Workshop MDGs Yayasan Kesehatan Perempuan

KAMIS, 08/12/2011, pukul. 09.00-12.30, Rumah Kitab Bersama (RK) yang diwakili oleh Mukti Ali menghadiri Undangan Workshop MDGs YKP (Yayasan Kesehatan Perempuan), di Hotel Atlit Century, Senayan Jakarta. Workshop dihadiri oleh perwakilan lembaga pemerintah, seperti BAPENNAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional),

Kepala Hukum dan Biro-Organisasi Kementrian Kesehatan, PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) dan Komnas Perempuan, dan lembaga swasta dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), seperti YKP (Yayasan Kesehatan Peremuan), Rumah Kitab, Yayasan Puan Amal Hayati, Koran Kompas, Asia Foundation, Yayasan Pelita Ilmu, Aysiya-Muhammadiyah, dll.

Acara Workshop MDG’s, dipandu oleh Lies Marcoes Natsir, dengan topik: Terobosan untuk mencapai MDG’s (Millenium Development Goals) tujuan no. 5 dan no. 6. MDG’s sebagai kesepakatan Internasional dimana Indonesia turun menangani yang telah dilaunch pada tahun 2000, merupakan tekad bersama untuk memperbaiki kualitas hidup manusia, terdiri dari 7 pilar; (1). Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrim; (2). Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua; (3). Mendorong kesehatan gender dan pemberdayaan perempuan; (4). Menurunkan angka kematian anak; (5). Memerangi HIV, AIDS, Malariya dan penyakit lainnya; (6). Memastikan kelestarian lingkungan; (7). Mempromosikan kemitraan global untuk pembangunan.

Hampir semua pilar di atas ditujukan untuk mengangkat derajat hidup kaum perempuan. Ini adalah satu tujuan dan tekad mulia yang untuk mencapainya diperlukan upaya dan komitmen yang kuat dari pemerintah. Setelah berjalan sepuluh tahun, semua tujuan belum tercapai, seperti menurunkan angka kematian ibu dan menurunkan jumlah penderita HIV dan AIDS.

Fasilitator atau mederator, Lies Marcoes, memulai dengan membuka acara dan memberikan waktu serta kesempatan pada David L. Hulse, representatif Ford Foundation, dan Ninuk Widyantoro, ketua YKP (Yayasan Kesehatan Perempuan).

Acara berikutnya adalah diskusi yang dipandu oleh Lies Marcoes. Ia menawarkan pendekatan triangulasi advokasi dengan memeratakan 3 domain persoalan yaitu: (1). Di ranah kebijakan/policy; (2). Di ranah struktur terutama di pemerintah, dan; (3). Di ranah budaya. Dengan menggunakan diagram 3 ranah persoalan ini diskusi menghadirkan 3 nara sumber utama: Drs. Nina Sarjunani, MA. menyampaikan materi “Rencana strategis Bapenas untuk tercapainya MDG’s 5-AKI dan no-HIV & AIDS”, Dr. Sugiri Syarif, MPA menyampaikan materi “Bagaimana harapan pemerintah terhadap peran serta masyarakat dalam menanggulangi tidak terkendalinya penularan HIV & AIDS”, Dr. Irna Hernawati, MPH. menyampaikan materi “Upaya pemerintah dalam upaya mengurangi angka kematian ibu dan mengurangi penyebaran HIV & AIDS melalui pemberdayaan perempuan”, dan Ninuk Widyantoro menyampaikan tema “Peran LSM dalam pencapaian tujuan MDG’s (AKI, HIV & AIDS)”.

Dari empat narasumber tersebut, tiga mewakili pemerintah, dan satu mewakili LSM, yaitu Ninuk Widyantoro. Namun karena acara ini adalah workshop, akhirnya semua yang hadir angkat bicara dan mempresentasikan pengalaman penelitian dari lembaga masing-masing. Kebetul fasilitator/moderator meminta Mukti Ali sedikit mempresentasikan penelitian KB (Keluarga Berencana) perspektif Islam—khususnya Islam garis keras. Mukti Ali mempresentasikan bahwa Rumah Kitab sedang melaksanakan penelitian KB (Keluarga Berencana) dalam pandangan Islam fundamentalis yang memiliki induksemang Syekh Abdullah Bin Baz dan Utsaemin, Wahabi. Sebelumnya Mukti Ali menjelaskan bahwa KB dalam pandangan kalangan NU (Nahdlatul Ulama) dengan tradisi Bahtsul Masa’il-nya, Muhammadiyah melalui Majlis Tarjih dan Persis telah menerima alias menetapkan hukum mubah (diperbolehkan). Bahkan Bahtsul Masail NU menganalogikan KB dengan ‘azl (coitus interuptus). ‘Azl adalah mengeluarkan sperma di luar lubang senggama. Sedangkan hukum ‘azl adalah diperbolehkan menurut syariat Islam, maka KB pun diperbolehkan.
Sedangkan menurut kalangan Islam fundamentalis—hasil sementara penelitian Rumah Kitab—berpendapat bahwa KB dilarang dalam pandangan Islam. Sebab-sebab yang bervariatif, di antaranya: (1). Sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa KB sama dengan membunuh anak, karena itu tidak diperbolehkan; (2). Sebagian mereka menganggap bahwa KB adalah konspirasi Yahudi yang ingin mengurangi jumlah penduduk yang beragama Islam.

Setelah waktu dikembalikan ke fasilitator, lalu acara terus berlangsung. Dari kalangan LSM memberikan kritik dan masukan kepada pihak pemerintah terkait dengan MDG’s dan upaya-upaya yang kongkrit demi terrealisasinya sebuah cita-cita mulia tersebut.

Ada beberapa kesimpulan yang telah dipetakan oleh fasilitator, Lies Marcoes, yakni pembangunan yang berbasis HAM (Hak Asasi Manusia). Semua persoalan seperti kekerasan rumah tangga, HIV atau AIDS dikembalikan pada basisnya, yaitu HAM (Hak Asasi Manusia).

Sudah barang tentu YKP dan bersama-sama dengan LSM yang hadir harus memiliki program lanjutan untuk merealisasikan langkah-langah tersebut, siapa dan melakukan apa dari pemetaan tersebut. Sebab semua yang telah dipetakan tersebut masih PR dan kita carikan jawabannya. [Mukti Ali].