknatlah Syaibah ibn Rabi’ah, Utbah ibn Rabi’ah, dan Umayyah ibn Khalaf. Sebagaimana mereka telah mengusir kami dari negeri kami (Makkah) ke tanah yang penuh dengan penyakit ini (Yatsrib/Madinah).”

Rasulullah Saw. tahu betul bagaimana cinta para sahabat kepada tanah air mereka, Makkah. Makanya beliau selalu memohon kepada Allah agar dirinya dan juga para sahabatnya dianugerahkan cinta kepada Madinah melebihi cinta mereka kepada Makkah. Bagi beliau Madinah bukan sekedar tempat singgah, tetapi merupakan sebuah negeri yang penduduknya menyambut Islam dengan suka cita dan menerima seruan beliau, melindungi serta mendukung setiap langkah beliau beserta para sahabatnya. Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah atau bahkan melebihinya,” [HR. al-Bukhari]. Diriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, jadikanlah keberkahan Madinah dua kali lipat keberkahan Makkah,” [HR. al-Bukhari]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu, dan nabi-Mu. Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan nabi-Mu. Sesungguhnya ia berdoa kepada-Mu untuk Makkah, maka aku berdoa kepada-Mu untuk Madinah seperti apa yang ia doakan untuk Makkah,” [HR. Muslim].

__________________________

[1]. Sayyid Ali al-Fadhlullah, Hubb al-Wathan min al-Îmân, Taheran, 1439 H, hal. 1
[2]. http://www.elbalad.news/3521334 (Diunduh pada 18 Oktober 2018)
[3]. Tim Penulis Rumah KitaB, Kumpulan Bahan Ajar Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren, Jakarta: Rumah KitaB, Cet. 2, 2017, hal. 25
[4]. Sayyid Muhammad, al-Tahliyah wa al-Targhîb fi al-Tarbiyah wa al-Tahdzîb, Kediri: al-Ma’had al-Islami Lirboyo Kediri, tt., hal. 37
[5]. Syaikh Abbas Syauman, al-Wathan fî al-Islâm, Kairo, 2018, hal. 3
[6]. http://islamweb.net/ramadan/index.php?page=article&lang=A&id=195526 (Diunduh pada 18 Oktober 20180
[7]. Ibid.
[8]. Tim Penulis Rumah KitaB, Kumpulan Bahan Ajar Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren, Jakarta: Rumah KitaB, Cet. 2, 2017, hal. 31
[9]. Ibid.

SUMPAH PEMUDA

Dalam buku-buku sejarah mainstream, Sumpah Pemuda 1928 adalah penanda munculnya kesadaran nasional (nasionalisme) di kalangan pribumi. Kesadaran bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa dan berbahasa satu, bangsa dan bahasa Indonesia.

Tak hanya di kalangan pemuda sekolahan, kesadaran nasional juga muncul di kalangan santri dan kiai. Sebagai ekspresi kecintaan terhadap tanah air, Kiai Wahab Chasbullah memebuat lagu “Syubbanul Wathan” (Ya lal wathan) yang menjadi lagu wajib santri waktu itu.

Di pesantren nasionalisme dan islam bisa menyatu dan bersatu. Identitas kebangsaan menjadi bagian dari identitas keislaman. “Hubbul wathan minal iman,” kata Hadratu Syaikh Kiai Hasyim Asyari.

Kiai Wahab juga pernah ditanya Sukarno, bagaimana hukumnya nasionalisme? “Nasionalisme ditambah bismillah itulah islam,” tegas Kiai Wahab.

Ketika membicarakan nasionalisme, para kiai tidak sedang membayangkan atau mengimajinasikan Indonesia. Bagi mereka, menjadi Indonesia adalah pengalaman sosio-historis yang membentuk kesadaran nasional mereka

Juga tidak perlu lagi membenturkan nasionalisme dengan islam (pengalaman dan pengamalan keberagamaan) mereka. Itulah yang membedakan politik kebangsaan NU dengan Kelompok islamis seperti HTI. HTI menolak nasionalisme karena sejak awal sudah menarik jarak dengan pola keberagamaan dan keberislaman muslim Indonesia. Mereka datang dari Timur Tengah membawa identitas keislaman untuk menyatukan islam di bawah cita-cita Khilafah.

HTI lupa —- atau bahkan tdk mengerti—-mayoritas muslim indonesia tidak menarik jarak, membuat batas pemisah, atau membeda-bedakan antara keindonesiaan dan keislaman. HTI membayangkan masyarakat muslim Indonesia seperti Timur Tengah. Mereka memaksa konsep politik Timur Tengah untuk Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Padahal, Indonesia tak butuh Khilafah karena sudah memiliki Pancasila. ”Lha, bukankah Pancasila bukan dari Islam?” Kata seorang teman HTI. “Jika ingin mengetahui keislaman dalam Pancasila, belajarlah pada ulama Indonesia,” kataku. [Jamaluddin Mohammad]

Pendidikan Wajib, Menikah itu Mubah

Sebagian orang berpikiran bahwa menikahkan anak itu lebih penting daripada menyekolahkan mereka. Memang, ada faktor-faktor sosial dan ekonomi yang melatari hal ini, misalnya kemiskinan. Tetapi asumsi bahwa pernikahan anak bisa menjadi pilihan ketika dilanda kemiskinan, dan karena itu lebih baik daripada menuntaskan usia sekolah, juga sesungguhnya salah.

Islam, dalam berbagai teksnya, baik al-Qur’an maupuan Hadis, menyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib. Yang paling kentara adalah pernyataan Nabi Saw yang diriwayatkan Imam Ibn Majah.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda: “Bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (Ibn Majah, no. hadis: 229).

Sementara, sebagaimana disebutkan dalam berbagai kitab fiqh, hukum dasar menikah adalah mubah karena ia adalah urusan syahwat, keluarga, dan sosial. Menikah menjadi sunnah jika diniatkan meneladani Nabi Saw dan komitmen untuk mendatangkan kebaikan pada diri dan keluarga. Ia bisa menjadi wajib jika jadi satu-satunya jalan untuk menghindarkan seseorang dari yang haram, tetapi tanpa melakukan haram yang lain dalam pernikahan.Tetapi, menikah juga dalam pernyataan fiqh bisa menjadi haram jika benar-benar mendatangkan hal-hal yang diharamkan, seperti kekerasan, kemudlaratan, dan kezaliman.

Jikapun pernikahan anak harus dilakukan karena sesuatu dan lain hal, maka ia harus dipastikan tidak mencederai hak-hak anak untuk memperoleh pendidikan. Lagi-lagi, karena pada prinsipnya pendidikan itu wajib sementara pernikahan anak itu mubah belaka.

Jika kita yakin dengan ajaran Islam bahwa pendidikan anak wajib, maka seharusnya seluruh komponen masyarakat, baik orang tua, keluarga, masyarakat, maupun negara, harus mengupayakan seoptimal mungkin agar anak-anak memperoleh pendidikan yang layak di usia mereka. Dan karena pernikahan bisa memalingkan mereka, terutama perempuan, dari pendidikan, maka kita semua seharusnya berusaha melakukan segala cara agar pernikahan tidak terjadi, agar tidak menjadi bumerang bagi pendidikan mereka.

Secara sosial, anak perempuan lebih rentan terhadap pernikahan. Karena itu, harus ada upaya ekstra dan kerja keras semua pihak agar anak perempuan memperoleh kesempatan pendidikan yang sama dengan laki-laki. Bahkan bisa jadi harus ada porsi dan kempatan lebih, karena perempuan akan menjadi ibu yang merawat anak dan membesarkan mereka. Jika perempuan pintar, kuat, dan tangguh, maka keluarga juga akan demikian. Seterusnya, masyarakat dan negara juga akan tangguh, kuat, dan sejahtera (baldatun thoyyibatun war rabbun ghafur).

Dus, karena pendidikan anak adalah wajib, ia harus menjadi prioritas utama.

oleh Faqih Abdul Kodir

 

Sumber: https://mubaadalah.com/2017/06/pendidikan-wajib-menikah-mubah/

Perempuan dan Tulang Rusuk dalam Perspektif Mubadalah untuk Kebahagiaan Pasutri

Oleh Faqih Abdul Kodir

Dalam al-Qur’an, manusia itu diciptakan dari unsur air (QS. 25: 54) dan tanah yang kemudian menyatu dalam sperma dan indung telur (QS. 23: 12-14). Esensi penciptaan manusia adalah satu dan sama (QS. 4: 1). Tidak ada satupun ayat yang menyatakan bahwa perempuan, atau Siti Hawa as, diciptakan dari laki-laki atau Nabi Adam as. Tidak ada. Tetapi pandangan masyarakat sudah kadung meyakini demikian, bukan karena atau dari al-Qur’an. Tetapi, bisa jadi, mungkin karena pemahaman yang kurang cermat terhadap dua teks hadits berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

Dari Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Saling bernasihatlah kalian semua (untuk kebaikan) perempuan. Karena sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah atasnya. Jika kamu luruskan, akan patah. Dan jika kamu biarkan, maka ia akan tetap bengkok. Maka (sekali lagi), saling bernasihatlah di antara kalian (untuk kebaikan) perempuan”. (Sahih Bukhari, no. 3366).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ»

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Istri itu (terkadang) seperti tulang rusuk (yang bengkok dan keras). Jika kamu luruskan, kamu bisa mematahkannya. Jika kamu (biarkan, dan tetap) menikmatinya, maka kamu menikmati seseorang yang ada kebengkokan (kekurangan) dalam dirinya”. (Sahih Bukhari, no. hadits:  5239).

 

Di atas adalah masih terjemahan literal. Dalam terjemahan itu, kedua teks ini tidak bicara Hawa as tercipta dari Adam as, tidak juga perempuan dari laki-laki. Tetapi “perempuan diciptakan dari tulang rusuk” di teks pertama. Sementara di teks kedua, “perempuan seperti tulang rusuk”. Tentu saja “diciptakan dari” harus diartikan “seperti”, karena secara faktual tidak ada perempuan yang tercipta dari tulang rusuk dan ayat-ayat al-Qur’an juga (seperti disinggung di atas) menyebutkan penciptaan dari air, tanah, sprema, dan indung telur. Bukan dari tulang rusuk. Dalam metodologi tafsir, suatu makna yang berlawanan dengan teks-teks sumber, fakta realitas, atau akal pikiran, harus ditarik menjadi makna kiasan.

Karena itu, pernyataan “ tecipta dari tulang rusuk” di teks pertama harus dipahami dengan teks kedua “seperti tulang rusuk”. Artinya, hal ini harus dipandang sebagai kiasan (majaz) mengenai relasi suami istri. Makna kiasan ini menjadi sangat korelatif karena di awal maupun di akhir teks hadits pertama, ada penekanan norma untuk berbuat baik kepada perempuan.

Makna kiasan “seperti tulang rusuk” adalah kiasan tentang “seseorang yang kaku dan keras kepala”, yang jika “dipaksakan akan patah, tetapi jika dibiarkan akan tetap keras dan kaku seperti tulang”. Jadi, bukan soal penciptaan yang faktual perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Melainkan kiasan metaforis tentang karakter perempuan/istri dan relasinya dengan laki-laki/suami dalam kehidupan rumah tangga, seringkali kaku, tidak sabar, dan mudah marah.

Makna kiasan ini juga, dengan qira’ah mubadalah, bisa tentang laki-laki/suami yang karakternya juga bisa kaku dan keras kepala ketika berelasi dengan sang istri. Sehingga, sang istri juga harus tenang, hati-hati, dan tidak terburu-buru merusak, apalagi meminta cerai.

Dalam perspektif mubadalah, persoalan karakter yang buruk bisa terjadi dari pihak perempuan dan bisa jadi dari pihak laki-laki. Ketika hal ini terjadi, maka pihak lain diharapkan untuk tenang dan mencari solusi, bukan malah larut dalam percekcokan. Jika istri yang berperilaku buruk, suami yang dituntut untuk bersabar. Dan sebaliknya, jika suami yang buruk, sang istri juga dituntut untuk bersabar dan tenang. Ini semua agar biduk rumah tangga tidak cepat oleng dan pecah. Baik suami maupun istri, dalam perspektif mubadalah, dituntut untuk menjaga bersama-sama ikatan pernikahan.

Jadi, jika dengan perspektif mubadalah, teks hadits pertama di atas, seharusnya diartikan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah makna literal (yang kiasan tentang perempuan saja) dan makna kedua yang mubadalah (tentang pasangan istri dan suami atau perempuan dan laki-laki):

Dari Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Saling bernasihatlah kalian semua (untuk kebaikan) perempuan. Karena sesungguhnya perempuan itu seperti tulang rusuk bagian atas yang bengkok (yang kaku dan keras). (Berhati-hatilah dalam memperlakukan istrimu yang kaku dan keras itu), karen jika kamu luruskan (secara paksa), akan patah. Tetapi jika kamu biarkan saja (tanpa perbaikan apapun), maka ia akan tetap bengkok (keras dan kaku). Maka (sekali lagi), saling bernasihatlah di antara kalian (untuk kebaikan) perempuan”. (Makna Pertama).

Dari Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Saling bernasihatlah kalian semua (wahai suami dan istri) untuk kebaikan. Karena sesungguhnya pasanganmu itu bisa jadi seperti tulang rusuk bagian atas yang bengkok (yang kaku dan keras). (Berhati-hatilah dalam memperlakukan pasanganmu yang kaku dan keras itu), karen jika kamu luruskan (secara paksa), akan patah. Tetapi jika kamu biarkan saja (tanpa perbaikan apapun), maka ia akan tetap bengkok (keras dan kaku). Maka (sekali lagi), saling bernasihatlah di antara kalian untuk kebaikan bersama”. (Makna Kedua).

Demikian, semoga bisa membantu untuk mewujudkan cara pandang yang positif antara laki-laki dan perempuan, terutama suami dan istri, sehingga tidak saling merendahkan. Sebaliknya, saling menghormati satu sama lain, bekerja sama untuk mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[]

Sumber: https://mubaadalah.com/2018/07/perempuan-dan-tulang-rusuk/

AGAMA adalah NASEHAT

Oleh Jamaluddin Mohammad

Saya kemarin berdiskusi dengan Enambelas Syarif soal hadis “al-Din al-Nasihah” (Agama adalah nasehat). Alumni Pondok Pesantren al-Fadlu Kaliwungu ini langsung menyodorkan kitab syarh al-Arbain al-Nawawi, sebuah kumpulan hadis-hadis pilihan. Muhyiddin Syarafuddin al-Nawawi (W 676 H) mengumpulkan 40 hadis sahih sekaligus memberikan komentar (syarh) atas hadis-hadis tersebut.

Selain ngobrol-ngobrol soal ini kami juga mendiskusikan pernyataan kontroversial salah seorang “ustadz millenial’ tentang berat badan wanita salihah yang menurutnya tidak lebih dari 55 kilogram. Menurut ustadz yang digemari kalangan millenial muslim urban ini, ukuran tersebut tidak mengada-ngada (artinya dia tidak sedang “melucu” seperti kebiasaan pidato ustadz-ustadz di kampung) karena mengacu pada berat badan Siti Aisyah ketika ditandu oleh beberapa sahabat.

Jika Asiyah sebagai istri Nabi dijadikan parameter dan tolok ukur, kata Syarif, mengapa istri-istri Nabi yang lain diabaikan? Bukankan Saudah binti Zam’ah berperawakan tinggi besar (gemuk)? Berarti beliau tidak salihah dong? “Ustdz ini masih perlu banyak mutala’ah kitab,” ujar Syarif. Pada kesempatan lain, isnya Allah, saya akan menulis soal ini (tapi, penting gak sih? Hehehe). Kali ini saya akan meneruskan uraian hadis “Agama adalah Nasehat” sesuai yang kami diskusikan.

“Agama adalah nasihat,” kata Nabi Muhammad SAW. Beliau mengulang-ulang sampai tiga kali

Para sahabat bertanya, “nasehat kepada siapa?”
“Nasehat kepada Allah, RasulNya, kitabNya, juga kepada para pemimpin dan umat islam”

Secara bahasa, nasehat (na-sa-ha) artinya “bersih” atau “murni”, seperti pada kalimat “nasahtu al-‘asal” (saya membersihkan/memurnikan madu). Nasehat juga bisa berarti ‘menjahit”, sebagaimana perkataan orang Arab “nasaha al-rajul tsaubahu” (seorang lelaki menjahit pakaiannya).

Dari segi bahasa tak jauh dari makna istilah. Menurut para ulama, nasehat artinya “memberikan kebaikan kepada orang lain” (badzlu al-khair li al-ghair). “Kebaikan” (al-khair) identik dengan “kebersihan” atau “kemurnian”. al-Khattabi memberikan definisi nasehat sebagai “memberikan bagian orang yang dinasehati” (hiyaza al-hadzzi li al-mansuh lah). Setelah diserap dalam bahasa indonesia, arti nasehat tidak jauh berbeda dengan bahas Arab, yaitu “ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik. Prilaku menasehati seperti menjahit pakaian: membuat pola, menyambung, merapatkan, membenahi, sekaligus merapikan prilaku orang.

Menurut para ulama, nasehat adalah buah (tsamrah) dari persaudaraan, baik persaudaraan berdasarkan rasa keagamaan (ukhuwwah diniyyah), persaudaraan tanah air dan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah) atau pun (ukhuwwah basyariyyah)

Sebagai sebuah nasehat, agama sudah barang tentu mengandung kebaikan dan kebenaran. Ini keyakinan semua penganut agama. Oleh karena itu, sudah sepatutnya ia disampaikan dengan cara baik-baik dan penuh dengan persaudaraan.

Hari ini—terutama di Medsos, khotbah-khotbah dan mimbar-mimbar Jumat—saya melihat agama tidak lagi sebagai nasehat yang mendamaikan dan menyejukkan, melainkan tak lebih dari ekspresi kemarahan, kebencian dan permusuhan. Na’udzubillah min dzalik.

Tampaknya, untuk mengembalikan wajah islam sebagai agama nasehat, salah satunya harapan itu ada pada “Islam Nusantara”

Salam,
Jamaluddin Mohammad

Poligami Bukan Tradisi Islam

Penulis KH. Husein Muhammad

Poligami bukan praktik yang dilahirkan Islam. Islam tidak menginisiasi perkawinan Poligami. Jauh sebelum Islam datang tradisi poligami telah menjadi salah satu bentuk praktik peradaban patriarkhis di seluruh dunia. Peradaban patriarkhi adalah peradaban yang memposisikan laki-laki sebagai aktor yang memiliki hak menentukan seluruh aspek kehidupan social kemasyarakatan, ekonomi dan Politik. Nasib hidup kaum perempuan dalam sistem ini didefinisikan oleh laki-laki dan untuk kepentingan mereka. Perempuan, dalam budaya patriarkhi dipadang sebagai layaknya benda (mataa’) dan untuk kesenangan (mut’ah) (kesenangan) laki-laki. Peradaban ini telah lama bercokol bukan hanya di wilayah Jazirah Arabia, tetapi juga dalam banyak peradaban kuno lainnya seperti di Mesopotamia, Mediterania dan di hampir seluruh bagian dunia lainnya. Berbagai pandangan keagamaan pada saat itu juga melegitimasi praktik-praktik tersebut. Dengan kata lain perkawinan poligami sejatinya bukan khas peradaban Arabia, tetapi juga peradaban bangsa-bangsa lain.

Poligami bukan praktik yang dilahirkan Islam. Islam tidak menginisiasi perkawinan Poligami.
Jauh sebelum Islam datang tradisi poligami telah menjadi
salah satu bentuk praktik peradaban patriarkhis di seluruh dunia.

Di dunia Arab, tempat kelahiran Islam, sebelum Nabi Muhammad Saw lahir, perempuan dipandang rendah dan entitas yang tak berarti. Perempuan dianggap sebagai benda atau barang dan karena itu bisa diwaris. Pemilik dan pewarisnya adalah laki-laki. Laki-laki berhak memiliki sejumlah isteri dan sejumlah budak perempuan. Al-Qur’an banyak menyebut kata ba’l, untuk suami. Kata ba’l berarti pemilik (almalik), tuan, penguasa (alsayyid), atau pemelihara (alrabb). Sedangkan perempuan (isteri) disebut mab’uul, yang berarti dimiliki (almamlukah), yang dikuasai (almasyudah) dan yang dipelihara (a marbubah). Al-ba’l juga merupakan nama dari salah satu tuhan bangsa Arab ketika itu.

Maka tidaklah mengherankan pula bahwa masyarakat Arabia waktu itu, menganggap kelahiran anak perempuan bukan merupakan peristiwa yang patut dirayakan. Sebagian malahan menganggap kelahiran anak perempuan itu justeru dapat membawa kesialan. Kitab Suci kaum muslimin dalam sejumlah ayatnya menginformasikan kepada kita realitas sosial ini.

Apabila mereka diberitahukan kabar tentang kelahiran anak perempuan, wajah mereka berubah menjadi merah-padam. Mereka berusaha menutupinya, untuk menyembunyikan kabar buruk ini. Mereka berpikir apakah membiarkannya dalam kehinaan atau menguburkan anak perempuan itu dalam keadaan hidup. Betapa buruknya keputusan mereka”.(Q.S. al-Nahl, 16: 58-59).

Umar bin Khattab pernah mengungkapkan kenyataan ini dengan mengatakan :

“Dalam dunia Arabia yang kelam (jahiliyah), kami tidak menganggap perempuan sebagai makhluk yang perlu diperhitungkan. Tetapi begitu perempuan disebutkan Tuhan, kami baru mengetahui bahwa mereka mempunyai hak-haknya secara otonom”.

Demikianlah, bahwa perbudakan manusia terutama perempuan, dan poligami menjadi praktik kebudayaan yang lumrah dalam masyarakat Arabia saat itu. Ketika Nabi Islam hadir di tengah-tengah mereka praktik-praktik ini tetap berjalan dan dipandang tidak bermasalah, sebagaimana tidak bermasalahnya tradisi “kasur, dapur dan sumur” bagi peran perempuan dalam masyarakat Jawa.

Nabi Saw tentu saja mengetahui bahwa poligami (apalagi perbudakan) yang dipraktikkan bangsa Arab ketika itu bukan merupakan tradisi yang baik, karena seringkali dan banyak merugikan kaum perempuan. Dan setiap perbuatan yang merendahkan dan membuat derita orang haruslah dihindarkan dan dihentikan. Akan tetapi bukanlah cara al-Qur’an untuk menghapuskan praktik ini dengan cara-cara yang radikal dan revolusioner. Al-Qur’an tidak pernah menggunakan kata-kata yang kasar dan radikal. Ini bukan karakter bahasa al Qur’an. Tetapi adalah pasti bahwa al-Qur’an dan Nabi Islam hadir untuk melakukan transformasi kultural. Transformasi yang dijalankan nabi, baik melalui kata-kata al-Qur’an maupun tindakan beliau sendiri, selalu bersifat gradual (bertahap), akomodatif dan dalam waktu yang sama sangat kreatif.

Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw selalu berusaha memperbaiki keadaan ini secara persuasif dan mendialogkannya secara intensif. Kedua sumber Islam itu selalu mengajak audiennya untuk memikirkan keuntungan dan kerugiannya, apabila ia dilakukan. Bukan hanya isu poligami, seluruh praktik kebudayaan yang tidak menghargai manusia selalu diupayakan Nabi Saw untuk diperbaiki dengan cara seperti itu, untuk pada gilirannya cita-cita Islam dapat diwujudkan. Idealitas Islam yang dimaksud adalah terbentuknya sebuah sistem kehidupan yang menghargai martabat manusia dan berkeadilan.

Ini diutarakan oleh banyak ayat. Tuhan sendiri telah menyatakan dengan tegas penghormatannya pada manusia: “Walaqad Karramna Bani Adam” (Kami sungguh-sungguh menghormat manusia, QS al-Isra, 17: 70). Di tempat lain al-Qur’an menyatakan bahwa Nabi Saw ditugaskan untuk membebaskan manusia dari dunia gelap menuju cahaya (yukhrijuhum min alzhulumat ila al-nur, QS. Al-Baqarah, 2: 257). Kezaliman adalah kegelapan dan keadilan adalah cahaya. Ini adalah kehendak logis dari sistem kepercayaan Islam yang paling fundamental: Tauhid.

Jika kita membaca teks-teks al Qur-an secara holistik dan tidak sepotong-sepotong, kita melihat bahwa perhatian kitab suci terhadap eksistensi perempuan secara umum dan isu poligami dalam arti khusus, muncul dalam rangka reformasi sosial dan hukum tersebut. Al Qur’an tidak ujug-ujug turun untuk mengafirmasi perlunya poligami. Pernyataan Islam atas praktik poligami, justeru dilakukan dalam rangka mengeliminasi praktik ini, selangkah demi selangkah.

Dua cara dilakukan al Qur’an untuk merespon praktik ini; mengurangi jumlahnya dan memberikan catatan-catatan penting secara kritis, transformatif dan mengarahkannya pada penegakan keadilan. Sebagaimana sudah diketahui, praktik poligami sebelum Islam dilakukan tanpa batas. Laki-laki dianggap wajar dan sah saja untuk mengambil perempuan sebagai isteri sebanyak yang dikehendakinya, berapapun, sebagaimana laki-laki juga dianggap wajar saja memperlakukan kaum perempuan sesuka hatinya.

Perbudakan juga dipandang lumrah. Logika sosial mainstream saat itu memandang poligami dengan jumlah perempuan yang dikehendaki, juga perbudakan sebagai sesuatu yang lumrah, sesuatu yang umum, dan bukan perilaku yang salah dari sisi kebudayaan. Bahkan untuk sebagian orang atau komunitas poligami dengan banyak perempuan merupakan kebanggaan tersendiri. Previlase, kehormatan dan kewibawaan seseorang atau suatu komunitas seringkali dilihat dari seberapa banyak dia mempunyai isteri, budak atau selir.

Kaum perempuan menerima kenyataan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berdaya melawan realitas tersebut meski sungguh-sungguh merugikan dirinya itu. Kaum perempuan dalam masyarakat tersebut selalu menjadi korban ketidakadilan tanpa mereka sendiri memahaminya. Boleh jadi, karena keadaan yang lumrah dan mentradisi ini, mereka sendiri alih-alih tidak menganggapnya sebagai hal yang merugikan atau menderiakan dirinya, malahan untuk sebagiannya dirasakan sebagai biasa-biasa saja. Boleh jadi mereka juga telah menganggapnya sebagai sudah menjadi kehendak Tuhan. Ketidakadilan itu menjadi tak terpikirkan lagi.

Al-Qur’an kemudian turun untuk melancarkan koreksi, kritik dan memprotes keadaan tersebut dengan mengambil strategi meminimalisasi jumlah yang tak terbatas itu sehingga dibatasi hanya empat orang saja di satu sisi, dan memperingatkan dan menuntut agar para suami untuk memperlakukan para isterinya dengan adil, pada sisi yang lain. Ini adalah strategi transformasi yang ditunjukkan al Qur’an.

Informasi mengenai realitas sosio-kultural dan tindakan mereduksi praktik poligami seperti itu terungkap dalam sejumlah hadits Nabi saw. Beberapa di antaranya hadits Ibnu Umar. Katanya: “Ghilan al Tsaqafi ketika masuk Islam mempunyai sepuluh orang isteri. Mereka semua masuk Islam bersamanya. Nabi Muhammad Saw kemudian menyarankan dia untuk hanya mengambil empat orang saja”.(H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirimidzi). Qais bin Harits juga mengalami hal yang sama. Dia mengatakan; “Aku masuk Islam dan aku mempunyai delapan orang isteri. Aku kemudian mendatangi dan menceritakannya kepada Nabi saw. Nabi Saw kemudian mengatakan: “Pilih empat di antara mereka”. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Strategi al-Qur’an untuk mereduksi atau meminimalisasi jumlah isteri tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa kitab suci ini tampaknya enggan untuk membolehkan poligami kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Sebabnya jelas bahwa poligami dalam banyak kondisi untuk tidak mengatakan dalam semua kondisi telah membuat para perempuan semakin tidak berdaya. Poligami juga melahirkan sejumlah persoalan krusial dan konflik di dalam rumah tangganya. Amatlah jarang perkawinan poligami berjalan dengan mulus dan damai.

Poligami juga secara faktual telah menimbulkan problem psikologis bagi isteri bahkan juga bagi pihak lain yang terkait, terutama anak-anak. Kecemburuan di antara para isteri selalu terjadi. Hubungan-hubungan di antara mereka seringkali tidak berjalan harmonis. Tegasnya poligami adalah isu problematik dalam kehidupan keluarga dengan banyak dampak negatif, apalagi jika telah ada anak-anak. Keadaan-keadaan tersebut jelas tidak sejalan dengan missi perkawinan yang digariskan al-Qur’an. Yakni menciptakan kehidupan rumah tangga yang sakinah (tenteram), mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang).

Sumber: https://mubaadalah.com/2016/07/poligami-bukan-tradisi-islam/