Kitab Fadhâ`il al-Qur`ân

Ahmad Yasin bin Asymuni al-Jaruni, Fadhâ`il al-Qur`ân, 30 halaman, diterbitkan dan dimaknai versi pesantren oleh al-Ma’had al-Islami as-Salafi Hidayatuth Thullab Pondok Pesantren Petuk, Kec. Semen, Kab. Kediri; didapatkan di Pesantren Petuk.

Kitab ini ringkasan dari kitab al-Tidzkâr fî Fadhâ`il al-Adzkâr min al-Qur`ân al-Karîm karya Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad al-Qurthubi, seorang penafsir al-Qur`an yang terkenal, yang dipadukan dengan kitab “Khazînat-u al-Asrâr” karya Sayyid Muhammad Haqqi al-Nazili.

Secara khusus, kitab ini menjelaskan keutamaan dan keagungan al-Qur`an; membaca al-Qur`an bisa membuka pintu-pintu langit dan tercipta pentilasi yang dari dalam langit-langit keagungan Tuhan telah mengeluarkan sepoi-sepoi angin keberkahan yang menghampiri pembaca dengan kesejukan dan kesegarannya. Al-Qur`an adalah kitab suci yang mengajarkan tentang keluhuran budi.

Dikatakan bahwa membaca al-Qur`an adalah dzikir yang paling utama dari dzikir-dzikir yang lainnya. Sebab, al-Qur`an adalah kitab yang berisi sabda-sabda Allah yang maha suci dan sakral. Anjuran menghafal al-Qur`an sehingga melahirkan generasi-generasi pengahafal al-Qur`an yang mumpuni dan dapat mempertahankan eksistensi al-Qur`an.

Kitab ini juga menjelaskan etika yang baik dalam cara mengambil, membawa dan membaca al-Qur`an. Seperti etika mengambil al-Qur`an baiknya dengan kedua tangan, atau paling tidak dengan menggunakan tangan kanan, tidak baik menggunakan tangan kiri. [Mukti Ali el-Qum]