Fikih Kawin Anak

Fikih Kawin AnakJudul
Fikih Kawin Anak: Membaca Ulang Teks Keagamaan Perkawinan Usia Anak-Anak

Jenis Publikasi
Buku

Penulis
Mukti Ali
Roland Gunawan
Ahmad Hilmi
Jamaluddin Mohammad

Editor
Lies Marcoes
Roland Gunawan

Penerbit
Yayasan Rumah Kita Bersama atas dukungan Ford Foundation dan Oslo Coalition

Tahun
2015

Buku ini merupakan hasil penelitian berbagai teks keagamaan, yakni Al-Qur’an dan Hadits, yang selama ini banyak digunakan untuk menjustifikasi dukungan praktik perkawinan anak. Kajian buku ini mengiringi penelitian lapangan praktik perkawinan anak, peran kelembagaan, dan tafsir keagamaan yang diselenggarakan di 9 wilayah.

Fikih Kawin Anak mengupas dan membedah berbagai teks keagamaan yang selama ini disalahtafsirkan dan digunakan untuk melegalkan praktik perkawinan anak. Buku ini menyanggah pendapat dan pandangan para penganjur kawin anak dengan meyodorkan argumentasi Al-Qur’an dan hadits dengan menggunakan metodologi pembacaan teks maqashid syariah, ushul fiqh dan gender. Dengan ketiga pisau analisis ini, tim penulis Rumah KitaB berusaha membangun argumentasi yang kokoh atas berbagai teks keagamaan guna menolak penafsiran yang selama ini diarahkan untuk melegalkan praktik kawin anak dan banyak menyumbang pada buruknya status kesehatan, sosial, dan ekonomi perempuan.

Buku ini berusaha mendudukkan kembali pemahaman umat Islam terhadap tujuan kemaslahatan syariat di balik pernikahan yang selalu mengupayakan kesejahteraan dan kesetaraan dalam setiap tuntunannya terhadap laki-laki dan perempuan dalam bingkai rumah tangga. Buku ini juga membahas kajian teks-teks keagamaan yang menjunjung tinggi azas kemanusiaan (maqȃshid syarȋah) dalam urusan perkawinan dan meluruskan pemahaman-pemahaman subjektif yang bias gender dan tidak mengakomodir kepentingan masa depan anak-anak perempuan.

“Kebutuhan akan wacana yang berbeda tentang perkawinan anak kami anggap penting karena upaya-upaya rasional lain yang dilakukan sering berbenturan dengan teks keagamaan yang seolah-olah membenarkan perkawinan anak. UU Perkawinan seperti mati angin ketika diperhadapkan dengan pandangan yang bersumber dari hadits-hadits yang membenarkan perkawinan anak. Lebih menyebalkan, karena tanpa konteks mereka menggunakan dalil perkawinan Aisyah dan Nabi Muhammad saw. yang kala itu, konon, Aisyah tercatat masih anak-anak. Untuk alasan itulah Rumah Kita Bersama melakukan kajian lebih dalam tentang bagaimana teks keagamaan bicara soal perkawinan anak.” –Lies Marcoes-Natsir, M.A. – Direktur Yayasan Rumah Kita Bersama

“Buku yang tengah Anda pegang ini memberi penjelasan yang cukup menyeluruh mengenai teks dan konteks problematika perkawinan usia dini. Lewat buku ini pertama-tama kita akan dibawa masuk dalam pembahasan bagaimana membaca dan memahami teks keagamaan secara kontekstual sebelum menyentuh tema utama mengenai perkawinan usia dini. Kehadiran buku ini melegakan saya. Kajian hukum Islam yang dinamis, yang tidak semata-mata tekstual tetapi juga kontekstual, masih terus berlangsung dan tersaji di sini.” – Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM., M.A. (Hons), Ph.D., School of Law, University of Wollongong, Australia dan Rais Syuriah, PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand

“Upaya-upaya ke arah meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan, termasuk di dalamnya peningkatan usia pernikahan, menjadi sangat penting, bahkan menentukan bagi kemaslahatan atau kesejahteraan bangsa dan umat manusia di masa depan. Selain itu, upaya-upaya ke arah perbaikan cara pandang terhadap teks-teks keagamaan yang tidak menciptakan kemaslahatan bagi manusia, sangatlah signifikan. Maka, buku “Fikih Kawin Anak, Membaca Ulang Teks Keagamaan Perkawinan Usia Anak-Anak” ini menjadi penting untuk dibaca bukan hanya sebagai bahan perenungan, melainkan juga bagi upaya mewujudkan kesehatan reproduksi, hak-hak kemanusiaan perempuan dan kemaslahatan secara lebih luas.” – K.H. Husein Muhammad – Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, Cirebon

 

Untuk pemesanan buku hubungi:
Email: official@rumahkitab.com
Facebook/Twitter: Rumah Kitab/@rumah_kitaB

Leave A Reply:

(optional field)

No comments yet.