Living Values Education (LVE) I

TANGGAL 26 November 2011 merupakan momen paling spesial bagi Rumah KitaB, karena pada saat itu lembaga di bawah asuhan Bapak Dr. H. Affandi Mochtar ini untuk pertama kalinya melakukan pertemuan dengan The Asia Foundation (TAF) dan Paramadina dalam rangka rencana kerjasama terkait Program Living Values Education. Dan secara kebetulan, atas amanah dari KEMENAG, Rumah KitaB pernah menyelenggarakan penelitian tentang Nilai-nilai Kebangsaan bekerjasama dengan UNISMA dan UNWAHAS, yang secara khusus membidik dunia pesantren.

Tujuan dari pertemuan tersebut sebetulnya ingin sharing pengalaman, karena memang terdapat kesamaan program yang dikerjakan TAF, Paramadina dan Rumah KitaB yang berkaitan dengan pesantren, yaitu bagaimana mengembangkan pendidikan karakter di pesantren.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh jajaran peneliti TAF dan Paramadina, dan beberapa peneliti dari Rumah KitaB. Dalam pengantarnya, Bapak Budhi Munawar-Rahman, selaku Program Officer di TAF, memberikan apresiasi atas jerih payah yang dilakukan oleh para peneliti Rumah KitaB sehingga menghasilkan laporan penelitian yang sangat mendalam. Dia berharap ada hal-hal yang bisa disinergikan antara TAF, Paramadina dan Rumah KitaB agar program kerjasama bisa berjalan dengan baik.

Selanjutnya, Bapak Budhi mengatakan bahwa Program Pembangunan Karakter sudah dikenal secara masif di masyarakat. Dari pengalaman TAF sendiri melakukan training-training di sekolah-sekolah, ditemukan bahwa banyak dari para guru atau bahkan kepala sekolah yang pernah mengikuti training-training tentang Pendidikan Karakter yang diselenggakan oleh DIKNAS. Dan TAF, setelah melakukan banyak training, telah berhasil membuat modul nilai yang mengacu kepada 12 nilai yang tertuang di dalam LVE. Hanya saja, Bapak Budhi masih mempertanyakan apakah KEMENAG juga mempunyai program serupa.

Salah seorang peneliti dari Paramadina, Bapak Taufik, mengatakan, bahwa Paramadina beserta mitra-mitranya, di antaranya PKPPN Jakarta, LKiS Jakarta, LSAF Jakarta, Sekolah Madania Parung, selama kurang lebih dua tahun belakangan telah mengadakan workshop tentang Living Values Education (LVE) di beberapa sekolah dan pesantren. Menurutnya, LVE bukanlah sebuah materi atau teori, melainkan sebuah pendekatan atau metodologi, karena aktivitas sehari-harinya adalah bagaimana para guru dan seluruh penanggung jawab di sekolah menghidupkan nilai-nilai luhur yang ada. Salah satu contoh yang dikemukakannya adalah tentang kebersihan. Kebersihan adalah sesuatu yang sangat elementer, namun dari hal ini justru akan timbul dampak yang sangat luar biasa bagi lancarnya proses pendidikan di sekolah. Di pesantren, paparnya, kerap ditemukan tulisan “al-nazhâfah min al-îmân” (kebersihan adalah sebagian dari iman). Namun kenyataannya, sampah-sampah, semisal plastik bekas makanan, masih tercecer di mana-mana. Ini menunjukkan bahwa “al-nazhâfah min al-îmân” hanya sebatas jargon, belum kepada implementasi. Dan dalam program LVE, nilai kebersihan, kejujuran dll., tidak hanya sekedar iklan, akan tetapi diupayakan semaksimal mungkin untuk menjadi “living” yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dan sejauh ini, program LVE telah mendapatkan sambutan yang luar biasa, baik dari para siswa, guru, dan para orang tua.

Pak Taufik melanjutkan, dalam LVE setiap siswa dipandang sudah memiliki potensi di dalam dirinya, tinggal bagaimana memancingnya. Artinya, LVE bukan untuk menanamkan nilai, melainkan menghidupkan sesuatu yang sudah ada namun terabaikan.

Pak Taufik kemudian bercerita tentang pengalaman Paramadina menyelenggarakan LVE. Menurutnya, Paramadina sendiri sebetulnya bukan lembaga yang dengan sendirinya mempunyai program LVE, akan tetapi seluruh penelitinya diikutsetakan dalam training selama 5 hari yang diselenggarakan di PPIM. Namun setelah training itu, mereka tidak serta merta menjadi trainer, terlebih dahulu mereka harus mengikuti program pendampingan semacam TOT (Trainer of trainer). Dan ini sangat penting sekali, agar tidak hanya menjadi knowledge of knowledge, tetapi menjadi sesuatu yang menyatu dengan jiwa mereka. Dalam program pendampingan itu, mereka selalu dilibatkan, dalam artian dilatih untuk men-training. Dan setelah tiga kali mengikuti program pendampingan tersebut, mereka kemudian diperbolehkan menjadi trainer, tetapi itupun mereka tidak sendirian, melainkan diawasi oleh seorang leader.

Selama ini, lanjut Pak Taufik, Paramadina hanya men-training para guru, belum sampai kepada para siswa dan orang tua siswa. Diharapkan para guru itu nantinya dapat menyampaikan dan menerapkannya dalam mendidik para siswa. Bahkan Paramadina pernah melakukan sosialisasi terhadap para dosen, dekan dan rektor di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Dan sambutannya pun sangat luar biasa, lebih karena pemerintah sendiri saat ini tengah menggalakkan program pendidikan karakter, meski hanya sebatas pada mata pelajaran agama. Tentu saja, ini berbeda dengan LVE yang bisa masuk kepada mata pelajaran manapun, tinggal bagaimana kemampuan para guru mengemasnya agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh para siswa.

Sebagai salah satu mitra kerjasama, Rumah KitaB diberi kesempatan untuk menyampaikan pengalaman dalam pelaksanaan penelitian mengenai Nilai-Nilai Kebangsaan di pesantren. Dalam paparannya, Pak Setyo HD, selaku Koordinator Program Rumah KitaB, mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Rumah KitaB berangkat dari sebuah keinginan bagaimana menemukan sumbangsih dari pesantren dalam mengatasi problem-problem kebangsaan. Jadi, sejak awal sudah ada asumsi bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami dekradasi karakter yang bermuara pada sistem pendidikan. Selain itu, Rumah KitaB juga mempunyai asumsi bahwa pesantren memiliki modal besar dalam melahirkan tokoh-tokoh yang terkenal dengan karakter kebangsaannya. Nah, untuk itu Rumah KitaB mencoba melakukan penelitian dengan dua sasaran utama: pertama, menggali dan menemukan best practice atau contoh-contoh terbaik pendidikan karakter di pesantren. Kedua, menggali nilai-nilai yang terkandung di dalam kitab kuning sebagai rujukan umum yang dipakai di pesantren, khususnya pesantren salaf.

Secara praktis, lanjut Pak Setyo, Rumah KitaB melakukan penelitian di 22 pesantren di berbagai provinsi di Indonesia, mulai dari Jawa Barat hingga Papua. Cara memilih pesantren-pesantren yang akan diteliti, pertama-pertama dengan membuat scaning kira-kira pesantren mana yang secara umum diketahui mempunyai kontribusi besar terhadap bangsa ini, misalnya dengan melihat tokoh-tokoh yang terlahir dari pesantren bersangkutan, atau dengan melihat berita-berita di media massa kira-kira pesantren mana yang terkenal sistem pendidikannya sehingga layak untuk diteliti. Dari sini, maka ditemukanlah beberapa pesantren, mulai dari pesantren Syaichona Cholil Bangkalan, Salafiyah-Syafi’iyah Situbondo, Tebuireng Jombang, Assa’diyah Sengkang, dan lain-lain.

Penelitian tersebut, menurut Pak Setyo, dilakukan dengan cara mewawancarai para kiyai, ustadz, santri, dan bahkan penduduk di sekitar pesantren, guna menggali pandangan-pandangan mereka terkait problem-problem kebangsaan dan isu-isu moral. Selain itu, juga melihat secara langsung bagaimana sistem pendidikan di pesantren. Dan kesimpulan para peneliti Rumah KitaB, bahwa pesantren-pesantren yang diteliti, yang keseluruhannya adalah pesantren salaf, itu mempunyai hal-hal yang sangat menggembirakan dalam berbagai aspek karakter, khususnya karakter kebangsaan. Misalnya begini, saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis dalam soal visi kebangsaan. Sebagian orang cenderung ingin menawarkan format baru terkait hal tersebut. Dan ternyata, pesantren-pesantren yang diteliti itu rata-rata sangat setia terhadap NKRI. Meskipun memang tidak satu warna, karena setiap pesantren memiliki karakternya masing-masing.

Apa yang disampaikan oleh Pak Budhi, Pak Taufik dan Pak Setyo, adalah pengalaman masing-masing lembaga. Untuk itu, agar pertemuan tersebut membuahkan sesuatu yang konkret, maka dibuatlah kesepakatan-kesepatakan program sebagai berikut: (1). Rumah KitaB bisa menjadi salah satu mitra baru TAF dan Paramadina, yang nantinya diharapkan dapat mempelajari LVE secara baik dengan wilayah pendidikan di pesantren-pesantren Cirebon sebagai basis para anggota Rumah KitaB. Para peneliti Rumah KitaB nantinya akan mendapatkan training-training LVE yang difasilitasi oleh TAF dan Paramadina, hingga kemudian mereka bisa melakukan sendiri; (2). Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti Rumah KitaB bisa memeras sendiri nilai-nilai pesantren untuk diinsersikan ke dalam 12 nilai yang terdapat dalam modul LVE. Maksudnya, kira-kira nilai-nilai apa saja yang menurut para peneliti Rumah KitaB sangat penting dan mendasar yang di dalam 12 nilai LVE tidak ada, dan nanti bisa dimasukkan. Bukan hanya memasukkan, malah justru akan memperkaya. Boleh jadi nilai LVE dan nilai-nilai yang ditemukan oleh nilai-nilai boleh sama, namun para peneliti Rumah KitaB bisa memasukkan muatan-muatan lokal. Dua hal inilah yang paling mungkin bisa dilakukan dari segi waktu dan biaya kerjasama antara TAF, Paramadina dan Rumah KitaB. [Roland Gunawan].