Sabda Hikmah (12): YATIM

Oleh. Mukti Ali Qusyairi

Tak ada kata yang dapat menyentuh dan melumerkan hati ini sedahsyat kata “yatim”. Anak yang polos bagai kertas, sorot matanya yang bening, jiwa jiwa yang suci/fitrah, lemah/tak dan belum berdaya, ditinggal mati oleh ayah atau ibunya dalam waktu yang belum siap. Ia tidak dan belum mengerti apakah ayah/ibunya yang sudah tiada itu sudah dipanggil Sang Pemilik hidup. Boleh jadi ia menyangka ayah/ibunya sedang pergi lama ke pasar atau ke tempat lain untuk kesibukan tertentu dan berharap datang membawa oleh-oleh; mainan atau makanan. Ia masih setengah sadar atau kesadarannya masih belum purna atas yang terjadi. Atau ia sedang bersedih yang teramat dalam dengan bahasanya sendiri; sikap kuat bahwa orang yang dicintainya tidak akan pernah mati.

Ya, orang yang ia cintai akan tetap hidup di hati dan menjadi bintang jiwanya. Tubuh orang yang ia cintai boleh terkubur di dalam tanah. Tapi cintanya bersemi di taman sari nuraninya.

Yatim, untuk makan dan mandi sendiri pun belum kuasa. Terlebih untuk meraba dunia di luar dirinya. Yang bisa ia lakukan adalah menyampaikan pesan apa yang ia rasakan dan ia inginkan. Yang ia inginkan adalah orang yang ia cintai tetap hidup walau sesekedar di dalam jiwa.

Rasulullah sejak kecil sudah yatim. Dan dalam usianya yang teramat balita sudah yatim piatu. Beliau mengerti betul bagaimana anak yang menjadi yatim. Sebab mengalaminya sendiri. Sehingga beliau adalah tokoh panutan yang paling sanyang, paling mencintai, dan paling menyantuni anak-anak yatim. Beliau pun membangkitkan kepercayaan diri anak yatim dengan mau menjadikan dirinya sebagai ayahnya; menghapus kesedihannya dengan memberikan berbagai kebutuhan agar dapat hidup layak sebagaimana anak-anak yang lain; dan menganjurkan agar anak yatim menjadi anak shaleh/shalehah dengan mendoakan orangtua yang telah tiada.

Kiyai kampungku memberi contoh ketika sedang menyantuni anak yatim, dengan merunduk atau duduk setengah badan agar sejajar tubuhnya dengan tubuh anak yatim, memeluk dan membelai kepalanya sebagai isyarat dan simbol rasa sayang.

Rasulullah pun memberi motovasi pada anak-anak yatim yang ditinggal mati orangtuanya. Seraya berkata:
“Bukan Yatim yang sesungguhnya yaitu anak yang ditinggal mati orang tuanya. Akan tetapi yatim yang sesungguhnya adalah orang yang tidak berilmu dan tidak berakhlak (yatim al-‘ilmi wa al-adab)”.

Anak yang ditinggal mati orang tuanya boleh jadi di masa depannya menjadi orang yang berilmu dan berakhlak. Dan bermanfaat bagi sesama.

Yatim pengetahuan dan yatim akhlak yang dirisaukan Rasulullah. Sebab itu akan berdampak pada terciptanya “yatim peradaban”.

Jakarta, 10 April 2018.

Ngaji Kitab “al-Mursyid al-Amin lil-Banat wa al-Banin” Karya Sheikh Rifaah Rafi ‘al-Tahthawi

Rifaah (1801-1873 AD) lahir di Mesir, enam tahun belajar agama di Al-Azhar al-Sharif Mesir. Setelah menyelesaikan studinya, Rifaah diangkat menjadi guru di almamaternya selama dua tahun. Oleh gurunya, Sheikh Hasan al-‘Atthar, dikirim sebagai imam dan penasehat agama untuk unit militer Mesir.
Tak lama kemudian, Muhammad Ali Basya, pemerintah Mesir, mengirim sejumlah pemuda Mesir ke Persia. Syaikh Hasan al-‘Aththar mengusulkan bahwa Rifaah bersama mereka ke Paris sebagai imam dan penasehat agama. Akhirnya Rifaah bersama rombongan dikirim ke Paris selama lima tahun. Dan kembali ke Mesir.
Buku “al-Mursyid al-Amin lil-Banat wa al-Banin” oleh  Sheikh Rifaah Rafi ‘al-Tahthawi menjelaskan pentingnya pendidikan bagi wanita, rumah tangga yang baik, kepemimpinan wanita, dan kemandirian (hurriyah). Buku ini adalah panduan bagi para akademisi, guru, staf, dan pemangku kepentingan pro-kebijakan pemerintah untuk sekolah perempuan pertama yang dirintis oleh Rifaah.

Seminar Nasional 24 April 2018

Menyambangi Ijab Kabul Pasangan Remaja di Bantaeng, Potret Buram Pernikahan Anak Sulawesi

Kontributor VICE menggali lebih dalam kisah dua remaja Bantaeng nekat menikah di usia belasan. Sayang, jalinan kasih Fitrah dan Syamsuddin tak seindah skenario film ‘Moonrise Kingdom’—sebab tekanan adat agar anak menikah lazim terjadi di Sulawesi.

Tak ada janur kuning terpancang di ujung jalan Sungai Calendu Kelurahan Letta, Kabupaten Bantaeng. Pun tak nampak kemeriahan pesta. Pernikahan pasangan remaja yang masih setara usia pelajar SMP itu, yakni antara Fitrah Ayu dan Syamsuddin, sejak awal diniatkan sederhana saja. Sejauh ada penghulu, saksi, dan keluarga, maka berlangsunglah apa yang keluarga rencanakan.

Dalam rumah orang tua Fitrah yang bercat kuning itu, beberapa orang duduk membentuk lingkaran kecil. Seorang laki-laki berkemeja garis-garis biru duduk di kursi plastik, memegang rokok. Dia Muhammad Idrus Saleh, 40-an tahun, bapak Fitrah. Seorang laki-laki lainnya bersandar di salah satu tiang rumah. Menggunakan peci hitam, dengan janggut panjang. Tangannya tak bisa bergerak cekatan karena kecelakaan 20 tahun lalu. Dia, Daeng Sangkala, 68 tahun, bapak Syamsuddin.

Cahaya pagi menembus dinding gedeg bambu yang sudah tua. Seseorang yang dinanti-nanti memasuki rumah. Tangannya menenteng beberapa lembar kertas. Orang-orang mulai mengubah posisi duduknya. Dia adalah penghulu yang akan melangsungkan pernikahan.

Syamsuddin mengulurkan tangannya, berjabat erat dengan si penghulu. Surat Al Fatihah dan Syahadat dilantunkan. Lalu ucapan sakral pernikahan terucap. Diulang sekali lagi. Orang dalam ruangan itu kompak berucap “sah!”

 

Syamsuddin, 16 tahun, saat melafalkan ijab kabul

Fitrah Ayu dan Syamsuddin, akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri secara hukum dan tercatat negara. “Mungkin dua atau tiga hari surat nikahnya akan jadi ya,” kata Syarif Hidayat, si penghulu. “Saya permisi dulu, masih ada yang mau dinikahkan di tempat lain.”

Pasangan asal Sulawesi Selatan ini belakangan santer diberitakan media dan digunjingkan warganet, lantaran keduanya belum genap berusia 17 tahun. Fitrah usianya baru 14 sementara Syamsuddin 16 tahun. Pernikahan mereka ramai dibicarakan jauh sebelum ijab kabul dinyatakan sah. Sedianya mereka telah menyebar undangan ke keluarga dan tetangga akhir Februari, memberi tahu pernikahan akan digelar pada 1 Maret. Di sela-sela itu mereka mendaftarkan diri ke Kantor Urusan Agama. Tak tahunya, pendaftaran mereka ditolak karena belum cukup umur.

KUA berpatokan pada UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan pernikahan baru diizinkan bila pria telah berumur 19 tahun dan wanita berumur 16 tahun. Nurlina (34) yang menjadi ujung tombak pengurusan pernikahan ponakannya itu, kebingungan. “Jadi bagaimana mi ini. Undangan sudah tersebar,” katanya. “Terus orang KUA bilang, bisa minta dispensasi ke Pengadilan Agama. Saya urus semua, pernyataan dari Kelurahaan, Kecamatan, lalu bawa ke Pengadilan Agama.”

Di Pengadilan Agama Bantaeng, pasangan ini bersidang dua kali, masing-masing pada 23 Maret 2018 dan 3 April 2018. Hadir juga saksi dari keluarga calon mempelai pria dan perempuan. Pengadilan hanya meminta penjelasan atas proses pernikahan itu, apakah ada paksaan atau tidak, serta menanyakan alasan keluarga menikahkan. “Kami bilang mereka suka sama suka. Mereka ikhlas,” kata Nurlina.

Sampai di sini, semua baik-baik saja. Lalu Fitrah dan Syamsuddin mengikuti kursus calon pengantin di KUA Kecamatan Bantaeng. Ada 12 pasangan calon pengantin yang ikut. “Itu kursusnya cuma satu hari. Biasaji ada nasehat pernikahaan,” kata Fitrah.

Beberapa hari kemudian, kata Nurlina, pernikahan ponakannya itu menjadi perbincangan di media sosial. “Orang bilang, eh viral ki itu. Terus orang kasi liatka fotonya Fitrah sama Syam di internet, saya baru kaget,” katanya. “Setelah itu, banyakmi wartawan datang. Ada menelepon dan datang langsung ke rumah. Takut-takut ka saya. Kenapa inikah?”

Tidak hanya keluarga Fitrah dan Syamsuddin yang kebingungan. Orang-orang di sekitar rumah juga bertanya-tanya. Mereka bingung karena pernikahan remaja seperti ini di Bantaeng adalah hal biasa. Saya bertemu dengan beberapa pemuda di Bantaeng dan menanyakan dan mereka menanggapinya dengan santai.

“Di sana, ada juga anak yang menikah masih sekolah. Sekarang mereka samaji juga. Adami anaknya (mereka juga sama nikah muda, malah sudah punya anak),” kata Nurlina, sambil menunjuk arah rumah lain.

“Saya juga menikah umur 13 tahun. Umur 14 tahun melahirkan anak. Sekarang sudah dua anak,” kata Shinta, kakak dari Syamsuddin menimpali.

“Nda kita percaya? Na biasaji. Saya juga melahirkan normal ji nah,” Shinta melanjutkan.

“Di Kelurahan Onto, banyak yang seperti itu terjadi. Kedapatan berduaan saja, duduk, tidak bikin apa-apa, bisa langsung dinikahkan,” kata Adam, pemuda setempat lainnya.

Pemuda lainnya, yang tak ingin namanya disebutkan menceritakan kisah adiknya, yang menikah pada pertengahan tahun 2017. “Jadi dia kedapatan duduk sama perempuan di Pantai Seruni, terus ada keluarga perempuan yang lihat. Lalu dilaporkan,” katanya. “Besoknya itu keluarga perempuan datang ke rumah. Minta mereka dinikahkan. Kalau tidak mau, bayar denda Rp35 juta. Adik saya nda mau, daripada melayang percuma uang, jadi keluarga paksa kami menikah.”

Saya menemui Hartuti, Sekretaris Cabang Koalisi Perempuan Indonesia di Bantaeng sekaligus Kepala Desa Bonto Tiro, kampung Syamsuddin, dan menanyakan pendapat dia soal pernikahan anak. “Kita tidak bisa bilang apa-apa. Ini sudah terjadi. Ini soal menjaga anak dari perbuatan zina. Siapa yang bisa memastikan mereka tidak berzina?” katanya.

“Tahun depan, kami di desa cuman bisa menganggarkan bagaimana ada beasiswa untuk pendidikan anak-anak kurang mampu. Jika Fitrah ingin lanjut sekolah tahun depan, itu akan kami akomodir. Sampai kuliah,” kata Hartuti.

Syamsuniar, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Bantaeng, berusaha cuci tangan. “Baiklah. Kalau mengacu ke UU nomor 32 Tentang Perlindungan Anak, maka itu tidak bisa. Harus saklek. Tapi kan mereka menikah juga sesuai regulasi dan aturan. Jadi bagaimana?” katanya.

“Sekarang, dengan pemberitaan tentang Fitrah dan Syamsuddin, kami sudah melakukan perundingan dengan KUA, agar kelak pembekalan untuk calon pengantin, kami dilibatkan. Bagaimana menjelaskan kesehatan reproduksi misalnya.” UU Perlindungan Anak menyatakan, jika seseorang yang belum berusia 18 tahun masih dianggap anak-anak dan membutuhkan perlindungan dari orang tua dari segala bentuk eksploitasi. Atau harus saklek mengikuti Undang-undang Perkawinan Anak yang menyatakan anak di bawah batas usia menikah dapat mengajukan dispensasi ke Pengadilan Agama.

“Jadi dengan dua aturan yang berlaku seperti itu, kita di lapangan jadi serba salah juga kan. Akhirnya tak ada yang bisa disalahkan,” kata Syamsuniar.

Badan Pusat Statistik pada 2016 merilis data 17 persen anak di Indonesia menikah sebelum usia legal sesuai undang-undang. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia, satu dari 4 anak perempuan menikah di rentang usia 15-19 tahun. Sulawesi Selatan merupakan urutan ke delapan terbanyak untuk perkara kawin anak, dengan indeks rata-rata 30,5 persen. Sedangkan Sulawesi Barat adalah wilayah yang tertinggi di seluruh pulau soal perkawinan di bawah umur, dengan rata-rata kasus 37 persen dari populasi.

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulawesi Selatan menyatakan, sepanjang 2017 saja, ada 11.000 anak sekolah di wilayahnya batal mengikut ujian nasional karena menikah. Sekira 80 persennya adalah perempuan.

Fitrah anak kedua dari tiga bersaudara. Semuanya perempuan. Si sulung bernama Nur Indah, 19 tahun. Sementara si bungsu namanya Cahyana Tri Salsabilah, 5 tahun. Ibu mereka meninggal pada hari ke 10 ramadhan 2016. Nama mendiang Darmawati, 34 tahun ketika dijemput maut.

Saat keluarga ini masih utuh, Darmawati menjadi kader Posyandu. Kesehariannya diisi dengan bekerja paruh waktu, ma’dawa-dawa (memasak di acara kawinan). Cahyana usianya baru 3 tahun saat ibunya meninggal. Jika ditanya di mana ibunya, si bungsu sudah pandai cerita, “Dia bilang, pi ma’dawa-dawa. Nanti kalau pulang bawa apel dan kue,” kata Nurlina.

Si sulung Nur Indah tak tamat sekolah menengah. Ia sempat bekerja di sebuah toko roti dan toko elektronik, lalu kemudian berhenti. Fitrah juga sama. Di Pantai seruni, ketika pulang sekolah, dia menjadi pelayan di sebuah kedai makanan, bekerja hingga pukul 12 malam. Saat malam minggu harus lembur hingga pukul 03.00 dini hari.

Fitrah menerima upah per hari Rp30 ribu di hari biasa, sementara malam minggu Rp50 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Membeli beras, jajan sang adik, dan membeli voucher listrik. Tapi bekerja hingga larut malam membuatnya mendapat stigma di sekolah. Ia sering disebut sebagai anak nakal, bahkan diejek sebagai tukang mabuk. Dia akhirnya memutuskan berhenti sekolah pada kelas dua, SMP Negeri 2 Bantaeng.

Sementara Syamsuddin adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Dia berhenti sekolah saat di kelas 4 Sekolah Dasar. Kini dia bekerja serabutan sebagai buruh bangunan. Setiap hari upahnya Rp60 ribu.

Dalam buku Kawan dan Lawan Kawin Anak oleh Rumah Kita Bersama, kesimpulan penelitiannya mengejutkan. Di Makassar, ada seorang anak yang menikah usia 12 tahun. Salah satu alasannya, karena tidak tahan acap kali dipukul sang ayah. Tingginya 145 cm dengan berat badan 39 kilogram. Dia terlanjur memiliki bayi usia 6 bulan. Suaminya bekerja sebagai buruh harian. Pergi pagi, pulang malam.

Di Malino, Kabupaten Gowa, kisah kawin anak juga terjadi. Seorang remaja menikah pada usia 15 tahun, lalu melahirkan anak. Kondisi kesehatan sang ibu memburuk. Payudaranya tiba-tiba bernanah dan meletus. Remaja nahas ini hanya mampu menjalani pengobatan melalui dukun.

Mulyani Hasan, peneliti pencegahan kawin anak dari yayasan Rumah KitaB di Makassar mengatakan, fenomena ini adalah lingkaran kecemasan yang sangat ironis. “Apa yang dialami seorang anak, menikah karena memutuskan rantai kekerasan, namun secara tidak sadar dia kembali masuk dalam lingkaran kekerasan baru,” katanya.

Bagaimana memutus rantai ini dalam wilayah dengan adat sedemikian kuat seperti Sulawesi? Kata Mulyani Hasan, harusnya ada keseragaman landasan hukum—artinya butuh ketegasan pemerintah. “Selama ini kita mempraktikkan dualisme hukum. Ada beberapa kasus menikah secara siri’, itu dalam hukum negara adalah ilegal. Tapi, ketika pasangan ini bercerai, maka pengurusannya dilakukan di lembaga negara,” katanya. “Ini kan jadi aneh dan ambigu.”

Analisis BPS atas data perkawinan anak di Indonesia sepanjang kurun 2008-2012, menunjukkan pernikahan di usia muda membuat mereka lebih sulit hidup sejahtera. Mayoritas pasangan muda hidup dengan penghasilan yang hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Saya memandang Fitrah ketika akad nikah selesai, oleh karena selang usia yang begitu jauh antara kita, saya jadi tak kuasa menahan diri menyampaikan nasehat padanya. Mengingatkannya bahwa jika ia tak melanjutkan pendidikan formal, kemungkinan besar mereka akan mengalami siklus yang sama dengan orang tuanya.

Ayah Fitrah, seperti Syamsuddin, juga seorang pekerja kasar. “Yang penting harus sabar,” katanya. “Kan kalau sama-sama dijalani bisaji. Insya Allah bahagia.”

Sumber: https://www.vice.com/id_id/article/qvxqev/menyambangi-ijab-kabul-pasangan-smp-di-bantaeng-potret-buram-pernikahan-anak-sulawesi

Merebut Tafsir : “Ngasaan jadi nu benghar” (mencicipi jadi orang kaya).

Oleh Lies Marcoes

Ini cerita tentang Mang Akim, tukang sayur langganan saya. Di kompleks tempat saya tinggal, setiap hari ada “pasar kaget” untuk sayuran yang digelar dan di atas mobil, tapi juga dua pedagang keliling pakai sepeda motor. Salah satunya Mang Akim itu. Dia berasal dari Majenang, di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah dan karenanya bisa dua bahasa. Saya jarang sekali belanja di pasar kaget dan memilih si Akim karena beberapa alasan. Salah satunya karena si Akim orang yang dekat dengan kampung halaman, dan juga “mager” pagi-pagi harus sedikit mematut diri dulu kalau mau belanja di pasar kaget. Sementara si Akim, datang pas di mulut garasi. Akim juga tahu hari-hari saya masak agar royal, yaitu di akhir pekan. Royal dalam arti jenis masakan lebih lengkap untuk anak mantu yang kadang beda selera.


Karena saingannya tukang sayur yang pakai mobil dengan aneka pilihan yang lebih lengkap, sering kali si Akim kurang dagangan. Dan karena sudah langganan, saya biasanya bisa pesan untuk jenis sayuran atau buah tertentu sambil menitipkan uang untuk belanja. Lama-lama ini menjadi pola dan biasanya menjelang puasa dia akan meminta dimodali sekalian. Dan saya turuti.


Demikian juga untuk tahun ini. Minggu lalu dia mulai membangun narasi yang menjelaskan situasi dagangnya yang makin sulit tapi dia tetap mengerjakannya karena kasihan kepada langganan (termasuk saya!). Saya mafhum. Karenanya Kamis lalu, saya memberikan pinjaman modal tambahan.


Tapi hari Jum’at dan Sabtu dia tidak jualan. Padahal hari Jum’at harusnya saat panen buat dia karena pada hari itu pasar gelaran tutup.


Setelah dua hari absen tadi pagi dia berjualan seperti biasa. Tanpa ditanya dia bercerita. Jumat dia ajak anak istri dan mertuanya ziarah ke Banten sampai Cirebon.


Saya tentu heran, karena pasti biayanya tidak sedikit. Dia menjelaskan bahwa dari uang pinjaman itulah dia bisa ziarah. Menurutnya ia kasihan kepada istrinya yang sudah lama merengek ingin ikut ziarah ” Jiga batur Bu, hayang ngasaan jadi jelema benghar, sugan bae dagang gede miliknya” (seperti orang lain Bu, ingin mencicipi jadi orang kaya, moga saja dagang besar rejekinya”).


Saya hanya mengaminkan. Saya membujuk hati dan pikiran untuk tidak mengajaknya “mikir’. Mengapa saya harus menuntutnya rasional, sedang setiap hari dia telah bekerja dan berusaha dengan rsaional nyatanya tak mengubah kehidupannya. Mengapa saya harus menuntutnya “rasional”, sementara setiap hari, kita menyaksikan dan menghadapi ragam irasionalitas dalam kehidupan. Inilah hidup, yang tersisa barangkali memang tinggal berharap dan bersyukur. Amin.

Sabda Hikmah (11): SABAR

Oleh. Mukti Ali Qusyairi

Antri membutuhkan kesabaran. Macet juga begitu. Tapi terpenting adalah kesabaran merupakan kunci terwujudnya tahapan demi tahapan dari sebuah proses. Segala hal–kecil, besar, sangat penting, penting, kurang penting, atau pun tidak penting–yang membutuhkan proses, maka di situ kesabaran dibutuhkan.

Imam al-Syafii pernah mengatakan bahwa istiqamah bisa terwujud melalui upaya terus mencoba (imtihan), berusaha dan terus bersabar. Tanpa sabar, meski ada usaha, maka istiqamah sulit terwujud. Pada gilirannya keberhasilan jauh dari harapan. Rutinitas ibadah dan belajar pun menuntut komitmen, istiqamah, dan karenanya harus ada kesabaran.

Demikian juga membangun peradaban.

Di Atas Gojek Menuju Perpusnas, 9 April 2018

Khutbah Fesbukiyah

Oleh Jamaluddin Mohammad

Waba’du (ingdalem sa’wise maca bismillah, alhamdulillah, salawat lan salam)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Akhir-akhir ini mata kita disuguhi banyak berita pejabat- pejabat yang terjerat kasus korupsi. Padahal, kalau melihat latar belakang kehidupan mereka bukanlah orang miskin. Mereka hidup berkecukupan, bahkan tak sedikit yang kaya raya. Lantas, kenapa mereka korupsi? Orang rakus, kata al-Imam Abu Hanifah, meskipun air laut diminum sampai habis tetap saja merasa kehausan. Jika dunia ini ibarat air laut, ia tak akan cukup mengisi perut orang-orang rakus dan serakah. Mereka akan terus mencari dan menumpuk harta dengan cara apapun, baik cara “biadab” (merampok) maupun “beradab” (korupsi). Untuk pejabat-pejabat rakus, gaji tinggi saja tidak cukup untuk menghentikan laju korupsi. Di sinilah perlunya merubah “mindset”, terutama mindset melihat dan memperlakukan dunia.

Dunia bukanlah segalanya dan bukan akhir tujuan kita. Dalam filsafat Jawa “urip mung mampir ngombe” (hidup hanyalah mampir sejenak untuk minum). Menurut al-Imam al-Ghazali, ada banyak pintu menuju akhirat. Kita baru berada di pintu pertama (dunia). Kita akan memasuki pintu kedua (kematian) dan pintu ketiga (akhirat). Jangan berhenti pada pintu pertama karena kita tak akan menemukan apa-apa.

Di sinilah pentingnya “zuhud”. Zuhud dalam makna paling moderat adalah bersikap “acuh”, “emoh”, “tak peduli” terhadap dunia, tapi tidak anti terhadap dunia. Jangan “baper” menghadapi dunia. Biarlah ia menjadi bagian dan berada di sekeliling kita, tapi bukan “diri kita” seutuhnya. Jika kebutuhan (basic need) manusia terdiri dari tiga tingkatan: dharuriyat (primer), hajjiyat (sekunder), dan tahsiniyat (tersier), maka zuhud paling moderat berhenti pada tingkat kedua; cukup sandang, pangan, dan papan. Jika butuh makan dan minum, makan dan minumlah secukupnya. Jika butuh rumah untuk berlindung dan berteduh, belilah rumah seadanya, dan seterusnya. Singkatnya, hiduplah sederhana. Tidak miskin dan tidak kaya. Kecuali miskin sebagai “pilihan”. Zuhud pada tingkat tertinggi terhenti pada dharuri.

Ketika di pesantren saya diajari hidup “prihatin”: menjalani hidup secukupnya. Prihatin adalah sejenis olah batin agar tidak rakus terhadap dunia. Prihatin adalah sebuah sikap dan prinsip hidup menghadapi kehidupan materi (dunia). Prihatin bukanlah “pasrah”,“menyerah”, atau “kalah” pada hidup. Jika hidup kita dikuasai dan dikendalikan dunia, maka perlu prihatin: mengolah dan memenej hati dan pikiran agar kembali pulih dan bisa menjaga jarak dengan dunia. Saya pernah diijazahi doa yang menurut saya penting: “Allahumma urzuqni rizqan Taliban ghaira matlub wa ghaliba ghaira maghlub”. Kita meminta kepada Allah SWT agar dikejar-kejar rejeki (dunia) dan bisa menguasainya.

Ma’asyiral muslimim rahimakumullah…

Harta tak perlu berlimpah yang penting “berkah”. Berkah (barakah) ini konsep abstrak tapi bisa dipahami dan bisa dimengerti secara kongkrit. Singkatnya begini, Anda hidup sederhana tapi bahagia. Berarti hidup Anda berkah. Jika ada orang kaya raya tapi selalu gelisah dan tersiksa, berarti harta benda dan hidupnya tidak berkah. Orang pesantren biasa memaknai berkah itu contoh sederhananya begini: makan satu “tabsi” (nampan besar terbuat dari besi atau pelastik) secara bersama-sama tapi sudah merasa kenyang dan nikmat (satu tabsi untuk 5-10 orang yang kalau diukur dengan piring paling-paling satu orang hanya kebagian sepertiga piring). Berarti makanan itu “berkah”, benilai, berkualitas, ziyadah al-khair (bertambah kebaikan).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Sampai di sini dulu khutbah fesbukiyyah kita semoga Anda terhibur. Jazakumullah ahsanal jaza. Wassalam

Sabda Hikmah (10): CINTA INDONESIA = CINTA ISLAM

Oleh. Mukti Ali Qusyairi

Di pagi buta, dua santri berbincang ringan sambil sarapan tentang nasionalisme, salah satu isu yang senantiasa hangat untuk diperbincangkan.

“Nasionalisme adalah istilah asing yang datang dari Barat”, demikian salah satu santri mengajukan pendapatnya yang memancing terjadinya diskusi.

Temannya terpancing dan merespon; “Meski demikian, substansi nasionalisme adalah cinta tanah air. Sangat positif. Dan bagian dari anjuran agama”.

Kedua santri itu terjadi perdebatan yang cukup hangat. Kang santri penjaga warung dan para santri lain pun ikut nimbrung, sebagian mensuport dan sebagian lagi hanya menyimak saja sembari sarapan dan aja juga sembari nyeruput kopi. Karena tak ada kesimpulan, mereka berduyun-duyun sowan kepada kiyai.

Kiyai sedang menikmati sarapan. Sebagai kiyai, kapanpun dan dalam keadaan apapun, harus siap direpoti santri-santrinya dan umatnya. Santri yang berdebat menyampaikan persoalan nasionalisme yang baru saja didiskusikan. “Bagaimanakah nasionalisme dalam Islam, pak yai?”

Sarapanpun dihentikan sejenak dan kiyai mulai memberikan penjelasan; “Kang santri–demikian kiyai memanggil santrinya dengan hormat–kita harus ingat perjuangan para kiyai kita, orang tua kita berjuang merebut bangsa ini dari kolonialisme. Ini karena mereka mencintai bangsa ini. Mencintai tanah air ini. Ini bukti nyata yang tidak bisa dibantah.”

“Apakah ada anjuran dalam Islam, yai? Maksudnya dalam al-Quran, hadits atau pandangan para sahabat?” Demikian pertanyaan susulan dari salah satu santri.

Kiyai sehabis nyeruput teh tubruknya kembali menjawab; “Dalam al-Quran terdapat teladan Nabi Ibrahim As yang memanjatkan doa untuk tanah airnya, “Tuhanku, jadikanlah negeri ini (balad) yang aminan (damai sentaosa) dan penduduknya diberi rizki (makmur/sejahtera)”.

Nabi Muhammad mengatakan bahwa, “cinta tanah air bagian dari iman”. Lalu Sayyidina Umar bin al-Khatthab juga berkata, “Allah membangun sebuah tanah air dengan cinta para penduduk kepada tanah airnya”. Sayyidina Ali bin Aby Thalib menegaskan bahwa, kebahagiaan bagi seseorang manakala mendapatkan penghasilan/rizki di dalam negaranya sendiri”. Bahkan sebagian bijakbestari berujar, “andai saja tidak ada cinta terhadap tanah air, niscaya tak akan ada pembangunan”.

Kiya pun menceritakan bahwa seorang ulama besar Al-Azhar Mesir, Rifaah al-Tahthawi, mengatakan bahwa kehendak untuk membangun peradaban (tamaddun) bagi tanah air tidak akan tumbuh kecuali terlebih dahulu segenap penduduk mencintai terhadap tanah airya.

Para santri manggut-manggut sambil merundukkan kepalanya sebagai tanda tawadhu’ dan hormat kepada sang kiyai.

Jakarta, 8 April 2018