Catatan Gus Jamal: Jihad

Nabi Muhammad SAW pernah ditanya Aisyah RA. “Apakah perempuan boleh berjihad?”

“Ya,” jawab Nabi SAW, “jihad bukan dengan berperang, yaitu haji dan umrah.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan dari hadis ini. Pertama, peran dan domain jihad. Berdasarkan hadis ini, para ulama sepakat tidak mewajiban perempuan berjihad menuju medan peperangan. Jihadnya perempuan, salah satunya seperti disebutkan hadis adalah haji dan umrah.

Peran dan domain jihad bagi perempuan bukanlah medan peperangan, melainkan di balik layar sebagai pendukung: melayani kebutuhan suami, mengasuh dan mendidik anak, memberikan semangat dan support kepada suami.  Fungsi dan peran pendukung ini bukan berarti tidak penting. Tanpa dukungan, kehadiran, dan peran penting mereka jihad tak akan berjalan sukses.

Dalam “hukum humaniter” islam disebut bahwa perempuan, anak-anak, dan manula termasuk golongan sipil yang tak boleh dibunuh. Belakangan, rentetan aksi terorisme yang langsung melibatkan perempuan sebagai pelaku, pembagian peran dan domain jihad mengalami pergeseran dan perubahan. Jihadis perempuan seolah tak ingin hanya berada di pinggir. Mereka ingin beranjak ke tengah seakan ingin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu bahkan bisa lebih berani dari laki-laki. Mereka mendobrak tabu maskulinitas jihad.

Jika laki-laki bisa mendapat tiket surga dengan cepat, mengapa peremouan tidak? Aksi “heroik” (nekad?) Zakiyah Aini, pelaku penyerangan Mabes Polri kemarin, yang hanya bermodal “senjata mainan”  (air softgun), menunjukkan  bahwa perempuan bisa lebih berani dari laki-laki.

Kedua, Jihad. Para ulama membagi jihad dalam dua kategori: “Jihad Besar” (Jihad Akbar) dan “Jihad Keci” (Jihad Asghar). Jihad dalam arti perang (qital) termasuk kategori Jihad Kecil.

“Kita baru saja kembali dari Jihad Kecil menuju Jihad Besar, yaitu berperang melawan hawa nafsu (mujahadah al-nafs),” kata Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-sahabatnya sekembali dari peperangan.

Ada tiga terminologi penting yang berasal dari akar kata yang sama, jahada, yaitu “Jihad”, “Ijtihad” dan “Mujahadah”. Yang pertama bisa dartikan dengan perang (jihad fisik). Yang kedua, Ijtihad. Artinya, “kerja-kerja intelektual untuk menghasilkan sebuah kebenaran”.

Seorang mujtahid, akan mengarahkan sekaligus mendayagunakan akal pikirannya (badlul wus’i) untuk menghasilkan sebuah hukum. Ijtihad adalah salah satu bentuk “jihad intelektual”. Posisinya setingkat lebih tinggi dari jihad fisik (qital)

Ketiga, “mujahadah”. Jika jihad lebih identik dengan aktivitas fisik, ijtihad dengan aktivitas intelektual, mujahadah lebih dekat dengan aktivitas atau laku spiritual. Ia disebut salik (pejalan spiritual) atau zahid (asketik). Seorang salik akan bekerja keras (mujahadah) melawan segenap keinginan dan kecenderungan duniawiyah (nafsu syahwat) untuk menjadi manusia bebas, manusia mereka, dan manusia paripurna (insan kamil). Bukan manusia yang didikte dan diperbudak nafsu.

Mujahadah dikategorikan Nabi SAW sebagai Jihad Akbar, karena tidak setiap orang bisa melakukannya. Musuh yang dihadapi ketika mujahadah adalah diri sendiri. Ketika diri sendiri sudah bisa dikalahkan, maka akan dengan mudah mengalahkan orang lain. Dalam mujahadah, seorang salik akan menyingkirkan sifat-sifat kebinatangan (nasut) dan menggantinya denga sifat-sifat ketuhanan (lahut)

Jihad tidak akan sukses dan mencapai tujuan jika pelakunya masih di bawah pengaruh kebencian dan nafsu angkara (mujahadah al-nafs) sekaligus tak memiliki siasat dan strategi perang (ijtihad).

Jihad memiliki banyak makna dan mengadung banyak dimensi. Jihad fisik (qital), jihad intelektual (ijtihad) dan jihad spiritual (mujahadah). Namun, oleh sekelompk kecil teroris, jihad dipersempit maknanya hanya bermakna peperangan (qital). Itu pun direduksi menjadi terorisme.

Jika merujuk sejarah dan khazanah keilmuan islam, terorisme apalagi bom bunuh diri bukanlah jihad. Jihad masih mengedepankan adab dan etika peperangan (hukum humaniter), misalnya tidak boleh membunuh warga sipil, merusak tempat ibadah atau lingkungan (tidak boleh menebang pohon dll). Terorisme tak mengindahkan itu semua. Ia menyerang apa saja secara brutal dan membunuh orang tanpa pandang bulu.

Musuh mereka tidak jelas. Mereka membuat kategori musuh sendiri tanpa memiliki rujukan dalam islam. Yaitu “musuh dekat” dan “musuh jauh”. Musuh jauh maksudnya adalah orang atau negara kafir seperti negara-negara Barat. Musuh dekat adalah orang atau pemerintah sendiri. Pemisahan ini berdasarkan doktrin dan ajaran al-wala wal bara’ yang mereka miliki dan yakini. Dalam surat wasiat Zakiyah yang beredar di media sosial menyebut pemerintah sebagai toghut.

Jika dalam literatur keislaman klasik, islam hanya mengenal dua wilayah: “darul aman” (negara damai) dan “darul harb” (negara perang). Jihad hanya boleh dilakukan di dalam darul harb. Terorisme menganggap semua wilayah adalah darul harb. Di dalam darul harb, selain kelompok mereka, boleh dibunuh dan diperangi. Para teroris banyak memanipulasi doktrin dan ajaran islam utk kepentingan politik mereka. Inilah kenapa tak sedikit umat Isla. Yang simpatik terhadap gerakan mereka.

Salam
Jamaluddin Mohammad

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.