Berlayar Tanpa Berlabuh

Berlayar Tanpa BerlabuhJudul
Berlayar Tanpa Berlabuh:   Perempuan dan Pengungsi Rohingnya di Makassar dan Aceh, Indonesia

Penulis
Lies Marcoes

Fotografer
Aan M. Anshar
Armin Hari
Morenk Beladro

Penerbit
Yayasan Rumah Kita Bersama

Tahun
2016

Bahasa
Indonesia

Jumlah halaman
68 halaman

Dengan mengambil judul “Berlayar tanpa Berlabuh” buku foto esai ini menggambarkan perjalanan penuh risiko yang ditempuh para pengungsi Rohingya. Ini merupakan sebuah penggambaran umum bagi setiap orang Rohingya yang berangkat tanpa kepastian di mana dan kapan akan berlabuh. Namun dari sudut pandang perempuan, “Berlayar Tanpa Berlabuh” juga berarti sebuah pertaruhan antara hidup mati yang mereka gantungkan pada seutas tali hubungan sosial dan gender kepada para lelaki di sekitarnya. Situasi itu mendesak dan memaksa mereka untuk ikut bertaruh nyawa. Dengan mengungsi, mereka meninggalkan masa lampau kepastian tentang masa depan. Semuanya mereka tempuh dengan ketergantungan berlipat ganda kepada perahu kehidupan yang tidak mereka kendalikan sendiri. Jadi tak hanya berlayar tanpa berlabuh, bagi perempuan nyawa mereka bergantung kepada sauh rapuh yang talinya dikendalikan dan dikuasi para lelaki di sekelilingnya.

Dan inilah hasilnya. Sebuah buku sederhana, semacam pengantar bagi para pemula yang berminat pada persoalan pengungsi dilihat dengan perspektif gender. Penelitian ini berusaha menutup lubang dalam memahami isu perempuan di pengungsian sekaligus membuka mata mengapa dan bagaimana mestinya pendekatan yang ramah kepada kebutuhan perempuan pengungsi dilakukan. Dalam kata lain, bagaimana memenuhi hak-hak dasar mereka sebagai manusia dapat tetap terpenuhi dalam status mereka sebagai perempuan pengungsi.

Dari pengalaman menangani para pengungsi di satu pihak, dan bekal kebudayaan yang terbuka kepada para pendatang di pihak lain, Indonesia seharusnya dapat memetik pembelajaran bagaimana menangani pengungsi dengan benar. Di titik ini Indonesia harus mampu menjadi negara perantara yang pintar bernegosiasi. Sebab tanpa itu, kita hanya akan membuat para pengungsi utamanya perempuan laksana berlayar tanpa kemudi, berlayar tanpa berlabuh.

Leave A Reply:

(optional field)

No comments yet.