Membebaskan Fikih Dari Asimetrisme: Sebuah Catatan

Oleh Nur Hayati Aida

Pandangan teologis, utamanya fikih, kata Ibu Lies Marcoes, selama ini terbangun dari hubungan asimetris antara laki-laki dan perempuan. Di mana relasi keduanya tak imbang atau genjang. Relasi ini ternyata dianggap sebagai sesuatu yang tetap dan tak bisa berubah atau qath’i oleh sebagian orang, termasuk di dalamnya adalah fukaha. Banyak orang yang beranggapan bahwa hukum Islam adalah apa yang tercantum dalam fikih. Padahal, menurut Gus Ulil Abshar Abdalla, hukum Islam bukan hanya apa yang tercantum dalam (kitab-kitab) fikih, tetapi fikih adalah part of the big picture.

Laki-laki yang selama ini menjadi pusat pembuat hukum, menikmati kemewahan dalam berbagai hal, di antaranya dalam persoalan wilayah dan qiwamah. Proses pemberian kemewahan pada laki-laki ini, menurut Kiai Husein Muhammad, bukan hanya semata-mata sebagai bentuk pelimpahan hak berdasarkan jenis kelamin karena nasab atau relasi yang timbul atas terjadinya perkara hukum, misalnya pernikahan. Melainkan lebih pada tanggungjawab dan melindungi hak anak atau istri.

Sayangnya, pembacaan semacam ini kurang popular dalam masyarakat. Fikih yang kita nikmati saat ini, tutur Kiai Husein Muhammad, adalah produk kebudayaan abad pertengahan Arabia. Sepeninggal Nabi Muhammad, nyaris semua yang ada adalah penafsiran. Sedangkan penafsiran erat kaitannya dengan ruang dan waktu, sehingga tafisran atas teks-teks agama, pun dengan (tafsiran) hadis Nabi, adalah produk dari budaya.

Untuk mencapai pembacaan teks agama yang adil untuk perempuan dan laki-laki diperlukan sebuah metodologi baru. Sebuah metode yang ramah dan sensitif pada perempuan, sehingga mampu membaca kebutuhan yang khas perempuan yang selama ini tertutupi oleh keperkasaan teks yang misoginis. Meski, tentu saja, upaya ini tak jarang dituduh sebagai agenda Barat dan mempromosikan immoralitas. Lenna Larsen, seorang peneliti Norwegian Center of Human Rights – University of Oslo, menyebutkan bahwa pendekatan egalitarian seperti ini bukanlah mempromosikan imoralitas, tapi untuk melindungi keluarga, terutama untuk anak dan istri yang rentan terhadap perlakuan tidak adil.

Upaya untuk melakukan rekonstruksi atau dekonstruksi penafsiran pada teks-teks tidaklah mudah. Selama berabad-abad lamanya penafsiran dan pemikiran teologis telah mengalami sakralisasi. Butuh investasi waktu dan pemikiran yang tak sedikit dalam hal ini. Namun, tentu ini bukan berarti mustahil.

Satu di antara ikhtiarnya telah dilakukan oleh Rumah KitaB dengan diterbitkannya buku ‘Fikih Perwalian: Membaca Ulang Hak Perwalian Untuk Perlindungan Perempuan dari Kawin Paksa dan Kawin Anak. Buku yang diproduksi oleh Rumah KitaB ini dinilai penting oleh Bapak Muhammad Noor, Hakim Yustisial Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung RI, karena bisa digunakan sebagai rujukan oleh para hakim dan pendamping komunitas yang selama ini menangani kasus hukum keluarga, utamanya kawin anak dan kawin paksa.

 

 

 

 

WALI NIKAH

Oleh: Dr. (HC). Husein Muhammad

Secara umum kata “wali” dalam bahasa Arab mengandung sejumlah makna. Antara lain : orang yang menyayangi, orang yang melindungi, orang yang mengurusi urusan orang lain, orang yang bertanggungjawab atasnya, orang yang mempunyai kekuasaan, dan sejenisnya.

 

Dalam konteks Nikah, Wali menurut pandangan para ahli Islam adalah orang yang bertindak melaksanakan secara langsung akad nikah bagi orang lain. Lalu siapakah dia?. Sepanjang sejarah di negeri ini bahkan di banyak negara Islam, wali adalah harus seorang laki-laki. Perempuan tidak bisa/boleh menjadi wali atas dirinya sendiri atau atas orang lain. Pikiran dasar pandangan ini adalah bahwa laki-laki itu “Ahliyah al-Tasharruf” sementara perempuan itu “Naqish al-Ahliyyah” atau “al-Qashir”. Manusia yang kurang cakap bertindak hukum dan dibawah tanggungan orang lain.

 

Wali adalah ayah, kakek atau kerabat dekat (nasab) dari perempuan itu. Bila mereka tidak ada atau tidak bisa karena alasan tertentu, maka fungsi wali dialihkan kepada pemerintah (naib KUA). Ini yang disebut wali hakim.

 

Dalam mazhab fiqh ada istilah “wali mujbir”. Ia adalah ayah atau kakek seorang perempuan. Dalam banyak pandangan, wali mujbir berhak menikahkan anak perempuannya meski tanpa persetujuan eksplisit dari anaknya. Ini membawa persepsi public  bahwa ayah/kakek berhak memaksa anak perempuanya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, bukan pilihan putrinya itu. Bahkan kadang terjadi ayah telah menikahkan putrinya, tanpa sepengetahuan si anak. Anak perempuan itu baru diberitahu atas pernikahan itu sesudahnya. Tindakan ini berbeda dengan pernyataan Nabi saw : “untuk gadis hendaklah diminta izinnya, dan untuk janda diminta perintahnya. Izin si gadis (paling tidak) adalah sikap pasifnya”.

 

Seperti ditulis dalam buku-buku fiqh Syafi’i, wali mujbir bisa menikahkan anak perempuannya, meskipun tanpa persetujuan eksplisit sang anak, hanya jika terpenuhi empat  syarat : si anak tidak memperlihatkan penolakan verbal maupun ekspresif, terhadap ayahnya, tidak ada penolakan tegas dan ekspresif terhadap calon suaminya, calon suami sepadan (kufu) dan mas kawinnya (mahar) layak untuk status social dirinya.

 

Jika demikian, maka “Ijbar” bukanlah “Ikrah”. Dua kata ini sering diterjemahkan sama : memaksa. Tetapi konotasinya sesungguhnya berbeda. Ikrah merupakan pemaksaan tanpa kerelaan yang perempuan. Sedang “Ijbar” melakukan suatu tindakan atas nama orang lain (perempuan) tanpa penolakan. Ijbar dilakukan atas dasar tanggungjawab.

 

Pandangan Lain 

Jika kita menelusuri khazanah hukum dalam masyarakat Islam, perempuan tidak boleh melakukan sendiri akad nikahnya sesungguhnya bukanlah pandangan satu-satunya. Secara singkat berikut ini adalah beragam pandangan ulama ahli fiqh tentang isu ini :

1. Nikah yang Ijabnya dilakukan oleh perempuan, adalah sah jika dia telah “dewasa”, (al-Rasyidah). Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf, Zufar, Auza’i, Muhamnad bin Hasan dan Imam Malik dlm riwayat Ibn Qasim.

2. Ia sah jika ada izin/restu Wali: Ibnu Sirin, Qasim bin Muhammad, dan Ahmad bin Hambal menurut qaul mukharraj.

3. Sama dengan no. 2 dengan catatan (syarat) izin wali diperoleh sebelum akad

4. Nikah tanpa wali adalah sah, jika sekufu. Ini pendapat Al-Sya’bi dan al-Zuhri

5. Sah bagi janda. Tidak bagi gadis. Ini pendapat Daud Zhahiri

6. Tidak sah baik gadis maupun janda, kufu maupun tidak. Ini adalah pandangan Imam Al-Syafi’i, Imam Malik riwayat Asyhab, ibn Syubrumah, Ibn Abi Laila, Sufyan Tsauri, Ishak bin Rahawaih, dan Ibn Hazm. Inilah pandangan mayoritas. (Baca: “Nikah, Rujuk, Talak”, karya Prof. K.H. Ibrahim Hosen).

Seluruh pandangan ini mengambil dasar legitimasinya dari Al-Qur’an dan Hadits, tetapi dengan cara analisis yang berbeda-beda.

 

Memilih adalah hak kolektif, Menentukan adalah hak personal

Pandangan fiqh mayoritas di atas boleh jadi tidak menyimpan problem dalam system social masa lalu. Yakni zaman ketika suara dan ekspresi perempuan dibatasi oleh struktur social, budaya dan politik yang disebut patriarkhisme. Perempuan dalam system ini sulit atau tabu mengemukakan kehendak atau tidak berkehendaknya secara verbal dan ekspresif. Jika pun dia ditawari menikah dengan pilihan ayanya, dia hanya diam jika tidak merasa keberatan. Diam adalah ekspresi minimal persetujuan perempuan. Tetapi kebudayaan manusia senantiasa berkembang dan berubah. Hari ini akses pendidikan dan aktualisasi diri perempuan semakin terbuka. Maka kita melihat tidak sedikit perempuan yang cerdas dan berani mengungkapkan kehendaknya, baik dalam mengapresiasi maupun menolak suatu pandangan dan kehendak orang lain, termasuk orang tuanya. Pikiran perempuan tidak selalu lebih bodoh daripada pikiran laki-laki, bahkan kadang lebih cerdas dan jitu.

 

Realitas sosial seperti ini seharusnya membuka mata hati dan pikiran orang tua untuk mengambil sikap yang lebih relevan dan kontekstual.  Sebagai seorang wali, orang tua, tentu berhak untuk mencarikan atau menawarkan pasangan hidup yang menurut dirinya bisa membahagiakan anaknya. Ini sebagai bentuk tanggungjawab atas masa depan anaknya.  Dalam waktu yang sama anak juga mempunyai hak yang sama untuk hal itu. Ketika pilihan keduanya berseberangan, maka sepatutnya kehendak anak lebih dipertimbangkan.

 

Menikah adalah hak setiap orang, laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, menikah menjadi “sunnah”, dianjurkan, manakala dia sudah berhasrat dan siap. Ia adalah fase krusial bagi perjalanan hidupnya di masa depan. Karena itu dia tentu akan berfikir keras dalam memilih pasangan hidupnya yang akan membahagiakannya. Perempuan dewasa, apalagi terpelajar, tentu dapat atau bisa memilih apa yang baik dan apa yang buruk. Maka memilih pasangan hidup seyogyanya lebih banyak diberikan sekaligus ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain.

 

Tanggungjawab itu sendirian 

Pengalaman hidup kita menunjukkan dengan pasti bahwa manakala seseorang telah membentuk rumah tangga, dia akan menjalani hidup bersama pasangannya, dan dia akan bertanggungjawab atas hidup bersama pilihannya itu dalam suka maupun duka. Sebagai seorang wali, orang tua, memang punya tanggungjawab moral; memberikan nasehat, pertolongan manakala diperlukan dan mendo’akan bagi kebahagiaan anaknya selamanya. Dalam waktu yang sama, secara moral pula, anak dituntut mempertimbangkan apa yang baik dan patut dari pandangan orang tuanya. Kesalingan saling mengapresiasi pikiran, rasa dan kehendak adalah penting. Tetapi menentukan nasib hidup atas diri adalah sendiri-sendiri. Dengan kata lain : memilih adalah hak kolektif, tetapi menentukan adalah hak personal. Ada semboyan : “The Personal is Political”. Islam, juga menyebutkan tanggungjawab individual ini.

 

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“

Dan setiap orang akan datang kepada-Nya pada hari Qiyamat, sendiri-sendiri” (Q.S. [19]: 95).  Para ahli tafsir menjelaskan bahwa setiap manusia akan menghadap Tuhan sendirian saja, tanpa penolong siapapun dan apapun.

Lihat pula Q.S.  [39]:7:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“dan seorang tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu”.

 

Khalil Gibran menulis puisi cerdas dan indah  :

Anakmu bukanlah anakmu

dia anak kehidupan yang merindui dirinya sendiri

Dia terlahir melaluimu tapi bukan darimu

Meski dia bersamamu tapi dia bukan milikmu

Kau bisa bikinkan rumah untuk tubuhnya tapi bukan jiwanya

Jiwa adalah penghuni rumah masa depannya

yang tak bisa kau kunjungi, meski dalam mimpi.

 

Puisi itu mengingatkan kita pada kata bijak Socrates :

لا تكرهوا اولادكم بعاداتكم فانهم خلقوا لزمان غير زمانكم.

“Jangan kau paksa anak-anakmu ikut tradisimu. Mereka diciptakan Tuhan untuk suatu zaman, bukan zamanmu”.

Redaksi lain menyebut : لا تكرهوا اولادكم على اثاركم فانهم مخلوقون فى زمان غير زمانكم

 

Demikian.  Cirebon, 24.06.19Husein Muhammad

 

Tulisan ini dipresentasikan dalam acara launching buku “Fikih Perwalian” di Wahid Institute, Jakarta, 25 Juni 2019.

 

Fikih Perwalian: Membaca Ulang Hak Perwalian untuk Perlindungan Perempuan dari Kawin Paksa dan Kawin Anak

Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) atas dukungan Oslo Coalition menginisiasi kajian teks selama 10 bulan dengan 8 kali putaran diskusi mengenai wilâyah dan qiwâmah. Inisiatif ini muncul setelah menyadari bahwa kajian-kajian Islam kontemporer semakin memperkuat bangunan konsep wilâyah dan qiwâmah yang melahirkan asimetrisme relasi antara laki-laki dan perempuan. Hasil kajian ini kemudian dituangkan menjadi buku “Fikih Perwalian: Membaca Ulang Hak Perwalian untuk Perlindungan Perempuan dari Kawin Paksa dan Kawin Anak.” Kajian dilakukan karena hampir semua argumen keagamaan fikih yang terkait dengan praktik perkawinan anak berpusat kepada hak ayah (wilâyah), sementara yang terkait dengan fungsi perlindungan berpusat kepada lelaki dalam perannya sebagai suami (qiwâmah).

Dalam kajian wilâyah dan qiwâmah ini Tim Rumah KitaB mendasarkan argumennya pada al-Qur`an, hadits, karya-karya para ulama dengan menggunakan metodologi pembacaan teks maqâshid al-syarî’ah, ushul fiqh dan gender. Dengan ketiga pisau analisis ini, argumentasi yang kokoh dibangun guna menolak penafsiran yang selama ini diarahkan untuk memperkokoh asimetrisme relasi laki-laki dan perempuan yang banyak menyumbang pada buruknya status sosial, ekonomi, dan politik perempuan.

Buku ini berusaha mendudukkan pemahaman umat Muslim dan sumbangan dari pengalaman Islam d Indonesia terhadap tujuan kemaslahatan syariat dalam masalah hak ijbâr orangtua (ayah) atau wali mujbir dalam perkawinan dan meluruskan pemahaman-pemahaman subyektif bias gender yang tidak mempertimbangkan kepentingan masa depan anak-anak perempuan.

Sejumlah inovasi telah dilakukan para ulama, ahli fikih dan hakim agama dari Indonesia dalam mengatasi asimetrisme terdapat dalam buku ini seperti  Prof. Dr. Teungku H. Mohammad Hasbi Ash-Shiddiqiy, Prof. Dr. Mr. Hazairin Harahap, S.H., Dr. (HC). KH. Sahal Mahfudz, dan Dr. H. Andi Syamsu Alam, S.H., M.H.  Upaya serupa juga dilakukan oleh para ulama modern seperti Rifa’at Rafi’ Al-Thahthawi (Mesir), Thahir Al-Haddad (Tunis), Muhammad Abduh (Mesir), dan Qasim Amin (Mesir). Intinya dalah mereka berusaha mengkontekskan perubahan sosial dengan teks agar teks tetap relevan mengatasi asismetrisme hubungan gender dalam keluarga.

Rumah KitaB Luncurkan Buku Fikih Perwalian, Bahas Qiwamah

Jakarta, Gatra.com – Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) meluncurkan buku bertajuk “Fikih Perwalian” yang didukung oleh Oslo Coalition. Buku ini merupakan hasil dari kajian teks selama 10 bulan dengan 8 kali putaran diskusi mengenai wilayah (Perwalian) dan qiwamah (Perlindungan perempuan dan anak).

“Saya sangat senang berada disini, dan saya juga ingin menyampaikan bahwa isu ini sangat menarik untuk dikaji. Kajian yang dilakukan berdasarkan realita sosial, dan berkesinambungan dengan kondisi di Indonesia,” jelas Dr. Lena Larsen sebagai perwakilan dari Oslo Coalition saat Launching dan Diskusi Buku “Fikih Perwalian” di Aula The Wahid Institute, Jakarta, Selasa (25/6).

Buku ini berusaha mendudukkan pemahaman umat muslim terhadap tujuan kemaslahatan syariat terkait masalah hak ijbar orangtua (ayah) atau wali mujbir dalam perkawinan, serta meluruskan pemahaman-pemahaman subyektif bias gender yang tidak mempertimbangkan kepentingan masa depan anak-anak perempuan.

Nursyahbani Katjasungkana dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Apik serta Hakim Yustisial Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung RI, Muhammad Noor juga hadir dalam peluncuran buku. Menurut Nursyahban, buku Fikih Perwalian membahas juga Undang-Undang Perkawinan serta implementasinya di Indonesia.

“Perwalian dalam hukum Islam, sangat berbeda dengan konsep perwalian yang ada di dalam kitab UU Hukum Perdata dan juga UU Perkawinan. UU perkawinan itu sendiri tidak mengacu pada hukum internasional,” jelasnya dalam

Menurut Muhammad Noor, buku ini mampu memberikan gambaran metodologis mengenai penafsiran yang dilakukan. Kajian dalam buku bisa digunakan untuk argumentasi dalam membuat pertimbangan putusan.

“Saya harap kedepannya kajian atau penafsiran yang dilakukan dapat lebih mencakup pada tataran sistematis, meskipun penafsiran yang dilakukan saat ini masih di tingkat gramatikal, namun isi dari buku ini sangat membantu dalam membuat pertimbangan putusan,” ujar dia.


Reporter: Anjasmara Rianto
Editor: Wem Fernandez
Sumber: https://www.gatra.com/detail/news/424145/millennials/rumah-kitab-luncurkan-buku-fikih-perwalian-bahas-qiwamah

Jadi, kenapa Anda memilih Iqbal?

Oleh Nurhayati Aida

Saya memberikan penekanan dan penjelasan yang kurang bisa diterima oleh penanya. Banyak sekali catatan yang saya terima dari jawaban mengapa Iqbal menjadi pilihan saya, bahkan salah satu dari penanya tak mau tahu akan hal itu, dengan beberapa catatan saya diharuskan merombak semua yang saya ajukan. Itu bukan akhir, itu adalah awal. Saya kemudian secara informal bertemu dengan dua penanya pertanyaan mengapa saya memilih Iqbal, berdiskusi dan menjelaskan apa yang saya inginkan dalam memilih Iqbal.

Saya diizinkan untuk memilih Iqbal.

Enam atau tujuh tahun sebelum pertanyaan itu mampir ke saya.

Entah dalam rangka apa kaki saya melangkah ke Pasar Senen. Sewaktu berjalan menyusuri jalanan sempit di barisan toko buku bekas itu, kaki saya berhenti melangkah. Dan diri ini berdiri mematung –karena kaki berhenti melangkah– sambil mata memperhatikan dengan seksama judul-judul buku yang digelar apa adanya di selasar pasar.

“Ayo-ayo, sepuluh ribuan. Dipilih-dipilih” teriak lelaki setengah abad yang duduk agak jauh dari lapak

Sepuluh ribu? Saya membatin. Sepertinya itu adalah sinyal yang ditangkap bagus oleh otak saya, yang kemudian diinstruksikan secara spontan pada kaki untuk berhenti.

Hanya dua buku yang mampu saya bawa pulang, yang artinya juga adalah dua puluh ribu uang jajan minggu itu terpangkas. Dua buku itu adalah buku yang diterbitkan bahkan sebelum saya lahir. Saya membeli buku lawas. Buku pertama berjudul Membangun Alam pikiran Islam milik Muhammad Iqbal yang diterjemahkan Osman Ralibi, dan yang kedua adalah Snouck Hurgronje dan Islam yang ditulis oleh P. SJ. Van Koningsveld.

Salah satu dari dua buku itu selanjutnya membawa saya pada serangkaian peristiwa hidup. Satu tahapan di mana Tuhan mengalirkan episode hidup, di mana saya berdiri sekarang.

Jadi, apa istimewa Iqbal?

Iqbal melalui gagasannya telah membawa Pakistan untuk membentuk negaranya sendiri. Tapi lebih dari itu, pengaruh Iqbal-lah yang membuat dia istimewa. Iqbal mampu menggerakkan masyarakat Muslim waktu itu untuk berbuat sesuatu, dan itu didasari atas keyakinan atas Tuhan. Tuhan, menurut Iqbal, dalam pandangan saya, telah dijadikan sebagai hasrat purba, bahwa Tuhanlah yang menjadi gerak langkah manusia. Tapi ini bukan panteisme. Bukan. Lebih jauh lagi.

Dua tahun sebelum pertanyaan mengapa memilih Iqbal.

Setumpuk buku ada di meja kerja saya, dikirim oleh seorang teman yang bahkan saya tak pernah bertemu atau berdiskusi serius dengannya. Tapi, dengan kemurahannya ia mengirim semua buku koleksinya tentang Iqbal ke saya. Tanpa meminta ganti uang foto kopi atau biaya kirim. Semua gratis.

Teman ini dikenalkan oleh sahabat saya yang bernama Inab. Melalui Inab-lah, saya dan teman baik hati itu bisa berkomunikasi.

Satu di antara buku yang dikirim adalah buku Iqbal yang berjudul Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam yang diterjemahkan oleh tiga orang yaitu Ali Audah, Gunawan Mohammad, Taufik Ismail yang diterbitkan oleh Jalasutra.

Jadi, apakah (pemikiran) Iqbal itu penting?

Penting sekali. Selama hampir lima ratus tahun pemikiran Islam telah mandek, tidak bergerak. Itu dikemukakan Iqbal saat mengatakan bahwa saat ini kita butuh merekonstruksi pemikiran Islam. Pemikiran (agama) Islam seharusnya mampu mendorong pemeluknya untuk terus melakukan sesuatu dan bergerak lebih maju, tapi kenyataannya adalah adanya kejumudan saat itu. Pasti ada yang salah dengan pemahaman kita mengenai (pemikiran) agama. Kita butuh sesuatu yang baru, sesuatu yang mampu membawa kita berjalan ke depan namun tetap bersama Tuhan. Tauhid dan ijtihad menjadi jawabannya. Dengan tauhid, dengan Tuhan bersama langkah kaki, usaha tangan, upaya akal, kasih, dan intuisi, manusia (seharusnya) mampu bergerak lebih lebih banyak. Karena Tuhan yang membersamai manusia tak pernah berhenti untuk terus-menerus melakukan sesuatu yang baru setiap saat. Dan respons terhadap perbuatan Tuhan itu adalah ijtihad, yaitu usaha.

Tuhan adalah hasrat purba manusia.

Satu bulan dua puluh tujuh hari sebelum pertanyaan mengapa memilih Iqbal dilemparkan ke saya.

Hampir seminggu lamanya saya menunggu kiriman buku yang saya beli via online. Buku itu berjudul Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam karya Iqbal yang diterbitkan Mizan dan diterjemahkan oleh Hawasi dan Musa Kazhim.

Lengkap sudah. Saya memiliki tiga versi bahasa Inndonesia buku Iqbal yang berjudul asli The Reconstruction of Religious Thought in Islam, sebuah buku yang berisi tujuh kumpulan makalah yang ditulis Iqbal.

Satu judul buku dengan tiga versi terjemahan berbeda boleh jadi adalah buku yang banyak banyak saya baca. Maksudnya adalah buku yang saya baca berkali-kali. Setiap kali saya tak bisa memahami isinya, saya lalu mengulangnya dengan membaca basmalah atau istighfar. Saking susahnya memahami buku tersebut saya sampai membatin. Jangan-jangan hati dan pikiran saya adalah jendela yang tertutup, ilmu yang serupa cahaya itu tak bisa masuk karena hati saya kotor.

Jadi, kenapa Anda memilih Iqbal?

Iqbal itu percaya atas keunikan masing-masing diri, tak ada satupun di antara diri-diri yang lain yang sama. Untuk tawa atau tangisnya, untuk bahagia atau sedihnya, untuk jenuh atau semangatnya. Meski ada satu kejadian yang membuat dua orang bahagia, niscaya kebahagiaan satu dengan yang lainnya tak pernah sama. Ekstrimnya bahkan Tuhan pun takkan mampu merasakannya. Ini saking uniknya setiap diri, saking spesialnya diri. Oleh karenanya, Tuhan menghisab setiap diri per individu karena setiap kita adalah unik, orisinil, dan spesial. Tak ada dosa kelompok atau sosial, ia murni tanggungjawab pribadi, tak ada yang bisa dipikul bersama.

Saya suka mengutip puisi Rumi ini, dan saya kira Iqbal terpengaruh juga oleh Rumi saat membahas keunikan diri.

Ini jalanmu | dan jalanmu saja | orang lain bisa berjalan bersamamu | tapi tidak ada yang bisa menjalaninya untukmu

Buku yang saya beli sepuluh ribu rupiah itu mengantarkan saya untuk menuntaskan tugas akhir yang hampir dua tahun lamanya mangkrak.


Catatan ditulis pada bulan Oktober 2016

Imam Perempuan

Oleh Nur Hayati Aida

 

Ketika peristiwa itu berlangsung, kemungkinan besar saya masih duduk di bangku sekolah di salah satu desa di Jawa Tengah. Di mana seorang profesor perempuan keturunan Afro-Amerika yang menjadi guru besar di Virginia Commenwealth University mengimami shalat Jumat dengan makmum laki-laki dan perempuan. Peristiwa itu dilaksanakan di sebuah (ruangan) katedral yang berada di Amerika Serikat.

Peristiwa itu menyedot perhatian umat Islam hampir seantero dunia, tak terkecuali di Indonesia. Para pakar dan ulama menulis pandangannya. Diskusi dan simposium juga dilaksanakan.

Salah satu ulama ahli hadis Indonesia, Kiai Ali Mustafa Yaqub, menulis sebuah buku untuk merespons peristiwa itu. Kiai Mustafa Yaqub, yang saat itu mementori mahasiswi IIQ Jakarta melakukan kajian hadis Ummu Waraqah menemukan fakta menarik terkait salah satu rawi pada hadis tersebut. Hadis Ummu Waraqah ini bagi sebagian ulama dan intelektual dijadikan pijakan diperbolehkannya seorang perempuan menjadi imam bagi makmum laki-laki atau perempuan.

Meski hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibn Khuzaimah, Imam al-Tabrani, Imam al-Daruqutni, Imam Ibn Al Jarud, Imam al-Hakim, dan Imam al-Baihaqi. Namun, hadis Ummu Waraqah ini paling sering dikutip dari riwayat Imam Abu Dawud.

Imam Abu Dawud sendiri dalam kitabnya Sunan Abi Dawud hanya memberikan komentar pada hadis-hadis yang dianggap lemah. Hadis yang tak diberi komentar atau catatan dianggap hadis yang derajatnya shahih. Dan pada hadis Ummu Waraqah ini, Imam Abu Dawud tak memberikan komentar apapun.

Dua perawi yang disorot oleh Kiai Mustafa Yaqub di sini adalah Abdullah bin Khallad dan al Walid bin Jumai’. Menurut Kiai Mustafa, dengan merujuk Ibn al Qattan, Abdullah bin Khallad adalah rawi yang majhul al hal atau tidak diketahui identitasnya. Sedangkan al Walid bin Jumai’ menurut Kiai Mustafa adalah rawi yang mendapatkan perhatian serius. Meski al Walid bin Jumai’ dianggap tsiqah (kredibel) tetapi kedhabitannya (kekuatan mengingat dan kecakapan mencatat/menulis) diragukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Daud. Dan oleh beberapa ulama pengkaji kredibilitas perawi seperti Imam Yahya bin Ma’in, Imam al Ijli, dan Imam Abu Zur’ah, al Walid bin Jumai’ dianggap tsiqah.

Ibn Hibban memasukkan nama al Walid bin Jumai’ ini dalam dua ketegori sekaligus. Ia memasukkan al Walid bin Jumai’ ini pada bukunya yang berjudul kitab al Tsiqah (Rawi yang kredibel), dan juga memasukkan pada kitabnya yang lain berjudul al Dhu’afa (Rawi-Rawi yang lemah periwayatannya). Ibn Hibban mengomentari bahwa periwayatan al Walid tidak pernah dibarengi dengan periwayatan orang-orang yang tsiqah. Periwayatan dari rawi seperti ini, menurut Ibn Hibban, sangat buruk. Dan oleh karena itu, periwayatan dari al Walid tidak dapat dijadikan hujjah (dalil/pentunjuk).

Lebih lanjut, Kiai Mustafa Yaqub menjelaskan dalam kajian ilmu hadis, apabila terdapat penilaian ta’dil (kredibel) dan jarh (tidak kredibel) perawi, maka penilaian yang harus didahulukan adalah jarh-nya. Mengacu pada kaidah ini, perawi bernama al Walid bij Jumai’ dinyatakan dhaif (tidak kredibel) sehingga hadis yang diriwayatkannya dinyatakan dhaif. Oleh karenanya, menurut Kiai Mustafa Yaqub, hadis Ummu Waraqah tentang imam perempuan dinyatakan dhaif dan tidak bisa dijadikan dalil dalam agama.

Selain mengakaji hadis Ummu Waraqah, Kiai Mustafa Yaqub juga mengambil pendapat Imam alGhazali terkait dengan imam perempuan untuk jamaah laki-laki (dan perempuan). Imam al Ghazali dengan tegas menyatakan bahwa laki-laki yang shalat dengan imam perempuan, maka shalat laki-laki itu tidak sah (sedangkan shalat perempuan yang menjadi imam sah).

Alasan yang digunakan oleh Imam al Ghozali adalah laki-laki ditunjuk Tuhan sebagai pemimpin dan wali, sedangkan perempuan tidak. Pandangannya ini didasarkan pada surah an Nisa ayat 34, di mana ayat ini diyakini/ditafsiri oleh sebagian ulama sebagai ayat kepemimpinan laki-laki karena kelebihan (di antaranya terkait dengan kemampuan pemberian nafkah) yang diberikan Tuhan pada laki-laki.

Dua argumen yang diajukan oleh Kiai Mustafa Yaqub ini menurut saya sangat menarik. Pertama, tentang hadis Ummu Waraqah yang setelah dilakukan penelitian dinyatakan hadis dhaif, setelah sebelumnya hadis itu diyakini oleh beberapa ulama berada di derajat shahih. Kedua, tentang ayat 34 surah an Nisa yang dijadikan dalil tidak dibolehkannya imam perempuan untuk jamaah laki-laki dengan alasan Tuhan tidak menunjuk perempuan sebagai pemimpin (dalam rumah tangga).

Argumen kedua, bagi saya pribadi yang ilmunya masih ala kadarnya ini, menarik untuk dikaji lebih dalam sebagaimana Kiai Ali Mustafa Yaqub melakukan kajian sanad pada hadis Ummu Waraqah. Kata ar Rijal pada Surah an Nisa ayat 34 itu ternyata oleh sebagian ahli tafsir tidak diartikan sebagai laki-laki dalam arti literal, yaitu manusia yang berjenis kelamin laki-laki, melainkan potensi kelaki-lakian (potensi untuk bergerak dalam mencari rizki, memimpin, mengayomi) yang bisa saja dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Dan lagi, ar Rijal dalam ayat tersebut adalah definitif dengan indikasi al sebelum kata rijal, di mana itu berarti tidak semua laki-laki bisa menjadi pemimpin dan tidak semua perempuan itu lemah/harus dipimpim. Perdebatan-perdebatan tentang ayat ini tentu terus muncul di setiap zaman, apalagi jika masyarakatnya masih teguh memegang prinsip patriarki. Di mana mereka meyakini bahwa setiap laki-laki (bagaimanapun kedaannya) harus menjadi pemimpin meskipun tidak memilli kecukupan dan kecakapan dalam memimpin, pun dalam agama.

Argumen Kiai Mustafa Yaqub yang merujuk Imam Al-Ghozali, menurut saya, dalam buku ini bisa didiskusikan lebih lanjut karena berada di wilayah perdebatan. Dan bisa jadi, malah, bisa menggugurkan kekokohan argumen itu sendiri.

Meski begitu, siapa yang bisa menjamin kebenaran mutlak atas tafsir sebuah ayat selain pemilik-Nya? Tentu kita semua bersepekat bahwa Tuhan lebih tahu akan maknanya. Namun, keberagaman tafsir atas ayat dan ketidaksetujuan kita pada tasir tertentu tidak lantas kita dianggap menolak/melawan Tuhan. Sebagaimana yang kita tahu, teks/ayat al Quran dan tafsir atas ayat al Quran adalah dua hal yang berbeda.

 

Berjihad Melawan Diri Sendiri

Oleh Jamaluddin Mohammad

 

Idul Fitri dan Idul Adha merupakan “peristiwa besar” yang dirayakan umat Islam se-dunia. Keduanya dilaksanakan setelah menjalankan rukun Islam ke tiga dan rukun islam ke empat.

 

Secara bahasa “Idul Fitri” artinya “kembali berbuka” setelah satu bulan penuh berpuasa. Juga bisa bermakna tunas kurma yang baru tumbuh (al-fitru habbatul inab awwala ma tabdu). Masih dalam rumpun kata yang sama, al-ftrah, artinya “asal penciptaan”, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW: “Kullu maulud yuladu ala al-fitrah”  atau pada QS al-Rum 30-31

 

Puasa Ramadhan menjadikan setiap muslim terlahir kembali seperti tunas kurma yang baru menyembul ke permukaan tanah (al-fitru) atau seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan (al-fitrah)

 

“Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dosa-dosanya akan diampuni,” ujar Nabi Muhammad SAW

 

Di bulan Ramadhan setiap muslim belajar mengolah batin, memenej dan mengorganisir nafsu, juga meningkatkan spiritualitas di hadapan Allah SWT. Puasa melatih dan mendidik manusia agar tidak semata menjadi “mesin hasrat.”.

 

Berdasarkan potensinya, manusia bisa lebih tinggi drajarnya dari malaikat. Juga bisa lebih rendah dan lebih hina dari iblis. Potensi itu sangat terbuka mengingat manusia diberikan nafsu. Nafsulah yang bisa menurunkan atau menaikkan drajat seseorang. Inilah yang tidak dimiliki malaikat maupun iblis.

 

Agar bisa meningkatkan kualitas kemanusiaanya di hadapan Tuhan, manusia harus bisa mengatasi, membatasi, menjaga sekaligu mengontrol pergerakan nafsu agar tidak liar. Semua hasrat menuju kepuasan dan kesenangan dan tidak semua harus dituruti dan dipenuhi. Agama hadir utk mengontrol dan membatasi.

 

Orang yang bisa mengendalikan segala hasrat kebinatangannya, jiwanya akan tenang menuju dan selalu dekat pada Allah SWT (nafsul muthmainnah). Ada juga orang yang masih terus belajar dan berusaha keras melawan impuls-impuls hasratnya yang setiap saat bergejolak dan menuntut utk dipuaskan (nafsu lawwamah). Sebaliknya tdk sedikit orang yang menjadi budak nafsunya sendiri dengan menuruti seluruh keinginan dan kesenangan hasrat tubuhnya (nafsu lawwamah)

 

Hasrat berpusat pada perut dan alat kelamin. Karena itu, dalam satu bulan penuh umat Islam berpuasa (menahan diri) dari hasrat-hasrat yang bersumber dari dua wilayah itu (tidak makan, minum, dan bersetubuh).

 

Berperang melawan hawa nafsu sendiri, menurut Kanjeng Nabi Muhammad SAW, adalah perang sejati: Jihad Besar! “Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri yang bersemayam di balik kedua pinggangmu,” kata Nabi (a’da aduwwika nafsuka alladzi bayna janbayka)

 

Jadi, sebelum menilai dan menghakimi orang lain, sebaiknya kita nilai dan kita hakimi dulu diri kita sendiri. “Tengoklah dirimu sebelum bicara,” kata Ebit G Ade —- wallahu a’lam bi sawab

 

Ringkasan Khutbah Idul Fitri di Dkm Nur Hidayah Anseong, Korsel pada 5 Juni 2019

Merebut Tafsir: Bukan Nabi yang Kami Kenal

Oleh Lies Marcoes

Saya harus menunda komentar beberapa waktu atas khutbah Ied Fitri pagi ini, saya buang kejengkelan sambil bebersih dapur.

Bagian pertama ia membandingkan berbagai hari raya agama-agama dan perayaan Ied Fitri yang paling benar. Dengan logat yang, maaf, semua khuruf a dibaca ‘ain sehingga semuanya berbunyi sengau ia menjelaskan soal pentingnya mencari teman seiman agar tak terpengaruh oleh perilaku buruk orang lain, terutama teman. Di ujung khutbah, otak saya mengkeret, setelah doa saya bergegas ke tempat parkir. 


Boris, anak bungsuku sudah menunggu. Dengan hampir marah yang tertahan ia memeluk. I am so sorry mom, how dare he gave a khutba like that, is he has no wife, no daughter, not even has a mother? He is so misogynist! 


Anakku tak habis pikir, sepagi ini kita bangun hanya untuk mendengar khutba seperti itu. Di penutup khutbanya dia mengatakan, Nabi dalam salah satu shalat Ied (?) menemui sekumpulan “wanita dan ibu-ibu” (itu kata yang ia pakai) dan bersabda kelak “mayoritas” (kata dari dia) isi neraka dan kerak neraka adalah wanita karena wanita sering mengeluh dan menghujat suami. Karenanya wanita harus banyak bersedekah. Suamilah yang menentukan apakah pintu surga yang terbuka, atau pintu neraka. 


Anakku bertanya, selama sebulan apa dia nggak disedikan makan sahur oleh istrinya atau disediakan perempuan lain di rumahnya?

Saya bilang, dia bicara tentang Nabi dan Tuhannya,tapi itu pasti bukan Nabi dan Tuhan yang kita kenal. Bukan Nabi yang pada setiap siang dan malam kita kirimi Salawat, salam kasih sebagaimana Nabi mengasihi kami kaum perempuan. Anakku memeluk sekali lagi. Love you mom!

Melawan Hegemoni Ideologis

Oleh: TGM. Achmat Hilmi, Lc., MA.

 

TIDAK biasanya, pengajian ibu-ibu di Masjid Baiturrahman Istana Cipanas – Jawa Barat disesaki ratusan jama’ah, rupanya tema yang dibahas hari itu adalah isu hangat yang terjadi di Cianjur, “Perkawinan Anak dalam Islam dan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dalam Perspektif Hukum Islam.” Pengajian ini dibimbing langsung oleh dua narasumber dari Rumah Kita Bersama, yaitu Ustadz Achmat Hilmi, Lc., MA. dan Ustadz Jamaluddin Mohammad, pada Kamis, 11 Ramadhan 1440 H.

Berdasarkan data SUSENAS tahun 2017, presentase perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun di Kabupaten Cianjur sebesar 55,78%, tertinggi kedua di Provinsi Jawa Barat setelah Kabupaten Indramayu, 57,64%. Presentase tersebut menunjukkan bahwa perkawinan anak merupakan “Bencana Besar” bagi perempuan dan kemanusiaan di Cianjur. Berbagai bentuk perkawinan anak di Kabupaten Cianjur, yaitu perkawinan paksa, perkawinan sirri (tidak tercatat), perkawinan kontrak, perkawinan mut’ah, dan perkawinan misyar (wisata).

Di antara faktor yang melatarbelakangi terjadinya perkawinan anak yaitu meluasnya pengaruh agama yang didominasi oleh suara laki-laki ketimbang perempuan. Sehingga banyak masyarakat masih berpedoman pada tafsir ”laki-laki” yang bias gender” ini mengesahkan perkawinan anak.

Sementara itu, tidak tersedianya tafsir agama yang berpihak pada perempuan, sehingga dengan leluasa kekeliruan tafsir keagamaan itu merubah wujud menjadi semacam kolonialisme-ideologi yang memangsa perempuan dan anak-anak. Gejolak batin perempuan pun memberontak seraya tidak meyakini konsepsi keagamaan yang bias gender itu. Perasaan pemberontakan ideologis itu memunculkan dampak psikologis seperti ”takut dosa” dan akhirnya pasrah pada situasi dan menyerah pada kolonialisme ideologis laki-laki. Di antara pertanyaan yang kerap muncul dalam benak perempuan: ”Mengapa wajah agama begitu tidak adil pada perasaan kaum perempuan?”

Menyadari hal itu, Rumah KitaB berupaya mengisi kekosongan tafsir agama yang memiliki keberpihakan terhadap perempuan; menyampaikan pesan agama yang luhur dan memihak keadilan pada perempuan dan anak, salah satunya melalui pengajian di istana Cipanas.

Jama’ah pun bersambut, hari itu di tengah terik cuaca Cipanas, tak menyulutkan jama’ah ibu-ibu. Mereka datang berduyun-duyun ke Masjid Baiturrahman Istana Cipanas saat sedang berpuasa. Mereka berasal dari berbagai desa di wilayah Cianjur. Dua ratus orang lebih memenuhi ruang masjid demi mendengar ”suara agama yang adil pada perempuan dan anak”.

Saat kedua narasumber secara bergantian mengisi pengajian, para jamaah pun berupaya meraih konsentrasi, khusyuk, menyimak setiap kalimat yang disampaikan dalam pengajian hari itu. Suara agama itu terdengar sangat bersahabat, menyejukkan, lagi ”membebaskan”, terutama saat mendengar materi yang terkait dengan ”dispensasi usia kawin dalam Undang-Undang”, ”baligh”, ”usia kawin Aisyah”, ” poligami”, dan ”nikah sirri”.

Ustadz Jamal menjelaskan bahwa ruang ”dispensasi usia kawin” dalam Undang-Undang perkawinan anak bukan berarti negara memberikan ruang bagi diperbolehkannya perkawinan anak, karena ruang dispensasi kawin merupakan ”ruang emergensi” yang disediakan oleh negara dalam situasi dan kondisi yang sangat darurat tentu dengan mempertimbangkan kondisi dan psikologis anak. Karena semangat lahirnya Undang Undang Perkawinan pada tahun 1974 dilatar belakangi keinginan negara dalam mencegah perkawinan anak, mencegah poligami, dan mencegah nikah sirri, melalui penataan administrasi perkawinan. Namun pemahaman masyarakat saat ini adalah bahwa negara memberi ruang bagi terjadinya perkawinan anak melalui pintu ”dispensasi usia perkawinan”, karena itu pembacaan terhadap Undang-Undang harus dengan ”kacamata gender” dan memiliki keberpihakan pada perempuan dan anak, agar hasil yang dicapai dapat memiliki kemanfaatan bagi para pencari keadilan.

Menyambung dengan paparan tersebut, Ustadz Hilmi, menjelaskan bahwa Undang-Undang Perkawinan sudah sesuai dengan semangat hukum Islam. Dalam Pasal 6 UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, ”Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai usia 21 tahun haru mendapat izin kedua orang tua”. Artinya, kalimat ini merupakan tafsir hukum/negara atas pemahaman agama mensyaratkan kedua calon mempelai harus dewasa (sinn al-rusyd).

Empat puluh tahun silam hukum di Indonesia telah mengatur usia dewasa menjadi persyaratan mutlak bagi laki-laki dan perempuan yang hendak melangsungkan pernikahan. Namun penafsiran terhadap hukum kemudian bergeser dan berubah; hukum ditafsiri sebagai pembuka jalan bagi perkawinan anak melalui pintu ”dispensasi”.
Begitu juga pandangan keagamaan, masalahnya juga terletak pada tafsir dan pemahaman masyarakat terhadap agama itu sendiri. penafsiran terhadap dalil-dalil keagamaan semakin literal mencabut teks dari konteksnya, menghilangkan makna sosiologis dari teks.

Dalam hal ”baligh”, misalnya, jama’ah pengajian masih memahami bahwa anak yang sudah baligh diperkenankan menikah. maksud baligh bagi masyarakat di sini yaitu seorang yang telah mengalami menstruasi (haidh) bagi perempuan, dan telah mengalami mimpi basah bagi laki-laki. Pandangan ini justru bertentangan dengan hadits yang sangat populer di masyarakat, “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian mampu menghidupi rumah tangga (kemampuan fisik, psikis, kedewasaan, sosiologis, ekonomi, dan politis), maka dipersilahkan menikah, karena yang demikian itu menahan pandangan dan menjaga kelamin (mengatur kehidupan seksual) dan barang siapa yang tidak/belum mampu maka diwajibkan berpuasa karena itu (puasa) meredakan hasrat seksual.”

Yang perlu digarisbawahi dalam hadits di atas adalah kata ”syabab” menunjukkan seorang yang telah memasuki usia dewasa. dan Rasulullah Saw., tidak pernah menganjurkan seseorang untuk menikah di saat usia anak. Bahkan orang yang sudah dewasa saja belum tentu memiliki kemampuan, berarti dewasa saja tidak cukup, harus disertai dengan kemampuan. Dalam hadits tersebut, orang yang belum dewasa namun belum memiliki kemampuan maka diwajibkan berpuasa. Kewajiban berpuasa ini dibarengi dengan larangan menikah bagi seorang yang belum memiliki kemampuan meski telah berusia dewasa.

Pemahaman ini sangat penting, sebelumnya jamaah pengajian ibu-ibu meyakini bahwa hadits tersebut merupakan anjuran menikah berlaku secara umum dan ditujukan kepada siapapun. pemahaman tersebut bertentangan dengan makna literal dan sosiologis hadits tersebut.

Karena, usia kedewasaan menjadi syarat bagi kedua calon suami-isteri, maka al-Qur’an membagi baligh kepada tiga level: pertama, balagh al-hulum, baligh secara biologis. Baligh jenis ini ditandai dengan menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki.

Kedua, balagh al-rusyd, tanda kedewasaan pemikiran-intelektual atau kematangan pendidikan. Usia dewasa ini bergantung pada tingkat kematangan pendidikan seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi pastilah telah melewati kedewasaan fisik. Kedewasaan level kedua inilah yang menjadi syarat seseorang diperkenankan untuk menikah.

Ketiga, balagh asyuddah (kematangan leadership). Seseorang yang telah mencapai kematangan leadership ini, menurut para ulama, minimum telah berusia 40 tahun, sebagaimana Nabi Muhammad Saw. dipercaya menerima mandat kenabian saat berusia 40 tahun.

Penjelasan Ustadz Hilmi ini direspon positif oleh para jama’ah. Mereka sangat puas sekali, terutama yang terkait dengan hadits usia kedewasaan dan pembagian baligh di dalam al-Qur’an. salah seorang peserta berkerudung hitam lengkap dengan cadarnya bernama ratih (bukan nama sebenarnya), ia berbagi cerita bahwa dirinya pernah dipaksa menikah saat masih usia 13 tahun, namun 3 tahun kemudian bercerai. Ia membagikan pengalaman tersebut, dulu ia meyakini bahwa pernikahan di usia anak itu diperbolehkan oleh agama, namun ternyata ia menyadari bahwa itu melanggar idealisme perkawinan yang mesti menjaga sakinah, mawaddah, wa rahmah, karena pernikahannya berjalan dengan singkat, tidak mencapai sakinah mawaddah wa rahmah.

Seorang peserta lain bertanya, terkait hukum nikah sirri. Praktik pernikahan siri banyak terjadi di Cianjur. Pernikahan siri ini biasanya dipraktikkan dalam bentuk perkawinan anak dan pernikahan poligami/isteri simpanan. Fenomena ini marak di Cianjur, dan dibenarkan oleh pandangan agama di sana.

Ustadz Hilmi menjelaskan bahwa para ulama di Mesir telah mengharamkan perkawinan siri, karena menimbulkan madharat bagi perempuan dan anak-anak. Ustadz Hilmi mengutip perkataan ulama dalam kitab ”al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu” karya Prof. Dr. Syaikh Wahbah al-Zuhaili, “Pernikahan haram jika seseorang secara meyakinkan akan menzhalimi perempuan.”

Dalam konteks masa sekarang nikah sirri telah diharamkan karena telah terbukti secara meyakinkan menimbulkan kemadharatan terhadap perempuan. Keharaman nikah siri ini telah menghapus pandangan adanya anggapan bahwa nikah sirri itu ”nikah secara agama”. Nikah secara agama itu akan sah bila ditujukan untuk membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dengan menjamin kemaslahatan hukum, administrasi, sosiologis, ekonomi, dan hak hidup bagi suami, isteri beserta keturunannya. Sebaliknya, pernikahan siri telah terbukti membuat banyak anak-anak hidup terlantar tanpa kejelasan status hukum, perwalian, kewarisan, pendidikan, dan pengasuhan, termasuk hak untuk mengetahui asal usul biologis anak secara hukum. Pencatatan hukum saat ini bukan hanya sah secara negara namun sah secara agama, karena agama senantiasa menjamin kemaslahatan umat manusia.

Banyak peserta mengajukan pertanyaan kepada kedua narasumber, namun keterbatasan waktu membuat banyak peserta kecewa. Namun mereka sangat senang berhasil memperoleh pengetahuan baru terkait pandangan keagamaan yang adil pada perempuan dan anak. Karena selama ini perempuan di Cianjur mengalami kekerasan yang diakibatkan pandangan keagamaan yang bias gender yang menutup ruang ekspresi perempuan, mendomestifikasi mereka dari ruang publik.[]

Merebut Tafsir: Idul Fitri dan Para Lansia

Oleh Lies Marcoes

Orang tua dan seluruh ingatan tentang masa kecil di kampung menjadi pengikat untuk pulang ke kampung. Itulah agaknya motivasi paling kuat untuk mudik Lebaran. Orang tua, tak mesti hanya bapak dan ibu tetapi juga kaum lansia yang tetap menetap di kampung manakala rumah atau aset lainnya masih ada: bisa eyang, bude/pakde, atau tetangga dan kerabat sepuh yang layak dikunjungi seperti tokoh -tokoh desa. Kecuali yang jangkarnya di kampung telah hilang, misalnya tak ada lagi tanah, sawah, rumah, sebagian kaum sepuh itu (mungkin) ikut migrasi ke kota dan menjadi lansia di perantauan.

Secara ideal normatif, lansia mendapatkan tempat yang baik dalam kebudayaan Indonesia. Penghormatan kepada mereka selalu dicitrakan sangat tinggi. Itu tak keliru. Dalam kehidupan sehari-hari, lansia menjadi pusat perhatian keluarga. Utamanya bagi keluarga yang berkecukupan. Keluarga-keluarga yang masih memiliki orang yang dianggap paling sepuh, eyang, eyang buyut, lansia umumnya menjadi pusat rujukan serta ekspresi kasih sayang.

Namun realitas yang lebih banyak tak selalu begitu. Saat ini, menurut statistik, diperkirakan 10% penduduk Indonesia merupakan warga lansia, dan dengan status kesehatan yang lebih baik, angka itu akan naik di tahun – tahun mendatang. Lansia adalah fakta dalam pembangunan. Namun dibandingkan perhatian pembangunan kepada kelompok tak berdaya lainnya seperti anak-anak dan orang dengan disabilitas, lansia adalah satu kelompok umur yang rentan terabaikan. Ada sejumlah persoalan yang menyebabkan lansia ada dalam situasi itu:

Pertama, pembangunan pada dasarnya senantiasa berorientasi kepada usia produktif. Hal itu karena watak pembangunan berangkat dari pandangan soal pertumbuhan yang mengukur sejauh mana seseorang dapat menyumbang bagi pembangunan. Jadi, produktivitas digunakan sebagai patokan. Karenannya kelompok umur yang menyumbang kepada produktivitas menjadi prioritas termasuk tentu saja sebagai kelompok yang harus didorong dan difasilitasi secara optimal. Karena sudah purna bakti, sumbangan kaum lansia di masa lampau ternyata tak selalu tercatat di masa kini melainkan ditinggal bersama masa lampaunya. Setelah menjadi warga senior mereka cenderung dianggap bukan warga produktif, bahkan dianggap sebagai beban pembangunan.

Kedua, karena berangkat dari pandangan soal produktivitasnya, maka bagi mereka yang tidak berangkat dari dunia produktif/ bukan pekerja formal, imbalan hari tua bagi mereka sama sekali nol. Tak mendapatkan pensiun, tak mendapatkan tunjangan yang stabil dan permanen, dan tak mendapatkan penghargaan layak di hari tuanya.
Bagi lansia yang masih bisa didayagunakan oleh keluarga, misalnya menjaga cucu, antar jemput sekolah, mengurus rumah, menjadi pengawas asisten rumah tangga, atau memiliki sumber ekonomi cukup mapan, mereka akan mendapatkan posisi sosial cukup baik di dalam keluarganya. Akan tetapi jika mereka sudah semakin sepuh, kehilangan fungsi-fungsi sosialnya dalam keluarga atau dalam masyarakat, ditambah tak memiliki aset yang bisa diandalkan keluarga, nasib lasia menjadi lebih rentan karena dianggap sebagai beban keluarga.

Ketiga, terdapat persoalan gender dalam lansia: lelaki senior, oleh posisi sosio-kulturalnya yang menguntungkan karena mendapat kedudukan lebih tinggi dari perempuan, biasanya punya posisi tawar lebih baik dalam keluarganya. Jika istrinya wafat lebih dulu misalnya, anak-anaknya tak akan mengganggu gugat statusnya sebagai kepala keluarga di dalam keluarganya. Ini dapat ditandai rumah yang ditempatnya tidak akan ada yang berani menguta-atik. Bahkan jika perlu ia didorong untuk mencari istri agar kehidupannya bisa normal kembali. Sesuatu yang nyaris mustahil diberlakukan kepada lansia perempuan. Sebab jika yang meninggal lebih dulu laki-laki, sang ibu kerap didorong untuk tinggal bersama anggota keluarga lain (anaknya) dengan maksud agar lebih praktis dalam mengurusnya. Ini antara lain karena kedudukan perempuan senior selalu sepaket dengan keluarga. Mereka tak dianggap perlu memiliki otoritas yang mandiri. Pada kenyataannya, begitu kehilangan tempat tinggalnya secara otomatis mereka kehilangan otoritasnya.

Dalam Islam, sebagaimana dalam kebudayaan, penghormatan kepada warga senior/ lansia sangatlah tinggi. Dalam Al Qur’an narasi tentang lansia seringkali merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim atau istri Zakaria yang diberi kesanggupan untuk mendapatkan anak di usia senjanya.

Pendekatan keagamaan dalam menyikapi orang tua seringkali bersifat karitatif atau moral. Misalnya larangan untuk memalingkan muka, atau berkata kasar atau menghardik. Dalam bahasa agama, perlakukan kepada orang tua, sebagaimana kepada anak-anak seringkali dikelompokkan ke dalam kewajiban untuk memberikan santunan , dan jarang yang bicara soal pemberdayaan.

Dengan cara pandang seperti itu, tentu saja lansia kemudian dianggap sebagai beban pembangunan. Ini kita bisa lihat dari begitu terbatasnya sarana sosial yang kita miliki untuk warga senior ini. Sarana aktivitas di luar rumah yang tersedia seringkali abai kepada kepentingan mereka. Jalan-jalan tak ramah lansia yang dapat membuat mereka mandiri, dapat bergerak tanpa bantuan. Perpustakaan umum, jarang yang menyediakan fasilitas bacaan dan sarana bagi mereka. Satu-satunya aktivitas yang masih terbuka bagi mereka di luar mengurus keluarga anak-anaknya adalah kegiatan keagamaan namun dengan tema yang seringkali bukan isu yang relevan bagi mereka.

Kita sering mengamati, hari-hari bagi mereka seperti bersikejar dengan matahari; pagi menunggu sore, sore menunggu malam, malam menunggu pagi. Terus demikian dari hari ke hari. Hanya setahun sekali mereka akan kembali menjadi pusat perhatian jika anak cucu kembali ke kampung halaman di waktu Lebaran. Dan itu pun, hanya berlaku bagi senior yang masih punya aset minimal rumah tinggal. Sementara bagi mereka yang secara ekonomi lumpuh, penghormatan serupa itu mungkin hanya ada di sinetron yang mereka tonton sehari-hari. Memang, hanya TV satu satunya mengusir waktu bagi mereka, tanpa kejelasan apa yang ditunggu kecuali kematian. (maaf).

Dalam bahasa yang biasa digunakan dalam pembangunan, problem paling utama dari lansia adalah cara pandang kita yang menganggap mereka invisible, adanya sama dengan tidak adanya! Karenanya, untuk mengatasi persoalan itu, pertama-tama adalah rekognisi aktual bukan normatif. Mereka harus hadir secara sosial bukan hanya angka. Mereka adalah warga ragam tidak tunggal dan bukan hanya Jawa. Mereka terbentuk oleh konstruksi gender yang bias dan karenanya sensitivitas gender dalam merumuskan pembangnan bagi lansia adalah sebuah keniscayaan. Kita harus berangkat dari sebuah cara pandang bahwa mereka (telah) berjasa dalam membangun negeri ini, apapun dan seberapapun peran dan sumbangan mereka! Hari Raya, saatnya kembali kepada fitrah, saatnya menyapa kaum lansia! Minal ‘aidin wal faizin Mohon Maaf Lahir Batin. Mama Bapak ngaturaken sedaya lepat mugi dipun cekap.