Merebut tafsir: Bias

Oleh Lies Marcoes

Seorang lelaki yang tampaknya sebagai petugas haji dengan terkekeh-kekeh memberi komentar atas peristiwa “lucu” di mana temannya, seorang petugas layanan haji “diserang” lelaki tua pengguna kursi roda yang tak mau dipisahkan dari istrinya. Menurutnya, lelaki tua itu “cemburu” karena sang istri yang juga menggunakan kursi roda didorong petugas haji lelaki muda. Dalam vlog itu memang tampak sang kakek gelisah, terus memegang tangan istrinya dan tak mau pisah, bahkan sang kakek menyerang kepada pendorong kursi roda istrinya yang tampaknya akan memisahkan mereka.

Bagi sebagian orang mungkin peristiwa itu lucu, dan itu pula yang tampaknya dilihat oleh sang lelaki pembuat vlog dengan ucapannya berkali -kali si kakek cemburu.

Saya kesal dengan “enyekan” si pembuat vlog itu. Tapi kemudian saya merasa kekesalan itu tak ada guna karena si lelaki pembuat vlog ini tampaknya tak faham bagaimana menangani lansia.

 

Hal yang dia tahu adalah yang biasa dalam pikiran dan perilakunya sendiri sebagai lelaki muda. Mungkin dalam benaknya ia berpikir ” Kalau kejadian itu terjadi pada saya, sikap itu merupakan bentuk kecemburuan saya”. Dari sisi itu enyekan dan tertawaan dia merupakan hal yang ia ketahui dan ia alami sebagai lelaki muda. Di sini terjadi proses bias. Ia telah mengandaikan apa yang terjadi pada lelaki tua itu persis yang ia mungkin akan lakukan jika ia dipisahkan dari istrinya.

Dalam bahasa psikologi dan gender sikap lelaki itu BIAS lelaki muda, mungkin anak kota. Ia telah menerjemahkan sebuah peristiwa berdasarkan tafsiran dan subyektivitasnya sendiri. Menjadi bias adalah wajar karena setiap orang memiliki subyektivitasnya. Namun persoalannya jika dengan bias itu seseorang merasa sudah benar dan ia punya kuasa untuk melakukan tindakan, maka ia telah melakukan tindakan diskriminatif yang berangkat dari bias dan prasangkanya.

 

Bagaimana caranya untuk keluar dari bias serupa itu? Dalam studi gender yang basisnya pemikiran kritis feminis, seseorang harus berpikir kritis dan memiliki empati. Jika si lelaki pembuat vlog itu mau keluar dari subyektivitasnya dan berpikir kritis dia akan sampai kepada referensi lain tak hanya terbatas kepada apa yang dialaminya sendiri yaitu rasa cemburu. Caranya dia harus keluar dari ego dan subyektivitasnya dan menyeberang kepada sang kakek. ” Bagaimana kalau aku seusia dia, bagaimana kalau itu terjadi kepada kakek nenekku ?”.

Seandainya dia tahu bagaimana lelaki ditumbuhkan dalam budaya Indonesia ia akan paham, lelaki itu umumnya menjadi tak berdaya karena mereka lebih banyak “multi-asking” daripada “multi-tasking”. Karenanya sangat wajar tingkat ketergantungannya kepada istrinya menjadi lebih tinggi di saat ia menjadi tua/lansia. Lelaki yang tak terbiasa mengurus dirinya sendiri dan secara budaya dan agama dibenarkan untuk selalu diladeni, ia pasti akan ketakutan kalau dipisahkan dari pendampingnya. Jadi, bukan urusan sepela seperti rasa cemburu, melainkan hilangnya rasa aman. Belum lagi dignity-nya sebaga lelaki, misalnya kalau ngompol bagaimana? Si kakek tua itu niscaya ketakutan berpisah dari istrinya. Dan rasa takut itu yang tidak terbayangkan oleh lelaki muda yang dalam segala hal masih bisa melakukannya sendiri.

 

Studi-studi tentang lansia dengan analisis gender menunjukkan hal itu. Dan makin miskin pasangan itu akan semakin besar ketergantungan kepada istrinya yang melayaninya tanpa pamrih.

Dari sana akan terbit sikap empati dan pembelaan.

Pengetahuan merupakan kunci yang akan mengantarkan pada pemikiran yang melahirkan empati.
Saya yakin, si pemuda pemberi layanan haji itu tak dibelaki pengetahuan bagaimana melayani lansia dari ragam budaya, latar belakang kebiasaan desa kota, sampai psikologi lansia. Karenanya cara dia bereaksi sekonyol itu.

Dalam kajian feminsime, membangun empati lahir dari kesadaran kritis atas penindasan manusia oleh manusia lain, alat ukurnya adalah mengritisi relasi timpang, stereotyping dan bias.

Saya tak harus menjadi orang Papua , Cina, waria, Kristen, Ahmadiyah, disable untuk berempati kepada mereka yang dalam struktur masyarakat kita mereka adalah kelompok yang “diminoritaskan” untuk mengakses keadilan. Tapi pengalaman sebagai perempuan dengan kesadaran kritis atas penindasan yang dialaminya dapat mengantarkan saya kepada lahirnya empati dan pembelaan kepada mereka atas hak-haknya sebgaia manusia atau minimal warga negara. Tiap diri niscaya memiliki bias, tapi pengetahuan dan kesadaran kritis dapat mengikisnya dan berubah menjadi empati bahkan pembelaan [].

Bogor 19 Juli 2019

Merebut Tafsir: Seratus ribu dapat apa?

Oleh Lies Marcoes

Jangan tersinggung ya kalau saya katakan harga-harga untuk makan sehari-hari memang mahal. Saya katakan begitu karena bicara harga selalu dimaknai sebagai kritik kepada pemerintah, dan mengkritik sering dianggap nyinyir atau bahkan terlarang (sederajat lebih rendah dari haram). Mungkin kita masuk ke dalam era masyarakat sendiri yang anti kritik.

Pasti kita ingat, ketika masa kampanye, sering kita lihat foto hasil “belanja Rp 100 ribu dapat apa”. Itu untuk menunjukkan bahwa kritik soal harga itu salah. Hal itu dibuktikan dengan “evidence based” Rp 100 ribu segala bisa kebeli untuk makan dua hari. Seorang teman yang mengoperasikan katering untuk hidup sehari-hari japri. Ia sakit hati kepada mereka yang punya pilihan 100ribu dapat apa karena buat dia sebagai penjual makanan kecil-kecilan harga-harga memang naik. Tinggal soal mau jujur atau tidak.

Sudah seminggu ini tukan sayur andalan ibu-ibu di kompleks kami berhenti jualan. Mang Ocid, orang Cirebon telah melayani kompleks kami jualan sayur dengan memakai mobil kecil bak terbuka selama lebih dari 10 tahun.

Ini telah memasuki musim kemarau. Ongkos petani sayuran pasti naik karena mereka harus menyediakan tenaga untuk menyiram, meski begitu hasilnya kurang memuaskan ibu-ibu. Dan karena uang belanja Ibu-ibu juga belum tentu ditambah atau bertambah, ibu-ibu dengan “kejam” tetap tak mau harga naik. Mereka meminta cabe plus rawit 5 atau 10 ribu. Mang Ocid, bingung. Mengingat sudah sangat akrab dan kenal kepada ibu-ibu ia tak berkutik. Sebagai warung serba ada, dia melengkapi warungnya dengan rupa-rupa lauk pauk. Ikan, udang, ayam, daging telur, antara lain. Jualan harus lengkap, tapi pembeli tak selalu belanja apa yang ia jual. Alhasil setiap hari ada yang tak terjual, padahal jenis jualannya bukan barang awet. Sementara dari segi harga ia praktis mensubsidi ibu-ibu di kompleks (yang umumnya bukan tergolong miskin). Ocid pun menyerah bangkrut.

Beberapa ibu yang punya akses kepada Mang Ocid memintanya tetap jualan. Tapi Ocid menyatakan ia tak sanggup lagi, karena ia bisa beli tak bisa jual, atau bisa jual tak bisa buat beli lagi. Dengan tepat dia mengatakan, harga-harga sayuran, bumbu dan jenis lainnya yang tak dikontrol negara (sebagaimana beras, minyak, tepung) bukan hanya naik tapi pindah harga. Dia angkat tangan.

Tentu ibu ibu bisa mengikuti anjuran pemerintah jika harga cabe atau sayuran naik sebaiknya menanam sendiri saja. Menurut saya anjuran itu keterlaluan sebab siapapun tahu sistem barter sudah berabad-abad bertukar dengan uang.

Saya anak petani, saya tahu betul derita mereka, menanam apa yang bisa ditanam sesuai musimnya. Jika kemarau buah-buahan seperti jeruk manis menjadi andalan menggantikan padi. Tak hanya itu mereka juga menanam palawija dan kacang kacangan terutama kacang hijau. Tapi kemarau membuat biaya di tingkat input memang mahal. Dibutuhkan tenaga untuk menyiram dengan tenaga manusia, atau menyewa pompa air. Namun ketika panen dan dijual, hasilnya hanya cukup untuk mengganti biaya upah dan kebutuhan di tingkat input.

Pada akhirnya kita harus berani jujur, harga-harga memang naik. Dan pemerintah (maaaaaf yaaa) seharusnya berani menjelaskan mengapa harga-harga naik. Ini berguna, minimal agar ibu-ibu tak terus bertahan dengan harga lama yang membuat seorang pedagang bermodal kecil seperti Mang Ocid mensubsidi mereka yang tetap ogah ganti harga. Seratus ribu memang sulit untuk dapat apa -apa untuk makan satu keluarga.

The Age of Polarization

Oleh KH. Ulil Abshar Abdalla

Di zaman manapun, jika perdebatan sudah masuk ke dalam urusan politik dan kekuasaan, sudah pasti akan panas sekali, cenderung memecah belah, destruktif.

Tetapi ada hal yang agak sedikit beda dengan fase sejarah di mana kita hidup sekarang ini. Kita sedang menyaksikan era yang berbeda: era polarisasi politik yang begitu mendalam dan menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

Negeri kita, misalnya, hingga sekarang ini masih terus dihantui oleh perdebatan yang belum selesai sebagai sisa dari Pilpres 2014 yang lalu. Dua kubu yang Pro Jokowi dan Pro Prabowo masih terus bertikai, baik di media sosial maupun di forum “kopdar”.

Sekarang kita menyaksikan pertikaian yang tak kalah “polarizing”-nya, yaitu antara yang Pro dan Anti Ahok. Dua kubu ini berseteru dengan “ghirah” dan emosi yang tak kalah mendalam dan intense dari ghirah keagamaan.

Perdebatan-perdebatan politik setelah era Jokowi ini punya ciri yang khas: begitu emosional, melibatkan perasaan yang sangat mendalam, agresif.

Pihak-pihak yang terlibat dalam perdebatan ini kadang tak segan-segan menggunakan cara-cara machiavellian untuk memenangkan pertarungan. Misalnya dengan menebarkan fitnah. Corak fitnah-nyapun kadang-kadang di luar nalar yang wajar.

Tetapi, jangan khawatir. Keadaan seperti ini bukanlah khas Indonesia. Di mana-mana, di sejumlah negara, polarisasi yang akut karena pro-kontra dalam menyikapi isu politik juga terjadi, bahkan dalam kadar yang jauh lebih akut.

Di Amerika Serikat, polarisasi yang akut karena pro-kontra terhadap sosok Donald Trump jauh lebih “mengerikan” dibanding pro-kontra tentang sosok Jokowi, Prabowo, atau Ahok.

Tak pernah ada dalam sejarah Amerika, polarisasi politik terjadi dengan kadar yang semendalam seperti polarisasi karena sosok Trump ini.

Di negeri-negeri lain, kita juga menyaksikan hal serupa. Perdebatan soal Brexit di Inggris, misalnya, bukanlah perdebatan biasa, perdebatan sekedar untuk menimbang maslahat (benefit) dan mafsadat (liability) sebuah “public policy”.

Perdebatan soal Brexit sudah nyaris mirip dengan perdebatan soal syariat Islam di kalangan komunitas Muslim. Tingkat emosi, “zeal,” dan “passion” yang terlibat di sana begitu intensif. Masing-masing pihak seolah siap menerkam pihak yang lain.

Kita sekarang ini hidup di abad polarisasi. Dan yang meresahkan saya: polarisasi ini, kian lama, makin akut. Ini, antara lain, karena difasilitasi oleh media sosial yang dengan cepat menghantarkan agresivitas dari satu titik ke titik lain.

Di abad polarisasi ini, media sosial bisa menjadi pemicu perasaan permusuhan yang mandalam di masyarakat. Kita berhadapan dengan ancaman “social disorder” karena teknologi digital.

Saya tak menafikan begitu banyak manfaat yang bisa dipetik dari teknologi digital ini. Tetapi dalam banyak kasus, manfaat ini kerap di-offset atau dibatalkan oleh mudaratnya.

Saya tak tertarik untuk menawarkan solusi atas dilema-dilema yang muncul di era medsos ini. Saya lebih tertarik untuk merenungkan situasi “peradaban” di mana kita sekarang hidup. Situasi yang ditandai dengan polarisasi yang mendalam, terutama di sektor politik dan budaya.

Inilah era di mana orang cepat marah karena hal-hal yang sepele, naik pitam karena soal-soal yang sederhana, dan mudah mempersoalkan remeh-temeh yang sama sekali tak prinsipil.

This is an era when so many people act in a foolish way!

Merebut Tafsir: Perubahan Agraria dan Fenomena Kawin Anak

Oleh Lies Marcoes

Selasa, 2 Juli 2019, Rumah KitaB dan LAKPESDAM menyelenggarakan bedah buku karya Mohammad Shohibuddin “Wakaf Agraria: Signifikansi Wakaf bagi Agenda Reformasi Agraria”. Saya bicara dari sisi kepentingan gerakan perempuan dalam upaya mencegah perkawinan anak sesuai dengan agenda Rumah KitaB saat ini.

Akhir April 2017, Kongres Ulama Perempuan (KUPI ) mengeluarkan tiga buah “fatwa” yang sangat terhubung dengan situasi perempuan Indonesia saat ini: Fatwa tentang Perkawinan Anak, Kekerasan Terhadap Perempuan dan Dampak Kerusakan Lingkungan. Sesungguhnya tiga fatwa itu saling terhubung, namun karena media punya angle sendiri dalam pemberitaan, isu pekawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan lebih menonjol ketimbang isu kerusakan lingkungan.

 

Setahun sebelumnya, April 2016, Rumah KitaB telah meluncurkan 14 buku hasil penelitian di sembilan daerah di Indonesia. Studi ini mencari tahu mengapa praktik perkawinan anak sebagai salah satu bentuk kekerasan kebanyakan terjadi di wilayah yang memiliki kerusakan ruang hidup sangat parah.

Ada empat temuan menonjol dari penelitian itu: Pertama, secara statistik, kejadian perkawinan anak tertinggi terjadi di wilayah yang mengalami krisis agraria paling parah: Kalimantan (kecuali Kalimantan Timur), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bengkulu, NTB, Jawa Timur. Rata-rata di atas 25% kecuali Jawa Timur 17%, dan tetap tertinggi di Jawa.

Praktik kawin anak ini terkait dengan perubahan ruang hidup dan sosio-ekologis lingkungan. Terjadinya pergeseran kepemilikan tanah atau alih fungsi tanah telah mempersempit lapangan pekerjaan di desa. Ketika suatu daerah mengalami perubahan ruang hidup yang berpengaruh kepada perubahan-perubahan relasi gender di dalam keluarga, dapat dipastikan di daerah itu terdapat kecenderungan tingginya kawin anak. Hilangnya tanah serta sumber ekonomi di desa mendorong orangtua baik lelaki mapun perempuan merantau baik sirkuler atau bermigrasi.

Kedua, hilangnya peran orang tua akibat migrasi telah pula berdampak pada perubahan pembagian kerja dan peran gender di tingkat keluarga. Banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama. Namun perubahan ini tak diikuti dengan perubahan peran lelaki di ruang domestik. Meskipun mereka menganggur, secara budaya, lelaki tak disiapkan menjadi orangtua pengganti. Akibatnya, anak perempuan mengambil alih peran ibu, dalam banyak kasus mereka terpaksa berhenti sekolah. Ini mendorong mereka cepat kawin karena tak sanggup menanggung beban rumah tangga orangtuanya.

Ketiga, perkawinan anak merupakan konsekuensi logis dari semakin kakunya nilai-nilai moral akibat hilangnya kuasa pemimpin lokal pada sumber-sumber ekonomi dan aset desa, serta melemahnya kekuasaan tradisional mereka termasuk akses mereka atas kelola tanah. Hilangnya akses mereka pada tanah telah memunculkan “involusi kebudayaan”. Budaya menjadi semakin rumit tak toleran dan kaku. Perangkat desa dan kaum adat ikut kehilangan kuasanya atas aset-aset desa yang menjadi sumber pendapatan mereka. Namun, energi kekuasaan mereka tak dengan sendirinya berkurang, bahkan sebaliknya, semakin menguat. Pada waktu yang bersamaan terjadi panik moral yang menganggap seksualitas sebagai ancaman yang menakutkan. Akibatnya, kontrol mereka untuk isu-isu moral utamananya isu seksualitas semakin menguat, menyempit dan memaksa. Secara tersamar, setiap pelanggaran moral pada kenyatannya juga merupakan peluang untuk memperoleh pendapatan atau menguatkan posisinya sebagai pamong. Bahkan pada sejumlah situasi, mereka menjadi pihak yang mengondisikan atau memaksakan terjadinya praktik perkawinan anak.

Keempat, terjadinya kontestasi hukum antara hukum negara dan hukum agama (fiqh). Pada kasus perkawinan anak, yang sering terjadi adalah hukum keagamaan diletakkan di atas hukum negara. Pandangan keagamaan kerap menjadi legitimasi kelembagaan yang ada untuk menguatkan tindakan mengawinkan anak. Jargon-jargon “yang penting sah dulu” atau “lebih penting penuhi kewajiban agama dulu” dijadikan alasan pelanggaran hukum negara. Dalam banyak kasus, perkawinan usia anak-anak terjadi karena yang mereka cari bukan legalitas hukum, melainkan legalitas moral keagamaan yang didukung oleh cara pandang partiarkal.

Kelembagaan yang ada, baik itu adat, agama, atau sosial lainnya, seperti mati angin menghadapi praktik kawin anak yang berlangusng atas nama perlindungan nama baik perkauman atau keluarga. Itu terutama dalam kasus KTD atau si anak dianggap bergaul terlalu bebas. Kelembagaan-kelembagaan itu juga seperti membiarkan perlakuan orangtua yang memaksakan perkawinan anak dengan pertimbangan sepihak bagi kepenetingan rang tua semata.

Sebagai studi dengan pendekatan feminis, penelitian ini juga mengidentifikasikan berbagai upaya dalam mengatasi problem ini. Beberapa daerah telah meluncurkan regulasi penundaan usia kawin. Sayangnya upaya itu bersifat ad hoc, dengan anggaran yang sangat kecil. Upaya lain dilakukan sejumlah pesantren dengan membuka pintu bagi anak yang telah kawin.

Namun secara keseluruhan upaya–upaya itu menunjukkan bahwa bacaan atas peta persoalan perkawinan anak begitu sederhana, bersifat reaktif, dan tak menyasar masalah.

Kita membutuhkan solusi yang mampu membongkar akar masalahnya: mengatasi pemiskinan sistemik yang disebabkan oleh perubahan ruang hidup dan krisis agraria. Saat ini pemerintah sedang merancang upaya penyelesaian perkawinan anak. Krisis agraria telah dikenali sebagai salah satu penyebabnya. Namun dalam solusi isu ini tenggelam oleh kuatnya pendekatan teknis yuridis seperti tuntutan peningkatan usia kawin. Padahal tanpa perbaikan sistemik mengatasi kemiskinan akibat perubahan penguasaan tanah seperti yang ditawatkan penulis buku Wakaf Agraria ini, pendekatan yuridis hanya menambal lubang- lubang galian tambang. []

Merebut Tafsir: Jilbabisasi Balita

Oleh Lies Marcoes

Jika Anda perhatikan foto-foto keluarga yang merayakan Lebaran tahun ini, baik foto keluarga inti atau keluarga besar, akan mudah didapati hadirnya sosok balita perempuan yang berpakaian tertutup mengenakan jilbab tak terkecuali bayi perempuan. Bahkan di beberapa keluarga tak hanya berjilbab tapi balita perempuan yang mengenakan pakain hitam menutupi sekujur tubuh (abayah) dengan kerudung yang juga lebih panjang (hijab) menutupi hampir separuh badannya. Dengan begitu anak ini telah memakai hijabnya sebagai lapisan ketiga setelah abayahnya dan pakaian dalamnya. Di bagian dalam, biasanya mereka dipakaikan celana panjang dengan tujuan untuk menutupi auratnya.

Di masa bayi, jika lahir di puskesmas atau RSB, para perawat, bidan, atau dokter akan menasihati agar setiap pagi bayi mereka dijemur matahari. Gunanya agar bayi tak kuning akibat bilirubin tinggi. Sinar matahari sebagai sumber vitamin D sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia terutama di masa pertumbuhan (balita). Vitamin D dari sinar matahari sulit untuk disubtitusikan dengan vitamin pengganti dalam bentuk obat. Lagi pula itu adalah anugerah Tuhan yang diperoleh secara gratis.

Dengan memakai pakain tertutup dan berlapis-lapis, bagaimana balita kita akan mendapatkan sinar matahari. Arsitektur rumah Indonesia, apalagi di daerah padat penduduk tak selalu memungkikan matahari bisa menerobos ke bagian dalam atau halaman belakang rumah. Ini berbeda dengan arsiektur rumah- rumah Timur Tengah yang memiliki ruang keluarga tempat para perempuan sehari-hari berkumpul tanpa harus menggunakan hijabnya.
Lagi pula, jika kita perhatikan anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga di Timur Tengah (jika itu menjadi patokan cara berpakaian) tak memakai baju abayah sampai mereka dianggap telah remaja (setelah menstruasi).

 

Cara berpakaian tertutup rapat kita tahu sumbernya karena dilandasi keyakinan. Jika basisnya keyakinan maka tentu kita harus mengacu kepada pandangan keagamaan. Dalam agama (fiqh) soal aurat dan karenanya diyakini membentuk cara berpakaian hanya berlaku jika perempuan telah mumayyiz (dewasa- telah tiba kepadanya kewajiban untuk menjalankan ibadah), tapi tidak bagi anak-anak, apalagi balita.

Jika demikian, mengapa orang tua Muslim di Indonesia begitu tergila-gila pada pakaian yang menutupi anak-anak perempuan balita mereka. Padahal pakaian yang sedemikian rupa menutupi badan balita kita, mereka juga akan mengalami hambatan untuk bergerak bebas. Padahal usia lima tahun ke bawah adalah usia pertumbuhan otak yang dipicu oleh gerak motoriknya.

 

Jika basisnya keyakinan agama (fiqh), mengapa hijab telah dikenakan kepada balita sementara agamapun belum mewajibkannya. Banyak orang tua yang menyatakan bahwa mereka sedang mendisiplinkan anaknya/ cucunya. Tapi bukankah pendisipinan membutuhkan pengetahuan dan kesadaran sang subyek, sebab tanpa itu pendisiplinan hanya akan menjadi indoktrinasi yang menjadikan mereka bagai kambing dicocok hidung.

 

Saya melihat ini persoalan serius. Pihak kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama harus terbuka dan berani menyatakan sikap mereka bahwa ini membahayakan masa depan balita kita. Kementerian Kesehatan harus melakukan pendidikan yang mengajarkan apa dampak kekurangan vitamin D bagi tumbuh manusia jika sejak bayi kurang terkena sinar matahari terutama matahari pagi. Orang tua harus memiliki pengetahuan cukup tentang manfaat sinar matahari bagi anak dan apa dampaknya jika perempuan kekuarangan sinar matahari terutama untuk kesehatan reproduksinya. Kementerian kesehatan harus memberi pengetahuan apa dampkanya bagi anak-anak jika karena pakaiannya mereka kurang mendapatkan bergerak secara motorik. Agama memang untuk orang yang berakal dan menggunakan akalnya. ‘Afala taqilun’ Apakah kalian tidak berpikir, tanya Tuhan di sejumlah Ayat-Nya.

WALI NIKAH

Oleh: Dr. (HC). Husein Muhammad

Secara umum kata “wali” dalam bahasa Arab mengandung sejumlah makna. Antara lain : orang yang menyayangi, orang yang melindungi, orang yang mengurusi urusan orang lain, orang yang bertanggungjawab atasnya, orang yang mempunyai kekuasaan, dan sejenisnya.

 

Dalam konteks Nikah, Wali menurut pandangan para ahli Islam adalah orang yang bertindak melaksanakan secara langsung akad nikah bagi orang lain. Lalu siapakah dia?. Sepanjang sejarah di negeri ini bahkan di banyak negara Islam, wali adalah harus seorang laki-laki. Perempuan tidak bisa/boleh menjadi wali atas dirinya sendiri atau atas orang lain. Pikiran dasar pandangan ini adalah bahwa laki-laki itu “Ahliyah al-Tasharruf” sementara perempuan itu “Naqish al-Ahliyyah” atau “al-Qashir”. Manusia yang kurang cakap bertindak hukum dan dibawah tanggungan orang lain.

 

Wali adalah ayah, kakek atau kerabat dekat (nasab) dari perempuan itu. Bila mereka tidak ada atau tidak bisa karena alasan tertentu, maka fungsi wali dialihkan kepada pemerintah (naib KUA). Ini yang disebut wali hakim.

 

Dalam mazhab fiqh ada istilah “wali mujbir”. Ia adalah ayah atau kakek seorang perempuan. Dalam banyak pandangan, wali mujbir berhak menikahkan anak perempuannya meski tanpa persetujuan eksplisit dari anaknya. Ini membawa persepsi public  bahwa ayah/kakek berhak memaksa anak perempuanya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, bukan pilihan putrinya itu. Bahkan kadang terjadi ayah telah menikahkan putrinya, tanpa sepengetahuan si anak. Anak perempuan itu baru diberitahu atas pernikahan itu sesudahnya. Tindakan ini berbeda dengan pernyataan Nabi saw : “untuk gadis hendaklah diminta izinnya, dan untuk janda diminta perintahnya. Izin si gadis (paling tidak) adalah sikap pasifnya”.

 

Seperti ditulis dalam buku-buku fiqh Syafi’i, wali mujbir bisa menikahkan anak perempuannya, meskipun tanpa persetujuan eksplisit sang anak, hanya jika terpenuhi empat  syarat : si anak tidak memperlihatkan penolakan verbal maupun ekspresif, terhadap ayahnya, tidak ada penolakan tegas dan ekspresif terhadap calon suaminya, calon suami sepadan (kufu) dan mas kawinnya (mahar) layak untuk status social dirinya.

 

Jika demikian, maka “Ijbar” bukanlah “Ikrah”. Dua kata ini sering diterjemahkan sama : memaksa. Tetapi konotasinya sesungguhnya berbeda. Ikrah merupakan pemaksaan tanpa kerelaan yang perempuan. Sedang “Ijbar” melakukan suatu tindakan atas nama orang lain (perempuan) tanpa penolakan. Ijbar dilakukan atas dasar tanggungjawab.

 

Pandangan Lain 

Jika kita menelusuri khazanah hukum dalam masyarakat Islam, perempuan tidak boleh melakukan sendiri akad nikahnya sesungguhnya bukanlah pandangan satu-satunya. Secara singkat berikut ini adalah beragam pandangan ulama ahli fiqh tentang isu ini :

1. Nikah yang Ijabnya dilakukan oleh perempuan, adalah sah jika dia telah “dewasa”, (al-Rasyidah). Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf, Zufar, Auza’i, Muhamnad bin Hasan dan Imam Malik dlm riwayat Ibn Qasim.

2. Ia sah jika ada izin/restu Wali: Ibnu Sirin, Qasim bin Muhammad, dan Ahmad bin Hambal menurut qaul mukharraj.

3. Sama dengan no. 2 dengan catatan (syarat) izin wali diperoleh sebelum akad

4. Nikah tanpa wali adalah sah, jika sekufu. Ini pendapat Al-Sya’bi dan al-Zuhri

5. Sah bagi janda. Tidak bagi gadis. Ini pendapat Daud Zhahiri

6. Tidak sah baik gadis maupun janda, kufu maupun tidak. Ini adalah pandangan Imam Al-Syafi’i, Imam Malik riwayat Asyhab, ibn Syubrumah, Ibn Abi Laila, Sufyan Tsauri, Ishak bin Rahawaih, dan Ibn Hazm. Inilah pandangan mayoritas. (Baca: “Nikah, Rujuk, Talak”, karya Prof. K.H. Ibrahim Hosen).

Seluruh pandangan ini mengambil dasar legitimasinya dari Al-Qur’an dan Hadits, tetapi dengan cara analisis yang berbeda-beda.

 

Memilih adalah hak kolektif, Menentukan adalah hak personal

Pandangan fiqh mayoritas di atas boleh jadi tidak menyimpan problem dalam system social masa lalu. Yakni zaman ketika suara dan ekspresi perempuan dibatasi oleh struktur social, budaya dan politik yang disebut patriarkhisme. Perempuan dalam system ini sulit atau tabu mengemukakan kehendak atau tidak berkehendaknya secara verbal dan ekspresif. Jika pun dia ditawari menikah dengan pilihan ayanya, dia hanya diam jika tidak merasa keberatan. Diam adalah ekspresi minimal persetujuan perempuan. Tetapi kebudayaan manusia senantiasa berkembang dan berubah. Hari ini akses pendidikan dan aktualisasi diri perempuan semakin terbuka. Maka kita melihat tidak sedikit perempuan yang cerdas dan berani mengungkapkan kehendaknya, baik dalam mengapresiasi maupun menolak suatu pandangan dan kehendak orang lain, termasuk orang tuanya. Pikiran perempuan tidak selalu lebih bodoh daripada pikiran laki-laki, bahkan kadang lebih cerdas dan jitu.

 

Realitas sosial seperti ini seharusnya membuka mata hati dan pikiran orang tua untuk mengambil sikap yang lebih relevan dan kontekstual.  Sebagai seorang wali, orang tua, tentu berhak untuk mencarikan atau menawarkan pasangan hidup yang menurut dirinya bisa membahagiakan anaknya. Ini sebagai bentuk tanggungjawab atas masa depan anaknya.  Dalam waktu yang sama anak juga mempunyai hak yang sama untuk hal itu. Ketika pilihan keduanya berseberangan, maka sepatutnya kehendak anak lebih dipertimbangkan.

 

Menikah adalah hak setiap orang, laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, menikah menjadi “sunnah”, dianjurkan, manakala dia sudah berhasrat dan siap. Ia adalah fase krusial bagi perjalanan hidupnya di masa depan. Karena itu dia tentu akan berfikir keras dalam memilih pasangan hidupnya yang akan membahagiakannya. Perempuan dewasa, apalagi terpelajar, tentu dapat atau bisa memilih apa yang baik dan apa yang buruk. Maka memilih pasangan hidup seyogyanya lebih banyak diberikan sekaligus ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain.

 

Tanggungjawab itu sendirian 

Pengalaman hidup kita menunjukkan dengan pasti bahwa manakala seseorang telah membentuk rumah tangga, dia akan menjalani hidup bersama pasangannya, dan dia akan bertanggungjawab atas hidup bersama pilihannya itu dalam suka maupun duka. Sebagai seorang wali, orang tua, memang punya tanggungjawab moral; memberikan nasehat, pertolongan manakala diperlukan dan mendo’akan bagi kebahagiaan anaknya selamanya. Dalam waktu yang sama, secara moral pula, anak dituntut mempertimbangkan apa yang baik dan patut dari pandangan orang tuanya. Kesalingan saling mengapresiasi pikiran, rasa dan kehendak adalah penting. Tetapi menentukan nasib hidup atas diri adalah sendiri-sendiri. Dengan kata lain : memilih adalah hak kolektif, tetapi menentukan adalah hak personal. Ada semboyan : “The Personal is Political”. Islam, juga menyebutkan tanggungjawab individual ini.

 

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“

Dan setiap orang akan datang kepada-Nya pada hari Qiyamat, sendiri-sendiri” (Q.S. [19]: 95).  Para ahli tafsir menjelaskan bahwa setiap manusia akan menghadap Tuhan sendirian saja, tanpa penolong siapapun dan apapun.

Lihat pula Q.S.  [39]:7:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“dan seorang tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu”.

 

Khalil Gibran menulis puisi cerdas dan indah  :

Anakmu bukanlah anakmu

dia anak kehidupan yang merindui dirinya sendiri

Dia terlahir melaluimu tapi bukan darimu

Meski dia bersamamu tapi dia bukan milikmu

Kau bisa bikinkan rumah untuk tubuhnya tapi bukan jiwanya

Jiwa adalah penghuni rumah masa depannya

yang tak bisa kau kunjungi, meski dalam mimpi.

 

Puisi itu mengingatkan kita pada kata bijak Socrates :

لا تكرهوا اولادكم بعاداتكم فانهم خلقوا لزمان غير زمانكم.

“Jangan kau paksa anak-anakmu ikut tradisimu. Mereka diciptakan Tuhan untuk suatu zaman, bukan zamanmu”.

Redaksi lain menyebut : لا تكرهوا اولادكم على اثاركم فانهم مخلوقون فى زمان غير زمانكم

 

Demikian.  Cirebon, 24.06.19Husein Muhammad

 

Tulisan ini dipresentasikan dalam acara launching buku “Fikih Perwalian” di Wahid Institute, Jakarta, 25 Juni 2019.

 

Jadi, kenapa Anda memilih Iqbal?

Oleh Nurhayati Aida

Saya memberikan penekanan dan penjelasan yang kurang bisa diterima oleh penanya. Banyak sekali catatan yang saya terima dari jawaban mengapa Iqbal menjadi pilihan saya, bahkan salah satu dari penanya tak mau tahu akan hal itu, dengan beberapa catatan saya diharuskan merombak semua yang saya ajukan. Itu bukan akhir, itu adalah awal. Saya kemudian secara informal bertemu dengan dua penanya pertanyaan mengapa saya memilih Iqbal, berdiskusi dan menjelaskan apa yang saya inginkan dalam memilih Iqbal.

Saya diizinkan untuk memilih Iqbal.

Enam atau tujuh tahun sebelum pertanyaan itu mampir ke saya.

Entah dalam rangka apa kaki saya melangkah ke Pasar Senen. Sewaktu berjalan menyusuri jalanan sempit di barisan toko buku bekas itu, kaki saya berhenti melangkah. Dan diri ini berdiri mematung –karena kaki berhenti melangkah– sambil mata memperhatikan dengan seksama judul-judul buku yang digelar apa adanya di selasar pasar.

“Ayo-ayo, sepuluh ribuan. Dipilih-dipilih” teriak lelaki setengah abad yang duduk agak jauh dari lapak

Sepuluh ribu? Saya membatin. Sepertinya itu adalah sinyal yang ditangkap bagus oleh otak saya, yang kemudian diinstruksikan secara spontan pada kaki untuk berhenti.

Hanya dua buku yang mampu saya bawa pulang, yang artinya juga adalah dua puluh ribu uang jajan minggu itu terpangkas. Dua buku itu adalah buku yang diterbitkan bahkan sebelum saya lahir. Saya membeli buku lawas. Buku pertama berjudul Membangun Alam pikiran Islam milik Muhammad Iqbal yang diterjemahkan Osman Ralibi, dan yang kedua adalah Snouck Hurgronje dan Islam yang ditulis oleh P. SJ. Van Koningsveld.

Salah satu dari dua buku itu selanjutnya membawa saya pada serangkaian peristiwa hidup. Satu tahapan di mana Tuhan mengalirkan episode hidup, di mana saya berdiri sekarang.

Jadi, apa istimewa Iqbal?

Iqbal melalui gagasannya telah membawa Pakistan untuk membentuk negaranya sendiri. Tapi lebih dari itu, pengaruh Iqbal-lah yang membuat dia istimewa. Iqbal mampu menggerakkan masyarakat Muslim waktu itu untuk berbuat sesuatu, dan itu didasari atas keyakinan atas Tuhan. Tuhan, menurut Iqbal, dalam pandangan saya, telah dijadikan sebagai hasrat purba, bahwa Tuhanlah yang menjadi gerak langkah manusia. Tapi ini bukan panteisme. Bukan. Lebih jauh lagi.

Dua tahun sebelum pertanyaan mengapa memilih Iqbal.

Setumpuk buku ada di meja kerja saya, dikirim oleh seorang teman yang bahkan saya tak pernah bertemu atau berdiskusi serius dengannya. Tapi, dengan kemurahannya ia mengirim semua buku koleksinya tentang Iqbal ke saya. Tanpa meminta ganti uang foto kopi atau biaya kirim. Semua gratis.

Teman ini dikenalkan oleh sahabat saya yang bernama Inab. Melalui Inab-lah, saya dan teman baik hati itu bisa berkomunikasi.

Satu di antara buku yang dikirim adalah buku Iqbal yang berjudul Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam yang diterjemahkan oleh tiga orang yaitu Ali Audah, Gunawan Mohammad, Taufik Ismail yang diterbitkan oleh Jalasutra.

Jadi, apakah (pemikiran) Iqbal itu penting?

Penting sekali. Selama hampir lima ratus tahun pemikiran Islam telah mandek, tidak bergerak. Itu dikemukakan Iqbal saat mengatakan bahwa saat ini kita butuh merekonstruksi pemikiran Islam. Pemikiran (agama) Islam seharusnya mampu mendorong pemeluknya untuk terus melakukan sesuatu dan bergerak lebih maju, tapi kenyataannya adalah adanya kejumudan saat itu. Pasti ada yang salah dengan pemahaman kita mengenai (pemikiran) agama. Kita butuh sesuatu yang baru, sesuatu yang mampu membawa kita berjalan ke depan namun tetap bersama Tuhan. Tauhid dan ijtihad menjadi jawabannya. Dengan tauhid, dengan Tuhan bersama langkah kaki, usaha tangan, upaya akal, kasih, dan intuisi, manusia (seharusnya) mampu bergerak lebih lebih banyak. Karena Tuhan yang membersamai manusia tak pernah berhenti untuk terus-menerus melakukan sesuatu yang baru setiap saat. Dan respons terhadap perbuatan Tuhan itu adalah ijtihad, yaitu usaha.

Tuhan adalah hasrat purba manusia.

Satu bulan dua puluh tujuh hari sebelum pertanyaan mengapa memilih Iqbal dilemparkan ke saya.

Hampir seminggu lamanya saya menunggu kiriman buku yang saya beli via online. Buku itu berjudul Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam karya Iqbal yang diterbitkan Mizan dan diterjemahkan oleh Hawasi dan Musa Kazhim.

Lengkap sudah. Saya memiliki tiga versi bahasa Inndonesia buku Iqbal yang berjudul asli The Reconstruction of Religious Thought in Islam, sebuah buku yang berisi tujuh kumpulan makalah yang ditulis Iqbal.

Satu judul buku dengan tiga versi terjemahan berbeda boleh jadi adalah buku yang banyak banyak saya baca. Maksudnya adalah buku yang saya baca berkali-kali. Setiap kali saya tak bisa memahami isinya, saya lalu mengulangnya dengan membaca basmalah atau istighfar. Saking susahnya memahami buku tersebut saya sampai membatin. Jangan-jangan hati dan pikiran saya adalah jendela yang tertutup, ilmu yang serupa cahaya itu tak bisa masuk karena hati saya kotor.

Jadi, kenapa Anda memilih Iqbal?

Iqbal itu percaya atas keunikan masing-masing diri, tak ada satupun di antara diri-diri yang lain yang sama. Untuk tawa atau tangisnya, untuk bahagia atau sedihnya, untuk jenuh atau semangatnya. Meski ada satu kejadian yang membuat dua orang bahagia, niscaya kebahagiaan satu dengan yang lainnya tak pernah sama. Ekstrimnya bahkan Tuhan pun takkan mampu merasakannya. Ini saking uniknya setiap diri, saking spesialnya diri. Oleh karenanya, Tuhan menghisab setiap diri per individu karena setiap kita adalah unik, orisinil, dan spesial. Tak ada dosa kelompok atau sosial, ia murni tanggungjawab pribadi, tak ada yang bisa dipikul bersama.

Saya suka mengutip puisi Rumi ini, dan saya kira Iqbal terpengaruh juga oleh Rumi saat membahas keunikan diri.

Ini jalanmu | dan jalanmu saja | orang lain bisa berjalan bersamamu | tapi tidak ada yang bisa menjalaninya untukmu

Buku yang saya beli sepuluh ribu rupiah itu mengantarkan saya untuk menuntaskan tugas akhir yang hampir dua tahun lamanya mangkrak.


Catatan ditulis pada bulan Oktober 2016

Imam Perempuan

Oleh Nur Hayati Aida

 

Ketika peristiwa itu berlangsung, kemungkinan besar saya masih duduk di bangku sekolah di salah satu desa di Jawa Tengah. Di mana seorang profesor perempuan keturunan Afro-Amerika yang menjadi guru besar di Virginia Commenwealth University mengimami shalat Jumat dengan makmum laki-laki dan perempuan. Peristiwa itu dilaksanakan di sebuah (ruangan) katedral yang berada di Amerika Serikat.

Peristiwa itu menyedot perhatian umat Islam hampir seantero dunia, tak terkecuali di Indonesia. Para pakar dan ulama menulis pandangannya. Diskusi dan simposium juga dilaksanakan.

Salah satu ulama ahli hadis Indonesia, Kiai Ali Mustafa Yaqub, menulis sebuah buku untuk merespons peristiwa itu. Kiai Mustafa Yaqub, yang saat itu mementori mahasiswi IIQ Jakarta melakukan kajian hadis Ummu Waraqah menemukan fakta menarik terkait salah satu rawi pada hadis tersebut. Hadis Ummu Waraqah ini bagi sebagian ulama dan intelektual dijadikan pijakan diperbolehkannya seorang perempuan menjadi imam bagi makmum laki-laki atau perempuan.

Meski hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibn Khuzaimah, Imam al-Tabrani, Imam al-Daruqutni, Imam Ibn Al Jarud, Imam al-Hakim, dan Imam al-Baihaqi. Namun, hadis Ummu Waraqah ini paling sering dikutip dari riwayat Imam Abu Dawud.

Imam Abu Dawud sendiri dalam kitabnya Sunan Abi Dawud hanya memberikan komentar pada hadis-hadis yang dianggap lemah. Hadis yang tak diberi komentar atau catatan dianggap hadis yang derajatnya shahih. Dan pada hadis Ummu Waraqah ini, Imam Abu Dawud tak memberikan komentar apapun.

Dua perawi yang disorot oleh Kiai Mustafa Yaqub di sini adalah Abdullah bin Khallad dan al Walid bin Jumai’. Menurut Kiai Mustafa, dengan merujuk Ibn al Qattan, Abdullah bin Khallad adalah rawi yang majhul al hal atau tidak diketahui identitasnya. Sedangkan al Walid bin Jumai’ menurut Kiai Mustafa adalah rawi yang mendapatkan perhatian serius. Meski al Walid bin Jumai’ dianggap tsiqah (kredibel) tetapi kedhabitannya (kekuatan mengingat dan kecakapan mencatat/menulis) diragukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Daud. Dan oleh beberapa ulama pengkaji kredibilitas perawi seperti Imam Yahya bin Ma’in, Imam al Ijli, dan Imam Abu Zur’ah, al Walid bin Jumai’ dianggap tsiqah.

Ibn Hibban memasukkan nama al Walid bin Jumai’ ini dalam dua ketegori sekaligus. Ia memasukkan al Walid bin Jumai’ ini pada bukunya yang berjudul kitab al Tsiqah (Rawi yang kredibel), dan juga memasukkan pada kitabnya yang lain berjudul al Dhu’afa (Rawi-Rawi yang lemah periwayatannya). Ibn Hibban mengomentari bahwa periwayatan al Walid tidak pernah dibarengi dengan periwayatan orang-orang yang tsiqah. Periwayatan dari rawi seperti ini, menurut Ibn Hibban, sangat buruk. Dan oleh karena itu, periwayatan dari al Walid tidak dapat dijadikan hujjah (dalil/pentunjuk).

Lebih lanjut, Kiai Mustafa Yaqub menjelaskan dalam kajian ilmu hadis, apabila terdapat penilaian ta’dil (kredibel) dan jarh (tidak kredibel) perawi, maka penilaian yang harus didahulukan adalah jarh-nya. Mengacu pada kaidah ini, perawi bernama al Walid bij Jumai’ dinyatakan dhaif (tidak kredibel) sehingga hadis yang diriwayatkannya dinyatakan dhaif. Oleh karenanya, menurut Kiai Mustafa Yaqub, hadis Ummu Waraqah tentang imam perempuan dinyatakan dhaif dan tidak bisa dijadikan dalil dalam agama.

Selain mengakaji hadis Ummu Waraqah, Kiai Mustafa Yaqub juga mengambil pendapat Imam alGhazali terkait dengan imam perempuan untuk jamaah laki-laki (dan perempuan). Imam al Ghazali dengan tegas menyatakan bahwa laki-laki yang shalat dengan imam perempuan, maka shalat laki-laki itu tidak sah (sedangkan shalat perempuan yang menjadi imam sah).

Alasan yang digunakan oleh Imam al Ghozali adalah laki-laki ditunjuk Tuhan sebagai pemimpin dan wali, sedangkan perempuan tidak. Pandangannya ini didasarkan pada surah an Nisa ayat 34, di mana ayat ini diyakini/ditafsiri oleh sebagian ulama sebagai ayat kepemimpinan laki-laki karena kelebihan (di antaranya terkait dengan kemampuan pemberian nafkah) yang diberikan Tuhan pada laki-laki.

Dua argumen yang diajukan oleh Kiai Mustafa Yaqub ini menurut saya sangat menarik. Pertama, tentang hadis Ummu Waraqah yang setelah dilakukan penelitian dinyatakan hadis dhaif, setelah sebelumnya hadis itu diyakini oleh beberapa ulama berada di derajat shahih. Kedua, tentang ayat 34 surah an Nisa yang dijadikan dalil tidak dibolehkannya imam perempuan untuk jamaah laki-laki dengan alasan Tuhan tidak menunjuk perempuan sebagai pemimpin (dalam rumah tangga).

Argumen kedua, bagi saya pribadi yang ilmunya masih ala kadarnya ini, menarik untuk dikaji lebih dalam sebagaimana Kiai Ali Mustafa Yaqub melakukan kajian sanad pada hadis Ummu Waraqah. Kata ar Rijal pada Surah an Nisa ayat 34 itu ternyata oleh sebagian ahli tafsir tidak diartikan sebagai laki-laki dalam arti literal, yaitu manusia yang berjenis kelamin laki-laki, melainkan potensi kelaki-lakian (potensi untuk bergerak dalam mencari rizki, memimpin, mengayomi) yang bisa saja dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Dan lagi, ar Rijal dalam ayat tersebut adalah definitif dengan indikasi al sebelum kata rijal, di mana itu berarti tidak semua laki-laki bisa menjadi pemimpin dan tidak semua perempuan itu lemah/harus dipimpim. Perdebatan-perdebatan tentang ayat ini tentu terus muncul di setiap zaman, apalagi jika masyarakatnya masih teguh memegang prinsip patriarki. Di mana mereka meyakini bahwa setiap laki-laki (bagaimanapun kedaannya) harus menjadi pemimpin meskipun tidak memilli kecukupan dan kecakapan dalam memimpin, pun dalam agama.

Argumen Kiai Mustafa Yaqub yang merujuk Imam Al-Ghozali, menurut saya, dalam buku ini bisa didiskusikan lebih lanjut karena berada di wilayah perdebatan. Dan bisa jadi, malah, bisa menggugurkan kekokohan argumen itu sendiri.

Meski begitu, siapa yang bisa menjamin kebenaran mutlak atas tafsir sebuah ayat selain pemilik-Nya? Tentu kita semua bersepekat bahwa Tuhan lebih tahu akan maknanya. Namun, keberagaman tafsir atas ayat dan ketidaksetujuan kita pada tasir tertentu tidak lantas kita dianggap menolak/melawan Tuhan. Sebagaimana yang kita tahu, teks/ayat al Quran dan tafsir atas ayat al Quran adalah dua hal yang berbeda.

 

Berjihad Melawan Diri Sendiri

Oleh Jamaluddin Mohammad

 

Idul Fitri dan Idul Adha merupakan “peristiwa besar” yang dirayakan umat Islam se-dunia. Keduanya dilaksanakan setelah menjalankan rukun Islam ke tiga dan rukun islam ke empat.

 

Secara bahasa “Idul Fitri” artinya “kembali berbuka” setelah satu bulan penuh berpuasa. Juga bisa bermakna tunas kurma yang baru tumbuh (al-fitru habbatul inab awwala ma tabdu). Masih dalam rumpun kata yang sama, al-ftrah, artinya “asal penciptaan”, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW: “Kullu maulud yuladu ala al-fitrah”  atau pada QS al-Rum 30-31

 

Puasa Ramadhan menjadikan setiap muslim terlahir kembali seperti tunas kurma yang baru menyembul ke permukaan tanah (al-fitru) atau seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan (al-fitrah)

 

“Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dosa-dosanya akan diampuni,” ujar Nabi Muhammad SAW

 

Di bulan Ramadhan setiap muslim belajar mengolah batin, memenej dan mengorganisir nafsu, juga meningkatkan spiritualitas di hadapan Allah SWT. Puasa melatih dan mendidik manusia agar tidak semata menjadi “mesin hasrat.”.

 

Berdasarkan potensinya, manusia bisa lebih tinggi drajarnya dari malaikat. Juga bisa lebih rendah dan lebih hina dari iblis. Potensi itu sangat terbuka mengingat manusia diberikan nafsu. Nafsulah yang bisa menurunkan atau menaikkan drajat seseorang. Inilah yang tidak dimiliki malaikat maupun iblis.

 

Agar bisa meningkatkan kualitas kemanusiaanya di hadapan Tuhan, manusia harus bisa mengatasi, membatasi, menjaga sekaligu mengontrol pergerakan nafsu agar tidak liar. Semua hasrat menuju kepuasan dan kesenangan dan tidak semua harus dituruti dan dipenuhi. Agama hadir utk mengontrol dan membatasi.

 

Orang yang bisa mengendalikan segala hasrat kebinatangannya, jiwanya akan tenang menuju dan selalu dekat pada Allah SWT (nafsul muthmainnah). Ada juga orang yang masih terus belajar dan berusaha keras melawan impuls-impuls hasratnya yang setiap saat bergejolak dan menuntut utk dipuaskan (nafsu lawwamah). Sebaliknya tdk sedikit orang yang menjadi budak nafsunya sendiri dengan menuruti seluruh keinginan dan kesenangan hasrat tubuhnya (nafsu lawwamah)

 

Hasrat berpusat pada perut dan alat kelamin. Karena itu, dalam satu bulan penuh umat Islam berpuasa (menahan diri) dari hasrat-hasrat yang bersumber dari dua wilayah itu (tidak makan, minum, dan bersetubuh).

 

Berperang melawan hawa nafsu sendiri, menurut Kanjeng Nabi Muhammad SAW, adalah perang sejati: Jihad Besar! “Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri yang bersemayam di balik kedua pinggangmu,” kata Nabi (a’da aduwwika nafsuka alladzi bayna janbayka)

 

Jadi, sebelum menilai dan menghakimi orang lain, sebaiknya kita nilai dan kita hakimi dulu diri kita sendiri. “Tengoklah dirimu sebelum bicara,” kata Ebit G Ade —- wallahu a’lam bi sawab

 

Ringkasan Khutbah Idul Fitri di Dkm Nur Hidayah Anseong, Korsel pada 5 Juni 2019

Merebut Tafsir: Bukan Nabi yang Kami Kenal

Oleh Lies Marcoes

Saya harus menunda komentar beberapa waktu atas khutbah Ied Fitri pagi ini, saya buang kejengkelan sambil bebersih dapur.

Bagian pertama ia membandingkan berbagai hari raya agama-agama dan perayaan Ied Fitri yang paling benar. Dengan logat yang, maaf, semua khuruf a dibaca ‘ain sehingga semuanya berbunyi sengau ia menjelaskan soal pentingnya mencari teman seiman agar tak terpengaruh oleh perilaku buruk orang lain, terutama teman. Di ujung khutbah, otak saya mengkeret, setelah doa saya bergegas ke tempat parkir. 


Boris, anak bungsuku sudah menunggu. Dengan hampir marah yang tertahan ia memeluk. I am so sorry mom, how dare he gave a khutba like that, is he has no wife, no daughter, not even has a mother? He is so misogynist! 


Anakku tak habis pikir, sepagi ini kita bangun hanya untuk mendengar khutba seperti itu. Di penutup khutbanya dia mengatakan, Nabi dalam salah satu shalat Ied (?) menemui sekumpulan “wanita dan ibu-ibu” (itu kata yang ia pakai) dan bersabda kelak “mayoritas” (kata dari dia) isi neraka dan kerak neraka adalah wanita karena wanita sering mengeluh dan menghujat suami. Karenanya wanita harus banyak bersedekah. Suamilah yang menentukan apakah pintu surga yang terbuka, atau pintu neraka. 


Anakku bertanya, selama sebulan apa dia nggak disedikan makan sahur oleh istrinya atau disediakan perempuan lain di rumahnya?

Saya bilang, dia bicara tentang Nabi dan Tuhannya,tapi itu pasti bukan Nabi dan Tuhan yang kita kenal. Bukan Nabi yang pada setiap siang dan malam kita kirimi Salawat, salam kasih sebagaimana Nabi mengasihi kami kaum perempuan. Anakku memeluk sekali lagi. Love you mom!